Vous êtes sur la page 1sur 12

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN ASFIKSIA NEONATRUM

OLEH:
EVA ROSEANA PUTRI
1202106060

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2016
A. KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Pengertian
Asfiksia adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur pada
saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan
keadaan PaO2 di dalam darah rendah (hipoksemia), hiperkarbia (Pa
CO2 meningkat) dan asidosis (Utomo, 2012).
Asfiksia neonatrum adalah keadaan di mana bayi tidak dapat bernafas
secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini disertai
dengan keadaan hipoksia, hiperkapnea dan berakhir dengan asidosis
(Jumiarni dkk, 2005).
2. Epidemiologi
World Health Organization, dalam laporannya menjelaskan
bahwa asfiksia neonatus merupakan urutan pertama penyebab
kematian neonatus di negara berkembang pada tahun 2007 yaitu
sebesar 21,1%, setelah itu pneumonia dan tetanus neonatorum masingmasing sebesar 19,0% dan 14,1%. Dilaporkan kematian neonatal
adalah asfiksia neonatus (33%), prematuritas (10%), BBLR (19%). Di
negara maju, asfiksia menyebabkan kematian neonatus 8-35%. Di
daerah pedesaan Indonesia 31-56,5%
Menurut laporan kelompok kerja World Health Organization,
dari 8 juta kematian bayi di dunia, 48% adalah kematian neonatal. Dari
seluruh kematian 7 hari pertama neonatal, sekitar 60% merupakan
kematian bayi umur disebabkan oleh gangguan perinatal yang salah
satunya adalah asfiksia. Insidensi asfiksia pada menit 1= 47/1000 lahir
hidup dan pada menit 5= 15,7/1000 lahir hidup (Saifuddin, 2003).

3. Etiologi
Pengolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri
dari (Jumiarni dkk, 2005) :
1. Faktor Ibu
a. Hipoksia ibu

Terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika


atau anestesia dalam hal ini akan menimbulkan hipoksia janin.
b. Gangguan aliran darah uterus
Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan
berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan kejanin. Hal ini
sering ditemukan pada :
- Ganguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau
tetani uterus akibat penyakit atau obat
- Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan
- Hipertensi pada penyakit akiomsia dan lain-lain.
2. Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan
kondisi plasenta. Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan
mendadak pada plasenta, misalnya solusio plasenta, perdarahan
plasenta dan lain-lain.
3. Faktor fetus
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah
dalam pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas
antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan
pada keadaan : tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher
kompresi tali pusat antar janin dan jalan lahir dan lain-lain.
4. Faktor Neonatus
Depresi pusat pernapasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena:
- Pemakaian obat anestesia/analgetika yang berlebihan pada ibu
secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan
janin.
- Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya perdarah
intrakranial
- Kelainan konginental pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika
atresia/stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.
4. Patofisiologi
Bayi baru lahir akan melakukan usaha untuk menghirup udara
ke dalam paru-parunya yang mengakibatkan cairan paru keluar dari
alveoli ke jaringan insterstitial di paru sehingga oksigen dapat

