Vous êtes sur la page 1sur 11

URINALISIS

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN DAN MANUSIA


Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Fisiologi Hewan dan Manusia
yang diampu oleh Drs. Abdul Gofur, M.Si

Disusun oleh :
Kelompok IV/Offering A
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Amalia Asmarawicitra
Arnicka Widha Swasty
Ella Rahmawati Hamiatin
Hanif Achmadi
Rosita Buana Putri
Rosita Nur Fadilah

(130341603382)
(130341603381)
(130341603392)
(130341603385)
(130341614825)
(110341421581)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Desember 2014

A. Tujuan : Untuk mengetahui kandungan zat dalam urin


B. Dasar Teori

Sistem urinaria terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, uretra. Sistem ini
membantu mempertahankan homeostasis dengan menghasilkan urine yang
merupakan hasil sisa metabolisme. Kandungan urin normal mengandung sekitar
95% air. Volume urin normal dewasa antara 600-2500 ml/hari. Jumlah ini
tergantung pada masukan air, suhu luar, makanan dan keadaan mental/fisik
individu (Soewolo, 2005).
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urine pasien
untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining
dan

evaluasi

berbagai

jenis

penyakit

ginjal,

memantau

perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan


darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan
umum. Urine yang normal memiliki cirri-ciri antara lain: warnanya
kuning atau kuing gading, transparan, pH berkisar dari 4,6-8,0
atau rata-rata 6, berat jenis 1,001-1,035, bila agak lama berbau
seperti amoniak (Basoeki, 2000).
Unsur-nsur normal dalam urine misalnya adanya urea yang
lebih dari 25-30 gram dalam urine. Urea ini merupakan hasil
akhir dari metabolisme protein pada mamalia. Ekskresi urea
meningkat bila katabolisme protein meningkat, seperti pada
demam, diabetes, atau aktifitas korteks adrenal yang berlebihan.
Jika terdapat penurunan produksi urea misalnya pada stadium
akhir penyakit hati yang fatal atau pada asidosis karena sebagian
dari

nitrogen

yang

diubah

menjadi

urea

dibelokkan

ke

pembentukan amoniak (Soewolo, 2005).


Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urine
sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh
adalah

melalui

sekresi

urine.

Selain

urine

juga

terdapat

mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya


bekerja sama dalam mempertahankan homeostasis ini. Fungsi
utama urine adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau
obat-obatan dari dalam tubuh. Dalam keadaan normal, manusia

memiliki 2 ginjal. Setiap ginjal memiliki sebuah ureter, yang


mengalirkan air kemih dari pelvis renalis (bagian ginjal yang
merupakan pusat pengumpulan air kemih) ke dalam kandung
kemih. Dari kandung kemih, air kemih mengalir melalui uretra,
meninggalkan tubuh melalui penis (pria) dan vulva (wanita)
(Medicastore)
Dalam

Basoeki

(2000)

disebutkan

bahwa

pada

proses

urinalisis terdapat banyak cara metode yang dapat digunakan


untuk mendeteksi zat-zat apa saja yang terkandung di dalam
urine. Analisis urine dapat berupa analisis fisik, analisis kimiawi
dan analisis secara mikroskopik.
C. Alat dan Bahan
Alat: sentrifugasidan atbungnya, tabung reaski, pipet panjang,
penjepit tabung reaksi, urinometer, tabung urinalis, gelas benda,
gelas penutup, mikroskop, lap flannel, kertas isap, lampu spiritus,
korek api, thermometer
Bahan: urine segar, larutan Bennedict, larutan NaOH 5%, larutan
CuSO4 1%, indicator universal, asam sulfosalisilat, reagen Millon,
Kristal sodium nitroprusside, asam asetat.
D. Cara Kerja
Terlampir
E. Data Pengamatan
Terlampir
F. Analisis Data
1.

Analisis Fisik

a)

Warna Urine
Pengamatan dilakukan dengan mengamati langsung warna urine pada

tabung urine. Berdasarkan pengamatan, warna urine subjek (laki-laki) yang kami
amati adalah kuning gading. Berdasarkan data tersebut dapat ditarik kesimpulan
bahwa urine subjek normal.

b)

Berat Jenis
Pada penentuan berat jenis ini menggunakan urinometer. Urinometer

mengapung dan langsung menunjukkan skala yang merupakan berat jenis urine.
Hal ini dilakukan dengan memasukkan urinometer ke dalam tabung besar yang
telah berisi urine. Skala dibaca setelah urinometer tidak bergerak lagi (diam).
Pengukuran suhu urine dilakukan dengan thermometer, didapatkan suhu 35C,
lalu Bj = 60 C .
Dilakukan perhitungan sebagai berikut:

F =

5
9

x (60 - 32 )

