Vous êtes sur la page 1sur 15

ANALISIS URIN

I.

Tujuan :
I.1 Melakukan evaluasi skrinning terhadap fungsi ginjal dengan cara
analisis
I.2 Menginterprestasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh

II.

Prinsip :
II.1 Glukosa
Berdasarkan reaksi enzimatik, berdasarkan D-glukosa oleh enim
glukosa oksidase diubah menjadi D-Glukonalakton dan H 2O2 yang
terbentuk akan mengoksidasi kromogen membentuk warna coklat.
II.2 Protein
Berdasarkan indikator yang digunakan tertrabromfenol biru
didapat

dengan

asam

sampai

ph

atau

tetraklorofenol

tetrabromosulfoftlein.
II.3 Bilirublin
Berdasarkan reaksi Bilirublin dengan garam diazonium dalam
media asam.
II.4 Keton
Berdasarkan reaksi nitroprusid (Natrium Troferrisianida). Natrium
Nitroferi sianida dan glisin bereaksi dengan asetoasetat dan seton
dalam media basa membentuk warna violet.
II.5 Urobilinogen
Berdasarkan reaksi Ahrlich.
II.6 Nitrit
Berdasarkan reaksi Nitrit dengan Benzokinolin pada ph asam
menghasilkan warna merah azo.
II.7 Leukosit
Berdasarkan prinsip Leukosit esterasi dalam urine yang dpat
menghidrolisa suatu ester (Indoxyl ester) menjadi alkohol dan
asam.
II.8 Berat Jenis
Berdasarkan pada perubahan warna reagen dari biru hijau ke hijau
kekuningan tergantung pada konsentrasi ion dalam urine.
II.9 Ph
Berdasarkan double indikator, yaitu indikator metil merah dan
bromtimol biru memberikan range warna orange, hijau dan biru
pada saat ph meninggi (range ph 5-9)
II.10 Darah

Berdasarkan aktivitas psedoproxidatif hemoglobin yang mana


alkalis reaksi dari dispropil benzene dihidroperoksid.

III.

Reaksi
III.1

Glukosa

glukosa oksidase
----------> asam glukonat + H2O2
peroksidase
H2O2 + Kromogen ----------------> kromogen teroksidasi + H2O
III.2
Esterase Leukosit
Glukosa + O2

III.3Darah

III.4

Urobilinogen

III.5Keton

III.6Birilubrin
III.7Nitrit

III.8

IV.

Protein

Teori Dasar
Ginjal merupakan suatu kelenjar yang terletak di belakang dari
kavum abdominalis di belakang peritonium. Fungsi ginjal yaitu
berperan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun.
Mempertahankan

suasana

racun

(keseimbangan

racun),

mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan


tubuh, mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain
dalam tubuh, mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari
produksi ureum, kreatinin dan amoniak. ( kartolo, 1990)
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang
dieksresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam
tubuh melalui proses urinasi. Eksresi urin diperlukan untuk membuang
molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal untuk
menjaga

homeostatis

cairan

tubuh.

Dalam

mempertahankan

homeostatis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian


pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. Selain itu,
urn juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang
kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan homeostatis ini.
Urinalis adalah analisis fisika, kimia, dan mikroskopik terhadap
urin. Urinalis berguna untuk mendiagnosis penyakit ginjal atau infeksi
saluran kemih dan untuk endeteksi adanya penyakit metabolik yang
tidak berhubungan dengan ginjal.

