Vous êtes sur la page 1sur 40

I.

TINJAUAN PUSTAKA
Bahan-bahan hasil pertanian mempunyai bentuk dan ukuran yang
tidak seragam, maka dari itu diperlukan ilmu untuk mengukur dan
menganalisa

bentuk

dan

ukuran

bahan

hasil

pertanian

untuk

mengklasifikasinya kedalam keseragaman bentuk. Dalam dunia industri


penanganan hasil pertanian merupakan salah satu komponen penting dalam
proses pasca panen penanganan ini dapat dilakukan dengan teknik grading
atau sortasi sehingga diperlukan pengetahuan tentang karakteristik bahan
tersebut, selain itu dalam penanganan hasil pertanian dibutuhkan juga
beberapa alat dan mesin yang bisa mempermudah proses penanganan. Mesinmesin yang akan di buat berdasarkan karakteristik dari bahan itu sendiri
khususnya memperhatikan karakteristik hasil pertanian dari sisi bentuk
(Hamdani, 2013).
Sifat fisik bahan hasil pertanian merupakan faktor yang sangat penting
dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan merancang
suatu alat khusus untuk suatu produk hasil pertanian atau analisa prilaku
produk dan cara penanganannya. Karakteristik sifat fisik pertanian adalah
bentuk, ukuran, luas permukaan, warna, penampakkan, berat, porositas,
densitas dan kadar air (Suharto, 1991).
Sifat fisik buah dan sayur sering diamati yaitu warna, aroma, rasa,
bentuk, berat, ukuran dan kekerasan. Biasanya dalam praktek sehari-hari.
Sifat fisik ini diamati secara subjektif, sedangkan berat ditentukan secara
objektif dengan menggunakan timbangan sedangkan ujicoba kimia dapat
dilakukan terhadap PH, total asam, padatan terlarut (soloble solid), dan
vitamin C, apabila buah-buahan menjadi matang, maka kandungan gulanya
meningkat, tapi kandungan asamnya menurun (Winarno, 2002).
Sphericity (kebulatan) dapat didefinisikan sebagai perbandingan
antara diameter bola yang mempunyai volume sama dengan objek dengan
diameter bola terkecil yang dapat mengelilingi objek. Seperti halnya nilai
kebundaran, nilai kebulatan suatu bahan juga berkisar antara 0-1. Apabila
nilai kebulatan suatu bahan hasil pertanian mendekati 1 maka bahan tersebut
mendekati bentuk bola (bulat) (Hamdani, 2013).

Rumus mencari kebulatan (sphericity) : ( a. b. c )1/3


a
Rumus ini hanya berlaku jika asumsi bahan berbentuk elips.
Pengukuran Dimensi Bahan Berukuran Kecil untuk obyek berukuran
kecil seperti biji-bijian, garis besar proyeksi dari setiap obyek dapat diukur
dengan menggunakan sebuah alat pembesar photo (photographic enlarge).
Tetapi cara sederhana ini dilakukan dengan metode proyeksi dengan
menggunakan OHP (Daminik, 2009).
Dalam proses pengolahan suatu bahan hasil pertanian, bentuk dan
ukuran suatu komoditi merupakan parameter yang penting didalam penilaian.
Bentuk dan ukuran merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan pada suatu
obyek.

Pada

umumnya

bentuk

dan

ukuran

ini

digunakan

untuk

menggambarkan obyek secara fisual. Dalam penggolongan tingkat mutu


(grading) biasanya ukuran dan bentuk merupakan faktor mutu yang pertama
kali di lihat. Beberapa kriteria yang termasuk ukuran adalah:
1. Bobot
Bobot suatu bahan dapat diukur dengan berbagai jenis neraca
sejak yang halus sampai kasar, tergantung kepada tingkat
ketelitian pengukuran yang di kehendaki. Dimana bobot suatu
bahan tersebut dapat di catat sebagai bobot total, bobot rata-rata,
dan bobot persatuan tertentu.
2. Volume
Pengukuran volume ada dua pengertian yaitu: volume nyata
(volume bahan tesebut dalam suatu wadah tertentu) dan volume
mutlak (suatu bahan adalah volume bahan itu sendiri).
3. Panjang, lebar, diameter
Panjang, lebar dan diameter suatu bahan dapat di ukur dengan
menggunakan

berbagai

alat

pengukur

seperti

penggaris,

micrometer, dan vernier caliper.


4. Kerapatan
Kerapatan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu ; kerapatan nisbi
(perbandingan antara kerapatan suatu bahan pada suatu suhu

tertentu dengan kerapatan standar), nyata (perbandingan antara


massa suatu bahan pada suhu tertentu dengan massa air pada suhu
yang sama) dan kerapatan mutlak (perbandingan antara bobot
dengan volume bahan).
5. Luas bidang
Sebagian besar semua hasil pertanian memiliki ukuran yang tidak
beraturan. Pengukuran luas bidang dari bahan yang tak beraturan
di lakukan dengan dua cara yaitu : penimbangan dan simpons
rule. Sedangkan yang termasuk ke dalam bentuk adalah :
1) Oval
2) Simetri
3) Melengkung
Bentuk komoditas produk pangan dapat dikelompokkan sebagai
bentuk umum dan bentuk normal. Bentuk umum komoditas menyatakan
bentuk yang dapat dideskripsikan dan diukur secara fisik. Dalam pengawasan
mutu produk bentuk komoditas padat yang bersifat umum dapat dinyatakan
seperti ketiga bentuk dasar atau bentuk turunannya yaitu bulat, lonjong,
silinder, kerucut, kubus, bundar dan lain-lain (Hamdani, 2013).
Menurut (Hamdani, 2013) selain membandingkan dengan bentuk
standar, penentuan bentuk bahan hasil pertanian dapat juga ditentukan dengan
melihat kemiripan dengan benda-benda geometri tertentu, seperti bulat
memanjang (prolate spheroid), bulat membujur (oblate spheroid), dan
kerucut berputar atau silinder. Adapun definisi dari masing-masing bentuk
tersebut adalah sebagai berikut :
1. Bulat memanjang (prolate spheroid) adalah bentuk yang terjadi
apabila sebuah bentuk elips berputar pada sumbu panjangnya.
Salah satu contoh dari bentuk ini adalah buah lemon (sejenis jeruk
sitrun).
2. Bulat membujur (oblate spheriod) adalah bentuk yang terjadi
apabila sebuah elips berputar pada sumbu pendeknya. Salah satu
contohnya adalah buah anggur.
3. Kerucut berputar atau silinder adalah bentuk yang menyerupai
kerucut atau silinder (tabung). Contohnya adalah wortel.

