Vous êtes sur la page 1sur 20

BAB 1

LAPORAN KASUS
EFUSI PLEURA
I.

ABSTRAK
Efusi Pleura adalah akumulasi abnormal dari jumlah carian yang ada diantara

dua lapisan pleura yaitu cavum pluera, dalam keadaan normal jumlah cairan pada
cavum pleura ini hanya beberapa milliliter dan berfungsi sebagai lubrikasi, akumulasi
cairan ini dapat terjadi akibat adanya penyakit yang mendasari yang terjadi dengan
mekanisme yang berbeda-beda.(1,4)
Dilaporkan seorang laki-laki, usia 35 tahun dikonsul dari bagian penyakit
dalam dengan keluhan utama sesak nafas. Keluhan ini dialami sejak 1 bulan yang
lalu, dirasakan semakin memberat hingga saat ini. Sesak bertambah bila pasien
berbaring terlentang. Keluhan ini disertai dengan nyeri dada kiri terasa seperti
tertusuk-tusuk, terutama saat pasien menarik nafas atau batuk. Keluhan batuk ada,
dialami sekitar 1 minggu yang lalu, lendir ada, darah tidak ada. Pada pemeriksaan
fisis thoraks, ditemukan pergerakan hemithoraks kiri tertinggal dibanding
hemithoraks kanan, palpasi taktil fremitus hemithoraks kiri kesan melemah dibanding
hemithoraks kanan, perkusi pada hemithoraks kiri pekak mulai setinggi ICS I sampai
ICS VIII, auskultasi bunyi pernapasan hemithoraks kiri melemah dibanding
hemithoraks kanan. Pada pemeriksaan penunjang foto thoraks AP memberikan
gambaran perselubungan homogen pada seluruh hemithoraks kiri, diafragma dan
batas kiri jantung tidak tampak, trakhea dan mediastinum terdorong kearah kanan,
kesan efusi pleura masif kiri.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang maka
pasien ini didiagnosis sebagai efusi pleura masif kiri dan direncanakan untuk
pemasangan chest tube dan water sealed drainage (WSD).

Kata kunci :pleura, efusi pleura, efusi pleura masif, chest tube, water sealed
drainage(WSD)
1

II.

PENDAHULUAN
Efusi Pleura adalah akumulasi abnormal dari jumlah carian yang ada pada

cavum pleura, hal ini mengindikasikan adanya ketidakseimbangan produksi dari


cairan pleura dan absorbsi cairan pleura, ketidakseimbangan ini dapat terjadi oleh
beberapa mekanisme yaitu peningkatan tekanan kapiler paru, penurunan tekanan
onkotik, peningkatan permeabilitas membran pleura dan obstruksi dari aliran limfe.
Cairan yang mengisi rongga pleura dapat berasal dari pembuluh kapiler pleura, cairan
interstitial pada rongga paru, saluran limfe intrathoraks, pembuluh darah intrathoraks
atau dari cavum peritoneum. Cairan pleura ini selanjutnya akan diabsorbi melalui
jaringan limfe pada pleura parietal.(1,4)
Efusi pleura merupakan kasus yang seringkali dijumpai, insidensinya sekitar
400/100.000 populasi di Negara Spanyol dan sekitar 1 juta penderita di Amerika
Serikat tiap tahunnya. Diagnosis efusi pleura dapat ditegakkan berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik, untuk konfirmasi dapat digunakan modalitas seperti
foto thoraks, ultrasonogafi dan CT-scan thoraks. Bagaimanapun sekitar 20% kasus
efusi pleura etiologinya masih belum jelas. Tindakan lain seperti torakosentesis,
parameter biokimia, kultur dan sitologi dari cairan pleura dapat dilakukan untuk
mengetahui etiologi. Penanganan efusi pleura dapat ditangani berdasarkan etiloginya,
namun efusi pleura yang masif dan refrakter harus dilakukan drainase untuk
memperbaiki gejala simptomatik. (3,4,5)
Laporan kasus ini memberikan gambaran secara singkat mengenai efusi
pleura dengan tujuan untuk memaparkan judul ini dari segi klinis dan teori.

