Vous êtes sur la page 1sur 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Divertikulum Meckel merupakan malformasi kongenital dari traktus gastrointestinal yang
paling sering ditemukan, yaitu sekitar 2%-4% dari populasi. Divertikulum Meckel merupakan suatu
keadaan malformasi dari traktus gastrointestinal dengan adanya persistensi dari duktus vitellointestinal./ omphalomesenterik yang gagal mengalami penutupan dan absorpsi.
Nama dari kelainan ini diambil dari nama seorang anatomist Jerman yaitu Johann Friedrich
Meckel (1781-1833). JF Meckel sendiri bukanlah orang pertama yang menemukan kelainan ini,
melainkan oleh Fabricus Hildanus pada tahun 1598 dan Lavater pada tahun 1671. Namun pada tahun
1809 JF Meckel merupakan yang pertama kali mempublikasikan deskripsi detail dari anatomi dan
sumber embriologik dari kelainan ini.
Divertikulum Meckel merupakan yang sering ditemukan dari spektrum anomali pada duktus
omphalomesenterik, yang dapat disertai dengan adanya fistula umbilikoileal, sinus umbilikal, kista
umbilikal, dan korda fibrosis yang menghubungakan ileum ke umbilikus. Insiden dari Divertikulum
Meckel asimptomatis seimbang baik pada laki-laki maupun perempuan, tetapi gejala dari komplikasi
lebih sering ditemukan pada pasien laki-laki.
Kelainan kongenital ini umumnya ditemukan secara insidental pada saat dilakukan laparatomi
ataupun laparoskopi, namun kelainan ini sendiri dapat memberikan ancaman jiwa bagi pasien yang
menderitanya. Angka onset dan frekuensi dari komplikasi Divertikulum Meckel menurun sejalan
dengan umur. Rentangan resiko komplikasinya sebanyak 4-25%. Komplikasi yang dapat ditimbulkan
adalah adanya ulkus, pendarahan, obstruksi usus kecil, divertikulitis, dan perforasi. Dari beberapa
komplikasi tersebut, pendarahan merupakan komplikasi yang tersering terjadi yaitu sebanyak 20-30%.
Walaupun resiko komplikasi dari penyakit ini menurun seiring dengan bertambahnya usia,
komplikasi yang ditimbulkan sangatlah serius dan dapat mengancam nyawa. Jadi pemahaman akan
kelainan kongenital ini, baik definisi, anatomi, prevalensi, gambaran klinis, penatalaksanaannya, dan
komplikasinya sangatlah penting untuk diketahui.

1.2 Rumusan Masalah


1

Bagaimana embriologi saluran pencernaan?

Bagaimana klasifikasi kelainan duktus omphalomesenterik?

Apa saja definisi divertikulum meckel?

Apa saja etiologi divertikulum meckel?

Bagaimana epidemiologi divertikulum meckel?

Bagaimana patofisiologi divertikulum meckel ?

Bagaimana menegakkan diagnosis divertikulum meckel ?

Bagaimana penatalaksanaan divertikulum meckel ?

Apa saja komplikasi divertikulum meckel ?


1

10 Bagaimana prognosis divertikulum meckel?


1.3 Tujuan
Mengetahui embriologi, definisi, etiologi, klasifikasi, gambaran klinis, patofisiologi,
diagnosis, penatalaksanaan, prognosis, dan komplikasi dari divertikulum meckel.
1.4 Manfaat
1

Manfaat Teoritis
Laporan kasus ini dapat dijadikan sebagai sumber bacaan dan pelengkap referensi
mengenai divertikulum meckel.
Manfaat Praktis
a Meningkatkan kemampuan dalam penulisan ilmiah dibidang kedokteran.
b Memenuhi salah satu persyaratan mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian
Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Jakarta.

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Embriologi Omphhalomesenterik
Duktus omphalomesenterik atau vitelline merupakan duktus yang menghubungkan

menghubungkan yolk sac dengan midgut yang sedang berkembang. Pada minggu keenam
perkembangan embrio, midgut memanjang dan herniasi menuju korda umbilikus. Di dalam
korda umbilikus, midgut kemudian berotasi 90o berlawanan arah jarum jam di sekitar axis
dari arteri mesenterik superior. Pada waktu yang bersamaan midgut juga memanjang untuk
membentuk jejunum dan ileum dan lumen dari duktus omphalomesenterik akan menutup.
Pada minggu ke-5 sampai ke-8 perkembangan embrio, midgut kembali menuju kavum
abdomen dan duktus omphalomesenterik akan menjadi pita fibrosis, yang mana akan
mengalami disintegrasi dan absorpsi.

