Vous êtes sur la page 1sur 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diare sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara
berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare masih sering menimbulkan Kejadian
Luar Biasa (KLB ) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkat. Di negara maju
diperkirakan insiden sekitar 0,5-2 episode per orang per tahun sedangkan di negara
berkembang lebih dari itu. Di USA dengan penduduk sekitar 200 juta diperkirakan 99 juta
episode diare akut pada dewasa terjadi setiap tahunnya. WHO memperkirakan ada sekitar 4
miliar kasus diare akut setiap tahun dengan mortalitas 3-4 juta per tahun (IDAI, 2005).
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan kasus diare yang cukup
tinggi dengan penyebab kematian dan kesakitan tertinggi pada anak, terutama usia di bawah 5
tahun. Di dunia sebanyak 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare dan sebagian
besar kejadian tersebut terjadi di negara berkembang. Jumlah kematian anak di dunia akibat
diare sebesar 17 %. Berdasarkan hasil Rikerdas 2007 diperoleh bahwa diare masih
merupakan penyebab kematian bayi terbanyak

di Indonesia yaitu 42 %, dibandingkan

pneumonia 24%, sementara untuk golongan usia 1-4 tahun penyebab kematian karena diare
25,2% dibanding pneumonia 15,5% (Juffrie dan Mulyani, 2009).
Menurut Kasubdit Diare dan Kecacingan Depkes, I Wayan Widaya mengatakan hasil
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, angka kematian akibat diare 23 per
100 ribu penduduk dan pada balita 75 per 100 ribu balita. Selama tahun 2006 sebanyak 41
kabupaten di 16 provinsi melaporkan KLB (kejadian luar biasa) diare di wilayahnya. Jumlah
kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian.
Hal tersebut, terutama disebabkan rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi buruk dan
perilaku hidup tidak sehat (Juffrie dan Mulyani, 2009).
Berdasarkan Kemenkes RI (2007) diketahui prevalensi diare nasional adalah 9,0%
dengan prevalensi tertinggi di Provinsi NAD (18,9%). Jumlah kasus diare di Propinsi Aceh
tahun 2007 seluruhnya adalah 86.945 dan pada tahun 2008 seluruhnya adalah 77.290. Data
penyakit diare di Kota Banda aceh dan Aceh Besar pada tahun 2007 seluruhnya ada 4.770
kasus diare, dengan umur <1 tahun adalah sebanyak 578 kasus, umur 1-4 tahun sebanyak
1.337 kasus, sedangkan pada umur >5 tahun adalah 2.855 kasus. Sedangkan pada tahun 2008
seluruhnya sudah mencapai 6.011. Kasus diare dengan umur <1 tahun adalah sebanyak 528
kasus, umur 1-4 tahun sebanyak 1.619 kasus, sedangkan umur >5 tahun adalah 3.864 kasus.
1

Di Kota Banda Aceh jumlah pasien diare pada anak sebanyak 5.875 orang (Dinas Kesehatan
Provinsi Aceh, 2010).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Langsa didapatkan bahwa diare termasuk
ke dalam 10 besar penyakit dengan insidensi yang cukup tinggi yaitu 544 kasus pada periode
Januari-Agustus 2011 di Puskesmas Langsa Timur (Kemalahayati, 2013).
Hal inilah yang menarik minat penulis untuk melakukan penelitian tentang
Karakteristik Penderita Diare di Puskesmas Langsa Timur Periode September-Desember
2015.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti Karakteristik
Penyakit Diare di Puskesmas Langsa Timur Periode September-Desember 2015.
1.2.1

Bagaimana karakteristik penderita diare di Puskesmas Langsa Timur periode

1.2.2

September-Desember 2015?
Bagaimana karakteristik penderita diare berdasarkan umur di Puskesmas Langsa

1.2.3

Timur periode September-Desember 2015?


Bagaimana karakteristik penderita diare berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas

1.2.4

Langsa Timur periode September-Desember 2015?


Bagaimana karakteristik penderita diare berdasarkan derajat klinis di Puskesmas
Langsa Timur periode September-Desember 2015?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik penderita diare di Puskesmas Langsa Timur periode
September-Desember 2015.
1.3.2 Tujuan Kusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui karakteristik penderita diare berdasarkan umur di Puskesmas
Langsa Timur periode September-Desember 2015.
1.3.2.2 Untuk mengetahui karakteristik penderita diare berdasarkan jenis kelamin di
Puskesmas Langsa Timur periode September-Desember 2015.
1.3.2.3 Untuk mengetahui karakteristik penderita diare berdasarkan derajat klinis di
Puskesmas Langsa Timur periode September-Desember 2015.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritik
2

Mini projek ini dilakukan untuk memperoleh pengalaman belajar di lapangan melalui
studi kasus dan untuk meningkatkan pengetahuan. Selain itu melatih dalam menilai suatu
kemampuan dan kecermatan dalam berinteraksi di dalam masyarakat serta mencari alternatif
penyelesaian dari suatu masalah dan menyelesaikannya.
1.4.2

Manfaat Aplikatif
Sebagai informasi dan data bagi pelaksana program terutama yang akan