Menurut (Mohsenin, 1980) ada beberapa bentuk acuan dan beberapa


istilah yang digunakan untuk memeriksa suatu objek. Adapun istilah dan
perian objek dari bentuk acuan antara lain:
Bentuk

Deskripsi

Bundar (Round)

Menyerupai bentuk bulatan (spheroid)

Oblate
Kerucut (Conic)
Bujur telur (Ovate)

Berat sebelah atau miring


(Lopsided)

Datar pada bagian pangkal dan pucuk


atau puncak
Meruncing ke arah bagian puncak
Bentuk seperti telur dan melebar pada
bagian pangkal
Poros yang menghubungkan pangkal
dan puncak tidak tegak lurus melainkan
miring

Bujur telur terbalik (Obovate)

Seperti telur terbalik

Bulat panjang (Elliptical)

Menyerupai bentuk elips (bulat panjang)

Kerucut terpotong (Truncate)

Kedua ujungnya mendatar atau persegi

Tidak seimbang (Unequal)

Ribbed

Teratur (Regular)

Tidak teratur (Irregular)

Separuh bagian lebih besar daripada


yang lain
Pada potongan melintangnya sisi-sisinya
menyerupai sudut-sudut
Bagian horizontalnya menyerupai
lingkaran
Potongan horizontalnya sama sekali
tidak menyerupai lingkaran

Mempelajari bentuk dan ukuran bahan pangan sangat dipelajari untuk


mensortasi buah atau sayur. Aplikasi tentang bentuk dan ukuran suatu bahan
hasil pertanian sangat dibutuhkan didalam proses pengolahan, penyimpanan
dan pengemasan bahan hasil pertanian. Contohnya untuk merancang alat dan
bangunan, untuk penanganan hasil pertanian dan sebagai standarisasi mutu.
Bentuk dan ukuran ini juga dapat memudahkan dalam proses pengemasan.

Semakin kecil bentuk dan ukuran suatu bahan hasil pertanian maka akan
memudahkan dalam proses penyimpanan dan pengemasan (Liza, 2010).
Penentuan Dimensi Dasar pengukuran menurut (Mohsenin, 1980)
adalah sebagai berikut:
1. Ukuran (Size) dan Kebulatan (Sphericity)
Dimensi dasar butiran ( panjang, lebar dan ketebalan) diukur
dengan menggunakan vernier calliper ( jangka sorong) dengan
akurasi tinggi. Di dalam mengukur ukuran aneka benih dan
bentuk. Kalkulasi diameter rata-rata
dilakukan dengan

cara

benih padi

MR219

aritmatika dan geometri dari ketiga

dimensi dasar benih ( panjang, lebar dan ketebalan). Nilai-nilai ini


dihitung dengan menggunakan kaitan dalam persamaan 1) dan
2). Dimana:
Da adalah diameter rerata aritmatika (mm)
Dg adalah diameter rata-rata geometri (mm)
L panjang (mm)
W menunjukkan Lebar (mm)
T adalah ketebalan (mm).
Yang dirumuskan sebagai berikut :

Da=

L+W + T
....1)
3

Dg=( LWT )

1
3

..2)

Kebulatan didefinisikan sebagai rasio luas permukaan bola yang


memiliki volum yang sama

dengan

volum butiran (benih).

Demikian juga , dipandang sebagai derajat keeratan butiran benih


dengan bola. Selanjutnya

selama pengolahan, karenanya

merupakan suatu fungsi dari dimensi dasar (panjang, lebar dan


ketebalan).

Lebih

lanjut, juga

dijabarkan

rolling

ability

(kemampuan gelinding) butiran selama pengolahan karena itu


merupakan fungsi dimensi dasar (panjang, lebar dan ketebalan)

dan dapat dihitung dengan menggunakan formula

dalam

persamaan 3) sebagai berikut:


1

(L x W x T ) 3
..3)
=
L
Dimana:
L adalah panjang
W adalah lebar butiran
T adalah ketebalan butiran
2. Luas Permukaan
Luas permukaan menurut (Mohsenin, 1980) merupakan sifat
butiran penting. Luas permukaan membantu perancang di dalam
memperkirakan

hopper

(sorong pemasukan ke alat/mesin) ,

ruang pengolahan dan corong pengeluaran. Luas permukaan


didapatkan dengan analogi sebuah bola dengan diameter rata-rata
geometris sebagai berikut:
S=Dg 2 ..4)
Dimana:
S menyatakan luas permukaan (mm2)
Dg adalah diameter rata-rata geometris (mm).
Untuk sementara produk yang berukuran cukup besar dengan
luas permukaan dapat didekati dengan cara pengupasan kulit luar
produk dengan kupasan yang teratur dan rapi karena kupasan
kulit ini kemudian akan ditentukan berapa luasnya dengan
meletakkannya di atas kertas graphik dan kemudian dihitung
berapa luas kertas garphik yang tertutup kupasan kulit ini. Cara
lain dengan menggunakan planimeter yang dapat menentukan
berapa luas area yang dibatasi oleh bagian tepi kupasan kulit
tadi (Mohsenin, 1980).
3. Kerapatan Curah/Kamba ( Bulk Density)

Kerapatan curah benih pada kadar lengas yang berbeda-beda


ditentukan dengan mengisikan kedalam kontainer yang diketahui
berat dan volume benih tadi pada aras permukaan tepat pada
saat akan tumpah dan penimbangan dilakukan untuk mengetahui
dan menentukan

berat bersih

biji tersebut. Keseragaman

kerapatan dicapai dengan pemadatan kontainer untuk semua


pengukuran.
Kerapatan curah dihitung dengan rumus:
cm
Volum terisi( 3)
Massa sampel( g) ...5)
Kerapatan Cura h=

Dalam satuan

SI, kerapatan curah dalam satuan

(kg/m 3)

(Mohsenin, 1980).
4. Kerapatan Nyata/Tegar ( True Density, Solid Density)
Menurut (Mohsenin, 1980), kerapatan nyata atau tegar

yang

didefinisikan sebagai rasio suatu massa sampel tertentu dengan


volumenya, ditentukan dengan metoda pemindahan air. Suatu
berat sampel yang diketahui dituang ke dalam gelas atau silinder
ukur yang telah terisi air. Volum air yang terpindah oleh sampel
diamati dan dicatat. Kerapatan nyata dihitung dengan rumus:
cm
Volum air terpinda h ( 3)
Berat Sampel( g)
Kerapatan Nyata(g/cm3 )=

..6)

Penentuan kerapatan ini dilakukan dengan paling sedikit 3 (tiga)


kali ulangan .
5. Porositas
Porositas bahan pertanian yang bersifat tak terkonsolidasi dapat
ditentukan baik secara percobaan dengan menggunakan metoda
tangki porositas atau secara teoritis dari kerapatan curah dan

kerapatan tegar bahan tersebut. Porositas

butiran ditentukan

dengan menggunakan kaitan yang disajikan oleh (Mohsenin,


1980) sebagai berikut:
Porositas=

(1Kerapatan Curah)
...7)
100

6. Volume Padatan
Volume merupakan

hal penting

di dalam produksi dan

pengolahan bahan-bahan hasil pertanian. Volume

bersama

dengan sifat phisika lainnya berperan penting untuk menghitung


kahilangan air, perpindahan kalor, jumlah aplikasi pestisida,laju
respirasi

dll.

