Vous êtes sur la page 1sur 10

ANALISIS PEMANTAPAN MUTU INTERNAL PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH

DI INSTALASI LABORATORIUM KLINIK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


A WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA
Renny Wulanndari 1 , Sutiyami 2 , Eni kurniati 3
INTISARI
Instalasi Patologi Klinik RS A Wahab Sjahranie Samarinda merupakan salah satu
unit operasional dalam pelayanan kesehatan yang melayani berbagai macam
pemeriksaan yang menunjang sistem di RS A Wahab Sjahranie. Pemeriksaan
Glukosa Darah merupakan salah satu uji laboratorium untuk evaluasi Diabetes
Mellitus, permintaan pemeriksaan glukosa darah bisa mencapai 7.873 perbulan.
Permasalahan hasil pemeriksaan glukosa darah yang tidak sesuai dengan klinis
pasien setiap bulannya, melakukan pemeriksaan, serta pelaksanaan kontrol kualitas
harian yang belum optimal mendorong peneliti untuk melakukan penelitian.
Penelitian ini bertujuan untuk diketahui ketepatan dan ketelitian hasil pemeriksaan
Glukosa Darah serta diketahui faktor-faktor yang terkait dengan mutu hasil
pemeriksaan Glukosa Darah di Instalasi Laboratorium RSUD A Wahab Sjahranie
Samarinda.
Metode penelitian pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
deskriptif observasi. Penelitian dilakukan di Instalasi Patologi Klinik RSUD A Wahab
Sjahranie Samarinda bulan Desember 2012. Subyek penelitian adalah petugas yang
berhubungan langsung dengan pemeriksaan glukosa darah, dan observasi. Hasil
Pemantapan Mutu internal Pemeriksaan Glukosa Darah di Instalasi Laboratorium
RSUD A Wahab Sjahranie Samarinda pada tahap pra analitik mencapai 91.2%
tergolong kriteria baik. Pada tahap analitik tergolong kriteria baik dengan pencapaian
94,9% sedangkan pada tahap pasca analitik tergolong kriteria baik dengan
pencapaian 93,5%. Uji ketepatan 1,07% yang berarti tingkat tinggi dan Uji Ketelitian
1,64% juga mempunyai tingkat akurasi yang tinggi. Evaluasi kontrol melanggar
aturan 10x wesgard rules dimana sepuluh kontrol terdapat pada satu level dalam
rerata yang menunjukkan kesalahan sistematik. Setelah dianalisis Pemantapan
Mutu Internal Pemeriksaan glukosa darah di Instalasi Laboratorium RSUD A Wahab
Sjahranie Samarinda pada tahap pra hingga pasca pra analitik tergolong kriteria
baik. Uji ketepatan baik dan uji ketelitian baik walaupun terjadi pelanggaran
wesgardrule aturan 10x yaitu pada pelayanan instrumen bisa digunakan tetapi
kalibrasi harus dijalankan secara teratur dan faktor-faktor yang terkait dengan mutu
pemeriksaan glukosa darah dari tahap pra analitik, analitik dan pasca pra analitik
secara keseluruhan sudah dilaksanakan dengan baik.
Kata Kunci : Analisis, kontrol kualitas, ketepatan dan ketelitian, glukosa darah
1. Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
2,3. Dosen Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Pendaluhuan
Rumah Sakit A Wahab Sjahranie adalah rumah sakit type B pendidikan milik
pemerintah provinsi Kalimantan Timur dan berstatus sebagai rujukan puncak (Top
Referensi) di Provinsi Kaltim juga sebagai pusat kegiatan penelitian, pengembangan
serta diklat. 1
Laboratorium klinik adalah sarana kesehatan yang melaksanakan
pengukuran, penetapan dan pengujian terhadap bahan dari manusia untuk
menentukan jenis penyakit, kondisi kesehatan atau faktor yang dapat berpengaruh
pada kondisi kesehatan atau perorangan dan masyarakat. RSUD A wahab Sjahranie
memiliki Instalasi Laboratorium di bidang Patologi Klinik meliputi pelayanan
Hematologi Klinik, Imunologi, Urinalisa, Mikrobiologi dan Kimia Klinik, yang
merupakan salah satu unit operasional dalam pelayanan kesehatan Undang-Undang
No. 36 Tahun 2006 tenttang kesehatan menjadi landasan hukum yang kuat untuk
pelaksanaan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Kepmenkes No. 289 tentang
pedoman Akreditasi Laboratorium Kesehatan dan Pemenkes No. 411 Tahun 2010
tentang Laboratorium Klinik merupakan penjabaran dari undang-undang tersebut
dalam menjamin mutu pelayanan laboratorium kesehatan bagi masyarakat. 2
Permintaan pemeriksaan glukosa darah di instalasi Patologi Klinik RSUD A
Wahab Sjahranie cukup tinggi, yaitu mencapai 55.113 sampel pada bulan JanuariJuli 2012 dengan rata-rata jumlah pemeriksaan setiap bulannya adalah 7.873
sampel. Hasil pemeriksaan glukosa darah sangat bermanfaat untuk pengambilan
keputusan-keputusan klinis bagi keselamatan pasien. Sebagai komponen penting
dalam pelayanan kesehatan, hasil pemeriksaan laboratorium harus terjamin
mutunya. 3
Pemantapan mutu internal glukosa darah dilakukan secara mandiri oleh
laboratorium klinik dengan memonitor prosedur pemeriksaan yang merupakan
indikator kinerja laboratorium sehingga mutu akurasi (ketepatan) dan presisi
(ketelitian) hasil laboratorium dapat terus ditingkatkan. 4
Untuk dapat memberikan jaminan mutu tersebut, maka perlu dilakukan
upaya yang sistematis yang dinamakan kontrol kualitas (Quality Control). Evaluasi
hasil kontrol dapat dilakukan dengan menggunakan aturan-aturan wesgard
(Wesgard rules). Upaya pemantapan mutu internal di Instalasi Laboratorium RSUD
A Wahab Sjahranie samarinda telah dilaksanakan diantaranya dengan kontrol
kualitas dibidang kimia klinik termasuk kontrol kualitas glukosa darah. Namun untuk
mendapatkan validitas hasil pemeriksaan pemantapan glukosa darah maka perlu
adanya pelaksanaan pemantapan mutu internal dari tahap pra analitik dan pasca
analitik,
agar
hasil
yang
dikeluarkan
oleh
laboratorium
dapat
dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui bagaimana
pelaksanaan pemantapan mutu internal pemeriksaan glukosa darah di instalasi
laboratorium RSUD A Wahab Sjahranie samarinda.