melaksanakan program yang berhubungan dengan mini projek ini dan khususnya bagi penulis
dapat menambah wacana keilmuan dan wawasan di bidang ilmu penyakit menular.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diare
2.1.1 Definisi
Diare adalah keluarnya tinja yang lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari.
Menurut konsistensinya diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair
atau setengah cair (setengah padat), di mana kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Diare cair akut adalah diare yang terjadi secara akut dan
berlangsung kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari 7 hari), dengan pengeluaran
tinja yang lunak atau cair yang sering dan tanpa darah. Mungkin disertai muntah dan panas.
Disentri didefinisikan sebagai diare yang disertai darah dalam tinja (Dadiyanto dkk, 2011).
Diare persisten adalah episode diare yang mula-mula bersifat akut namun berlangsung
selama 14 hari atau lebih. Diare persisten dibedakan dari diare melanjut, yaitu episode diare
akut yang melanjut hingga berlangsung selama 7-14 hari (Dadiyanto dkk, 2011).
2.2 Cara Penularan dan Faktor Risiko
Mekanisme penularan utama oleh patogen diare adalah tinja-mulut, dengan makanan
dan air yang merupakan penghantar untuk kebanyakan kejadian. Faktor-faktor yang
menambah kerentanan terhadap infeksi dengan enteropatogen adalah umur muda, defisiensi
imun, campak, malnutrisi, perjalanan ke daereh endemic, kurang mendapatkan ASI,
keterpajanan terhadap keadaan sanitasi buruk, makan makanan atau air yang terkontaminasi,
dan tingkat pendidikan ibu (PMPD, 1999).
2.3 Etiologi
Sekitar 70-90% penyebab diare saat ini telah dapat diketahui dengan pasti. Telah
banyak diketahui bahwa penyebab utama diare pada anak adalah rotavirus. Rotavirus
diperkirakan sebagai penyebab diare cair akut pada 20-80% anak di dunia. Penelitian yang
dilakukan di 6 rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 55% kasus diare akut
pada balita disebabkan oleh rotavirus. Baik di negara maju maupun negara berkembang,
rotavirus masih merupakan penyebab tertinggi diare pada balita. Di Amerika Serikat,
didapatkan sekitar 2,7 juta anak di bawah 5 tahun menderita diare rotavirus setiap tahunnya.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa infeksi rotavirus tidak banyak terpengaruh oleh
status higienitas (Juffrie dan Mulyani, 2009).
Sekitar 10% episode diare akut pada anak kurang dari 5 tahun, disertai darah pada
tinjanya. Dibandingkan dengan diare cair akut, diare akut berdarah biasanya lebih lama
sembuh dan berhubungan dengan komplikasi yang lebih banyak (Triatmodjo, 2003).
Di Indonesia penyebab utama diare akut berdarah adalah Shigella, Salmonella,
Campylobacter jejuni, Eschericia coli (E.coli) dan Entamoeba hystolitica. Disentri berat
umumnya

disebabkan

oleh

Shigella

dysentri,

Shigella

flexneri,

Salmonella

dan

Enteroinvasive E. Coli (Sunoto, 1999).


Penyebab Diare Akut yang Paling Sering pada Bayi dan Anak
Penyebab
Rotavirus

Insiden
Penyebab hingga 50%
diare pada anak
berumur 6-24 bulan
Penyebab 5-10%
jumlah semua diare
dalam masyarakat
Infeksi asimptomatik
juga dapat terjadi
pada bayi dan orang
dewasa
Prevalen di seluruh
dunia
Enterotoxigenic E coli Kuman patogen yang
(ETEC)
penting pada bayi
dan orang dewasa
Menyebabkan sampai
25% jumlah semua
diare pada semua
golongan umur di
negara berkembang
Shigella
Penyebab sampai 10%
jumlah diare akut
pada anak balita
Juga terjadi pada anak
yang lebih besar dan
orang dewasa

Patogenesis
Bersifat sitopatik pada
sel epitel usus halus

Keterangan
Diare disertai
muntah dan demam
3 serotip rotavirus
manusia sudah
diketahui yaitu
serotipe A,B,C
Penyebarannya
melalui fekal-oral

Insiden paling
tinggi pada musim
dingin atau hujan
Menghasilkan
Penyebab tersering
enterotoksin
yang
travellers diarrhea
tahan panas (ST) dan Biasanya ditularkan
tak tahan panas (LT)
melalui makanan
yang menyebabkan
atau minuman
diare dari sekresi
usus halus
Sindrom
disentri Shigella flexneri paling
karena invasi ke usus
sering terjadi di
besar
negara berkembang
Diare usus halus yang Penyebaran umumnya
dicetuskan
dari manusia ke
enterotoksin
manusia, jarang
melalui makanan
atau air.
Shigella dysentriae
menyebabkan epidemi
dengan angka kematian
yang tinggi, umumnya
5

Vibrio cholera

Salmonella
typhoid

non

Campylobacter jejuni

kebal terhadap
beberapa macam
antibiotika
Di daerah endemis
Menyebabkan diare
Muncul sebagai
kolera, umumnya
sekretorik dari usus
penyebab diare
pada anak berumur 2halus karena adanya
epidemi karena
10 tahun
enterotoksin
penyebaran Vibrio
cholera El Tor yang
Di daerah yang baru
telah terjadi ke
terjangkiti, biasanya
beberapa negara di
dimulai pada orang
dunia
dewasa

Biasanya
ditularkan
Hanya sekitar 5-10%
melalui makanan
jumlah penderita
atau air
yang dirawat dari
semua golongan umur
dalam keadaan non
epidemi
Di negara berkembang Penyerangan
Menyebabkan
diare
intraseluler pada epitel
sampai 10% jumlah
akut dan demam
ileum
diare pada anak
Biasanya ditularkan
Insiden bertambah
melalui makanan,
dengan
terutama bahan
perkembangan sosial
makanan yang
ekonomi
berasal dari hewan
Kebal terhadap
beberapa macam
antibiotika
Menyebabkan 5-15%
jumlah diare di seluruh
dunia

Mungkin bersifat
ainvasif dan atau
menghasilkan
enterotoksin

Dapat
menyebabkan
diare
cair
atau
disentri
dengan
demam
Biasanya ditularkan
melalui makanan
terutama bahan
makanan yang
berasal dari hewan