III.

PRESENTASI KASUS

A.

Identitas Pasien

B.

Nama

:Tn. Y

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Umur

: 35 tahun

Alamat

: Sepang, Pinrang

No. Rekam Medik

: 691401

Tanggal Masuk RS

: 02 Desember 2014

Anamnesis
Keluhan Utama

: Sesak nafas

Anamnesis Terpimpin

: Dialami sejak 1 bulan sebelum masuk rumah

sakit, sesak dirasakan semakin memberat hingga saat ini. Sesak terasa
bertambah bila pasien berbaring terlentang dan mereda bila pasien duduk.
Batuk ada, dialami sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, lendir ada
warna putih, darah tidak ada. Nyeri dada kiri ada dialami sejak 2 minggu lalu
terutama saat pasien batuk. Riwayat demam ada dialami sejak 1 minggu lalu,
tidak terus menerus, menggigil tidak ada, riwayat sering berkeringat pada
malam hari ada. Riwayat berobat OAT tidak ada. Riwayat hipertensi tidak
ada. Riwayat trauma tidak ada. Riwayat diabetes tidak ada. Saat ini pasien
dirawat oleh bagian penyakit dalam dengan diagnosa efusi pleura masif
sinistra et causa suspek malignancy. Riwayat penyakit yang sama sebelumnya
tidak ada.

C.

Pemeriksaan Fisis
Status Generalis
Status Vitalis

: Sakit berat / Gizi cukup / Sadar


Tekanan darah

: 130/70 mmHg

Nadi

: 72 x / menit

Pernafasan

: 30 x / menit

Suhu

: 37,8oC (axilla)
3

Status Lokalis
Kepala
Rambut

: Hitam, lurus, sukar dicabut

Mata

: Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik

Hidung

: Rhinorrhea tidak ada, epistaksis tidak ada

Bibir

: Sianosis tidak ada

Leher
Inspeksi

: Warna kulit sama dengan sekitarnya, tidak


tampak massa tumor

Palpasi

: Tidak ada massa tumor, tidak ada nyeri tekan,


tidak ada pembesaran kelenjar getah bening,
deviasi trakhea kearah kanan.

Thoraks
Inspeksi

: Pergerakan

hemithoraks

kiri

tertinggal

dibandingkan hemithoraks kanan.


Palpasi

: Nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak ada,


taktil fremitus hemithoraks kiri kesan melemah
dibanding hemithoraks kanan.

Perkusi

:Sonor pada hemithoraks kanan setinggi ICS IICS VI, pekak pada hemithoraks kiri mulai ICS
I-ICS VIII.

Auskultasi

: Bunyi pernafasan hemithoraks kiri melemah


dibanding hemithoraks kanan, bunyi pernafasan
tipe vesikuler, tidak ada ronkhi dan wheezing.
4

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Pekak pada batas kanan jantung, sejajar linea


midclavicularis dekstra, batas kiri jantung sulit
dinilai.

Auskultasi

: Bunyi jantung I dan II, murni, reguler, tidak ada


bising.

Abdomen
Inspeksi

: Tampak datar, ikut gerak nafas

Auskultasi

: Peristaltik kesan normal

Palpasi

: Tidak ada massa tumor, tidak ada nyeri tekan.


Hepar dan lien tidak teraba.

Perkusi

: Tympani

Ekstremitas Inferior Dekstra et Sinistra


Inspeksi

: Tidak ada edema

Palpasi

: Tidak ada nyeri tekan

D.

Foto Klinis

E.

