Vous êtes sur la page 1sur 62

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi umum yang tampak
pada pelayanan kesehatan primer dan kondisi tersebut mengakibatkan penyakit
myocardial infraction, stroke, renal failure, dan kematian, jika tidak dideteksi
dan diterapi dengan cepat.1 Penyakit hipertensi merupakan penyakit kronik yang
banyak diderita terutama pada usia pre lansia dan lansia. Berdasarkan hasil
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 yang dilakukan di Indonesia
menunjukkan bahwa proporsi penyebab kematian tertinggi adalah penyakit
tidak menular yaitu, penyakit kardiovaskuler (31,9%) termasuk hipertensi
(6,8%) dan stroke (15,4%).2 Prevalensi hipertensi di Indonesia yang berdasarkan
pengukuran dan riwayat penyakit adalah 32,2%. Sementara itu, berdasarkan
data sepuluh besar penyakit di Puskesmas Curug periode tahun 2015, penyakit
hipertensi berada pada posisi tiga teratas kategori Penyakit Tidak Menular, di
samping karena prevalensinya yang tinggi, penyakit hipertensi ini juga dapat
menyebabkan

komplikasi

yang

membahayakan.

Komplikasi

tersebut

sebenarnya dapat dihindari dengan cara mengontrol tekanan darah dan dengan
patuh pada pengobatan hipertensi. Petunjuk untuk mengendalikan kondisi
hipertensi sangat penting. Joint National Committee atau JNC 8 menyusun
sebuah panduan penatalaksanaan hipertensi untuk orang dewasa. 1 Guideline
yang diajukan oleh JNC 8 merupakan sebuah guideline yang melengkapi JNC 7
yang telah dikeluarkan sebelumnya. Diharapkan dengan guideline ini dapat
memberikan pedoman penatalaksanaan hipertensi dalam menangani masalah
tekanan darah tinggi pada orang dewasa.1
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2012 Hipertensi
memberikan kontribusi untuk hampir 9,4 juta kematian akibat penyakit
kardiovaskulersetiaptahun.Halinijugameningkatkanrisikopenyakitjantung
koronersebesar12%danmeningkatkanrisikostrokesebesar24%. 4 Menurut
hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2013 prevalensi
hipertensi di Indonesia yang didapat melalui pengukuran pada umur 18 tahun
sebesar 25,8%, tetapi yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan atau riwayat
minum obat hanya sebesar 9,5%. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar

kasus hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis dan terjangkau pelayanan


kesehatan. Hipertensi juga merupakan penyebab kematian ke-3 di Indonesia
pada semua umur dengan proporsi kematian 6,8%.2
Kepatuhan pengobatan pasien hipertensi merupakan hal penting karena
hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi harus selalu
dikontrol atau dikendalikan agar tidak terjadi komplikasi yang dapat berujung
pada kematian. Masalah ketidak patuhan umum dijumpai dalam pengobatan
penyakit kronis yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti
hipertensi.4 Obat-obat antihipertensi yang ada saat ini telah terbukti dapat
mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi, dan juga sangat berperan
dalam menurunkan risiko berkembangnya komplikasi kardiovaskular.4 Namun
demikian, penggunaan antihipertensi saja terbukti tidak cukup untuk
menghasilkan efek pengontrolan tekanan darah jangka panjang apabila tidak
didukung dengan kepatuhan dalam menggunakan antihipertensi tersebut.4
Berkaitan dengan hal-hal tersebut, maka perlu dilakukan kajian data mengenai
tingkat kepatuhan minum obat anti hipertensi pada penderita hipertensi yang
mendapatkan pengobatan langsung di pusat-pusat kesehatan salah satunya, di
cakupan wilayah Puskesmas Curug.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Rumusan Masalah Umum
1. Apa saja faktor faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum
obat penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Curug ?
1.2.2. Rumusan Masalah Khusus
1. Untuk mengetahui hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan
penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan di Puskesmas
Curug.
2. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan terakhir
dengan kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan
di Puskesmas Curug.
3. Untuk mengetahui hubungan antara status pekerjaan dengan
kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan di

Puskesmas Curug.
4. Untuk mengetahui hubungan antara keikutsertaan asuransi kesehatan
dengan kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan
di Puskesmas Curug
5. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang
hipertensi dengan kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani
pengobatan di Puskesmas Curug.
6. Untuk mengetahui hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan
kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan di
Puskesmas Curug.

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor faktor
apa yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat penderita hipertensi
di wilayah kerja Puskesmas Curug
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untukmengetahuihubunganantarajeniskelamindengankepatuhan
penderitahipertensidalammenjalanipengobatandiPuskesmasCurug
2. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan terakhir
dengankepatuhanpenderitahipertensidalammenjalanipengobatan
diPuskesmasCurug
3. Untuk mengetahui hubungan antara status pekerjaan dengan
kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan di
PuskesmasCurug
4. Untukmengetahuihubunganantarakeikutsertaanasuransikesehatan
dengankepatuhanpenderitahipertensidalammenjalanipengobatan
diPuskesmasCurug
5. Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang
hipertensi dengan kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani
pengobatandiPuskesmasCurug.

6. Untukmengetahuihubunganantaraperantenagakesehatandengan
kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan di
PuskesmasCurug.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat bagi Peneliti
Bagi mahasiswa, sebagai sarana pembelajaran dalam menerapkan
metodologi penelitian ilmiah dalam lingkup puskesmas. Penelitian ini
juga dapat melatih kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi,
menganalisa, dan menetapkan prioritas permasalahan, mencari alternatif
penyelesaian dari suatu masalah dan memutuskan penyelesaiannya.
1.4.2. Manfaat bagi Puskesmas
Memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi angka
kejadian hipertensi di wilayah kerja puskesmas, dan faktor-faktor risiko
yang berpengaruh, sehingga dapat membantu meningkatkan efektivitas
pelaksanaan

program

puskesmas

dan

memberikan

alternatif

penyelesaian masalah hipertensi pasien di Puskesmas Curug


1.4.3. Manfaat bagi Universitas
Sebagai referensi untuk pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan
khususnya mengenai penyebab ketidakpatuhan minum obat pada pasien
dengan penyakit hipertensi.
1.4.4. Manfaat bagi Masyarakat
Menjadi bahan informasi bagi masyarakat dalam meningkatkan kesadaran
bahwa hipertensi memiliki peranan yang penting bagi kesehatan.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
1.5.1.
Ruang Lingkup Tempat
Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Curug Kota
Tangerang
1.5.2.

Ruang Lingkup Waktu


Penelitian ini dilakukan pada tahun 2016.

1.5.3.

Ruang Lingkup Materi


Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup Ilmu Kesehatan
Masyarakat dengan spesifikasi kajian pada bidang epidemiologipenyakit
tidak menular (PTM) yaitu membahas factor - faktor yang berhubungan
dengan kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan.

BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1. Hipertensi
2.1.1. Definisi

Hipertensi atau biasa disebut tekanan darah tinggi merupakan suatu


keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara kronis.
Hal ini dapat terjadi karena jantung bekerja lebih keras memompa darah
untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh. Jika dibiarkan
penyakit ini dapat mengganggu fungsi organ organ lain, terutama organ
organ vital seperti jantung dan ginjal. Menurut Joint National
Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High
Blood Pressure/ JNC VIII 2014 Seseorang dinyatakan hipertensi apabila
memiliki tekanan darah sistolik 140 mmHg dan diastolik 90 mmHg. 1
2.1.2. Klasifikasi
JNC 8 mengklasifikasikan hipertensi untuk usia 18 tahun,
klasifikasi hipertensi tersebut dapat kita lihat pada table berikut.1
Tabel 2.1 klasifikasi hipertensi JNC 8
Klasifikasi

Tekanan

Tekanan

Normal
> 60 tahun
< 60 tahun
18 tahun

Sistolik
< 120
> 150
> 140
140

Diastolik
< 80
> 90
> 90
90

(dengan

CKD

dan DM)
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dapat dibagi menjadi 2, yaitu
hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer atau
hipertensi

esensial

merupakan

hipertensi

yang

tidak

diketahui

penyebabnya atau biasa disebut juga hipertensi idiopatik. 1 Banyak factor


yang mempengaruhi seperti genetik, lingkungan, hiperaktivasi susunan
saraf simpatis, system renin angiotensin, efek dalam ekskresi Na,
peningkatan Na dan Cl intraseluler dan factor factor yang meningkatkan
resiko seperti obesitas, merokok, alcohol, dan polisitemia.
Sedangkan, hipertensi sekunder merupakan hipertensi

yang

penyebabnya diketahui hal ini terjadi pada 10% pasien dengan hipertensi.
Hipertensi renal parenkim menjadi penyebab tersering pada penderita
hipertensi sekunder yaitu 80%. Selain itu hipertensi sekunder juga dapat
di sebabkan oleh renovaskular, endokrin, vascular, herediter, druginduced dan hipertensi yang dikaitkan dengan penyakit susunan saraf
pusat. 1

2.1.3. Patofisiologi
Tekanan darah arteri adalah tekanan yang diukur pada dinding arteri
dalam millimetermerkuri (mmHg). Dua tekanan darah arteri yang
biasanya diukur adalah tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolic..
TDS diperoleh selama kontraksi jantung dan TDD diperoleh setelah
kontraki sewaktu bilik jantung diisi.3
Tekanan arteri sistemik adalah hasil dari perkalian curah jantung
dengan total tahanan perifer. Curah jantung diperoleh dari perkalian antara
stroke volume dengan denyut jantung Pengaturan tahanan perifer
dipertahankan oleh system saraf otonom dan sirkulasi hormone. Empat
sistem kontrol yang berperan dalam mempertahankan tekanan darah
antara lain sistem baro reseptor arteri, pengaturan volume cairan tubuh,
sistem renin angiotensin dan autoregulasi vaskuler.3
Baroreseptor arteri terutama ditemukan di sinus carotid, tapi juga
dalam aorta dan dinding ventrikel kiri. Baroreseptor ini memonitor derajat
tekanan arteri. Sistem baroreseptor meniadakan peningkatan tekanan arteri
melalui mekanisme perlambatan jantung oleh respon vagal (stimulasi
parasimpatis) dan vasodilatasi dengan penurunan tonus otot simpatis.
Oleh karena itu, refleks kontrol sirkulasi meningkatkan arteri sistemik bila
tekanan baroreseptor turun dan menurunkan tekanan arteri sistemik bila
tekanan baroreseptor meningkat. Alasan pasti mengapa kontrol ini gagal
pada hipertensi belum diketahui. Hal ini ditujukan untuk menaikkan
resetting sensitivitas baroreseptor sehingga tekanan meningkat secara
tidak adekuat, sekalipun penurunan tekanan tidak ada.4
Perubahan volume cairan memengaruhi tekanan arteri sistemik. Bila
tubuh mengalami kelebihan garam dan air, tekanan darah meningkat
melalui mekanisme fisiologi kompleks yang mengubah aliran balik vena
ke jantung dan mengakibatkan peningkatan curah jantung. Bila gunjal
berfungsi secara adekuat, peningkatan tekanan arteri mengakibatkan
diuresis dan penurunan tekanan darah. kondisi patologis yang mengubah
ambang tekanan pada ginjal dalam mengekskresikan garam dan air akan
meningkatkan tekanan arteri sistemik.4
Renin dan angiotensin memegang peranan dalam pengaturan tekanan
darah. Ginjal memproduksi renin yaitu suatu enzim yang bertindak

sebagai substrat protein plasma untuk memisahkan angiotensin I, yang


kemudian diubah oleh converting enzym dalam paru menjadi bentuk
angiotensin II kemudian menjadi angiotensin III. Angiotensin II dan III
mempunyai aksi vasokonstriktor yang kuat pada pembuluh darah dan
merupakan makanisme kontrol terhadap pelepasan aldosteron. Aldosteron
sangat bermakna dalam hipertensi terutama pada aldosteronisme primer.3
Melalui peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, angiotensin II dan III
juga mempunyai efek inhibiting atau penghambatan ekskresi garam
(Natrium) dengan akibat peningkatan tekanan darah. Sekresi renin tidak
tepat diduga sebagai penyebab meningkatnya tahanan periver vaskular
pada hipertensi esensial. Pada tekanan darah tinggi, kadar renin harus
tinggi diturunkan karena peningkatan tekanan arteriolar renal mungkin
menghambat sekresi renin. Namun demikian, sebagian orang dengan
hipertensi esensial mempunyai kadar renin normal.4
Peningkatan tekanan darah terusmenerus pada klien hipertensi
esensial akan mengakibatkan kerusakan pembuluh darah pada organ
organ vital. Hipertensi esensial mengakibatkan hyperplasia medial
(penebalan) arteriolearteriole. Karena pembuluh darah menebal, maka
perfusijaringanmenurundanmengakibatkankerusakanorgantubuh.Hal
inimenyebabkaninfarkmiokard,stroke,gagaljantung,dangagalginjal.
Auteregulasivaskularmerupakanmekanismelainlainyangterlibatdalam
hipertensi.4
Auteregulasi vascular adalah suatu proses yang mempertahankan
perfusijaringandalamtubuhrelatifkonstan.Jikaaliranberubah,proses
proses autoregulasi akan menurunkan tahanan vascular

dan

mengakibatkan pengurangan aliran, sebaliknya akan meningkatkan


tahanan vaskular sebagai akibat dari peningkatan aliran. Auteregulasi
vaskular nampak menjadi mekanisme penting dalam menimbulkan
hipertensiberkaitandenganoverloadgaramdanair.4

