Vous êtes sur la page 1sur 19

Tinjauan Pustaka

Asma Bronkial pada Orang Dewasa dan Penatalaksanaannya


Apriandy Pariury
102011299
Alamat Korespendensi:
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510Telp 021-56942061 Fax. 021-5631731
Email: riapariury@gmail.com

Pendahuluan
Merokok merupakan hal yang sudah dianggap biasa sekarang ini, baik negara
Indonesia maupun negara lainnya. Asma merupakan saluran pernapasan yang dihubungkan
dengan hiperresponsif, keterbatasan aliran udara yang reversible dan gejala pernapasan.
Angka kejadian di Indonesia terhadap penyakit ini cukup banyak. Pengetahuan penyakit ini
dan juga risiko komplikasi masih sangat minim bagi warga Indonesia . Asma merupakan
penyakit respiratorik kronis yang paling sering ditemukan, terutama di negara maju. Penyakit
ini pada umumnya dimulai pada masa anak-anak. Definisi asma bronkial dewasa ini adalah
suatu kelainan pada saluran napas berupa inflamasi kronik. Inflamasi kronik ini menyebabkan
peningkatan kepekaan bronkus terhadap berbagai rangsangan. Pada individu yang sensitif,
inflamasi kronik ini memberikan gejala-gejala yang timbul akibat penyempitan saluran udara
yang menyeluruh, dengan derajat yang bervariasi dan sering membaik secara spontan atau
dengan pengobatan. Gejala asma dapat ditimbulkan oleh berbagai macam rangsangan,
misalnya infeksi, alergen, obat-obatan, beban kerja, pendinginan saluran napas dan bahan
kimia seperti rokok. Tujuan penatalaksanaan pada asma bronkial adalah mencapai keadaan
asma yang terkontrol dan kualitas hidup yang lebih baik, untuk itu perlu diagnosis penyakit
yang tepat. Asma bronkial kadang- kadang memberikan gejala yang tidak khas dan
menyerupai penyakit paru lain. Disamping itu, beberapa penyakit paru dan saluran
pernapasan dapat memberikan gejala menyerupai asma.

Anamnesis
Anamnesis adalah tahap awal dari rangkaian pemeriksaan pasien dapat dilakukan baik
secara langsung pada pasien (auto-anamnesis), maupun secara tidak langsung melalui
keluarga atau relasi terdekat (allo-anamnesis). Tujuan anamnesis adalah mendapatkan
informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan.1
Hal-hal yang bersangkutan dengan anamnesis dapat ditanyakan kepada pasien yang
bersangkutan dan sesuai dengan apa yang menjadi keluhan dari pasien dan yang
bersangkutan dengan keluhan dari pasien tersebut, yaitu :
1. Identitas pasien seperti nama, tempat / tanggal lahir, status perkawinan, pekerjaan,
jenis kelamin, suku bangsa, agama, pendidikan terakhir, dan alamat.
2. Perntanyaan dalam bahasa pasien tentang keluhan yang dialami
3. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS):
- Lamanya keluhan berlangsung?
- Apakah mengalami kesulitan bernapas?
- Keluhan sesak nafas, mengi, dada terasa berat atau tertekan, batuk berdahak yang
-

tak kunjung sembuh?


Kapan gejalanya muncul? Siang atau malam hari? Saat istirahat atau beraktivitas?
Faktor yang memperberat atau meringankan keluhan seperti alergi pada debu,
dingin, makanan dan sebagainya?

4. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD):


-

Riwayat asma?

5. Riwayat Penyakit Keluarga untuk mengetahui penyakit genetik, herediter ataupun


penyakit infeksi: Apakah dalam anggota keluarga juga ada yang mengalami kejadian
yang serupa?
6. Riwayat Sosial: faktor resiko gaya hidup (merokok), masalah yang berhubungan
dengan sosial ekonomi seperti keuangan, pekerjaan dan yang lainnya.1
7. Riwayat Obat
-

Sudah minum obat?


Kalau sudah, obat apa yg diminum?
Setelah minum obat membaik atau tidak ada perubahan?