dihantarkan

ke

arteriol

pulmonal

dan

menyebabkan

arteriol

berelaksasi. Jika keadaan ini terganggu maka arteriol pulmonal akan


tetap kontriksi, alveoli tetap terisi cairan dan pembuluh darah arteri
sistemik tidak mendapat oksigen (Radityo, 2011).
Pada saat pasokan oksigen berkurang, akan terjadi konstriksi
arteriol pada organ seperti usus, ginjal, otot dan kulit, namun demikian
aliran darah ke jantung dan otak tetap stabil atau meningkat untuk
mempertahankan pasokan oksigen. Penyesuaian distribusi aliran darah
akan menolong kelangsungan fungsi organ-organ vital. Walaupun
demikian jika kekurangan oksigen berlangsung terus maka terjadi
kegagalan fungsi miokardium dan kegagalan peningkatan curah
jantung, penurunan tekanan darah, yang mengkibatkan aliran darah ke
seluruh organ akan berkurang. Sebagai akibat dari kekurangan perfusi
oksigen dan oksigenasi jaringan, akan menimbulkan kerusakan
jaringan otak yang irreversible, kerusakan organ tubuh lain, atau
kematian. Keadaan bayi yang membahayakan akan memperlihatkan
satu atau lebih tanda-tanda klinik (Radityo, 2011).
5. Klasifikasi
Klasifikasi asfiksia berdasarkan nilai APGAR (Radityo, 2011).:
a. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen
terkendali. Karena selalu disertai asidosis, maka perlu diberikan
natrikus bikarbonat 7,5% dengan dosis 2,4 ml per kg berat badan,
dan cairan glucose 40%1-2 ml/kg berat badan, diberikan via vena
umbilikalis.
b. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat
bernafas kembali
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10
6. Gejala Klinis

Gejala asfiksia neonatrum yang khas antara lain meliputi


pernafasan cepat, pernafasan cuping hidung, sianosis dan nadi cepat
(Jumiarni dkk, 2005).
a. Menurut Winkjosastro (2009), tanda dan gejala asfiksia yaitu:
1) Hipoksia
2) Respirasi > 60 x/mnt atau < 30 x/mnt
3) Napas megap-megap/gasping sampai dapat terjadi henti napas
4) Bradikardia
5) Tonus otot berkurang
6) Warna kulit sianotik/pucat
b. Menurut Waspodo dkk (2007), tanda dan gejala asfiksia adalah:
1) Tidak bernapas atau napas megap-megap atau pernapasan
lambat (kurang dari 30 kali per menit)
2) Pernapasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi (pelekukan
dada)
3) Tangisan lemah atau merintih
4) Warna kulit pucat atau biru
5) Tonus otot lemas atau ekstremitas lemah
6) Denyut jantung tidak ada atau lambat (bradikardi) (kurang dari
100 kali per menit).
7. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan pemantauan nilai apgar pada menit ke-1 dan menit ke-5,
bila nilai apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap
5 menit sampai skor mencapai 7. Nilai Apgar berguna untuk menilai
keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan menentukan prognosis,
bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik
setelah lahir bila bayi tidak menangis. (bukan 1 menit seperti penilaian
skor Apgar) (Utomo, 2012).
Tabel 1. Penilaian APGAR
Klinis
Detak jantung
Pernafasan

0
Tidak ada
Tidak ada

1
<100x/menit
Tidak teratur

2
>100x/menit
Teratur

Refleks

Tidak ada

Lemah/lambat

Kuat

(menangis)
Tonus otot
Warna Kulit

Tidak ada
Biru pucat

Sedikit fleksi
Tubuh merah

Fleksi kuat
Merah seluruh

ekstremitas biru

tubuh

a)
b)
c)
d)

Cairan amnion tercemar mekonium


Kulit bayi diliputi mekonium, sianosis
Tali pusat dan kulit bayi berwarna hijau kekuningan
Gangguan napas (merintih, sianosis, napas cuping hidung,

retraksi, takipnue)
e) Biasanya disertai tanda bayi lebih bulan
f) Kepala
Inspeksi : Bentuk kepala bukit, fontanela mayor dan minor masih
cekung, sutura belum menutup dan kelihatan masih bergerak
g) Mata
Pada pupil terjadi miosis saat diberikan cahaya

h) Hidung
Yang paling sering didapatkan adalah didapatkan adanya
pernafasan cuping hidung.
i) Dada
Pada dada biasanya ditemukan pernafasan yang irregular dan
frekwensi pernafasan yang cepat
j) Neurology/reflek
Reflek Morrow : Kaget bila dikejutkan (tangan menggenggam)
8. Pemeriksaan Diagnostik
a. Analisa gas darah (PH kurang dari 7,35)
b. Elektrolit darah
c. Gula darah
d. Baby gram (RO dada)
e. USG (Kepala)