Sumber : Sunoto, 1999

2.4 Patogenesis
Patogenesis dari diare dibagi menurut kemungkinan kelainan tinja yang timbul pada
diare (Sunoto, 1990):
6

a. Tinja cair (seperti air dan bening)


b. Tinja lembek cair
c. Tinja berdarah dan berlendir
Keadaan tinja tadi dapat timbul karena mekanisme diare baik berupa kelainan tunggal
maupun campuran. Pada umumnya gejala klinik yang ditimbulkan oleh mikroba patogen
dibagi menjadi (Rolfe, 1999):
a. Sindroma. berak cair (Small Bowel Syndromes) Berak cair yang profuse dan voluminus
yang biasanya dihubungkan dengan kolera.
b. Sindroma disentri (Disentry Syndromes) Berupa kejang perut (mules), tenesmia, tinja
bercampur lendir (pus) dan darah yang biasanya dihubungkan dengan shigellosis.
c. Di samping itu ada bentuk antara kedua sindroma di atas yang tergantung dari derajat
kerusakan mukosa.
Menurut kelainan tinja yang didapat, pada dasarnya mekanisme patogenesis diare
infektif dapat dibagi menjadi (Rolfe, 1999):
a. Diare sekretorik
Toksin E.coli dan V.cholera. Contoh klasik dari mekanisme diare karena toksin adalah
diare yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholera dan ETEC. Di samping itu bakteri lain
seperti: Clostridium perferingens, Staphilococcus aureus, Pseudomonas aerugenosa, dan
beberapa strain Shigella dan Salmonella juga dapat menghasilkan enterotoksin. Keracunan
makanan yang mengandung Staphilococcus, kontaminasi bentuk pratoksin (preformed toxin)
juga merupakan faktor penting dalam kejadian diare, dan mekanismenya berbeda dengan
diare karena kholera atau E. coli. Sekitar 25% diare pada anak disebabkan oleh toksin yang
dikeluarkan oleh bakteri, pada umumnya dihasilkan oleh bakteri E coli dan V. chholera.
E.coli pada berbagai strain dapat mempunyai 2 sifat, yaitu: sebagai enterotoksin maupan sifat
invasif. Setelah melalui tantangan karena ketahanan tubuh penderita, maka bakteri sampai di
lumen usus kecil memperbanyak diri dan menghasilkan enterotoksin yang kemudian dapat
mempengaruhi fungsi dari epitel mukosa usus. Racun-racun ini merangsang mekanisme selsel epitel mukosa usus yang memproduksi adenil siklase (Cyclic AMP) dan kemudian akan
berpengaruh mengurangi penyerapan ion natrium dari lumen usus, tetapi meningkatkan
pengeluaran ion khlorida dan air dari kripta mukosa dalam lumen usus.
b. Patomekanisme invasif : Shigella, Salmonella, Campylobacter dan Virus Rota.
Bakteri invasif penyebab diare diperkirakan sebanyak 10-20% dari diare pada anak.
Diare dengan kerusakan mukosa dan sel-sel mukosa sering pada usus halus dan usus besar,
pada umumnya disebabkan oleh Shigella, Enteroinvasif E. coli dan Campilobacter jejuni.
Invasi bakteri diikuti oleh pembengkakan dan kerusakan sel yang menyebabkan
7

diketemukannya darah dan lendir atau sel-sel darah putih dan darah merah dalam tinja
(bloody stool dysentry). Spasmus dari otot-otot polospada usus dirasakan oleh penderita
sebagai kejang atau sakit perut.
c. Diare karena perlukaan oleh substansi intraluminal
Bila bakteri mengadakan proliferasi dalam lumen usus halus akan terjadi perlekatan di
dinding mukosa dan akan menimbulkan suatu penyakit gangguan pencernaan. Gangguan ini
timbul karena bahan makanan dan. atau sekresi usus. Hasil metabolisme bakteri kadang
kadang dapat berupa bahan yang bisa melukai mukosa usus, diantaranya:
1.
2.
3.
4.

Dekonjugasi asam empedu


Hidroksi asam lemak
Asam organik rantai pendek
Subtansi alkohol

2.5 Gejala Klinis


Mula-mula bayi/anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat,
nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul diare. Tinja makin cair, mungkin
mengandung darah dan/ atau lender, warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena
tercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin
lama makin asam akibat banyaknya asam laktat, yang terjadi dari pemecahan laktosa yang
tidak dapat diabsorpsi oleh usus (Aswita, 2003).
Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare. Bila penderita telah banyak
kehilangan air dan elektrolit terjadilah gejala dehidrasi. Berat badan turun, pada bayi ubunubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir mulut dan bibir kering
(Aswita, 2003). Macam-macam organisme penyebab diare beserta gejala yang menyertai
(Pitono dkk, 1999).

Rotaviru

Salmonella

Campylobacter

Masa

s
1-7 hari

0-3 hari

2-4 hari

Inkubasi
Lama

4-8 hari

2-7 hari

5-7 hari

Diare
Usia
Kontak

< 2tahun
30 %

Semua
Var

1-5 tahun
10%

Yersinia

Shigella

EPE

ETE

C
0-2 hari

C
1-3

1-8 hari

1-46 hari

2-5 hari

hari
3-5

3-6 hari

Semua
<10%

<6 tahun
50%

<1thn
-

hari
<1thn
-

EIEC

Semua
-

EHEC

Semua
20%

Demam

Jarang

Variasi

Jarang

50%

Sering

Jarang

Jarang

Variasi

Variasi

>38,5C
ISPA
Kejang
Muntah
Nyeri

Sering
Variasi
Ringan

Jarang
Sering
Sedang

30%
Berat

40%
Kramp

(tinggi)
Sering
Sering
Berat

Sering
-

Sering
-

Jarang
-

Jarang
60%
Berat

Perut
Tenesmu

Jarang

Sering

Sering

Sering

Sering

s
Diare

Air

Encer

Mukoid air

Hijau

Mukoid

Air

Air

Mukoi

Mukoid

d Air

Air

Sering
Sering

Sering
Sering

Berlendir
Darah
Lendir

Jarang
Selalu

air + bau
Sering
Selalu

25%
Sering

busuk
> 50%
Selalu

2.6 Diagnosis
Cara mendiagnosis pasien diare adalah dengan 3 hal berikut (Juffrie dan Mulyani,
2009):
1. Persistensinya
2. Etiologi
3. Derajat dehidrasi
2.6.1 Menentukan Persistensinya
Perlu dicari informasi sudah berapa lama pasien menderita diare. Apakah sudah lebih
dari 14 hari atau belum, sehingga nantinya dapat menentukan apakah diare pada pasien
termasuk diare akut atau diare persisten. Hal ini berkaitan dengan tatalaksana diare, penyulit
atau komplikasi dari diare tersebut.

