Vous êtes sur la page 1sur 27

TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN THYPOID

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK

1) Ni Kadek Ariyastuti
2) I Nyoman Sugiharta Dana
3) Putu Epriliani
4) I Gusti Ayu Cintya Adianti
5) I Gusti Ngurah Agung Kusuma Sedana
6) Ni Putu Novia Indah Lestari
7) Kadek Poni Marjayanti
8) Ngakan Raka Saputra
9) I Putu Dharma Partana

P07120214007
P07120214008
P07120214010
P07120214012
P07120214015
P07120214016
P07120214026
P07120214036
P07120214038

DIV KEPERAWATAN
TINGKAT 2 SEMESTER III

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2015
I.

KONSEP DASAR PENYAKIT THYPOID

A. Pengertian

Thypoid fever/demam tifoid atau thypus abdominalis merupakan penyakit


infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai
gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran
(T.H. Rampengan dan I.R. Laurentz, 1995). Penularan penyakit ini hampir selalu
terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Typhoid adalah
penyakit infeksi sistemik akut yang disebab
kan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan
minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang
terinfeksi kuman salmonella.( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
kuman salmonella Thypi (Arief Maeyer, 1999).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit
ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis,
( Syaifullah Noer, 1996 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga
paratyphoid fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (.Seoparman,
1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala
sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C.
penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).
Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid
adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A.
B dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang
terkontaminasi.

B. Etiologi

Demam tyfhoid disebabkan oleh jenis salmonella tertentu yaitu s. Typhi,


s. Paratyphi A, dan S. Paratyphi B dan kadang-kadang jenis salmonella yang lain.

Demam yang disebabkan oleh s. Typhi cendrung untuk menjadi lebih berat
daripada bentuk infeksi salmonella yang lain.
Salmonella merupakan bakteri batang gram negatif yang bersifat motil,
tidak membentuk spora, dan tidak berkapsul. Kebanyakkan strain meragikan
glukosa, manosa dan manitol untuk menghasilkan asam dan gas, tetapi tidak
meragikan laktosa dan sukrosa. Organisme salmonella tumbuh secara aerob dan
mampu tumbuh secara anaerob fakultatif. Kebanyakan spesies resistent terhadap
agen fisik namun dapat dibunuh dengan pemanasan sampai 54,4 C (130 F)
selama 1 jam atau 60 C (140 F) selama 15 menit. Salmonella tetap dapat hidup
pada suhu ruang dan suhu yang rendah selama beberapa hari dan dapat bertahan
hidup selama berminggu-minggu dalam sampah, bahan makannan kering, agfen
farmakeutika an bahan tinja.
Salmonella memiliki antigen somatik O dan antigen flagella HH. Antigen O
adalah komponen lipopolisakarida dinding sel yang stabil terhadap panas
sedangkan antigen H adalah protein labil panas.

C. Tanda dan Gejala

Gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan gejala serup dengan
penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu: demam, nyeri kepala, pusing, nyeri
otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak diperut,
batuk dan epitakis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu tubuh
meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore hingga malam hari.
Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika
dibandinkan dengan penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10-20 hari. Setela
masa inkubasi maka ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak
badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat. Kemudian menyusul
gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu:
a. Demam

Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat


febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama,
suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun
pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam

minggu kedua, pernderita terus dalam keadaan demam. Dalam minggu


ketiga suhu tubuh berangsur-angsur turun dan normal kembalu pada akhir
minggu ketiga.
b. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecahpecah (ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung
dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin
ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa
membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan konstipasi,
akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare.
c. Gangguan kesdaran
Umumnya kesadarn penderita menurun walaupun tidak berapa dalam,
yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi spoor, koma atau gelisah.
Masa tunas typhoid 10 - 20 hari
1. Minggu I

Pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan


malam hari. Dengankeluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala,
anorexia dan mual, batuk,epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak enak
di perut.
2. Minggu II

Pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi,


lidah

yang

khas

(putih,

kotor,

pinggirnya

hiperemi),

hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran.