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium 04 Desember 2014
Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

WBC

13,82

4.0 - 10.0

RBC

3,63

4.50 - 6.50

HGB

9,8

14.0 - 18.0

HCT

29,2

40.0 - 54.0

PLT

342

150 400

MCV

97,1

80-100

MCH

27,0

27-32

MCHC

33,6

32-36

SGOT

57

< 38

SGPT

60

< 41
6

GDS

94

80-180

Natrium

137

136 145

Kalium

4,2

3.5 - 5.1

Klorida

97

97 111

Ureum

21

10 50

Kreatinin

0,4

< 1,3

Albumin

2,3

3,5-5,0

Kesan

Leukositosis,

anemia,

peningkatan

enzim

transaminase,

hipoalbuminemia

Laboratorium Sputum 08 Desember 2014


Pemeriksaan

Hasil
Bacil gram

Pengecatan gram

(-), coccus
gram (+)

Nilai rujukan
Tidak
ditemukan
Tidak

Jamur

Positif

Sputum BTA 1

Negatif

Negatif

Sputum BTA 2

Negatif

Negatif

Sputum BTA 3

Negatif

Negatif

ditemukan

Foto Thoraks AP 02 Desember 2014

Ekspertise :
-

Tampak perselubungan homogen pada seluruh hemithorax kiri yang


menutupi sinus, diafragma dan batas kiri jantung serta mendorong trakhea
dan mediastinum kearah kanan.

Cor : CTI sulit dinilai, aorta sulit dinilai

Sinus dan diafragma kanan baik

Tulang-tulang intak

Kesan : Efusi pleura masif sinistra

USG Thoraks 08-12-2014

Expertise :
-

Tampak echo cairan bebas pada cavum pleura kiri dengan marker
terpasang pada linea axillaris posterior dengan kedalaman 5,2 cm dari
permukaan kulit.

CT-Scan Thoraks 11-12-2014

Expertise :
- Tampak densitas cairan bebas dengan densitas udara pada perifernya pada
cavum pleura kiri yang mendesak trachea dan organ mediastinum ke
kanan disertai kolaps paru.
- Corakan bronkovaskuler paru kanan dalam batas normal.
- Tidak tampak pembesaran KGB perihilar, subcarina, dan paratrachea.
- Cor dan pembuluh darah yang terscan dalam batas normal.
- Tidak tampak densitas cairan bebas pada cavum pleura kanan.
- Tulang-tulang yang terscan intak.
Kesan : Efusi pleura masif kiri
F.

Diagnosa Sementara
Efusi pleura masif sinistra

G.

Penatalaksanaan
Rencana pemasangan chest tube dan water sealed drainage (WSD) sinistra

H.

Follow up
Pasien setuju untuk dilakukan pemasangan chest tube dan water sealed

drainage. Setelah dilakukan pemasangan chest tube dan water sealed drainage
didapatkan produksi cairan sekitar 1000 cc berwarna kuning keruh. Saat ini keadaan
pasien lebih baik, sesak nafas dan nyeri dada mulai berkurang.

10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
EFUSI PLEURA

I.

DEFINISI
Efusi pleura adalah akumulasi cairan secara berlebihan pada cavum pleura,

pada keadaan normal cavum pleura hanya terisi beberapa milliliter cairan. Volume
dari cairan pleura yang bertambah sering terkait oleh akibat adanya kelainan pada
pleura, paru atau penyakit sistemik. Kelainan yang paling sering menimbulkan efusi
pleura antara lain berupa gagal jantung, pneumonia dan penyakit keganasan.(3)

II.

EPIDEMIOLOGI
Efusi pleura merupakan manifestasi umum adanya penyakit pleura, paru atau

penyakit sistemik lainnya. Gagal jantung merupakan penyebab tersering diantara


penyebab lainnya seperti pneumonia, keganasan dan emboli paru. Prevalensi
terjadinya efusi pleura kurang lebih 400/100.000 populasi di Spanyol. Di Amerika
serikat setiap tahun ada sekitar 1 juta penduduknya mengalami efusi pleura. Penyebab
umum lainnya adalah keganasan, diestimasikan efusi pleura akibat keganasan
mencapai 150.000 penduduk per tahun di Amerika Serikat. Hampir semua pasien
datang ke dokter dengan keluhan sesak nafas akibat akumulasi cairan dan kompresi
parenkim paru.(4,5)

III.