2.6.2 Menentukan Etiologi


Diagnosis klinis diare akut berdarah hanya berdasarkan adanya darah yang dapat
dilihat secara kasat mata pada tinja. Hal ini dapat langsung ditanyakan pada orang tua
maupun dilihat sendiri oleh dokter (Juffrie dan Mulyani, 2009).
Pada beberapa episode shigellosis, diare pada awalnya cair dan menjadi berdarah
setelah 1-2 hari. Diare cair ini sangat berat dan menimbulkan dehidrasi. Seringkali disertai
demam, nyeri perut, nyeri rektum dan tenesmus (Juffrie dan Mulyani, 2009).

2.6.3 Menentukan Derajat Dehidrasi


Anamnesis teliti terutama tentang asupan peroral, frekuensi miksi/ urine, frekuensi
serta volume tinja dan muntah yang keluar. Perlu ditanyakan juga apakah pasien sudah
pernah berobat dan apakah pasien mengkonsumsi obat tertentu sebelumnya. Saat melakukan
anamnesis, amati keadaan umum dan aktivitas anak. Adanya demam menunjukkan proses
inflamasi dan dapat pula timbul karena adanya dehidrasi. Berikut adalah cara mudah
menentukan derajat dehidrasi (Juffrie dan Mulyani, 2009):

Penilaian

Baik, sadar

* Gelisah

* Lesu, lunglai atau tidak

1. Lihat :
Keadaan Umum

sadar
Normal

Mata

Cekung
Sangat cekung dan kering

Rasa Haus

Minum biasa

* Haus, ingin minum


banyak

tidak haus

* Malas minum atau tidak


bisa minum

2. Periksa turgor kulit


Kembali cepat

* Kembali lambat

* Kembali sangat lambat

Tanpa dehidrasi

Dehidrasi ringan/sedang

Dehidrasi berat

bila ada 1 tanda *

Bila ada 1 tanda *

ditambah 1 atau lebih

ditambah 1 atau lebih

tanda lain

tanda lain

Rencana terapi B

Rencana terapi C

3. Derajat dehidrasi

4. Terapi
Rencana terapi A

2.7 Penatalaksanaan
Terdapat lima lintas tatalaksana yaitu: rehidrasi, dukungan nutrisi, suplementasi zinc,
antibiotik selektif edukasi orang tua (Juffrie dan Mulyani, 2009).
1) Rehidrasi
10

Salah satu komplikasi diare yang paling sering terjadi adalah dehidrasi. Mencegah
terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai memberikan cairan rumah tangga yang
dianjurkan seperti air tajin, kuah sayur atau air sup. Bila terjadi dehidrasi, anak harus
segera dibawa ke petugas kesehatan untuk mendapatkan pengobatan yang tepat dan cepat
yaitu dengan oralit. Komposisi cairan rehidrasi oral sangat penting untuk memperoleh
penyerapan yang optimal.
Cairan Rehidrasi Oral (CRO) yang dianjurkan WHO selama 3 dekade terakhir ini
menggunakan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa telah berhasil menurunkan
angka kematian akibat dehidrasi pada diare, karena kombinasi gula dan garam ini dapat
meningkatkan penyerapan cairan di usus. CRO selain murah, mudah digunakan juga
aman. Sesuai dengan anjuran WHO saat ini dianjurkan penggunaan CRO dengan formula
baru yaitu komposisi Natrium 75 mmol/L, Kalium 20 mmol/L, Klorida 65 mmol/L, Sitrat
10 mmol/L, Glukosa 75 mmol/L. Total osmolaritas 245 mmol/L. Rehidrasi disesuaikan
derajat dehidrasi yang sudah ditentukan.
Di masyarakat, masih beredar oralit dengan formulasi lama yaitu oralit yang
mengandung Natrium sebanyak 90 mmol/L, Kalium 20 mmol/L, Sitrat 10 mmol/L,
Klorida 80mmol/L, Glukosa 111mmol/L dengan total osmolaritas 311mmol/L. Oralit ini
kemudian dilarutkan dalam 200ml air matang. Oralit dengan formulasi lama sebenarnya
digunakan untuk pengobatan kolera, sehingga apabila diberikan untuk diare bukan
kolera, maka akan berisiko terjadinya hipernatremia.
2) Dukungan nutrisi
Makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu
anak sehat untuk pengganti nutrisis yang hilang serta mencegah agar tidak menjadi gizi
buruk. Pada diare berdarah nafsu makan akan berkurang. Adanya perbaikan, nafsu makan
menandakan fase kesembuhan. ASI tetap diteruskan selama terjadinya diare pada diare
cair akut maupun pada diare akut berdarah dan diberikan dengan frekuensi lebih sering
dari biasanya. Anak umur 6 bulan ke atas sebaiknya mendapat makan seperti biasanya.
3) Suplementasi Zinc
Zinc merupakan mikronutrien yang penting sebagai kofaktor lebih dari 90 jenis
enzim. Saat ini zinc telah digunakan dalam pengelolaan diare. Awal mula penggunaan
zinc dalam pengelolaan diare dilatarbelakangi oleh suatu fakta bahwa meskipun Garam
Rehidrasi Oral (Oral Rehydration Salts = ORS) dapat mengatasi dehidrasi, tidak mampu
menurunkan volume, frekuensi dan durasi diare. Untuk itulah diperlukan suatu metode
11

tambahan untuk menanggulangi hal tersebut. Diare dapat menurunkan kadar Zinc dalam
plasma bayi dan anak. Pada binatang percobaan, defisiensi zinc menyebabkan gangguan
absorpsi air dan elektrolit. Uji klinik pertama penggunaan zinc sebagai terapi diare cair
akut pada tahun 1988 di India, menunjukkan bahwa zinc mampu menurunkan durasi dan
frekuensi pada anak, terutama anak dengan penurunan kadar zinc yang berat.
Cara kerja zinc dalam menanggulangi diare masih banyak diteliti. Beberapa efek
zinc yaitu ( Lukacik, 2007):