D. Manifestasi Klinik
1. Masa tunas demam thypoid berlangsung 10-14 hari.
2. Minggu I : Keluhan dan gejala-gejala dengan penyakit infeksi akut

pada umumnya demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual,
muntah, konstipasi/diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan
epistaksis, pada pemeriksaan hanya didapatkan peningkatan suhu badan.
3. Minggu II : Gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam,bradikardi
relatif,lidah khas (kotor di tengah,tepi dan ujung merah dan tremor),
hepatomegali, splenomegali, gangguan mental berupa samnolen, strupor,
koma, delirion/psikos.

E. Patofisiologi

Demam tifoid adalah penyakit yang penyebarannya melalui saluran cerna


(mulut, esofagus, lambung, usus 12 jari, usus halus, usus besar, dstnya). S. typhi
masuk ke tubuh manusia bersama bahan makanan atau minuman yang tercemar.
Cara penyebarannya melalui muntahan, urin, dan kotoran dari penderita yang
kemudian secara pasif terbawa oleh lalat (kaki-kaki lalat). Lalat itu
mengontaminasi makanan, minuman, sayuran, maupun buah-buahan segar. Saat
kuman masuk ke saluran pencernaan manusia, sebagian kuman mati oleh asam
lambung dan sebagian kuman masuk ke usus halus.
Dari usus halus itulah kuman beraksi sehingga bisa menjebol usus halus.
Setelah berhasil melampaui usus halus, kuman masuk ke kelenjar getah bening, ke
pembuluh darah, dan ke seluruh tubuh (terutama pada organ hati, empedu, dan
lain-lain).Jika demikian keadaannya, kotoran dan air seni penderita bisa
mengandung kuman S. typhi yang siap menginfeksi manusia lain melalui
makanan atau pun minuman yang dicemari.
Pada penderita yang tergolong carrier (pengidap kuman ini namun tidak
menampakkan gejala sakit), kuman Salmonella bisa ada terus menerus di kotoran
dan air seni sampai bertahun-tahun. S. thypi hanya berumah di dalam tubuh
manusia. Oleh kerana itu, demam tifoid sering ditemui di tempat-tempat di mana
penduduknya kurang mengamalkan membasuh tangan manakala airnya mungkin
tercemar dengan sisa kumbahan.
Sekali bakteria S. thypi dimakan atau diminum, ia akan membahagi dan
merebak ke dalam saluran darah dan badan akan bertindak balas dengan
menunjukkan beberapa gejala seperti demam. Pembuangan najis di merata-rata
tempat dan hinggapan lalat (lipas dan tikus) yang akan menyebabkan demam
tifoid.

F. Pohon Masalah

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium :
1. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat

dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah
divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi
salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari
uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien
yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi,
klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :

Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh


kuman).

Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel


kuman).

Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari


simpai kuman).
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan
titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita
typhoid.
2. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT

1.

SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat


tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.

8. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah
pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :
a. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid
terdapat leukopenia dan limposistosis relatif tetapi kenyataannya
leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan kasus demam
typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas
normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada
komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah
leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.
b. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi
dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
c. Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid,
tetapi bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi
demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari
beberapa faktor :
1) Teknik pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium
yang lain, hal ini disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang
digunakan. Waktu pengambilan darah yang baik adalah pada saat demam
tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.
2) Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit.
Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada
minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada
waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.
3) Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat
menimbulkan antibodi dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan
bakteremia sehingga biakan darah negatif.
4) Pengobatan dengan obat anti mikroba.

Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti


mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil
biakan mungkin negatif.
d. Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi
(aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat
dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah
divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi
salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari
uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien
yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi,
klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh
kuman).
2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel
kuman).
3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai
kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang
ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar
klien menderita typhoid.
Faktor faktor yang mempengaruhi uji widal :
a. Faktor yang berhubungan dengan klien :
1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.
2. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai
dalam darah setelah klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada
minggu ke-5 atau ke-6.
3. Penyakit penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai
demam typhoid yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti
agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma lanjut.
4. Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti
mikroba dapat menghambat pembentukan antibodi.

5. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat


menghambat terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem
retikuloendotelial.
6. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan
kotipa atau tipa, titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O
biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer
aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh sebab itu
titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai
nilai diagnostik.
7. Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadaan
ini dapat mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun dengan hasil
titer yang rendah.
8. Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin
terhadap salmonella thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang
bukan typhoid pada seseorang yang pernah tertular salmonella di masa
lalu.
b. Faktor-faktor Teknis
1. Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen
O dan H yang sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat
menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies yang lain.
2. Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji
widal.
3. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian
yang berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen dari strain
salmonella setempat lebih baik dari suspensi dari strain lain.
H. PenatalaksanaanMedik

A. Perawatan
Pasien thypoid perlu dirawat di Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan, observasi dan diberikan
pengobatan yakni :

Isolasi pasien.

Desinfeksi pakaian.

Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang lama, lemah, anoreksia
dan lain-lain.

Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal kembali (istirahat total),
kemudian boleh duduk jika tidak panas lagi, boleh berdiri kemudian berjalan diruangan.

B. Diet
Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein. Bahan makanan tidak boleh
mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak menimbulkan gas, susu 2 gelas sehari, bila
kesadaran pasien menurun diberikan makanan cair melalui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan
anak baik dapat juga diberikan makanan biasa.
C. Obat
Obat anti mikroba yang sering digunakan :
a. Cloramphenicol

Cloramphenicol masih merupakan obat utama untuk pengobatan thypoid. Dosis untuk anak : 50
100 mg/kg BB/dibagi dalam 4 dosis sampai 3 hari bebas panas/minimal 14 hari.
b. Kotrimaksasol

Dosis untuk anak : 8 20 mg/kg BB/hari dalam 2 dosis sampai 5 hari bebas panas/minimal 10 hari.
c. Bila terjadi ikterus dan hepatomegali: selain Cloramphenicol juga diterapi dengan ampicillin 100

mg/kg BB/hari selama 14 hari dibagi dalam 4 dosis.

II.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN THYPOID


A. PENGKAJIAN
Pengkajian dengan pasien Demam Thypoid, meliputi :
1. Identitas
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur,
agama, pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin,
status perkawinan, dan penanggung biaya.

2.

3.

4.

5.

6.

Keluhan utama
Demam lebih dari 1 minggu, gangguan kesadaran : apatis sampai
somnolen, dan gangguan saluran cerna seperti perut kembung atau
tegang dan nyeri pada perabaan, mulut bau, konstipasi atau diare, tinja
berdarah dengan atau tanpa lendir, anoreksia dan muntah.
Riwayat penyakit saat ini
Ingesti makanan yang tidak dimasak misalnya daging, telur, atau
terkontaminasi dengan minuman.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun
menurun.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tifoid kongenital didapatkan dari seorang ibu hamil yang menderita
demam tifoid dan menularkan kepada janin melalui darah. Umumnya
bersifat fatal.
Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )
A. Keadaan Umum
Pada fase awal penyakit biasanya tidak didapatkan adanya
perubahan. Pada fase lanjut, secara umum pasien terlihat sakit
berat dan sering didapatkan penurunan tingkat kesadaran (apatis,
delirium).
B. Tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik :
Kepala kaki, nadi, respirasi, temperatur yang merupakan tolak
ukur dari keadaan umum pasien / kondisi pasien dan termasuk
pemeriksaan
dari
kepala
sampai
kaki
dengan
menggunakanprinsip-prinsip inspeksi, auskultasi, palpasi,
perkusi), disamping itu juga penimbangan BB untuk mengetahui
adanya penurunan BB karena peningakatan gangguan nutrisi yang
terjadi,
sehingga
dapat
dihitung
kebutuhan
nutrisi
yang dibutuhkan.
1. Pernafasan B1 (breath)
Bentuk dada : simetris
Pola nafas : teratur
Suara nafas : tidak ada bunyi nafas tambahan
Sesak nafas : tidak ada sesak nafas
Retraksi otot bantu nafas: tidak ada
Alat bantu pernafasan : tidak ada alat bantu pernafasan.

2.

3.

4.

5.

6.