Gambar 2.1 Patofisiologi Hipertensi


2.1.4. Gejala dan Tanda Klinis
Individu yang menderita hipertensi terkadang tidak menunjukan
gejala sampai bertahun tahun. Oleh karena itu hipertensi dikenal sebagai
silent killer. Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain
tekanan darah tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina,
seperti pendarahan, eksudat, penyempitan pembuluh darah dan pada kasus
berat akan mengalami edema pupil.4
Sebagian besar menyebutkan bahwa gejala klinis hipertensi timbul
setelah mengalami hipertensi bertahun tahun.
-

nyeri kepala, terkadang disertai mual dan muntah akibat penekanan

tekanan darah intra kranial


penglihatan kabut akibat kerusakan retina
nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus
Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan darah
kapiler

Gejala lainnya yang umum terjadi pada penderita hipertensi yaitu


pusing, sakit kepala, keluar darah dari hidung secara tiba tiba dan
tengkuk terasa pegal.
2.1.5. Diagnosis
Hipertensi merupakan sebuah penyakit yang jarang menimbulkan
gejala. Anamnesis dilakukan untuk melihat kejadian kardiovaskular yang
sudah dapat terjadi untuk melihat kemungkinan terjadinya komplikasi
serta memberikan pilihan obat. 6
Diagnosis hipertensi dapat ditegakan melalui pengukuran tekanan
darah dengan sfigmanometer baik yang menggunakan air raksa maupun
elektronik. Pengukuran dengan sfigmanometer elektronik lebih disarankan
karena reprodusibel dan tidak dipengaruhi oleh variasi teknik dan factor
bias dari pemeriksa.6
Sebelum pemeriksaan pasien dipastikan sudah buang air kecil.
Posisi pasien duduk dan bersandar dengan kedua kaki tidak disilangkan
dan kaki berada di tanah selama 5 menit. Lengan yang digunakan untuk
diukur tekanannya, harus berada sejajar dengan jantung. Tekanan darah
diukur pada kedua lengan jika terdapat perbedaan diambil yang paling
besar. Pengukuran dilakukan dua kali yaitu saat duduk dan beridiri serta
dalam dua waktu saat pertama kali didiagnosis. 6
2.1.6. Tatalaksana
Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan menggunakan
dengan menggunakan obat-obatan ataupun dengan cara modifikasi gaya
hidup. Berdasarkan rekomendasi JNC 8 rekomendasi darah untuk
intervensi farmakologis pada hipertensi dengan populasi >18 tahun dan
populasi dengan penyakit ginjal kronis dan diabetes adalah <140/90
mmHg.15

2.1.6.1. Non farmakologis


Tatalaksana non farmakologis yang dapat dilakukan
adalah perubahan gaya hidup sehat (GHS), pasien penderita
hipertensi tanpa factor kardiovaskular lain maka strategi pola
hidup sehat merupakan tatalaksana tahap awal yang dijalani

setidaknya 4 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut


tidak didapatkan factor risiko kardiovaskular yang lain maka
sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi. 15 Usaha
yang dapat dilakukan antara lain adalah penurunan berat
badan, mengurangi asupan garam, olahraga, mengurangi
konsumsi alcohol, dan merokok. Penurunan berat badan juga
sangat membantu dalam mengurangi tekanan darah dengan
mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approach to Stop
Hypertension) yang kaya akan kalium dan kalsium, diet
rendah natrium dan aktifitas fisik. JNC 8 menyarankan pola
makan DASH yaitu diet yang kaya dengan sayur dan produk
susu rendah lemak dengan kadar total lemak dan lemak jenuh
berkurang. Natrium yang direkomendasikan < 2.4 g (100
mEq)/hari.15 Aktifitas fisik dapat menurunkan tekanan darah.
Olah raga aerobik secara teratur paling tidak 30 menit/hari
beberapa hari per minggu ideal untuk kebanyakan pasien.11
Studi menunjukkan kalau olah raga aerobik, seperti jogging,
berenang, jalan kaki, dan menggunakan sepeda, dapat
menurunkan tekanan darah. Keuntungan ini dapat terjadi
walaupun tanpa disertai penurunan berat badan. Pasien harus
konsultasi dengan dokter untuk mengetahui jenis olah-raga
mana yang terbaik terutama untuk pasien dengan kerusakan
organ target. Merokok merupakan faktor resiko utama
independen untuk penyakit kardiovaskular. Pasien hipertensi
yang merokok harus dikonseling berhubungan dengan resiko
lain yang dapat diakibatkan oleh merokok.11

Modifikasi
Penurunan berat badan

Rekomendasi
BB normal BMI 18.5 24.9

Rerata Penurunan TDS


5 20 mmHg/ 10 kg

Adopsi pola makan DASH

Diet kaya buah dan sayur dan

penurunan BB
8 14 mmHg

Diet rendah sodium

produk susu rendah lemak


Mengurangi sodium tidak

2 8 mmHg

lebih dari 2.4 g atau 6 g

sodium klorida atau 1 sdt


garam/hari
Aktivitas fisik aerobic seperti

Aktivitas fisik

jalan

kaki

minimal
Kurangi konsumsi alkohol

30
3

4 9 mmHg

menit/hari

kali

dalam

seminggu
Limit minum alcohol tidak

2 4 mmHg

lebih dari 2/hari (30 ml etanol


720 ml beer 300 ml wine)
untuk laki laki dan 1/hari
untuk wanita.
Tabel2.2ModifikasiGayaHidupuntukHipertensi16

2.1.6.2. Farmakologis
Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi
apabila

hipertensi

tanpa

komplikasi

tidak

mengalami

penurunan tekanan darah setelah menjalani pola hidup sehat


setelah 6 bulan. Pada populasi >= 18 tahun non black tanpa
komplikasi termasuk dengan DM inisiasi anti hipertensi dapat
diberikan obat diuretic tipe tiazid atau ACE (Angiotensin
Converting Enzyme) inhibitor atau ARB (Angiotensin
Receptor Blocker) atau CCB (Calcium Channel Blocker).
Populasi kulit hitam termasuk dengan DM dapat diberikan
thiazide type diuretic atau CCB, dan populasi usia >=18 tahun
dengan CKD dan dapat diberikan ACEI atau ARB tanpa
melihat

rasa

tau

status

DM.

pilihan

direkomendasikan dapat dilihat pada table .15

obat

yang

Tabel 2.3 Pilihan terapi antihipertensi15

Terdapat 3 strategi dalam pemberian obat antihipertensi,


strategi (i) adalaah yaitu memulai 1 obat dan naikan obat
sampai dosis maksimum sebelum menambahkan obat kedua
atau (ii) memulai obat pertama kemudian menambahkan obat
ke 2 sebelum dosis maksimum apabila belum mencapai target
BP maka dapat ditambahkan obat ke 3 yang kemudian dititrasi
sampai dosis maksimum atau (iii) memulai dengan 2 obat
antihipertensi secara terpisah atau fixed dose combination.
Apabila target BP tidak tercapai dalam 1 bulan maka evaluasi
kembali regimen pengobatan dan gaya hidup sehat atau pasien
membutuhkan >3 obat maka obat HTN dari kelas lain dapat
digunakan atau rujuk kepada spesialis hipertensi. 15

Gambar 2.2 Alogaritma Hipertensi JNC 8


2.2. Kepatuhan Minum obat
2.2.1.
Pengertian Kepatuhan Minum Obat
Menurut WHO kepatuhan adalah prilaku untuk menaati saran
saran dokter atau prosedur dari dokter tentang penggunaan obat,
mengikuti diet serta gaya hidup yang telah ditentukan, yang
sebelumnya didahului oleh proses konsultasi antara pasien dengan
dokter sebagai penyedia jasa medis.Kepatuhan terapi pada pasien
hipertensi merupakan hal penting untuk diperhatikan mengingat
hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan namun
dapat dikendalikan.. 13
Kepatuhan terhadap pengobatan pasien membutuhkan partisipasi
yang aktif dari pasien sehingga proses pengobatan medis yang telah
ditentukan berjalan sesuai dengan sistem manajemen perawatannya.
Tingkat kepatuhan obat jangka panjang di negara maju umumnya
sekitar 50% dan angka tersebut lebih rendah pada negara
berkembang.3,4 Disamping dari keefektivan pengobatan, beberapa studi
telah membuktikan kurang dari 25% pasien hipertensi yang telah
diobati mencapai tekanan darah optimal. Contohnya pada United
Kingdom dan United States hanya 7% dan 30% pasien memiliki

hipertensi yang terkontrol hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat


2.2.2.

kepatuhan sebagai penyebab utama2,4


Faktor faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obat
Menurut WHO terdapat 5 dimensi yang mempengaruhi prilaku
kepatuhan pengobatan yaitu faktor sosial ekonomi, hal yang berkaitan
dengan pasien, hal yang berkaitan dengan pengobatan, kondisi yang
bersangkutan dan sistem pelayanan kesehatan.6 Menurut teori
Lawrence Green terdapat 3 faktor yang mempengaruhi tingkat
kepatuhan seseorang dalam menjalani pengobatan yaitu ada faktor
predisposisi, faktor pendukung, dan faktor pendorong.
Faktor predisposisinya antara lain adalah jenis kelamin, tingkat
pendidikan terakhir, status pekerjaan, lama menderita hipertensi, dan
tingkat pengetahuan tentang hipertensi. Faktor pendukungnya antara
lain keterjangkauan akses ke pelayanan kesehatan, keikutsertaan
asuransi kesehatan, dan faktor pendorong adalah adanya dukungan dari
keluarga dan peran tenaga kesehatan. Namun karna keterbatasan yang
dimiliki oleh peneliti maka variabel penelitian yang akan diteliti adalah
jenis kelamin, tingkat pendidikan terakhir, status pekerjaan, tingkat
pengetahuan tentang hipertensi, keikutsertaan asuransi kesehatan dan
peran tenaga kesehatan.6
2.2.2.1.

Jenis Kelamin
Jenis kelamin juga diperkirakan berpengaruh dalam

tingkat kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Menurut


sebuah studi didapatkan pasien berjenis kelamin pria lebih
patuh dibandingkan wanita. Hal ini dikaitkan dengan pengaruh
dari budaya, personal control dan faktor resiko.7
2.2.2.2.
Tingkat Pendidikan Terakhir
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peseta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat bangsa dan Negara.9

Menurut UU Nomor 22 tahun 2003 tentang system


pendidikan Nasional terdapat 3 tingkatan dalam proses
1.
2.
3.

pendidikan yaitu :
Tingkat pendidikan dasar yaitu tidak sekolah, pendidikan dasar
(SD/SMP/Sederajat)
Tingkat pendidikan menengah yaitu SMA dan sederajat
Tingkat pendidikan tinggi yaitu perguruan tinggi atau akademi
Tingkat pendidikan akan mempengaruhi pola pikir dan
sudut pandang pasien mengenai pengobatan yang akan
diterimanya secara langsung maupun tidak langsung. Pendidikan
adalah

suatu

kegiatan

mengembangkan

atau

atau

proses

meningkatkan

pembelajaran
kemampuan

untuk
tertentu

sehingga sasaran pendidikan tersebut dapat berdiri sendiri.