Metode
Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yang bertujuan untuk mengetahui
ketepatan dan ketelitian hasil pemeriksaan glukosa darah di Instalasi Patologi Klinik
Rumah Sakit Umum A wahab sjahranie yang dilaksanakan pada bulan Desember
2012 serta faktor-faktor yang terkait dengan mutu hasil pemeriksaan glukosa darah.
Subyek dalam penelitian ini adalah petugas yang berhubungan langsung
dengan proses pemeriksaan glukosa darah. Narasumber ditetapkan secara
purposive karena mempertimbangkan kekayaan informasi sehingga diharapkan
peneliti akan mendapatkan informasi yang sebanyak-banyaknya tentang
pelaksanaan pemantapan mutu internal pemeriksaan glukosa darah.
Narasumber sendiri berjumlah 10 orang., terdiri dari 1 orang kepala instalasi,
orang penanggung jawab quality kontrol dan petugas plebotomi dan tujuh orang
analisis pelaksana. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
meliputi metode observasi yakni melakukan observasi langsung dengan bantuan
checklist tentang kegiatan pemantapan mutu internal mulai dari tahap pra analitik
dan pasca pra analitik, metode wawancara yakni melakukan wawancara kepada
petugas perihal pelaksanaan kegiatan pemantapan mutu internal dan pengumpulan
dokumen, yakni mengambil data kontrol kualitas pemeriksaan glukosa darah pada
bulan Desember 2012 sebagai periode kontrol untuk menentukan bias (d%),
ketelitian (CV%).5
Hasil Penelitian
Karakteristik Narasumber
Wawancara dilakukan untuk menggali informasi yang lebih dalam tentang
pelaksanaan mutu internal. Wawancara dilakukan terhadap 10 orang responden,
yaitu satu dokter sebagai kepal instalasi dengan masa dinas 9 tahun, satu
penanggung jawab quality control dengan masa dinas empat belas tahun, dan
petugas plebotomi serta tujuh petugas analisis.
1. Pelaksanaan Pemantapan Mutu Internal Pemeriksaan Glukosa darah
Hasil Observasi
Observasi kepada petugas laboratorium dilaksanakan selama 20 hari kerja.
Observasi dilakukan langsung dengan menggunakan check list sebagai paduan
dalam observasi tentang pelaksanaan pemantapan mutu internal pemeriksaan
glukosa darah mulai tahap pra analitik, tahap analitik dan tahap pasca analitik.
A. Tahap Pra Analitik
Aspek yang dinilai pada tahap pra analitik adalah identifikasi pasien dan
specimen, persiapan pasien, pengambilan dan penerimaan specimen,
penanganan specimen dan uji kualitas reagen. Data pelaksanaan
spemantapan mutu internal pemeriksaan glukosa darah tahap pra analitik
menunjukkan psesentase pelaksanaan sebanyak 91,2%. Semua aspek