5
9

140
9

x 28

= 15,6

Untuk selisih suhu:


= 35 15,6
= 19,4

Tambahan Pada Hasil Pengukuran:


=

19,4
3

x 0,001

= 0,00646
Dan didapat Hasil Pengukuran sementara = 1,01
Dari hasil penghitungan bisa didapatkan berat jenis sesungguhnya. Dimana berat
jenis sesungguhnya

= 1,01 + 0,00646
= 1,01646 gram/cm3

Berat jenis dikatakan normal apabila mendekati angka 1,003 1,030 (ada
yang menyatakan berat jenis normal 1,001 1,035). Berdasarkan data yang
didapat dan berdasarkan teori tersebut dapat disimpulkan bahwa berat jenis subjek
(1,01646 gram/cm3) adalah normal karena mendekati rentangan angka normal.

c)

pH Urine
Pada penentuan pH urine, kami menggunakan indikator universal. Caranya

adalah dengan mencelupkan kertas indikator universal pada urine subjek (lakilaki), kemudian mencocokan warna pada kertas indikator universal dengan warna
standar yang ada pada kotak tempat indikator tersebut.
Berdasarkan pengamatan kami, didapatkan pH 6 pada urine subjek. pH
urine yang normal adalah 4,5 7,5 (ada yang mengatakan 4,6 8,0). Berdasarkan
data yang kami dapatkan, dapat disimpulkan bahwa pH urine subjek yang kami
amati adalah normal karena termasuk dalam range angka pH urine normal.
2. Analisis Kimia
a. Glukosa
Pada percobaan uji glukosa dilakukan dengan menambahkan 5 ml larutan
benedict kedalam tabung reaksi yang berisi 8 tetes urine dan kemudian
dipanaskan. Hasilnya adalah larutan yang semula berwarna biru menjadi biru. Uji
positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata. Namun, dalam
pengamatan kami, didapatkan hasil warna biru (sama seperti warna awal), hal ini
menunjukkan bahwa urin subjek negatif glukosa.
b. Protein
1

Uji Millon

Untuk mengetahui adanya unsur protein dalam urin, pada percobaan ini
menggunakan reagen millon. Setelah 3 ml supernatan urine ditambah 5 tetes
reagen millon, larutan yang awalnya berwarna putih keruh, tidak mengalami
perubahan yang signifikan, dan tetap berwarna putih keruh, hal ini menunjukkan
bahwa urun subjek negatif protein.
2

Metode asam sulfosalisilat

Setelah urin dipusingkan dan diuji dengan kertas lakmus, diperoleh bahwa pH
urin 6 maka dari itu tidak perlu dilakukan penambahan 10% asam asetat.
Kemudian hasil yang ditunjukkan setelah ditambah asam sulfosalisilat 20%

adalah terjadi kenampakan bening yang menandakan bahwa urin negatif protein
karena tidak ada endapan keruh pada perbatasan kedua cairan.
3

Benda Keton

Untuk mengetahui adanya benda keton dalam urin, pada percobaan ini urin
yang telah ditambahkan dengan Kristal sodium nitroprusside ditambah
dengan asam asetat dan juga NaOH. Dari hasil perlakuan yang
telah dilakukan didapatkan hasil tidak adanya cincin ungu yang
terbentuk, hal ini menunjukkan bahwa dalam urin subjek negatif
protein.
4

Kuprisulfat dan Sodium Basa

Hasil yang diperoleh dari perlakuan ini adalah negatif protein.


5

Pigmen Empedu

Urin yang telah dikocok kemudian diamati dan diperoleh hasil yakni terdapat
gelembung. Adanya gelembung menunjukkan bahwa urin mengandung pigmen
empedu (bilirubin dan biliverdin).
G. Pembahasan
1 Analisis fisik
Urine bukanlah sekedar produk limbah dari tubuh. Berbagai tes kesehatan
dilakukan dengan memanfaatkan urine. Bahkan warna urine dapat dijadikan
indikator kesehatan. Urine merupakan produk limbah dari tubuh yang tidak
mengandung racun. Urine mengandung 95 persen air, 2,5 persen urea dan sisanya
2,5 persen merupakan peleburan hormon, enzim, garam dan mineral
(Soewolo,2005).
Pada pengamatan praktikum analisis fisik pada urin dilakukan dengan
mengambil sampel dari urin laki-laki yang diambil dari salah satu anggota
kelompok. Pengamatan analisis fisik urine dilakukan dengan mengamati warna
urine, berat jenis urine, pH serta suhu urine.
Pada pengamatan warna urine menunjukkan hasil warna kuning gading.
Hal tersebut menunjukkan warna urine yang normal. Berikut ini adalah beberapa
warna urine beserta kemungkinan penyebabnya menurut Basoeki, dkk (2000):
Warna
kuning gading