Responden

yang

berpendidikan

lebih

tinggi

memiliki

pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan responden


yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Sebuah penelitian
juga menyatakan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat
pendidikan yang semakin tinggi terhadap pola hidup sehat sehari
hari.8
2.2.2.3.
Status Pekerjaan
Pekerjaan adalah aktivitas atau kegiatan yang dilakukan
oleh responden sehingga memperoleh penghasilan.10 Orang
yang bekerja cenderung memiliki sedikit waktu untuk
mengunjungi fasilitas kesehatan. Menurut sebuah penelitian
yang dilakukan oleh Su-Jin Cho pekerjaan memiliki hubungan
yang signifikan terhadap kepatuhan pasien hipertensi dalam
menjalani pengobatan. DImana pasien yang bekerja cenderung
tidak patuh dalam menjalani pengobatan dibandingkan mereka
yang bekerja.10
2.2.2.4.
Keikutsertaan Asuransi Kesehatan

Asuransikesehatanmerupakansalahsatujenisproduk

asuransiyangsecarakhususmenjaminbiayakesehatan
atau perawatan para nasabah asuransi tersebut apabila
merekamengalamigangguankesehatanataumengalami
kecelakaan.Secaragarisbesaradaduajenisperawatan

yang ditawarkan oleh perusahaanperusahaan asuransi,


yaiturawatjalandanrawatinap.11
Perkembangan asuransi kesehatan di Indonesia berjalan
sangat lambat dibandingkan dengan perkembangan asuransi
kesehatan di beberapa Negara tetangga di ASEAN. Penduduk
Indonesia pada umumnya merupakan risk taker untuk
kesehatan dan kematian. Sakit dan mati dalam kehidupan
masyarakat Indonesia yang religious merupakan takdir Tuhan
dan karenanya banyak anggapan yang tumbuh di kalangan
masyarakat Indonesia bahwa membeli asuransi berkaitan sama
dengan menentang takdir. Hal ini menyebabkan rendahnya
kesadaran penduduk untuk membeli atau memiliki asuransi
kesehatan. 11
Ketersediaan

atau

keikutsertaan

asuransi

kesehatan

berperan sebagai factor kepatuhan berobat pasien, dengan


adanya asuransi kesehatan didapatkan kemudahan dari segi
pembiayaan

sehingga lebih patuh dibandingkan dengan

responden yang tidak memiliki asuransi kesehatan.14


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Violita
didapatkan banyak pasien yang tidak patuh melakukan
pengobatan

adalah

mereka

yang

memiliki

asuransi

kesehatan.14
2.2.2.5.

Tingkat Pengetahuan Tentang Hipertensi


Pengetahuan adalah hasil penginderaan, atau hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya


( mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Pengetahuan
seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat
yang berbedabeda. Secara garis besarnya dibagi dalam 6
tingkatpengetahuanyaitutahu,memahami,aplikasi,analisis,
sintetis, evaluasi.10 Penelitian yang dilakukan Ekarini (2011)
menunjukan pengetahuan berhubungan dengan tingkat
kepatuhanpengobatanpenderitahipertensi(p=0,002).Semakin
baikpengetahuanseseorang,makakesadaranuntukberobatke

pelayanan kesehatan juga semakin baik.Pengetahuan tentang


tatacaramemeliharakesehatanmeliputi:10
a. Pengetahuan tentang penyakit menular dan tidak menular
(jenispenyakitdantandatandanya,carapenularanya,cara
pencegahanya,caramengatasiataumenanganisementara)
b. Pengetahuan tentang faktorfaktor yang terkait dan/atau
mempengaruhikesehatanantaralain:gizimakanan,sarana
air bersih, pembuangan air limbah, pembuangan kotoran
manusia, pembuangan sampah, perumahan sehat, polusi
udara,dansebagainya.
c. Pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatanyang
profesionalmaupuntradisional.
d. Pengetahuanuntukmenghindarikecelakaanbaikkecelakaan
rumahtangga,maupunkecelakaanlalulintas,dantempay
tempatumum.
Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Eka
Puspita menunjukan bahwa tingkat pengetahuan mengenai
hipertensiberpengaruhterhadaptingkatkepatuhanseseorang
dalam berobat, yaitu responden yang memiliki tingkat
pengetahuan rendah 72.9% tidak patuh dalam menjalani
pengobatan. Sedangkan responden yang memiliki
pengetahuantinggi72.2%cenderunguntuklebihpatuh.11
2.2.2.6.

Peran Tenaga Kesehatan


Dukungan dari tenaga kesehatan professional merupakan

factor yang dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan. Hubungan


antara tenaga kesehatan dengan pasien yang baik dapat
meningkatkan prilaku kepatuhan. Terdapat empat jenis dukungan
yaitu dukungan informasional yaitu memberikan informasi,
nasihat, ide, arahan, dan lainnya yang dibutuhkan. Dukungan
lainnya adalah dukungan emosional untuk rasa damai aman
berupa simpati dan empati. Dukungan instrumental seperti
memberikan peralatan lengkap obat obatan dab lain lain yang

dibutuhkan dan dukungan penilaian yaitu dalam pemberian


2.2.3.

penghargaan atau apresiasi.5


Pengukuran Tingkat Kepatuhan
Keberhasilan pengobatan pada pasien hipertensi dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu peran aktif pasien dan kesediaannya

untuk

memeriksakan ke dokter sesuai dengan jadwal yang ditentukan serta


kepatuhan dalam meminum obat antihipertensi. Kepatuhan pasien dalam
mengkonsumsi obat dapat diukur dengan menggunakan berbagai metode salah
satu metode yang dapat dilakukan adalah metode MMAS-8(Modified Morisky
Adherence Scale). Morisky secara khusus membuat skala untuk mengukur
kepatuhan dalam mengkonsumsi obat dengan delapan item yang berisi
pernyataan-pernyataan yang menunjukan frekuensi kelupaan dalam minum
obat, kesengajaan berhenti minum obat tanpa sepengetahuan dokter,
kemampuan untuk mengendalikan dirinya untuk tetap minum obat.10

BABIII
MetodePenelitian
3.1.

KerangkaTeori

FAKTOR PREDISPOSISI

Jenis kelamin
Tingkat pendidikan
Status pekerjaan
Lama menderita Hipertensi
Tingkat pengetahuan tentang
hipertensi

FAKTOR PENDUKUNG

Kepatuhan
Menjalani
Pengobatan
Hipertensi

6. Keikutsertaan
asuransi kesehatan
7. Keterjangkauan
Akses ke Pelayanan
Kesehatan

FAKTOR PENDORONG
8. Peran tenaga
kesehatan
9. Dukungan
Keluarga

3.2.

KerangkaKonsep

Variabel bebas

Jenis kelamin
Tingkat pendidikan terakhir
Status pekerjaan
Keikutsertaan asuransi
Tingkat pengetahuan tentang hipertensi
Peran tenaga kesehatan

Variabel terikat :
Kepatuhan dalam
menjalani pengobatan

3.3.

HipotesisPenelitian

1. Ada hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan penderita hipertensi


dalammenjalanipengobatandiPuskesmasCurug
2. Adahubunganantartingkatpendidikanterakhirdengankepatuhanpenderita
hipertensidalammenjalanipengobatandiPuskesmasCurug
3. Adahubunganantarastatuspekerjaandengankepatuhanpenderitahipertensi
dalammenjalanipengobatandiPuskesmasCurug
4. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang hipertensi dengan
kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan di Puskesmas
Curug
5. Ada hubungan antara keikustertaan pasien dalam asuransi kesehatan
kesehatandengankepatuhanpenderitahipertensidalammenjalanipengobatan
diPuskesmasCurug.
6. Adahubunganantaraperantenagakesehatandalammenjalanipengobatandi
PuskesmasCurug

3.4.

DefinisiOperasional
No
1

Variabel
JenisKelamin

Definisi
Status gender yang
didapatsecarabiologis
dari lahir dan secara
fsik melekat pada diri

Alatukur
Kuisioner

Kriteria
1.Lakilaki
2.Perempuan

SkalaData
Nominal

Tingkat

seseorang
Pendidikan formal

Pendidikan

terakhiryangditempuh

sekolah/Tidak

Terakhir

responden sebelum

tamatSD

dinyatakan menderita

2.TamatSD

hipertensi.

3.Tamat

Kuisioner

1.Tidak

Ordinal

SMP/MTs
4.Tamat
SMA/SMK
5.Tamat
Perguruan
3

Status

Aktivitas

yang

Pekerjaan

dilakukanpasienuntuk

Kuisioner

Tinggi
1. Tidak

memberikan nafkah
bagikeluarga

2.

bekerja
Petani/b

3.

uruh
Wiraswa

4.

sta
Pedagan

Nominal

g
5. PNS
6. Pegawai
4

Kuisioner

1.

swasta
Ya (jika

Keikutsertaan

Jenis asuransi yang

asuransi

membantu

menggunakan

kesehatan

ketersediaan dana jika

asuransi

responden terserang

kesehatan

penyakit.

seperti : BPJS,

Nominal

jamkesmas,
Askes,dll)
2.Tidak(Jika
tidak
menggunakan
asuransi
kesehatan
seperti
BPJS,jamkesma
s, dll)
5

Tingkat

Kemampuan

Pengetahuan

responden

Kuisioner

untuk

1.Rendahjika
skor5

Ordinal

tentang

menjawab

10

Hipertensi

pertanyaan kuesioner

2.Tinggi5

denganbenarseputar:
pengertian, tanda dan
gejala, penyebab dan
6

Peran Tenaga

tatalaksana
Keterliatan

Kesehatan

kesehatan

tenaga

Kuisioner

1.Peran

(dokter,

rendah jika

perawat, apoteker)

menjawab

untuk

iya<3

memotivasi

penderita hipertensi

2.Peran tinggi

selama melaksanakan

jika

pengobatan.

menjawab

Kepatuhan

Ketaatan responden

pengobatan

dalam

sesuai

Kuisioner 1.

melakukan

pengobatan hipertensi

ketentuan

dengan

MMAS8

iya3
kepatuhan

Ordinal

rendah (jika
2.

skor<6)
kepatuhan
sedang (jika

yang

diberikanolehdokter.
Diukurdenganmetode

Ordinal

3.

skor67)
kepatuhan
tinggi (jika
skor=8)

3.5.

Jenis dan Rancangan Penelitian


Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan
penelitian cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survey
wawancara menggunakan kuisioner untuk mengetahui faktor faktor apa
saja yang mempengaruhi tingkat kepatuhan terhadap konsumsi obat
antihipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Curug.

3.6. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan selama 2 minggu pada tanggal 20 Juni 2016
sampai 1 Juli 2016 Adapun lokasi penelitian bertempat di wilayah kerja
Puskesmas Curug, Tangerang.
3.7. Sumber Pengambilan Data
3.7.1. Data Primer

Data yang diambil dari responden atau sampel penelitian. Data


primer yang diperoleh dari hasil wawancara secara langsung untuk
memperoleh data tentang jenis kelamin, tingkat pendidikan terakhir,
status pekerjaan, keikutsertaan asuransi kesehatan, tingkat pengetahuan
tentang hipertensi, peran tenaga kesehatan.
3.8. Kriteria Sampel
a. Kriteria Inklusi
Bersedia menjadi responden penelitian
Pasien hipertensi berusia 45 - 64 tahun
Tidak memiliki komplikasi penyakit hipertensi (penyakit jantung
coroner, stroke, gagal jantung dan penyakit ginjal)
Pasien sudah didiagnosis hipertensi sebelumnya
Pasien sudah pernah diberikan obat antihipertensi
Pasien tercatat dibuku register rawat jalan poliklinik Puskesmas Curug
b. Kriteria Eksklusi
Pasien menolak menjadi responden
Respon tidak berada ditempat/meninggal
3.9. Jumlah Sampel
Untuk menentukan besar sampel, Perhitungan besar sampel dilakukan
dengan menggunakan uji hipotesis beda dua proporsi. Penelitian menggunakan
rumus berdasarkan perhitungan analitik kategorik tidak berpasangan sebagai
berikut :
2

Z 2 PQ + Z P 1 Q1+ P 2 Q2
n 1=n 2=
P 1P 2
n = besar sampel minimum
Z = tingkat kesalahan tipe I 0.05 maka Za = 1.96
Z = tingkat kesalahan tipe II ditetapkan 0.02 maka Z adalah 0.84
P 1+ P 2 0.679+ 0.464
=
P=
= 0.5715
2
2
Q = 1P=0.4295
P1 = Proporsi pada pasien tidak patuh berobat
67.9
=0.679
=
67.9+ 32.1
Q1 = 1 P = 0.321
P2 = Proporsi pada pasien patuh berobat
46.4
=0.46
=
46.4+53.6
1.96 2 0.575 0.429+ 0.84 0.679 0.321+ 0.46 0.54
n
0.6790.46
n = 79.17
n = 80 sampel

3.10. Instrumen Penelitian

Instrumen

penelitian

adalah

alat-alat

yang

digunakan

untuk

pengumpulan data penelitian (Notoatmodjo, 2010:87). Instrumen dalam


penelitian ini adalah:
3.10.1. Kuisioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan
untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang
pribadinya

atau

hal-hal

yang

diketahui

(Suharsimi Arikunto,

2002:128). Kuesioner bertujuan untuk mengetahui informasi mengenai


faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan berobat penderita
hipertensi. Kuisioner yang digunakan pada penelitian ini adalah
kuisioner yang digunakan oleh Eka Puspita untuk penelitian di
Puskesmas Gunung Pati Semarang (2016) yang telah diuji validitas
dan reabilitas nya.
3.10.2. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan
menggunakan berbagai tulisan yang berkenaan dengan objek penelitian
dan dilakukan untuk mengetahui jumlah populasi dan sampel serta
pendukung lain.
3.11. Teknik Pengambilan Sampel
Teknikpengambilansampeldenganmenggunakan nonprobability purposive
sampling.
3.12. Pengumpulan Data
Data yang diambil dari responden atau sampel penelitian diperoleh dari
hasil wawancara secara langsung berdasarkan kuisioner dari penelitian yang
telah dilakukan sebelumnya untuk memperoleh data mengenai jenis kelamin,
tingkat pendidikan terakhir, status pekerjaan, tingkat pengetahuan tentang
hipertensi, dukungan keluarga dan peran tenaga kesehatan.
3.13. Alur Penelitian
Persiapan penelitian

Identifikasi subjek yang berpotensi

Informed consent
Bersedia

Wawancara

Analisis data

3.14. Teknik Pengolahan dan Analisis Data


3.14.1. Teknik Pengolahan Data
Langkal pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian adalah :
a. Editing
Editing merupakan kegiatan pengecekan isi kuesioner apakah
kuesioner sudah diisi dengan lengkap, jelas jawaban dari
responden, relevan jawaban dengan pertanyaan, dan konsisten.

b. Coding
Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf
menjadi data berbentuk angka atau bilangan. Pemberian kode
bertujuan untuk mempermudah analisis data dan entry data.
c. Skoring
Pemberian skor atau nilai pada setiap jawaban yang diberikan
oleh responden.
d. Tabulasi
Tabulasi dimaksudkan untuk memasukan data ke dalam tabeltabel dan mengatur angka-angka sehingga dapat dihitung jumlah
kasus dalam berbagai kategori.
e. Entry
Memasukan data yang diperoleh ke dalam perangkat komputer.
3.14.2. Teknik Analisis Data
3.14.2.1.

Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan
atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel
penelitian. Bentuk analisis univariat tergantung dari
jenis datanya. Untuk data numerik digunakan nilai mean
(rata-rata), median, dan standar deviasi. Pada umumnya
dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi
frekuensi dan presentase dari tiap variabel. Data hasil
penelitian dideskripsikan dalam bentuk tabel, grafik

maupun narasi, untuk mengevaluasi besarnya proporsi


dari masing-masing variabel bebas yang diteliti

3.14.2.2.

Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan terhadap dua variabel
yang diduga berhubungan atau berkorelasi yaitu antara
variabel bebas dan variabel terikat. Analisis ini
dilakukan untuk mengetahui hubungan jenis kelamin,
tingkat pendidikan terakhir, status pekerjaan, lama
waktu menderita hipertensi, keikutsertaan asuransi
kesehatan, tingkat pengetahuan tentang hipertensi,
keterjangkauan akses pelayanan kesehatan, dukungan
keluarga, peran tenaga kesehatan, motivasi berobat
dengan kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani
pengobatan di Puskesmas Curug. Analisis untuk
membuktikan

kebenaran

hipotesis

dengan

mengggunakan uji statistik chi square, karena penelitian


ini menggunakan data kategorik, jenis penelitian
analitik, desain Cross Sectional, jenis hipotesis assosiatif
atau hubungan dengan skala pengukuran ordinal dan
nominal dengan penghitungan Confidence Interval (CI)
digunakan taraf signifikansi 95% dengan nilai kesalahan
5%.
Analisis ini menggunakan cara uji statistic chisquare 2x2 cotingency table untuk mendapatkan nilai pvalue,

di

mana

dasar

pengambilan

keputusan

berdasarkan tingkat signifikan (nilai p):


a. Jika nilai p > 0,05 maka menandakan ada hubungan
yang signifikan antara kedua pernyataan.
b. Jika nilai p 0,05 maka menandakan tidak ada
hubungan antara kedua pernyataan.

3.15. Permasalahan Etik


Selama penelitian ini berjalan, tidak didapatkan adanya permasalahan etik
karena penelitian ini dilakukan atas dasar persetujuan pasien untuk
diwawancarai.

BABIV
HasilPenelitian

1.2 Gambaran umum wilayah penelitian


Puskesmas Curug terletak di wilayah kecamatan Curug Kabupaten
Tangerang Propinsi Banten dengan luas wilayah sebesar 2.582 km 2, yang terdiri
dari 4 desa dan 2 kelurahan yaitu: Curug Wetan, Cukanggalih, Kadu Jaya, Kadu,
Sukabakti dan Curug Kulon. Di wilayah Kecamatan Curug terdapat 56 RW dan
184 RT.
Tabel 4.1 : Jumlah RT dan RW berdasarkan Desa Kecamatan Curug Tahun 2015

a.
b.
c.
d.

NO

DESA/KELURAHAN

1
2
3
4
5
6
JUMLAH

Curug Wetan
Cukanggalih
Sukabakti
Kadu Jaya
Kadu
Curug Kulon

JUMLAH
DESA/KEL
1
1
1
1
1
1
6

RW
9
9
16
8
5
9
56

Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Curug:


Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Jatiuwung Kota Tangerang
Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Kecamatan Legok
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Cikupa
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Kelapa Dua

RT
27
23
46
25
34
29
184

Gambar 4.1 : Lokasi Kecamatan Curug dalam Kabupaten Tangerang


Desa/ Kelurahan di wilayah Puskesmas Curug :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Desa Curug Wetan dengan luas wilayah 360.00 km2


Desa Cuakanggalih dengan luas wilayah 401.00 km2
Kelurahan Sukabakti dengan luas wilayah 461.28 km2
Desa Kadu Jaya dengan luas wilayah 393.28 km2
Desa Kadu dengan luas wilayah 624.00 km2
Kelurahan Curug Kulon dengan luas wilayah 342.82 km2

1.3 Visi
Terwujudnya Puskesmas Curug dengan pelayanan prima yang mendukung
Kecamatan Sehat.
1.4 Misi
Untuk mewujudkan visi tersebut, Puskesmas Curug menetapkan misi sebagai
berikut:
a.

Memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang optimal,

b.

terjangkau, dan memuaskan.


Mendorong kemandirian untuk hidup bersih dan sehat bagi individu, keluarga,

c.

institusi dan masyarakat.


Meningkatkan sinergi kemitraan dengan lintas program dan lintas sektor.

4.1 Demografi
Unit Pelayanan Teknis (UPT) Puskesmas Curug, merupakan salah satu
Puskesmas yang berada di Kabupaten Tangerang yaitu di wilayah Kecamatan

Curug. Puskesmas Curug terletak di Jalan Raya PLP Kecamatan Curug, ini
merupakan salah satu jalan utama yang ada di wilayah Kecamatan Curug, jalan
ini menghubungkan wilayah Curug dengan wilayah kecamatan lainnya. Jalan
ini dapat dengan mudah dilalui alat-alattransportasi mulai dari sepeda, becak,
sepeda motor dan mobil yang tentu akan mempermudah masyarakat diseluruh
wilayah Kecamatan Curug untuk mencapainya. Jarak dari ibu kota kabupaten
kurang lebih 10 km, dengan keadaan jalan yang cukup baik. Disamping itu letak
Puskesmas Curug juga dekat dengan pemukiman penduduk, hal ini semakin
mempermudah masyarakat untuk mendapatkan semua fasilitas pelayanan
kesehatan yang tersedia di Puskesmas Curug.
Jumlah penduduk Kecamatan Curug pada tahun 2015 adalah 126.823 jiwa
dengan jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) di Kecamatan Curug
yaitu sebesar 87.214 jiwa terdiri dari 46.946 jiwa laki-laki dan 40.268 jiwa
perempuan atau sebesar 69% dari total jumlah penduduk. Jumlah ini juga
menjadi jumlah paling banyak dibanding golongan usia tidak produktif, dimana
usia 0 14 tahun sebesar 34.268 jiwa atau sebesar 27% dari total jumlah
penduduk yang terdiri dari 17.593 jiwa laki-laki dan 16.675 jiwa perempuan dan
usia 65 tahun sebesar 2.671 jiwa atau sebesar 2,1 % dari total jumlah
penduduk yang terdiri dari 1.250 jiwa laki-laki dan 1.421 jiwa perempuan.

Tabel 4.2 : Jumlah Kepadatan Penduduk Kecamatan Curug tahun 2015


No.

Desa

Jumlah Penduduk

1.

Curug Kulon

Laki-laki
10.272

Perempuan
9.537

Total
19.809

2.

Curug Wetan

7.253

6.858

14.111

3.

Sukabakti

9.464

8.855

18.319

4.

Cukang Galih

7.067

6.265

13.332

5.

Kadu Jaya

11.583

9.727

21.310

6.

Kadu

21.094

18.848

39.942

66.733

60.090

126.823

Jumlah

Tabel 4.3 : Klasifikasi Penduduk menurut Umur dan Jenis Kelamin


No. Umur
1
2
3
4
5

JUMLAH PENDUDUK
Laki-laki Perempuan
0- 59 bulan 7.361
6.859
5- 14 tahun 10.232
9.806
15- 44 tahun 40.007
35.338
45- 59 tahun 6.939
5.881
>= 60 tahun 2.194
2.196

Jumlah
14.220
20.038
75.345
11.869
4.056

4.2 Sosial, Budaya, dan Ekonomi


Berdasarkan data dari Kecamatan Curug tahun 2014, diketahui bahwa
tingkat pendidikan masyarakat sudah cukup baik. Hal ini bisa dilihat dari
besarnya persentase penduduk yang tamat SLTA sebanyak 30,45%, penduduk
yang tamat SLTP (pendidikan dasar 9 tahun) sebanyak 17,08%, sedangkan
presentase penduduk yang tamat SD sebesar 14,53% dan hanya 4,54%
penduduk saja yang tidak menamatkan sekolah dasar.

Gambar 4.2 : Tingkat Pendidikan Penduduk Puskesmas Curug Tahun 2014


2.95%
70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%

PT
30.45%

TAMAT SLTA
TAMAT SLTP

17.08%

TAMAT SD
TIDAK TAMAT SD

14.53%
4.54%
Tingkat Pendidikan

Berdasarkan data Kecamatan Curug tahun 2015, mata pencaharian


penduduk di wilayah Kecamatan Curug sebagian besar dari jumlah penduduk
usia produktif adalah karyawan swasta, buruh lepas, dan PNS serta usaha
lainnya dengan tingkat pendapatan yang bevariasi. Dalam perkembangannya,
wilayah Curug berkembang menjadi wilayah industri itu sebabnya sebagaian
besar penduduk di wilayah Curug bermata pencaharian sebagai buruh pabrik
dan oleh karena itu pula disekitar wilayah Kecamatan Curug usaha properti
berkembang pesat karena banyak warga pendatang yang bekerja di wilayah
Kecamatan Curug.

4.3 Sarana dan Tenaga Kerja


4.6.1

Pembiayaan
Pembiayaan untuk operasional kegiatan di Puskesmas Curug
Kabupaten Tangerang berasal dari berbagai sumber yaitu dari APBD
Kabupaten Tangerang, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Biaya
Operasional Kegiatan (BOK) yang berasal dari APBN.

4.6.2

Ketenagaan
Jumlah pegawai di Puskesmas Curug pada tahun 2015 adalah
sebanyak 56 orang dari berbagai profesi antara lain dokter umum, dokter
gigi, perawat, bidan, ahli gizi, sanitarian, tenaga kesehatan lainnya, tenaga
administrasi dan petugas keamanan. Dari 56 orang pegawai Puskesmas
Curug 36 orang berstatus PNS, 10 orang tenaga PTT dan 10 orang adalah
tenaga sukarelawan. Dilihat dari kebutuhan tenaga medis di Puskesmas
Curug dengan jumlah penduduk sebesar 126.823 jiwa maka rasio tenaga
medis 1,26 per 100.000 penduduk dengan demikian Puskesmas Curug
masih membutuhkan tambahan tenaga medis, mengingat besar dan
luasnya wilayah kerja serta banyaknya jumlah penduduk. Selain tenaga
medis Puskesmas Curug juga masih membutuhkan tambahan tenaga
farmasi, analis kesehatan, kesehatan masyarakat dan administrasi
kesehatan.