Pemeriksaan Fisik
2

Pemeriksaan fisik merupakan hal yang harus dilakukan ketika pasien datang menemui
dokter. Pemeriksaan fisik ini meliputi pemeriksaan tanda-tanda vital (suhu, denyut nadi,
tekanan darah, frekuensi pernapasan), inspeksi (melihat), palpasi (meraba), perkusi
(mengetuk), serta auskultasi (mendengarkan).2
Inspeksi
Perhatikan bentuk thorax dan bagaimana pergerakan thorax, termasuk deformitas dan
asimetri, retraksi abnormal pada saat inspirasi.3
Deformitas pada thorax dapat berbentuk :

Barrel Chest. Terdapat peningkatan diameter anteroposterior. Bentuk ini normal pada
masa bayi, dan sering dijumpai pada proses penuaan dan penyakit paru obstruktif
kronik (PPOK)

Pectus Excavatum. Depresi (masuk) pada bagian bawah sternum. Kompresi pada
jantung dan pembuluh darah besar dapat mengakibatkan murmur.

Pigeon Chest (Pectus Carinatum). Terjadi perpindahan sternum ke anterior, sehingga


meningkatkan diameter anteroposterior. Tulang rawan costa yang berdekatan dengan
sternum yang menonjol mengalami depresi.

Thoracic Kyphoscoliosis.

Traumatic Flail Chest.

Palpasi

Palpasi dilakukan secara hati-hati dimana dilaporkan ada sakit atau dimana tampak
lesi atau memar.

Menetapkan abnormalitas yang tampak, seperti massa.

Tes ekspansi thorax.

Rasakan vocal fremitus. Perkusi

Perkusi
Perkusi mengakibatkan dinding dada dan jaringan di bawahnya bergerak, menghasilkan suara
yang dapat didengar dan b=vibrasi yang dapat diraba. Perkusi sangat membantu dalam
menentukan apakah jaringan di bawah terisi oleh udara, air, atau jaringan yang solid. Perkusi
dapat menembus 5-7 cm ke dalam dada, tetapi, tidak dapat mendeteksi lesi yang terletak di
dalam.3
3

Hipersonor generalisata dapat terdengar pada paru-paru yang terlalu menggembung


pada COPD atau asma. Hipersonor unilateral menunjukkan adanya pneumothorax
atau bulla besar yang terisi oleh udara.

Auskultasi
Auskultasi adalah teknik pemeriksaan yang paling penting untuk menetapkan jalan
udara melalui cabang-cabang tracheobronchial. Bersama-sama dengan perkusi, auskultasi
dapat membantu anda dalam menentukan kondisi di sekitar paru-paru dan rongga pleura.
Suara nafas dapat berkurang ketika jalan udara terhambat (seperti pada peyakit paru
obstruktif atau kelemahan otot) atau ketika transmisi suara menurun (seperti pada efusi
pleura, pneumothorax dan COPD). Suara tambahan :5

Wheezes dan ronchi.


Wheeze muncul ketika udara secara cepat melewati bronkus yang menyempit hingga
hampir tertutup. Suara ini biasanya dapat terdengar pada mulut dan dinding dada.
Pada asma, wheezing mungkin hanya terdengar pada saat ekspirasi, atau pada kedua
fase pernafasan.
Ronchi menunjukkan sekresi pada jalan nafas yang lebih lebar. Pada bronchitis
kronik, wheeze dan ronchi sering hilang setelah batuk.

Crackles.
Suara ini dihasilkan dari serangkaian letusan-letusan kecil yang dihasilkan ketika
jalur nafas sempit, kosong pada saat ekspirasi, mengembang pada saat inspirasi.
Mekanisme ini mungkin menjelaskan crackles pada akhir inspirasi akibat penyakit
paru interstitial dan gagal jantung kongestif dini.
1. Late inspiratory crackles
Penyebabnya antara lain penyakit paru interstitial (Fibrosis paru), dan gagal
jantung kongesti dini.
2. Early inspiratory crackles muncul ketika awal pernafasan dan berhenti
segera setelah inspirasi. Suara ini biasanya kasar dan relative sedikit.
Crackles ekspirasi juga menyertai kadang-kadang. Penyebabnya antara lain
kronik bronchitis dan asma.
3. Midinspiratory

dan

expiratory

crackles

dapat

terdengar

pada

bronchiectasis tetapi tidak spesifikk untuk diagnosis. Wheeze dan ronchi


dapat menyertai suara ini.
4

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan sputum pada penderita asma akan didapati :
-

Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal


eosinopil.

