Vous êtes sur la page 1sur 10

AYAT

Dialah Allah beserta kamu dimana saja kamu berada. (Al Hadid:4)
Dalam Hadis:
AYAT
Dan engkau beribadah kepada Allah seperti halnya engkau melihat Allah.
HR.Muslim
AYAT
Dari Ubadah bin Shamit RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: yang
paling utama iman seorang adalah ia mengetahui bahwa Allah besertanya
dimanapun ia berada. HR.Thabrani
Siapa yang mengetahui dirinya, maka ia akan mengetahui Tuhannya.
HR.Ahmad bin Hanbal
Hadis di atas mengandung isyarat bahwa manusia bukan hanya
dekat dengan Tuhan tetapi menyatu. Untuk mengetahui Tuhan, orang tak
perlu pergi jauh-jauh. Cukup ia masuk ke dalam dirinya. Demikian
menurut hadis yang ditulis terakhir.
Tasawuf merupakan upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dan
untuk menempuh jalan itu menurut kaum sufi seorang calon sufi harus
menempuh jalan (thariqah) yang panjang melalui stasion-stasion
(maqamat-maqamat) tertentu.
Maqamat-maqamat yang biasanya dilalui oleh para sufi ternyata
berbeda-beda antara lain, menurut Abu Bakar Muhammad Al-Kalabadi
maqamat-maqamat yang harus dilalui oleh seorang sufi adalah
Tobat
Zuhud
Sabar
Kefakiran
Kerendahan hati

Takwa
Tawakal
Kerelaan
Cinta
Makrifat
Abu Nasher Al-Sarraj al-Thusi menyebutkan rangkaian stasion itu antara
lain:
Tobat
Wara
Zuhud
Kefakiran
Sabar
Tawakal
Kerelaan hati
Al-Qazali menyebutkan stasion-stasion itu sebagai berikut:
Tobat-sabar-kefakiran-zuhud-tawakal-cinta-makrifat-kerelaan. Umumnya
para sufi melawati stasion-stasion :tobat-zuhud-sabar- tawakal- kerelaan.
Di atas stasion-stasion ini terdapat lagi cinta makrifat fana dan
baqa-persatuan. Persatuan ini dapat mengambil bentuk al-hulul atau
wahdatul wujud.
Para ahli sufi tidak mudah mencapai stasion-stasion itu, ia
memerlukan latihan terus menerusbdan bertahun-tahun dan kadangkadang ia tinggal bertahun-tahun dalam suatu stasion.
Istilah dalam tasawwuf serta penjelasan mengenai stasion tersebut
di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
1 tobat
tobat adalah meminta ampun yang tidak membawa kembali kepada
dosa lagi. Langkah pertama adalah tobat dari dosa kecil dan dosa besar.
Tobat yang sebenarnyadalam dunia tasawwuf adalah lupa kepada segala

hal kecuali kepada allah. Tobat adalah mecintai allah dan orang yang
mencintai allah akan senantiasa mengadakan hubungan dan kontemplasi
tentang allah.
2 Zuhud
Zuhud merupakan langkah awal dalam perjalanan untuk kehidupan
seorang sufi.dalam sejarah zuhud ini ada di kalangan umat islam
sebelum tashawuf itu sendiri, karena lingkungan masyarakat pada
abad I dan II hijrah sebagai reaksi terhadap kehidupan mewah.
Sebagai umat islam membandingkan kehidupan pada saat itu
dengan kehidupan rasul yang sederhana dan bersahaja,kemudian
mereka mengasingkan diri dari tengah-tengah kehidupan, ajaran
zuhud pada dasarnya tidak dapat dikatakan sebagai meninggalkan
dunia secara mutlak, tetapi sikap jiwa yang tidak meletakkan
kehidupam sebagai tujuan, karena itu tidak menghalangi atau
menggangu penghayatan keagamaan seseorang. Dunia di pandang
sebagai alat untuk merealisasikan tujuan yang hakiki, yaitu taqarrub
kepada allah swt.
3 Wara
Setelah selesai dari zuhud, caln sufi memasuki stasion wara, yaitu
meninggalkan segala sesuatu yang di dalamnya terdapat subhat ( keraguraguan) tentang halalnya sesuatu. Dalam dunia tasawwuf, kalau seseorang
telah mencapai wara, maka tangannya tidak bisa diulurkan untk
mengambil yang di dalamnya terdapat subhat.
4 Kefakir
Setelah melewati wara, seorang sufi akan memasuki stasion faqr.
Kefakiran dalam istilah sufi adalah tidak meminta lebih dari pada
yang telah ada pada diri kita, tidak meminta rejeki kecuali hanya
untuk dapat menjalankan kewajiban , bahkan tidak meminta
kendatipun tak ada pada diri kita.
5 Sabar
Sabar dalam menjalankan perintah allah, dalam menjauhi
larangan-laranganya dan menerima segala musibah, percobaan dan
ujian yang di timpakknya seraya menunggu datangnya pertolongan
allah.
6