2.2

Definisi
3

Divertikulum

Meckel

merupakan

suatu

keadaan

malformasi

dari

traktus

gastrointestinal dengan adanya persistensi dari duktus vitello-intestinal/ omphalomesenterik


yang gagal mengalami penutupan dan absorpsi.
Ductus omphalomesenterica (ductus vitelinus) di dalam embrio menghubungkan yolk
sac dengan midgut primitif.
2.3

Etiologi

Divertikulum Meckel adalah kelainan congenital (bawaan) yang paling umum dari
usus kecil, hal itu disebabkan oleh penyerapan tidak lengkap duktus vitelline (yaitu, saluran
omphalomesenteric).
2.4

Klasifikasi Kelainan Duktus Omphalomesenterik


Jika duktus omphalomesenterik mengalami kegagalan atrofi total dan disintegrasi,

maka duktus ini akan terus tumbuh. Karena kegagalan ini akan menyebabkan berbagai
kelainan kongenital, yaitu:
1

Fistula umbilikoileal; dikarenakan patensi komplit dari duktus omphalomesenterik


dengan lumen yang masih utuh terbuka sepanjang duktus. Secara klinis akan ditemukan
feses yang keluar dari umbilikus. Intususepsi juga bisa ditemukan pada keadaan ini,
dengan temuan klinis berupa prolapse ileum pada umbilikus.

Sinus duktus omphalomesenterik; dikarenakan oleh kegagalan dari penutupan bagian


distal-end (umbilikus), yang mana ukurannya dapat bervariasi. Ileum masih terhubung
oleh pita fibrosis. Secara klinis pada bayi akan ditemukan duh mukus yang keluar dari
umbilikus.

Kista duktus omphalomesenterik; dikarenakan oleh bagian tengah dari duktus masih
paten sedangkan sekitarnya sudah mengalami obliterasi. Di dalam kista akan ditemukan
akumulasi mukus, sebab di dalamnya terdapat lapisan mukosa intestinal.

Pita fibrosis dari ileum ke umbilikus; dikarenakan oleh duktus omphalomesenterik yang
atrofi tidak secara sempurna mengalami obliterasi dan absorpsi. Secara klinis dapat
menyebabkan obstruksi intestinal dan volvulus.3

Divertikulum Meckel (98%); dikarenakan oleh obliterasi fibrous dari umbilikal-end dan
patensi komplit ileal-end dari duktus omphalomesenterik. Divertikulum Meckel terletak
pada sisi antimesenterik dari ileum dan bisa ditemukan pita fibrous, jika bagian
fibrosisnya tidak terobliterasi secara penuh. Divertikulum ini umumnya ditemukan 40100 cm dari klep ileocecal dengan panjang dapat mencapai 5 cm dan diameter 2 cm.
Suplai darah dan venanya berasal dari pembuluh darah omphalomesenterik yang masih
4

utuh (arterinya berasal dari cabang ileal dari arteri mesenteric superior) dan terletak di
dalam lipatan terpisah dari mesenterik usus halus atau sepanjang permukaan
divertikulum.

2.5

Epidemiologi

Divertikulum Meckel timbul dalam sekitar 2% populasi (insiden 0,8-4% dalam sei
autopsi yang besar). Anomali ini dapat mengenai baik pada lelaki maupun perempuan,
walaupun laki-laki lebih sering terkena komplikasinya. Komplikasi dari Divertikulum Meckel
dapat terjadi di usia kapanpun, walaupun yang tersering terjadi pada saat bayi dan anak kecil.
Biasanya anomali ini terletak sekitar 90-100 cm dari valva ileosekalis dan panjangnya
dari 1-5 cm. Mukosa heteropik bisa ada di dalam Divertikulum Meckel dan lebih sering dari
jenis lambung; jarang menyerupai mukosa duodenum atau jejunum; kadang-kadang ada
jaringan pankreas heteropik. Mukosa lambung dari jenis pilorus dan fundus serta timbul
dalam 13% pada seri autopsi dan dalam 67% kasus yang dioperasi. Kehadiran mukosa
lambung ektopik dengan kecenderungannya menyebabkan ulserasi peptikum bertanggung
jawab bagi sejumlah gejala terlazim yang berhubungan dengan Divertikulum Meckel
menetap.
Penatalaksanaan Divertikulum Meckel yang ditemukak kebetulan telah diteliti dengan
cermat, karena hasil penelitian akhir-akhir ini memperlihatkan bahwa angka komplikasi jauh
lebih rendah dari 25%. Soltero melaporkan angka komplikasi 4,2% dalam masa bayi, 3%
dalam masa dewasa serta hampir 0,0% dalam usia lanjut. Data ini berasal dari penelitian
menyeluruh populasi besar yang dilayani oleh satu kelompok rumah sakit.
Angka mortalitas saat ini kurang dari 0,3% dengan divertikulum tak berkomplikasi
dan sekitar 6% pada penyakit berkomplikasi. 50% komplikasi timbul dengan mencapai usia 2
tahun serta kesempatan gangguan nantinya menurun dengan bertambahnya usia, maka

mungkin hanya divertikulum yang ditemukan kebetulan dalam 2 dasarwasa pertama


kehidupan harus dieksisi.

