Vous êtes sur la page 1sur 6

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Biodata
b. Riwayat penyakit dahulu : KET, Abortus Septikus, Endometriosis.
c. Riwayat penyakit sekarang : Metroragia, Menoragia.
d. Pemeriksaan fisik
1. Suhu tinggi disertai takikardia
2. Nyeri suprasimfasis terasa lebih menonjol daripada nyeri di kuadran atas abdomen. Rasa
nyeri biasanya bilateral. Bila terasa nyeri hanya uniteral, diagnosis radang panggul akan
sulit dirtegakkan.
3. Bila sudah terjadi iritasi peritoneum, maka akan terjadi reburn tenderness, nyeri tekan
4.

e.

dan kekakuan otot sebelah bawah.


Tergantung dari berat dan lamanya peradangan, radang panggul dapat pula disertai

gejala ileus paralitik.


5. Dapat disetai Manoragia, Metroragia.
Pemeriksaan penunjang
1. Periksa darah lengkap : Hb, Ht, dan jenisnya, LED.
2. Urinalisis
3. Tes kehamilan
4. USG panggul

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermia b/d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus, perubahan pada
reagulasi temperatur.
2. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan sepsis akibat infeksi.
3. Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual.
.
C. Intervensi
1. Dx : Hipertermia b/d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus, perubahan
pada reagulasi temperatur.
Kriteria hasil : Mendemonstrasikan suhu dalam batas normal, bebas dari kedinginan. Tidak
mengalami komplikasi yang berhubungan.
Intervensi Rasional
- Pantau suhu pasien (derajat dan pola), perhatikan menggigil/diaforesis Suhu 38,9 41,1 C menunjukkan proses penyakit infeksius akut. Menggigil sering mendahului
puncak suhu.

Pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi. Suhu
ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
Berikan kompres mandi hangat, hindari penggunaan alkohol. Dapat membantu

mengurangi demam.
Kolaborasi
Berikan antipiretik, misalnya ASA (aspirin), asetaminofen (Tylenol). Digunakan untuk
mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus, meskipun demam mungkin
dapat

berguna

autodestruksi

dalam

membatasi
dari

pertumbuhan
sel-sel

organisme,

dan

meningkatkan

yang

terinfeksi.

Berikan selimut pendingin Digunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar
dari 39,540 C pada waktu terjadi kerusakan/gangguan pada otak.
2. Dx : Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan sepsis

akibat

infeksi.

Kriteria hasil : Menunjukkan perfusi adekuat yang dibuktikan dengan tanda-tanda vital
stabil, nadi perifer jelas, kulit hangat dan kering, tingkat kesadaran umum, haluaran urinarius
individu yang sesuai dan bising usus aktif.
Intervensi Rasional
- Pertahankan tirah baring, bantu dengan aktivitas perawatan. Menurunkan beban kerja
miokard dan konsumsi O2, maksimalkan efektivitas dari perfusi jaringan.
- Pantau kecenderungan pada tekanan darah, mencatat perkembangan hipotensi,dan
perubahan pada tekanan denyut. Hipotensi akan berkembang bersamaan dengan
mikroorganisme menyerang aliran darah, menstimulasi pelepasan, atau aktivasi dari
substansi hormonal maupun kimiawi yang umumnya menghasilkan vasodilatasi perifer,
-

penurunan tahapan vaskuler sistemik dan hipovolemia relatif.


Pantau frekuensi dan irama jantung. Bila terjadi takikardi, mengacu pada stimulasi
sekunder sistem saraf simpatis untuk menekankan respon dan untuk menggantikan

kerusakan pada hipovolumia relatif dan hipertensi.


Perhatikan kualitas/kekuatan dari denyut perifer Pada awal nadi cepat/kuat karena
peningkatan curah jantung. Nadi dapat menjadi lemah/lambat karena hipotensi terus

menerus, penurunan curah jantung, vasokonstriksi perifer jika terjadi status syok.
Kaji frekuensi pernafasan, kedalaman, dan kualitas. Perhatikan dispnea berat.
Peningkatan pernafasan terjadi sebagai respon terhadap efek-efek langsung dari
endotoksin pada pusat pernafasan di dalam otak, dan juga perkembangan hipoksia, stres
dan demam. Pernafasan dapat menjadi dangkal bila terjadi insufisiensi pernafasan,
menimbulkan resiko kegagalan pernafasan akut.

Catat haluaran urin setiap jam dan bertat jenisnya. Penurunan haluara urin dengan
peningkatan berat jenis akan mengindikasikan penurunan perfungsi ginjal yang
-

dihubungkan dengan perpindahan cairan dan vasokonstriksi selektif.


