Vous êtes sur la page 1sur 12

Tugas dr. Sukasihati, Sp.

KK
Nama : Levina Mutia

NIM : 1508434479

OBAT ANTIJAMUR
OBAT ANTIJAMUR SISTEMIK
NO

Nama Obat

Golongan azol
1.
Ketokonazol

2.

Itrakonazole

Pengobatan untuk
species

Lama pemberian

Efek samping

Blastomyces
dermatitidis,
Candida species,
Coccidiodes
immitis,
Histoplasma
capsulatum,
Malasezzia furfur,
Paracoccidiodes
brasiliensis

Dewasa 400 mg/hari

Anoreksia
Mual
Muntah
Gatal

Kurang efektif
pada:
Aspergillus
spesies dan
Zygomycetes

2 minggu untuk kandida


esofagitis,

Aspergillosis sp.,
Blastomyces
dermatidis,
Candida sp.,
Cossidiodes
immitis,
Cryptococcus
neoformans,
Histoplasma
capsulatum,
Malassezia furfur,
Paracoccidiodes
brasiliensis,
Scedosporium

Anak-anak 3,3-6,6 mg/kgBB


dosis tunggal
Tinea korporis dan tinea kruris
selama 2-4 minggu
5 hari untuk kandida
vulvovaginitis

Hati-hati pada
pasien dengan
gangguan fungsi
hati

tinea versikolor selama 5-10


hari
6-12 bulan untuk mikosis
dalam
Tabel 1

Mual
nyeri abdomen
konstipasi sakit
kepala
pruritus
ruam alergi

apiospermum dan
Sporothrix
schenckii
Kurang efektif
pada:
Zygomycetes

3.

Flukonazol

kandidiasis oral
atau esophageal
criptococcal
meningitis

Dewasa dan kandidiasis vagina


adalah 150 mg dosis tunggal.
Kandidiasis vulvovaginal
rekuren 150 mg tiap minggu
selama 6 bulan atau lebih.
Tinea pedis dengan 150 mg tiap
minggu selama 3-4 minggu,
dengan 75% perbaikan pada
minggu ke-4.

mual, muntah
diare
nyeri abdomen
sakit kepala
hipersensitivitas,
agranulositosis,
sindroma Stevens
Johnsons,
hepatotoksik,
trombositopenia

Onikomikosis, terbinafin 250


mg sehari selama 12 minggu
lebih utama dibandingkan
flukonazol 150 mg tiap minggu
selama 24 minggu

4.

Varikonazole

Aspergillus sp.,
Blastomyces
dermatitidis,
Candida sp,
Candida spp
flukonazol
resistant.,
Cryptococcus
neoforams,
Fusarium sp.,
Histoplasma
capsulatum, dan
Scedosporium
apospermum

Pitiriasis versikolor digunakan


400 mg dosis tunggal
kandidiasis esofageal dimulai
dengan dosis oral 200 mg setiap
12 jam untuk berat badan > 40
kg dan 100 mg setiap 12 jam
untuk berat badan < 40 kg.
Untuk aspergilosis invasif dan
penyakit jamur, lainnya yang
disebabkan Scedosporium
asiospermum dan Fussarium
spp, direkomendasikan loading
dose 6 mg/kg IV setiap 12 jam
untuk 24 jam pertama, diikuti
dengan dosis pemeliharaan 4
mg/kgBB setiap 12 jam dengan

Gangguan
penglihatan
transien
Meski dapat
ditoleransi dengan
baik, pada 10-15%
kasus ditemukan
adanya
abnormalitas
fungsi hepar
sehingga dalam
pemberian
vorikonazol perlu
dilakukan monitor

Kurang efektif
pada:
Zygomycetes

5.

Posakonazol

Zygomycetes

pemberian intravena atau 200


mg setiap 12 jam per oral

Vorikonazol
bersifat
teratogenik pada
hewan dan
kontraindikasi
pada wanita hamil

dosis 50-800 mg.


