Vous êtes sur la page 1sur 49

BAB 1

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman Mycobacterium Tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru,
tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lain.1
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang telah lama
menjadi permasalahan kesehatan di dunia. Sejak tahun 1993, penyakit ini telah
dideklarasikan sebagai Global Health Emergency oleh World Health Organization
(WHO). Berdasarkan laporan terbaru dari WHO pada tahun 2011, insiden kasus TB di
dunia telah mencapai 8,3 9 juta atau 125 kasus dalam 100.000 populasi, prevalensi
mencapai 10 13 juta atau 170 kasus dalam 100.000 populasi, dan angka kematian
mencapai 1,4 1,6 juta dengan kasus TB disertai HIV positif berkisar antara 400.000
460.000 dan kasus TB HIV negatif berkisar 840.000 1,1 juta kematian.1
WHO telah menetapkan 22 negara yang dianggap sebagai high-burden
countries dalam permasalahan TB untuk mendapatkan perhatian yang lebih intensif
dalam hal penanggulangannya. Indonesia adalah salah satu negara yang termasuk di
dalamnya. 1

B. RUMUSAN MASALAH
Mengingat akan jumlah penderita tuberkulosis paru yang terus meningkat
maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Karakteristik penderita tuberkulosis paru di Rumah Sakit Umum Daerah


Pangkep, periode Januari - Maret 2015.
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum :
Untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik penderita tuberkulosis
paru di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep, periode Januari - Maret 2015.
2. Tujuan Khusus :
a. Untuk mengetahui karakteristik pasien tuberkulosis paru rawat jalan
berdasarkan karakteristik demografi yaitu jenis kelamin dan umur
b. Untuk mengetahui karakteristik pasien tuberkulosis paru rawat jalan
berdasarkan kriteria diagnostik yaitu keluhan utama, hasil foto toraks, hasil
pewarnaan basil tahan asam (BTA)
c. Untuk mengetahui karakteristik pasien tuberkulosis paru berdasarkan
perjalanan penyakit penyerta (komorbid/ komplikasi)
d. Untuk mengetahui karakteristik pasien tuberkulosis paru rawat jalan
berdasarkan paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang didapatkan.
e. Untuk mengetahui karakteristik pasien tuberkulosis paru berdasarkan
diagnosis saat kunjungan pertama di poliklinik Rumah Sakit.
D. MANFAAT PENELITIAN
Penulis berharap agar sekiranya hasil penelitian ini dapat memberikan
kontribusi yang bermanfaat bagi beberapa pihak antara lain:

1. Masyarakat

umum,

untuk

memberikan

gambaran

umum

kepada

masyarakat tentang karakteristik penderita tuberkulosis paru, yang


mungkin dapat mencegah terjadinya penyebaran dikemudian hari.
2. Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep, diharapkan agar hasil penelitian ini
dapat memberi masukan yang berarti bagi penanganan pasien tuberkulosis
paru.
3. Instansi

kesehatan

lainnya,

sebagai

suatu

bahan

masukan

demi

meningkatkan mutu pelayanan serta perbaikan program penanganan pasien


tuberkulosis.
4. Penelitian ini juga semoga dapat bermanfaat sebagai bahan bacaan, acuan,
ataupun perbandingan bagi peneliti-peneliti selanjutnya.
5. Bagi peneliti sendiri pada khususnya, semoga penelitian ini dapat menjadi
pembelajaran yang berharga terutama untuk perkembangan keilmuan
peneliti.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh
basil aerob yang tahan asam, Mycobacterium tuberculosis atau spesies lain seperti
Mycobacterium bovis atau Mycobacterium africanum. Tuberkulosis biasanya
menyerang paru-paru tetapi dapat pula menyerang susunan saraf pusat, sistem
limfatik, sistem genitourinaria, tulang, persendian, dan kulit.2

B. ETIOLOGI
Bakteri utama penyebab penyakit tuberkulosis adalah Mycobacterium
tuberculosis. Berikut ini adalah taksonomi dari M. tuberculosis:
Tabel 2.1 Taksonomi M. tuberculosis
Kingdom
Phylum
Class
Subclass
Order
Suborder
Family
Genus
Species

Bacteria
Actinobacteria
Actinobacteria
Actinobacteridae
Actinomycetales
Corynebacterineae
Mycobactericeae
Mycobacterium (unique genus)
Mycobacterium tuberculosis

C.

Sumber: National Center for Biotechnology Information (NCBI)

Mycobacterium tuberculosis berbentuk basil ramping lurus yang berukuran


antara 0,2 0,4 x 2-10 um dan termasuk gram positif. Pada medium kultur, bakteri ini
berbentuk kokus dan filamen (lembaran). Identifikasi terhadap bakteri ini dapat
dilakukan melalui pewarnaan tahan asam metode Ziehl-Neelsen (ZN) maupun Tanzil,
yang tampak sebagai basil berwarna merah di bawah mikroskop.2,6,8
Pada umumnya, genus mycobacterium kaya akan lipid, mencakup asam
mikolat (asam lemak rantai panjang C78-C90), lilin, dan fosfatida. Lipid dalam batasbatas tertentu bertanggung jawab terhadap sifat tahan asam bakteri. Selain lipid,
mycobacterium juga mengandung beberapa protein yang dapat memicu reaksi
tuberkulin dan mengandung berbagai polisakarida.6,8

Mycobacterium tidak menghasilkan toksin, tetapi termasuk organisme yang


virulen sehingga bila masuk dan menetap dalam jaringan tubuh manusia dapat
menimbulkan penyakit. Bakteri ini terutama akan tinggal secara intrasel dalam
monosit, sel retikuloendotelial, dan sel-sel raksasa.6,8
C. KLASIFIKASI
Tuberkulosis diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu Tuberkulosis Paru
dan Tuberkulosis Ekstra Paru
1. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberculosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk
pleura.
A . Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA), TB paru terbagi atas :
a. Tuberkulosis Paru BTA (+) adalah :
-

Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA


positif

Hasil pemeriksaan satu specimen dahak menunjukkan BTA positif dan


kelainan radiologi menunjukkan gambaran tuberculosis aktif

Hasil pemeriksaan satu specimen dahak menunjukkan BTA positif dan


biakan positif

b. Tuberkulosis paru BTA (-) adalah :


-

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negative, gambaran


klinis dan kelainan radiologi menunjukkan tuberculosis aktif

Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negative dan biakan


Mycobacterium tuberculosis positif

B. Berdasarkan tipe pasien


Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe pasien yaitu :
a. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapatkan pengobatan dengan OAT
atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
b. Kasus kambuh (relaps)
Adalah pasien tuberculosis yang sebelumnya pernah mendapatkan
pengobatan tuberculosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan
lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak
BTA positif atau biakan positif
c. Kasus defaulted atau drop out
Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan > 1 bulan dan tidak
mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa
pengobatannya selesai.
d. Kasus gagal
Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi
positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau
akhir pengobatan.
e. Kasus kronik
6

Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai
pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang
baik.
f. Kasus bekas TB
Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan
gambaran radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto
serial menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT
adekuat akan lebih mendukung
2. Tuberkulosis Ekstraparu
Tuberkulosis ekstraparu adalah tuberculosis yang menyerang organ tubuh lain
selain paru, misalnya kelenjar getah bening, selaput otak, tulang, ginjal, saluran
kencing dan lain-lain.
Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi dari
tempat lesi. Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan specimen
maka diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstraparu aktif.