Tawakal

Tawakal yaitu menyerah kepada qada dan putusan allah.


Sikap tawakal kaum sufi adalah menerima pemberian dengan rasa
syukur,sikap ini ditampilkan oleh kaum sufi dengan tidak
memikirkan hari esok tetapi cukup dengan apa yang ada untuk hari
ini, tidak mau makan karena ada orang yang lebih memerlukan
kepada makanan itu. Menyerah kepada allah dengan allah dan
karena allah.
7 Kerelaan
Ridha yaitu tidak menentang terhadap kada dan kadar allah,
melainkan menerima dengan senang hati, karena itu seorang sufi
akan merasa senang baik ketika menerima nikmat maupun ketika
menerima malapetaka.
Kerelaan ditampilkan pula dalam bentuk penerimaan
terhadap apa yang terjadi, karena tidak meminta dimasukan ke
surga dan tidak meminta di masukan ke neraka. Kaum sufi tidak
berusaha sebelum turunya kada dan kadar , bahkan sebaliknya
cintanya kepada allah semakin kuat pada saat turunnya cobaancobaan.
8 Mahabbah
Seorang sufi telah dekat dengan tuhan dan rasa cinta yang
menggelora terhadap tuhan membawanya sampai ke stasion mahabbah
(cinta), cinta ilahiyah, yang dimaksud disini adalah cinta kepada allah
yang ditampilkan dalam bentuk kepatuhan tanpa reserve, penyerahan
diri secara total, dan pengosongan hati dari segala sesuatu kecuali
dikasihi, yaitu allah.
Sufi yang terkenal dalam mahabbah ini adalah rabiah al-adawiyah
(713-801 H) dari basrah ,irak. Mahabbah atau kecintaan rabiah allah
digambarkan dalam puisi-puisinya yang termashur dan penuh dengan
makna.
9 Makrifah
Makrifah berarti mengetahui tuhan dari dekat,sehingga hati
sanubari dapat melihat tuhan.di stasion ini sufi telah dekat sekali
dengan tuhan, tetapi ia belum puas dengan berhadapan.
Pengetahuan tentang tuhan menurut kaum sufi ada tiga macam
yaitu:
a Pengetahuan awam yaitu tuhan satu dengan perantara syahadat
b Pengetahuan ulama yaitu tuhan satu dengan perantara akal dan
c Pengetahuan sufi yaitu tuhan satu dengan perantara hati
sanubari.