4.6.3

Sarana Prasarana
Puskesmas Curug sebagai puskesmas utama yang ada di wilayah
Kecamatan Curug, disamping puskesmas dengan tempat perawatan
terdapat 1 puskesmas pembantu yang terletak di desa Cukanggalih, 2
polindes yang masing-masing terletak di desa Kadu Jaya dan Curug
Wetan, 63 posyandu dan 6 posbindu yang tersebar di seluruh wilayah
Kecamatan Curug serta memiliki 1 unit mobil ambulans dan 3 unit sepeda
motor sebagai kendaraan operasional
Puskesmas Curug memiliki fasilitas rawat inap dan memiliki satu unit

gedung rawat inap dengan kapasitas 7 tempat tidur yang terdiri dari:
4 buah tempat tidur untuk dewasa dan anak

3 buah tempat tidur untuk nifas dan persalinan

4.7. HasilPenelitian
4.7.1. AnalisisUnivariat
Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan masing-masing
variabel baik variabel bebas maupun variabel terikat. Berdasarkan hasil
penelitian yang telah dilakukan, pengolahan data univariat terkait variabel
yang diteliti dapat dilihat sebagai berikut:
4.7.1.1.
DistribusiRespondenMenurutTingkatKepatuhan
Distribusitingkatkepatuhanmelakukanpengobatanpada
penderitahipertensidalammenjalanipengobatandiPuskesmas
Curug dengan menggunakan metode MMAS 8 (Modified
MoriskyAdherenceScale)dapatdilihatpadatabelberikut:
Tabel4.4DistribusiResnpondenMenurutTingkatKepatuhan
Tingkat Kepatuhan

Frekuensi (n)

Rendah

31

Sedang

32

Tinggi

25

Jumlah

88

Persentase (%)
35,2 %
36,4 %
28,4 %
100%

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa distribusi


frekuensitingkatkepatuhandalammenjalanipengobatanpada
penderitahipertensidiPuskesmasCurugdiketahuisebanyak31
responden(35.2%) memiliki tingkat kepatuhan rendah dalam
menjalani pengobatan dan 32 responden (36.4%) memiliki
tingkat kepatuhan sedang dan 25 responden (28.4%) lainnya
dinyatakan memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi dalam
4.7.1.2.

menjalanipengobatanhipertensi.
DistribusiRespondenMenurutJenisKelamin
Distribusi responden menurut jenis kelamin yang
ditemukandiPuskesmasCurugdapatdilihatpadatableberikut:

Tabel4.5DistribusiRespondenMenurutJenisKelamin

Jenis Kelamin

Frekuensi (n)

Wanita

49

Pria

39

Jumlah

88

Persentase (%)
55.7 %
44.3 %
100%

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa distribusi


frekuensi responden menurut jenis kelamin tertinggi adalah
wanitayaitusebanyak49pasien(55.7%),sedangkanresponden
priasebanyak39(44.3%)pasien.
4.7.1.3.

DistribusiRespondenMenurutTingkatPendidikanTerakhir
Distribusirespondenmenuruttingkatpendidikanterakhir
dapatdilihatpadatabelsebagaiberikut:

Tabel 4.6 : Distribusi Tingkat Pendidikan Terakhir


Tingkat Pendidikan Terakhir

Frekuensi (n)

Tidak tamat SD

Tamat SD

39

Tamat SMP

24

Tamat SMA

13

Tamat PT/D3/S1

Jumlah

88

Persentase (%)
9,1 %
44,3 %
27,3 %
14,8 %
4,5 %
100%

Berdasarkan tabel 4.6 diketahui bahwa 71 (80.7%)


responden memiliki tingkat pendidikan terakhir yang rendah
yaitu8responden(9.1%)tidaktamatSD,39responden(44.3%)
tamatSD,24responden(27.3%)tamatSMP,dan17responden
(19.3%)masukdalamkategoritingkatpendidikantinggi,yaitu
13 responden tamat SMA (14.8%) dan 4 responden lulus
4.7.1.4.

PerguruantinggiD3/S1(4.5%).
DistribusiRespondenMenurutStatusPekerjaan
Distribusifrekuensimenurutstatuspekerjaanresponden
dapatdilihatpadatabelberikut:

Tabel4.7DistribusiRespondenMenurutStatusPekerjaannya
Status Pekerjaan

Frekuensi (n)

Persentase (%)

Tidak Bekerja (Pensiunan/IRT)

49

55,7 %

Petani/Buruh

11

12,5 %

Wiraswasta

6,8 %

Pedagang

13

14,8 %

PNS

6,8 %

Pegawai Swasta

3,4 %

Jumlah

88

100%

Berdasarkantabel4.7dapatdiketahuibahwasebagian
besar responden tidak bekerja yaitu sebanyak 49 responden
(55.7%) sedangkan 39 responden lainnya (44.3%) memiliki
pekerjaan yaitu 11 responden (12.5%) bekerja sebagai
petani/buruh, 6 responden (6.8%) merupakan wiraswasta, 13
responden(14.8%),6responden(6.8%)bekerjasebagaiPNS
dan3responden(3.4%)sebagaipegawaiswasta.

4.7.1.5.

DistribusiRespondenMenurutKeikutsertaanAsuransi

Kesehatan.
Distribusi responden menurut keikutsertaan asuransi
kesehatandapatdilihatpadatabelsebagaiberikut:
Tabel4.8DistribusiRespondenMenurutKeikutsertaanAsuransiKesehatan
Keikut Sertaan Asuransi

Frekuensi (n)

Persentase (%)

Tidak

31

35.2%

Ya
Jumlah

57

64.8%

88

100%

Berdasarkantabel4.8dapatdiketahuibahwaresponden
yang menyatakan tidak ikut serta/tidak memiliki asuransi
kesehatan(Pasienumum)sebanyak31responden(35.2%)dan57

responden (64.8%) menyatakan ikut serta/memiliki asuransi


kesehatan yaitu menggunakan jaminan kesehatan BPJS yang
meliputi Jamkesmas, Askes, Jamkeskot, dan Kartu Indonesia
Sehat.

4.7.1.6.

Distribusi Responden Menurut Tingkat Pengetahuan

TentangHipertensi
Distribusi responden menurut tingkat pengetahuan
tentanghipertensidapatdilihatpadatabelsebagaiberikut:
Tabel4.9DistribusiRespondenMenurutTingkatPengetahuantentangHipertensi.
Tingkat

Pengetahuan

tentang

Frekuensi (n)

Persentase (%)

Rendah

52

59,1 %

Tinggi
Jumlah

36

40,9 %

88

100%

Hipertensi

Berdasarkan tabel 4.9 diketahui bahwa 52 responden


(59,1%) memiliki pengetahuan rendah tentang hipertensi dan 36
responden

(40,9%)

memiliki

pengetahuan

tinggi

tentang

hipertensi.
4.7.1.7.

DistribusiRespondenMenurutPeranTugasKesehatan
Distribusirespondenmenurutperantugaskesehatandapat

dilihatpadatabelsebagaiberikut:
Tabel4.10DistribusiRespondenMenurutPeranTugasKesehatan
Peran Tugas Kesehatan

Frekuensi (n)

Persentase (%)

Rendah

32

36,4 %

Tinggi
Jumlah

56
88

63,6 %
100%

Berdasarkan table 4.10 dapat diketahui bahwa 32


responden(36.4%)masukdalamkategoriperantenagakesehatan
rendahdan56(63.6%)respondenmasukdalamkategoriperan
tenagakesehatantinggi.
4.7.2. AnalisisBivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara
variabel bebas dengan variabel terikat. Variabel terikat dalam penelitian
ini adalah tingkat kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi di
Puskesmas Curug, sedangkan variabel bebasnya adalah jenis kelamin,
tingkat pendidikan terakhir, status pekerjaan, keikutsertaan asuransi
kesehatan, tingkat pengetahuan tentang hipertensi, dan peran tenaga
kesehatan.
Variabelterikatpadapenelitianiniadalahtingkatkepatuhandalam
menjalanipengobatanyangdiukurdenganmenggunakanmetodeMMAS
(Modified Moriky Adherence Scale) dengan 8 item pertanyaan dan
penilaianakhirmenjadi3kategoridenganketentuan:kepatuhanrendah
(skor <6), kepatuhan sedang (skor 67) dan kepatuhan tinggi (skor 8)
selanjutnya dilakukan penggabungan sel. Setelah melakukan
penggabungan sel tersebut maka akan terbentuk tabel BxK yang baru.
PenggabunganseltersebutmengubahtabelBxKawalmenjaditabel2x2.
Sehinggadapatdiujidenganuji ChiSquare,namunapabilasyaratuji
ChiSquaretidakterpenuhiyaituketikanilaiexpectedcountkurangdari
5dantidaklebihdari20%makadilakukanujialternatifdariuji Chi
Square yaitu uji Fisher. Setelah dilakukan penggabungan sel pada
variabelterikatmakakategoriberubahmenjaditidakpatuh(skor<6)dan
kategoripatuh(skor6).

4.7.2.1.

Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kepatuhan

dalamMenjalaniPengobatanHipertensi
Berdasarkan pengujian hubungan antara jenis kelamin
dengankepatuhandalammenjalanipengobatanmenggunakanuji
ChiSquarediperolehhasilsebagaiberikut:

Tabel4.11HubunganJenisKelamindenganTingkatKepatuhan

No

1.
2.

TingkatKepatuhan

Jenis
Kelamin
Pria
Wanita

TidakPatuh

Patuh

26

66.7%

13

24.5%

39

37

75.5%

12

Total

33.3%

Value

PR

CI
95%

49

44.3
%
55.7

0.367

1.542

0.608
3.912

Berdasarkan tabel hasil analisis hubungan antara jenis


kelamindalammenjalanipengobatanhipertensidiperolehbahwa
dari 39 responden berjenis kelamin pria yang tidak patuh
menjalanipengobatanhipertensiyaitu26responden(66.7%)dan
yang patuh menjalani pengobatan hipertensi sebanyak 13
responden (37.9%). Sedangkan dari 49 responden berjenis
kelamin perempuan sebesar 37 responden (75.5%) dinyatakan
tidak patuh dalam menjalani pengobatan hipertensi dan 12
responden(33.3%)patuhdalammenjalanipengobatanhipertensi.
Selainitu,hasilanalisisujiChiSquarediperolehnilaip=0.367
(p>0.05) yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara jenis
kelamin dengan kepatuthan dalam menjalani pengobatan
hipertensidiPuskesmasCurug.
4.7.2.2.

HubunganantaraTingkatPendidikanTerakhirdengan

KepatuhandalamMenjalaniPengobatanHipertensi
Berdasarkanpengujianhubunganantaratingkatpendidikan
terakhir dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan
hipertensi menggunakan Chi Square diperoleh hasil sebagai
berikut:
Tabel4.12HubunganTingkatPendidikanTerakhirdenganTingkatKepatuhan
No

Tingkat

TingkatKepatuhan

Pendidika

TidakPatuh

Patuh

Total

P
Value

PR

Cl
95%
min

1.
2.

max

nTerakhir

Rendah

57

79.2%

15

20.8%

72

Tinggi

37.5%

10

62.5%

16

%
100
%
100

0.01

6.333

1.983
20.223

Berdasarkan tabel hasil analisis hubungan antara tingkat


pendidikan terakhir dengan kepatuhan dalam menjalani
pengobatan hipertensi, diperoleh bahwa 72 responden
berpendidikan rendah sebanyak 57 responden (79.2%) tidak
patuhdalammenjalanipengobatanhipertensidan15responden
(20.8%) patuh dalam menjalani pengobatan hipertensi.
Sedangkan dari 16 responden berpendidikan tinggi sebesar 6
responden(37.5%)patuhdalammenjalanipengobatan.Hasiluji
chisquare diberolehbahwa pvalue= 0.01(p<0.05),sehingga
Hoditolak.Haliniberartibahwaadahubunganantaratingkat
pendidikan terakhir dengan kepatuhan dalam menjalani
pengobatan hipertensi, dari analisis diperoleh nilai PR
(prevalence ratio) 6.333 dan nilai rentang CI (Confidence
Interval) pada tingkat kepercayaan 95% yaitu 1.983 20.222
(tidakmelewatiangka1)yangberartibahwatingkatpendidikan
terakhir merupakan factor risiko yang mempengaruhi ketidak
patuhanpasienhipertensidiPuskesmasCurug.
4.7.2.3.

Hubungan antara status Pekerjaan dengan Kepatuhan

dalamMenjalaniPengobatanHipertensi
Berdasarkan pengujian hubungan antara status pekerjaan
dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi
menggunakanujiChiSquarediperolehhasilsebagaiberikut:
Tabel4.13HubunganStatusPekerjaanDenganTingkatKepatuhan
No

Status

TingkatKepatuhan

Total

PR

CI95%

1.
2.

Pekerjaa

TidakPatuh

Patuh

39

79.6%

10

20.4%

49

Tidak
Bekerja
Bekerja

24

61.5%

15

38.5%

39

Value

100
%
100

0.63

2.438

0.945
6.290

Berdasarkantabeldiketahuibahwadari49respondenyang
tidakbekerja39responden(79.6%)tidakpatuhdalammenjalani
pengobatan hipertensi dan 10 responden (20.4%) patuh dalam
menjalanipengobatanhipertensi.Sedangkandari39responden
yangbekerjasebesar24responden(61.5%)tidakpatuhdan15
responden(38.5%)patuhdalammenjalanipengobatanhipertensi.
BerdasarkanhasilujiChiSquarepadatabelmengenaihubungan
antara status pekerjaan dengan kepatuhan dalam menjalani
pengobatanhipertensidiperolehnilai pvalue =0.872(p>0.05)
yangberartibahwatidakadahubunganantarastatuspekerjaan
dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi di
PuskesmasCurug.
4.7.2.4.

Hubungan antara Keikutsertaan Asuransi Kesehatan

denganKepatuhandalamMenjalaniPengobatanHipertensi
Berdasarkan pengujian hubungan antara keikutsertaan
asuransi kesehatan dengan kepatuhan dalam menjalani
pengobatan hipertensi menggunakan uji Chi Square diperoleh
hasilsebagaiberikut:

Tabel4.14HubunganKeikutsertaanAsuransiKesehatanDenganTingkat
Kepatuhan
Keikutsertaa
No

n Asuransi
Kesehatan

1.