f. Penilaian APGAR score (Warna kulit, frekuensi jantung, usaha


nafas, tonus otot dan reflek)
g. Pemeriksaan EGC dan CT- Scan jika sudah timbul komplikasi
h. Pengkajian spesifik
9. Diagnosis
Menurut Wiknjosastro (2005) diagnosis asfiksia adalah sebagai
berikut :
a. DJJ
Keadaan di mana denyut jantung janin frekuensi turun sampai di
bawah 100/menit di luar his, atau denyut jantung tidak teratur
elektro kardiogram janin digunakan untuk terus menerus
mengawasi jantung janin.

b. Mekonium dalam air ketuban


Terdapatnya mekonium pada presentasi kepala, menunjukkan
gangguan oksigenasi, dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri
persalinan.
c. Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskop diambil contoh darah janin,
adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Bila pH turun sampai
di bawah 7,2 merupakan tanda bahaya bagi janin.
10. Komplikasi
Komplikasi dari asfiksia neonatrum adalah sebagai berikut
(Wahyudi, 2003):
-

Otak : hipoksia iskemik ensefalopati, edema serebri

Jantung dan paru : disfungsi miokard dan penurunan kontraktilitas


miokard, syok kardiogenik, gagal jantung, hipertensi pulmonal
persisten dan perdarahan paru

Gastrointestinal : enterokolitis nekrotikans

Ginjal : tubular nekrosis akut, gagal ginjal akut

Hematologi : DIC

11. Penatalaksanaan
Langkah Awal Resusitasi (Radityo, 2011) :
Pada pemeriksaan atau penilaian awal dilakukan dengan menjawab 4
pertanyaan:
1) Apakah bayi cukup bulan?
2) Apakah air ketuban jernih?
3) Apakah bayi bernapas atau menangis?
4) Apakah tonus otot bayi baik atau kuat?
Bila terdapat jawaban tidak dari salah satu pertanyaan di atas maka
bayi memerlukan satu atau beberapa tindakan resusitasi berikut ini
secara berurutan.
Langkah awal dalam stabilisasi
a) Memberikan kehangatan
Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas (radiant
warmer) dalam keadaan telanjang agar panas dapat mencapai
tubuh bayi dan memudahkan eksplorasi seluruh tubuh.
b) Memposisikan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya
Bayi diletakkan telentang dengan leher sedikit tengadah dalam
posisi menghidu agar posisi farings, larings dan trakea dalam
satu garis lurus yang akan mempermudah masuknya udara.
Posisi ini adalah posisi terbaik untuk melakukan ventilasi
dengan balon dan sungkup dan/atau untuk pemasangan pipa
endotrakeal
c) Membersihkan jalan napas sesuai keperluan

Aspirasi mekonium saat proses persalinan dapat menyebabkan


pneumonia aspirasi. Salah satu pendekatan obstetrik yang
digunakan untuk mencegah aspirasi adalah dengan melakukan
penghisapan mekonium sebelum lahirnya bahu (intrapartum
suctioning) (Wiswell TE, 2000).
Bila terdapat mekonium dalam cairan amnion dan bayi tidak
bugar (bayi mengalami depresi pernapasan, tonus otot kurang
dan frekuensi jantung kurang dari 100x/menit) segera
dilakukan penghisapan trakea sebelum timbul pernapasan
untuk mencegah sindrom aspirasi mekonium. Penghisapan
trakea meliputi langkah-langkah pemasangan laringoskop dan
selang endotrakeal ke dalam trakea, kemudian dengan kateter
penghisap dilakukan pembersihan daerah mulut, faring dan
trakea sampai glottis.
d) Mengeringkan bayi, merangsang pernapasan dan meletakkan
pada posisi yang benar.
Bila setelah posisi yang benar, penghisapan sekret dan
pengeringan,