kegiatan pada tahap ini termasuk kriteria baik yaitu aspek identifikasi pasien
dan specimen, persiapan pasien, pengambilan dan penerimaan specimen
dan uji kualitas reagen.
B. Tahap analitik
Aspek yang dinilai pada tahap analitik adalah perawatan dan kalibrasi alat, uji
kontrol ketepatan dan ketelitian, dan pelaksanaan pemeriksaan. Data
pelaksanaan pemantapan mutu internal Pemeriksaan Glukosa Darah tahap
analitik menunjukkan presentase pelaksanaan sebanyak 94,3%, termasuk
kriteria baik. Pada tahap innni semua aspek kegiatan termasuk kriteria baik
yaitu perawatan dan kalibrasi alat, uji ketepatan dan ketelitian pelaksanaan
pemeriksaan.
C. Tahap Pasca Analitik
Aspek yang dinilai pada tahap pasca analitik adalah interprestasi, vertifikasi,
validasi hasil, pencatatan dan pelaporan hasil. Data pelaksanaan
pemantapan mutu internal pemeriksaan glukosa darah tahap pasca analitik
menunjukkan presentase pelaksanaan sebanyak 93,5%, termasuk kriteria
baik seluruh kegiatan pada tahap ini termasuk kriteria baik.
Pemeriksaan serum kontrol Glukosa darah di Instalasi laboratorium RSUD A
wahab Sjahranie sudah dilakukan setiap hari oleh petugas shift pagi antara
pukul 07.30 08.00 sebelum pemeriksaan sampel dilaksanakan. Serum
kontrol untuk pemeriksaan glukosa darah hanya memakai satu level yaitu
kontrol normal.
Hail Analisa Ketepatan dan ketelitian pemeriksaan glukosa darah disajikan
dalam tabel berikut :
No
Kriteria
Hasil
Standar
1.
Bias (d%)
1,07
2,2
2.
Coevisien
Variensi 1,64
2,9
(CV%)
3.
Wesgardrules
Ada
pelanggaran Tidak
ada
terhadap aturan 10x. pelanggaran aturan
sepuluh
nilai 12S 113S. 22S. R4S.
berurutan
berada 41S. dan aturan 10x
pada sisi yang sama
terhadap
rerata
dalam satu level
kontrol.
Jika didapatkan nilai bias dan CV rendah maka hanya membutuhkan
prosedur QC minimal, tapi bila tetap didapatkan nilai bias tinggi, maka membutuhkan
lebih banyak prosedur QC. Pada hasil analisis faktor-faktor yang terkait dengan
pemeriksaan glukosa darah, yaitu :