Kardiovaskuler B2 (blood)
Penurunan tekanan darah
Keringat dingin
Diaforesis sering didapatkan pada minggu pertama.
Kulit pucat
Persyarafan B3 (brain):
Penglihatan (mata) : Gerakan bola mata dan kelopak
mata simetris, konjungtiva tampak anemis, sklera putih,
pupil bereaksi terhadap cahaya, produksi air mata (+),
tidak menggunakan alat bantu penglihatan.
Pendengaran (telinga) : Bentuk D/S simetris, mukosa
lubang hidung merah muda, tidak ada cairan dan
serumen, tidak menggunakan alat bantu, dapat merespon
setiap pertanyaan yang diajukan dengan tepat.
Penciuman (hidung) : Penciuman dapat membedakan
bau-bauan, mukosa hidung merah muda, sekret tidak
ada, tidak ada terlihat pembesaran mukosa atau polip.
Kesadaran : kompos mentis
Perkemihan B4 (bladder)
Kebersiahan : bersih
Bentuk alat kelamin : normal
Uretra : normal
Produksi urin : normal, BAK tidak menentu, rata-rata4-6
X sehari, tidak pernah ada keluhan batu atau nyeri.
Pencernaan B5 (bowel)
Nafsu makan : anoreksia
Porsi makan : porsi
Mulut : Bibir tampak kering, lidah tampak
kotor (keputihan),
gigi
lengkap, tidak
ada
pembengkakan gusi, tidak teerlihatpembesaran tonsil.
Mukosa : pucat.
Musculoskeletal/integument B6 (bone)
Kemampuan pergerakan sendi : normal
Kondisi tubuh : kelelahan, malaise.

B.

DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DEMAM


TIFOID
Dalam NANDA NIC-NOC, 2015 dijelaskan lima diagnosa keperawatan

yang mungkin muncul pada pasien dengan demam tifoid yang terdiri atas
definisi, batasan karakteristik dan faktor yang berhubungan yaitu sebagai
berikut.
1. Ketidakefektifan Termoregulasi Berhubungan dengan Fluktuasi Suhu

Lingkungan, Proses Penyakit


Definisi : Fruktuasi suhu diantara hipotermi dan hipertermia.
Batasan karakteristik
a. Dasar kuku sianostik
b. Fruktuasi suhu tubuh diatas dan dibawah kisaran normal.
c. Kulit kemerahan
d. Hipertensi
e. Peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal

Peningkatan frekuensi pernapasan


g. Sedikit menggigil, kejang
h. Pucat sedang
i. Piloereksi
j. Penurunan suhu tubuh dibawah kisaran normal
k. Kulit dingin, kulit hangat
l. Pengisian ulang kapiler yang lamba, takikardi
f.

Faktor yang berhubungan dengan


a. Usia yang ekstrem
b. Fluktuasi suhu lingkungan
c. Penyakit
d. Trauma
2. Nyeri Akut Berhubungan dengan Proses Peradangan

Definisi :
Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan jaringan yang actual atau potensial atau
digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa ( International
Association for the study of pain ) : awitan yang tiba-tiba atau lambat dari

intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi dan berlangsung <6 bulan.
Batasan Karakteristik :
a. Perubahan selera makan
b. Perubahan tekanan darah
c. Perubahan frekuensi jantung
d. Perubahan frekuensi pernapasan
e. Laporan isyarat
f. Diaphoresis
g. Perilaku distraksi (mis., berjalan mondar mandir, mencari orang lain
dan/ aktivitas lain, aktivitas yang berulang)
h. Mengekpresikan perilaku (mis., gelisah, merengek, menangis,
waspada, iritabilitas, mendesah)
i. Masker wajah (mis., mata kurang bercahaya, tampak kacau, gerakan
mata berpencar atau tetap pada satu focus, meringis)
j. Sikap melindungi area nyeri
k. Fokus menyempit (mis., gangguan persepsi nyeri, hambatan proses
berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)
l. Indikasi nyeri yang dapat diamati
m. Perubahan posisi untuk menghindari nyeri
n. Sikap tubuh melindungi
o. Dilatasi pupil
p. Melaporkan nyeri secara verbal
q. Fokus pada diri sendiri
r. Gangguan tidur
Faktor yang berhubungan :
Agen cedera ( mis., biologis, zat kimia, fisik, psikologis)
3. Ketidakseimbangan

Nutrisi Kurang dari Kebutuhan


Berhubungan dengan Intake yang Tidak Adekuat
Definisi : Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
metabolik.
Berhubungan dengan:
a. Faktor biologis
b. Faktor ekonomi
c. Ketidakmampuan untuk mengabsorpsi nutrien

Tubuh

d. Ketidakmampuan untuk mencerna makanan


e. Ketidakmampuan menelan makanan
f.

