Vous êtes sur la page 1sur 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Aktivitas yang paling sering dilakukan oleh setiap makhluk selama
hidupnya adalah bernapas. Bagaimanapun juga mudahnya seseorng bernapas dan
bertindak atau berkehendak yang nyaman timbul selama bernapas selalu mempunyai
pengaruh terhadap keseluruhan aktivitas seseorang. Saluran pernapasan terdiri dari,
saluran dari luar tubuh ke alveoli melalui saluran pernapasan.
Untuk mengefektifkan intervensi keperawatan pada pasien dengan gangguan
sistem pernapasaan, harus mengetahui secara jelas anatomi fisiologi sistem
pernapasan dan gejala umum.
Respirassi dissorders ataau gangguan pernapasan adalah suatu masalah yang
dapat menyebabkan kematian. Salah satu penyebab adalah aabscess paru. Abscess
paru merupakan infeksi pada jaringan paru yang penyebabnya adalah mikro
organisme dan faktor - faktor pencetus lainnya berupa aspirasi pada saat pingsan,
koma, anasthesi, trauma daerah thorax dan lain - lain yang peradangannya membuat
abscess paru sehingga pasien meengalami kesukaran dalam bernapas.

B. Tujuan.

Tujuan umum.
Dapat mengetahui etiologi, pathofisiologi, simptom dan diagnosis aabscess
paru.

Tujuan khusus.

Pengertian.

Proses pathologi umum.

Pengolahan CAL.

Therapi.

Askep.

Penkes.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian.
Abscess paru merupakan suatu lesi nekrossis dan parenkim paru yang
berisi nanah (pus).abscess paru ini sering terjadi pada laki laki dibanding wanita dan
umumnya berkisar pada umur 40 45 tahun. Hal ini disebabkan karena adanya
perbaikan resiko terjadinya abscess paru seperti teknik operasi ansthesi yang lebih
baik, dan penggunaan antibiotik yang lebih dini. Berbagai sebab penyakit esofagus,
infeksi gigi dan ginggivag yang berlanjut saluran napas atas dan bawah yang belum
teratasi.
Pada tahap tahap awal sebuah abses paru tak dapat dibedakan dari
beberapa panyakit lainnya. Hanya setelah suatu peradangan paru yang berhubungan
dengan bronchus dan dimulai dengan gejala gangguan pernapasan dan cairan pada
daerah peradangan dapat dilihat daro foto rontgen. Kejadian abses paru telah menurun
oleh karena ketersedian antibiotik antibiotik yang efektif dan kesadaran orang
orang untuk mencari perawatan medik. Abscess paru biasa disebabkan oleh aspirasi
material yang terinfeksi yang mungkin terjadi selama keadaan pingsan, anasthesi
umum, keadaan mabuk atau pemberian obat obat penenang.
Hal tersebut dapat terjadi akibat hygiene oral yang kurang, penyakit penyakit tonsil
yang terinfeksi atau aspirasi makanan. Penyebab penyebab umum abscess paru yang
lain adalah emboli paru dan transfer transfer peradangan dari hati.
Beikut ini adalah faktor faktor predeposisi :

a. Aspirasi.
Pingsan, koma, intoksikasi, anasthesi, disfungsi laringeal.
b.Infeksi gigi dan gusi.
c. Penyebaran lewat darah.
Penyalahgunaan obat IV, endokarditis sisi kanan, plebitis septik, osteonielitis.
d.Proses phatologi lokal.
Obstruksi neoplasma, broncostenosis, trauma, gula kistik, asam lambung.
e. Penyakit nekrosis vaskuler.
Infark embolik, vaskulitis, nekrosis tanpa neoplasma, pneumonia eushinofilik
kronis.
f. Gangguan resistensi penjamu.
Alkoholisme, diabetes, malnutrisi.
g.Gangguan resistensi humoral.
Leukopenia, hipoglobulinemia.
h.Gangguan sistem kekebalan.
Sindrom immunodefisiensi, kemoterapi, terapi radiasi, penyakit hodgkins.