Zinc merupakan kofaktor enzim superoxide dismutase (SOD). Enzim SOD terdapat di
hampir semua sel tubuh. Dalam setiap sel, ketika terjadi transpor elektron untuk
mensintesis ATP selalu timbul hasil sampingan yaitu anion superoksida. Anion
superoksida merupakan radikal bebas yang sangat kuat dan dapat merusak semua struktur
dalam sel. Untuk melindungi dirinya dari kerusakan, setiap sel mengekspresikan SOD.
SOD akan mengubah anion superoksida menjadi H2O2 akan diubah menjadi senyawa
yang lebih aman, yaitu H2O dan O2 oleh enzim katalase atau bias pula diubah menjadi
H2O oleh enzim glutation peroksidase. Tentu saja SOD sangat berperan dalam menjaga
integritas epitel usus.

Secara langsung zinc berperan sebagai antioksidan. Zinc berperan sebagai stabilisator
intramolekuler, mencegah pembentukan ikatan disulfide dan berkompetisi dengan
tembaga (Cu) dan besi (Fe). Tembaga dan besi yang bebas dapat menimbulkan radikal
bebas.

Zinc mampu menghambat Nitric Oxide (NO). Dalam keadaan inflamasi, termasuk
inflamasi usus, maka akan timbul lipopolisakarida (LPS) dari bakteri dan interleukin-1
(IL-1) dari sel-sel imun. LPS dan IL-1 mampu menginduksi ekspresi gen enzim nitricoxideisynthase-2 (NOS-2). NOS-2 selanjutnya mensintesis NO. Dalam sel-sel fagosit,
NO sangat berperan dalam menghancurkan kuman-kuman yang ditelan oleh sel-sel
fagosit itu. Namun dalam kondisi inflamsi, NO juga dihasilkan oleh berbagai macam sel
akibat diinduksi oleh LPS dan IL-1, NO yang berlebihan akan merusak berbagai macam
struktur pada jaringan, karena NO sebenarnya adalah senyawa yang reaktif. Dalam usus,
NO berperan sebagai senyawa parakrin. NO yang dihasilkan akan berdifusi ke dalam
epitel usus dan mengaktifkan enzim guanilat siklase untuk menghasilkan cGMP.
Selanjutnya cGMP akan mengaktifkan protein kinase C(PKC) dan protein ini akan
mengaktifkan atau menonaktifkan berbagai macam enzim, protein transport dan saluran
ion, denganhasil akhir berupa sekresi air dan elektrolit dari epitel ke dalam lumen usus.
12

Dengan pemberian zinc, diharapkan NO tidak disintesis secara berlebihan sehingga tidak
terjadikerusakan jaringan dan tidak terjadi hipersekresi.

Zinc berperan dalam penguatan sistem imun. Zinc berperan dalam modulasi sel T dan sel
B. Dalam perkembangan sel T dan sel B, terjadi pembelahan sel-sel limfosit. Zinc
berperan dalam ekspresi enzim timidin kinase. Enzim ini berperan dalam menginduksi
limfosit dalam siklus pembelahan sel, sehingga pembelahan sel-sel imun dapat
berlangsung. Selain itu zinc berperan sebagai kofaktor berbagai enzim lain dalam
transkripsi dan replikasi, dan berperan dalam factor transkripsi yang dikenal sebagai zinc
finger DNA binding protein.

Zinc berperan dalam aktivasi limfosit T, Karena zinc berperan sebagai kofaktor dari
protein-protein system transduksi sinyal dalam sel T. Aktivasi sel T terjadi ketika sel T
mengenali antigen

Zinc berperan dalam menjaga keutuhan epitel usus. Zinc berperan sebagai kofaktor
berbagai faktor transkripsi dalam sel usus dapat terjaga.
Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut terbukti mengurangi lama dan

beratnya diare, mencegah berulangnya diare selam 2-3 bulan. Zinc juga dapat
mengembalikan nafsu makan anak. Dosis Zinc untuk anak-anak:

Anak di bawah umur 6 bulan : 10 mg (1/2 tablet) per hari,

Anak di atas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari

Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut meskipun anak sudah sembuh.
Cara pemberian tablet Zinc :

Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan air matang, ASI,atau oralit.

Untuk anak-anak yang lebih besar zinc dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang
atau oralit.

4) Antibiotik selektif
Antibiotik tidak diberikan pada kasus diare cair akut kecuali dengan indikasi yaitu
pada diare berdarah dan kolera. Secara umum tatalaksana pada disentri dikelola sama
dengan kasus diare lain sesuai dengan acuan tatalaksana diare akut. Hal khusus mengenai
tatalaksana disentri adalah pemberian antibiotika oral selama 5 hari yang masih sensitif
terhadap Shigella menurut pola kuman setempat. Obat pilihan untuk pengobatan disentri
berdasarkan WHO 2005 adalah golongan Kuinolon seperti siprofloksasin dengan dosis
30-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 5 hari. Pemantauan dilakukan setelah 2
hari pengobatan, dilihat apakah ada perbaikan tanda-tanda seperti tidak adanya demam,
13