Pengetahua tentang tuhan dalam macam ketigalah yang di


sebut makrifah yang hanya dapat dimiliki hanya oleh seorang sufi.
Menurut para ahli tasawuf, makrifah dapat diperoleh sufi melalui
alat yang disebut sir, yaitu alat untuk melihat tuhan. Makrifah
seperti ini yang di akui oleh al qazali yang kemudian diakui pula
oleh ahli syariat yang pada awalnya dianggap menyeleweng dari
islam.. tasawwuf yang di pandang keluar dari syariat adalah
tasawuf yang diajarkan al hallaj, yaitu ittihad dab hulul.
10 Al-fana wal baqa
Sebelum seorang sufi dapat bersatu dengn tuhan,terlebih
dahulubia harus menghancurkan dirinya.selama ia masih sadar akan
dirinya, ia tidak akan dapat bersatu dengan tuhan , penghancuran itu
disebut fana, penghancuran dalam istilah sufi selalu diiringi dengan
baqa, fana yang dicari kaum sufi adalah penghancuran diri yaitu
hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar
manusia.
11 Al-Ittihad
Dengan hancurnya kesadaran diri seorang sufi tinggallah
kesadaran tentang Tuhan, ia pun sampai ke tingkat ittihad, yaitu satu
tingkatan tasawuf di mana sorang sufi telah merasa dirinya bersatu
dengan Tuhan; suatu tingkatan dimana yang mencintai dan yang di
cintai telah menjadi satu, sehingga salah satu dari mereka memenggil
yang lainnya dengan kata-kata; wahai aku !.
Dalam ittihad yang dapat dilihat hanya satu wujud, tetapi
sebenarnya ada dua wujud yang terpisah. Karena yangdilihat dan di
rasakan hanya satu wujud, maka dalam ittihad bisa terjadi pertukaran
peran antara yang mencintai dan mencintai dengan yang di cintai atau
antara sufi dengan Tuhan. Muncullah ungkapan sufi yang terasa
ganjil:
Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku
Melalui diri-Nya aku berkata: Hai Aku
Di sinilah sufi telah mencapai tujuan akhirnya, sampai kepada
Tuhan, bahkan menyatu dengan Tuhan.
c. Tarekat
Sebagaimana yang telah disebutkan pada bagian yang lalu bahwa
seorang sufi harus melewati jalan yang panjang untuk mencapai

tujuannya mendekatkan diri kepada Tuhan. Jalan tersebut disebut


thariqah atau tarekat.
Menurut Abu Bakar Aceh, tarekat adalah jalan atau petunjuk dalam
melakukan sesuatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan
oleh Nabi Muhammad SAW dan dikerjakan oleh sahabat-sahabat
Nabi serta tabiin an tabiit tabiin turun temurun sampai kepada guruguru, ulama-ulama sambung menyambung dan rantai berantai sampai
kepada masa kita kini.
Jalan yang di tempuh oleh para sufi tidak selalu sama, mereka
umumnya memiliki cara yang berbeda-beda, misalnya tariqah Syekh
Abdul Kadir Jailani, tarekat Syaikh Diya Ad Din Abu Najib AsSsuhrawardi, tarekat Syaikh Muhammad Baha ud Din Al Naqsabandi
dan tarekat Syaikh Abu Hasan Sazili.
Semua tarekat yanng di kembangkan oleh para tokoh sufi berujung
kepada tarekat Muhammadiyah (esensi ajaran Nabi Muhammad
SAW).
Di dalam ilmu tasawuf dijelaskan bahwa syariat adalah peraturanperaturan formal belaka, tarekatlah yang merupakan perbuatan yang
melaksanakan syariat ini.
Apabila syariat dan tarekat sudah dapat dikuasai, maka lahirlah
hakekat yang tidak lain daripada perbaikan keadaan dan ahwal,
sedang tujuan adalah makrifat, yaitu mengenal Tuhan dan
mencintainya yang sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Nabi
bersabda: Syariat itu perkataanku , tarekat itu perbuatanku dan
hakekat adalah perbuatanku.
Makrifat dapat dicapai melalui syariat, menempuh tarekat,
memperoleh hakekat. Jadi syariat adalah peraturan, tarekat adalah
pelaksanaan dan hakekat adalah keadaan dan makrifat adalah puncak
segala keadaan.
Tarekat termasuk ilmu mukasyafah. Ilmu ini tidak dipelajari, tetapi
diperoleh dengan riyadhah dan mujahadah yang merupakan
pendahuluan bagi hidayah Tuhan. Esensi riyadhah adalah :
1 Multazamat adzikr, yaitu terus menerus berada dalam zikr atau
ingat terus kepada Allah dengan anggota dengan lisan dan
dengan hati.