Pemberian awal posakonazol
dibagi menjadi empat dosis
guna mencapai level plasma
adekuat.
Pemberian posakonazol dapat
juga diberikan dua kali sehari
pada keadaan tidak
membahayakan jiwa

Golongan Alilamin
1.
Terbinafin

fungisidal dan
fungistatik untuk
Candida albican,
s tetapi bersifat
fungisidal
terhadap Candida
parapsilosis.
Terbinafin juga
efektif terhadap
Aspergillosis sp.,
Blastomyces
dermatitidis,
Histoplasma
capsulatum,
Sporothrix
schenxkii dan
beberapa
dermatiaceous
moulds

Golongan Polien

fungsi hepar.

Tabel 2

1.

Amfoterisin B

Aspergillus sp.,
Mucorales sp.,
Blastomyces
dermatitidid,
candida sp.,
Coccidiodiodes
immitis,
Cryptococcus
neoformans,
Histoplasma
capsulatum,
paracoccidioides
brasiliensis,
Penicillium
marneffei

dosis 1-2 gr amfoterisin B


deoksikolat
selama
6-10
minggu.
Orang dewasa dengan fungsi
ginjal yang normal diberikan
dosis 0,6-1,0 mg/kg BB.
Sebelum
pemberian
obat,
terlebih dahulu dites dengan
dosis 1 mg amfoterisin B di
dalam 50 ml cairan dextrose
dan diberikan selama 1-2 jam
(anak-anak dengan berat badan
kurang dari 30 kg diberikan
dosis 0,5 mg) kemudian
diobservasi dan dimonitor suhu,
denyut jantung dan tekanan
darah setiap 30 menit oleh
karena pada beberapa pasien
dapat timbul reaksi hipotensi
berat atau reaksi anafilaksis.
Dosis obat dapat ditingkatkan >
1mg/kgBB,
tetapi
tidak
melebihi 50 mg.
Setelah 2 minggu pengobatan,
konsentrasi di dalam darah akan
stabil dan kadar obat di jaringan
makin
bertambah
dan
memungkinkan obat diberikan
pada interval 48 atau 72 jam.
Pemberian
liposomal
amfoterisin B biasanya dimulai
dengan dosis 1,0 mg/kg BB
dapat ditingkatkan menjadi 3,05,0 mg.kgBB atau lebih.
Formula ini harus diberikan
intravena dalam waktu 2 jam,
jika ditoleransi baik maka
waktu
pemberian
dapat
dipersingkat menjadi 1 jam.
Obat ini berikan pada individu
selama 3 bulan dengan dosis
kumulatif 15 g tanpa efek
samping toksik yang signifikan.

Mual
Muntah
Flebitis
Kerusakan tubulus
ginjal

Dosis yang dianjurkan adalah 3


mg/kbBB/hari.
Dosis yang direkomendasikan
untuk pemberian amfoterisin B
lipid
kompleks
yaitu
5
mg/kgBB
dan
diberikan
intravena dengan rata-rata 2,5
mg/kbBB/jam. Obat ini pernah
diberikan pada individu selama
11
bulan
dengan
dosis
kumulatif 50 g tanpa efek
samping toksik yang signifikan.
Dosis awal amfoterisin B
dispersi koloid yaitu 1,0
mg/kgBB diberikan intravena
dengan
rata-rata
1
mg/kgBB/jam
dan jika
dibutuhkan
dosis
dapat
ditingkatkan menjadi 3,0-4,0
mg/kgBB. Obat ini pernah
diberikan pada individu dengan
dosis kumulatif 3 g tanpa efek
samping
toksik
yang
4,13
signifikan.
2.

Nistatin

Spectrum luas

500.000 unit setiap 6 jam.


Suspensi nistatin oral terdiri
dari 100.000 unit/ml yang
diberikan 4 kali sehari dengan
dosis pada bayi baru lahir 1 ml,
infant 2 ml dan dewasa 5 ml.

Golongan lain
1.
Flusitosin

2.