ETIOLOGI
Etiologi dari efusi pleura dapat ditentukan berdasarkan jenis cairan efusi

apakah tergolong transudat atau eksudat. Sehingga sangat penting menentukan jenis
dari efusi pleura. Berikut ini disajikan berbagai penyebab dari efusi pleura
berdasarkan jenis cairan efusi pleura. (1)
Tipe
Sering

Eksudat
Efusi parapneumoni

Transudat
Gagal jantung
11

Penyakit keganasan

Sirrosis hepatis
Hipoalbuminemia
Dialisis peritoneal

Kadang

Emboli pulmonal

Sindrom nefrotik

Reumatoid arthritis

Emboli pulmonal
Mitral stenosis

Jarang

Abses Hepar atau spleen

Perikarditis constrictiva

Uremia

Meig sindrom

Chylotoraks

Superior

vena

cava

obstruction
Induksi obat
Radioterapi
Etiologi lainnya dapat diklasifikasikan berdasarkan temuan radiologi dari
efusi pleura yang terjadi. Pada efusi pleura bilateral seringkali disebabkan oleh gagal
jantung atau keganasan, efusi pleura masif seringkali disebabkan karena keganasan,
parapneumoni atau empyema dan tuberculosis. (1,3)

IV.

PATOFISIOLOGI
Akumulasi cairan pleura dapat terjadi karena peningkatan pembentukan dari

cairan pleura atau penurunan absorpsi dari cairan pleura atau keduanya. Peningkatan
pembentukan dari cairan pleura dapat merupakan hasil dari peningkatan tekanan
hidrostatik ( contohnya pada gagal jantung kongestif ), penurunan dari tekanan
osmotik koloid ( contohnya pada sirrosis dan sindrom nefrotik ), peningkatan
permeabilitas kapiler ( contohnya infeksi atau keganasan ), pengaliran cairan melalui
diafragma ( contohnya sirrosis hepatis dengan asites ) atau penurunan dari tekanan
cavum pleura ( contohnya pada atelektasis ). Penurunan absorpsi dari cairan pleura
disebabkan oleh mekanisme penyumbatan pada aliran limfe atau peningkatan dari
tekanan vena sistemik yang menyebabkan terganggunya aliran limfe ( contohnya
pada sindrom vena cava superior ).(2)
12

Adanya cairan pada cavum pleura yang normalnya memiliki tekanan negatif
memberi beberapa efek fisiologi terhadap respirasi. Efusi pleura akan mengganggu
fungsi fisiologis paru dan akan mengakibatkan gangguan ventilasi dan juga
menurunkan kapasitas total dari paru-paru, kapasitas residu fungsional, dan kapasitas
vital.(2)
Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan cairan dan
protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara
lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi ini terjadi karena
perbedaan tekanan osmotik plasma dan jaringan interstitial submesotelial. Tekanan
hidrostatik dikapiler sistemik ( dinding dada ) besarnya 30 cm H2O. Tekanan negatif
di dalam rongga pleura adalah -5 cm H2O sehingga perbedaan tekanan antara kapiler
sistemik dan rongga pleura sebesar 35 cm H2O. Tekanan osmotik koloid di kapiler
sistemik sebesar 34 cm H2O. Tekanan osmotik koloid di rongga pleura sebesar 8 cm
H2O sehingga perbedaan tekanan osmotiknya sebesar 26 cm H2O. Karena tekanan
hidrostatik dari dinding dada kearah rongga pleura lebih besar daripada tekanan
osmotiknya maka cairan dari dinding dada cenderung akan masuk ke dalam rongga
pleura.(11)

V.

DIAGNOSIS
Diagnosis efusi pleura dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisis,

serta pemeriksaan penunjang. Anamnesis yang terdiri dari gejala dan riwayat
penyakit sebelumnya dapat membantu diagnosis efusi pleura sekaligus evaluasi
terhadap kemungkinan penyebab efusi pleura. Contohnya riwayat menderita
pneumonia atau demam dapat mengarah ke kausa infeksi, riwayat penyakit jantung,
ginjal atau hepar dapat mengarah ke efusi transudat. Usia tua, penurunan berat badan
dan perokok dapat mengarah ke kausa keganasan. Gejala klinis yang timbul sangat
bergantung pada jumlah cairan efusi dan kausa dari efusi tersebut. Bahkan ada yang
asimptomatik, gejala yang mungkin didapat antara lain seperti dyspnea, nyeri dada
atau batuk kering. Nyeri dada biasanya bersifat nyeri yang bersifat tajam dan
terlokalisir memburuk pada inspirasi dalam atau batuk dan terkadang pada saat
13