B. Pathopsisiologi Dan Etiologi.


Gangguan neoplasma :
Badan atau tubuh tidak enak atau keasingan tubuh, penyimpangan /
basalfibrosil, kista, luka memar, asam lambung.
Ketidak teraturan pembuluh darah nekrotizing :

Pelanggaran

infrasksi

emboli,

nekrosis

dalaam

neoplasma,

kumpulan

nekrotizing pneumokoniosis.
Kekuatan kekuatan yang paling mengganggu :
Alkohol, diabetes, penyakit kekurangan tenagaa kronis, kesartuan humoral yang
terganggu dan leukopmial.
Letak abses ditentukan oleh posisi pada waktu pernapasan, material diaspirasi
bergerak masuk kedalam paru paru. Sekali hal ini terjadi sebuah jaringan butiran
berserat (vibrosa) akan terbentuk disekitarnya dan melekatkan dirinya. Selagi abses
berkembang menimbulkan tekanan atau dorongan pada jaringan yang terinfeksi,
jaringan ruptur kedalam bhroncus dan menimbulkan gangguan pernapasan,
pengeluaran sekret dan mungkin sekret purulen atau berdarah.
Sputum purulen mungkin mengarah pada penyembuhan dan pengisian rongga. Jika
rongga tidak mengering secara cukup abses abses kecil mungkin terbentuk dalam
paru paru.

Berikut ini sebuah daftar etiologi organisme :


1. Bakteri piogenik aerob.
Staphilacoccus aerus, gram basil negatif.
Streptococcus pneumoniae, streptococci grup A, legionella.
2. Piogenik anawerob.
Nukleatum fusobakterium dan lainnya. Bakteriodes melanimogenicus, B.
fragelis dan spesien lainnya.

3. Mikrobnakterial.
M. tubercolosis, M. Kansasii, M. Intrasellulare dan spesies lainnya.
4. Fungi.
Histhoplasma,

coccidioides,

blastomyces,

sporothrix,

cryptococcus,

phycomycetes.
5. Parasit.
Entamuba histolytica, paraginomus, echinococcus.

C. PENGOLAHAN CAL
Keseimbangan abscess paru dalam mengobati, terutama bergantung pada
kemampuannya untuk menyalurkan dengan cukup, karena dengan adanya penyaluran
bebas akan terjadi solusi. Tanpa penyaluran yang bebas dan tanpa therapi antibiotik
yang cepat, abscess paru ini akan menjalar dan menjadi penyakit kronis.
Pembersihan mulut : luar biasa pentingnya pada penyaluran abscess, melonggarkan
sekresi dan perubahan pembuangan.

D. PENEMUAN DAN STUDI DIAGNOSTIK.


Test diagnostik

Penemuan

X Ray dada

Ditemukan sebuah tingkatan ruang cairan


dalam paru.

Test laboratorium

leukosit meningkat (leucositosis)

Bhronchoscopy

tak

perlu

jika

photothorax

meningkat

penyebaran abses yang cepat tetapi mungkin


diperlukan untuk menentukan kronisnya
abses jika kondisi pasien tidak membaik.

E. THERAPY.
1. Therapy obat :
Therapy antibiotika langsung dihubungkan pada kausatif peralatan yang akan
dimonitor langsung dan kemungkinan dirubah, tergantung pada respon pasien
dan diarahkan pada agent penyebab. Diberikan sesegera mungkin sambil
menunggu hasil laboratorium. Biasanya diberikan : penecilin G 1,2 juta unit,
penecilin oil 300.000 600.000 unit selama 6 8 hari.
Jika setelah 4 7 hari pasien tidak membaik mungkin dapat diganti dengan
tetraciklin (Achromysin 500 mg). Pengobatan antibiotika dilanjutkan sampai
adanya perbaikan yang dilihat dalam rontgen thorax.
2. Pembedahan.

Bhronchoscopy kadang kadang dibutuhkan untuk mengeluarkan


sputum yang kental.

Resepsi pulmonal dibutuhkan untuk kasus abses paru yang tidak


berespon terhadap therapi antibiotika. Meningkat lesi tunggal, dengan
lobektomy dan lesimultiple dengan pneumonektomy.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN.

Pernapasan.

Inisial tanda tanda yang menyerupai batuk yang menghasilkan darah,


purulen, pencemaran, trauma badan tidak enak, kadang kadang demam, rasa
sakit pada daerah dadadan dispnea. Auskultasi boleh mendeteksi secara baik,
tidak ada bunyi napas pada daerah abscess. Perkusi bunyi tumpul.
Nutrisi.