Di dalam penanganan bahan hasil pertanian,

volume bermanfaat bagi sortasi ukuran, mutu grading dan


konsentrasi mikrobial, dengan demikian pengamatan terhadap
pengukuran volume merupakan tugas yang penting.
Pengukuran

volume

benda dengan bentuk tidak beraturan

kadang kala sukar dan rumit. Cara termudah untuk menentukan


volume

benda padat bentuk tidak beraturan adalah dengan

menggunakan metoda perpindahan air.Metoda ini dikenal untuk


kesederhanaan dan akurasinya. Pada saat melaksanakan metoda
ini , pertama diukur volume awal cairan. Kemudian dicatat
volume akhir cairan setelah benda dimasukkan. Selisih volume
akhir dan awal merupakan volume benda tak beraturan tersebut.
Sedangkan

untuk

benda-benda

padatan

bentuk

beraturan

(prismatik, ellipsoida, trapezoidal, silindris, kerucut, bola) dapat


dihitung dengan rumus yang telah tersedia bagi benda beraturan
tersebut.
Untuk mencapai model yang dapat memprediksi volume benda
atau obyek, dua buah nilai dihitung. Buah apel misalnya dapat
diasumsi berbentuk geometris reguler yi. Oblate spheroid dan

elipsoida dan volumenya

masing-masing

Vosp dan Velip

diperhitungkan dengan rumus:

Vosp

4 L

3 2

Velip

4 L

3 2

W
2

( )( )

.....8)

( )( W2 )( T2 )

..9)

Untuk mengetahui tekstur dan sifat fisik dari serealia dan kacangkacangan.
1. Beras
Beras merupakan bahan pangan yang memiliki peran terbesar di
Indonesia karena kandungan yang dimilikinya merupakan sumber
energi terbesar bagi tubuh manusia. Peran dari beras yang begitu
besar sehingga waktu penyimpanan beras sangat diharapkan dapat
bertahan lama namun tetap memiliki kualitas yang baik. Kadar air
sangat mempengaruhi lama penyimpana beras, kelebihan jumlah
kadar air dapat menyebabkab beras yang disimpan akan
menghasilkan aroma yang tidak sedap, tekstur dan warnanyapun
akan menjadi rusak.
Menurut (Mulanto, 2003), klasifikasi beras adalah sebagai
berikut:
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae

Genus

: Oryza

Spesies

: Oryza sativa L.

2. Jagung
Tanaman jagung merupakan bahan baku industri pakan dan
pangan serta sebagai makananan pokok dibeberapa daerah di
Indonesia, dalam bentuk biji utuh jagung dapat diolah menjadi
tepung jagung, beras jagung, dan makanan ringan seperti popcocn
dan jagung marning. Jagung dapat pula diproses menjadi minyak
goreng, margarine, dan formula makanan. Pati jaguang dapat
digunakan sebagai bahan baku industri farmasi dan makanan
seperti ice cream, kue, dan minuman (Angelfire, 2006).

3. Kacang Hijau
Kacang hijau merupakan tanaman polong-polongan yang
memiliki tekstur warna hijau. Kacang hijau mudah menyerap air.
Hal itu terbukti pada proses dimasaknya kacang hijau. Kacang
hijau bila direbus cukup lama maka akan pecah dan pati yang
terkandung didalam bijinya akan keluar. Kacang hijau merupakan
bahan pangan yang tidak mudah rusak, karena kadar air yang
dikandungnya sedikit. Kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) di
Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan
fungsional, belum banyak produk turunan kacang hijau yang
beredar di pasaran.

Menurut (Paendlan, 2002), Phaseolus radiatus L. diklasifikasikan


sebagai berikut:
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Phaseolus

Spesies

: Phaseolus radiatus L

4. Kacang Kedelai
Kacang Kedelai merupakan salah satu tanaman polong-polongan
yang menjadi bahan dasar banyak makanan di asia. Kedelai
merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia.
Biji kedelai berkeping dua, terbungkus kulit biji dan tidak
mengandung jaringan endosperma. Embrio terletak diantara
keeping biji melekat pada dinding buah. Bentuk kacang kedelai
umumnya adalah lonjong tetapi ada pula yang bundar atau bulat
agak pipih. Kedelai dapat digunakan sebagai bahan industri
makanan berbentuk gliserida sebagai bahan baku pembuatan
minyak goreng, margarin dan bahan lemak lainnya. Untuk
menghasilkan produk yang berkualitas diperlukan biji kedelai
yang memenuhi persyaratan (standarisasi) mutu yang sudah
ditentukan.
Menurut (Kalshoven, 2006), klasifikasi kacang kedelai (Glycine
max (L.) adalah sebagai berikut:

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Glycine

Spesies

: Glycine max (L)

5. Kacang Tanah
Kacang tanah adalah salah satu bahan pangan yang sering
dikonsumsi oleh manusia. Kacang tanah merupakan hasil
tanaman kacang tanah (Arachis hypogaea L) berupa polong
(gelondongan) dan/ atau biji (nose) yang telah dikupas dan
dibersihkan dari kulit polongnya. Kacang tanah merupakan
tanaman polong-polongan. Kacang tanah umumnya bijinya kaya
dengan protein dan lemak. Biji kacang tanah biasanya berwarna
kecoklatan.
Klasifikasi tanaman kacang tanah menurut (Bernardinus, 2003),
adalah sebagai berikut:
Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Arachis

Spesies

: Arachis hypogaea L

II. TUJUAN PRAKTIUM


Acara ini bertujuan mempelajari atribut fisik produk pertanian dengan cara
pengukurannya.
III.

BAHAN DAN ALAT


3.1 Bahan
1. Jangka sorong

9. Kain pembersih
3.2 Alat

2. Pisau

1. Jeruk

3. Gelas ukur

2. Mangga

4. Gelas piala

3. Apel

5. Kertas milimeter blok

4. Alpukat

6. Penggaris

5. Jagung pipil

7. Timbangan/neraca

6. air

8. Manometer

III.1
III.2

III.3
IV.