Evaluasi kaki dan tangan bagian bawah untuk pembengkakan jaringan lokal, eritema.

Stasis vena dan proses infeksi dapat menyebabkan perkembangan trombosis.


sering dipesankan. Hal ini memiliki efek toksik berlebihan bila perfusi hepar/ ginjal
-

terganggu.
Kolaborasi
Berikan cairan parenteral Untuk mempertahankan perfusi jaringan, sejumlah besar cairan

mungkin dibutuhkan untuk mendukung volume sirkulasi.


Pantau pemeriksaan laboratorium. Perkembangan asidosis respiratorik dan metabolik
merefleksikan kehilangan mekanisme kompensasi, misalnya penurunan perfusi ginjal dan
akumulasi asam laktat.
Diagnosa : Disfungsi seksual b/d perubahan kesehatan seksual.
Kriteria hasil : Menceritakan masalah mengenai fungsi seksual, mengekspresikan

3.

peningkatan kepuasan dengan pola seksual. Melaporkan keinginan untuk melanjutkan


aktivitas seksual.
Intervensi Rasional
- Kaji riwayat seksual mengenai pola seksual, kepuasan, pengetahuan seksual, masalah seksual
-

Mengetahui masalah-masalah seksual yang dialami.


Identifikasi masalah penghambat untuk memuaskan seksual. Menemukan permasalahan

seksual yang sebenarnya.


Berikan dorongan bertanya tentang seksual atau fungsi seksual. Memberikan konseling

aktivitas seksual yang baik dan benar.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit radang Panggul adalah keadaan terjadinya infeksi pada genetalia interna, yang
disebabkan

berbagai

mikroorganisme

dapat

menyerang

endometrium,

tuba,

ovarium

parametrium, dan peritoneum panggul, baik secara perkontinuinatum dan organ sekitarnya,
secara homogen, ataupun akibat penularan secara hubungan seksual. Peradangan biasanya
disebabkan oleh infeksi bakteri, dimana bakteri masuk melalui vagina dan bergerak ke dalam
rahim lalu ke tuba fallopi 90 95 % kasus PID disebabkan oleh bakteri yang juga menyebanbkan
terjadinya penyakit menular seksual (misalnya klamidia, gonare, mikroplasma, stafilokokous,
streptokus).
Gejala biasanya muncul segera setalah siklus menstruasi. Penderita merasakan nyeri pada
perut bagian bawah yang semakin memburuk dan disertai oleh mual atau muntah. Biasanya
infeksi akan menyumbat tuba fallopi. Tuba yang tersumbat bisa membengkak dan terisi cairan.
Sebagai akibatnya bisa terjadi nyeri menahun, perdarahan menstruasi yang tidak teratur dan
kemandulan, infeksi bisa menyebar ke struktur di sekitarnya, menyebabkan terbentuknya
jaringan perut dan perlengketan fibrosa yang abnormal diantara organ-organ perut serta
menyebabkan nyeri menahun.

DAFTAR PUSTAKA
Bagian Obstetri dan Genekologi, 1981. Genekologi. Bandung: fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran Bandung.
Bobak, 2005. Buku ajar Keperawatan Maternitas, Jakarta:
Doengoes, Marilyn. E. 2001. Rencana Keperawatan. Jakarta. EGC.
Glasier, Anna, Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta : EGC, 2005.
Rustam, 1976. Sinopsis Obstetri. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Scott, R. James, Danford, Buku Saku Obstetri dan Genetalia. Jakarta : Widya Medika, 2002

KELOMPOK II

HADINA
HAMDAN
HAMRA
HIJRANAH TAMRIN. AR
IKA LESTARI
JUNAID
MUH. TASLIM

(A.1 09 0247)
(A.1 09 0248)
(A.1 09 0249)
(A.1 09 0250)
(A.1 09 0251)
(A.1 09 0254)
(A.1 09 0256)

Diposkan oleh D'nurse cika di 09.49


0 komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Search
a
h
k
i
r
a
t
s
e
l

my visitor

O'clock
Lencana Facebook

Cika Ikha Hamid

Buat Lencana Anda

Blog Archive

2012 (3)

2011 (9)
o Desember (2)
o November (5)

asuhan keperawatan muskuloskeletal "Paget diseases...

asuhan kebidanan postpartum "Atonia Uteri"

asuhan keperawatan pada gangguan sistem pengIndraa...

asuhan keperawatan pada sistem immunitas "HIV/AIDS...

asuhan keperawatan pada gangguan sistem reproduksi...

o Oktober (2)

coretanQ
D'nurse cika
Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Pengikut
Diberdayakan oleh Blogger.