Secara umum, urin berwarna kunig. Urin yang didiamkan agak


lama akan berwarna kuning keruh. Urin berbau khas yaitu berbau
amonia. Ph urin berkisar antara 5-9 dan akan menjadi lebih asam jika
mengkonsumsi banyak protein serta urin akan menjadi lebih basa jika
mengonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urin sekitar 1,002 1,035
g/ml. (Uliyah, 1008)
Komposisi urin terdiri dari 95% air dan mengandung zat terlarut.
Di dalam urin terkandung bermacam-macam zat lain, diantaranya :
1. Zat sisa pembongkaran protein seperti urea, asam ureat dan
amoniak.
2. Zat warna ampedu yang memberikan warna kuning pada urin.
3. Garam, terutama NaCl
4. Zat-zat yang berlebihan dikonsumsi misalnya vitamin C dan
obat-obatan serta jug kelebihan zat yang diproduksi sendiri
oleh tubuh misalnya hormon. (Etnel, 2003)
Pada analisis urin terdapat beberapa eksperimen-eksperimen ini
dilakukan untuk menguji sample urin tersebut mengandung zat-zat
yang tidak dikenal atau tidk. Jumlah urin yang dihasilkan
seseorang dipengaruhi oleh jumlah urine yang diminum, hormon
anti diuretika (ADH) saraf dan banyaknya garam yang harus
dikeluarkan unsur sedimen dibagi atas dua golongan golongan
organik yang berasal dari organ atau jaringan, golongan anorganik
yang tidak berasal dari organ atau jaringan. (Dahelmi, 1991)
Proses pembentukan urin dalam ginjal meliputi proses
penyaringan (filtrasi), penyerapan kembali (reabsorbsi) dan
penambahan zat-zat (augmentasi). Proses filtrasi gterjadi di
glomerolus dan kapsula bowman. Proses reabsorpsi terjadi di
tubulus proksimal, dan augmentasi terjadi di tubulus distal.
(Roberts, 1993)
Urin yang tidak normal mengandung protein dan glukosa. Jika
urin mengandung protein, berarti telah terjadi kerusakan ginjal
pada bagian glomerolus. Jika utin mengandung gula, berarti
tubulus ginjal tidak menyerap kembali gula dengan sempurna. Hal
ini dapat diakibatkan oleh kerusakan tubulus ginjal.

Analisis urin itu penting, karena banyak penyakit dan gangguan


metabolisme dapat diketahui dari perubahan yang terjadi dalam
urin. Zat yang dapat dikeluarkan dalam keadaan normal yang tidak
terdapat adalah glukosa, aseton, albumin, darah dan nanah.
(Wulangi, 1990)
Pemeriksaan urin terbagi menjadi dua jenis yaitu pemeriksaan
kimiawi dan pemeriksaan sedimen. Sebagaimana namanya, dalam
pemeriksaan kimia yang diperiksa adalah ph urin atau keasaman,
berat jenis, nitrit dan protein, glukosa, biliribrin, urobilinogen, dll.
Jenis zat kimia yang diperiksa mrupakan penanda keadaan dari
organ-organ tubuh yang hendak didiagnosa. (Djojodibroto, 2010)
Pemeriksaan terhadap adanya glukosa dalam urin termasuk
pemeriksaan penaring. Gula mempunyai gugus aldehid dan keton
bebas mereduksi ion kupri dalam suasana alkalis menjadi
koproksida yang tidak larut dan berwarna merah. Banyaknya
endapan merah yang terbentuk sesuai dengan kadar gula yang
terdapat dalam urin. (Montgomery, 1993)
Bahan urin yang biasa di periksa di laboratorium dibedakan
berdasarkan pengumpulannya yaitu : urin sewaktu, urin pagi, urin
puasa, urin postprandial (urin setelah makan) dan urin 24 jam
(untuk

dihitung

volumenya).

Tiap-tiap

jenis

sampel

urin

mempunyai kelebihan masing-masing untuk pemeriksaan yang


berbeda misalnya urin pagi sangat baik untuk memeriksa sedimen
(endapan) urin dan urin postprandial baik untuk pemeriksaan
glukosa urin. Jadi sebaiknya sebelum kita melakukan pemeriksaan
urin sebaiknya meminta keterangan dari petugas laboratorium
tentang bahan urin yang mana yang diperlukan untuk pemeriksaan.
(Djojodibroto,2001)
Dalam pemeriksaan sedimen yang diperiksa adalah zat sisa
metabolisme yang berupa kristal, granula termasuk juga bakteri.
Dengan pemeriksaan sedimen maka keberadaan suatu benda