diare berkurang, darah dalam feses berkurang dan peningkatan nafsu makan. Jika tidak
ada perbaikan maka amati adanya penyulit, hentikan pemberian antibiotic sebelumnya
dan berikan antibiotic yang sensitive terhadap shigella berdasarkan area. Jika kedua jenis
antibiotika tersebut di atas tidak memberikan perbaikan maka amati kembali adanya
penyulit atau penyebab selain disentri. Pada pasien rawat jalan dianjurkan pemberian
sefalosporin generasi ketiga seperti sefiksim 5 mg/kgBB/hari per oral.
Penderita dipesankan untuk kontrol kembali jika tidak membaik atau bertambah berat
dan muncul tanda-tanda komplikasi yang mencakup panas tinggi, kejang, penurunan
kesadaran, tidak mau makan dan menjadi lemah.
Temuan trofozoit atau kista amuba atau giardia mendukung diagnosis amebiasis atau
giardiasis. Untuk kasus amebiasis diberikan Metronidazol 7,5 mg/kgBB 3 kali sehari
sedangkan untuk kasus giardiasis diberikan metronidazol 5 mg/kgBB sehari selama 5
hari.
Menilai ulang perjalanan penyakit, misalnya disentri yang muncul setelah pemakaian
antibiotik yang cukup lama mengarahkan adanya kemungkinan infeksi Clostridium
dificille. Hubungan pola diare dengan pola pemberian makanan mengarahkan kita untuk
berpikir adanya kemungkinan intoleransi laktosa atau alergi protein susu sapi. Disentri
pada bayi muda tanpa gejala umum yang nyata dapat mengarah pada infeksi
Campylobacter jejuni. Pada bayi kurang dari 2 bulan perlu dipikirkan penyebab bedah
seperti invaginasi dan enterokolitis.
5) Edukasi orang tua
Nasihat pada ibu atau pengasuh untuk kembali jika ada demam, tinja berdarah,
muntah berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare makin sering atau belum
membaik dalam 3 hari.
Indikasi rawat inap pada penderita diare akut berdarah adalah malnutrisi, usia kurang
dari 1 tahun, menderita campak pada 6 bulan terakhir, adanya dehidrasi dan disentri yang
datang sudah dengan komplikasi.
Penatalaksanaan diare dengan menilai derajat dehidrasi dan sesuaikan dengan rencana
pengobatan yang akan dilakukan.

14

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Projek


Laporan ini merupakan laporan deskriptif kuantitatif dengan mengambil data
sekunder dari rekam medis Puskesmas Langsa Timur Kota Langsa mulai dari September
hingga Desember 2015.
3.2 Tempat dan Waktu Projek

15

Projek ini dilaksanakan sejak Bulan September hingga Desember 2015 di


Puskesmas Langsa Timur Kota Langsa Provinsi Aceh.
3.3 Populasi dan Sampel Projek
3.3.1 Populasi
Populasi projek ini adalah seluruh masyarakat yang tinggal di Kecamatan Langsa
Timur.
3.3.2 Sampel
Sampel yang akan digunakan dalam projek ini adalah insidentil yaitu masyarakat
yang berkunjung ke Puskesmas Langsa Timur dan didiagnosis diare oleh dokter.
3.3.3 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi yang digunakan pada projek ini adalah:
a. Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan
b. Menderita diare
c. Melakukan kunjungan ke Puskesmas Langsa Timur
3.3.4 Kriteria Ekslusi
Kriteria ekslusi yang digunakan pada projek ini adalah:
a. Bukan penderita diare
b. Tidak melakukan kunjungan ke Puskesmas Langsa Timur
3.4 Alur Projek
Alur kerja dari projek ini digambarkan seperti Gambar 3.1 di bawah ini.
SAMPEL PROJEK

DATA PASIEN DIARE DARI


MEI HINGGA AGUSTUS
2014

16

PENGOLAHAN DATA

PELAPORAN HASIL
Gambar 3.1 Alur penelitian

3.5 Metode Pengumpulan data


Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan langsung (melihat, dan
mencatat jumlah), terhadap data-data pasien yang menderita diare yang ada di Puskesmas
Langsa Timur September-Desember tahun 2015.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Profil Komunitas Umum


Puskesmas Langsa Timur merupakan puskesmas yang berdomilisi di kecamatan
Langsa Timur Kota Langsa dengan jumlah penduduk 14.512 jiwa, dengan jumlah penduduk
laki-laki 7.451 jiwa dan perempuan 7.061 jiwa. Jumlah penduduk ini tersebar dalam 16 desa.
Tabel 4.1 Karakteristik kunjungan pasien berdasarkan umur dari bulan Januari hingga bulan
Agustus 2011
No
Umur (tahun)
Jumlah
Persentase (%)
1 01
388
2.97
17

2
3
4
5
6
7
8
9
10

14
59
10 14
15 19
20 44
45 54
55 59
60 69
70
Total

1653
1337
739
604
3480
1547
1200
1358
730
13036

12.68
10.25
5.66
4.63
26.69
11.86
9.20
10.42
5.60
100

30.00%
25.00%
20.00%
15.00%
10.00%
5.00%
0.00%
0 - 1 1 4 5 9 10 1415 1920 4445 5455 5960 69 70

Gambar 4.1 Grafik karakteristik kunjungan pasien berdasarkan umur dari Januari hingga
Agustus 2011

Tabel 4.2 Karakteristik kunjungan pasien menurut 10 penyakit terbanyak dari bulan Januari
Agustus 2011
No Penyakit
Jumlah
Persentase
1

ISPA

2453

18.82%

Reumatik

1280

9.82 %

Gastritis

1242

9.53 %

Hipertensi

1069

8.20 %

Common Cold

989

7.59 %

Dermatitis

711

5.45 %
18

Diare

544

4.17 %

Hipotensi

483

3.71 %

Diabetes Mellitus

478

3.67 %

10

Asma Bronkial

262

2.01 %

11

Penyakit Lain

3525

27.04 %

Total

13036

100 %

4.2 Data Geografis


Puskesmas Langsa Timur merupakan salah satu Puskesmas dengan rawat inap
dijajaran Dinas Kesehatan kota Langsa. Adapun luas wilayah kerja Puskesmas Langsa Timur
adalah 89 km2, yang terdiri dari 16 desa, yaitu :
1. Alur Pinang
2. Alur Merbau
3. Bukit Meutuah
4. Bukit Medang Ara
5. Bukit Pulo
6. Bukit Rata
7. Cinta Raja
8. Matang Cengai
9. Matang Stui
10. Matang Panyang
11. Senebok Antara
12. Sungai Leung
13. Sukarejo
14. Simpang Wie
15. Alur Pinang Timur
16. Kappa
4.3 Data Demografi
Puskesmas Langsa Timur terletak di Kecamatan Langsa Timur Kota Langsa. Wilayah
kerja puskesmas meliputi 16 Desa yang tersebar dalam kecamatan Langsa Timur.
Adapun batas-batas wilayahnya adalah:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sukarejo.
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Alur Pinang Barat.
c. Sebelah timur berbatasan dengan Alur Pinang Barat.
19

d. Sebelah barat berbatasan dengan Alur Pinang Barat.