2 Al mukhalafah atau dawamul nisyan (tetap lupa kepada yang


lain), yaitu terus menerus menghindarkan diri dari segala
sesuatu yang dapat melupakan Tuhan.
Perkembangan tasawuf melalui tarekat ini terjadi dalam tiga tahap
yang sekaligus menunjukkan zamannya, yaitu:
1 Tahap hanqah (pusat pertemuan para sufi). Ini terjadi pada abad
X Masehi yang merupakan zaman keemasan tasawuf. Pada
tahap ini seorang syaikh (guru sufi yang disebut pula guru
mursyid) mempunyai murid-murid yang hidup bersama di
bawah pengawasan yang tidak ketat. Syaikh menjadi mursyid
yang dipatuhi. Kontemplasi dan latihan spiritual dilakukan
secara individual maupun kolektif. Pada saat ini muncul pusatpusat latihan tasawuf yang belum mempunyai spesialisasi.
2 Tahap Thariqah. Pada tahap ini tasawuf sudah membentuk
ajaran-ajaran, peraturan dan metodanya. Pada tahap ini muncul
pusat-pusat yang mengajarkan tasawuf dengan silsilah masingmasing.
3 Tahap Thaifah, pada tahap ini tasawuf mengorganisasikan diri
untuk melestarikan ajaran syaikh tertentu dan mulailah terdapat
tarekat-tarekat tertentu.
d Tasawwuf Dalam Kehidupan Modern
Tasawwuf pada dasarnya adalah filsafat, hnaya saja kalau
filsafat mencari Tuhan dengan menggunakan daya nalar (akal),
sedangkan tasawuf menggunakan daya rasa (kalbu).
Dalam kehidupan modern dimana teknologi manusia
mencapai puncaknya, maka cara-cara pemeliharaan kesehatan
tubuh lelah dibuat dengan teknologi yang canggih, tetapi
pemeliharaan kesehatan jiwa tidak ditemukan teknologinya,
padahal kesehatan tubuh banyak yang disebabkan kegoncangan
jiwa.
Penyakit-penyakit kejiwaan banyak yang berawal dari cara
pengendalian nafsu yang ada dalam diri manusia, seperti sifat
rakus, pemarah dan mau menang sendiri, suudzan dan sebagainya.
Penyakit-penyakit itu dapat membawa pada penyakit fisik. Rakus
akan melahirkan jiwa yang resah, karena selalu merasa tidak puas
terhadap apa yang telah dicapainya, karena itu orang yang
demikian akan senantiasa dihantui pleh keinginan-keinginan yang

lain, sehingga hari-harinya dipenuhi dengan pencarian kepuasan


baik halal maupun halal maupun haram yang tiada henti-hentinya.
Sifat pemarah melahirkan perasaan tidak menyenangkan bagi
dirinya maupun orang lain, sebagai akibat merasa benar sendiri dan
mau menang sendiri. Demikian pula suudzon melahirkan jiwa yang
gundah, karena di dalam hatinya tersimpan ketidak senangan
terhadap orang lain dan egoisme yang berlebihan.
Mengobati penyakit jiwa yang berbahaya tersebut adalah
dengan cara menimbulkan watak-watak yang terpendam dalam
diri, seperti sifat syukur, iffah (pemaaf), dan rahmah.
Syukur adalah menerima apa yang kita peroleh sebagai
anugerah Allah kepada kita yang patut kita terima dengan hati yang
lapang dan diarahkan kepada jalan yang dikehendaki Allah.
Iffah atau pemaaf adalah membuka lebar-lebar hati dan
perasaan kita kepada orang lain dengan penuh keikhlasan.
Ajaran tasawuf dapat memberikan alternatif bagi pemecahan
masalah kejiwaan manusia ini dengan metoda-metoda yang
diajarkannya, karena itu dalam masa modeern ini ajaran tasawuf
melalui tarekat-tarekat kembali dipelajari orang.
2. Filsafat
a. Pengertian Filsafat
Secara etimologis filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk
menjadi bijak. Menurut Haru Nasution intisari filsafat ialah berfikir
menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi,
dogma, dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke
dasar-dasar persoalan.
b. Filsfat islam
filsafat islam dapat diartikan sebagai kegiatan pemikiran yang
bercorak islami. Hakikat filsafat islam adalah akal dan Alquran. Filsafat
islam tidak mungkin tanpa akal dan Alquran. Tidak dapat ditinggalkan
Alquran dalam filsafat islam adalah lebih bersifat spiritual, sehingga
Alquran tidak membatasi akal bekerja dengan otonomi penuh (Musa
Asy;ari, 15). Filsafat adalah akal dan Alquran dalam hubungan yang
bersifat dialektis. Hubungan dialektika akal dan Alquran bersifat
fungsional.
c. Obyek Kajian Filsafa Islam

