Vous êtes sur la page 1sur 6

PENDAHULUAN

A.

Definisi

Moluskum kontagiosum adalan penyakit disebabkan oleh virus poks, klinis berupa
papul-papul, pada permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang mengandung badan
moluskum.1
B.

Epidemiologi

Penyakit ini terutama menyerang anak dan kadang-kadang juga orang dewasa. Jika
pada orang dewasa digolongkan dalam penyakit akibat hubungan seksual (P.H.S).
transmisinya melalui kontak kulit langsung dan otoinokulasi. Kejadian moluskum
kontangiosum sebagai penyakit yang ditularkan secara seksual pada orang muda kini
meningkat. Hal ini juga terlihat pada penderita AIDS.
Insiden moluskum kontagiosum naik pada tahun 1960-1980 di Amerika Serikat.
Dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada tahun 1984 diklinik urologi Amerika Utara,
marlogis dari pusat pengendalian dan pencegahan penyakit melaporkan 1 kasus moluskum
kontagiosum terjadi untuk setiap 42-60 kasus infeksi gonore.
Tingkat prevalensi dalam populasi terinfeksi HIV dilaporkan 5-18%. Pada
pasienyang terinfeksi HIV dan yang memiliki jumlah CD4+ kurang dari 100 sel / uL,
pervalensi moluskum kontagiosum dilaporkan setinggi 33 %.
Mortalitas dan morbiditas
Moluskum kontagiosum adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri pada orang yang
imunokompeten, tanpa ada komplikasi jangka panjang atau sequelae. Sebaliknya, pada
pasien yang terinfeksi HIV, infeksi moluskum kontagiosum dapat mengakibatkan

LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Netanya Rira

Umur

: 8 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Suku / Bangsa

: Minahasa / Indonesia

Alamat

: Winangun

Agama

: Kristen Protestan

Pendidikan

: SD (kls 3)

Tanggal pemeriksaan

: 25 februari 2013

B. ANAMNESIS :
Keluhan utama :
Bintik-bintik putih dibadan 6 bulan yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Bintik-bintik putih dibadan timbul sejak 6 bulan yang lalu, awalnya
muncul dilengan kiri dan kanan lalu menyebar sampe kebagian wajah, punggung
dan paha. Penderita mengaku tidak merasa gatal ataupun nyeri pada daerah luka.
Bintik-bintik awalnya muncul kecil dan lama kelamaan menjadi lebih besar.

Penderita mengaku sudah memakai obat oles tetapi tidak mengalami perubahan.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat bintik-bintik putih dibadan (+) saat SD kls 1
Riwayat Alergi :
Alergi obat disangkal.
Alergi makanan disangkal

Riwayat Atopi :
Bersin pagi hari (-), alergi debu (-), asma disangkal.

Riwayat penyakit keluarga :


Adik penderita mengalami sakit seperti ini.

Riwayat sosial :
Didalam lingkungan tempat tinggal penderita tidak ada yang sakit seperti
ini.

Riwayat kebiasaan:

Hari-hari penderita seorang murid SD, dari pagi sampe siang penderita berada di
sekolah dan siangnya penderita sudah dijemput pulng kerumah. Penderita sering
bermain diluar bersama teman-temannya.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis :
Keadaan Umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda vital

: Tekanan Darah : 110/70 mmHg


Nadi : 80 x/menit
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 36,8o C

Kepala

Thoraks

: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik


: simetris
Jantung

: SI-II normal, tidak ada bising

Paru

: suara pernapasan vesikuler, tidak ada ronkhi,


tidak ada wheezing

Abdomen

: datar, lemas, bising usus (+) normal


Hepar dan lien: tidak teraba

Ekstremitas

Status Dermatologis :
R. Brachi et antebrachi sinistra, R. Femoralis sinistra, R. Fascialis : papul

: hangat, edema tidak ada, sianosis tidak ada

miliar warna putih (+), multipel, delle (+).

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang
E. DIAGNOSIS :
Moluskum kontagiosum
F. DIAGNOSIS BANDING :
Varicela

Veruka vulgaris
Liken Planus

G. Terapi :
Non-Medikamentosa
Ekskokhleasi.
Mengeluarkan massa yang mengandung badan moluskum. Menggunakan alat
seperti ekstraktor komedo dan jarum suntik.