Tidak

TingkatKepatuhan
Tidak
Patuh

Total

Patuh

P
Value

64.5%

11

35.5%

31

100

0.283

PR

1.689

CI
95%
0.652

2.

Ya

74.4%

14

24.6%

57

100

4.374

Berdasarkan tabel 4.14 diketahui bahwa dari 31 responden


yang tidak ikut serta/tidak memiliki asuransi kesehatan (BPJS,
Jamkesmas, Askes Kartu Indonesia Sehat, Jamkeskot) sebanyak
20 responden (64,5%) tidak patuh dalam menjalani pengobatan
hipertensi dan 11 responden (35,5%) patuh dalam menjalani
pengobatan hipertensi. Sedangkan dari 57 responden ikut
serta/memiliki asuransi kesehatan (BPJS, Jamkesmas, Askes,
Kartu Indonesia Sehat, Jamkeskot) sebanyak 43 responden
(74.4%) dinyatakan tidak patuh dan 14 responden (24.6%) patuh
dalam menjalani pengobatan hipertensi. Hasil uji chi square
diperoleh bahwa p value = 0.283 (p>0.05%) yang berarti bahwa
tidak ada hubungan antara keikutsertaan asuransi kesehatan
dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi di
Puskesmas Curug.

4.7.2.5.

Hubungan antara Tingkat Pengetahuan tentang

Hipertensi dengan Kepatuhan dalam Menjalani Pengobatan


Hipertensi
Berdasarkan pengujian hubungan antara tingkat
pengetahuan tentang hipertensi dengan kepatuhan dalam
menjalani pengobatan hipertensidi Puskesmas Curug
menggunakanujiChiSquarediperolehhasilsebagaiberikut:
Tabel4.15HubunganTingkatPengetahuanTentangHipertensiDengan
TingkatKepatuhan
No

Tingkat

TingkatKepatuhan

Pengetahua

Tidak

n tentang

Patuh

Patuh

Total

P
Value

PR

Cl
95%
min
max

Hipertensi
1.
2.

Rendah
Tinggi

f
4
5
1
8

86.5%

13.5%

52

100%

50%

18

50%

36

40.9

2.295
0.000

1.194

18.008

Berdasarkantabeldiketahuibahwadari52respondenyang
memilikitingkatpengetahuantentanghipertensirendahsebanyak
45responden(86.5%)tidakpatuhdalammenjalanipengobatan
hipertensi dan 7 responden (13.5%) patuh dalam menjalani
pengobatan hipertensi. Sedangkan dari 36 responden yang
memilikitingkatpengetahuantentanghipertensitinggisebanyak
18responden(50%)dinyatakantidakpatuhdan18responden
(50%) patuh dalam menjalani pengobatan hipertensi. Hasil uji
chisquarediperolehbahwanilaipvelue=0,000(p<0,05).Halini
berartibahwaadahubunganantaratingkatpengetahuantentang
hipertensi dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan
hipertensi. Dari analisis diperoleh nilai PR (Prevalen Ratio)
1.194 dan nilai rentang CI (Confident Interval) 95% 2.295
18.008 (tidak melewati angka 1) yang berarti bahwatingkat
pendidikanterakhirmerupakanfaktorrisikoyangmempengaruhi
ketidakpatuhanpasienhipertensidanorangdenganpengetahuan
yangrendahberisiko2kaliuntuktidakpatuhdalammenjalani
pengobatanhipertensidiPuskesmasCurug.
4.7.2.6.

Hubungan antara Peran Petugas Kesehatan dengan

KepatuhandalamMenjalaniPengobatanHipertensi
Berdasarkan pengujian hubungan antara peran petugas
kesehatan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan
hipertensi menggunakan uji Chi-Square diperoleh hasil sebagai
berikut:
Table4.16HubunganPeranPetugasKesehatanDenganTingkat
Kepatuhan

No

Peran

TingkatKepatuhan

Petugas

TidakPatuh

Kesehata
n

1.

Rendah

2.

Tinggi

Total

Patuh

27

84.4%

15.6%

32

36

64.3%

20

35.7%

56

P
%

Value

Cl95%
PR

min
max

36.4
%
35.7

0.045

3.000

0.999
9.010

Berdasarkan tabel diketahui bahwa dari 32 responden yang


menyatakan peran petugas kesehatan rendah sebanyak 27
responden (84.4%) tidak patuh dalam menjalani pengobatan
hipertensi dan 5 responden (15.6%) patuh dalam menjalani
pengobatan hipertensi. Sedangkan dari 56 responden yang
menyatakan peran petugas kesehatan tinggi sebanyak 36
responden (64.3%) dinyatakan tidak patuh dan 20 responden
(35.7%) patuh dalam menjalani pengobatan hipertensi. Hasil uji
chi square diperoleh bahwa nilai p value=0,045 (p<0,05). Hal ini
berarti bahwa ada hubungan antara peran tenaga kesehatan
dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan hipertensi.

BABV
PEMBAHASAN
5.1.

HubunganantaraJenisKelamindanPengobatanHipertensi
Jenis kelamin berkaitan dengan peran kehidupan dan perilaku yang
berbedaantaralakilakidanperempuandalammasyarakat.Dalamhalmenjaga
kesehatan, biasanya kaum perempuan lebih memperhatikan kesehatanya
dibandingkandenganlakilaki.Halinidikarenakansifatsifatdariperempuan
yang lebih memperhatikan kesehatan bagi dirinya dibandingkan lakilaki18
Perbedaanpolaperilakusakitjugadipengaruhiolehjeniskelamin,perempuan
lebihseringmengobatkandirinyadibandingkandenganlakilaki,sehinggaakan
lebihbanyakperempuanyangdatangberobatdibandingkanlakilaki.

Berdasarkanhasilanalisisbivariatmenunjukantidakadahubunganyang
signifikanantarajeniskelamindengankepatuhandalammenjalanipengobatan
hipertensidiPuskesmasCurugdengannilaip=0,367(p>0,05).Hasilpenelitian
juga menunjukan bahwa mayoritas responden adalah berjenis kelamin
perempuanyaitusebesar55.7%danberjeniskelaminlakilakisebesar44.3%.
PenelitianinisesuaidenganpenelitianyangdilakukanolehEkaPuspita
(2016) yang menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin
dengan kepatuhan penggunaan obat pada pasien hipertensi dengan nilai
p=0.366.Halinidikarenakantidakadanyaperbedaanyangbermaknaantara
respondenperempuan(33.3%)patuhdanlakilaki(24.5%)patuhyangberarti
baikrespondenperempuanmaupunlakilakikeduanyasamasamamemiliki
tingkatkepatuhanyangrendahdalampenggunaanobathipertensi.
BerbedadenganpenelitianyangdilakukanolehAlphonche(2012)bahwa
jenis kelamin berhubungan dengan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi
dengannilai p=0,044.19 PadapenelitianyangdilakukanolehAlphoncesampel
yang digunakan adalah pasien hipertensi berusia 18 tahun keatas, sehingga
rentangusialebihluas.Sedangkandalampenelitianinipenelitimemfokuskan
padapasienhipertensidenganrentangusia4564tahun,sehinggahasildapat
berbeda.
Selain itu, melakukan pengobatan ke Puskesmas akan berkaitan erat
denganketersediaanwaktudankesempatanyangdimiliki,dimanaperempuan
akanlebihbanyakmemilikiwaktudankesempatanuntukdatangkepuskesmas
dibandingkan lakilaki. Namun saat ini perempuan tidak selalu memiliki
ketersediaan waktu untuk datang ke Puskesmas karena bekerja/memiliki
kesibukan. Dalam penelitian ini terdapat 49% responden perempuan yang
memilikipekerjaan,dansebagianbesarperempuanlainyamerupakaniburumah
tangga. Ketidakpatuhan berobat pada ibu rumah tangga dapat terjadi karena
kurangnya motivasi atau dukungan keluarga terhadap dirinya. Menurut teori
perempuan yang bekerja sebagai ibu rumah tangga adalah motivator terbaik
bagi suaminya dan anakanaknya terutama dalam hal kesehatan, tetapi

dukunganuntukdirinyasendirimasihkurang.20
5.2.

Hubungan antara Tingkat Pendidikan Terakhir dengan


KepatuhandalamMenjalaniPengobatanHipertensi
Menurut teori Lawrence Green menyatakan bahwa perilaku patuh
dipengaruhi oleh faktorfaktor predisposisi, salah satunya pendidikan.
Pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk
mengembangkan atau meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran
pendidikan itu dapat berdiri sendiri.21 Responden yang berpendidikan lebih
tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan
responden yang tingkat pendidikanya rendah. Sugiharto dkk (2003) juga
menyatakan tingkat pendidikan dapat mempengaruhi kemampuan dan
pengetahuan seseorang dalam menerapkan perilaku hidup sehat, terutama
mencegahpenyakithipertensi.Semakintinggitingkatpendidikanmakaakan
semakintinggipulakemampuanseseorangdalammenjagapolahidupnyaagar
tetapsehat.22
Berdasarkan hasil analisis bivariat menunjukan bahwa ada hubungan
antara tingkat pendidikan terakhir dengan kepatuhan dalam menjalani
pengobatanhipertensidengannilaip=0,001.Hasilpenelitianinijugadiperkuat
olehpenelitianyang dilakukan olehVincentBoima(2015)danEkaPuspita
(2016)yangmenyatakanterdapathubunganantaratingkatpendidikandengan
kepatuhanpengobatanhipertensi(p=0.001)dan(p=0.000).Halinidikarenakan
padahasilpenelitiandaritotalrespondenyangberpendidikanrendahsebanyak
57responden(79.2%)tidakpatuhdalammenjalanipengobatanhipertensidan
15 responden (20.8%) patuh dalam menjalani pengobatan hipertensi. Sama
halnyadenganpenelitianyangdilakukanVincentBoima(2015),padapenelitian
inijugaditemukanbahwarespondendenganpendidikantinggiakanlebihpatuh
85%dibandingkandenganrespondenyangtidakpatuh15%.
Berbeda dengan hasil penelitian ini, penelitian Kimuyu (2014)
menunjukanbahwatidakterdapathubunganantaratingkatpendidikanterhadap
kepatuhanminumobatantihipertensidiRumahsakitKotaKiambu(p=0,191).

Dalam penelitian Kimuyu distribusi tingkat pendidikan responden lebih


heterogenjikadibandingkanpadapenelitianiniyangcenderungmengelompok
lebihbesarpadarespondenberpendidikandasaryaitusebesar64%daritotal
respondensehinggahasildapatberbeda.
Berdasarkanhasilpenelitiandilapangansebagianbesarrespondenyang
masukdalamkategoritidakpatuhadalahmerekayangberpendidikanrendah
yaitu sebesar 57 responden (79.2%), sedangkan pada responden dengan
pendidikan tinggi 62.5% patuh dalam menjalani pengobatanya. Hal ini
menandakanbahwarespondendenganpendidikanrendahsangatberisikountuk
tidakpatuhdalammenjalanipengobatan.
Pendidikan sangat erat kaitanya dengan pengetahuan, pendidikan
merupakan proses belajar mengajar sehingga akan terbentuk seperangkat
tingkahlaku,kegiatanatauaktivitas.Denganbelajarbaiksecaraformalmaupun
non formal manusia akan dapat meningkatkan kematangan intelektual dan
memiliki pengetahuan. Dengan pengetahuan yang diperoleh maka pasien
hipertensiakanmengetahuimanfaatdarisaranataunasihatpetugaskesehatan
sehingga akan termotivasi untuk lebih patuh menjalani pengobatan yang
dianjurkanolehpetugaskesehatan.
5.3. Hubungan antara Status Pekerjaan dengan Kepatuhan Menjalani
PengobatanHipertensi
MenurutThomasyangdikutipolehNursalam(2003),pekerjaanadalah
sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan
keluarga.22 Orang yang bekerja cenderung memiliki sedikit waktu untuk
mengunjungi fasilitas kesehatan sehingga akan semakin sedikit pula
ketersediaanwaktudankesempatanuntukmelakukanpengobatan.21
Berdasarkanhasilanalisisbivariatmenunjukanbahwatidakadahubungan
yang signifikan antara status pekerjaan dengan kepatuhan dalam menjalani
pengobatanhipertensidiPuskesmasCurugdengannilaip=0,63Hasilpenelitian
juga menunjukan mayoritas responden adalah mereka yang tidak bekerja
(55.7%)dan44.3%lainyamemilikipekerjaan.