Puskesmas Langsa Timur memiliki luas wilayah 89 km 2 danluas bangunan 768 m2
serta telah mengalami renovasi sebanyak satu kali pada tahun 2010.
Sarana yang dimiliki oleh Puskesmas adalah:
a. Bangunan Puskesmas 1 (satu) unit, meliputi ruang kepala puskesmas, ruang
administrasi, ruang program, ruang perawatan dan ruang penunjang
b. Puskesmas Pembantu (Pustu) 2 unit
c. Polindes 13 unit
d. Rumah dinas paramedis 3 unit

4.4 Sumber Daya Kesehatan yang Ada


4.4.1 Tenaga Kesehatan
Puskesmas Langsa Timur memiliki tenaga kesehatan sebanyak 159 orang, yang terdiri
dari:
Tabel 4.3 Jenis Pegawai Kesehatan Puskesmas Langsa Timur Tahun 2011
No.

Jenis Pegawai

Jumlah

1.

PNS

73 orang

2.

PTT

15 orang

Honor

8 orang

Bakti

6 orang

Total

159 orang

4.4.2 Fasilitas Penunjang


Puskesmas Langsa Timur memiliki fasilitas penunjang dalam mendukung tugas-tugas
operasional dan agar jangkauan pelayanan puskesmas lebih luas dan merata hingga dapat
mencakup ke seluruh wilayah kerjanya. Adapun fasilitas penunjang tersebut adalah sebagai
berikut:

20

1. Satu unit Pustu (Puskesmas pembantu), yaitu:


a. Pustu Alur Merbau
b. Pustu Alur Pinang
2. Dua unit Pusling (Puskesmas keliling) dengan kendaraan roda empat (Ambulance) yang
kegiatannya:
a. Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui Posyandu.
b. Melakukan penyuluhan kesehatan.
c. Melakukan rujukan medik bagi kasus gawat darurat
d. Melakukan penyelidikan terhadap KLB (Kejadian Luar Biasa).
e. Melakukan konsultasi dan koordinasi ke Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh.
3. Enam belas unit kendaraan roda dua, enam unit berada di Puskesmas dan dua unit berada
di Pustu yang kegiatannya untuk:
a. Sarana operasional program surveillance.
b. Sarana transportasi administrasi Puskesmas .
c. Sarana transportasi petugas dari Pustu ke Puskesmas atau sebaliknya.
d. Sarana operasional pendataan peserta Jamkesmas/Askes/JKA.
e. Sarana operasional dalam memonitor status gizi bayi dan balita yang ada di wilayah
kerja Puskesmas Langsa Timur.
4.5 Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada
Adapun 18 kegiatan pokok yang dijalankan oleh Puskesmas Langsa Timur adalah
sebagai berikut:
1. Upaya Kesehatan wajib puskesmas, meliputi :
a. Promosi Kesehatan masyarakat
b. Kesehatan Lingkungan
c. KIA dan KB
d. Usaha peningkatan gizi
e. Pemberantasan penyakit menular
f. Upaya pengobatan
2. Upaya kesehatan pengembangan puskesmas :
a. Upaya kesehatan sekolah
b. Perawatan kesehatan masyarakat
c. Upaya kesehatan kerja
d. Upaya kesehatan gigi dan mulut
e. Kesehatan jiwa
21

f. Kesehatan mata
g. Kesehatan dan usia lanjut
h. Pembinaan pengobatan tradisional
i. Peran serta masyarakat
3. Upaya pelayanan penunjang
a. Laboratorium sederhana
b. Pencegahan infeksi
c. SP2TP
4.6 Hasil Penelitian
Pengumpulan data telah dilakukan selama 4 bulan, yaitu dari tanggal 01 September
sampai dengan 31 Desember 2015 di Puskesmas Langsa Timur. Populasi/ sampel pada
penelitian ini adalah seluruh pasien yang didiagnosis dokter sebagai penderita diare dan
tercatat sebagai pasien di Puskesmas Langsa Timur.
Pada saat penelitian dilakukan, diperoleh 76 pasien sebagai sampel. Pengumpulan
data dilakukan dengan cara rekam medis pasien diobservasi, kemudian dilakukan pencatatan
umur, jenis kelamin, dan derajat keparahan penyakit. Pencatatan data diikuti dengan
penghitungan jumlah pasien setiap harinya. Setelah data selesai dikumpulkan, kemudian
dilanjutkan rekapitulasi dan distribusi data dasar, dan sebagai tahap akhir dilakukan analisis
data. Pengolahan dan analisis data meliputi distribusi frekuensi untuk umur, jenis kelamin,
dan derajat keparahan penyakit pasien.
4.6.1. Distribusi Proporsi Penderita Diare Berdasarkan Umur
Proporsi penderita diare berdasarkan umur di Puskesmas Langsa Timur SeptemberDesember 2015 dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Rentang
Umur (tahun)
< 1 tahun
1-4 tahun
>5 tahun
Total