bergerak. Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan sesak yang ditandai dengan
digunakannya otot-otot bantu pernafasan, pergerakan hemithoraks yang sakit akan
tertinggal dibandingkan sisi yang sehat, palpasi taktil vokal fremitus menurun atau
menghilang, perkusi pada daerah efusi akan redup atau pekak. Pada auskultasi, bunyi
pernafasan akan menurun atau tidak terdengar. Pada efusi pleura masif dapat ditemui
kurangnya usaha untuk bernafas dan tanda-tanda pergesaran mediastinum. (1,4)
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisis ditemukan adanya tandatanda efusi, maka diagnosa dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan penunjang yang sering digunakan antara lain (3)
-

Foto thoraks
Foto thoraks posisi posteroanterior dan lateral masih menjadi alat
diagnostik yang penting dalam diagnosis efusi pleura. Jumlah cairan yang
dapat dideteksi pada posisi PA adalah diatas 200 ml yang ditandai dengan
menumpulnya sudut costophrenicus. pada posisi lateral maka akan tampak
sinus costophrenicus posterior akan tumpul bila jumlah cairan mencapai
50 ml. Peningkatan jumlah efusi akan memberikan gambaran meniscus,
paru-paru menjadi opak dan diafragma akan tertutupi. Pada efusi pleura
masif akan ditandai dengan adanya pergeseran organ mediastinum kearah
kontralateral dari efusi. Pada posisi lateral dekubitus cairan bebas dalam
kavum pleura sangat mudah dideteksi bahkan bila cairan efusi kurang dari
5 ml.(1,3)

USG thoraks
USG thoraks dapat mendeteksi cairan pada kavum pleura dengan jumlah
yang sangat kecil, Efusi pleura ditandai dengan adanya ruang bebas echo
diantara pleura visceralis dan pleura parietalis. USG sangat berguna untuk
mendeteksi efusi pleura yang terlokulasi dan dapat digunakan untuk
menentukan lokasi torakosentesis.(3)

14

CT-scan thoraks
CT-scan pada kasus efusi pleura dapat digunakan bila ingin memastikan
lokasi anatomi yang tepat terjadinya efusi pleura yang tidak dapat diakses
dengan menggunakan foto konvensional dan USG, CT-scan berguna
untuk menentukan letak drainase yang tepat untuk suatu empyema,
membedakan empyema dengan abses paru dan dapat mendeteksi adanya
penyakit keganasan.(3)

Torakosentesis
Torakosentesis adalah sebuah prosedur diagnostik yang sangat bermanfaat
pada pasien dengan efusi pleura yang etiologinya belum diketahui.
Kontraindikasi dari tindakan dapat dikatakan tidak ada, namun perlu
dipertimbangkan pada keadaan pasien dengan bantuan ventilasi mekanik,
gangguan pembekuan darah, infeksi pada tempat penusukan dan atau
dengan efusi yang minimal. Bila perlu USG dapat dilakukan sebagai
penuntun dalam melakukan tindakan torakosentesis pada beberapa
keadaan tersebut. Torakosentesis merupakan prosedur invasif dengan
menggunakan jarum yang dimasukkan ke dalam kavum pleura melalui
kulit tepat di ruang interkosta. Tindakan ini termasuk tindakan steril,
terlebih dahulu posisikan pasien dalam keadaan duduk, tingkat efusi harus
diperhitungkan berdasarkan tempat dimana suara napas mulai lemah atau
hilang pada asukultasi, pekak pada perkusi, dan lemah atau hilangnya
vokal fremitus. Prosedur ini dilakukan untuk mengeluarkan cairan sebagai
sarana diagnostik.(6,7)

VI.