Griseofulvin

Candida sp.,
Cryptococcus
neoformans,
Cladophialophora
carrionii,
Fonsecaea sp.,
Phialophora
verrucosa
Epidermophyton
flocossum,

Pada orang dewasa dengan


fungsi ginjal yang normal,
pemberian flusitosin diawali
dengan dosis 100 mg/kg BB
perhari, dibagi dalam 4 dosis
dengan interval 6 jam namun
jika terdapat gangguan ginjal
pemberian flusitosin diawali
dengan dosis 25 mg/kgBB
Tinea kapitis lebih sering
dijumpai
pada
anak-anak

Mual
Muntah
Diare
Trombositopenia

sakit kepala
mual

Microsporum sp.,
dan Trichophyton
sp.,
Tidak efektif
pada:
kandidiasis
kutaneus dan
pitiriasis
versikolor

disebabkan oleh Trychopyton


tonsurans.
Dosis pada anak-anak 20-25
mg/kg/hari (mikrosize), atau 1520
mg/kg/hari
(ultrasize)
8
selama 6-8 minggu.

muntah
nyeri abdomen
Timbulnya reaksi
urtikaria dan
erupsi kulit

Dosis griseofulvin (pemberian


secara oral) yaitu dewasa 5001000 mg/ hari (microsize) dosis
tunggal atau terbagi dan 330375 mg/hari (ultramicrosize)
dosis tunggal atau terbagi.10
Lama pengobatan untuk tinea
korporis dan kruris selama 2-4
minggu, untuk tinea kapitis
paling sedikit selama 4-6
minggu, untuk tinea pedis
selama 4-8 minggu dan untuk
tinea unguium selama 3-6
bulan.

Tabel 1. Dosis dan penggunaan itrakonazole


Dewasa
Kuku tangan : 200 mg 2xsehari
1 minggu/bulan , 2 dosis pulse
Kuku kaki : 200 mg/harix12
minggu
Atau
200
mg
2xsehari
x
1minggu/bulan, 3 dosis pulse

Anak-anak
Kuku tangan : 5 mg/kg/hari x 1
minggu/bulan, 2 dosis pulsea
Kuku kaki : 5 mg/kg/hari x 1
minggu/bulan, 3 dosis pulse

Tinea kapitis

250 mg/hari x 2-8 minggu

Tinea korporis, tinea kruris,


tinea pedis
Pitiriasis versikolor

200 mg 2xseharix1 minggu

Infeksi Trichophyton : 5
mg/kg/hari x 2-4 minggu
Infeksi Mikrosporum : 5
mg/kg/hari x 4-8 minggu
Dosis berdasarkan berat x 1-4
minggu
Tidak ada penelitian

Onikomikosis

200 mg/hari x 5-7 hari, untuk


pencegahan rekuren dengan 200
mg 2xsehari dosis tunggal/bulan

Tabel. 2 Dosis dan penggunaan terbinafin

Tinea kapitis

Dewasa
Kuku tangan : 250 mg/hr x 6
minggu
Kuku kaki : 250 mg/hr x 12
minggu
250 mg/hr x 2-8 minggu

Tinea korporis, tinea kruris


Tinea pedis (mokasin)
Dermatitis seboroik

250 mg/hr x 1-2 minggu


250 mg/hr x 2 minggu
250 mg/hr x 4-6 minggu

Onikomikosis

Anak-anak
3-6 mg/khg/hr x 6-12 minggua

Infeksi Trichophyton : 3-6


mg/kg/hr x 2-4 minggua
Infeksi
Microsporum : 3-6
mg/kg/hr x 6-8 minggua
3-6 mg/kg/hr x 1-2 minggu
b
b

OBAT ANTI JAMUR TOPIKAL


NO
Nama Obat
Golongan Azol
1.
Klotrimazol

2.

Ekonazol

Dosis penggunaan
dermatifitosis,
kandidiasis oral,
kutaneus dan genital

dermatofitosis dan
kandidiasis oral
kutaneus dan genital

Untuk pengobatan kandidiasis vaginalis


diberikan dosis 500 mg pada hari ke-1, 200 mg
hari ke-2, atau 100 mg hari ke-6 yang
dimasukkan ke dalam vagina.
Untuk pengobatan infeksi jamur pada kulit
digunakan krim klotrimazol 1% dosis dan
lamanya pengobatan tergantung kondisi pasien,
biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan
dioleskan 2 kali sehari
Untuk pengobatan kandidiasis vaginalis
diberikan dosis 150 mg yang dimasukkan ke
dalam vagina selama 3 hari berurut-turut.
Untuk pengobatan infeksi jamur pada kulit
digunakan ekonazol krim 1 %, dosis dan

lamanya tergantung dari kondisi pasien,


biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan
dioleskan 2 kali sehari.
Ekonazol penetrasi dengan cepat di stratum
korneum. Kurang dari 1% diabsorpsi ke dalam
darah.