2.6

Patofisiologi

Penyakit divertikula adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan divertikulitis dan
divertikulosis. Divertikulosis merujuk pada adanya sakus mukosa luar usus non-inflamasi.
Divertikulisis adalah sakus luar buntu atau herniasi mukosa usus diseluruh pembungkus otot
usus besar, biasanya kolon sigmoid. Penyakit diverticular umum terjadi pada pria dan wanita
serta pada usia lebih dari 45 tahun dan pada orang gemuk. Kasus ini terjadi pada kira-kira
sepertiga populasi lebih dari 60 tahun. Diet rendah serat dihubungkan dengan terjadinya
divertikula, karena diet ini menurunkan bulk dalam feses dan mempredisposisikan pada
konstipasi. Pada adanya kelemahan otot di usus dapat meningkatkan tekanan intramular yang
dapat menimbulkan pembentukan divertikular. Penyebab divertikulosis meliputi atrofi atau
kelemahan otot usus, peningkatan tekanan intramural, kegemukan dan konstipasi kronis.
Divertikulosis terjadi bila makanan yang tidak dicerna menyumbat divertikulum, yang
menimbulkan penurunan suplai darah ke area dan mencetuskan usus pada invasi bakteri ke
dalam divertikulum. Divertikula mempunyai lumen usus sempit seperti leher botol. Titik
lemah di otot usus pada cabang-cabang pembuluh darah yang menembus dinding kolonik.
Titik lemah ini menciptakan area prostusi usus bila ada peningkatan tekanan intraluminal.
Diventrikula sering terjadi oada kolon sigmoid karena tekanan tinggi pada area ini diperlukan
untuk mengeluarkan feses ke rectum. Diventrikulis mungkin akut dan kronis. Bila
diventrikulum tidak infeksi (diventrikulosis), lesi ini menyebabkan sedikit masalah namun
bila fekalit tidak encer dan mengalir dari diventrikulum, fekalit dapat terperangkap dan
menyebabkan iritasi dan inflamasi (diventrikulosis). Area terinflamasi terbendung oleh darah
dan dapat berdarah. Diventrikulus dapat menimbulkan perforasi bila masa terperangkap
didalam diventrikulum mengikis dinding usus. Diventrikulitis kronis dapat mengakibatkatkan
peningkatan jaringan parut dan akhirnya penyempitan lumen usus, potensial menimbulkan
obstruksi.
Diverticulum Meckel adalah pembentukan sakus usus, penyelidikan terhadap
perkembangan embrionik ditemukan pada ileum 10 cm dari sekum. Sakus ini dilapisi oleh
mukosa lambung atau dapat mengandung jaringan pankreas. Lapisan mukosa lambung
kadang-kadang menimbulkan ulserasi dan berdarah atau perforasi. Selain itu divertikulum
dapat terinflamasi dan melekat pada umbilikus oleh pita fibrosa dan menjadi fokus terjadinya
pemilinan usus yang menyebabkan obstruksi. Tindakan terhadap keadaan ini meliputi
pembedahan terhadap divertikulum.

2.7

Diagnosis

Gejala dan Tanda

Sebagian besar bersifat asimtomatik.


6

Menimbulkan gejala jika sudah terjadi komplikasi

Pemeriksaan Penunjang

Dasar diagnosis teknik radiografi (foto polos abdomen)

Pada pasien yg kurang gawat darurat pemeriksaan barium

Foto Polos Abdomen

Foto polos dapat menunjukkan gambaran ileus obstruktif. Jika divertikulum distensi,
terlihat adanya udara di fossa iliaka kanan atau di tengah abdomen dapat menjadi
kunci diagnosis.

Jika perforasi terjadi, maka foto polos abdomen dapat menunjukkan adanya
pneumoperitoneum.