D. EPIDEMIOLOGI
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di
dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan
tuberculosis sebagai Global Emergency. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan
bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberculosis pada tahun 2002, 3,9 juta adalah
kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi
7

kuman tuberculosis dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di
Asia tenggara yaitu 33% dari seluruh kasus TB di dunia, tetapi bila dilihat dari jumlah
penduduk terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk. Di Afrika hampir 2 kali lebih
besar dari Asia Tenggara yaitu 350 per 100.000 penduduk.
Diperkirakan angka kematian akibat TB adalah 8000 setiap hari dan 2-3 juta
setiap tahun. Laporan WHO tahun 2004 menyebutkan bahwa jumlah terbesar
kematian akibat TB terdapat di Asia Tenggara yaitu 625.000 orang atau angka
mortality tertinggi terdapat di Afrika yaitu 83 per 100.000 penduduk, prevalens HIV
yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan cepat kasus TB yang muncul.
Indonesia masih menempati urutan ke-3 di dunia untuk jumlah kasus TB
setelah India dan Cina. Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan sekitar
140.000 kematian akibat TB. Di Indonesia tuberculosis adalah pembunuh nomor satu
diantara penyakit menular dan merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah
penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan usia.
E. PATOFISIOLOGI
Terdapat 4 stadium infeksi TB saat mikroba tersebut mulai masuk ke dalam
alveolus, yaitu:
1. Stadium 1
Makrofag akan memfagosit basil tuberkel dan membawanya ke kelenjar limfe
regional (hilus dan mediastinum). Basil ini kemudian akan berkembang biak,
dihambat atau dihancurkan, tergantung tingkat virulensi organisme dan pertahanan
alamiah dalam hal ini kemampuan mikrobisidal makrofag. Makrofag yang terinfeksi
mengeluarkan komplemen C5a yang memanggil monosit ke area infeksi. Makrofag

yang mengandung basil yang bermultiplikasi dapat mati dan memanggil lebih banyak
monosit.11,12
2. Stadium 2
Terjadi pada hari ke-7 sampai hari ke-21, basil tetap akan memperbanyak diri
sementara sistem imun spesifik belum teraktivasi dan monosit masih terus bermigrasi
ke area infeksi.11,12
3. Stadium 3
Terjadi setelah 3 minggu, ditandai oleh permulaan imunitas selular. Makrofag
alveolar yang pada saat itu telah menjadi limfokin yang diaktivasi oleh limfosit T,
menunjukkan peningkatan kemampuan untuk membunuh basil tuberkel intraselular.
Proses ini menghasilkan kompleks ghon dan nekrosis kaseosa yang dapat
terbentuk.11,12
4. Stadium 4
Menunjukkan reaktivasi (sekunder atau post primer) stadium tuberkulosis.
Pada stadium terakhir ini, basil akan lebih memperbanyak diri secara ekstraselular.
Basil tuberkel akan menyebar ke peredaran darah secara hematogen. Basil tuberkel
biasanya tetap dalam kondisi stabil sebagai dorman, sepanjang sistem imun pejamu
masih intak.11,12
Sekitar 10% individu yang terinfeksi berkembang menjadi penyakit
tuberkulosis pada waktu tertentu dalam hidupnya. Resiko ini lebih tinggi pada
individu dengan penyakit defisiensi imun seperti HIV/AIDS, pengguna obat-obatan
terlarang, dan usia lanjut. Faktor lainnya seperti kurang gizi, kemiskinan, individu
alkoholik, juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap penyakit tuberkulosis.13

F. MANIFESTASI KLINIS
1. Anamnesis
Keluhan utama yang dialami pasien tuberkulosis paru adalah batuk berdahak
selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu
dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas, badan lemas, nafsu makan
menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat pada malam hari tanpa kegiatan
fisik, dan demam subfebris lebih dari satu bulan.14
Gejala-gejala di atas dapat juga ditemukan pada penyakit paru selain
tuberkulosis, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lain-lain.
Mengingat prevalensi tuberkulosis di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap
orang yang datang ke unit pelayanan kesehatan dengan gejala tersebut di atas,
dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien tuberkulosis dan perlu dilakukan
pemeriksaan sputum secara mikroskopik langsung.14
2.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan demam (subfebris), badan kurus

atau berat badan menurun, konjungtiva anemis, dan kulit pucat. Pada tuberkulosis
paru lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi dan retraksi otot-otot
interkostal.14,15
Selain itu, dapat ditemukan perkusi yang redup dan suara napas bronkial
yang menandakan infiltrat yang luas. Dan juga akan ditemukan suara napas tambahan
berupa ronki basah kasar dan nyaring. Tetapi bila infiltrat diliputi oleh penebalan
pleura, maka suara napasnya menjadi vesikuler yang lemah. Bila terdapat kavitas
10

cukup besar, maka perkusi memberikan suara hipersonor atau timpani dan auskultasi
memberikan suara amforik.14,15
Dalam penampilan klinis, tuberkulosis paru sering asimtomatik dan penyakit
baru dicurigai dengan didapatkannya kelainan radiologis dari foto toraks atau uji
tuberkulin yang positif.15
G. DIAGNOSIS
Diagnosis tuberkulosis paru ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis, hasil
radiologi dan bakteriologi.
Tuberkulosis paru paling sering terjadi pada orang dewasa dan dikenali
sebagai post-primary pulmonary tuberculosis. Merupakan bentuk infeksius dan
epidemiologinya signifikan besar.
Gejala dan simptom seperti batuk lama lebih dari 2 minggu, batuk berdarah,
kurang nafsu makan, penurunan berat badan, demam, dyspnoe, keringat dingin di
malam hari, sesak napas merupakan gejala yang mengarah ke arah diagnosa
tuberkulosis paru. Pasien tersebut harus dilakukan pemeriksaan lanjut seperti
pemeriksaan laboratorium dan radiologis untuk mendiagnosa tuberculosis.

Table 2.2. Klasifikasi Tuberkulosis Berdasarkan BTA


Klasifikasi

11

Tuberkulosis merangkumi parenkim


Tuberkulosis paru
paru
i) Tuberkulosis pada pasien dengan
minimal 2x positif smear pada
pemeriksaan sputum BTA.
ii) Tuberkulosis pada pasien dengan 1x
positif smear pada pemeriksaan sputum
Tuberkulosis paru, BTA (+)

BTA dan tuberculosis paru aktif


didapatkan pada foto toraks.
iii) Tuberkulosis pada pasien dengan 1x
positif smear pada pemeriksaan
sputum BTA dan positif kultur sputum
dengan M.tuberculosis.
i)Tuberkulosis pada pasien dengan 3x
negatif smear pada pemeriksaan
sputum BTA dan didapatkan kelainan
radiologi dengan tuberkulosis paru.

Tuberkulosis paru, BTA (-)

ii) Tuberkulosis pada pasien dengan


awalnya didapatkan negatif smear pada
pemeriksaan sputum BTA kemudian
positif kultur sputum dengan
M.tuberculosis.

12

Sumber : WHO treatment guidelines

Table 2.3: Klasifikasi Tuberkulosis Berdasarkan Foto Toraks


Klasifikasi
Lesi cavitas di satu atau kedua paru.
Total lesi tidak melebihi volume
Minimal

sebelah atas chondrosternal junction


kedua dan 4th atau 5th
Thoracic vertebra.
Satu atau kedua paru terlibat tetapi lesi
tidak melebihi:
i) total volume satu atau kedua paru

Moderate
ii) 1/3 volume sebelah paru
iii) total diameter kavitas, jika ada
kurang dari 4cm.
Advance

Lesi melebihi moderate

Sumber : WHO treatment guideline

H. PENATALAKSANAAN
Skema 2.1 Kategori terapi berdasarkan WHO3

13

Katergori
terapi
Kategori
1

Kategori
2

Kasus
baru

Kambuh

Kategori
3
Kasus
kronik

Gagal
pengobat
an
Putus
berobat

Sumber : WHO treatment guidelines

Tabel 2.4 Jenis dan Sifat Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan Dosis yang
Direkomendasikan sesuai dengan Berat Badan

Jenis OAT

Isoniazid (H)
Rifampicin (R)
Pyrazinamid (Z)
Streptomycin (S)
Ethambutol (E)