normal ataupun tidak normal yang terdapat dalam urin kta dapat
menunjukkan keadaan organ tubuh.
Dipstic pada pemeriksaan urin adalah strip reagen berupa strip
plastik tipis yang ditempeli kertas selulois yang mengandung bahan
kimia tertentu sesuai jenis parameter yang akan diperiksa. Urin
DIP meupakan analisis kimia cepat untuk mendiagnosa berbagai
penyakit. Uji kimia yang tersedia pada reagen strip umumnya
glukosa, protein, bilirubrin. Urobilinogen, ph, berat jenis, darah,
keton, nitrit dan leukosit esterase.
Fungsi utama urin adalah untu membuang zat sisa seperti racun
atau obat-obatan dari dalam tubuh. Urin berasal dari ginjal dan
saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup
steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja,
beberapa

saat

setelah

meninggalkan

tubuh,

bakteri

akan

mengkontaminasi urin untuk mengubah zat-zat di dalam urin dan


menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan
urea.
Sistem urinari yaitu suatu sistem dimana terjadinya proses
penyaringan darah, sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih
dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dikeluarkan berupa
urin (air kemih). Susunan urinari adalah ginjal ureter vesica
urinaria ureter urin. (Syaiffudin, 1991)
Warna pucat pada urin normal dapat disebabkan intake cairan
yang banyak, warna gelap pada urin dapat disebabkan karena
kurangnya air minum. Jadi, warna urin dapat menunjukkan derajat
hidrasi dan konsentrasi urin. Warna urin yang pucat dengan BJ
tinggi ditemukan pada penyakit Diabetes Mellitus dan sudah
penggunaan media radiografi.
Warna abnormal urin yang banyak ditemukan adalah merah
atau merah coklat, bila ditemukan pada wanita emungkinan
terkontaminasi oleh darah menstrual. Urin hematuria (terdapat sel-

sel darah merah) tampak merah atau eruh atau coklat keruh. Urin
hemoglobinuria berwarna merah jernih, merah coklat jernh atau
coklat gelap. Warna kuning pada urin disebabkan oleh pigmen
urokhrom dan sejumlah kecil urobilin dan uroeritrin.

V.

Alat dan Bahan


V.1 Alat-alat :
V.1.1 Tabung reaksi
V.1.2 Beakerg glass
V.1.3 Sentrifgasi
V.1.4 Mikrokop
V.2 Bahan-Bahan :
V.2.1 Urin segar
V.2.2 Carik Uji celup

VI.

Prosedur
VI.1
Dengan menggunakan carik celup
Disediakan urin segar, setelh itu celupkan carik uji
maksimal kedalam urin tersebut maksimal selama satu detik ke
dalam tabung. Diangkat cark uji tersebut sambil menyapuannya
pada pinggiran tabung untuk membuang urin berlebihan dari carik
uji. Diikuti petunjuk pembacaan waktu untuk setiap reaksi.
Diamati setiap perubahan warna pada carik uji dibandingkan
dengan skala warna yang tersedia.
VI.2
Dengan menggunakan mikroskopik
Urin yang tela disediakan didalam beaker glass dimasukkan
ke dalam tabung untuk alat sentrifugasi kurang lebih sebanyak 10
ml, lalu dimasukkan kedalam alat sentrifugasi. Tunggu sampai
dengan sekitar 2 menit lalu. Adanya sedimen dipisahkan dengan
cairannya lalu diamati dibawah mikroskop unruk melihat kristal
yang terdapat dalam urin tersebut.
VI.3
Uji fisik
Diamati warna, bau, kejernihan dan ph pada urin lalu catat
hasil yang didapatkan.
7

VII.

Data Pengamatan
VII.1
Uji Carik Celup
Jenis Uji
Hasil (Ditta)
Hasil (Finny)
Urobilinogen
Normal
Normal
Glukosa
Negatif
Negatif
Billirubrin
Negatif
Negatif
Keton
Negatif
Negatif
BJ
1,015
1,030
Darah
Negatif
Negatif
Protein
Negatif
Negatif
Nitrit
Negatif
Negatif
Leukosit
Negatif
Negatif
Ph
6
6
VII.2
Uji Fisik
Urin finny dan urin ditta
VII.2.1 Warna : Kuning bening
VII.2.2 Bau : Aromatik lemah
VII.2.3 Kejernigan : Jernih
VII.2.4 Ph : 6
VII.3
Uji Mikroskopik
VII.3.1 Tidak terbentuk sedimtasi ketika di sentrifius.
VII.3.2 Setelah di sentrifugasi terdapat sedimen ketika di
mikroskop terdapat jaringan epitel.
VII.3.3 Terdapat 5 Leukosit ketika dilihat pada mikroskop.