bayi

belum

bernapas

adekuat,

maka

perangsangan taktil dapat dilakukan dengan menepuk atau


menyentil telapak kaki, atau dengan menggosok punggung,
tubuh atau ekstremitas bayi.
e) Ventilasi tekanan positif
f) Kompresi dada
g) Pemberian epinefrin dan atau pengembang volume (volume
expander)
Keputusan untuk melanjutkan dari satu kategori ke kategori
berikutnya ditentukan dengan penilaian 3 tanda vital secara simultan
(pernapasan, frekuensi jantung dan warna kulit). Waktu untuk setiap
langkah adalah sekitar 30 detik, lalu nilai kembali, dan putuskan
untuk melanjutkan ke langkah berikutnya. Bila tidak ada upaya
bernapas dan denyut jantung setelah 10 menit, setelah usaha resusitasi

yang menyeluruh dan adekuat dan penyebab lain telah disingkirkan,


maka resusitasi dapat dihentikan.
Menurut (Wiknjosastro, 2009) penatalaksanaan umum bayi
baru lahir dengan asfiksia adalah sebagai berikut :
1) Pengawasan suhu
Bayi baru lahir secara relatif kehilangan panas yang diikuti oleh
penurunan suhu tubuh, sehingga dapat mempertinggi metabolisme
sel jaringan sehingga kebutuhan oksigen meningkat, perlu
diperhatikan untuk menjaga kehangatan suhu BBL dengan :
a) Mengeringkan bayi dari cairan ketuban dan lemak.
b) Menggunakan sinar lampu untuk pemanasan luar
c) Bungkus bayi dengan kain kering.
2) Pembersihan jalan nafas
Saluran nafas bagian atas segera dibersihkan dari lendir dan cairan
amnion, kepala bayi harus posisi lebih rendah sehingga
memudahkan keluarnya lendir.

DAFTAR PUSTAKA

Jumiarni, L., Mulyati, S dan Nurlina, S. Asuhan Keperawatan Perinatal. Jakarta:


EGC
Johnson, Marion, dkk. 2000. IOWA Intervention Project Nursing Outcomes
Classifcation (NOC), Second edition. USA : Mosby.
McCloskey, Joanne C. dkk. 2006. IOWA Intervention Project Nursing
Intervention Classifcation (NIC), Second edition. USA : Mosby.
NANDA.2015-2017, Nursing Diagnosis: Definitions and Classification,
Philadelphia, USA
Radityo, S. 2011. Asfiksia Neonatorum Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Gagal
Ginjal Akut. Tesis tidak diterbitkan. Semarang: Universitas Diponegoro

Saifuddin, A. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal. Jakarta: YBP-SP
Utomo,
M.T.
2012.
Asfiksia
Neonatrum.
(online),
http://www.pediatrik.com/isi03.php?
page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110skow264.htm, diakses 14 Juli 2012)
Wahyudi, S. 2003. Asfiksia Berat Pada Neonatus Aterm. Tesis tidak diterbitkan.
Semarang : Universitas Diponegoro

Waspodo dkk. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjdo.
Wiknjosastro, Hanifa dkk.2009. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirikardjo. Jakarta

Pathway :
Faktor ibu

Faktor fetus

Faktor plasenta

Faktor Neonatus

Arteriol pulmonal tetap


kontriksi

ASFIKSIA

Gangguan pertukaran O2
dan CO2 di paru

Peningkatan
CO2
Kompensasi
meningkatkan
Gangguan
pertukaran
pernafasan
Pola nafas
tidak efektif
gas

Keadaan gawat janin

Ansietas: orang tua


Penurunan
kontraktilitas
Penurunan
curah
Penurunan
suplai
O2 ke
jantung
jantung
miokardium

Penurunantermoregulasi
suplai darah
Gangguan
ke Hipotermia
seluruh tubuh