CARA KERJA DAN HASIL PENGAMATAN


IV.14.1 Cara Kerja
a. Ukuran dan Bentuk
1. Mencari area maksimum terproyeksikan, mengukur diameter
terpanjang sebagai diameter mayor dan diameter terpendek
sebagai diameter pertengahan.
2. Mencari area minimum terproyeksikan, mengukur diameter
terpendek sebagai diameter minor dan terpanjang sebagai
diameter pertengahan.
3. Dari diameter-diameter terukur tersebut kemudian menetukan
sperisitas denagn rumus: sperisitas = ( a. b. c )1/3
IV.2

IV.3
b. Volume dan Kerapatan Massa
1. Menimbang produk di udara.
2. Menimbang produk dalam air.
3. Berta air yang dipindahkan = berat penimbangan dengan produk
yang ditenggelamkan (berat wadah + berat air + beban
pemberat).
4. Volume (m3) = berat air yang dipindahkan (kg) / kerapatan
(berat) air (kg/m3).
5. Kerapatan massa = berat produk diudara/volume jeruk (kg/m3).
IV.4
c. Luas Permukaan
IV.5

Jeruk dikuliti dengan menyayat tipis-tipis kulitnya dengan

pisau dang mengumpulkan sayatan-sayatan tersebut kemudian


meletakkannya diatas kertas milimeter blok kemudian mengukur
luasannya.
IV.6
d. Porositas Produk Biji-bijian

1. Pada suatu tinggi air pada manometer tertentu, kran 1 ditutup


dan tekanan pada manometer dibaca P1. Pada kondisi yang
demikian menurut hukum gas ideal:
IV.7 Dimana P1 = tekanan mutlak, V1 = volume tanki, M =
massa udara, R1 = konstanta gas untuk udara.
IV.8

M = M1 + M2

IV.9 Dan T1 = suhu mutlak.


2. Kran 3 dan kran 2 dibuka dan tekanan P3 dibaca.
IV.10

P 1 V 1 P3 V 1 P 3 V 2
=
=
RT
RT
RT

IV.11

Pada keadaan ini kran 1 dan 3 tertutup, massa total

udara, M, didistribusikan menjadi M1 untuk mengisi tanki 1 dan


M2 untuk mengisi ruang pori V2 dalam tanki 2. Dengan asumsi
bahwa RT1 = RT2 = RT, persamaan-persamaan di bawah dapat
ditarik:
IV.12
V.

V 2 P1P3
=
V1
P3

V.1 4.2

Hasil Pengamatan

V.2 a.

Ukuran dan Bentuk

V.3 1)

Nama Produk: Apel


V.6 Diameter (cm)
V.10
V.12
V.14
Min
May
Teng
o
o
a
r
r
h
V.11
V.13
V.15
(cm
(cm)
(cm)
)
V.18

V.4 Penga
matan
V.5 Ke

V.17

6,50
2
V.23

V.22

6,81
8
V.28

V.27

6,50
6
V.33

V.32

ata-rata

6,60
8
6

V.19

V.20

5,312

3,61

V.24

V.25

5,312

3,502

V.29

V.30

5,208

3,706

V.34

V.35

5,273

3,606

V.7 Sperisi
tas
V.8 (cm2)

V.21

0
,77

V.26

0
,73

V.31

0
,768

V.36

0
,756

7
V.37
V.38

2)

Nama Produk: Alpukat

V.39

engam
atan
V.40

K
e

V.41
V.45

Diameter (cm)
V.47
V.49

Min

May

Teng

V.46

V.48

V.50

V.42

perisit
as
V.43

(
cm2)

(cm
)
V.53
V.52

9,41
5
V.58

V.57

9,10
5
V.63

V.62

V.67

ata-rata

9,34
5
V.68
9,28
3

(cm)

(cm)

V.54

V.55

6,235

5,12

V.59

V.60

6,44

4,94

V.64

V.65

6,615

5,535

V.69
6,43

V.70
5,198

V.56

0
,771

V.61

0
,726

V.66

0
,728

V.71

0
,7416

V.72
V.73

3)

Nama Produk: Jeruk I


V.76
V.80

V.74

engam

atan
V.75

Min
r

K
e

V.81
(cm
)
V.88

V.87

V.92

V.97

V.102

ata-rata
V.107
V.108

5,94

Diameter (cm)
V.82

V.84

May

Teng

V.83

V.85

(cm)

(cm)

V.89

V.90

V.77

perisit
as
V.78

(
cm2)

V.91

5
V.93

4,715

3,74

V.94

V.95

V.96

5,97
V.98

5,745
V.99

3,52
V.100

,837
V.101
0

5,98
V.103

5,64

3,745

V.104

V.105

5,367

3,683

5,96
5

,8
0

,84
V.106
,8256

V.109
V.110
V.111

4)

Nama Produk: Mangga


V.114
V.118

V.112

engam
V.113

V.120

V.122

May

Teng

V.121

V.123

(cm)

(cm)

V.127

V.128

7,825

6,925

12,0

V.132

V.133

6,475

7,175

V.137

V.138

7,675

7,125

12,1

V.142

V.143

7,325

7,075

Min
o

atan

r
K

V.119
(cm
)
V.126

V.125

12,2
5
V.131

V.130

5
V.136
V.135

12,2
5
V.141

V.140

ata-rata

Diameter (cm)
V.115

perisit
as
V.116

cm2)

V.129

,712

V.134

,628

V.139

,714

V.144

,6846

5
V.145
5) Nama Produk: Jeruk II
V.146

engam
atan
V.147

K
e

V.148
V.152

Diameter (cm)
V.154
V.156

Min

May

Teng

V.153

V.155

V.157

(cm

(cm)

(cm)

V.149

perisit
as
V.150
cm2)

V.159

V.164

V.169

)
V.160

V.161

V.162

6,13
V.165

4,52
V.166

3,8

6,13

4,52

5
V.170

V.171

6,10

4,52

V.174

6,12

ata-rata

V.168

3,63

V.173

3,615
V.177

4,52

3,681

,759

V.178

,758

V.172

V.176

,770

V.167

5
V.175

V.163

,7623

V.179
V.180 b.