Faktor psikologis

Ditandai dengan:
a. Kram abdomen
b. Nyeri abdomen
c. Menghindari makanan
d. Berat badan 20% atau lebih di bawah berat badan ideal
e. Kerapuhan kapiler
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.
t.
u.
v.
w.
x.

Diare
Kehilangan rambut berlebihan
Bising usus hiperaktif
Kurang makanan
Kurang informasi
Kurang minat pada makanan
Penurunan berat badan dengan asupan makanan adekuat
Kesalahan konsepsi
Kesalahann informasi
Membran mukosa pucat
Ketidakmampuan memakan makanan
Tonus otot menurun
Mengeluh gangguan sensasi rasa
Mengeluh asupan makanan kurang dari RDA
Cepat kenyang setelah makan
Sariawan rongga mulut
Steatorea
Kelemahan otot pengunyah
Kelemahan otot untuk menelan

4. Risiko Kekurangan Volume Cairan Berhubungan dengan Intake Yang

Tidak Adekuat Dan Peningkatan Suhu Tubuh


Definisi : Berisiko mengalami dehidrasi vascular, selular, atau intaselular.
Faktor Risiko :
a. Kehilangan volume cairan aktif
b. Kurang pengetahuan
c. Penyimpanan yang memengaruhi absorpsi cairan

d. Penyimpangan yang memengaruhi akses cairan


e. Penyimpangan yang memengaruhi asupan cairan

Kehilangan harus berlebihan melalui rute normal (mis., siang


menetap
g. Usia lanjut
h. Berat badan ekstrem
i. Faktor yang memengaruhi kebutuhan cairan (mis., status
hipermetabolik)
j. Kegagalan fungsi regulator
k. Kehilangan cairan melalui rute abnormal (mis., slang menetap)
l. Agens farmaseutikal (mis., diuretik)
f.

5. Konstipasi Berhubungan dengan Penurunan Motilitas Traktus

Gastrointestinal (Penurunan Motilitas Usus)


Definisi : penurunan pada frekuensi normal defekasi yang disertai oleh
kesulitan atau pengeluaran tidak lengkap feses dan/ atau pengeluaran feses
yang keras, kering, dan banyak.
Batasan Karakteristik :
a. Nyeri abdomen
b. Nyeri tekan abdomen dengan teraba resistensi otot.
c. Nyeri tekan abdomen tanpa teraba resistensi otot.
d. Anoreksia
e. Penampilan tidak khas pada lansia (misal, perubahan pada status
mental, inkontinensia urinarius, jatuh yang tidak ada penyebabnya,
peningkatan suhu tubuh
f. Borborigmi
g. Darah merah pada feses.
h. Perubahan pada pola defekasi
i. Penurunan frekuensi.
j. Penurunan volume feses.
k. Distensi abdomen
l. Rasa rektal penuh.
m. Rasa tekanan rektal.
n. Keletihan umum
o. Feses keras dan berbentuk
p. Sakit kepala
q. Bising usus hiperaktif.

r.
s.
t.
u.
v.
w.
x.
y.
z.
aa.
bb.
cc.
dd.
ee.

Bising usus hipoaktif.


Peningkatan tekanan abdomen
Tidak dapat makan.
Mual.
Rembesan feses cair.
Nyeri pada saat defekasi.
Masa abdomen yang dapat diraba.
Masa rektal yang dapat diraba.
Adanya feses lunak, seperti pasta di dalam rektum.
Perkusi abdomen pekak.
Sering flatus.
Mengejan pada saat defekasi.
Tidak dapat mengeluarkan feses.
Muntah.