Spiral curshmann,

Creole: fragmen dari epitel bronkus.

Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat


mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.

b. Pemeriksaan darah
-

Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.

Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.

Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3


dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.

Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada


waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.

2. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan
menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang
bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun.
Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai
berikut:
- Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.
- Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan
semakin bertambah.
- Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru. Dapat
pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
- Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium,
maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.

Gambar 1. Radiologi pada komplikasi dari asma

Gambar 2. Bronkiole normal dan asma


3. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Pemeriksaan menggunakan tes
tempel.
4. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversible. Perubahanperubahan volume yang terjadi selama bernafas dapat diukur dengan
menggunakan spirometer.5

Differential Diagnosis
6

a. Bronkitis kronis
Peradangan dan hipersekresi bronkus yang kronik dan sering berjalan
progresif lambat yang ditandai dengan batuk kronik mengeluarkan sputum 3 bulan
dalam setahun paling sedikit terjadi dua tahun. Gejala utama batuk disertai sputum
biasanya terjadi pada penderita > 35 tahun dan perokok berat. Gejalanya berupa batuk
di pagi hari, lama-lama disertai mengi, menurunya kemampuan kegiatan jasmani pada
stadium lanjut ditemukan sianosis dan tanda-tanda kor pumonal.
b. Bronkiektasis
Bronkiektasis

adalah

suatu

penyakit

yang

ditandai

dengan

adanya

dilatasi(ektasis) dan distorsi bronkus local yang bersifat patologis dan berjalan kronik,
presisten atau irreversible. Kelainan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahanperubahan dalam dinding bronkus berupa destruksi elemen-elemen elastic, otot-otot
polos bronkus, tulang rawan dan pembuluh darah. Bronkus yang terkena umumnya
bronkus kecil, bronkus besar umumnya jarang.
Ciri khas dari penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum,
adanya hemoptisis(50% kasus), sesak nafas (dispnea) dan pneumonia berulang serta
demam berulang karena sering mengalami infeksi berulang.
c. Emfisema paru
Terjadi perubahan anatomis yang irreversible disertai kehilangan dinding alveolus.
Sesak merupakan gejala utama emfisema, sedangkan batuk dan mengi jarang
menyertainya. Penderita biasanya kurus. Berbeda dengan asma, emfisema biasanya
tidak ada fase remisi, penderita selalu merasa sesak pada saat melakukan aktivitas.
Pada pemeriksaan fisik di dapat dada seperti tong, gerakan nafas terbatas, hipersonor,
pekak hati menurun, suara vesikuler sangat lemah. Pada foto dada di dapat adanya
hiperinflasi.
Working Diagnosis
Asma Bronkial
Asma didefinisikan sebagai penyakit peradangan kronis saluran udara. Manisfestasi
fisiologis oleh karena adanya penyempitan luas dari saluran pernafasan, yang mana dapat
dihilangkan secara spontan atau sebagai akibat dari terapi, dan klinis oleh paroxysms dari
dyspnea, batuk dan wheezing.6
Asma adalah penyakit episodik, dengan eksaserbasi akut diselingi dengan periode
bebas gejala. biasanya, sebagian besar serangan berumur pendek, menit berlangsung jam, dan
klinis pasien tampak begitu sembuh sepenuhnya setelah serangan.
7

Diagnosis asma dapat ditegakkan kalau tes tersebut menimbulkan penurunan dalam
FEV1 20%. Asma bronkial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respons trakea
dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan
napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah, baik secara spontan maupun sebagai
hasil pengobatan.
Umumnya diagnosis asma tidak sulit, terutama bila dijumpai gejala yang klasik
seperti sesak napas, batuk dan mengi. Serangan asma dapat timbul berulang-ulang dengan
masa remisi diantaranya. Serangan dapat cepat hilang dengan pengobatan, tetapi kadangkadang dapat pula hilang sendiri dengan spontan. Asma dapat pula menjadi kronik sehingga
berlangsung secara terus menerus. Penemuan pada pemeriksaan fisis penderita tergantung
dari derajat obstruksi jalan napas.