Volume dan Kerapatan

V.181

1)

Nama Produk Yang Tenggelam: Apel

V.182

V.187

Pengama

V.185

tan

Volum

V.183

V.184

Berat (gram)

Ke

V.186
(m3)
V.191

V.192

V.194

Produ

Wa

Be

V.196

ir Yang

Dipind

Di

ahkan

Ud

ar
a

V.195
+

(K
g)

(K
g

a
i
r

V.197
Kg)

V.198

Kerapa
tan
V.188
Massa
V.189
(Kg/m3)
V.199

V.193
(Kg

V.200

V.201

0,142

V.203

0,8

0,1
2

V.208
V.207

)
V.202

0,142

V.214

2
V.210

0,8

0,1
2

0,142

Rata-rata

0,142

,128
V.211

V.205

V.206

1,28 x

110,937

10-4
0

V.212

2
V.217

0,8

0,1

V.218

V.219

,128

1
V.223

2
V.224

0,8

0,1

V.225

,128

V.213

8x

110,937

V.226

1,2

V.220

8x

110,937

10-4

1,2
10-4

2
V.222

,128

1
V.216

3
V.221

1
V.209

2
V.215

V.204

1,2

V.227

8x

110,937

10-4

V.228
V.229
V.230
V.231
V.232

2)

Nama Produk Yang Tenggelam: Alpukat

V.233

V.238

Pengama

V.236

tan

Volum

V.234

V.235

Berat (gram)

Ke

V.237
(m3)
V.242

V.243

V.245

Produ

Wa

Be

V.247

ir Yang
b

Dipind

V.249

Kerapa
tan
V.239
Massa
V.240
(Kg/m3)
V.250

a
h
Di

Ud
ar

(K

n
V.246
(K

V.248

Kg)

g)

ahkan

V.244
(Kg

V.251

V.252

0,191

V.254

0,8

0,1
2

V.259
V.258

)
V.253

0,191

1
V.260

1
V.261

0,8

0,1

2
V.266

V.265

0,191

Rata-rata

0,191

,175
V.262

V.256
1,75 x
10-4

V.263

1
V.268

0,8

0,1

V.269

V.270

0,8

0,1
9

1091
V.264
1091

V.271
1091

10-4
V.276
,175

1,7
5x

9
1
V.275

V.257

10-4

,175

1
V.274

1,7
5x

2
V.273

,175

1
V.267

3
V.272

V.255

V.277

1,7
5x

V.278
1091

10-4

V.279
V.280
V.281
Pengama
tan
V.282
Ke

3)

Nama Produk Yang Tenggelam: Jeruk I


V.283

Berat (gram)

V.284

V.286

Volum

Kerapa

e
V.285
(m3)

tan
V.287
Massa

V.288
(Kg/m3)
V.291
Wa
d

V.290

Produ

k
Di

V.293
Be
b

ar

(K

(K

V.297

V.298

V.304

V.305

ahkan
V.296

Kg)

g)

Dipind

n
V.294

ir Yang

Ud

V.295

V.292
(Kg

V.299

V.300

0,092

V.302

0,8

0,0
2

V.307
V.306

)
V.301

0,092

2
V.309

0,8

0,0
2

V.313

0,092

V.321

Rata-rata

0,092

8 x 10-2

V.311

8x

2
V.316

0,8

0,0

V.317

8 x 10-2

V.318

8x
10-5

4)

V.312
1150

V.319
1150

1
V.322

2
V.323

0,8

0,0

V.324

8 x 10-2

V.325

8x
10-5

V.327
V.328

1150

V.320

V.310

8 x 10-5

10-5

1
V.315

x 10-2

1
V.308

2
V.314

V.303

Nama Produk Yang Tenggelam: Mangga

V.326
1150

V.334
V.332
Volum
V.331

Berat (gram)

e
V.333
(m3)

Kerapa
tan
V.335
Massa
V.336
(Kg/m3)

V.339
Wa

V.329
Pengama
tan
V.330
Ke

V.338

Produ

k
Di

Be
b
a

Ud
ar

(K
g)

V.341

n
V.342
(K
g

V.343

ir Yang
Dipind

V.345

V.346

ahkan
V.344

Kg)

V.340
(Kg

V.347

V.348

0,356
V.355

V.354

0,356

)
V.349

V.350

0,8

0,3
2

V.361

6
V.357

0,8

0,3
2

0,356

3
V.368

1
V.356

2
V.362

,33
V.358

V.352
3,3 x
10-4

V.359

0,8

0,3

V.353
1079
V.360
1079

10-4
V.365

V.366

,33

3,3
x

V.367
1079

10-4

5
6
V.371

3,3
x

5
6
V.364

1
V.370

,33

1
V.363
2

V.369

V.351

V.372

V.373

3,3

V.374

Rata-rata

0,356

0,8

0,3

,33

1079

10-4

V.375
V.376
V.377
5) Nama Produk Yang Tenggelam: Jeruk II
V.383
V.381
Volum
V.380

Berat (gram)

e
V.382
(m3)

Kerapa
tan
V.384
Massa
V.385
(Kg/m3)

V.388
Wa

V.378
Pengama
tan
V.379
Ke

V.387

Produ

k
Di

Be
b
a

Ud
ar

(K
g)

V.390

n
V.391
(K

V.392

ir Yang
Dipind

V.394

V.395

ahkan
V.393

Kg)

V.389
(Kg

V.396

V.397

0,118

V.403

V.404

0,118

)
V.398

V.399

0,8

0,1
2

V.400

1
V.405

8
V.406

0,8

0,1

V.407

V.401

,02 x

1,02 x

10-1

10-4

1,02 x
10

V.408

1,0
2x

V.402
1157
V.409
1157

2
V.411
V.410

1
V.412

8
V.413

0,8

0,1

0,118

V.417

V.418

Rata-rata

V.425 c.
V.426

V.414

V.415

1,02 x
10

8
V.420

0,8

0,1
1

8
V.424

V.416
1157

10-4
V.421

V.422

1,02 x
10

1,0
2x

1
V.419

0,118

10-4

1,0

V.423

2x
10-4

Luas Permukaan
1)

Nama Produk: Apel

V.427

V.429

Pengamata
n

V.428

Ke

Luas

Permukaan (m2)
V.430

Dengan kertas

milimeter
V.432
12,524
V.434
12,524

V.431
1
V.433
Rata-rata
V.435
V.436

2)

Nama Produk: Alpukat

V.437

Pengamata
n

V.438

Ke

V.441
1
V.443
Rata-rata

V.439

Luas

Permukaan (m2)
V.440

Dengan kertas

milimeter
V.442
0,016
V.444
0,016

V.445
3) Nama Produk: Jeruk I
V.446

Pengamata
n

V.447

Ke

V.450
1
V.452
Rata-rata
V.454

V.448

Luas

Permukaan (m2)
V.449

Dengan kertas

milimeter
V.451
0,0089
V.453
0,0089

1157

V.455
V.456
V.457
4) Nama Produk: Mangga
V.458

Pengamata
n

V.459

Dengan kertas

milimeter
V.463
0,022
V.465
0,022

Pengamata
n

V.468

Luas

Permukaan (m2)
V.461

Ke

V.462
1
V.464
Rata-rata
V.466
5) Nama Produk: Jeruk II
V.467

V.460

V.469

Permukaan (m2)
V.470

Ke

Luas
Dengan kertas

milimeter
V.472
10,414
V.474
10,414

V.471
1
V.473
Rata-rata
V.475
d. Porositas
1) Nama produk: Jagung Pipil
V.476
Pengama
tan
V.477