Medikamentosa
Natrium Fusidat Salf (2x app)

H. Prognosis
Quo ad vitam
Quo ad functionam
Quo ad sanationam

: bonam
: bonam
: dubia et bonam

I. Anjuran

hindari kontak pada daerah yang terinfeksi dan hindari pemakaian handuk bersama

jangan menggaruk, karena akan menyebabkan otoinokulasi atau infeksi sekunder.

J. Diskusi
Pasien ini didiagnosis dengan moluskum kontagiosum yang ditegakkan
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis ditemukan bintikbintik putih dibadan timbul sejak 6 bulan yang lalu, awalnya muncul dilengan
kiri dan kanan lalu menyebar sampe kebagian wajah, punggung dan paha. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan kelainan kulit berupa papul-papul berwarna putih
dengan konsistensi padat, ukuran bervariasi dengan permukaan licin di tengah
terdapat lekukan. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa moluskum
kontagiosum ditandai dengan lesi yang khas berupa papul baik tunggal maupun
ganda, berwarna putih seperti mutiara ukuran bervariasi dengan diameter 1-10 mm
dan bagian tengah terdapat lekukan delle. Diagnosis pasti dari kasus ini didapatkan
setelah dilakukan tindakan ekskokleasi dimana ditemukan badan moluskum
kontagiosum (+).

Sumber penularan penyakit pada kasus ini belum diketahui karena


riwayat kontak dengan penderita moluskum kontagiosum sebelumnya tidak
diketahui penderita. Mungkin saja penderita sempat terpapar dengan penderita
moluskum kontagisum lainnya namun tidak diperhatikan oleh penderita, mengingat
penderita adalah murid SD yang sering bermain dengan banyak teman sehingga
lebih mudah untuk terinfeksi dengan penderita moluskum kontagiosum lainnya.
Diagnosis banding kasus ini pertama adalah varisela karena berdasarkan
gejala klinik terdapat vesikel-vesikel yang menyerupai papul-papul pada moluskum
kontagiosum, dan juga terdapat lekukan delle pada vesikel varisela yang telah
pecah dimana hal ini juga ditemukan pada moluskum kontagiosum. Namun pada
varisela biasanya diawali dengan stadium prodromal berupa panas, malaise, dan
nyeri dimana hal ini tidak ditemukan pada penderita tersebut sehingga diagnosis
banding ini dapat disingkirkan.
Diagnosis banding kedua adalah veruka vulgaris oleh karena dapat terjadi
pada anak-anak dengan bentuk lesi bulat, tapi tidak adanya lekukan delle,
permukaan yang kasar, berwarna abu-abu dan juga lebih sering timbul di jari kaki
dan tangan dapat menyingkirkan diagnosis banding ini.
Diagnosis banding ketiga adalah liken planus karena pada liken planus
biasanya ditandai dengan timbulnya papul-papul berwarna merah biru, berskuama,
dan sangat gatal. Sehingga diagnosis banding ini dapat disingkirkan.
Penatalaksanaan pada penderita ini adalah melalui ekskokhleasi untuk
mengeluarkan badan moluskum kontagiosum, sesuai dengan prinsip pengobatan
moluskum kontagiosum yaitu mengeluarkan massa yang mengandung badan
moluskum. Tapi sebelum dilakukan ekskokleasi, terlebih dahulu penderita
diberikan lidocain topical (krim) untuk mengurangi rasa nyeri dan traumatik pada
pasien. Setelah tindakan ekskokleasi dilakukan, diberikan natrium fusidat berupa
salep sebagai profilaksis terhadap timbulnya infeksi, karena dengan tindakan
ekskokhleasi akan meninggalkan ekskoriasi yang rentan terhadap infeksi sekunder
dan pasien dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan lukanya agar semakin
terhindar dari bahaya infeksi.
Penderita dianjurkan untuk kontrol kembali ke poliklinik jika ternyata
timbul lagi papul-papul yang baru.

Prognosis pada penderita ini baik, terutama dengan dihilangkannya semua


lesi yang ada, maka penyakit ini jarang residif, apalagi bila tidak ditemukan infeksi
sekunder.
Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit ini, para
petugas kesehatan diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas mengenai
sifat dan cara penyebaran penyakit ini.