Gambar 3. Asma Bronkial


Tingkat tingkat asma
Berdasarkan tingkat kegawatan asma maka asma dapat dibagi menjadi 3 tingkatan, yakni:
a. Asma bronkiale
Yakni suatu bronkospasme yang sifatnya reversible denga latar belakang alergik
b. Status asmatikus
Yakni suatu asma yang sukar disembuhkan dengan obat obat konvensional
c. Asmatikus emergency
Yakni asma yang dapat menyebabkan kematian
Kriteria yang dipergunakan untuk menentukan tingkat kegawatan asma:

Kegagalan pernafasan (respiratory failure)


8

Komplikasi berupa hipoksia serebri atau gangguan hemodinamik maupun gangguan


pada cairan tubuh dan elektrolit.

Interval dari beberapa serangan. Makin pendek intervalnya, makin tinggi nilai
kegawatannya.

Derajat serangan asma. Lebih lama serangannya, makin tinggi nilai kegawatannya.

Makin rendahnya nilai FEV1, makin tinggi nilai kegawatannya.

Infeksi

Bila asma tidak dapat memberikan respon terhadap obat obat konvensional.

Epidemiologi
Angka kejadian dari penelitian dipengaruhi oleh berbagai faktor dan objek penelitian
yaitu faktor lokasi (negara, daerah. kota atau desa), populasi pasien (masyarakat atau
sekolah/rumah sakit, rawat inap atau rawat jalan) usia (anak, dewasa) cuaca (kering atau
lembab), predisposisi (atopi, pekerjaan), pencetus (infeksi, emosi, suhu, debu dingin, kegiatan
fisik), dan tingkat berat serangan asma.7
Dilaporkan adanya peningkatan prevalensi asma di seluruh dunia secara umum dan
khususnya peningkatan frekuensi perawatan pasien di RS atau kunjungan ke emergensi.
Penyebab terjadinya hal ini diduga disebabkan peningkatan kontak dan interaksi alergen di
rumah (asap, merokok pasif) dan atmosfir (debu kendaraan).
Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebesar 810% pada anak dan 3-5% pada
dewasa, dan dalam 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar 50%. Prevalensi asma di Jepang
dilaporkan meningkat 3 kali dibanding tahun 1960 yaitu dari 1,2% menjadi 3,14%, lebih
banyak pada usia muda1. Untuk indonesia antara 5 s/d 7 %. Perbandingan antara anak
perempuan dan anak laki-laki 1,5 : 1, tetapi menjelang dewasa perbandingan ini sama dan
pada fase menopause perbandingan antara perempuan dan laki-laki relatif tidak jauh berbeda
saat anak. Prevalensi terjadinya asma lebih banyak pada anak kecil dari pada orang dewasa.
Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan
asma bronkhial.
a. Faktor predisposisi
Genetik
Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita
penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit
9

asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran
pernafasannya juga bisa diturunkan.
b. Faktor presipitasi
Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
Contoh: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut
Contoh: makanan dan obat-obatan
3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
Contoh: perhiasan, logam dan jam tangan.8
Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma.
Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim
kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.8
Stress
Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan asma yang sudah ada.
Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini
berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan,
industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
Olah raga/aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani
atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan
asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.
Patofisiologi
10

Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus
terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi
dengan cara sebagai berikut: seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk
membentuk sejumlah antibodi IgE abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini
menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya.
Pada asma, antibodi ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial
paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang
menghirup alergen maka antibodi IgE orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan
antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan
berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang
merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari
semua faktor-faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhioulus kecil
maupun sekresi mukus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos
bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.
Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama
inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar
bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah
akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi.
Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi
sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional
dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran
mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest.
Pada serangan asma yang akut terjadi hipersekresi mukus sehingga menutup alveolus dan
media pertukaran gas menjadi lebih sedikit. Hipoksia semakin berat dirasakan dan tubuh
berusaha mengkompensasi dengan menambah kapasitas hiperventilasinya yang terjadi adalah
peningkatan produksi CO2 tetapi terjadi keadaan hipoventilasi sehingga retensi CO 2
menyebabkan kadar CO2 menjadi tinggi (hiperkapnia) dan kemudian asidosis respiratorik
menyusul kemudian. Hipoksia yang berlangsung lama akan menuju terjadinya asidosis
metabolik dan terjadi shunting yaitu peredaran darah paru tanpa melalui sistem pertukaran
gas yang baik dan keadaan-keadaan ini memperburuk hiperkapnia yang telah ada.9
11