V.478

P1

V.479
(mm)

V.480

P2

V.481
(mm)

V.482
Porositas
V.483
(mmHg)

Ke
V.484

V.485

V.486

V.487

1
V.488

158
V.489

105
V.490

0,50
V.491

2
V.492

140
V.493

110
V.494

0,27
V.495

3
V.496

150
V.497

122
V.498

0,23
V.499

Rata-rata

149,33

V.500
2) Nama produk: Gabah Kering

112,33

0,33

V.501
Pengama
tan
V.502

V.503

P1

V.504
(mm)

V.505

P2

V.506
(mm)

V.507
Porositas
V.508
(mmHg)

Ke
V.509

V.510

V.511

V.512

1
V.513

142
V.514

80
V.515

0,77
V.516

2
V.517

145
V.518

85
V.519

0,70
V.520

3
V.521

145
V.522

80
V.523

0,81
V.524

Rata-rata

144

81,67

0,76

V.525
V.526
V.527
V.528
3) Nama produk: Kedelai
V.529
Pengama
tan
V.530

V.531

P1

V.532
(mm)

V.533

P2

V.534
(mm)

V.535
Porositas
V.536
(mmHg)

Ke
V.537

V.538

V.539

V.540

1
V.541

151
V.542

81
V.543

0,86
V.544

2
V.545

155
V.546

115
V.547

0,34
V.548

3
V.549

159
V.550

80
V.551

0,98
V.552

155

92

0,73

Rata-rata
V.553

4) Nama produk: Kacang Tanah


V.554
Pengama

V.556

P1

V.557

V.558

V.559

P2

V.560
Porositas

tan
V.555

(mm)

(mm)

V.561
(mmHg)

Ke
V.562

V.563

V.564

V.565

1
V.566

120
V.567

65
V.568

0,85
V.569

2
V.570

117
V.571

80
V.572

0,46
V.573

3
V.574

120
V.575

83
V.576

0,45
V.577

119

76

0,59

Rata-rata
V.578

5) Nama produk: Kacang Hijau


V.579
Pengama
tan
V.580

V.581

P1

V.582
(mm)

V.583

P2

V.584
(mm)

V.585
Porositas
V.586
(mmHg)

Ke
V.587

V.588

V.589

V.590

1
V.591

120
V.592

80
V.593

0,50
V.594

2
V.595

100
V.596

70
V.597

0,42
V.598

3
V.599

115
V.600

80
V.601

0,45
V.602

Rata-rata

111,67

76,76

0,45

V.603
V.604
V.605 V.

PEMBAHASAN
V.606

Praktikum acara 1 ini adalah tentang atribut fisik produk

pertanian. Atribut fisik produk pertanian merupakan faktor yang sangat


penting yang berguna untuk menangani masalah-masalah yang berhubungan
dengan merancang suatu alat khusus untuk suatu produk hasil pertanian atau
analisa prilaku produk dan cara penanganannya. Karakteristik sifat fisik
pertanian antara lain adalah bentuk, ukuran, luas permukaan, warna,

penampakkan, berat, porositas, densitas dan kadar air. Tujuan praktikum ini
adalah untuk mempelajari atribut fisik produk pertanian dan cara
pengukurannya.
V.607

Dalam praktikum ini atribut fisik yang diukur antara lain

adalah ukuran dan ukuran, volume dan kerapatan, luas permukaan dan
porositas. Atribut fisik produk pertanian yang diukur atau diujikan pertama
adalah tentang ukuran dan bentuk. Pada pengukuran ini bahan yang
digunakan adalah mangga, apel, jeruk, alpukat dan alat yang digunakan
adalah jangka sorong. Pada pengukuran ukuran dan bentuk apel dilakukan 3
bentuk pengukuran yaitu mengukur diameter minor (tependek), diameter
mayor (terpanjang) dan diameter intermediet (pertengahan) pada mangga.
Pada pengukuran ini dilakukan 3 kali ulangan, dari 3 kali ulangan tersebut
didapatkan hasil sebagai berikut:
V.608

Untuk ulangan pertama: minor (6,502 cm), mayor (5,312

cm) dan intermediet (3,61 cm).


V.609

Untuk ulangan kedua: minor (6,818cm), mayor (5,312 cm)

dan intermediet (3,502 cm).


V.610

Untuk ulangan ketiga: minor (6,506 cm), mayor (5,208 cm)

dan intermediet (3,706 cm).


V.611

Sehingga dari ketiga pengulangan tersebut diperoleh rata-

rata nilai berturut-turut untuk minor, mayor dan intermediet adalah 6,60867
cm, 5,273 cm, dan 3,606 cm.
V.612

Pada pengukuran ukuran dan bentuk alpukat dilakukan 3

bentuk pengukuran yaitu mengukur diameter minor (tependek), diameter


mayor (terpanjang) dan diameter intermediet (pertengahan) pada mangga.
Pada pengukuran ini dilakukan 3 kali ulangan, dari 3 kali ulangan tersebut
didapatkan hasil sebagai berikut:
V.613

Untuk ulangan pertama: minor (9,415 cm), mayor (6,235

cm) dan intermediet (5,12 cm).


V.614

Untuk ulangan kedua: minor (9,105 cm), mayor (6,44 cm)

dan intermediet (4,94 cm).

V.615

Untuk ulangan ketiga: minor (9,345 cm), mayor (6,615 cm)

dan intermediet (5,535 cm).


V.616

Sehingga dari ketiga pengulangan tersebut diperoleh rata-

rata nilai berturut-turut untuk minor, mayor dan intermediet adalah 9,283 cm,
6,43 cm, dan 5,1983 cm.
V.617

Pada pengukuran ukuran dan bentuk jeruk I dilakukan 3

bentuk pengukuran yaitu mengukur diameter minor (tependek), diameter


mayor (terpanjang) dan diameter intermediet (pertengahan) pada mangga.
Pada pengukuran ini dilakukan 3 kali ulangan, dari 3 kali ulangan tersebut
didapatkan hasil sebagai berikut:
V.618

Untuk ulangan pertama: minor (5,945 cm), mayor (4,715

cm) dan intermediet (3,74 cm).