Mungkin kehilangan berat badan, anemia dan anoreksia.


Tanda tanda vital.

Demam, tachikardi.
Psikososial.

Respon penderita bahwa terdapat infeksi yang harus diobati selamaa periode
yang panjang.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
Tidak efektifnya pembersihan jalan napas b. d adanya

penumpukan ssputum yang makropurulent.


Data subyektif : laporan kesulitan bernapas
Data obyektif : batuk (produktif / non produktiff) crakkes dan ronchi, dispnea
dan demam.
Pola napas tidak efektif b. d proses peradangan paru dan rasa

sakit pada daerah dada.


Data subyektif : rasa sakit ketika bernapas.
Data obyektif : dispnea, pernapasan dangkal, batuk.
Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b. dd anoreksia

dan dispnea.

Data subyektif : laporan ketidakcukupan masukan dan keluhan anoreksia.


Data obyektif : kehilaangan berat badan, ketidakcukupan makanan dan
pemasukan cairan.

Intoleransi aktivitas b. d trauma fisik.


Data subyektif : keluhan kelelahan atau keletihan.

Data obyektif : tingkat aktivitas menurun.


Kurang pengetahuan b. d kurang terpaparnya infforrmasi.

C. RENCANA PERAWATAN.
Tujuan tujuan yang ingin dicapai daalam perawatan adalah :

Jalan napas akan menjadi paten atau efektif.

Pola napas akan menjadi efekttif tanpa rasa sakit.

Status nutrisi harus diperbaiki.

Pasien akan melakukan aktivitas rutin tanpa keletihan atau


dispnea.
Pasien

dan

keluarga

akan

mampu

mendemonstrasikan

keperawatan dirumah dan dapat menindak lanjuti instruksi instruksi.


D. INTERVENSI DAN RASIONAL.
Diagnosa I.
Kaji bunyi paru (ronchi dan crakkes).
R/ Menentukan kecukupan pertukaran gas dan perluasan jalan napas.
Menilai karakteristik sputum (jumlah warna dan konsistensi).
R/ Kehadiran atau adanya infeksi bila sekresi menebal, kuning menyerupai
pus.
Nilai hasil status hiddrasi pasien.
R/ Menentukan kebutuhan cairan.
Foto thorax.
R/ Menentukan luas dan lokasi infeksi ataau abscess.
Lakukan fisioteraapi dada (perkusi, fibrasi).
R/ Getaran perkusi dada dapat memudahkan pengeluaraan sekret.
Beri therapi anti infeksi sesuai pesanan.
R/ Antibiotik menekan atau membunuh pertumbuhan mikro organisme.

Diagnosa II.

Kaji bunyi paru.


R/ Gesekan friksi pleura mengakibatkan rasa sakit selama pernapasan.
Amati perubahan kedalaman dan kecepatan pernapasan.
R/ Menentukan tidak efektifnya pola napas.
Periksa thorax untuk menentukan kesimetrisan dada.
R/ Menentukan tidak efektifnya pola napas.
Kaji pola nyeri.
R/ Nyeri selama pernapasan mencegah pasien untuk napas dalam.
Atur posisi semi fowwler.
R/ Posisi ini menggerakkan isi abdomen menjauh dari diafragma dan untuk
meningkat kontraksi diafragma.
Beri analgessik.
R/ Analgesik mengurangi rasa sakit.
Diagnosa III.
Kaji pola kebiasaan makan.
R/ Sebagai data dasar untuk intervensi nutrisi.
Timbang berat badaan setiap minggu.
R/ untuk menentukan perkembangan status nutrisi.
Menilai faktor faktor psikologi misalnya depresi yang menghilangkan
penurunan intake.
R/ Identifikasi faktor psikologi pada pemasukan makanan.
Monitor albumin dan limposit.
R/ Indikasi cukupan protein.
Ukur LILA.
R/ Indikasi pemasukan protein untuk penyembuhan jaringan dan mendukung
sistem imun.
Sediakan O2.
R/ Oksigen mengurangi disspnea selama makan.
Ajukan perawatan oral sebelum makan.
R/ keluarkan rasa sputum yang mungkin mengurangi selera makan.
Sediakan makanan lunak / cair dalam jumlah kecil.