VIII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini membahas tentang analisis urim analisis
pada urin ini tujuannya untuk mengetahui senyawa apa saja yang boleh
ada dan tidak boleh ada terdapat dalam urin. Selain itu, analisis ini
tujuannya untuk mengetahui fungsi ginjal dengan baik. Analisis urin
ini meliputi analisis fisik, kimiawi, dan mikroskopik.
Urin merupakan hasil cairan sis yang diekresikan oleh ginjal. Urin
yang akan dites harus dalam kedaan segar, hal ini dikarenakan apabila

urin didiamkan dengan waktu yang lama akan mengalami perubahan


warna, dan bakteri akan bertambah banyak. Selain itu, apabila urin
yang digunakan tidak segar bisa menyebabkan analisis tidak akurat.
Bau urin yang normal hampir tidak berbau atau urin berbau
amonia. Bau urin tersebut dapat disebabkan oleh sebagian senyawasenyawa organik yang mudah menguap contohnya dengan makanan
yang kita makan.
Urin normal berwarna kuning bening, ada juga yang berwarna
kuning pekat tetapi bening. Warna urin yang pekat dapat disebabkan
oleh adanya zat pewarna makanan dari makanan yang dimakan. Urin
yang didiamkan warnanya akan berubah menjadi lebih pekat atau bisa
juga menjadi kuning keruh. Warna kuning keruh ini bukan dikarenakan
urin tersebut abnormal. Kekeruhan ringan ini dapat disebabkan oleh
adanya sel epitel, leukosit yang lambat laun mengendap karena adanya
pengaruh dari didiamkan atau didinginkan.
Warna urin yang abnormal pada saat dieksresikan warnanya
kekeruhan bukan karena adanya pengaruh dari didimakan atau
didinginkan melainkan urin tersebut disebabkan adanya partikel padat
pada urin seperti bakteri, sel epitel, lemak atau kristal mineral. Apabila
urin berwarna coklat muda, warna ini merupakan indikator adanya
kerusakan atau gangguan pada hati seperti hepatitis. Urin yang
berwarna gelap dapat disebabkan banyaknya mengkonsumsi vitamin B
compleks yang terdapat dalam minuman berenergi.
Uji selanjutnya, dilakukan dengan metode carik celup metode carik
celup ini merupakan metode yang paling sederhana dengan
menggunakan reagent strip karena hanya dengan mencelupkannya
selama 1 detik ke dalam urin. Reagen strip ini adanya senyawasenyawa kimia yang apabila dites dengan urin akan bereaksi dan
menghasilkan warna yang spesifik untuk mengamati senyawa yang
diuji. Pada saat menggunakan reagent strip ini harus segera diamati
hasil perubahan warna yang terjadi pada reagen strip tersebutdan
dibandingkan dengan skala warna yang ada. Apabila tidak segera maka
reagen strip tersebut akan berubah warna sehingga pada saat