Faktor yang berhubungan :


a. Fungsional
1) Kelemahan otot abdomen
2) Kebiasaan mengabaikan dorongan defekasi.
3) Ketidakadekuatan toileting (misal, batasan waktu, posisi untuk

defekasi, privasi).
4) Kurang aktivitas fisik.
5) Kebiasaan defekasi tidak teratur.
6) Perubahan lingkungan saat ini.
b. Psikologis
1) Depresi, Stres emosi.
2) Konfusi mental.
c. Farmakologis
1) Antasida mengandung aluminium.
2) Antikolinergik.
3) Antikonvulsan.
4) Antidepresan.
5) Agens antilipemik.
6) Garam bismuth.
7) Kalsium karbonat.
8) Penyekat saluran kalsium.
9) Diuretik.

10) Garam besi.


11) Penyalahgunaan laksatif.
12) Agens antiinflamasi.
13) Nonsteroid.
14) Opiat.
15) Penotiazid.
16) Sedatif.
17) Simpatomimetik
d. Mekanis
1) Ketidakseimbangan elektrolit.
2) Hemoroid
3) Penyakit Hirschsprung.
4) Gangguan neurologis
5) Obesitas
6) Obstruksi pasca bedah
7) Kehamilan
8) Pembesaran prostat
9) Abses rektal
10) Fisura anal rektal
11) Striktur anal rektal
12) Prolaps rektal
13) Ulkus rektal
14) Rektokel, Tumor
e. Fisiologis
1) Perubahan pola makan
2) Perubahan makanan
3) Penurunan motilitas traktus gastrointestinal
4) Dehidrasi
5) Ketidakadekutan gigi geligi
6) Ketidakadekuatan higiene oral
7) Asupan serat tidak cukup
8) Asupan cairan tidak cukup
9) Kebiasaan makan buruk
C.

INTERVENSI

Diagnosa

Tujuan

Intervensi

Ketidakseimbangan NOC

NIC

Nutrisi Kurang dari Setelah dilakukan asuhan


Kebutuhan Tubuh

1. Nutrition Management
a. Kaji
adanya
alergi

keperawatan x 24 jam

makanan

diharapkan masalah

b. Kolaborasi dengan ahli

keperawatan

gizi untuk menentukan

ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
dapat teratasi dengan
Kriteria Hasil :
1. Adanya peningkatan berat

badan

sesuai

dengan

tujuan
2. Berat badan ideal sesuai
dengan tinggi badan
3. Mampu mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
4. Tidak ada tanda-tanda
malnutrisi
5. Menunjukkan peningkatan

fungsi

pengecapan

dari

menelan
6. Tidak terjadi penurunan
berat badan yang berarti

jumlah kalori dan nutrisi


yang dibutuhkan pasien
c. Anjurkan pasien untuk
meningkatkan intake Fe
d. Anjurkan pasien untuk
meningkatkan