Manifestasi Klinik
Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis,
tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan
menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala
klasik dari asma bronkial ini adalah sesak nafas, mengi (whezing), batuk, dan pada sebagian
penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai
bersamaan. Pada serangan asma yang lebih berat, gejala-gejala yang timbul makin banyak,
antara lain: silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hiperinflasi dada, takikardi dan
pernafasan cepat dangkal. Serangan asma seringkali terjadi pada malam hari.
Komplikasi
Komplikasi yang paling sering terjadi pada penyakit asma adalah infeksi sekunder. Infeksi
sekunder dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, virus, dll. Semua jenis infeksi pada paru-paru
dapat merupakan komplikasi dari asma. Pneumonia merupakan jenis infeksi sekunder yang
terbanyak ditemukan pada penderita asma, terutama pada usia lanjut.10

Emfisema
Emfisema ditandai dengan pembesaran permanen rongga udara yang terletak distal

dari bronkiolus terminal disertai destruksi dinding rongga tersebut. Gejala pertama dari
emfisema biasanya adalah dispnea, gejala ini muncul perlahan, tetapi progresif. Pada pasien
yang sudah mengidap bronkitis kronis atau bronkitis asmatik kronis, keluhan awal mungkin
adalah batuk dan mengi. Berat badan pasien sering turun dan mungkin cukup banyak seolaholah pasien mengidap keganasan. Gambaran klasik pada individu yang tidak memiliki
komponen bronkitis adalah dada berbentuk tong dan dispnea, dengan ekspirasi yang jelas
memanjang, dan pasien duduk maju dalam posisi membungkuk ke depan, berupaya memeras
udara keluar dari paru setiap kali ekspirasi.

Kor Pulmonale Menahun


Kor pulmonale adalah penyakit rongga jantung kanan akibat hipertensi pulmonal yang

disebabkan oleh penyakit pembuluh darah paru atau parenkim paru. Yang tidak termasuk
dalam definisi ini adalah kasus hipertensi pulmonal yang disebabkan oleh gagal ventrikel kiri
atau penyakit primer lain di sisi kiri jantung serta hipertensi pulomnal yang disebabkan oleh
penyakit jantung kongenital. Penyakit dapat bersifat akut dan kronis.11

Bronkiektasis
12

Bronkiektasis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan dilatasi (ektasis) dan
distorsi bronkus local yang bersifat patologis dan berjalan kronik, persisten, ireversibel.
Kelainan bronkus tersebut disebabkan oleh perubahan pada dinding bronkus berupa
hilangnya elastisitas otot polos bronkus, tulang rawan, dan pembuluh darah. Bronkiektasis
biasanya terjadi sebagai penyerta pada bronchus yang obstruksi. Pada bagian distal obstruksi
tersebut akan terjadi infeksi, destruksi bronkus, dan akhirnya bronkiektasis. Ciri khas
penyakit ini adalah: sesak napas, demam berulang, batuk kronik disertai produksi sputum,
adanya hemoptisis, dan didapatkan sputum 3 lapis. Gambaran radiologi yang khas adalah
adanya kista-kista kecil dengan fluid level, mirip seperti gambaran sarang tawon (honey
comb appearance) pada daerah yang terkena.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan asma secara garis besar dapat dibagi dua yaitu tindakan pengobatan dan
usaha pencegahan. Tindakan pengobatan dilakukan pada keadaan serangan, dapat dilakukan
dengan atau tanpa pengobatan. Pencegahan bertujuan agar serangan yang berikut menjadi
berkurang atau berkurang sama sekali. Suatu serangan yang ringan kadang-kadang dapat
menjadi berat dan berkepanjangan serta membutuhkan penanganan yang khusus.

Medikamentosa
Tujuan pengobatan simpatomatik adalah :
a. Mengatasi serangan asma dengan segera.
b. Mempertahankan dilatasi bronkus seoptimal mungkin.
c. Mencegah serangan berikutnya.
Obat pilihan untuk pengobatan simpatomimetik adalah :
a. Bronkodilator golongan simpatomimetik (beta adrenergik / agonis beta)

Adrenalin (Epinefrin) injeksi. Dosis dewasa : 0,2-0,5 cc dalam larutan 1 :


1.000 injeksi subcutan. Dosis bayi dan anak : 0,01 cc/kg BB, dosis maksimal
0,25 cc. Bila belum ada perbaikan, bisa diulangi sampai 3 X tiap 15-30 menit.