Meskipun barium meal biasanya tidak terlalu membantu dalam menggambarkan


divertikulum Meckel pada beberapa pasien, tetapi anomali ini dapat dideteksi jika
teknik ini dilakukan dengan hati-hati. Barium enema dapat menunjukkan divertikula
Meckel jika refluks yang cukup mencapai ileum terminal.

Scan Tektenium-99m perteknetat (99mTc)

Merupakan pemeriksaan yang dipilih untuk mendiagnosis suatu divertikula Meckel.

Dilakukan dengan cara memberikan infus intravena teknetium-99m perteknetat yang


akan terdeteksi melalui kamera.

Sel-sel pensekresi mukus dari mukosa lambung ektopik akan mengambil perteknetat
sehingga memungkinkan visualisasi divertikulum Meckel.

Sensitivitas scan akan lebih meninggi dengan pemberian H2-reseptor antagonis,


seperti cimetidin, glukagon dan gastrin. Sensitivitas scan yang diperbesar ini adalah
sekitar 85% dengan spesivisitas sekitar 95%.

Angiografi

Dapat membantu mendeteksi bagian yang mengalami perdarahan selama perdarahan


aktif berlangsung. Pengenalan terhadap vaskularisasi embrionik divertikulum Meckel
dapat membantu mengidentifikasi selama proses angiografi berlangsung.

CT-Scan

CT mungkin bukan modalitas utama diagnosis divertikulum Meckel yang baik.

Divertikulum Meckel yang inflamasi tampak sebagai lesi kantung pemisah, berisi
udara, cairan atau kontras oral dan berhubungan dengan bagian distal usus halus.
Inflitrasi lemak mengelilingi lesi.
7

Diagnosis divertikulum Meckel dapat dicurigai bila gambaran ini terlihat.

CT juga dapat mengidentifikasi komplikasi lain seperti intususepsi, Littres hernia dan
tumor dan dapat memperlihatkan beberapa kondisi yang hampir sama seperti
appendisitis, divertikulitis usus besar dan penyakit Crohn

2.8

Penatalaksaan

Ketika diverticulitis terjadi, antibiotik-antibiotik biasanya diperlukan. Antibiotikantibiotik oral cukup diberikan ketika gejalanya ringan. Beberapa contoh dari antibiotik yang
biasa diberikan adalah ciprofloksasin, metronidazole, cephalexin, doxycycline dan lain-lain.
Cairan atau makanan-makanan berserat disarankan untuk diberikan selama seranganserangan akut dari diverticulitis. Ini dilakukan untuk mengurangi jumlah material yang
melalui usus besar, yang akhirnya secara teori, mungkin memperburuk diverticulitis. Pada
diverticulitis yang berat dengan demam tinggi dan nyeri, pasien-pasien diopname dan
diberikan antibiotik-antibiotik secara intravena. Operasi diperlukan untuk mereka dengan
halangan usus besar yang gigih atau bisul-bisul (abses) yang tidak merespon pada antibiotik.
- Bedah
Diverticulitis yang tidak merespon pada perawatan medis memerlukan intervensi
secara operasi. Operasi biasanya melibatkan pengaliran dari segala kumpulan-kumpulan dari
nanah dan resection (pengangkatan secara operasi) dari segmen dari usus besar yang
mengandung diverticuli, biasanya sigmoid colon. Oleh karenanya, pengangkatan secara
operasi dari diverticula yang berdarah adalah perlu untuk mereka dengan perdarahan yang
gigih. Pada pasien-pasien yang memerlukan operasi untuk menghindari perdarahan yang
gigih, lokalisasi yang tepat menjadi penting sekali untuk memandu ahli bedah.

Adakalanya operasi mungkin disarankan untuk pasien-pasien dengan kekambuhan


serangan-serangan yang seringkali dari diverticulitis yang menjurus pada berkali-kali
perawatan dengan antibiotik-antibiotik, opname-opname di ruah sakut, dan hari-hari kerja
yang hilang. Sewaktu operasi, tujuannya adalah mengangkat semua atau hampir dari usus
besar yang mengandung diverticula dalam rangka mencegah episode-episode dari
diverticulitis dimasa depan. Ada sedikit konsekuensi-konsekuensi jangka panjang dari
resection (pengangkatan secara operasi) dari sigmoid colon untuk diverticulitis, dan operasi
sering dapat dilakukan secara laparoskopi, yang membatasi nyeri setelah operasi dan waktu
untuk sembuh.
Dua teknik dasar untuk pembuangan Divertikulum Meckel adalah eksisi sederhana
dengan penutupan transversa ileotomi hasilnya dan reseksi segmen ileum yang mengandung
divertikulum dengan ileoieostomi (ujung ke ujung).
Divertikulektomi merupakan tindakan terpiih dalam sebagian besar kasus.
Divertikulum dikomplikasi oleh perdarahan atau peradangan yang melibatkan ileum
berdekatan atau yang mengandung massa yang dapat dipalpasi (yang menggambarkan
jaringan ektopik atau neoplasma), paling baik ditangani dengan seksi segmental ileum dan
anastomosis primer.
Dalam kasus intusupsepsi, usaha reposisi cermat layak dilakukan dan jika berhasil
akan memungkinkan divertikulektomi sederhana. Reseksi diperlukan bila posisi intususepsi
tak mungkin dilakukan. Bila tumor ganas muncul di dalam divertikulum, maka baji
mesenterium ileum harus dicakup dalam inkseksi untuk memastikan pembuangan kelenjar
limfe yang adekuat.