Sifat

Bakterisid
Bakterisid
Bakterisid
Bakterisid
Bakteriostatik

Dosis yang Direkomendasikan


(mg/kgBB)
Dosis 2x
Dosis Harian
seminggu
Max
Max
mg/kg
mg/kg
(mg)
(mg)
5-8
300
15-20
1200
10-15
600
15-20
600
20-40
1500
50
3000
15-20
1000
15-20
1000
15-25
1200
50
2000

Sumber: Treatment of Tuberculosis Guidelines, 4th ed WHO

Pengobatan tuberkulosis diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan


lanjutan.
Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan

14

tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak
menular dalam jangka waktu 2 minggu.6
Sebagian besar pasien tuberkulosis BTA positif menjadi BTA negatif
(konversi) dalam 2 bulan. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih
sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk
membunuh kuman persisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan. 6 Obat
diberikan setiap 2 bulan kemudian pemeriksaan BTA dilakukan untuk mengobservasi
hasil pengobatan.
Terdapat beberapa

tipe

penderita

berdasarkan

riwayat

pengobatan

sebelumnya, yaitu:13,17
1. Kasus baru: Penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT < 4 minggu.
2. Kambuh (relaps): Penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
kemudian didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur).
3. Putus berobat (default): Penderita yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan
atau lebih dengan BTA positif.
4. Gagal (failure): Penderita yang hasil pemeriksaan sputumnya tetap positif atau
kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5. Kronik: Penderita dengan hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai
pengobatan ulangan.
Pengobatan tuberkulosis dibagi menjadi:
TB paru (kasus baru)
15

BTA positif atau pada foto toraks: lesi luas. Paduan obat yang dianjurkan :

2 RHZE / 4 RH atau : 2 RHZE/ 6HE atau 2 RHZE / 4R3H3

Paduan ini dianjurkan untuk :


a. TB paru BTA (+), kasus baru
b. TB paru BTA (-), dengan gambaran radiologi lesi luas (termasuk luluh paru)
Bila ada fasilitas biakan dan uji resistensi, pengobatan disesuaikan dengan
hasil uji resistensi TB Paru (kasus baru), BTA negatif, pada foto toraks: lesi minimal.
Paduan obat yang dianjurkan : 2 RHZE / 4 RH atau : 6 RHE atau 2 RHZE/ 4R3H3
TB paru kasus kambuh
Sebelum ada hasil uji resistensi dapat diberikan 2 RHZES / 1 RHZE. Fase
lanjutan sesuai dengan hasil uji resistensi. Bila tidak terdapat hasil uji resistensi dapat
diberikan obat RHE selama 5 bulan.
TB Paru kasus gagal pengobatan
Sebelum ada hasil uji resistensi seharusnya diberikan obat lini 2 (contoh
paduan: 3-6 bulan kanamisin, ofloksasin, etionamid, sikloserin dilanjutkan 15-18
bulan ofloksasin, etionamid, sikloserin). Dalam keadaan tidak memungkinkan pada
fase awal dapat diberikan 2 RHZES / 1 RHZE. Fase lanjutan sesuai dengan hasil uji
resistensi. Bila tidak terdapat hasil uji resistensi dapat diberikan obat RHE selama 5
bulan.

Dapat pula dipertimbangkan tindakan bedah untuk mendapatkan hasil yang


optimal

Sebaiknya kasus gagal pengobatan dirujuk ke dokter spesialis paru

TB Paru kasus putus berobat

16

Pasien TB paru kasus lalai berobat, akan dimulai pengobatan kembali sesuai
dengan kriteria sebagai berikut :
a. Berobat > 4 bulan
1) BTA saat ini negatif
Klinis dan radiologi tidak aktif atau ada perbaikan maka pengobatan
OAT dihentikan. Bila gambaran radiologi aktif, lakukan analisis lebih lanjut
untuk memastikan diagnosis TB dengan mempertimbangkan juga kemungkinan
penyakit paru lain. Bila terbukti TB maka pengobatan dimulai dari awal dengan
paduan obat yang lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama.
2) BTA saat ini positif
Pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang lebih kuat dan
jangka waktu pengobatan yang lebih lama.
b.

Berobat < 4 bulan


1) Bila BTA positif, pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang lebih
kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama.
2) Bila BTA negatif, gambaran foto toraks positif TB aktif pengobatan diteruskan

jika memungkinkan seharusnya diperiksa uji resistensi terhadap OAT.


TB Paru kasus kronik
Pengobatan TB paru kasus kronik, jika belum ada hasil uji resistensi, berikan
RHZES.

Jika telah ada hasil uji resistensi, sesuaikan dengan hasil uji resistensi
(minimal terdapat 4 macam OAT yang masih sensitif) ditambah dengan obat
lini 2 seperti kuinolon, betalaktam, makrolid dll. Pengobatan minimal 18
bulan.

Jika tidak mampu dapat diberikan INH seumur hidup.

17

Pertimbangkan

pembedahan

untuk

meningkatkan

kemungkinan

penyembuhan.

Kasus TB paru kronik perlu dirujuk ke dokter spesialis paru

I. MULTI DRUG RESISTANCE (MDR)


Resistensi ganda menunjukkan Mycobacterium tuberculosis resisten terhadap
rifampisin dan INH dengan atau tanpa OAT lainnya
Secara umum resistensi terhadap obat tuberculosis dibagi menjadi :
-

Resistensi primer ialah apabila pasien sebelumnya tidak pernah mendapat


pengobatan TB

Resistensi inisial adalah apabila kita tidak tahu pasti apakah pasiennya sudah
pernah ada riwayat pengobatan sebelumnya atau tidak.

Resistensi sekunder adalah apabila pasien telah punya riwayat pengobatan


sebelumnya.
Laporan pertama tentang resistensi ganda dating dari Amerika Serikat,

khususnya pada pasien TB dan AIDS yang menimbulkan angka kematian 70 90


% dalam waktu hanya 4 sampai 16 minggu. Laporan WHO tentang TB tahun
2004 menyatakan bahwa sampai 50 juta orang telah terinfeksi oleh kuman
tuberculosis yang resisten terhadap obat anti tuberculosis. TB paru kronik sering
disebabkan oleh MDR.
Ada beberapa penyebab terjadinya resistensi terhadap obat tuberculosis yaitu :
-

Pemakaian obat tunggal dalam pengobatan tuberculosis

18

Penggunaan panduan obat yang tidak adekuat, yaitu jenis obatnya yang
kurang atau di lingkungan tersebut telah terdapat resistensi yang tinggi
terhadap obat yang digunakan, misalnya memberikan rifampisin dan INH saja
pada daerah dengan resistensi terhadap kedua obta tersebut sudah cukup
tinggi.

Pemberian obat yang tidak teratur, misalnya hanya dimakan dua atau tiga
minggu lalu stop, setelah dua bulan berhenti kemudian berpindah dokter dan
mendapatkan obat kembali selama dua atau tiga bulan lalu stop lagi, demikian
seterusnya.