3.

Mikonazol

dermatofitosis, pitiriasis
versikolor, serta
kandidiasis oral,
kutaneus dan genital

Sekitar 3% pasien mengalami eritema lokal,


sensasi terbakar, tersengat, atau gatal
Pengobatan kandidiasis vaginalis diberikan
dosis 200 selama 7 hari atau 100 mg selama 14
hari yang dimasukkan ke dalam vagina.
Pengobatan kandidiasis oral, diberikan oral gel
(25 mg) 4 kali sehari.

4.

5.

6.

Ketokonazol

dermatofitosis, pitiriasis
versikolor, kutaneus
kandidiasis dan dapat
juga untuk pengobatan
dermatitis seboroik

Terkonazol

dermatofitosis dan
kandidiasis kutaneus dan
genital

Sulkonazol

dermatofitosis dan
kandidiasis kutaneus

Pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan


mikonazol krim 2%, dosis dan lamanya
pengobatan tergantung dari kondisi pasien,
biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan
dioleskan 2 kali sehari
Pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan
krim ketokonazol 1%, dosis dan lamanya
pengobatan tergantung dari kondisi pasien,
biasanya diberikan selama 2-4 minggu dan
dioleskan sekali sehari
Pengobatan dermatitis seboroik dioleskan 2 kali
sehari. Pengobatan pitiriasis versikolor
menggunakan ketokonazol 2% dalam bentuk
shampoo sebanyak 2 kali seminggu selama 8
minggu
Pengobatan kandidiasis vaginalis yang
disebabkan Candida albicans, digunakan
terkonazol krim vagina 0,4% (20 gr terkonazol)
yang dimasukkan ke dalam vagina
menggunakan aplikator sebelum waktu tidur, 1
kali sehari selama 3 hari berturut-turut dan
vaginal supositoria dengan dosis 80 mg
terkonazol, dimasukkan ke dalam vagina, 1 kali
sehari sebelum waktu tidur selama 3 hari
berturut-turut
tinea kruris ataupun pitiriasis versikolor
dioleskan 1 atau 2 kali sehari selama 3 minggu

7.

tiokonazol

dermatofitosis serta
kandidiasis kutaneus dan
genital

dan untuk tinea pedis dioleskan 2 kali sehari


selama 4 minggu
Untuk infeksi pada kulit digunakan tiokonazol
krim 1%, dosis dan lamanya pengobatan
tergantung kondisi pasien.
Pengobatan tinea korporis dan kandidiasis
kutaneus biasanya diberikan selama 2-4 minggu
dan dioleskan 2 kali sehari.
Untuk tinea pedis dioleskan 2 kali sehari selama
6 minggu, untuk tinea kruris dioleskan 2 kali
sehari selama 2 minggu dan untuk pitirisis
versikolor dioleskan 2 kali sehari selama 1-4
minggu

Golongan Alilamin
1.
Naftifin

2.

3.

Terbinafin

Butenafin

Golongan Polien
1.
Nistatin

Naftifin dapat digunakan


untuk pengobatan
dermatofitosis dan
Candida sp.,
dermatofitosis, pitiriasis
versikolor
dan
kandidiasis kutaneus.

Butenafin
bersifat
fungisidal
terhadap
dermatofita dan dapat
digunakan

kandidiasis kutis dapat


digunakan nistatin
topikal pada kulit atau
membrane mukosa
(rongga mulut, vagina).

ANTIJAMUR GOLONGAN LAIN

Untuk pengobatan digunakan krim naftifin


hidroklorida krim 1% dioleskan 1 kali sehari
selama 1 minggu
Digunakan terbinafin krim 1% yang dioleskan 1
atau 2 kali sehari.
Untuk pengobatan tinea korporis dan tinea
kruris digunakan selama 1-2 minggu, untuk
tinea pedis selama 2-4 minggu, untuk
kandidiasis kutaneus selama 1-2 minggu dan
untuk pitiriasis versikolor selama 2 minggu.
untuk pengobatan tinea korporis, tinea kruris
dan tinea pedis, dioleskan 1 kali sehari selama 4
minggu.