membendingkan dengan skala warna akan terjadi kesalahan, dan


hasilnya tidak akurat.
Urin yang normal mengandung urea, NaCl urin yang tidak normal
mengandung glukosa, protein, alkohol. Apabila pada urin tersebut
terdapat protein artinya telah terjadi kerusakan ginjal pada bagian
glomerolus. Apabila pada urin terdapat gula atau glukosa berarti
tubulus ginjal tidak menyerap kembali gula dengan sempurna. Hal ini
dapat disebebkan oleh adar darah yang tinggi yang melebihi batas
normal sehingga tubulus ginjal tidak dapat menyerap kembali semua
gula yang ada pada filtrat glomerolus.
Urin memiliki rentang ph yang berkisar dari 4,8-7,5. Urin phnya
akan semakin asam jika mengkonsumsi banyak protein, apabila urin ph
nya semakin basa artinya banyak mengkonsumsi sayuran. Pembacaan
ph pada reaget strip ini harus dilakukan dengan segera karena apabila
didiamkan dahulu semakin lama maka akan cenderung alkalis karena
adanya perubahan ureum menjadi amonia. Ph urin akan bervariasi
setiap hari tergantung dari makanan yang kita makan, ph urin pada
pagi hari akan lebih asam. Pemeriksaan pada ph urin ini karena adanya
indikator ganda methyl merah dan bromthymol biru yang akan terjadi
perubahan warna sesuai ph yang berkisar. Ph yang diperoleh dari hasil
pengamatan ph nya 6 yang artinya urin tersebut bersifat asam.
Pada hasil data pengamatan yang diperoleh tidak terdapat protein
hal ini menandakan tidak adanya gangguan pada ginjal. Normal
ekskresi protein biasanya tidak melebihi 150mg/24 jam. Apabila
melebihi batas maka dikatakan sebagai protenuria. Proteinuria ini
dapat diakibatkan oleh penyakit ginjal karena adanya kerusakan pada
bagian glomerolus dan juga tubulus ginjal. Pemeriksaan pada protein
ini pada prinsip kesalahan penetapan ph oleh adanya protein dengan
indikator yang digunakan yaitu tetrabromphenol biru yang apabila
dalam suatu sistem buffer akan menyebabkan ph tetap konstan. Urin
yng mengandung protein akan bereaksi dengan indikator tersebut yang
menghasilkan perubahan warna dari hijau muda sampai hijau.
Pada hasil yang diperoleh dengan pengamatan urin tidak
mengandung leukosit didalamnya. Adanya leukosit pada reagent strip
10

ini karena adanya reaksi esterase. Esterase ini erupakan gula primer
dari granulosit dan manosit. Banyaknya esterase manandakan
banyaknya leukosit yang terkandung dalam urin. Adanya leukosit
dapat diakibatkan karena adanya peradangan atau infeksi saluran
kemih.
Berat jenis yang dihasilkan pada data pengamatan menghasilkan bj
1,005 dan 1,0030. Berat jenis digunakan untuk mengukur kepadatan
urin dan untuk menilai kemampuan ginjal untuk memekatkan dan
mengencerkan urin. Apabila Bj urin rendah maka menunjukkan
gangguan fungsi reabsorbsi tubulus, sedangkan apabila Bj tinggi
disebabkan oleh dehidrasi, diabetes mellitus, dan proteinuria. Berat
jenis urin yang normal berkisar antara 1,002-1,0035 g/ml. Semakin
pekat urin yang dihasilkan maka bert jenisnya semakin besar dan
semakin mudah untuk membentuk suatu sedimentasi.
Hasil yang didapat pada pengamatan tidak terdapat nitrit yang
terkandung dlam urin. Uji nitrit ini merupakan uji yang dapat
digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri. Sebagian besar
bakteri penyebab infeksi saluran kemih dapat mereduksi nitrat menjadi
nitrit. Pada urin yang normal terdapat nitrat sebagai hasil metabolisme
protein. Bakteri seperti enterobakter, citrobacter mengandung enzim
reduktase akan mereduksi nitrat menjadi nitrit. Oleh karena itu pada
saat pengujian

nitrit ini harus dilakukan dengan urin yang segar

karena apabila pada urin yang didiamkan terlalu lama bakteri akan
berkembang biak diluar saluran kemih yang akan menghasilkan hasil
yang tidak akurat.
Pada data hasil pengamatan keton menunjukkan negatif. Badan
keton diproduksi ketika karbohidrat tidak dapat digunakan untuk
menghasilkan energi energi. Uji keton ini didasarkan pada reaksi
antara asam asetoasetat dengan senyawa nitroprusid. Warna yang
dihasilkan adalah coklat muda reaksi menunjukkan negatif, dan warna
ungu menunjukkan reaksi yang positif.
Pada hasil data yang di peroleh tidak terdapat urobilinogen yang
terdapat pada urin. Urobilonogen ini terjadi karena adanya reaksi
antara urobilinogen dengan reagen Ehlirch. Warna yang terjadi dari
11