Fenomena addition syndrome yaitu suatu obat yang ditambahkan dalam suatu
panduan pengobatan yang tidak berhasil. Bila kegagalan itu terjadi karena
kuman TB telah resisten pada paduan yang pertama, maka penambahan satu
macam obat hanya akan menambah panjang daftar obat yang resisten

Penggunaan obat kombinasi yang pencampurannya tidak dilakukan secara


baik, sehingga menganggu biovailabiliti obat

Penyediaan obat yang tidak regular, kadang obat datang kesuatu daerah
kadang terhenti pengirimannya sampai berbulan-bulan

Pemakaian obat antituberkulosis cukup lama, sehingga menimbulkan


kejemuan

Pengetahuan pasien kurang tentang penyakit TB

Kasus MDR-TB rujuk ke dokter spesialis paru

19

J. DIRECTLY OBSERVED TREATMENT SHORT COURSE (DOTS)


Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa kunci keberhasilan
program penanggulangan tuberculosis adalah dengan menerapkan strategi DOTS,
yuang juga telah dianut oleh Negara kita. Oleh karena ituu pemahaman tentang
DOTS merupakan hal yang sangat penting agar TB dapat ditanggulangi dengan
baik.
Strategi DOTS mempunyai 5 elemen penting untuk memastikan keberhasilan
pengobatan tuberkulosis paru:
1. Pemerintah mengikuti Program Kontrol Tuberkulosis Nasional
2. Deteksi kasus melalui pemeriksaan sputum BTA pada pasien suspek
tuberkulosis di Rumah Sakit.
3. Terapi tuberkulosis diobservasi selama 6 bulan oleh Pengawas Menelan Obat
untuk memastikan kepatuhan pasien menelan obat
4. Memastikan obat tidak diambil bersamaan dengan obat anti-tuberkulosis.
5. Mengobservasi dan melaporkan untuk mengevaluasi hasil pengobatan pada
setiap pasien tuberkulosis paru
Kelebihan DOTS adalah:
1. DOTS dapat menghasilan tingkat penyebuhan lebih dari 95% walaupun di
negara miskin.
2. Strategi ini berhasil dengan adanya pelayanan kesehatan primer
3. Deteksi kasus dengan BTA lebih murah, mudah dan mampu
4. Pengawas Menelan Obat dapat mengobservasi hasil terapi

20

5. DOTS tidak memerlukan rawat inap atau isolasi, pasien boleh bersama
keluarga di rumah.
6. DOTS membantu mengatasi masalah resistensi obat

BAB III
KERANGKA KONSEP
A. KERANGKA KONSEPTUAL PENELITIAN
Pada setiap individu yang merupakan anggota dari suatu populasi memiliki
karakteristik yang berbeda-beda untuk setiap penyakit tertentu. Berdasarkan tinjauan
pustaka yang telah dipaparkan sebelumnya terdapat berbagai macam karakteristik
pasien TB paru dengan status rawat jalan seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan,
status gizi, riwayat merokok, penyakit penyerta, keluhan utama, hasil pemeriksaan
BTA, hasil foto toraks, paduan OAT yang didapatkan dan diagnosis pertama kali
masuk. Di antara berbagai karakteristik tersebut, maka variabel independen pasien
TB paru dengan status rawat jalan yang akan diteliti dibatasi pada umur, jenis
kelamin, pekerjaan, status gizi, riwayat merokok, penyakit menyerta, keluhan utama,
hasil pemeriksaan BTA, hasil foto toraks, paduan OAT yang didapatkan dan diagnosis
pertama kali masuk. Penentuan variabel ini didasarkan pada ketersediaan data dari
rekam medik pasien tuberkulosis paru rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah
Pangkep.
Oleh karena keterbatasan waktu dan tempat penelitian, maka penelitian ini
dikhususkan pada pasien TB paru dengan status rawat jalan di Rumah Sakit Umum
Daerah Pangkep, periode Januari - Maret 2015.
21

B. KERANGKA KONSEP
Berdasarkan konsep pemikiran yang dikemukakan di atas, maka disusunlah
pola variabel sebagai berikut.
Demograf

Umur
Jenis
Kelamin

Hasil BTA
Diagnostik
Tuberkulosis
Paru

Hasil Foto
Thoraks

Pekerjaan
Kondisi
Kesehatan

Penyakit Penyerta

Panduan
Obat OAT

Diagnosis
Masuk

Skema 3.1 Kerangka Konsep

C. DEFINISI OPERASIONAL

22

Berdasarkan kerangka konsep yang telah dikemukakan, dapat disusun definisi


operasional. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah :
1. Variabel Dependen
1) Pasien Tuberkulosis Rawat Jalan
a. Definisi : Pasien tuberkulosis yang datang ke Rumah Sakit Umum Daerah
Pangkep.
b. Alat ukur : Tabel pengisian data.
c. Cara ukur : Dengan memperhatikan dan mencatat daftar pasien tuberkulosis
dengan status rawat jalan yang diperoleh dari data rekam medik.
d. Hasil ukur : Data pasien tuberkulosis rawat jalan.
2. Variabel Independen
1) Umur
a. Definisi : Lamanya seseorang hidup mulai saat pertama dilahirkan sampai usianya
pada saat masuk rumah sakit untuk pertama kali yang dinyatakan dalam satuan
tahun.
b. Alat ukur : Tabel pengisian data.
c. Cara ukur : Dengan mencatat variabel umur sesuai dengan yang tercantum pada
rekam medik.
d. Hasil ukur : Sesuai data pada rekam medik yang dinyatakan dalam satuan tahun.
2)
a.
b.
c.

Jenis Kelamin
Definisi : Perbedaan seksual yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Alat ukur : Tabel pengisian data.
Cara ukur : Dengan mencatat variabel jenis kelamin sesuai dengan yang tercantum

pada rekam medik.


d. Hasil ukur :
1. Laki-laki
2. Perempuan
3) Pekerjaan
a. Definisi : Pekerjaan pasien selama hidup adakah terpapar dengan sumber infeksi.
b. Alat ukur : Tabel pengisian data.

23

c. Cara ukur : Dengan mencatat variabel pekerjaan pasien sesuai dengan yang
tercantum pada rekam medik.
d. Hasil ukur : Sesuai data pada rekam medik
4) Diagnosis Masuk
a. Definisi : Kasus pasien TB sesuai dengan saat pertama kali didiagnosis TB pada
kunjungan pertama di poliklinik.
b. Alat ukur : Tabel pengisian data.
c. Cara ukur : Dengan menggolongkan, lalu mencatat tipe pasien TB berdasarkan
diagnosis yang tercantum pada rekam medik.
d. Hasil ukur :
1. Kasus baru : Pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT < 4 minggu.
2. Dalam masa pengobatan (TB on treatment) : Pasien yang sedang menjalani terapi
OAT, yang terbagi dalam ketgori 1, kategori 2, atau kategori sisipan.
3. Kambuh (relaps) : Pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
namun didiagnosis kembali dengan hasil pemeriksaan BTA positif (apusan atau
kultur).
4. Putus berobat (default) : Pasien yang telah berobat dan putus berobat selama 2
bulan atau lebih dengan hasil pemeriksaan BTA positif.
5. Gagal (failure) : Pasien yang hasil pemeriksaan sputumnya tetap positif atau
kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
6. Kronik : Pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai
pengobatan ulangan.
5) Penyakit Penyerta
a. Definisi : Sesuai dengan penyakit selain tuberkulosis yang diderita pasien, yang
dapat memperberat kondisi pasien.
b. Alat ukur : Tabel pengisian data.

24

c. Cara ukur : Dengan mencatat variabel penyakit penyerta sesuai dengan yang
tercantum pada rekam medik.
d. Hasil ukur :
1. Ada penyakit penyerta, yaitu bila pasien mengalami salah satu dari penyakit yang
dapat meningkatkan kerentanan menderita TB (komorbid) seperti penyakit
immunodefisiensi HIV/AIDS, diabetes mellitus, malnutrisi, asma, dan penyakit
paru obstruksi kronik (PPOK), atau penyakit komplikasi dari TB antara lain:
anemia, pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis, TB usus, TB miliar, sindrom
obstruksi pasca tuberkulosis (SOPT), fibrosis paru, kor pulmonal, amiloidosis,
karsinoma paru, dan sindrom gagal napas (ARDS), atau penyakit penyerta yang
tidak berkaitan dengan tuberkulosis.
2. Tidak ada penyakit penyerta
6) Hasil Pemeriksaan BTA
a. Definisi : Hasil pemeriksaan basil tahan asam dari spesimen sputum pada pasien
dewasa atau bilas lambung pada pasien anak pada saat diagnosis TB ditegakkan.
b. Alat ukur : Tabel pengisian data.
c. Cara ukur : Dengan mencatat variabel hasil pemeriksaan BTA sesuai dengan yang
tercantum pada rekam medik.
d. Hasil ukur :
1. BTA (+)
4. BTA (-)
7) Hasil Pemeriksaan Foto Toraks
a. Definisi : Hasil superfisi foto toraks oleh radiologi pada saat diagnosis TB
ditegakkan oleh dokter yang merawat pasien.
b. Alat ukur : Tabel pengisian data.
c. Cara ukur : Dengan menggolongkan, lalu mencatat variabel foto toraks sesuai
dengan yang tercantum pada rekam medik.
d. Hasil ukur :
1. Mendukung diagnosis TB
2. Tidak mendukung diagnosis TB
25