Efedrin. Obat ini tersedia di Puskesmas berupa tablet 25 mg. Aktif dan efektif
diberikan peroral.
13

Salbutamol. Salbutamol merupakan bronkodilator yang sangat poten bekerja


cepat dengan efek samping minimal. Dosis : 3-4 X 0,05-0,1 mg/kg BB

b. Bronkodilator golongan teofilin


Teofilin. Dosis : 16-20 mg/kg BB/hari oral atau IV.

Aminofilin. Obat ini tersedia di Puskesmas berupa tablet 200 mg dan


injeksi 240 mg/ampul. Dosis intravena: 5-6 mg/kg BB diberikan pelanpelan. Dapat diulang 6-8 jam kemudian, bila tidak ada perbaikan. Dosis: 34 X 3-5 mg/kg BB

c . Kortikosteroid
Obat ini tersedia di Puskesmas tetapi sebaiknya hanya dipakai dalam keadaan
pengobatan dengan bronkodilator baik pada asma akut maupun kronis tidak memberikan
hasil yang memuaskan dan keadaan asma yang membahayakan jiwa penderita (contoh:
status asmatikus). Dalam pemakaian jangka pendek (2-5 hari) kortikosteroid dapat
diberikan dalam dosis besar baik oral maupun parenteral, tanpa perlu tapering off. Obat
pilihan hidrocortison dan dexamethason.
d. Ekspektoran.
Adanya mukus kental dan berlebihan (hipersekresi) di dalam saluran pernafasan
menjadi salah satu pemberat serangan asma, oleh karenanya harus diencerkan dan
dikeluarkan. Sebaiknya jangan memberikan ekspektoran yang mengandung antihistamin,
sedian yang ada di Puskesmas adalah Obat Batuk Hitam (OBH), Obat Batuk Putih (OBP),
Glicseril guaiakolat (GG).
e. Antibiotik
Hanya diberikan jika serangan asma dicetuskan atau disertai oleh rangsangan infeksi
saluran pernafasan, yang ditandai dengan suhu yang meninggi.12
Non Medikamentosa
Pendidikan / edukasi kepada penderita dan keluarga
Pengobatan yang efektif hanya mungkin berhasil dengan penatalaksanaan yang
komprehensif, dimana melibatkan kemampuan diagnostik dan terapi dari seorang dokter
Puskesmas di satu pihak dan adanya pengertian serta kerjasama penderita dan keluarganya di
pihak lain. Pendidikan kepada penderita dan keluarganya adalah menjadi tanggung jawab
14

dokter Puskesmas, sehingga dicapai hasil pengobatan yang memuaskan bagi semua pihak.
Beberapa hal yang perlu diketahui dan dikerjakan oleh penderita dan keluarganya adalah :
1. Memahami sifat-sifat dari penyakit asma :

Bahwa penyakit asma tidak bisa sembuh secara sempurna.

Bahwa penyakit asma bisa disembuhkan tetapi pada suatu saat oleh karena
faktor tertentu bisa kambuh lagi.

Bahwa kekambuhan dapat dikurangkan dengan pengobatan jangka panjang


secara teratur.

2. Memahami faktor yang menyebabkan serangan atau memperberat serangan, seperti :

Inhalan : debu rumah, bulu atau serpihan kulit binatang anjing, kucing,
kuda dan spora jamur.

Ingestan : susu, telor, ikan, kacang-kacangan, dan obat-obatan tertentu.

Kontaktan : zalf kulit, logam perhiasan.

Keadaan udara : polusi, perubahan hawa mendadak, dan hawa yang


lembab.

Infeksi saluran pernafasan.

Pemakaian narkoba atau napza serta merokok.

Stres psikis termasuk emosi yang berlebihan.

Stres fisik atau kelelahan

3. Memahami faktor-faktor yang dapat mempercepat kesembuhan, membantu perbaikan


dan mengurangi serangan :

Menghindari makanan yang diketahui menjadi penyebab serangan (bersifat


individual).

Menghindari minum es atau makanan yang dicampur dengan es.

Berhenti merokok dan penggunakan narkoba atau napza.

Menghindari kontak dengan hewan diketahui menjadi penyebab serangan.

Berusaha menghindari polusi udara (memakai masker), udara dingin dan


lembab.