a) Pra Analitik
1. Kelengkapan formulir yang belum lengkap
Petugas melengkapi formulir yang tidak lengkap dengan menanyakan lagi
pada pasien rawat jalan atau rawat inap.
2. Persiapan Pasien
Dalam pengamatan petugas memberikan informasi persiapan pasien
sebelum pengambilan 00specimen selebihnya pasien sudah memahami
sendiri.
3. Pengambilan Specimen dilakukan petugas yang terampil dengan cara yang
benar
Petugas sudah melakukan sesuai SOP dan teramppil.
4. Mengecek specimen setelah pengolahan/sentrifuge untuk melihat kondisi
specimen hemolisis atau tidak.
Petugas mengecek ada lisis atau tidak specimen setelah dicentrifuge, bila
ada sampel lisis yang tidak dilanjutkan untuk pemeriksaan
5. Selalu mengecek tanggal kadaluwarsa reagensia sebelum digunakan
Petugas mengecek setiap penggantian reagen baru selalu dilakukan
pengecekan tanggal kadaluwarsa reagen yang ada di kotak list.
6. Pengelolaan sampel pada waktu dibawa sampai ke laboratorium
Setelah dilakukan sampling specimen dituang ke botol atau tabung yang
sudah siap kemudian dibawa dengan box supaya aman.
b) 1. Kalibrasi alat
Kalibrasi alat rutin dilakukan petugas setiap menyalakan alat dan sebelum
dilakukan pemeriksaan.
2. Melakukan kontrol serum pada setiap pemeriksaan specimen
Sebelum melakukan pemeriksaan petugas rutin melakukan kontrol kualitas
setiap pagi hari.
3. Ada SOP
Sudah ada SOPPP di setiap sub/seksi terutama ruang kimia klinik.
4. Evaluasi hasil kontrol kualitas
Evaluasi belum rutin dilaksanakan hanya berdasarkan masuk tidaknya nilai
kontrol dalam range yang dikeluarkan pabrik dan diulang bila tidak masuk
range.
5. Pemeliharaan suhu almari es dan ruangan
Petugas melakukan pemantauan terhadap suhu lemari es tempat
penyimpanan control dan reagen secara rutin.
c) Pasca Analitik
1. Mencatat hasil pemeriksaan pada register pemeriksaan .
Petugas selalu mencatat setiap hasil yang keluar pada register pemeriksaan
untuk dituliskan ke blangko hasil

2. Mengecek parameter pemeriksaan sudah sesuai permintaan


Petugas mengecek setiap hari hasil yang keluar untuk menghindari
kurangnya parameter yang tertinggal.
3. Penyerahan hasil ke pasien
Hasil diserahkan pada pasien datang dengan mengambil sendiri
4. Hasil dikonsultasikan kepada penanggung kjawab jika hasil meragukan.
Setiap hasil yang meragukan dilaporkan pada dokter penanggung jawab
untuk dicari permasalahannya.
Pembahasan
Dari hasil observasi yang diolah dengan statistik deskriptif berdasarkan
scoring, diperoleh hasil seperti pada tabel . Penentuan kriteria dibagi menjadi tiga
kelompppok sebagai berikut : kriteria baik dengan presentase pencapaian 75-100%;
kriteria kurang baik dengan presentase pencapaian 60-74,9%; kriteria tidak baik
dengan presentase pencapaian 0-58,9%. 7
a. Tahap Pra Analitik
1. Aspek identifikasi pasien dan specimen tergolong kriteria baik dengan
pencapaian 90,0%. Kegiatan menolak specimen dengan identitas yang tidak
lengkap terdapat 65% termasuk kriteria kurang baik. Hal ini menunjukkan
petugas kurang menyadari pentingnya identitas specimen, dimana identitas
specimen merupakan salah satu hal utama yang utama untuk mencegah
kemungkinan tertukarnya specimen laboratorium. Petugas harus lebih
memperhatikan identitas sebelum menerima specimen.
2. Aspek persiapan pasien dengan pencapaian 86,4% tergolong kriteria baik.
Semua kegiatan sudah dilaksanakan dengan baik oleh petugas.
3. Aspek pengambilan dan penerimaan specimen dengan pencapaian 94,3%
tergolong kriteria baik. Semua kegiatan sudah dilaksanakan dengan baik
oleh petugas.
4. Aspek penanganan specimen tergolong kriteria baik dengan pencapaian
95.0%. Semua aspek penanganan specimen sudah dilaksanakan dengan
baik oleh petugas
5. Aspek uji kualitas reagen tergolong kriteria baik dengan pencapaian 90,5%.
Semua aspek uji kualitas reagen sudah dilaksanakan dengan baik oleh
petugas.
b. Tahap analitik
1. Aspek perawatan dan kalibrasi peralatan tergolong kriteria baik dengan
pencapaian 96,1%. Semua kegiatan sudah dilaksanakan dengan baik oleh
petugas.
2. Aspek pengujian kontrol ketepatan dan ketelitian dengan pencapaian 90,5%
tergolong kriteria baik. Pada kegiatan evaluasi hasil kontrol harian pada kartu