kemungkinan penyebab
pigmen urine normal

tak berwarna
perak,warna susu
coklat berkabut
kuning berbuih

konsentrasi tereduksi
nanah, bakteri, sel epitel
darah
naiknya pigmen melanin

Kemudian pada pengamatan berat jenis urine dengan menggunakan


urinometer menunjukkan hasil memiliki berat jenis 1,01646 gram/cm3. Hal
tersebut menunjukkan berat jenis urine yang normal. Karena sesuai dengan teori
yang telah ada sebelumnya. Menurut Soewolo, dkk (1999) urine normal memiliki
berat jenis berkisar antara 1,003 1,030 .
Bobot jenis (bj) adalah rasio massa dari suatu benda atatu zat dengan
massa air pada volume yang sama pada 4oC atau dapat pula pada temperatur lain
yang ditentukan sendiri. Penentuan bobot jenis dapat dilakukan dengan berbagi
cara, salah satunya yaitu dengan cara hidrometer. Di laboratorium klinik, bj urine
diukur dengan hidrometer yang dikenal dengan urinometer. Urinometer adalah
hidrometer untuk penentuan bobot jenis dari urine dan ditera khusus untuk
penentuan tersebut. Urinometer memiliki skala 1.0000-1.0060 (tiga desimal) dan
umumnya dipergunakan pada temperatur 60oF atau 15,5 oC (Soewolo,2005).
Pengamatan suhu urine menunjukkan hasil yaitu 35oC. Sedangkan uji pH
dapat dilakukan dengan menggunakan kertas pH, kertas indicator universal. Pada
uji terhadap sample urine normal, skala kertas pH menunjukkan pH 6. Menurut
Soewolo (2005), urine normal memiliki pH antara 5 7.
Sifat-sifat urine antara lain :
(1) volume normal dewasa 600 2500 ml/hari, jumlah ini tergantung pada
masukan air, suhu luar, makanan dan keadaan mental/fisik individu.
(2) Berat jenis berkisar antara 1,003 1,030.
(3) Reaksi urine biasanya asam dengan pH kurang dari 6 (berkisar 4, 7-8). Bila
masukan protein tinggi, urin menjadi asam sebab fosfat dan sulfat berlebihan dari
hasil katabolisme protein.
(4) Warna urin normal adalah kuning gading. Pigmen utamanya urokrom. Sedikit
urobilin dan hematopofirin.
(5) Bau, urin segar beraroma sesuai dengan zat-zat yang dimakan (Soewolo,
1999).
2. Uji Kimia
a. Glukosa

Pada pengujian kandungan glukosa dalam urin, urin subjek negatif glukosa
(tidak mengandung glukosa). Berdasarkan hasil tersebut, artinya urine subjek
bebas dari salah satu unsur abnormal dari urine yaitu glukosa (Soewolo, 2003).
Pereaksi benedict yang mengandung kuprisulfat dalam suasana basa akan
tereduksi oleh gula yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas (misal oleh
glukosa), yang dibuktikan dnegan terbentuknya kupro oksida berwarna merah.
Warna awal urin adalah kuning gading dan setelah ditetesi benedict warna
berubah menjadi biru, kemudian dipanaskan seama 5 menit dalam air mendidih
dan warna tetap biru. Warna biru menunjukkan hasil negatif bahwa urin tidak
mengandung glukosa. Glukosa mempunyai sifat mereduksi, ion cupri direduksi
menjadi cupro dan mengendap dengan warna merah bata.
Glomerulus adalah bagian kecil dari ginjal yang mempunyai fungsi
sebagai saringan yang setiap menit kira-kira 1 liter darah yang mengandung 5 ml
plasma, mengalir melalui semua glomeruli dan sekitar 100 ml (10%) dari itu
disaring keluar. Plasma yang berisi semua garam, glukosa dan benda halus lainnya
disaring. Sel dan protein plasma terlalu besar untuk dapat menembus pori saringan
dan tetap tinggal dalam aliran darah untuk kemudian diproses pada tahap
berikutnya.
b. Protein
1

Uji Millon
Prinsip dari uji Millon adalah pembentukan garam merkuri dari tirosin

yang ternitrasi. Tirosin merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol
pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri dengan pereksi Millon.
Hasil positif dari uji Millon ditndai dengan warna lembanyung pada urin. Warna
lembayung menunjukkan bahwa urin mengandung protein. Dari hasil praktikum
diperoleh hasil negatif, sehingga dapat diketahui bahwa kerja ginjal subyek donor
urin masih berfungsi dengan baik.
Sewaktu filtrat glomerulus memasuki tubulus ginjal, filtrate ini mengalir
melalui bagian- bagian tubulus secara berurutan. Di sepanjang jalan yang
dilaluinya beberapa zat direabsorbsi secara selektif dari tubulus kembali ke
darah, sedangkan yang lain akan disekresikan dari darah ke dalam lumen tubulus.