R/ Makanan lunak atau cair memerlukan lebih sedikit energi, dengan


demikian mengurangi kebutuhan O2.
Sediakan diit protein dan vitamin.
R/ Dukung sistem imun guna melawan infeksi dan promosi penyembuhan.
Diagnosa IV.
Amati respon terhadap aktivitas.
R/ Menentukan perkembangan toleransi aktivitas.
Kaji faktor faktor pendukung (stress, efek obat obataan).
R/ Mengidentifikasi faktor faktor pencetus intoleransi aktivitas.
Kaji pola tidur.
R/ Kurang tidur menyebabkan kelelahan.
Anjurkan istirahat yang cukup (kurangi aktivitas).
R/ Mengurangi keletihan.
Latihan aktivitas secara bertahap tanpa kontra indikasi.
R/ Secara bertahap menambah kemandirian tanpa menyeebabkan keletihan.
Diagnosa V.
Beri penkes.
R/ Untuk meningkatkan pengeetahuan.
E. EVALUASI.
HASIL PASIEN
Jalan napas menjadi paten atau efektif

DATA DUKUNGAN
Jalan napas jernih dan saat bernapas
tanpa rasa sakit.
Bunyi napas jernih.
Foto thorax jernih.
Batuk mereda.

Pola napas efektif tanpa rasa sakit

Temperatur normal.
Batuk mereda, napas efektif, pola napas /

Status nutrisi membaik.

gerakan dada, simetris tanpa rasa sakit.


Adanya peningkatan berat badaan,
intake yang cukup.

Albumin : 3,2 4,5 g/dl.


Limposit : 2100 atau 35 % - 45 % /ml3
darah.
Lingkaran trisep : 12,0 mm untuk
lakilaki dan 23,0 mm untuk wanita.
Lingkaran lengan 32,7 cm untuk alki
laki dan 29,2 cm untuk wanita.
Lakukan aktivitas tanpa kelehan atau Pasien melakukan aktivitas merawat diri
dispnea
tanpa kelelahan atau dispnea
Identifikasi strategi koping yang berguna. Pasien
merencanakan
siapa

yang

bertanggung jawab terhadap tugas rumah


tangga guna membantu pasien dalam
Pembelajaran dan demonstrasi.

perawatan.
Pasien mendemonstrasikan pengetahuan
akan perawatan di rumah, proses penyakit
dan pengaturan perawatan.

F. PENDIDIKAN KESEHATAN.
Ajarkan pentingnya posisi untuk memudahkan pengeringan abscess.
Ajarkan teknik teknik batuk yang efektif yang memudahkan expektoran tanpa
menimbulkan kelelahan.
Ajarkan pentingnya napas dalam guna menjaga paru paru, mendapatkan O2
yamg cukup.
Instruksikan tentang pengambilan pengobataan ditentukan secara teratur.
Menginformasikan pasien dan keluarga tentang abscess paru dan cara
perawatannya.
Ajarkan pasien pentingnya oral hygiene.

BAB III
PENUTUP

Abscess paru disebabkan oleh mikro organisme dan juga merupakan akibat
lanjutan dari penyakit infeksi paru lainnya yang kronis misalnya TBC. Selain itu juga
adanya faktor faktor yang mempengaruhi abscess paru misalnya : perokok yang
merupakan resiko terjadinya karsinoma bronchial yang juga sebagai penyebab abscess
paru.
Gejala utama yang didapat adalah adanya gangguan pernapasan dengan
pengeluaran sputum yang purulen atau bercampur darah. Untuk menghilangkan atau
mengurangi gangguan pernapasan maka perlu perawatan dan pemberian antibiotik yang
efektif.

MAKALAH

ABSCESS PARU

NAMA

MARIA DERAN GERODA

NIM

PO. 0320103018

TK / SMT

II REGULER / III

MATA AJARAN

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I

DOSEN M. A.

MARIANA ONI BETHAN SKp. Ns.

POLITEKNIK KESEHATAN KUPANG


JURUSAN KEPERAWATAN
2004 / 2005