Untuk pengobatan kandidiasis vaginalis


diberikan 1 atau 2 vaginal suppossitoria
(100.000 setiap unitnya) yang diberikan selama
kurang lebih 14 hari.

1.

Asam Undesilenat
Asam undesilenat bersifat fungistatik, dapat juga bersifat fungisidal apabila terpapar
lama dengan konsentrasi yang tinggi pada agen jamur. Tersedia dalam bentuk salep, krim, bedak
spray powder, sabun, dan cairan. Salap asam undesilenat mengandung 5% asam undesilenat dan
20% zinc undesilenat. Zinc bersifat astringent yang menekaninflamasi.Preparat ini digunakan
untuk mengatasi dermatomikosis, khususnya tinea pedis. Efektifitas masih lebih rendah dari
imidazol, haloprogin atau tolnaftat. Preparat ini juga dapat digunakan pada ruam popok, dan
tinea kruris.
2.

Salep Whitefield
Pada tahun 1970, Arthur Whitefield membuat preparat salep yang mengandung 12%
asam benzoate dan 6% asam salisilat. Kombinasi ini dikenal dengan salep Whitefield. Asam
benzoat bekerja sebagai fungistatik, dan asam salisilat sebagai keratolitik sehingga menyebabkan
deskuamasi keratin yang mengandung jamur. Preparat nini sering menyebabkan iritasi khususnya
jika dipakai pada permukaan kulit yang luas. Selain itu absorpsi secara sistemik dapat terjadi,
dan menyebabkan toksisitas asam salisilat, khususnya pada pasien yang mengalami gagal ginjal.
Digunakan untuk mengatasi tinea pedis, dan tinea kruris.
3.
Amorolfin
Amorolfin merupakan phenylpropylpiperidine. Bekerja dengan cara menghambat
biosintesis ergosterol jamur. Aktifitas spektrumnya luas, dapat digunakan untuk pengobatan tinea
korporis, tinea kruris, tinea pedis dan onikomikosis. Untuk infeksi jamur pada kulit amorolfin
dioleskan satu kali sehari selama 2-3 minggu sedangkan untuk tinea pedis selama 6 bulan.
Amorolfin 5% nail lacquaer diberikan sebagai monoterapi pada onikomikosis ringan tanpa
adanya keterlibatan matriks. Diberikan satu atau dua kali seminggu selama 6-12 bulan.
Pemakaian amorolfin 5% pada pengobatan jamur memiliki angka kesembuhan 60-76% dengan
pemakaian satu atau dua kali seminggu. Kuku tangan dioleskan satu atau dua kali setiap minggu
selama 6 bulan sedangkan kuku kaki harus digunakan selama 9-12 bulan.
4.

Siklopiroks olamin
Siklopiroks olamin adalah antijamur sintetik hydroxypyridone, bersifat fungisidal,
sporisida dan memiliki penetrasi yang baik pada kulit dan kuku. Siklopiroks efektif untuk
pengobatan tinea korporis, tinea kruris, tinea pedis, onikomikosis, kandidiasis kutaneus dan
pitiriasis versikolor.
Untuk pengobatan infeksi jamur pada kulit harus dioleskan 2 kali sehari selama 2-4
minggu sedangkan untuk pengobatan onikomikosis digunakan siklopiroks nail lacquer 8%.
Setelah dioleskan pada permukaan kuku yang sakit, larutan tersebut akan mengering dalam
waktu 30-45 detik, zat aktif akan segera dibebaskan dari pembawa berdifusi menembus lapisan
lempeng kuku hingga ke dasar kuku (nail bed) dalam beberapa jam sudah mencapai kedalaman
0,4 mm dan secara penuh akan dicapai setelah 24-48 jam pemakaian. Kadar obat akan mencapai
kadar fungisida dalam waktu 7 hari sebesar 0,89 0,25 mikrogram tiap milligram material kuku.
Kadar obat akan meningkat terus hingga 30-45 hari setelah pemakaian dan selanjutnya
konsentrasi akan menetap yakni sebesar 50 kali konsentrasi obat minimal yang berefek
fungisidal. Konsentrasi obat yang berefek fungisidal ditemukan di setiap lapisan kuku.7
Sebelum pemakaian cat kuku siklopiroks, terlebih dahulu bagian kuku yang terinfeksi
diangkat atau dibuang, kuku yang tersisa dibuat kasar kemudian dioleskan membentuk lapisan
tipis. Dilakukan setiap 2 hari sekali selama bulan pertama, setiap 3 hari sekali pada bulan kedua

dan seminggu sekali pada bulan ketiga hingga bulan keenam pengobatan. Pemakaian cat kuku
dianjurkan tidak lebih dari 6 bulan.
5.