jingga sampai merah tua. Warna yang timbul ini sesuai dengan
peningkatan kadar urobilonogen dalam urin. Urobilinogen yang
meninggi karena adanya kerusakan parenkim hepar, hepaptitis, sirosis
hepar. Urin yang terlalu basa menunjukkan kadar urobilonogen yang
tinggi, sedangkan urin yang terlalu asam menghasilkan kadar
urobilinogen yang rendah.
Pada hasil data yang diperoleh hasil birilubrin negatif. Bilirubin
secara normal tidak terdapat dalam urin, tetapi dalam jumlah yang
sangat sedikit dapat berada dalam urine. Bilirubin terbentuk dari
penguraian hemoglobin dan ditranspor menuju hati, tempat bilirubin
berkonjugasi atau tak langsung bersifat larut dalam lemak, dan tidak
dapat diekskresikan ke dalam urin. Bilirubinuria dapat menyebabkan
kerusakan hati. Birilubrin ini pada reagent strip ini karena adanya
reaksi dari garam diazonium dengan bilirubin dalam suasana asam
kuat yang menimbulkan kompleks yang berwarna coklat muda hingga
merah coklat.
Pada hasil data pengamatan data yang diperoleh tidak terdapat
glukosa yang terdapat dalam urin. Pemeriksaan glukosa ini karena
adanya reaksi antara glukosa oksidase yang menguraikan glukosa
menjadi asam glukonat dan hidrogen peroksida. Apabila ada glukosa
pada urin maka urin tersebut abnormal, sebab glukosa tidak dibolehkan
terdapat dalam urin.
Pada hasil data yang diperoleh tidak terdapat darah dalam urin
tersebut. Pada uji carik celup ini reaksi antara H 2O2 oleh peroksidase
yang ada pada hemoglobin. Reaksi ini akan menghasilkan senyawa
berwarna hijau biru. Tes ini fungsinya untuk mengetahui hemoglobin
dengan pemakaian substrat peroksidase serta aseptor oksigen.
Pada hasil mikroskopik salah satu urin pada saat di sentrifugasi
tidak terdapat atau membentuk suatu sendimen. Sedangkan, pada salah
satu urin pada saat di sentrifugasi terjadi suatu sedimen, sedimen ini
ketika dilihat melalalui mikroskopik terdapat sel epitel yang artinya
kurangnya minum pada penderita sehingga pada saat mengeluarkan
urin agak sedikit sulit. Pada salah satu urin terdapat Leukosit ketika
dimokroskop ini artinya apabila Lukosit hingga 4 atau 5 umumnya
12

masih dianggap normal. Peningkatan leukosit pada saluran kemih


umumnya menandakan infeksi pada saluran kemih baik bagian bawah,
maupun bagian lainnya pada saluran kemih. Leukosit ini umumnya
berbentuk bulat, berinti.

IX.

Kesimpulan
Analisi uji urin dilakukan dengan cara uji carik celup, uji fisik dan
uji mikroskopik pada urin. Dari hasil pemeriksaan, urin yang diperiksa
menunjukkan hasil urin yang normal dan kondisi orang yang diuji
urinnya dalam keadaan sehat.

13

X.

Daftar Pustaka
Hamid, Abdul, 2001. Biokimia Metabolisme Biomolekul. Alfabeta,
Jakarta.
Wulangi,

kartolo.

1993. Prinsip-prinsip

Fisiologi

Hewan.

Erlangga. Jakarta
Hardjasasmita, Pantjita. 2006. Ikhtisar Biokimia Dasar. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Lehninger, Albert L. 1990. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta.
Erlangga.

14

XI.

Lampiran
XI.1 Penyakit-penyakit

apa

saja

yang

dapat

terdeteksi

dari

pemeriksaan urin pada percobaan ini, jelaskan!


1. Adanya Proteinuria ini dapat diakibatkan oleh penyakit ginjal
karena adanya kerusakan pada bagian glomerolus dan juga
tubulus ginjal.
2. Adanya bakteri penyebab infeksi saluran kemih dapat
mereduksi nitrat menjadi nitrit, yang terdapat dalam tes Nitrit
pada urin.
3. Adanya kerusakan parenkim hepar, hepaptitis, sirosis hepar
yang diakibatkan karena kadar Urobilonogen yang tinggi.
4. Rusaknya hati karena adanya Birilubrin.
5. Kerusakan pada glomerolus karena terdapat protein pada
glomerolus.

15