protein

dan vitamin C
e. Berikan substansi gula
f. Yakinkan diet yang

dimakan
tinggi

mengandung
serat

untuk

mencegah konstipasi
g. Berikan makanan yang
terpilih

(sudah

dikonsultasikan dengan
ahli gizi)
h. Ajarkan
bagaimana

pasien
membuat

catatan makanan harian


i. Monitor jumlah nutrisi
dan kandungan kalori
informasi

j. Berikan

tentang

kebutuhan

nutrisi
k. Kaji kemampuan pasien

untuk

mendapatkan

nutrisi yang dibutuhkan


2. Nutrition Monitoring
a. BB pasien dalam batas
normal
b. Monitor

adanya

penurunan berat badan


c. Monitor tipe dan jumlah

aktivitas

yang

biasa

dilakukan
d. Monitor interaksi anak

atau orang tua selama


makan
e. Monitor

lingkungan

selama makan
pengobatan

f. Jadwalkan

dan

tindakan

tidak

selama jam makan


g. Monitor kulit kering dan

perubahan pigmentasi
h. Monitor turgor kulit
i. Monitor
kekeringan,
rambut

kusam,

dan

mudah patah
mual

dan

j. Monitor

muntah
k. Monitor kadar albumin,
total protein, Hb, dan
kadar Ht
l. Monitor

pertumbuhan

dan perkembangan
pucat,

m. Monitor

kemerahan,

dan

kekeringan

jaringan

konjungtiva
kalori

n. Monitor

intake kalori
o. Catat adanya
hiperemik,

dan
edema,

hipertonik

papilla lidah dan cavitas


oral
p. Catat
berwarna

jika

lidah
magenta,

scarlet
Konstipasi

Setelah diberikan asuhan

NIC : Konstipation atau

keperawatan selama 2 x 24

impaction management
a. Monitor tanda dan gejala

jam diharapkan pola


eliminasi fekal pasien normal
dengan kriteria hasil : NOC :
Bowel elimination
- Buang air besar / BAB

konstipasi
b. Monitor frekuensi, warna,
dan konsistensi.
c. Anjurkan pada pasien

untuk makan buah-buahan

dengan konsistensi

dan serat tinggi dengan

lembek
- Pasien menyatakan

konsultasi bagian gizi.

d. Mobilisasi bertahap
mampu mengontrol pola e. Kolaborasikan dengan

BAB

tenaga medis mengenai

- Mempertahankan pola

eliminasi usus tanpa ileus

pemberian laksatif, enema


dan pengobatan
f. Berikan pendidikan
kesehatan tentang :
kebiasaan diet, cairan dan
makanan yang mengandung
gas, aktivitas dan kebiasaan
BAB
g. Intruksikan agar pasien tidak
mengejan saat defekasi

Resiko kekurangan Noc :

NIC

volume cairan

Setelah dilakukan asuhan

Fluid Management

keperawatan selama x24

- Timbang popok/pembalut

jam diharapkan cairan pasien

jika diperlukan
- Pertahankan catatan intake

kembali seimbang dengan


kriteria hasil :
a. Mempertahan kan urine

output sesuai dengan usia


dan BB, Bj urine normal,
HT normal
b. Tekanan darah, nadi,

dan output akurat


- Monitor status hidrasi
- Monitor vital sign
- Monitor masukan

makanan/cairan dan hitung


intake kalori harian
- Kolaborasikan pemberian

suhu tubuh dalam batas


normal
c. Tidak ada tanda-tanda

cairan IV
- Monitor status nutrisi
- Dorong masukan oral

dehidrasi
d. Elastisitas turgor kulit

baik, membrane mukosa


lembab, tidak ada rasa
haus yang berlebihan
Sete

- Berikan penggantian

nesogatrik sesuai ouput


- Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan

- Tawarkan snack
- Kolaborasi dengan dokter
- Atur kemungkinan tranfusi
- Persiapan untuk tranfusi

Hipovolemia Management
- Monitor status cairan

termasuk intake dan output


cairan
- Pelihara IV line
- Monitor tingkat Hb dan

hematokrit
- Monitor tanda vital
- Monitor respon pasien

terhadap penambahan cairan


- Monitor berat badan
- Dorong pasien untuk

menambah intake cairan


- Pemberian cairan iv monitor

adanya tanda dan gejala


kelebihan volume cairan
- Monitor adanya tanda gagal

ginjal

No

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Nyeri Akut

NOC :
Pain level
Pain control
Comfort level

Setelah

dilakukan

NIC :
Lakukan

pengkajian

nyeri

secara komprehensif termasuk


lokasi, karakteristik, furasi,
frekuensi, kualitas dan faktor

tindakan

presipitasi
keperawatan selama ... x 24 Observasi reaksi nonverbal
jam. Pasien tidak mengalami dari ketidaknyamanan
Bantu pasien dan keluarga
nyeri, dengan :
untuk