2.9

Prognosis
Ketika komplikasi timbul tindakan pembedahan sangat dibutuhkan, dengan estimasi

mortalitas dan morbiditas operatif adalah 12%. Resiko kumulatif jangka panjang dari
komplikasi postoperatif adalah 7%. Jika Divertikulum Meckel diangkat pada saat temuan
isidental, resiko mortalitas dan morbiditas komplikasi jangka panjang adalah 1-2%. Kejadian
malignant pada Divertikulum Meckel sebanyak 5%
2.10

Komplikasi

Komplikasi yang bisa terjadi pada diverticulitis adalah perdarahan masif yang berasal
dari tukak peptik di mukosanya. Umumnya, penderita tidak sadar akan bahaya tukak ini
karena tidak bergejala dan tidak menyebabkan nyeri. Gambaran klinisnya bergantung pada
hebatnya pendarahan. Perdarahan mungkin sedemikian hebatnya sehingga penderita tiba-tiba
mengalami syok dan anemia sebelum letak dan sumber perdarahan dapat ditemukan. Kadang
ditemukan melena yang sukar ditentukan asalnya sehingga dibutuhan pemeriksaan khusus
seperti arteriografi atau pemindaian divertikulum Meckel yang memperlihatkan ambilan Te99
9

oleh jaringan mukosa lambung ektopik. Penanganan perdarahan ini tidak sukar, hanya dengan
divertikulektomi.
Obstruksi usus dapat berasal dari diverticulum Meckel karen dua sebab, yaitu
invaginasi dan hernia interna akibat kelok usus mengait di belakang divertikulum dan pitanya
ke umbilikus. Sering didapatkan jaringan pankreas aberans dan atau mukosa lambung di
dalam diverticulum Meckel.
Pada Diverticulum Meckel mungkin masih ada sisa duktus omfalomesentericus
sebagai pita dari ujung dari diverticulum ke umbilikus. Pita ini dapat menyebabkan volvulus
usus halus dan ileus obstruksi yang memerlukan tindakan bedah darurat. Ileus obstruksi juga
dapat disebabkan invaginasi diventrikulum ke lumen ileum. Diventrikulum yang seharusnya
menonjol keluar malah terbalik masuk dan menonjol ke lumen usus sehingga menjadikan
invaginasi atau intususeptum.
Pada tahapan perkembangan usus, dapat terjadi gangguan rotasi dan fiksasi usus pada
peritoneum dinding belakang. Malrotasi dapat menimbulkan gangguan pasase dan
vaskularisasi. Gambaran klinisnya berupa gangguan pasase usus halus, bila timbul tanda
obstruksi, muntah hijau, dan perut kembung segera setelah lahir, dapat dipikirkan gangguan
pasase usus halus. Gambaran klinis obstruksi usus yang hilang timbul mungkin dimulai pada
masa bayi dan berlangsung sampai umur dewasa. Foto polos perut akan memperlihatkan dua
gelembung yang mencolok jika malrotasi menyebabkan obstruksi tepat terjadi di bagian
ketiga duodenum. Bila malrotasi terjadi di usus tengah, gambarannya biasanya berupa satudua bayangan gelembung kecil. Foto kontras per os kadang diperlukan untuk menentukan
tempat sumbatan. Foto kontras per enema dapat menolong untuk menemukan obstruksi
setinggi sekum bila terjadi malrotasi usus halus.
Bila jelas ada obstruksi usus yang lengkap, parsial maupun berulang, baru dilakukan
tindakan bedah yang berupa laparotomi untuk mengembalikan usus agar tidak berputar dan
arteri mesentarika superior agar tidak terjepit. Sebaiknya, jangan berusaha mengembalikan
anatomi usus ke anatomi normal.