8) Paduan OAT yang Didapatkan


a. Definisi : Paduan OAT yang didapatkan setelah didiagnosis TB pada saat
kunjungan pertama kali di poliklinik.
b. Alat ukur : Tabel pengisian data.
c. Cara ukur : Dengan mencatat paduan OAT yang didapatkan berdasarkan instruksi
terapi dokter pada lembar kunjungan poliklinik yang tercantum pada data rekam
medik.
d. Hasil ukur :
1). Kategori 1 : 2(RHZE)/ 4 (RH)3
2). Kategori 2 : 2(RHZE)S/ (RHZE)/ 5(RH)3 E3

METODE PENELITIAN
A. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional dengan
pendekatan deskriptif. Jenis penelitian ini dimaksudkan untuk memaparkan
prevelensi dan karakteristik penderita tuberkulosis paru berdasarkan fakta yang
terdapat di lapangan. Penentuan variabel ini didasarkan pada ketersediaan data dari
rekam medik pasien, dengan tetap mengingat kepentingan keterkaitan variabel
tersebut dengan kasus tuberkulosis paru.
B. WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN
Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakan dilakukan selama 2 (dua) minggu mulai tanggal 27

Apri l- 8 Mei 2015 (Jadwal penelitian terlampir).


Tempat Penelitian

26

Penelitian ini direncanakan dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah


Pangkep.
C. POPULASI DAN SAMPEL

Populasi Target
Populasi target adalah penderita Tuberkulosis paru rawat jalan di Rumah Sakit
Umum Daerah Pangkep periode Januari- Maret 2015

Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau adalah penderita Tuberkulosis paru rawat jalan di Rumah
Sakit Umum Daerah Pangkep periode Januari- Maret 2015

Sampel
Sampel yang diambil adalah pasien Tuberkulosis paru rawat jalan di Rumah
Sakit Umum Daerah Pangkep periode Januari- Maret 2015
Cara Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel adalah dengan menggunakan metode total
sampling yaitu mengambil sampel yang sesuai dengan ketentuan atau
persyaratan sampel dari populasi tertentu yang paling mudah dijangkau atau
didapatkan.
Kriteria Inklusi

27

Pasien yang terdiagnosis tuberkulosis paru di Rumah Sakit Umum Daerah


Pangkep, periode Januari - Maret 2015.
Kriteria Eksklusi
Pasien yang Rekam Mediknya tidak terbaca dan pasien yang Rekam
Mediknya mengandung kurang dari 50% variable yang dibutuhkan.
D. JENIS DATA DAN INSTRUMEN PENELITIAN

Jenis Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh melalui
rekam medik subjek penelitian.
Instrumen penelitian
Alat pengumpul data dan instrumen penelitian yang dipergunakan dalam
penelitian ini terdiri dari lembar pengisian data dengan tabel-tabel tertentu
untuk mencatat data yang dibutuhkan dari rekam medik. Microsoft Word dan
Microsoft Excel sebagai tempat untuk mengolah hasil penelitian.

E. MANAJEMEN PENELITIAN

Pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan setelah meminta perizinan dari pemerintah dan
kepala Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep. Kemudian nomor rekam medik
pasien tuberkulosis paru dalam periode yang telah ditentukan dikumpulkan di
Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep. Setelah itu dilakukan pengamatan dan
pencatatan langsung ke dalam tabel yang telah disediakan.
28

Pengolahan dan Analisa data


Pengolahan dilakukan setelah pencatatan data dari rekam medik yang
dibutuhkan ke dalam tabel check list dengan menggunakan komputer yaitu
dengan menggunakan perangkat Microsoft Office Excel 2010 untuk

memperoleh hasil statistik deskriptif yang diharapkan.


Penyajian data
Data yang telah diolah akan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram untuk
menggambarkan prevalensi dan karakteristik penderita tuberkulosis paru di
Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep.

F. ETIKA PENELITIAN
1. Menyertakan surat pengantar yang ditujukan kepada pihak pemerintah dan
kepala Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep sebagai permohonan izin
untuk melakukan penelitian.
2. Menjaga kerahasiaan data pasien yang terdapat pada rekam medik,
sehingga diharapkan tidak ada pihak yang merasa dirugikan atas penelitian
yang dilakukan.
3. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak
yang terkait sesuai dengan manfaat penelitian yang telah disebutkan
sebelumnya.

29

BAB V
HASIL PENELITIAN
Telah dilakukan penelitian tentang Karakteristik penderita tuberkulosis paru
di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep, periode Januari - Maret 2015. Penelitian ini
dilakukan dengan mengambil data dari data sekunder yang diperoleh dari rekam
medik di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep, periode Januari - Maret 2015.
Penelitian dilakukan dengan metode pengambilan sampel yaitu total sampling yaitu
mengambil seluruh pasien yang terdiagnosa dengan tuberkulosis paru yang berobat
rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep, periode Januari - Maret 2015.
Jumlah pasien tuberkulosis paru yang berobat rawat jalan di Rumah Sakit
Umum Daerah Pangkep, periode Januari - Maret 2015, didapatkan sampel sebanyak
75 orang. Penelitian dilakukan dengan mencatat data sekunder dari rekam medik.
Data yang diambil adalah nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, penyakit menyerta,
hasil pemeriksaan BTA, hasil foto toraks, paduan OAT yang didapatkan dan diagnosis
pertama kali masuk. Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan program
Microsoft Office Excel 2010.
Berdasarkan data yang diperoleh setelah diteliti data rekam medik yang
diambil. Maka hasil yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

30

5.1 Karakteristik Pasien TB Paru Rawat Jalan Berdasarkan Golongan Umur


Tabel 5.1. Distribusi Pasien Tuberkulosis Paru Berdasarkan Umur Periode Jan Mar 2015

UMUR

NOMINAL (n)

PERSENTASE (%)

<30 TAHUN
30-39 TAHUN
40-49 TAHUN
50-59 TAHUN
60-69 TAHUN
>70 TAHUN

14
10
21
18
9
3

18.67
13.33
28
24
12
4

TOTAL

75

100

Sumber : Rumah Sakit Umum Daerah periode Januari-Maret 2015

Berdasarkan table 5.1 distribusi pasien TB paru di Rumah Sakit Umum


Daerah Pangkep Periode Januari - Maret 2015 berdasarkan umur menunjukkan
bahwa insiden terbanyak terjadi pada rentang umur 40-49 tahun dengan jumlah kasus
21 atau sebesar 28 % diikuti oleh rentang umur 50-59 sebanyak 18 kasus atau sebesar
24 % selanjutnya umur <30 tahun sebanyak 14 kasus atau sebesar 18.67 %, lalu 3039 tahun sebanyak 10 kasus atau sebesar 13.33%, lalu diikuti umur 60-69 tahun
sebanyak 9 kasus atau 12 % serta >70 Tahun sebanyak 3 kasus atau 4 %.

31

Diagram1:
Distribusi PasienTBParuPeriodeJan-Mar2015
MenurutKelompokUmur
Persentase%

30
25
20
15
10
5
0
<30

30-39

40-49

50-59

60-69

>70

Umur

5.2 Karakteristik Pasien TB Paru Rawat Jalan Berdasarkan Jenis Kelamin


Tabel 5.2 Distribusi Pasien TB Paru Periode Jan-Mar 2015 Berdasarkan Jenis
Kelamin
JENIS KELAMIN

NOMINAL (n)

PERSENTASE (%)

LAKI-LAKI
PEREMPUAN

37
38

49.33
50.67

TOTAL

75

100

Sumber : Rumah Sakit Umum Daerah periode Januari-Maret 2015

Berdasarkan table 5.2 distribusi pasien TB paru Januari Maret 2015


didapatkan pada jenis kelamin, menunjukkan bahwa insiden antara laki-laki dan
Perempuan memiliki jumlah yang hampir sama yaitu pada laki-laki 37 kasus atau
sebesar 49.33 % diikuti perempuan dengan jumlah 38 kasus atau sebesar 50.67 %.