HasilpenelitianinidiperkuatdenganpenelitianyangdilakukanolehTisna
(2009)yangmenunjukanbahwatidakadahubunganantarapekerjaandengan
kepatuhan pengobatan pasien hipertensi dengan nilai p=0,908. Hal ini
dikarenakan baik dalam penelitian ini maupun penelitian Tisna (2009)
ditemukantidakadaperbedaankepatuhandalamberobatantararespondenyang
bekerjamaupuntidakbekerja.23
Bertentangandenganhasilpenelitianini,yaitupenelitianyangdilakukan
olehSuJinCho(2014)yangmenyatakanpekerjaanmemilikihubunganyang
signifikan dengan ketidakpatuhan penggunaan antihipertensi (p=0,006).17
Perbedaan hasil penelitian ini terjadi karena perbedaan jumlah sampel yang
cukup besar. Dimana dalam penelitian SuJin Cho mengikutsertakan 702
respondensedangkanpenelitianinimengikutsertakan88responden.Selainitu
perbedaanhasilpenelitianinijugadipengaruhiolehjenispekerjaansertadurasi
jam kerja yang berbeda. Dalam penelitian yang dilakukan oleh SuJin Cho
sebagianbesarrespondenbekerjadisektorformaldanterikatolehjamkerja,
sehingga kesempatan untuk datang ke fasilitas kesehatan menjadi terbatas,
sedangkandalampenelitianinimerekayangbekerjasebagianbesaradalahpada
sektornonformalsepertipetani/buruh,supir,danpedagangyangtidakterikat
jamkerja.17
Berdasarkan penelitian dilapangan, ditemukan bahwa dari 49 responden
yang tidak bekerja, sebanyak 10 responden (20.4%) patuh melakukan
pengobatan dan dari 39 responden yang bekerja 15 responden (38.5%) patuh
menjalani pengobtan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan
kepatuhan antara responden yang bekerja maupun tidak bekerja. Tidak adanya
perbedaan ini dikarenakan sebagian besar responden yang bekerja adalah
disektor non-formal yang tidak ditentukan batasan waktu kerja, sehingga
responden yang bekerjapun tetap memiliki kesempatan dan ketersediaan waktu
yang sama dengan responden yang tidak bekerja untuk melakukan pengobatan
hipertensi yang dijalaninya.
5.4. HubunganantaraKeikutsertaanAsuransiKesehatandenganKepatuhan
dalamMenjalaniPengobatanHipertensi

Asuransi kesehatan merupakan asuransi yang obyeknya adalah jiwa,


tujuan asuransi kesehatan adalah memperalihkan risiko biaya sakit dari
tertanggung (pemilik) kepada penanggung. Sehingga kewajiban penanggung
adalahmemberikanpelayanan(biaya)perawatankesehatankepadatertanggung
apabila sakit (UU No.40/2014).24 Ketersediaan atau keikutsertaan asuransi
kesehatan berperan sebagai faktor kepatuhan berobat pasien, dengan adanya
asuransikesehatandidapatkankemudahandarisegipembiayaansehinggalebih
patuhdibandingkandenganyangtidakmemilikiasuransikesehatan.Semakin
lamapengobatanyangharusdijalaniakansemakintinggipulabiayapengobatan
yangharusditanggungpasien,terutamapasienyangtidakmemilikiasuransi
kesehatan. Hal ini akan menimbulkan kecenderungan ketidakpatuhan pasien
dalampengobatanyangmerekajalani.25
Berdasarkan hasil analisis bivariat menunjukan bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara keikutsertaan asuransi kesehatan dengan
kepatuhandalammenjalanipengobatanhipertensidengannilaipvalue=0,283.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Timothy
L.Lashdkk(2006)dariDepartementofEpidemiologyBostonUniversitydimana
didapatkan banyak pasien yang tidak patuh melakukan pengobatan adalah
merekayangmemilikiasuransikesehatan.
Bertentangan dengan hasil penelitian ini, yaitu penelitian yang
dilakukan oleh SuJin Cho (2014) yang menyatakan bahwa jenis asuransi
(denganasuransikesehatandantanpaasuransikesehatan)berhubungandengan
ketidakpatuhan penggunaan antihipertensi di Rumah sakit Korean medical
panel.17 Dalam penelitianya sebanyak 91% responden memiliki asuransi
kesehatan,sedangkan9%tidakmemilikiasuransikesehatan.Perbedaanhasil
penelitian ini dapat disebabkan oleh perbedaan sampel dan perbedaan sosial
ekonominegara.DiIndonesiaasuransikesehatanmerupakanhalyangrelatif
baru bagi kebanyakan penduduk karena istilah asuransi/jaminan kesehatan
belum menjadi perbendaharaan umum, namun dalam penelitian SuJin Cho
mayoritasresponden(91%)sudahmemilikiasuransikesehatandansadarakan
manfaat penggunaanya, hal ini juga didukung dengan tingkat ekonomi serta

pengetahuan masyarakat yang lebih maju dibandingkan masyarakat di


Indonesia.17
Hasilpenelitianiniadalahtidakterdapathubunganantarakeikutsertaan
asuransikesehatandengankepatuhandalammenjalanipengobatanhipertensi,
Hal ini bisa terjadi karena walaupun pasien tidak memiliki asuransi pasien
masihdapatberobatdenganhargamurah(Rp.3000)Diketahuibahwafaktor
biayamemilikiperanyangpentinguntukmempengaruhikepatuhanpadapasien
hipertensi dalam melakukan pengobatan.26 Adanya keringanan dari segi
pembiayaan inilah yang memungkinkan pasien untuk tetap patuh menjalani
pengobatanya secara rutin meskipun tanpa adanya keikutsertaan asuransi
kesehatan.26
1.5 5.5.

Hubungan antara Pengetahuan tentang Hipertensi dengan

KepatuhandalamMenjalaniPengobatanHipertensi
Menurut WHO (2002) pengetahuan dapat diartikan sebagai kumpulan
informasiyangdipahami,diperolehdariprosesbelajarselamahidupdandapat
dipergunakansewaktuwaktusebagaialatpenyesuaiandiri,baikterhadapdiri
sendirimaupunlingkungan.Pengetahuantentangsuatuobjekdapatdiperoleh
dari pengalaman guru, orang tua, teman, buku dan media massa. Dapat
disimpulkandariteoritersebutbahwapengetahuanpenderitahipertensidapat
menjadiguruyangbaikbagidirinya,denganpengetahuanyangdimilikiakan
mempengaruhi kepatuhan penderita hipertensi tersebut dalam menjalani
pengobatan. Penderita yang mempunyai pengetahuan tinggi cenderung lebih
patuhberobatdaripadapenderitayangberpengetahuanrendah.21

Berdasarkan hasil analisis bivariat menunjukan bahwa ada hubungan


antara pengetahuan tentang hipertensi dengan kepatuhan dalam menjalani
pengobatanhipertensi(p=0,000).HalinisesuaidenganteoriLawrenceGreen
yang menyatakan bahwa perilaku patuh itu dipengaruhi oleh faktorfaktor
predisposisi,salahsatunyapengetahuanresponden.21

HasilpenelitianinidiperkuatolehpenelitianyangtelahdilakukanEkarini
(2011) yang menunjukan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan
kepatuhan berobat pada pasien hipertensi dengan (p=0,002). Dalam
penelitianyaEkarinimenyebutkanadanyahubunganantarapengetahuandengan
kepatuhan berobat ini dikarenakan adanya upaya yang telah dilakukan oleh
petugaskesehatandiantaranyadenganmensosialisasikanpentingnyamenjalani
pengobatanyangteraturbagiklienhipertensi,penyuluhankesehatanmengenai
penyakithipertensi,pemberianbrosurtentangpenyakithipertensi.Halinisecara
tidak langsung mampu meningkatkan pengetahuan klien hipertensi sehingga
memotivasiklienhipertensiuntukmenjalanipengobatansecarateratur.
Menurut penelitian dilapangan, ditemukan bahwa responden yang
memiliki tingkat pengetahuan rendah 86,5% tidak patuh dalam menjalani
pengobatanyasedangkanhanya50%respondenyangberpendidikantinggisaja
yang tidak patuh. Hal tersebut dikarenakan responden yang berpengetahuan
tinggi tentang hipertensi lebih memahami penyakit yang diderita serta tahu
bagaimanapengobatanhipertensiyangbenardanbahayanyaapabilatidakrutin
kontroltekanandarahsehinggalebihpatuhdalammelakukanpengobatandan
mematuhianjurandokteruntukmeminumobatsecararutin.

5.6. Hubungan antara Peran Tenaga Kesehatan dengan Kepatuhan dalam


MenjalaniPengobatanHipertensi
Menurut teori Lawrence Green faktor yang berhubungan dengan
perilaku kepatuhan berobat diantaranya ada faktor yang memperkuat atau
mendorong (reinforcing factor ) yaitu berupa sikap atau perilaku petugas
kesehatanyangmendukungpenderitauntukpatuhberobat. 21 Teoriinisesuai
denganhasilpenelitianyangmenunjukanbahwaadahubunganantaraperan
petugaskesehatandengankepatuhandalammenjalanipengobatanhipertensi
dengannilaip=0,045.
HasilpenelitianinididukungolehViolita(2015)yangmenyatakanada
hubunganantaradukunganpetugaskesehatandengankepatuhanminumobat

antihipertensi (p=0,025). Hal ini karena baik dalam penelitian ini maupun
penelitian yang dilakukan oleh Violita menunjukan responden dengan peran
pertugas kesehatan yang baik ditemukan lebih tinggi dibandingkan dengan
peranpetugaskesehatanyangkurang.Dukungandaripetugaskesehatanyang
baikinilahyangmenjadiacuanataureferensiuntukmempengaruhiperilaku
kepatuhanresponden.27
Berdasarkan hasil penelitian dilapangan ada hubungan antara peran
tenaga kesehatan dengan kepatuhan dalam menjalani pengobatan karena 32
respondenyangmemilikiperandaritenagakesehatanyangrendah15,6%patuh
dalam menjalani pengobatan, dan 27 responden lainnya 84,4% tidak patuh
menjalanipengobatanhipertensi.Selainitudari56respondenyangmenyatakan
peranpetugaskesehatantinggi64,3%diantaranyatidakpatuhsedangkan35,7%
diantaranya patuh dalam menjalani pengobatan. Sehingga dapat disimpulkan
peran tenaga kesehatan dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan dalam
menjalani pengobatan. Hal ini terjadi karena sebagian besar responden
menyatakanadanyapelayananyangbaikdaripetugaskesehatanyangmereka
terima,pelayananyangbaikinilahyangmenyebabkanperilakupositifnamun
masih ada faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat pengobatan, seperti
contohnya 55% responden yang menyatakan tingkat tenaga kesehatan tinggi
merupakanrespondenyangmemilikitingkatpengetahuanrendahyangdimana
memilikihubungansignifikanterhadaptingkatkepatuhanberobatsehinggahal
ini dapat menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat pengaruh tenaga kerja
kesehatanterhadapkapatuhanberobat.27
Perilaku petugas yang ramah dan segera mengobati pasien tanpa
menunggu lamalama, serta penderita diberi penjelasan tentang obat yang
diberikandanpentingnyaminumobatsecarateraturmerupakansebuahbentuk
dukungan dari tenaga kesehatan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku
kepatuhanpasien.27
BAB VI
Kesimpulan dan Saran

6.1. Simpulan
Berdasarkan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan
kepatuhan penderita hipertensi dalam menjalani pengobatan di Puskesmas
Curug, Kota Tangerang didapatkan hasil sebagai berikut :
Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kepatuhan dalam
menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Curug (p value

= 0.376)
Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan dalam
menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Curug (p value

= 0.001)
Tidak ada hubungan antara status pekerjaan dengan kepatuhan dalam
menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Curug. (p value

= 0.63)
Tidak ada hubungan antara keikutsertaan asuransi kesehatan dengan
kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di

Puskesmas Curug (p value = 0.283)


Ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang hipertensi dengan
kepatuhan dalam menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di
Puskesmas Curug (p value = 0.000)

Adanya hubungan antara peran petugas kesehatan dengan kepatuhan dalam


menjalani pengobatan pada pasien hipertensi di Puskesmas Curug.(pvalue
=0.045)

6.2. Saran
6.2.1. BagiPenderitaHipertensi
Diharapkan penderita hipertensi agar teratur melakukan kontrol
tekanan darah sesuai dengan anjuran dokter sehingga dapat

meminimalisir kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi.


Diharapkan penderita hipertensi untuk menjalankan pola hidup yang
sehat seperti menghentikan kebiasaan merokok, menghindari stress dan

mematuhi diet hipertensi untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.


Diharapkan penderita hipertensi meningkatkan pengetahuan mengenai
hipertensi salah satunya dengan cara banyak membaca dan mengikuti

penyuluhan hipertensi yang dilaksanakan fasilitas kesehatan setempat.


6.2.2. BagiInstasiTerkait
Menyediakan media berisi informasi mengenai tatalaksana hipertensi
diruang pemeriksaan agar dapat menambah pengetahuan masyarakat

mengenai penyakit hipertensi.


Memberikan pendidikan kesehatan serta penyuluhan kepada penderita

hipertensi di Puskesmas Curug dan pendidikan kesehatan tersebut.


Memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan

kemampuan mengobati dan edukasi penderita hipertensi.


Menyediakan sarana klinik hipertensi bagi penderita hipertensi.

DAFTAR PUSTAKA
1. The JNC 8 Hypertension GuidelinesThe JNC 8 Hypertension Guidelines.
JAMA.2014;290(10):1312.

2. Riskesdas [Internet].riskesdas.2007[cited13July2016].Availablefrom:
https://www.k4health.org/sites/default/files/laporanNasional%20Riskesdas
%202007.pdf
3. AmericanHeartAssociation(AHA)[Internet].AmericanHeartAssociation
(AHA). 2016 [cited 13 July 2006]. Available from: http://American Heart
Association(AHA)
4. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20926/3/Chapter%20III
V.pdf.2016[cited13July2016].
5. https://www.cdc.gov/primarycare/materials/medication/docs/medication
adherence01ccd.pdf[Internet].
6. [Internet]. http://oaji.net/articles/2015/8201432777458.pdf. 2016 [cited 22
July2016].
7. UUD

RI

No.

20

tahun

20[Internet].

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24506542.2016
8. Notoatmodjo, Soekidjo, 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka
Cipta,Jakarta.UNES
9. http://c.ymcdn.com/sites/www.aparx.org/resource/resmgr/CEs/CE_Hypertensi
on_The_Silent_K.pdf.2016.Availablefrom:
10. ViolitaFajrin,2015, Faktor yangBerhubungandenganKepatuhanMinum
ObatHipertensidiWilayahKerjaPuskesmasSegeri,UniversitasHasanuddin
11. ttp://www.nmhs.net/documents/27JNC8HTNGuidelinesBookBooklet.pdf.
2016
12. DIREKTORAT BINA FARMASI KOMUNITAS DAN KLINIK DITJEN
BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN DEPARTEMEN
KESEHATAN2006
13. http://csc.cma.org.cn/attachment/2014315/1394884955972.pdf.
2016Availablefrom:http://csc.cma.org.cn/attachment/2014315/139488495597
2.pdf
14. Cho, SuJin, Jinhyun Kim, Factors Associated With Nonadherence to
AntihypertensiveMedication,Vol16,Tahun2014,Hal461467.
15. Departemen Kesehatan RI, 2013, Pedoman Teknis Penemuan dan
Tatalaksana PenyakitHipertensi,Jakarta: Direktoratpengendalian penyakit
tidakmenular.
16. Alphonce,Angelina,2012, FactorsAfectingTreatmentComplianceAmong
HypertensionPatientsInThreeDistrictHospitalDarEsSalaam,Disertasi:
UniversitasMuhimbili.
17. Hairunisa,2014,HubunganTingkatKepatuhanMinumObatdanDietdengan

Tekanan Darah Terkontrol pada Penderita Hipertensi Lansia di Wilayah


KerjaPuskesmasPerumnasIKecamatanPontianakBarat,diaksespada4
April2015(http://jurnal.untan.ac.id)
18. Notoatmodjo, Soekidjo, 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka
Cipta,Jakarta.
19. AWawandanDewiM,2010,TeoridanPengukuranPengetahuan,Sikapdan
PerilakuManusia,NuhaMedika,Yogyakarta.
20. Tisna, Nandang, 2009, Faktorfaktor yang Berhungan dengan Tingkat
KepatuhanPasiendalamMinumObatAntihipertensidiPuskesmasPamulang
Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten Tahun 2009, Universitas Islam
NegeriSyarifHidayatullah
21. UU RI No.40 tahun 2014, Undangundang Republik Indonesi Nomor 40
Tahun2014tentangPerasuransian,
22. Djuhaeni,Henni,2007, AsuransiKesehatandanManagedCare,Universitas
Padjadjaran,Bandung
23. Pujiyanto, 2008, Faktor Sosio Ekonomi yang Mempengaruhi Kepatuhan
MinumObatAntihipertensi,Vol.3,No.3,Desember2008Hal139144
24. ViolitaFajrin,2015, Faktor yangBerhubungandenganKepatuhanMinum
ObatHipertensidiWilayahKerjaPuskesmasSegeri,UniversitasHasanuddin

DAFTARISI
BABI.............................................................................................................................1
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1.

LatarBelakang................................................................................................1

1.2.

RumusanMasalah...........................................................................................2

1.2.1.

RumusanMasalahUmum........................................................................2

1.2.2.

RumusanMasalahKhusus.......................................................................2

1.3.

TujuanPenelitian.............................................................................................2

1.3.1.

TujuanUmum..........................................................................................2

1.3.2.

TujuanKhusus.........................................................................................2

1.4.

ManfaatPenelitian...........................................................................................2

1.4.1.

ManfaatbagiPeneliti...............................................................................2

1.4.2.

ManfaatbagiPuskesmas..........................................................................2

1.4.3.

ManfaatbagiUniversitas.........................................................................2

1.4.4.

ManfaatbagiMasyarakat.........................................................................2

1.5.

RuangLingkupPenelitian...............................................................................2

1.5.1.

RuangLingkupTempat...........................................................................2

1.5.2.

RuangLingkupWaktu.............................................................................2

1.5.3.

RuangLingkupMateri.............................................................................2

BABII...........................................................................................................................2
2.1.

Hipertensi........................................................................................................2

2.1.1.

Definisi.....................................................................................................2

2.1.2.

Klasifikasi................................................................................................2

2.1.3.

Patofisiologi.............................................................................................2

Gambar2.1PatofisiologiHipertensi......................................................................2
2.1.4.

GejaladanTandaKlinis...........................................................................2

2.1.5.

Diagnosis..................................................................................................2

2.1.6.

Tatalaksana...............................................................................................2

2.1.6.1.

Nonfarmakologis..............................................................................2

Tabel2.2ModifikasiGayaHidupuntukHipertensi..............................................2
2.1.6.2.

Farmakologis........................................................................................2

2.2.

KepatuhanMinumobat...................................................................................2

2.2.1.

PengertianKepatuhanMinumObat.........................................................2

2.2.2.

FaktorfaktoryangMempengaruhiKepatuhanMinumObat................2

2.2.2.1.

JenisKelamin.......................................................................................2

2.2.2.2.

TingkatPendidikanTerakhir................................................................2

2.2.2.3.

StatusPekerjaan...................................................................................2

2.2.2.4.

KeikutsertaanAsuransiKesehatan.......................................................2

2.2.2.5.

TingkatPengetahuanTentangHipertensi............................................2

2.2.2.6.

PeranTenagaKesehatan......................................................................2

2.2.3.

PengukuranTingkatKepatuhan...............................................................2

BABIII..........................................................................................................................2
MetodePenelitian.........................................................................................................2
3.1.

KerangkaTeori................................................................................................2

3.2.

KerangkaKonsep............................................................................................2

3.3.

HipotesisPenelitian.........................................................................................2

3.4.

DefinisiOperasional........................................................................................2

3.5.

JenisdanRancanganPenelitian......................................................................2

3.6.

TempatdanWaktuPenelitian.........................................................................2

3.7.

SumberPengambilanData..............................................................................2

3.7.1.

DataPrimer..............................................................................................2

3.8.

KriteriaSampel................................................................................................2

3.9.

JumlahSampel................................................................................................2

3.10.

InstrumenPenelitian....................................................................................2

3.10.1.

Kuisioner..............................................................................................2

3.10.2.

Dokumentasi.........................................................................................2

3.11.

TeknikPengambilanSampel.......................................................................2

3.12.

PengumpulanData.......................................................................................2

3.13.

AlurPenelitian.............................................................................................2

3.14.

TeknikPengolahandanAnalisisData.........................................................2

3.14.1.

TeknikPengolahanData......................................................................2

3.14.2.

TeknikAnalisisData............................................................................2

3.14.2.1.

AnalisisUnivariat.............................................................................2

3.14.2.2.

AnalisisBivariat...............................................................................2

3.15.

PermasalahanEtik.......................................................................................2

BABIV..........................................................................................................................2
HasilPenelitian.............................................................................................................2
1.2

Gambaranumumwilayahpenelitian...............................................................2

Tabel4.1:JumlahRTdanRWberdasarkanDesaKecamatanCurugTahun2015
................................................................................................................................2
Gambar4.1:LokasiKecamatanCurugdalamKabupatenTangerang..................2
1.3

Visi..................................................................................................................2

1.4

Misi..................................................................................................................2

4.1

Demografi........................................................................................................2

Tabel4.2:JumlahKepadatanPendudukKecamatanCurugtahun2015..............2
Tabel4.3:KlasifikasiPendudukmenurutUmurdanJenisKelamin....................2
4.2

Sosial,Budaya,danEkonomi..........................................................................2

Gambar4.2:TingkatPendidikanPendudukPuskesmasCurugTahun2014.......2
4.3

SaranadanTenagaKerja.................................................................................2

4.6.1

Pembiayaan..............................................................................................2

4.6.2

Ketenagaan...............................................................................................2

4.6.3

SaranaPrasarana......................................................................................2

4.7.

HasilPenelitian................................................................................................2

4.7.1.

AnalisisUnivariat....................................................................................2

4.7.1.1.

DistribusiRespondenMenurutTingkatKepatuhan.............................2

4.7.1.2.

DistribusiRespondenMenurutJenisKelamin.....................................2

4.7.1.3.

DistribusiRespondenMenurutTingkatPendidikanTerakhir.............2

Tabel4.6:DistribusiTingkatPendidikanTerakhir..............................................2
4.7.1.4.

DistribusiRespondenMenurutStatusPekerjaan.................................2

Tabel4.7DistribusiRespondenMenurutStatusPekerjaannya.............................2
4.7.1.5.

DistribusiRespondenMenurutKeikutsertaanAsuransiKesehatan.....2

Tabel4.8DistribusiRespondenMenurutKeikutsertaanAsuransiKesehatan......2
4.7.1.6.

DistribusiRespondenMenurutTingkatPengetahuanTentang

Hipertensi 2
4.7.1.7.
4.7.2.
4.7.2.1.

DistribusiRespondenMenurutPeranTugasKesehatan......................2
AnalisisBivariat.......................................................................................2
HubunganantaraJenisKelamindenganKepatuhandalamMenjalani

PengobatanHipertensi...........................................................................................2
Tabel4.11HubunganJenisKelamindenganTingkatKepatuhan.........................2
4.7.2.2.

HubunganantaraTingkatPendidikanTerakhirdenganKepatuhan

dalamMenjalaniPengobatanHipertensi...............................................................2
Tabel4.12HubunganTingkatPendidikanTerakhirdenganTingkatKepatuhan. 2
4.7.2.3.

HubunganantarastatusPekerjaandenganKepatuhandalam

MenjalaniPengobatanHipertensi..........................................................................2
Tabel4.13HubunganStatusPekerjaanDenganTingkatKepatuhan....................2
4.7.2.4.

HubunganantaraKeikutsertaanAsuransiKesehatandengan

KepatuhandalamMenjalaniPengobatanHipertensi.............................................2
Tabel4.14HubunganKeikutsertaanAsuransiKesehatanDenganTingkat
Kepatuhan..............................................................................................................2

4.7.2.5.

HubunganantaraTingkatPengetahuantentangHipertensidengan

KepatuhandalamMenjalaniPengobatanHipertensi.............................................2
Tabel4.15HubunganTingkatPengetahuanTentangHipertensiDenganTingkat
Kepatuhan..............................................................................................................2
4.7.2.6.

HubunganantaraPeranPetugasKesehatandenganKepatuhandalam

MenjalaniPengobatanHipertensi..........................................................................2
Table4.16HubunganPeranPetugasKesehatanDenganTingkatKepatuhan......2
BABV............................................................................................................................2
PEMBAHASAN...........................................................................................................2
5.1.

HubunganantaraJenisKelamindanPengobatanHipertensi..........................2

5.2.

HubunganantaraTingkatPendidikanTerakhirdenganKepatuhandalam

MenjalaniPengobatanHipertensi..............................................................................2
5.3.

HubunganantaraStatusPekerjaandenganKepatuhanMenjalaniPengobatan

Hipertensi...................................................................................................................2
5.4.

HubunganantaraKeikutsertaanAsuransiKesehatandenganKepatuhan

dalamMenjalaniPengobatanHipertensi...................................................................2
1.5

5.5.HubunganantaraPengetahuantentangHipertensidengan

KepatuhandalamMenjalaniPengobatanHipertensi..................................................2
5.6.

HubunganantaraPeranTenagaKesehatandenganKepatuhandalam

MenjalaniPengobatanHipertensi..............................................................................2
BABVI..........................................................................................................................2
KesimpulandanSaran................................................................................................2
6.1.

Simpulan..........................................................................................................2

6.2.

Saran................................................................................................................2

6.2.1.

BagiPenderitaHipertensi........................................................................2

6.2.2.

BagiInstasiTerkait..................................................................................2

DAFTARPUSTAKA...................................................................................................2

LAMPIRAN1,2