10

BAB III
BERKAS KELUARGA
3.1 Identitas Keluarga
1

Nama kepala keluarga

: Bapak A

Alamat rumah

: Sambiroto 3/5 Wonorejo Pringapus Kab Semarang

Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal dalam Satu Rumah :


No
1.
2.
3.
4.

Nama
A
N
Sdr. R
Sdr. H

Kedudukan

L/P

Umur

Pendidikan

Bapak
Ibu
Anak ke-1
Anak ke-2

L
P
L
L

50 th
46 th
15 th
13 th

SD
SMA
SMA
SMP

Pekerjaan
Pedagang
Pedagang
Pelajar
Pelajar

Family map :
Bapak

Ibu

Anak ke-1

5
6
7

Bentuk keluarga :Keluarga inti


Siklus kehidupan keluarga : Keluarga anak usia sekolah
Deskripsi identitas keluarga :
Keluarga ini adalah keluarga inti yang terdiri dari 4 orang dalam satu rumah, yang
terdiri atas bapak selaku kepala keluarga, ibu dan anaknya. Rata-rata pendidikan di
keluarga kurang, yaitu pendidikan terakhir bapak lulusan SD dan ibu sampai tamat
SMA, sedangkan anaknya bekerja dan masih pelajar.

3.2 Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga


1

Fungsi Biologis
Pasien adalah seorang laki-laki berusia 15 tahun mengalami penyakit divertikulum
meckel dengan keluhan tidak bisa BAB sejak 3 minggu yang lalu.
11

2
3
4
5

Fungsi Psikologi
Pasien tinggal bersama keluarganya. Pasien sangat dekat dengan keluarganya
Fungsi Ekonomi
Pasien adalah seorang pelajar
Fungsi Pendidikan
Pasien masih sekolah di sekolah menengah pertama
Fungsi Religius
Pasien dan keluarganya adalah seorang muslim yang taat beragama, selalu
menjalankan ibadah sholat lima waktu
Fungsi Sosial Budaya
Pasien aktif terjun ke masyarakat, seperti bersilaturahmi dengan penduduk sekitar,
tidak sombong dalam bersikap, budaya disiplin, dan bekerja keras. Kedudukan
keluarga di tengah lingkungan sosial adalah warga biasa, namun keluarga pasien
cukup dikenal bersosialisasi dengan kalangan di rumahnya.

3.3. Pola Konsumsi Pasien


Frekuensi makan pasien ratarata setiap harinya 3x/hari dengan variasi makanan
sebagai berikut: nasi, lauk (tempe, tahu, telur, ayam), sayur (bayam, kangkung, kacang
panjang, sayur labu, dan sayuran lainnya). Sedangkan untuk makanan selingan pasien berupa
biscuit.
3.4 Identifikasi Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan
1

Faktor Perilaku
Perilaku pasien terhadap kesehatan adalah apabila pasien sakit, pasien akan langsung
berobat ke dokter, dan untuk dana kesehatan pasien dengan pembiayaan sendiri.

Faktor Non-Perilaku
Sarana pelayanan kesehatan di sekitar rumah cukup dekat yaitu RSUD Ambarawa.
Jarak rumah ke RSUD Ambarawa kurang lebih 5 km. Jika ingin berobat pasien
terbiasa untuk naik motor pribadi dari rumahnya.Pasien memiliki BPJS.

3.5 Keadaan Rumah


1
2
3
4
5

Jenis lantai : Tanah


Jenis atap : Asbes
Jenis dinding : Tembok dilapisi cat
Perbandingan luas jendela/lantai di ruang tidur < 20%
Perbandingan luas jendela/lantai di ruang keluarga < 20%

3.6 Identifikasi Lingkungan Rumah


12

Pasien tinggal di perumahan kavling bersama keluarganya. Kawasan perumahan pasien


merupakan kawasan layak huni. Rumah berada di dalam gang yang cukup besar yaitu kurang
lebih 3 meter dan terbuat dari tanah dengan kebersihan lingkungan pemukiman yang kurang
baik karena banyak debu. Rumah tidak bertingkat, terdiri dari 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1
dapur, 1 kamar mandi, dan 1 warung. Lantai rumah pasien berupa semen yang diplester dan
keramik. Dinding rumah pasien berupa tembok dilapisi cat dan atap rumah pasien ditutupi
oleh asbes dengan langit-langit.
Sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah dengan jumlah cukup. Rumah mempunyai
ventilasi dan setiap kamar mempunyai jendela. Kebersihan dan kerapian rumah kurang. Di
dalam kamar mandi terdapat sebuah jamban jongkok dan sebuah kran air serta bak mandi. Air
minum, air untuk mencuci dan masak didapat dari air pam. Saluran air dialirkan ke got depan
rumah yang mengalir dan tidak mengambang. Keluarga pasien memiliki sebuah TV 14 inch,
kompor gas, setrika dan radio.