V.619

Untuk ulangan kedua: minor (5,97 cm), mayor (5,745 cm)

dan intermediet (3,52 cm).


V.620

Untuk ulangan ketiga: minor (5,98 cm), mayor (5,64 cm)

dan intermediet (3,745 cm).


V.621

Sehingga dari ketiga pengulangan tersebut diperoleh rata-

rata nilai berturut-turut untuk minor, mayor dan intermediet adalah 5,965 cm,
5,367 cm, dan 3,683 cm.
V.622

Pada pengukuran ukuran dan bentuk mangga dilakukan 3

bentuk pengukuran yaitu mengukur diameter minor (tependek), diameter


mayor (terpanjang) dan diameter intermediet (pertengahan) pada mangga.
Pada pengukuran ini dilakukan 3 kali ulangan, dari 3 kali ulangan tersebut
didapatkan hasil sebagai berikut:
V.623

Untuk ulangan pertama: minor (12,25 cm), mayor (7,825

cm) dan intermediet (6,925 cm).


V.624

Untuk ulangan kedua: minor (12,025 cm), mayor (6,475

cm) dan intermediet (7,175 cm).


V.625

Untuk ulangan ketiga: minor (12,25 cm), mayor (7,675 cm)

dan intermediet (7,125 cm).

V.626

Sehingga dari ketiga pengulangan tersebut diperoleh rata-

rata nilai berturut-turut untuk minor, mayir dan intermediet adalah 12,175 cm,
7,325 cm, dan 7,075 cm.
V.627

Pada pengukuran ukuran dan bentuk jeruk II juga dilakukan

3 bentuk pengukuran yaitu mengukur diameter minor (tependek), diameter


mayor (terpanjang) dan diameter intermediet (pertengahan) pada mangga.
Pada pengukuran ini dilakukan 3 kali ulangan, dari 3 kali ulangan tersebut
didapatkan hasil sebagai berikut:
V.628

Untuk ulangan pertama: minor (6,13 cm), mayor (4,52 cm)

dan intermediet (3,8 cm).


V.629

Untuk ulangan kedua: minor (6,135 cm), mayor (4,52 cm)

dan intermediet (3,63 cm).


V.630

Untuk ulangan ketiga: minor (6,105 cm), mayor (4,52 cm)

dan intermediet (3,615 cm).


V.631

Sehingga dari ketiga pengulangan tersebut diperoleh rata-

rata nilai berturut-turut untuk minor, mayor dan intermediet adalah 6,123 cm,
4,52 cm, dan 3,68167 cm.
V.632

Setelah itu setiap pengulangan dari kelima produk pertanian

tersebut dihitung nilai sperisatasnya atau kebulatannya, dengan menggunakan


rumus :
V.633

(a.b.c)1/3
a

, dari perhitungan sperisitas ini didapatkan hasil

untuk pengulangan pertama, kedua dan ketiga berturut-turut untuk apel,


alpukat, jeruk I, mangga dan jeruk II adalah sebagai berikut:
V.634

Untuk apel nilai sperisitasnya 0,77 cm2, 0,73 cm2, dan

0,768 cm2 dengan nilai rata-rata untuk semua pengulangan adalah 0,756 cm2.
V.635

Untuk alpukat nilai sperisitasnya 0,771 cm2, 0,726 cm2, dan

0,728 cm2 dengan nilai rata-rata untuk semua pengulangan adalah 0,7416 cm2.
V.636

Untuk jeruk I nilai sperisitasnya 0,8 cm2, 0,837 cm2, dan

0,84 cm2 dengan nilai rata-rata untuk semua pengulangan adalah 0,8256 cm2.

V.637

Untuk mangga nilai sperisitasnya 0,712 cm2, 0,628 cm2,

dan 0,714 cm2 dengan nilai rata-rata untuk semua pengulangan adalah 0,6846
cm2.
V.638

Untuk jeruk II nilai sperisitasnya 0,770 cm2, 0,758 cm2, dan

0,759 cm2 dengan nilai rata-rata untuk semua pengulangan adalah 0,7623 cm2.
V.639

Menurut (Hamdani, 2013) nilai kebulatan suatu bahan juga

berkisar antara 0-1. Apabila nilai kebulatan suatu bahan hasil pertanian
mendekati 1 maka bahan tersebut mendekati bentuk bola (bulat). Dari teori
ini dapat disimpulkan bahwa jeruk I hampir memiliki bentuk yang bulat
karena memiliki nilai sperisitas sebesar 0,8256 yang mendekati 1.
V.640

Untuk perhitungan atribut fisik yang kedua adalah

menghitung volume dan kerapatan, bahan yang digunakan adalah apel,


alpukat, jeruk I, mangga dan jeruk II. Alat ukur yang digunakan antar lain
gelas piala dan timbanagan. Sebelum dihitung volume dan kerapatan apel
ditimbang terlebih dahulu, dari hasil penimbangan didapatkan hasil bahwa
untuk apel memiliki berat 0,142 kg. Setelah itu bahan diukur volumenya
dengan memasukkan setiap bahan kedalam 200 ml air yang dimasukkan
dalam gelas piala. Setelah itu dihitung volumenya dengan menggunakan
rumus:
V.641

volume air setelah ditambahkan volume awal air (200 ml)

V.642

dari hasil perhitungan didapatkan bahwa apel memiliki

volume sebesar 1,28 x 10-4 m3. Pengukuran ini dilakukan 3 kali pengulangan
dan hasilnya tetap sama. Setelah massa (berat) dan volume bahan diketahui
yaitu 0,142 kg dan 1,28 x 10-4 m3 barulah dilakukan perhitungan kerapatan

massa dengan menggunakan rumus:

massa
volum , dengan satuan yang

digunakan kg/m3. Dari perhitungan ini diperoleh bahwa apel memiliki nilai
kerapatan massa 110,9375 kg/m3.
V.643

Selanjutnya, menghitung volume dan kerapatan alpukat

yang ditimbang terlebih dahulu, dari hasil penimbangan didapatkan hasil


bahwa untuk alpukat memiliki berat 0,191 kg. Setelah itu bahan diukur
volumenya dengan memasukkan setiap bahan kedalam 200 ml air yang

dimasukkan dalam gelas piala. Setelah itu dihitung volumenya dengan


menggunakan rumus:
V.644

volume air setelah ditambahkan volume awal air (200 ml)

V.645

dari hasil perhitungan didapatkan bahwa alpukat memiliki

volume sebesar 1,75 x 10-4 m3. Pengukuran ini dilakukan 3 kali pengulangan
dan hasilnya tetap sama. Setelah massa (berat) dan volume bahan diketahui
yaitu 0,191 kg dan 1,75 x 10-4 m3. Dengan menggunakan rumus yang sama,

yaitu:

massa
3
volum , dengan satuan yang digunakan kg/m . Dari perhitungan ini

diperoleh bahwa alpukat memiliki nilai kerapatan massa 1091 kg/m3.