Kriteria Hasil
Mampu mengontrol nyeri

(tahu

penyebab

mampu
teknik

nyer,

menggunakan
nonfarmakologi

mrncari

dan

menemukan dukungan
lingkungan

yang

dapat

mempengaruhi

nyeri

seperti

suhu

Kontrol

rungan,

pencahayaan dan kebisingan


untuk mengurangi nyeri, Kurangi faktor presipitasi
mencari bantuan)
nyeri
Melaporkan bahwa nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri
berkurang
dnegan untuk menentukan intervensi
menggunakan manajemen Ajarkan tentang teknik non
farmakologi : napas dala,
nyeri
Mampu mengenali nyeri
relaksasi, distraksi, kompres
(skala, intensitas, frekuensi hangat/dingin
Berikan informasi tentang
dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa nyaman
nyeri seperti penyebab nyeri,
setelah nyeri berkurang
berapa lama nyeri akan
Tanda vital dalam rentang
berkurang
dan
antisipasi
normal
dari
Tidak
mengalami ketidaknyamanan
prosedur
gangguan tidur
Monitor vital sign sebelum

dan

sesudah

pemberian

analgesik
2

Nyeri Kronis

NOC
Comfort level
Pain control

NIC
Pain Manajement
Monitor kepuasan pasien

Pain level

terhadap manajemen nyeri


Tingkatkan istirahat dan

keperawatan selama ... x 24

tidur yang adekuat


Kelola anti analgetik
Jelaskan
pada
pasien

jam

penyebab

nyeri

berkurang dengan :

teknik

nonfarmakologis

Kriteria Hasil

(relaksasi,

Tidak ada gangguan tidur


Tidak
ada
gangguan

punggung)

Setelah

dilakukan

nyeri

tindakan

kronis

pasien

Lakukan
masase

hubungan interpersonal
Tidak
ada
ekspresi
menahan

nyeri

dan

ungkapan secara verbal


Tidak ada tegangan otot
3

Ketidak
Termoregulasi

EfektifanNOC

NIC

Hidration
Adherence behavior
Immune status
Risk control
Risk detection

Setelah

dilakukan

Temperature

Regulation

(Pengaturan suhu)
Monitor suhu minial tiap 2 jam
Rencanakan monitoring suhu

tindakan

keperawatan selama ... x 24

secara kontinyu
Monitor TD, Nadi, dan RR
Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tanda-tanda hipertemi

jam. Pasien tidak mengalami dan hipotemi


Tingkatkan intake cairan dan
ketidak
efektifan
nutrisi
termoregulasi, dengan :
Selimuti
pasien
untuk
Kriteria Hasil :
mencegah
hilangnya
Keseimbangan
antara
kehangatan tubuh

reproduksi panas, panas Ajarkan pada pasien cara


yang

diterima

dan mencegah

keletihan

akibat

panas
kehilangan panas.

Seimbang antara produksi Diskusikan tentang pentingnya


panas yang diterima dan pengetahuan
kehilangan panas selama 28 kemungkinan

suhu
efek

dan
negative

hari pertama kehidupan

dari kedinginan
tentang

Keseimbangan asam basa Beritahu

indikasi

terjadinya
keletihan
dan
bayi baru lahir
Temperature stabil : 36,5penanganan emergency yang
37 C
diperlukan
Tidak ada kejang
Ajarkan indikasi dari hipotermi
Tidak ada perubahan warna
dan
penanganan
yang
kulit
diperlukan
Glukosa darah stabil

Pengendalian
resiko
: Berikan anti piretik jika perlu
hipertemia
Pengendalian

resiko

hypothermia
Pengendalian

resiko

proses menular
Pengendalian
risiko

paparan sinar matahari

DAFTAR PUSTAKA
Anonym. 2014. Tinjauan Pustaka Demam Tyhpoid. (Online). Available:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28625/4/Chapter%20II.pdf
(6 Oktober 2015)
Arif Mansjoer, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Penerbit Media Aeusculapius
FK-UI, Jakarta
NANDA. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan berdasarkan Diagnosa Medis.
Yogyakarta: Medi Action
Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC. Jogjakarta :
Mediaction

Safii

Lutfi

Insan.

2012.

Naskah

Publikasi.

(Online).

Available:

http://eprints.ums.ac.id/21070/26/naskah_publikasi.pdf (6 Oktober 2015)


Wielda Sri. 2014. Asuhan Keperawatan Typhoid Pada Anak. (Online). Available:
https://www.scribd.com/doc/77442774/Askep-TYPHOID-Pada-Anak
Oktober 2015)

(6