kontrol terdapat 60% dengan kriteria tidak baik, hal ini disebabkan tidak
rutinnya mengevaluasi hasil kontrol harian dan hanya satu petugas yang
melakukannya. Petugas harus melakukan evaluasi hasil setiap hari karena
evaluasi hasil ketelitian dan ketepatan dapat menentukan apakah ada
penyimpangan atau tidak pada hari tersebut.
3. Aspek pelaksanaan pemeriksaan dijalankan dengan baik dengan pencapaian
96,4%.
c. Tahap pasca analitik
1. Aspek interpretasi, verifikasi dan validasi dilaksanakan dengan baik dengan
pencapaian 98,%. Petugas sudah melakukan pengecekan ulang kesesuaian
hasil pemeriksaan, memastikan semua prosedur sudah diakui dengan
benar/tidak terjadi kesalahan dari tahap pra analitik sampai hasil siap
dilaporkan.
2. Aspek pencatatan hasil pemeriksaan tergolong baik dengan pencapaian
84,3%.
3. Aspek pelaporan hasil pemeriksaan tergolong baik dengan pencapaian
98,3%. Yang perlu ditingkatkan adalah penyerahan hasil kepada pasien
memakai buku ekspedisi.
Analisis Pelaksanaan Uji ketepatan dan Ketelitian
Berdsarkan hasil observasi terhadap pemeriksaan bahan kontrol selama 20
hari, pelaksanaan uji ketepatan pemeriksaan di instalasi laboratorium Klinik RSUD A
wahab Sjahranie Samarinda untuk pemeriksaan glukosa darah mempunyai
ketepatan
yang tinggi. Karena semakin kecil bias, semakin tinggi akurasi
pemeriksaan kita. 4
Tingkat ketelitian pemeriksaan glukosa darah juga mempunyai ketelitian
yang tinggi, dari hasil analisis ketepatan dan ketelitian berdasarkan wesgardrule
dalam grafik Levey Jenning hasil yang didapatkan kontrol dapat diterima semua
tetapi sepuluh nilai berurutan berada pada sisi yang sama terhadap rerata dalam
satu level kontrol, pada aturan ini terjadi pelanggaran yang mengidentifikasikan pada
kesalahan sistematik. Kesalahan sistematik ini dapat diminimalkan dengan
mematuhi :
1. Kalibrasi instrumen analitik dan non analitik secara berkala.
2. Penggunaan metode kalibrasi yang tepat.
3. Penggunaan metode pemeriksaan yang direkomendasikan
4. Pemeliharaan alat secara berkala
5. Penyimpanan bahan kontrol, standar, dan kalibrator yang tepat.

Hasil Analisis Faktor-faktor yang terkait dengan Mutu Internal Pemeriksaan


Glukosa Darah
Berdasarkan hasil analisis faktor-faktor yang terkait dengan mutu
pemeriksaan glukosa darah dari tahap pra analitik, dan pasca analitik sudah
dilakukan oleh semua petugas laboratorium secara benar dan sesuai dengan SOP
yang ada, serta pelaksanaannya sudah dilakukan secara teratur.
Kesimpulan
Pemantapan mutu internal pemeriksaan glukosa darah bulan Desember
2012 di Instalasi Laboratorium RSUD A wahab sjahranie Samarinda secara
keseluruhan sudah dilaksanakan dengan baik mulai dari tahap pra analitik , tahap
analitik dan tahap pasca analitik, dikarenakan petugas yang sudah mematuhi
prosedur tetap (SOP) yang ada dan sudah sesuai dengan pedoman Good
Laboratory Pracitice. Masih memerlukan perbaikan yaitu pada tahap pra analitik
aspek identifikasi pasien dan specimen, pada tahap analitik aspek uji kontrol
ketepatan dan ketelitian, yaitu hanya melakukan kontrol setiap hari dan tidak
melakukan evaluasi secara rutin.
Hasil pelaksanaan uji ketelitian pemeriksaan glukosa darah bulan Desember
2012 di instalasi RSUD A wahab sjahranie Samarinda mempunyai tingkat akurasii
yang baik dengan nilai KV (%) sebesar 1,64% dengan nilai spesifikasi 2,9% yang
menunjukkan tidak adanya kesalahan acak.
Hasil pada pelaksanaan uji ketepatan dan ketelitian untuk pemeriksaan
glukosa darah didapatkan nilai biasnya d (%) sebesar 1,07% dengan nilai spesifikasi
2,2% yang menunjukkan semakin kecil biasnya, semakin tinggi akurasinya, dan
pada analisis ketepatan dan ketelitian dalam grafik Levey Jennings hasil yang
didapatkan kontrol dapat diterima tetapi terdapat pelanggaran 10x yaitu sepuluh nilai
berurutan berada pada sisi yang sama terhadap rerata dalam satu level kontrol yang
sama, hal ini menunjukkan adanya kesalahan sistematik, tetap bisa menggunakan
instrumen untuk pelayanan pasien, tetapi maintenance atau kalibrasi harus tetap
dijalankan.
Pada pemantapan mutu internal juga terdapat faktor yang terkait dengan
mutu hasil pemeriksaan glukosa darah di Instalasi aboratorium Klinik RSUD A
wahab sjahranie Samarinda yang sudah dilaksanakan sesuai dengan standar
Prosedur Operasional , yang belum dilaksanakan adalah pelaksanaan uji ketepatan
dan ketelitian di evaluasi dengan penelitian terhadap grafik Levey Jenning atau
analisis wesgardrule untuk mengetahui faktor penyebab kesalahan analitik.