BAB IV
LAPORAN HASIL KUNJUNGAN

13

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Sdr. R

Umur

: 15 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Sambiroto

Pekerjaan

: Siswa SMP

Tanggal Masuk

: 20 Desember 2014

II. ANAMNESIS (Autoanamnesis)


A. Keluhan Utama
B. Keluhan Tambahan

Pasien tidak dapat BAB sejak 3 minggu yang lalu.

: Pasien tidak bisa flatus 3 minggu, muntah tiap kali makan dan

minum.
C. Riwayat Penyakit Sekarang :
8 hari yang lalu pasien dirawat di RSUD Ungaran dengan ileus obstruktif parsial susp
ascites, tidak dapat dioperasi karena anestesi tidak ada, dibawa pulang ke rumah,
kemudian ke RSUD Ambarawa.
D. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat keluhan yang sama disangkal

Riwayat penyakit maag disangkal


- Riwayat penyakit tumor disangkal

Riwayat penyakit kuning disangkal

Riwayat penyakit hernia disangkal

Riwayat gangguan buang air kecil disangkal

Riwayat gangguan buang air besar disangkal

Riwayat operasi disangkal

Riwayat mondok di rumah sakit disangkal


E. Riwayat Pemyakit Keluarga

- Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama disangkal


14

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum

: Sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Vital Sign

: Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 72 x/menit

Suhu (Aksila)

: 36 C

Pernafasan

: 22 x/menit

A. Status Generalis
- Kulit

: Warna sawo matang, tidak ikterik, tidak sianosis, turgor cukup,


tidak tampak bekas operasi.

- Kepala

: Simetris, normal, rambut hitam, distribusi merata, tidak mudah


dicabut, tidak tampak jejas trauma dan kelainan kongenital, tidak
tampak bekas operasi

- Muka

: Simetris, tidak tampak ada jejas trauma, tidak tampak ada kelainan
kongenital

- Mata

: Pupil bulat isokor dengan diameter 3mm/3mm Konjungtiva anemis


tidak ada, sklera ikterik tidak ada, terdapat reflek cahaya pada
kedua mata.

- Hidung

: Discharge tidak ada, nafas cuping hidung tidak ada, deviasi septum
tidak ada, deformitas tidak ada

- Mulut/Gigi

: Bibir sianosis tidak ada, lidah kotor tidak ada, carries tidak ada,
faring tidak hiperemis, tonsil T0-T0

- Telinga

: Simetris, discharge tidak ada, tidak ada kelainan kongenital

Pemeriksaan Leher

15

- Inspeksi

: Deviasi trakea tidak ada

- Palpasi

: Kelenjar tiroid dan kelenjar limfe tidak ada pembesaran

Pemeriksaan Thorax
- Jantung
Inspeksi

: Simetris, ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis teraba tak kuat angkat

Perkusi

: Batas atas kiri

: ICS II LPS sinistra

Batas atas kanan

: ICS II LPS dextra

Batas bawah kiri

: ICS V LMC sinistra

Batas bawah kanan : ICS IV LPS dextra


Auskultasi

: S1 > S2 reguler, murmur tidak ada, gallop tidak ada

- Paru
Inspeksi

: Dinding dada simetris pada saat statis dan dinamis, retraksi


tidak ada, ketinggalan gerak dada tidak ada

Palpasi

: Simetris, vokal fremitus kanan sama dengan kiri, ketinggalan


gerak tidak ada, massa tidak ada

Perkusi

: Sonor kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara dasar: vesikuler kanan dan kiri


Suara tambahan tidak didapatkan

- Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi

: Perut membuncit, venektasi tidak ada, sikatrik tidak ada,


tidak tampak massa, tidak tampak bekas jejas trauma,
gambaran gerak usus +

Auskultasi

: Terdengar suara bising usus meningkat


16

Palpasi

: tidak erdapat nyeri tekan, hepar dan lien tidak teraba, tidak
teraba massa, ballotemen tidak ada, buli-buli tidak teraba.

Perkusi

: hipertimpani di seluruh kuadran abdomen, nyeri ketok sudut


costovertebra tidak ada.