Reabsorbsi tidak seperti filtrasi glomerulus yang secara relatif tidak selektif,
reabsorbsi tubulus sangat selektif. Beberapa zat, seperti glukosa dan asam amino
direabsorbsi hampir sempurna dalam tubulus. Banyak ion dalam plasma, seperti
natrium, klorida dan bikarbonat juga sangat direabsorbsi, tetapi kecepatan
reabsorbsinya bervariasi bergantung pada kebutuhan tubuh. Sebaliknya produk
buangan tertentu,seperti ureum, dan kreatinin, sulit direabsorbsi dari tubulus dan
diekskresi dalam jumlah yang relatif besar.
2

Metode asam sulfosalisilat

Protein dalam suasana asam lemah organik akan mengalami denaturasi yang
kemudian terjadi kekeruhan hingga endapan. Tidak ditemukan endapan pada
perlakuan ini sehingga urin dapat dikatakan bebas dari protein.
3 Benda Keton
Pada pengujian benda keton juga menunjukkan hasil yang negatif dengan
tidak terbentuknya cincin ungu. Berdasarkan hasil tersebut, artinya urin subjek
normal karena tidak terjadi katabolisme abnormal lemak didalam tubuhnya,
karena adanya benda keton dalam urin menunjukkan adanya katabolisme
abnormal lemak.
4 Kuprisulfat dan sodium basa
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan pada uji protein saat ditetesi
dengan larutan CuSO4 hasilnya negatif protein. Kupri sulfat (CuSO4) dalam
suasana basa bereaksi dengan senyawa yang mengandung dua ikatan peptida atau
lebih memberikan senyawa kompleks berwarna ungu. Keadaan warna ungu
menunjukan jumlah ikatan peptide dalam protein. Reaksi menunjukan hasil positif
terhadap dua senyawa yang mengandung dua gugus karbonil yang dihubungkan
melalui satu atom N dan C.
5

Pigmen Empedu

Pigmen empedu yang diamati adalah keberadaan bilirubin-biliverdin. Dari


hasil praktikum diperoleh bahwa ada buih setelah urin dikocok.
Didalam usus oleh flora usus bilirubin diubah menjadi urobilinogen yang tak
berwarna dan larut air, urobilinogen mudah dioksidasi menjadi urobilirubin yang
berwarna. Sebagian terbesar dari urobilinogen keluar tubuh bersama tinja, tetapi

sebagian kecil diserap kembali oleh darah vena porta dikembalikan ke hati.
Urobilinogen yang demikian mengalami daur ulang, keluar lagi melalui empedu.
Ada sebagian kecil yang masuk dalam sirkulasi sistemik, kemudian urobilinogen
masuk ke ginjal dan diekskresi bersama urin (Widman F.K,1995).
Di dalam urin yang normal terdapat urea, kreatinin, asam urat, garam,
pigmen empedu, dan asam oksalat, pigmen empedu terdiri dari biliverdin (hijau)
dan bilirubin (kuning). Pigmen ini merupakan hasil penguraian hemoglobin yang
dilepas dari sel darah merah terdisintegrasi. Pigmen utamanya adalah bilirubin
yang memberikan warna kuning pada urin dan feses (Slonane, 1994)
Namun pada urin normal adanya pigmen empedu ini tidak boleh
berlebihan, karena adanya sejumlah pigmen dalam cairan ekstraseluler berakibat
jaundice, yaitu warna kuning pada kulit (Soewolo, 2000).

H. Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah diperoleh dapat ditarik beberapa kesimpulan
yaitu.
1. Urin normal memiliki bau yang menyengat setelah didiamkan beberapa
saat.
2. Urin normal berwarna kuning gading dengan pH berkisar 6 dan berat
jenis antara 1,003 1,030.
3. Uji kandungan glukosa pada urin menunjukkan hasil negatif (urin tidak
mengandung glukosa).
4. Uji kandungan protein pada urin menunjukkan hasil negatif (urin tidak
mengandung glukosa) kecuali pada uji pigmen empedu.

DAFTAR PUSTAKA
Basoeki, Soedjono, dkk. 2000. Petunjuk Praktikum Anatomi dan Fisiologi
Manusia. Malang: FMIPA UM.
Slonane, Ethel, 1994. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta; Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Soewolo, dkk. 1999. Fisiologi Manusia. Malang: IMSTEP JICA FMIPA.
Universitas Negeri Malang.
Soewolo. 2005. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Malang: FMIPA UM.
Widmann FK. Tinjauan klinis atas hasil pemeriksaan laboratorium. Edisi 9
EGC. 1995 : 261.