Pada pemantapan mutu internal juga terdapat faktor-faktor yang terkait


dengan mutu hasil pemeriksaan glukosa darah di Instalasi laboratorium klinik RSUD
A wahab sjahranie Samarinda dari latar belakang pendidikan dan pengalaman serta
tentang pelaksanaan pemantapan mutu internal pemeriksaan glukosa darah di
Laboratorium RSUD A wahab sjahranie Samarinda dari tahap pra analitik, tahap
analitik, dan tahap pasca analitik secara keseluruhan sudah dilaksanakan dengan
baik dan sudah ada SOP sebagai pedoman pelaksanan tetapi belum semua benar
dan tertur sesuai standar (Good Laboratory Pracitice) yang menjadi pedoman kerja
di Laboratorium.
Saran
1. Pada tahap pra analitik
a. Ketelitian petugas dalam identifikasi pasien dan specimen dalam form
permintaan pemeriksaan laboratorium perlu dilengkapi dan petugas
poliklinik/dokter pengguna jasa laboratorium secara lengkap karena
kelengkapan identitas merupakan bagian dari mutu pemeriksaan.
b. Kepatuhan petugas sampling terhadap prosedur tetap/standar persiapan
pasien pemeriksaan glukosa darah lebih ditingkatkan guna meningkatkan
mutu pemeriksaan.
2. Pada tahap analitik
a. Petugas laboratorium perlu melakukan perawatan dan pemeliharaan secara
berkala dalam 3 bulan sekali agar diperoleh kondisi yang optimal, karena alat
merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.]
b. Perlu adanya sosialisasi untuk petugas laboratorium dalam evaluasi
wesgardrule secara rutin, karena uji ketepatan dan ketelitian dalam kontrol
serum parameter pemeriksaan merupakan salah satu pedoman yang dapat
digunakan laboratorium dalam kebijakan suatu mutu hasil pemeriksaan.
c. Memberikan pelatihan atau pengetahuan kepada petugas laboratorium
untuk dapat melakukan evaluasi pemantapan mutu internal laboratorium
klinik.
3. Tahap pasca analitik
a. Dilakukan evaluasi / audit internal yaitu menilai atau memeriksa kembali
secara kritis berbagai kegiatan pemantapan mutu internal yang belum sesuai
dengan standar (Good Laboratory Pracitice) sehingga mutu pemeriksaan
laboratorium selalu terjaga.
b. Perlu sosialisasi tentang pentingnya LIS (Laboratory Information System) dan
pengajuan kepada Rumah sakit untuk dapat melaksanakan sistem tersebut
guna meminimalisir tingkat identifikasi, pencatatan dan pelaporan hasil
pemeriksaan.

Daftar Pustaka
1. Http//rsudaws.com. Profil RSUD A wahab sjahranie Samarinda
2. Depkes RI. 2010. Produk Hukum. Diunduh tanggal 08 September 2012 dari
http://www.hukor.depkes.go.id
3. Depkes RI. 2004. Pedoman Praktek laboratorium yang Benar (Good
Laboratory Practice), Cetakan ke-3 Jakarta.
4. Sukorini, U, Nugroho, D. K., riski, M., Hendriawan P. J., B. 2010.
Pemantapan Mutu Internal Laboratorium Klinik. Kanalmedika dan Alfamedia
Citra. Yogyakarta.
5. Depkes RI. 2007. Standar pelayanan Rumah Sakit-Instrumen Penilaian
Akreditasi Rumah Sakit. Departemen Kesehatan RI. Jakarta