September
3
12
28
43

BULAN
Oktober
November
1
4
4
4
4
4
9
12

Desember
2
2
8
12

Jumlah
10
22
44
76

Gambar 4.1 menunjukkan distribusi proporsi penderita diare berdasarkan umur

22

30
25
20
15

September

Oktober

November

Desember

10
5
0
< 1 thn

1-4 thn

> 5 thn

Berdasarkan Tabel 4.1. dapat dilihat bahwa proporsi umur penderita diare tertinggi
pada kelompok umur >5 tahun yaitu 44 kasus atau setara dengan 57,8%. Insidensi tertinggi
kasus diare terjadi pada Bulan September dengan jumlah kasus 28 kasus atau setara dengan
36,8 % jika dibanding dengan kasus diare pada bulan lain. Hal ini sesuai dengan data dari
Departemen Kesehatan RI tahun 2001 dalam Suharyono (2003 yang menyebutkan bahwa
insidensi diare di Indonesia pada tahun 2000 adalah 301 per 1000 penduduk untuk semua
golongan umur dan 1,5 episode setiap tahunnya untuk golongan umur balita. Cause Specific
Death Rate (CSDR) menyebutkan diare golongan umur balita adalah sekitar 4 per 1000
balita.
4.6.2. Distribusi Proporsi Penderita Diare Berdasarkan Jenis Kelamin
Proporsi penderita diare berdasarkan jenis kelamin di Puskesmas Langsa Timur MeiAgustus 2014 dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Bulan
September
Oktober
November
Desember
Total

Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
f
%
f
%
24
32,4
17
22,9
4
5,4
5
6,7
7
9,4
5
6,7
6
8,1
6
8,1
41
55.3
33
44.4

Jumlah
f
41
9
12
12
74

%
55,4
12,1
16,2
16,2
100

23

Grafik jumlah penderita diare di Puskesmas Langsa Timur periode SeptemberDesember 2015 berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Gambar 4.2
24

25

17
20
15
10

5
7

5
6

0
September

Perempuan
Oktober

November

Laki-laki

Laki-laki
Desember

Perempuan

Berdasarkan Tabel 4.4 dan Gambar 4.2 dapat diketahui bahwa proporsi penderita
diare berdasarkan jenis kelamin paling banyak terjadi pada laki-laki terutama pada Bulan
September 2015 yaitu 24 kasus (32,4%) namun perbedaannya tidak begitu jauh berbeda
dengan insidensi pada perempuan yaitu 17 kasus (22,9%) pada bulan yang sama. Hal ini
sesuai dengan Suharyono (2003) yang menyebutkan bahwa kejadian diare pada laki-laki
hampir sama dengan perempuan. Insidensi penyakit ini merupakan kombinasi dari sumber air
yang tercemar, kekurangan protein dan kalori yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh.

24

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari pelaksanaan mini projek dapat disimpulkan bahwa :
1. Jumlah kunjungan pasien dengan diagnosis diare pada periode September-Desember
2015 berjumlah 76 orang.
2. Karakteristik pasien diare berdasarkan umur paling banyak terjadi pada kelompok
umur > 5 tahun yaitu 44 kasus atau setara dengan 57,8%.
3. Karakteristik pasien diare berdasarkan jenis kelamin paling banyak terjadi pada lakilaki dibanding perempuan yaitu 24 kasus (32,4%) meskipun antara laki-laki dan
perempuan insidensi tidak begitu mencolok.
5.2 Saran
1. Diharapkan kepada pihak Puskesmas Langsa Timur agar meningkatkan penyuluhan
kepada masyarakat yang berkunjung ke Puskesmas Langsa Timur khususnya
mengenai diare.
2. Sebaiknya pihak rumah sakit meningkatkan pelayanan kesehatan bagi penderita diare
khususnya untuk mencegah diare agar tidak bermanifestasi menjadi diare dehidrasi
berat dan mencegah agar tidak menyebabkan kematian.
3. Diharapkan agar peneliti yang akan datang dapat meneliti lebih lanjut mengenai
faktor-faktor (lingkungan tempat tinggal, pola makan, dan pemahaman) yang berperan
pada penyakit diare dan dapat mencari hubungan antara faktor tersebut dengan
outcome penderita diare.

DAFTAR PUSTAKA

Aswita, Halimun, Suharyono. 2003. Gastroenterologi Anak Praktis. Cetakan keempat.


Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
25

Dadiyanto, Dwi Wastro, Heru Muryawan, Anindita S. 2011. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Anak. Badan Penerbit Universitas Dipenogoro. Semarang.
Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. 2010. Data Penderita Diare Banda Aceh. Dinkes
Pemerintah Kota Banda Aceh. Banda Aceh.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2005. Apa yang Perlu Diketahui dari Diare Pada
Anak?. No. 38. Tahun XXV. IDAI. Jakarta
Juffrie, M dan Mulyani, Nenny Sri. 2009. Modul Pelatihan: Diare. UKK Gastro-Hepatologi.
Jakarta.
Kemalahayati, Ika. 2013. Tingkat Pemahaman Ibu tentang Penanganan Awal Diare di
Puskesmas Langsa Timur. Aceh: Langsa.
Lukacik M, et al. 2007. A Meta Analysis of the Effect of Oral Zinc in Treatment af acute
and Persistent Diarrhea. http://www.pediatrics.org/cgi/content/full/121/2/326.
Pitono, Soeparto, dkk. 1999. Gangguan Absorpsi-Sekresi : Sindroma Diare. Graha
Masyarakat Ilmiah Kedokteran (GRAMIK) Fakultas Kedokteran Airlangga RSUD dr.
Soetomo. Surabaya.
Rolfe AD et al. 1999. Pathogenesis of Shigella Diarrhea, Journal Exp. Med, Vol. 160
Desember 1999, The Rockefeller University Press, 1767-1781.
Suharyono, dkk. 2003. Gastrologi Anak Praktis Cetakan Keempat. Balai Penerbit FK UI
Gaya Baru. Jakarta.
Sunoto. 1999. Buku Ajar Diare: Pendidikan Medik Pemberantasan Diare. Departemen
Kesehatan RI Ditjen PPM & PLP. Jakarta.
Tim Pendidikan Medik Pemberantasan Diare (PMPD). 1999. Buku Ajar Diare: Pegangan
bagi Mahasiswa. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Direktorat Jenderal
Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Jakarta.
Triatmodjo, Pudjarwoto. 2003. Pola Kuman Penyebab Diare Akut pada Neonatus dan
Anak. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Jakarta.
Yusuf, Sulaiman. 2011. Profil Diare di Ruang Rawat Inap Anak. Sari Pediatri, Vol. 13, No.
4, Desember 2011.

26