Obyek kajian filsafat islam adalah obyek kajian filsafat secara


umum. Dalam tema besar obyek kajian kajian filsafat islam adalah
Tuhan, alam, manusia, dan kebudayaan. Tidaklah sempurna mempelajari
filsafat kalau tidak menggunakan pendekatan historik, meskipun
pendekatan historik terhadap filsafat islam hanya menekankan kepada
studi tokoh dan pemikiran-pemikirannya. Secara garis besar filsafat
dapat dipahami dari dua sisi yaitu sebagai proses dan filsafat sebagai
produk kegiatan berpikir.
4 Pembaharuan (Tajdid)
Pembaharuan yang alam bahasa Arab disebut tajdid atau istilah,
modernization atau reformation, dalam bahasa inggris, secara etimologis
berarti al-ia dah wal al-ihya. Dengan demikian, pembaharuan dalam
arti tajdid atau islah ini ialah mengembalikan atau menghidupkan. Secara
terminologis, para ulama tidak selalu sepakat dalam mendefinisikan
tajdid tersebut. Ulama salf mendefnisikan pembaharuan itu sebagai
menerangkan sunnah, sementara Bustani Said mendefinisikannya:
mengembalikan ajaran agama sebagaimana keadaan pada masa Salaf
pertama. Abdul Hasan Ali al-Nadwi dalam karyanya yang terkenal alShira bayn al-Fikrah al-Islamiyyah wa al-Garbiyyah (pertarungan
antara pemikiran islam dengan barat) mengatakan bahwa yang dimaksud
pembaharuan itu ialah suatu usaha untuk menyesuaikan ajaran agama
dengan kehidupan kontemporer.
Tatkala terjadi kontak antara dunia islam dan dunia barat pada
penghujung akhir abad ke-18, barat memperkenalkan moderenissi disertai
ide-ide barunya.
Esensi pembaharuan di dunia islm ialah mengembalikan ajaran
pokok agama islam kepada sumber aslinya yang berifat qothiyyah dan
sekaligus mengembangkan pemahaman baru terhadap ayat-ayat Alquran
dan Sunnah yang zanniyyah al-dilalah secara rasional, sehingga sesuai
dengan perkembangan zaman. Muhammad Abdulah adalah mufassir
pertama di awal abad ke-19 yang mencoba memahami Alquran secara
rasional seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia. Tafsir Salaf
dinilai Abduh sebagai konservatif. Sementara tafsir salaf dinilai progresif.
Tafsir mistis (sufi) dinilai penuh dengan isyarat dan lambang. Tafsir
Syiah dinilai bersifat ekstrim dan mengandung unsur kebatinan.
Sedangkan tafsir tarikhi tidak dapat melepaskan diri dari infiltrasi
israiliyyat dan mitos.
Aabduh melihat teks Alquran merupakan kesatuan yang utuh,
saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Dalam tafsirnya ia tidak

menjadikan ayat-ayat Alquran berupa kepingan-kepingan yang bersifat


parsial.
Demikian ide pembaharuan yang dimulai Abduh terus berkembang
seiring dengan perkembangan pemikiran umat islam dalam berbagai segi
kehidupan mereka dari waktu ke waktu.
Keterkaitan Aqidah Syariah daN Akhlak
Aqidah adalah keyakinan yang mendorong penerimaan syariat
islam secara utuh. Jika syariat telah dilaksanakan berdasarkan
aqidah, akan lahir bentuk-bentuk tingkah laku yang baik bernama
akhlak.