Vous êtes sur la page 1sur 2

Antara Aku dan Ibu

Banda Aceh, 2 Desember 2011


Menjumpai Ibu tercinta
Di Istana bahagia, Rumah Kita
Assalamualaikum...
Salam sepenuh cinta untukmu, Ibu. Diiringi sebait doa semoga engkau selalu
dalam keadaan sehat wal-afiat dan senantiasa dalam lindungan Allah. Alhamdulillah
kabar ananda sehat dan baik-baik saja, dan InsyaAllah akan selalu baik-baik saja
dengan limpahan doamu yang tak henti mengalir untukku.
Ibu, malam ini aku mengenangmu dengan segenap rindu. Tiga purnama kita
tidak bertemu, setelah libur lebaran yang begitu singkat. Waktu seminggu tidak
cukup untuk berbagi cerita, apalagi melepas rindu yang berbulan-bulan mendera.
Aku selalu ingin tahu, sedalam apakah ibu merindukanku? Tentu saja lebih dalam
daripada rinduku padamu. Lalu, bagaimana perasaan Ibu merelakan putri bungsumu
hidup berjauhan darimu?
Telah tujuh tahun berlalu, semenjak aku pergi meninggalkan rumah untuk
mengejar impianku. Impian yang tidak sepenuhnya engkau pahami, tapi berusaha
engkau mengerti. Seperti layaknya semua Ibu di dunia, engkau mengharapkan
anakmu sukses dan bahagia. Konsep sukses dan bahagiamu begitu sederhana.
Sayangnya aku terlanjur tinggi menjulangkan menara impian. Maafkan aku Ibu, saat
itu aku mengecewakanmu dengan pilihanku yang melawan arus. Kekecewaan yang
engkau samarkan. Aku tahu, engkau menginginkanku menjadi guru, agar kelak bisa
mengabdi di sekolah di kampung kita. Sedangkan aku ingin menjadi ilmuan, yang
menghabiskan hari-hari dengan penelitian di laboratorium. Tetapi akhirnya aku
terpukau pada aktivitas bursa efek yang membelotkan pilihanku dan memilih kuliah
di Ekonomi. Ini memang tak mudah dipahami. Aku, seorang anak petani kampung
punya mimpi bekerja di bursa efek. Meski pilihanku tidak mengenakkan di hati
banyak orang, engkau memberikan dukungan moril yang luar biasa. Lambaian
tanganmu di depan pintu melepas kepergianku selalu kukenang. Hari itu, Medio
Agustus 2004, untuk pertama kalinya aku pergi jauh dari rumah. Meninggalkanmu,
sesuatu yang luput dari pemikiranku, dan harus kujalani entah sampai berapa lama.
Aku tak mampu melukiskanmu dalam banyak kata, Ibu. Engkau wanita luar
biasa. Engkau membesarkanku dan keenam saudaraku dengan cinta kasih tak
terkira. Betapa seringnya aku melukai hatimu, tak mengindahkan kata-katamu.
Padahal semua ucapanmu adalah untuk kebaikanku. Alih-alih turun ke dapur
membantumu memasak, aku malah melewatkan waktu seharian di depan TV. Dan,
ketika engkau mulai menasihati dengan setengah mengomel, aku bergegas masuk
ke kamar sambil membanting pintu. Dilain waktu engkau memintaku membantumu
di sawah sepulang sekolah. Sawah merupakan tempat mengasyikkan di masa
kecilku, tapi tidak saat aku menginjak remaja. Aku sering menolak melakukannya,
dengan dalih banyak tugas dan PR, atau ada janji belajar bersama di rumah teman.
Padahal aku asyik membaca majalah atau menonton TV. Duh, tak terhitung tak
terhingganya dosaku padamu, Ibu. Aku tak tahu berapa banyak air matamu yang
tumpah untukku, atau berapa banyak luka yang tergores di hatimu karena ulahku.
Satu hal yang kutahu pasti, engkau kan selalu memaafkanku.
Kini, kala aku hidup berjauhan darimu, sangat terasa kehilanganmu.
Diperantauan aku dituntut mandiri, tidak ada tempat bergantung dan berharap. Tidak
ada yang membuatkan sarapan, memasak, dan menyiapkan semua keperluanku.

semua harus kuusahakan sendiri. Paling sedih saat Ramadhan. Aku harus berjuang
bangun sahur sendirian. Betapa besar arti kehadiranmu, Bu. Tak terbayang
bagaimana sedih tak terperinya mereka yang telah kehilangan ibunya.
Alhamdulillah, Bu, berkat doamu kini aku telah mencapai beberapa mimpiku.
Baru beberapa, bahkan belum setengah dari menaranya. Kini aku punya pekerjaan
yang lumayan mapan meski bukan di bursa efek. Aku bahagia dengan hidupku, Bu.
Ini adalah jalan hidup yang kupilih. Terimakasih Ibu telah mengerti, dan menjadi
orang pertama yang mendukungku. Tujuan hidupku adalah membuatmu bahagia.
Namun ternyata tidak segampang itu mewujudkannya. Harus melalui jalan berliku
dan pengorbanan yang tidak sedikit. Tanpa kita sadari, dunia ini berputar dengan
caranya sendiri. Engkau telah mengorbankan kebahagiaanmu demi kebahagiaanku.
Sekarang kukembalikan lagi kebahagiaan itu padamu. Aku menyadari sepenuhnya
kebahagiaan kita tak kan sempurna, karena kita tidak setiap saat bisa berkumpul
bersama. Pada titik ini aku memahami arti konsep bahagiamu yang sederhana.
Tersenyumlah, Ibu. Beristirahatlah, lepaskan penat yang membelenggumu.
Engkau tidak perlu bekerja terlalu keras lagi. Tinggalkan sawah, percayakan orang
lain untuk mengurusnya. Miris hati ini, Ibu. Anakmu bekerja dalam sejuknya ruangan
ber AC, sementara dirimu seharian berpeluh dipanggang matahari. Dunia sedang
mengejekku, Bu. Menertawakan kontrasnya kehidupan kita. Ayolah Ibu, istirahatlah
di rumah. Aku mengerti engkau mencintai pekerjaanmu yang puluhan tahun engkau
geluti. Tapi tolonglah Bu, berikan kami kesempatan membahagiakanmu. Berilah aku
peluang menebus semua kesalahanku dulu. Izinkan aku mengusap peluhmu,
menyeka airmatamu. Beristirahatlah, Ibu. Kumohon.
Ibu, kutulis surat ini dengan sepenuh cinta dan selaksa rindu yang
membuncah di dada. Aku ingin pulang. Menghambur ke pelukanmu, mendekap
hangatnya kasihmu. Aku menyayangimu, Ibu. Aku mencintaimu. Aku selalu ingin
membahagiakanmu. Lebih di atas itu semua, aku bersyukur menjadi anakmu.
Wassalam
Dengan sepenuh cinta
Anandamu yang jauh di mata.