- Pemeriksaan RT
Tonus Sfingter Ani cukup, ampula rekti tidak kolaps, mukosa licin, nodul tidak ada,
massa tidak ada, nyeri tekan pada jam 10-11. Setelah pemeriksaan, terdapat feses
kuning di sarung tangan, dan tidak terdapat lendir dan darah.
- Pemeriksaan Ekstremitas
I

: Trophy : eutrophy

Pa

: KM : 5 5

Gerak involunter ( - )

Tonus

N N

5 5
Pe

IV

N N

: Reflek Fisiologis

Reflek Patologis

RESUME
A. Anamnesis
-

Pasien laki-laki usia 15 tahun

Tidak bisa BAB dan flatus sejak 3 minggu yll

Muntah tiap kali makan dan minum

B. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Vital Sign

: Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 76 x/menit

Suhu

: 36 C

Pernafasan

: 22 x/menit
17

C. Status Lokalis
Regio abdomen :
Inspeksi

distensi +

Auskultasi :

Terdengar peningkatan peristaltik usus

Perkusi

hipertimpani +

Palpasi :

Supel, nyeri tekan -

DIAGNOSA KERJA
Ileus obstruktif

VI

DIAGNOSIS BANDING
Megakolon

VII PEMERIKSAAN PENUNJANG


1 Pemeriksaan Laboratorium
Darah Lengkap : Hb, Leukosit, Hematokrit, Eritrosit, Trombosit, MCV, MCH,
MCHC, RDW, MPV, Hitung Jenis Leukosit, PT, APTT, GDS,
Pemeriksaan Fungsi Hepar : SGOT dan SGPT
2. Pemeriksaan USG Abdomen
VIII PENATALAKSANAAN
Operatif
Laparatomi eksplorasi dan reseksi ileal
IX

PROGNOSIS
Dubia et bonam

BAB V
PEMBAHASAN

18

Pasien pada kasus ini pasien didiagnosis ileus obstruktif ec divertikulum meckel.
Pasien didiagnosis ileus obstruktif karena berdasar anamnesis pasien mengeluh tidak bisa
BAB, flatus sejak 3 minggu dan muntah tiap kali makan dan minum. 8 hari yang lalu pasien
dirawat di RSUD Ungaran dengan ileus obstruktif parsial susp ascites, tidak dapat dioperasi
karena anestesi tidak ada, dibawa pulang ke rumah, kemudian ke RSUD Ambarawa.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan menunjukkan tanda-tanda

adanya sumbatan.

Penanganan utama dari ileus obstruktif adalah dengan dilakukan operasi laparotomi
eksplorasi dan reseksi ileal. Operasi dilakukan cito di Instalasi Bedah Central.
Pada hari pertama pasien dirawat post dilakukan laparatomi eksplorasi dan reseksi
ileal, pasien dipuasakan dan diberikan infus kaen 3b + aminoleban 1 kolf, cefazolin 2x1,
ketorlac 2x1, ranitidin 3x1 dan dilakukan pemeriksaan albumin. Pasien mengalami nyeri pada
bekas operasi. Pasien pada hari ke-VII diperbolehkan pulang dan dapat kontrol rawat jalan.
Medikamentosa yang diberikan untuk pasien ini adalah operasi dan obat-obatan lain
simtomatis. Obat yang diberikan untuk pasien ini adalah infus KaEN, cefazolin, ranitidin,
ketorolac. Antibiotik yang digunakan adalah cefazolin karena merupakan antibiotik spektrum
luas. Pasien mendapatkan terapi ranitidin karena pasien sedang mengalami stress, sehingga
terjadi peningkatan asam lambung. Ranitidin adalah suatu histamin antagonis reseptor H2
yang menghambat kerja histamin secara kompetitif pada reseptor H2 dan mengurangi sekresi
asam lambung. Ketorolac berfungsi sebagai analgetik, terutama untuk pasien post operasi.
Pada pasien ini, ketorolac digunakan setelah operasi selesai.
Hasil dari penanganan pasien ini selama tujuh hari sangat memuaskan. Outcome yang
bagus timbul karena penanganan yang tepat cepat dan dukungan dari pasien dan keluarga
pasien yang banyak berperan dalam kesembuhan pasien. Pasien disarankan untuk kontrol
rawat jalan di Poli Bedah, tiga hari setelah diperbolehkan pulang dari ruang rawat inap.

DAFTAR PUSTAKA

19

Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, et al. Shwartzs Principles of Surgery. 9th Ed. USA:
McGrawHill Companies. 2010.
Syamsuhidayat. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC: Jakarta
Kahn E, Daum F. Anatomy, histology, embryology, and developmental anomalies of the small
and large intestine. In: Feldman M, Friedman LS, Brandt LJ, eds. Sleisenger &
Fordtran's Gastrointestinal and Liver Disease. 9th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier;
2010:chap 96

20