32

Diagram 2
Distribusi Pasien TB Paru Periode Jan-Mar 2015
Menurut Kelompok Jenis Kelamin

Perempuan; 51% Laki-Laki; 49%

5.3 Karakteristik Pasien TB Paru Rawat Jalan Berdasarkan Pekerjaan


Table 5.3 Distribusi Pasien TB paru Periode Jan- Mar 2015 Berdasarkan
Pekerjaan
PEKERJAAN

NOMINAL(n)

PERSENTASE(%)

IBU RUMAH TANGGA


PEGAWAI NEGERI SIPIL
PETANI
NELAYAN
WIRASWASTA
PELAJAR
TIDAK BERKERJA

24
7
10
5
16
9
4

32
9.33
13.33
6.67
21.33
12
5.34

TOTAL

75

100

Sumber : Rumah Sakit Umum Daerah periode Januari-Maret 2015

Berdasarkan table 5.3 distribusi pasien TB paru berdasarkan perkerjaan


menunjukkan bahwa insiden terbanyak terjadi pada Ibu rumah tangga dengan jumlah
24 kasus atau sebesar 32 % diikuti Wiraswasta dengan jumlah 16 kasus atau sebesar

33

21.33 %, selanjutnya petani dengan jumlah 10 kasus atau 9.33 %, selanjutnya Pelajar
dengan jumlah 9 kasus atau 12 %, selanjutnya Pegawai negeri Sipil dengan jumlah 7
kasus atau 9.33 %, selanjutnya nelayan dengan jumlah 5 orang atau 6.67 % dan tidak
bekerja dengan jumlah 4 kasus atau 5.34 %.

Diagram 3:
Distribusi Pasien TB Paru Periode Jan-Mar 2015 Menurut Kelompok Pekerjaan

5.4 Karakteristik Pasien TB Paru Rawat Jalan Berdasarkan Diagnosa


pertama kali masuk
Tabel 5.4 Distribusi Pasien TB paru periode Jan-Mar 2015 Berdasarkan Diagnosa
Masuk
DIAGNOSA

NOMINAL (n)

PERSENTASE (%)

Kasus baru
Kambuh

54
21

72 %
28 %

34

TOTAL

75

100

Sumber : Rumah Sakit Umum Daerah periode Januari-Maret 2015

Berdasarkan table 5.4 distribusi pasien TB paru berdasarkan diagnosa masuk


menunjukkan bahwa kebanyakkan pasien merupakan kasus baru dengan jumlah 54
kasus yaitu 72 % dan beberapa kasus kambuh berjumlah 21 kasus atau 28 %.

Diagram 4
Distribusi Pasien TB Paru Periode Jan-Mar 2015
Berdasarkan Diagnosa Masuk

Kasus Kambuh; 28%

Kasus Baru; 72%

35

5.5 Karakteristik Pasien TB Paru Rawat Jalan Berdasarkan Penyakit Penyerta


Table 5.5 Distribusi Pasien TB paru periode Jan-Mar 2015 Berdasarkan Penyakit
penyerta
PENYAKIT PENYERTA

NOMINAL (n)

PERSENTASE (%)

Ada
Tidak Ada

28
47

37.33 %
62.67 %

TOTAL

75

100

Sumber : Rumah Sakit Umum Daerah periode Januari-Maret 2015

Pada tabel 5.5 dapat dilihat bahwa tidak adanya penyakit penyerta yang
diderita pada pasien TB paru sebanyak 47 orang atau 62.67 %, sedangkan adanya
penyakit penyerta yang diderita pada pasien TB paru sebanyak 28 orang atau 37.33%.

Diagram 5:
Distribusi Pasien TB Paru
Periode Jan-Mar 2015 Berdasarkan Penyakit Penyerta

Ada; 37%
Tidak Ada; 63%

5.6 Karakteristik Pasien TB Paru Rawat Jalan Berdasarkan Hasil BTA

36

Table 5.6 Distribusi Pasien TB Paru Periode Jan-Mar 2015 Berdasarkan Hasil
BTA
HASIL BTA

NOMINAL (n)

PERSENTASE (%)

BTA (+)
BTA (-)

47
28

62.67 %
37.33 %

TOTAL

75

100

Sumber : Rumah Sakit Umum Daerah periode Januari-Maret 2015

Berdasarkan table 5.6 distribusi pasien TB paru berdasarkan hasil BTA


menunjukkan bahwa pada semua sampel pasien TB paru di Rumah Sakit Umum
Daerah Pangkep Periode Januari-Maret 2015 sebanyak 75 orang pasien, didapatkan
47 orang pasien dengan BTA positif manakala 28 orang pasien lagi BTA negatif pada
pemeriksaan pertama BTA dengan masing-masing 62.67 % dan 37.33 %.
Diagram 6
Distribusi Pasien TB Paru Periode Jan-Mar 2015
Berdasarkan Hasil BTA

BTA (-); 37%


BTA (+); 63%

5.7 Karakteristik Pasien TB Paru Rawat Jalan Berdasarkan Hasil Foto Toraks
37

Table 5.7 Distribusi Pasien TB Paru Periode Jan-Mar 2015 Berdasarkan Hasil Foto
Toraks
HASIL FOTO TORAKS

NOMINAL (n)

PERSENTASE (%)

MENDUKUNG DIAGNOSA
TIDAK MENDUKUNG

71
4

94.67 %
5.33 %

TOTAL

75

100

Sumber : Rumah Sakit Umum Daerah periode Januari-Maret 2015

Berdasarkan table 5.7 distribusi pasien TB paru berdasarkan hasil foto toraks
menunjukkan bahwa pada semua sampel pasien TB paru di Rumah Sakit Umum
Daerah Pangkep Periode Januari-Maret 2015 sebanyak 75 orang pasien, didapatkan
71 orang pasien dengan hasil foto toraks yang mendukung diagnosa TB paru
manakala 4 orang pasien lagi dengan hasil foto toraks yang tidak mendukung
diagnosa TB paru dengan masing-masing 94.67 % dan 5.33 %.

Diagram 7
Distribusi Pasien TB Paru Periode Jan-Mar 2015
Berdasarkan Hasil Radiologi

Foto Thorax (-); 5%

Foto Thorax (+); 95%

5.8 Karakteristik Pasien TB Paru Rawat Jalan Berdasarkan Panduan OAT


38

yang diberikan
Table 5.8 Distribusi Pasien TB paru Periode Jan-Mar 2015 Berdasarkan Panduan
OAT yang diberikan
PADUAN OAT

NOMINAL (n)

PERSENTASE (%)

Katergori 1
Kategori 2

54
21

72 %
28 %

TOTAL

75

100

Sumber : Rumah Sakit Umum Daerah periode Januari-Maret 2015

Berdasarkan table 5.8 distribusi pasien TB paru berdasarkan paduan OAT


yang diberikan, menunjukkan bahwa kebanyakan pasien mendapat paduan OAT
kategori pertama dengan jumlah 53 kasus yaitu 70.67 % berbanding kategori dua
dengan jumlah 22 kasus saja yaitu 29.33 %.