Berusaha menghindari kelelahan fisik dan psikis.

Segera berobat bila sakit panas (infeksi), apalagi bila disertai dengan batuk
dan pilek.

Minum obat secara teratur sesuai dengan anjuran dokter, baik obat
simptomatis

maupun obat profilaksis.


15

Pada waktu serangan berusaha untuk makan cukup kalori dan banyak
minum air hangat guna membantu pengenceran dahak.

Manipulasi lingkungan : memakai kasur dan bantal dari busa, bertempat di


lingkungan dengan temperatur hangat.

4. Memahami kegunaan dan cara kerja dan cara pemakaian obat obatan yang diberikan
oleh dokter :

Bronkodilator : untuk mengatasi spasme bronkus.

Steroid : untuk menghilangkan atau mengurangi peradangan

Ekspektoran : untuk mengencerkan dan mengeluarkan dahak.

Antibiotika : untuk mengatasi infeksi, bila serangan asma dipicu adanya


infeksi saluran nafas.

5. Mampu menilai kemajuan dan kemunduran dari penyakit dan hasil pengobatan.
6. Mengetahui kapan self treatment atau pengobatan mandiri harus diakhiri dan segera
mencari pertolongan dokter.

Preventif
Menjaga Kesehatan
Bila penderita lemah dan kurang gizi, tidak saja mudah terserang penyakit tetapi juga berarti
mudah untuk mendapat serangan penyakit asma beserta komplikasinya. Usaha menjaga
kesehatan ini antara lain berupa makan makanan yang bernilai gizi baik, minum banyak,
istirahat yang cukup, rekreasi dan olahraga yang sesuai. Penderita dianjurkan banyak minum
kecuali bila dilarang dokter, karena menderita penyakit lain seperti penyakit jantung atau
ginjal yang berat. Banyak minum akan mengencerkan dahak yang ada di saluran pernapasan,
sehingga dahak tadi mudah dikeluarkan. Sebaliknya bila penderita kurang minum, dahak
akan menjadi sangat kental, liat dan sukar dikeluarkan. Pada serangan penyakit asma berat
banyak penderita yang kekurangan cairan. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran keringat yang
berlebihan, kurang minum dan penguapan cairan yang berlebihan dari saluran napas akibat
bernapas cepat dan dalam.
Menjaga kebersihan lingkungan
Lingkungan dimana penderita hidup sehari-hari sangat mempengaruhi timbulnya serangan
penyakit asma. Keadaan rumah misalnya sangat penting diperhatikan. Rumah sebaiknya tidak
16

lembab, cukup ventilasi dan cahaya matahari. Saluran pembuangan air harus lancar. Kamar
tidur merupakan tempat yang perlu mendapat perhatian khusus. Sebaiknya kamar tidur
sesedikit mungkin berisi barang-barang untuk menghindari debu rumah. Hewan peliharaan,
asap rokok, semprotan nyamuk, atau semprotan rambut dan lain-lain mencetuskan penyakit
asma. Lingkungan pekerjaan juga perlu mendapat perhatian apalagi kalau jelas-jelas ada
hubungan antara lingkungan kerja dengan serangan penyakit asmanya.

Menghindari Faktor Pencetus


Alergen yang tersering menimbulkan penyakit asma adalah tungau debu sehingga cara-cara
menghindari debu rumah harus dipahami. Alergen lain seperti kucing, anjing, burung, perlu
mendapat perhatian dan juga perlu diketahui bahwa binatang yang tidak diduga seperti
kecoak dan tikus dapat menimbulkan penyakit asma. Infeksi virus saluran pernapasan sering
mencetuskan penyakit asma. Sebaiknya penderita penyakit asma menjauhi orang-orang yang
sedang terserang influenza. Juga dianjurkan menghindari tempat-tempat ramai atau penuh
sesak. Hindari kelelahan yang berlebihan, kehujanan, penggantian suhu udara yang ekstrim,
berlari-lari mengejar kendaraan umum atau olahraga yang melelahkan. Jika akan berolahraga,
lakukan latihan pemanasan terlebih dahulu dan dianjurkan memakai obat pencegah serangan
penyakit asma. Zat-zat yang merangsang saluran napas seperi asap rokok, asap mobil, uap
bensin, uap cat atau uap zat-zat kimia dan udara kotor lainnya harus dihindari. Perhatikan
obat-obatan yang diminum, khususnya obat-obat untuk pengobatan darah tinggi dan jantung
(beta-bloker), obat-obat antirematik (aspirin, dan sejenisnya). Zat pewarna (tartrazine) dan zat
pengawet makanan (benzoat) juga dapat menimbulkan penyakit asma.
Menggunakan obat-obat anti asma
Pada serangan penyakit asma yang ringan apalagi frekuensinya jarang, penderita
boleh memakai obat bronkodilator, baik bentuk tablet, kapsul maupun sirup. Tetapi bila ingin
agar gejala penyakit asmanya cepat hilang, jelas aerosol lebih baik. Pada serangan yang lebih
berat, bila masih mungkin dapat menambah dosis obat, sering lebih baik mengkombinasikan
dua atau tiga macam obat. Misalnya mula-mula dengan aerosol atau tablet/sirup
simpatomimetik (menghilangkan gejala) kemudian dikombinasi dengan teofilin dan kalau
tidak juga menghilang baru ditambahkan kortikosteroid. Pada penyakit asma kronis bila
17