Haloprogin
Haloprogin merupakan halogenated phenolic, efektif untuk pengobatan tinea korporis,
tinea kruris, tinea pedis dan pitiriasis versikolor, dengan konsentrasi 1% dioleskan 2 kali sehari
selama 2-4 minggu.
6.

Timol
Timol adalah antiseptik yang larut dalam alkohol efektif dalam bentuk tingtur untuk
mengobati onikolisis. Timol bekerja sebagai antiseptik membunuh organisme pada saat alkohol
menguap. Tidak tersedia preparat komersil; ahli farmakologi mencampur 2-4% timol ke dalam
larutan dasar seperti etanol 95% dan mengendap di dasar botol. Pemakaiannya jari ditegakkan
vertikal lalu diteteskan solusio sampai menyentuh hiponikium, gaya gravitasi dan tekanan
permukaan secara cepat mendistribusikan timol ke bagian terdalam dari ruang subungual.
Penggunaan timol beresiko iritasi, dan memiliki bau yang tidak menyenangkan.
7.

Castellanis paint
Castellanis paint (carbol fuchsin paint) memiliki aktifitas antijamur dan antibacterial.
Digunakan sebagai terapi tinea pedis, dermatitis seboroik, tinea imbrikata.Efek sampingnya
adalah iritasi dan reaksi toksik terhadap fenol.
8. Alumunium Chloride
Alumunium Chloride 30% memiliki efikasi mirip dengan Castellanis paint pada terapi
tinea pedis.
9.

Gentian Violet
Gentian violet adalah triphenylmethane (rosaniline) dye. Produk yang dipasarkan
mengandung 4% tetramethyl dan pentamethyl congeners campuran ini membentuk kristal violet.
Solusio gentian violet dengan konsentrasi 0,5-2% digunakan pada infeksi jamur mukosa.
Gentian violet memiliki efek antijamur dan antibaterial.
10.

Potassium Permanganat
Potassium permanganat tidak memiliki aktifitas antijamur. Pada pengenceran 1:5000
sering digunakan untuk meredakan inflamasi akibat kandidiasi intertriginosa.
11.

Selenium Sulphide
Losio 2,5% selenium sulphide untuk terapi pitiriasis versikolor dan dermatitis seboroik.
Pengguinaan losio selama 10 menit satu kali sehari selama pemakaian 7 hari, tidak terjadi
absorpsi perkutaneus yang signifikan. Selenium sulphide 2,5% dalam bentuk sampo dapat
menyebabkan iritasi pada kulit kepala atau perubahan warna rambut. Losio selenium sulphide
juga digunakan sebagai sampo pada tinea kapitis yang telah diberikan terapi oral griseofulvin.
12.

Zinc Pyrithione

Zinc pyrithioneadalah antijamur dan antibakteri yang digunakan mengatasi pitiriasis sika.
Sampo zinc pyrithione 1% efektif pada terapi pitiriasis versikolor yang dioleskan setiap hari
selama 2 minggu.
13.
Sodium Thiosulfate dan Salicylic Acid
Solusio 25% sodium thiosulfate dikombinasi dengan 1% salicylic acid tersedia preparat
komersial dan digunakan pada tinea versikolor.
14.

Prophylen Glycol
Prophylen glycol (50% dalam air) telah digunakan untuk mengatasi pitiriasis versikolor.
Prophylen glycol 4-6% sebagai agen keratolitik, yang secara in vitro bersifat fungistatik terhadap
Malassezia furfur kompleks (bentuk dari Pityrosporum spp). Solusio propylene glycol-ureaasam laktat juga telah digunakan untuk onikomikosis.