Diagram 8:
Distribusi Pasien TB Paru
Periode Jan-Mar 2015 Berdasarkan Panduan OAT yang diberikan

Kategori 2; 29%

Kategori 1; 71%

39

BAB VI
PEMBAHASAN.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh mengenai karakteristik pasien
tuberculosis paru di Rumah Sakit Umum Daerah periode Januari-Maret 2015 , maka akan
dibahas sesuai dengan variable yang diteliti.
A. Karakteristik pasien tuberkulosis paru berdasarkan umur
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh insiden tuberkulosis paru
berdasarkan faktor umur menunjukkan bahwa insiden terbanyak terjadi pada rentang
umur 40-49 tahun dengan jumlah kasus 21 atau sebesar 28 % diikuti oleh rentang
umur 50-59 sebanyak 18 kasus atau sebesar 24 % selanjutnya umur <30 tahun
sebanyak 14 kasus atau sebesar 18.67 %, lalu 30-39 tahun sebanyak 10 kasus atau
sebesar 13.33%, lalu diikuti umur 60-69 tahun sebanyak 9 kasus atau 12 % serta >70
Tahun sebanyak 3 kasus atau 4 %
Karakteristik umur dapat mempengaruhi kejadian tuberkulosis paru karena
semakin tua umur seseorang maka semakin rentan terkena penyakit tuberkulosis paru.
Angka kejadian tertinggi pada rentang umur 40-49 tahun di mana pada usia ini
kebanyakan pasien mempunyai daya tahan tubuh yang semakin menurun sehingga
jika terjadi kontak dengan pasien tuberkulosis yang aktif dapat terjadinya penularan
penyakit ini. Selain itu, pada usia ini kebanyakan pasien mempunyai penyakit

40

penyerta yang lain seperti diabetes mellitus yang menyebabkan rentan terhadap
penyakit.
B. Karakteristik pasien tuberkulosis paru berdasarkan jenis kelamin
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh distribusi pasien tuberkulosis
paru menurut jenis kelamin, menunjukkan bahwa insiden antara laki-laki dan
Perempuan memiliki jumlah yang hampir sama yaitu pada laki-laki 37 kasus atau
sebesar 49.33 % diikuti perempuan dengan jumlah 38 kasus atau sebesar 50.67 %.
Dari hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang tidak signifikan walaupun
dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin dapat juga menyebabkan
terjadinya penyakit tuberkulosis paru. Di mana hal ini di karenakan oleh faktor
kebiasaan merokok pada laki-laki yang hampir dua kali lipat dibandingkan pada
perempuan. Penyakit tuberkulosis paru cenderung lebih tinggi pada jenis kelamin
laki-laki dibandingkan perempuan menurut WHO. Pada jenis kelamin laki-laki
penyakit ini lebih tinggi karena merokok dan minum alkohol dapat menurunkan
sistem pertahanan tubuh, sehingga lebih mudah terpapar dengan agen penyebab
tuberkulosis paru.
C. Karakteristik pasien tuberkulosis berdasarkan pekerjaan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh distribusi pasien tuberkulosis
paru menurut perkerjaan menunjukkan bahwa insiden terbanyak terjadi pada Ibu
rumah tangga dengan jumlah 24 kasus atau sebesar 32 % diikuti Wiraswasta dengan
jumlah 16 kasus atau sebesar 21.33 %, selanjutnya petani dengan jumlah 10 kasus
41

atau 9.33 %, selanjutnya Pelajar dengan jumlah 9 kasus atau 12 %, selanjutnya


Pegawai negeri Sipil dengan jumlah 7 kasus atau 9.33 %, selanjutnya nelayan dengan
jumlah 5 orang atau 6.67 % dan tidak bekerja dengan jumlah 4 kasus atau 5.34 %
Perbedaan pekerjaan yang dimiliki seseorang menyebabkan terdapat pula
perbedaan status sosial ekonomi yang dimiliki. Setiap pekerjaan merupakan beban
bagi pelakunya. Beban yang dimaksud yaitu fisik, mental atau sosial pekerja.
Kemampuan pada kerja berbeda dari satu dengan lainnya yakni pada keterampilan,
keserasian, keadaan gizi, jenis kelamin, usia dan ukuran tubuh.
Pada penelitian ini didapatkan kebanyakan insiden tuberkulosis tejadi pada
yang tidak mempunyai pekerjaan.
D. Karakteristik pasien tuberkulosis paru berdasarkan diagnosa masuk
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh distribusi pasien tuberkulosis
paru menurut diagnosa masuk menunjukkan bahwa kebanyakkan pasien merupakan
kasus baru dengan jumlah 54 kasus yaitu 72 % dan beberapa kasus kambuh
berjumlah 21 kasus atau 28 %.
E. Karakteristik pasien tuberkulosis paru berdasarkan penyakit penyerta
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh distribusi pasien tuberkulosis paru
menurut penyakit penyerta yang diderita pada pasien TB paru bahwa tidak adanya
penyakit penyerta yang diderita pada pasien TB paru sebanyak 47 orang atau 62.67
%, sedangkan adanya penyakit penyerta yang diderita pada pasien TB paru sebanyak
28 orang atau 37.33 %

42

Selain itu, diabetes mellitus yang menyertai penderita TB paru harus


diwaspadai karena juga merupakan faktor komorbid terjadinya TB-MDR. Hal ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bashar dkk sebagaimana yang dikutip
oleh Masniari dkk yang menyatakan bahwa penyakit diabetes mellitus merupakan
faktor resiko terjadinya TB-MDR.8
Meskipun dalam jumlah yang sedikit, dalam penelitian ini juga ditemukan
kejadian ko-infeksi HIV/AIDS dengan TB paru. Pada tahun 2007, WHO secara
global mengidentifikasi kejadian infeksi HIV pada 996.000 (16%) penderita TB, dan
diperoleh hasil HIV positif sebesar 30%. Sistem imun yang lemah pada pasien
HIV/AIDS merupakan penyebab utama kerentanan penyakit TB pada kelompok
tersebut.2
F. Karakteristik pasien tuberkulosis paru berdasarkan hasil BTA
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh distribusi pasien tuberkulosis
paru menurut hasil BTA berdasarkan hasil BTA menunjukkan bahwa pada semua
sampel pasien TB paru di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep Periode JanuariMaret 2015 sebanyak 75 orang pasien, didapatkan 47 orang pasien dengan BTA
positif manakala 28 orang pasien lagi BTA negatif pada pemeriksaan pertama BTA
dengan masing-masing 62.67 % dan 37.33 %.
Hasil pewarnaan BTA pasien TB Paru rawat jalan sebagian besar
menunjukkan hasil yang positif. Hal ini menunjukkan bahwa penegakan diagnosis
pasti TB merujuk secara langsung pada hasil pewarnaan BTA. Namun demikian,

43

harus diperhatikan bahwa ternyata hasil pewarnaan BTA negatif juga banyak
ditemukan, meskipun jumlahnya lebih rendah dibandingkan dengan BTA positif.
Dari hal tersebut, yang perlu ditekankan adalah pemeriksaan BTA hanya
dapat positif apabila jumlah kuman dalam spesimen >10 5 dan bila kurang dari jumlah
tersebut hasilnya akan negatif. Dan juga hasil pewarnaan BTA yang negatif dapat
disebabkan oleh sputum yang tidak adekuat dikeluarkan oleh pasien.7,8
G. Karakteristik pasien tuberkulosis paru berdasarkan hasil foto toraks
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh distribusi pasien tuberkulsosis
menurut hasil foto toraks menunjukkan bahwa pada semua sampel pasien TB paru di
Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep Periode Januari-Maret 2015 sebanyak 75 orang
pasien, didapatkan 71 orang pasien dengan hasil foto toraks yang mendukung
diagnosa TB paru manakala 4 orang pasien lagi dengan hasil foto toraks yang tidak
mendukung diagnosa TB paru dengan masing-masing 94.67 % dan 5.33 %.
Hasil foto toraks pasien TB paru sebagian besar mendukung diagnosis TB
Paru. Hal ini menunjukkan bahwa penegakan diagnosis TB juga merujuk pada hasil
foto toraks. Meskipun hasil foto toraks tidak menginformasikan luas lesi secara
eksplisit untuk menggambarkan keadaan pasien TB paru, tetapi dapat menilai tingkat
keparahan penyakit TB paru.
Penelitian yang dilakukan oleh Lessnau et al di New York, menemukan
bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara foto toraks dengan tiga
kelompok subjek penelitian yakni TB sensitif OAT, TB mono-resisten, dan TB-MDR.
Gambaran radiologi yang ditemukan antara lain berupa kavitas, bercak berawan pada