PENATALAKSANAAN
Tujuan penatalaksanaan efusi pleura adalah terlebih dahulu meringankan

gejala simptomatik dengan cara mengeluarkan akumulasi cairan dari kavum pleura
dan menangani penyebab dari efusi pleura. Pemilihan terapi biasanya bergantung
pada jenis efusi pleura, jumlah efusi pleura dan penyakit yang mendasari. Prinsip
15

penatalaksanaan pertama adalah menentukan jenis efusi pleura, transudat atau


eksudat. Dibawah ini disajikan tabel perbedaan antara transudat dan eksudat.(5)
Transudat

Eksudat

Penampakan

Jernih

Keruh

Leukosit

<10.000 /mm3

>50.000 /mm3

pH

>7,2

<7,2

Protein

<3 g/dl

>3 g/dl

Rasio protein cairan pleura

< 0,5

> 0,5

LDH

< 200 IU/L

> 200 IU/L

Rasio LDH cairan pleura

< 0,6

> 0,6

> 60 mg/dl

< 60 mg/dl

dan serum

dan serum
Glukosa

Adapun kriteria lainnya untuk membedakan cairan pleura eksudat atau


transudat yaitu dengan menggunakan kriteria lights (sensitivitas 98% dan spesifisitas
74%). Berikut ini disajikan tabel dari kriteria lights.(1,5)
Dikatakan eksudat bila memenuhi 1 atau lebih dari kriteria berikut
1. Perbandingan antara protein cairan pleura dan protein serum > 0,5
2. Perbandingan antara LDH cairan pleura dan LDH serum > 0,6
3. Kadar LDH cairan pleura >2/3 dari nilai normal tertinggi dari LDH serum
Berdasarkan kriteria lights maka efusi transudat tergolong efusi tanpa
komplikasi, dapat ditangani dengan penanganan konservatif atau antibiotik saja. Akan
tetapi efusi eksudat atau efusi transudat dalam jumlah yang sangat banyak harus
ditangani dengan jalan drainase. Pilihan terapi dapat berupa pemasangan chest tube
dan water sealed drainage, pleurodesis dan pembedahan.(5)
Pemasangan chest tube dan water sealed drainage (WSD) dilakukan untuk
terapi efusi pleura dengan cara mengalirkan secara kontinyu produksi cairan dalam
kavum pleura. Prosedur sebaiknya dilakukan dengan posisi pasien berbaring dan
16

tergantung dari gejala klinik. Titik pemasangan chest tube pada anterior linea
aksilaris media pada ICS V. Setelah melakukan proses asepsis, antisepsis dan
drapping, maka dilakukan infiltrasi lidokain 2% secukupnya pada tempat
pemasangan. Insisi kulit dilakukan di ICS V kira-kira sepanjang inci hingga 1,5
inci, kemudian secara perlahan lakukan diseksi secara tumpul untuk menembus
jaringan yang lebih dalam hingga menembus pleura parietalis. Masukkan chest tube
sesuai ukuran dengan klem penuntun, setelah selesai maka drain yang terpasang harus
disambungkan dengan sistem drainase yang tepat. Biasanya digunakan botol yang
telah berisi air dengan ketinggian 2 cm untuk sistem drainase. Dilakukan fiksasi
jahitan pada luka bekas insisi dengan jahit matras horizontal dan simpul hidup
menggunakan benang silk ukuran 1,0. Luka kemudian ditutup dengan kasa steril, lalu
dilakukan follow up terhadap undulasi, bubble, warna cairan, produksi cairan dan
klinis pasien.(8,9)
Pleurodesis adalah sebuah tindakan yang bertujuan untuk melekatkan pleura
parietalis dan pleura visceralis untuk mencegah akumulasi udara atau cairan dalam
kavum pleura. Indikasi utama pleurodesis adalah efusi pleura maligna dan
pneumothoraks. Efusi pleura maligna sejauh ini merupakan indikasi paling umum
untuk dilakukan pleurodesis. Hal ini dikarenakan kurangnya terapi anti tumor yang
efektif pada stadium lanjut dan juga sebagai terapi paliatif untuk meringankan gejala
akibat efusi pleura. Sebelum melakukan pleurodesis pada pasien dengan efusi pleura
maligna, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu : apakah keluhan (sesak
napas) berhubungan langsung dengan efusi pleura, apakah efusi pleura berulang,
apakah paru dapat mengembang dengan baik, dan bagaimana harapan hidup pasien.
Untuk mencapai hasil yang baik, maka pleurodesis harus memperhatikan dual hal
yaitu aspek mekanik dan aspek biologis. Pengeluaran secara sempurna dari udara dan
cairan dari kavum pleura diperlukan untuk membuat jarak antara pleura parietalis dan
visceralis semakin dekat. Tujuan tersebut dicapai dengan aplikasi suction pada
drainase yang sesuai. Untuk mencegah sumbatan akibat bekuan darah, maka biasanya
digunakan chest tube yang berukuran besar. Hal yang penting lainnya adalah suction
kembali digunakan secara progresif dan hati-hati setelah pemberian agen sklerosis
17