keadaannya sudah terkendali dapat dicoba obat-obat pencegah penyakit asma. Tujuan obatobat pencegah serangan penyakit asma ialah selain untuk mencegah terjadinya serangan
penyakit asma juga diharapkan agar penggunaan obat-obat bronkodilator dan steroid sistemik
dapat dikurangi dan bahkan kalau mungkin dihentikan.9
Prognosis
Pada umumnya bila segera ditangani dengan adekuat prognosa adalah baik. Asma karena
faktor imunologi (faktor ekstrinsik) yang muncul semasa kecil prognosanya lebih baik dari
pada yang muncul sesudah dewasa. Angka kematian meningkat bila tidak ada fasilitas
kesehatan yang memadai. Asma merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan akan
tetapi asma dapat dikontrol dan penatalaksanaan asma bermaksud untuk memperbaiki
kualitas hidup penderita seoptimal mungkin sehingga penderita dapat hidup normal dalam
menjalankan kehidupannya sehari-hari.

Kesimpulan
Asma merupakan suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan dengan total, akan
tetapi penyakit ini jika mendapat penatalaksanaan yang baik akan memberikan hasil yang
baik pula. Untuk menghindari adanya komplikasi, diperlukan diagnose tepat dan pengobatan
yang tepat sehingga dapat mengurangi terjadinya komplikasi bahkan kematian.

Daftar Pustaka
1. Bickley, Lynn S. Buku saku pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan bates. Edisi ke-5.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC: 2008; hal.64-7.
2. Swartz MH. Buku ajar diagnostik fisik. Jakarta: EGC; 2004.h.263-277.
3. Bickley LS. Guide to physical examination. 10th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer
Lippincott Williams & Wilkins, 2009.p.296-319.
4. Welsby PD. Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis. Jakarta: EGC, 2009.h.83-8.
5. Gandasoebrata R. Penuntun laboratorium klinik. Jakarta: Dian Rakyat, 2006.h.156.
6. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita selekta kedokteran. 3rd ed.
Jakarta: FKUI; 2009.h.55-7.
18

7. Dahlan Z. Masalah asma di Indonesia dan penanggulangannya. Jakarta: Cemin Dunia


Kedokteran; 2005.h.125:5-6.
8. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Setiati S. Ilmu Penyakit Dalam. 5th ed; Jilid:1. Jakarta:
FKUI; 2006. 404-14.
9. Baratawidjaja K, Sundaru H. Asma bronkial: patofisiologi dan terapi. Cemin Dunia
Kedokteran 2005; 121:29-30
10. Maitra A, Kumar V. Paru dan saluran napas atas. Dalam: Kumar V, Cotran RZ, Robbins
SL. Buku Ajar Patologi Robbins Volume 2. Edisi ke-7. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2004.h. 515-8.
11. Burns DK, Kumar V. Jantung. Dalam: Kumar V, Cotran RZ, Robbin SL. Buku Ajar
Patologi Robbins Volume 2. Edisi ke-7. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC,
2004.h.418-9.
12. Setiawati A, Gan S. Obat adrenergik . Dalam: sulistia gan gunawan, editor. Farmakologi
dan terapi. Edisi ke-5. Jakarta: Departermen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2008.h.71-81.

19