44

lobus atas maupun pada lobus bawah paru, limfadenopati, infiltrat yang difus, efusi
pleura, TB miliar, dan terdapat pula gambaran radiologi yang normal. Dari beberapa
gambaran radiologi tersebut, diperoleh bahwa terdapat perbaikan gambaran radiologi
setelah 2 minggu pemberian terapi OAT yang sesuai. Hal ini menunjukkan bahwa
pemeriksaan radiologi, dalam hal ini foto toraks, selain sebagai salah satu alat
diagnostik, juga dapat digunakan sebagai kontrol perjalanan penyakit dalam masa
pengobatan tuberkulosis paru.9
H. Karakteristik pasien tuberkulosis paru berdasarkan Paduan Obat OAT yang
diberikan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh distribusi pasien tuberkulosis
paru menurut paduan OAT yang diberikan, menunjukkan bahwa kebanyakan pasien
mendapat paduan OAT kategori pertama dengan jumlah 54 kasus yaitu 72 %
berbanding kategori dua dengan jumlah 21 kasus saja yaitu 28 %.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh mengenai karakteristik pasien
Tuberkulosis paru di Rumah Sakit Umum Daerah Pangkep Periode Januari Maret
2015, maka akan dibahas sesuai dengan variable yang diteliti.
1. Berdasarkan karakteristik demografi, pasien TB paru berdasarkan faktor umur
menunjukkan bahwa insiden terbanyak terjadi pada rentang umur 40-49 tahun
dengan jumlah kasus 21 atau sebesar 28 % diikuti oleh rentang umur 50-59
sebanyak 18 kasus atau sebesar 24 % selanjutnya umur <30 tahun sebanyak 14

45

kasus atau sebesar 18.67 %, lalu 30-39 tahun sebanyak 10 kasus atau sebesar
13.33%, lalu diikuti umur 60-69 tahun sebanyak 9 kasus atau 12 % serta >70
Tahun sebanyak 3 kasus atau 4 % serta berdasarkan pekerjaan menunjukkan
bahwa insiden terbanyak terjadi pada yang tidak bekerja dengan jumlah 28 kasus
atau 37.34 %
2. Berdasarkan kriteria diagnostik, pasien TB paru berdasarkan hasil pewarnaan
BTA menunjukkan hasil positif sebanyak 42 atau 62.67 %, berdasarkan hasil
radiologi menunjukkan yang mendukung diagnosa sebanyak 71 atau 94.67 %.
3. Berdasarkan kondisi kesehatan, berdasarkan diagnosa pertama kali masuk
menunjukkan bahwa kebanyakkan pasien merupakan kasus baru dengan jumlah
54 kasus yaitu 72 % meskipun kasus relaps juga cukup tinggi yakni 21 kasus atau
28% sehingga membutuhkan perhatian khusus bagi pihak kesehatan setempat.
Berdasarkan adanya penyakit penyerta didominasi dengan tidak adanya penyakit
penyerta yang berjumlah 47 orang pasien atau sebesar 62.67 %, berdasarkan
panduan OAT yang didapatkan sebagian besar OAT kategori 1 dengan jumlah 54
kasus yaitu 72 %.
SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan kesimpulan yang telah
dipaparkan sebelumnya, maka saran-saran yang diajukan adalah sebagai berikut.
A. Pihak dokter dan pasien sebaiknya bekerja sama dengan baik untuk
memastikan agar setiap pasien yang datang, baik suspek maupun definitif TB

46

(kasus baru ataupun kasus lama) tetap menjalani pemeriksaan diagnostik


sesuai standar.
B. Tingginya angka kejadian pasien TB relaps menjadi perhatian bagi pihak
dokter untuk memastikan bahwa setiap pasien yang datang, baik pasien kasus
baru ataupun pasien yang sudah mendapat pengobatan sebelumnya agar
memiliki pengawas minum obat (PMO) yang selalu memantau dan
mengawasi pengobatan yang telah diberikan agar tepat dan optimal. Hal ini
juga sangat penting dalam menekan angka kejadian TB kasus baru dan TBMDR yang sulit diobati.
C. Untuk tindak lanjut penelitian berikutnya, diperlukan penelitian lebih lanjut
dengan desain analitik tetang keterkaitan antara beberapa variabel
karakteristik pasien TB paru rawat jalan dengan tingkat keberhasilan
pengobatan yang diberikan dengan menggunakan hasil penelitian ini sebagai
data primer.

47

DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization (1998). The Global toll of tuberculosis in 1997.
2. Annual Report of Tuberculosis, Ministry of Health Indonesia 1999.
3. Barnes PF. Rapid Diagnostic Test fot Tuberculosis. AM J Respir Crit Med. 1997;
V 155: 1497-1498.
4. Iseman MD. A clinicians Guide to Tuberculosis. Biology and Laboratory
Diagnosis of Tuberculosis 2000: 21-45
5. Alvarez S et al. Extra pulmonary tuberculosis revisited : a review of the
experience at the Boston City Hospital and othe Hospital. Medicine (Baltimore)
1984; V63:25-55.
6. World Health Organization. Treatment of Tuberculosis: Guidelines for National
Programmes, 1997 (Second Edition).
7. NationalnTuberculosis and Respiratory Disease Association, New York.
Diganostic standards and classification of tuberculosis, 1969.
8. East African/ British Medical Research Councils : Controlled clinical trial of four
short-course (6month) regimens of chemotherapy for treatment of pulmonary
tuberculosis. Third report. Lancet 1973/11,1331.
9. Crofton J et al. World Health Organisation. Guidelines for the management of
drug-resistant tuberculosis, 1997.
10. Girling DG. Adverse effects of anti-tuberculosis drug. Bulletin of the
International Union Against Tuberculosis 1984; V59:152-162.
11. Paediatric Tuberculosis. P, Scheimam, L Refabert, C. Delacourt, M. Le Bourqeois,
European Respiratory Monograph 4, July 1997, pg 144-174.
12. Center for Disease Control: Nosocomial transmisiion of multidrug resistant
tuberculosis among HIV-infected persons-Florida and New York, 1988-1991.
48

13. Davidson PT. Drug resistance and the selection of therapy for tuberculosis. AM
Rev Respir Dis 1987; 136:255-257.
14. American Thoracic Society. Treatment of tuberculosis and tuberculosis infection
in adults and children. Am Rev Respir Dis 1986; 134:355-363.
15. World Health Organisation. Stop TB crisis in the Wester Pacific Region from risk
to oppurtunity 1999.
16. Crofton J, Chaulet P, Maher D, et al; Guidelines for the management of drug
resistant tuberculosis. WHO/TB 196.210 (Rev.1); 1997:26-35.
17. CDC Guideline for the preventing the transmission of mycobacterium
tuberculosis in Helath Care facillities., 1994, MMWR 43 (RR13);1-132
18. Guidelines fo Infection control in Healthcare Personnel, 1998 Infection Control
and Hospital Epidemiology Vol.19-no. 6; 407-462.
19. American College of Occupational and Environment Medicine, guidelines for
Protecting Health Care Workers against tuberculosis. J Occupational and
Environment Medicine 1998, vol 40 no. 9;1-7.
20. Tuberculosis amon Health Workers.NEJM vol 332, no. 2;92-98.
21. Tuberculosis, clinical management and new challenges, chapter 9 pg 145.155.
22. Rosenfeld E A, Hegeman JR, YogenR, Tuberculosis in infancy in the 1990s, Paed
clin N.AM 1993;40: 1087-1103.
23. American Thoracic Society and the center for Disease Control and Prevention.
Treatment of tuberculosis and tuberculosis infection in adults and children. Am.J
Resp.Critcare Med 1994; 149: 1359-1374/

49