untuk mencegah edema paru. Dari aspek biologis, untuk mencapai perlekatan maka
permukaan pleura perlu teriritasi., dapat secara mekanik dengan abrasi pleura atau
dengan menggunakan agen sklerosis seperti tetrasiklin, doksisiklin, bleomisin,
corynebacterium parvum, kuinakrin, dan talc.(10)

18

BAB III
KESIMPULAN

Efusi pleura adalah akumulasi cairan abnormal pada kavum pleura yang dapat
disebabkan oleh adanya kelainan pada pleura, paru atau karena penyakit sistemik.
Efusi pleura menjadi penting karena merupakan manifestasi paling sering dari seluruh
penyakit pleura terutama akibat komplikasi penyakit lainnya.(3)
Efusi pleura dapat didiagnosa secara tepat melalui anamnesis, pemeriksaan
fisis dan pemeriksaan penunjang. Tindakan lain seperti torakosentesis, parameter
biokimia, kultur dan sitologi dari cairan pleura dapat dilakukan untuk mengetahui
etiologi sehingga penanganan yang tepat dapat segera diberikan untuk mencegah
komplikasi lebih lanjut dan dapat memberikan prognosis yang lebih baik. Tujuan
utama terapi efusi pleura adalah mengeluarkan akumulasi cairan abnormal tersebut
untuk meringankan gejala subjektif dengan berbagai cara seperti pemasangan chest
tube dan water sealed drainage atau pleurodesis.(3)

19

DAFTAR PUSTAKA
1.

McGrath EE, Anderson PP. Diagnosis of Pleural Effusion : A Systemic


Approach..AJCC. 2011;20(2):119-127.

2.

Dweik AR. Pleural Disease.The Cleveland Clinic Foundation.2010.

3.

Karkhanis RV, Joshi MJ.Pleural Effusion : Diagnosis, Treatment and


Management. Open Access Emergency Medicine. 2012;4: 31-52

4.

Garrido VV, Sancho FJ, Blasco H et al. Diagnosis and Treatment of Pleural
Effusion. Arch Bronconeumol. 2006;42(7):349-72

5.

Yu H. Management of Pleural Effusion, Empyema and Lung Abscess.Semin


Intervent Radiol.2011;28:7586.

6.

Sockrider M, Lareau S. Thoracentesis. ATS Journal. 2007;176.

7.

Thomsen TW, DeLaPena J, Setnik GS. Thoracentesis. N Engl J Med.


2008;355(15).

8.

Manthous C, Tobin M. Chest Tube Thoracostomy. ATS Journal. 2013;170.

9.

Ciacca LD, Neal M, Highcock M, Bruce M, Snowden J, O'Donnel A.


Guidelines for the Insertion and Management of Chest Drains. United
Kingdom: NHS Foundation Trust; 2008.10.

10.

Panadero R, Antoby VB. Pleurodesis : State of the Art. Eur

Respir

J.2008;10;1650-52.
11.

Djojodibroto D. Respirologi (repiratory medicine). Jakarta : EGC;2009.

20