V.646

Kemudian, menghitung volume dan kerapatan jeruk I

dengan hasil penimbangan bahwa jeruk I memiliki berat 0,092 kg. dengan
perlakuan yang sama dan menggunakan rumus yang sama dengan percobaan
sebelumnya. Didapatkan hasil perhitungan bahwa jeruk I memiliki volume
sebesar 8 x 10-5 m3. Pengukuran ini dilakukan 3 kali pengulangan dan
hasilnya tetap sama. Dengan menggunakan rumus yang sama, yaitu:
massa
3
volum , dengan satuan yang digunakan kg/m . Dari perhitungan ini
diperoleh bahwa jeruk I memiliki nilai kerapatan massa 1150 kg/m3.
V.647

Menghitung volume dan kerapatan mangga dengan hasil

penimbangan bahwa mangga memiliki berat 0,356 kg. dengan perlakuan


yang sama dan menggunakan rumus yang sama dengan percobaan
sebelumnya. Didapatkan hasil perhitungan bahwa mangga memiliki volume
sebesar 3,3 x 10-4 m3. Pengukuran ini dilakukan 3 kali pengulangan dan
hasilnya tetap sama. Dengan menggunakan rumus yang sama, yaitu:
massa
3
volum , dengan satuan yang digunakan kg/m . Dari perhitungan ini
diperoleh bahwa mangga memiliki nilai kerapatan massa 1079 kg/m3.
V.648

Terakhir, menghitung volume dan kerapatan jeruk II dengan

hasil penimbangan bahwa mangga seberat 0,118 kg. Dengan perlakuan yang

sama dan menggunakan rumus yang sama dengan percobaan sebelumnya.


Didapatkan hasil perhitungan bahwa jeruk II memiliki volume sebesar 1,02 x
10-4 m3. Pengukuran ini dilakukan 3 kali pengulangan dan hasilnya tetap

sama. Dengan menggunakan rumus yang sama, yaitu:

massa
volum , dengan

satuan yang digunakan kg/m3. Dari perhitungan ini diperoleh bahwa jeruk II
memiliki nilai kerapatan massa 1157 kg/m3.
V.649

Perhitungan atribut fisik produk pertanian yang ketiga

adalah mengukur luas permukaan. Produk pertanian yang digunakan adalah


apel, alpukat, jeruk I, mangga dan jeruk II. Sedangkan, alat yang digunakan
antara lain adalah kertas milimeter blok dan pensil. Pengukuran ini dilakukan
dengan terlebih dahulu mngupas kulit apel, setelah itu semua kulit yang
terkupas ditempelkan pada kertas milimeter blok kemudian digaris keliling
sebagaimana bentuk kupasan kulit apel yang ditempel. Setelah itu dilakukan
perhitungan dengan mengukur berapa kotak yang terpenuhi oleh kupasan
kulit apel tersebut, percobaan ini dilakukan hanya satu kali ulangan. Satuan
perhitungan ini adalah mm yang kemudian diubah menjadi m 2. Dari hasil
pengukuran didapat bahwa hasil luas permukaan produk pertanian berupa
apel adalah 12,524 m2. Sedangkan untuk alpukat, jeruk I, mangga dan jeruk II
berturut-turut hasil luas permukaannya adalah 0,016 m2, 0,0089 m2, 0,022 m2,
dan 10,414 m2.
V.650

Perhitungan atribut fisik produk pertanian yang terakhir

adalah porositas. Porositas ini digunakan untuk mengukur aliran udara dan
panas pada produk prtanian. Produk pertanian yang dihitung nilai
porositasnya dengan menggunakan alat yaitu manomater. Pada percobaan ini
dilakukan 3 kali pengulangan.
V.651

Dengan menggunakan produk jagung pipil, diperoleh hasil

untuk pengulangan pertama nilai P1 atau atau tekanan pada manometer saat
keran 1 ditutup adalah 158 mm, diperoleh P2 yaitu 105 mm, P2 ini diperoleh
saat kran 1 dan 3 ditutup sehingga massa total udara menjadi 2 yaitu M1 dan
M2. M1 mengisi tangki 1 dan M2 mengisi ruang pori V2 yang berisi jagung
pipil. Untuk pengulangan kedua dengan proses yang sama dengan P1 yaitu

140 mm diperoleh nilai P2 yaitu 110 mm, dan untuk pengulangan ketiga
dengan P1 yaitu 150 mm diperoleh nilai untuk P2 yaitu 122 mm. Sehingga
diperoleh rata-rata P1 dan P2 dari tiga pengulangan adalah 149,33 mm dan
112,33 mm. Setelah didapatkan nilai untuk P1 dan P2 kemudian ketiga
pengulangan dilakukan perhitungan nilai porositasnya dengan menggunakan
rumus :
V.652
V.653

P 2 P 1P 2
=
P1
P2
Nilai porositas ini memiliki satuan mmHg. Dan dari

perhitungan porositas setiap pengulangan dipeoleh bahwa nilai porositas dari


pengulangan pertama, kedua dan ketiga adalah sebagai berikut: untuk
pengulangan pertama porositasnya 0,50 mmHg, untuk pengulangan kedua
porositasnya 0,27 mmHg dan untuk pengulangan ketiga porositasnya 0,23
mmHg. Sehingga dari ketiga pengulangan diperoleh bahwa nilai rata-rata
porositas yang didapatkan adalah 0,33 mmHg. Jadi, produk jagung memiliki
nilai porositas atau nilai aliran udara dan panas sebesar 0,33 mmHg.
V.654

Untuk produk gabah kering, pengulangan pertama nilai P1

atau atau tekanan pada manometer saat keran 1 ditutup adalah 142 mm,
diperoleh P2 yaitu 180 mm, P2 ini diperoleh saat kran 1 dan 3 ditutup
sehingga massa total udara menjadi 2 yaitu M1 dan M2. M1 mengisi tangki 1
dan M2 mengisi ruang pori V2 yang berisi gabah kering. Untuk pengulangan
kedua dengan proses yang sama dengan P1 yaitu 145 mm diperoleh nilai P2
yaitu 85 mm, dan untuk pengulangan ketiga dengan P1 yaitu 145 mm
diperoleh nilai untuk P2 yaitu 80 mm. Sehingga diperoleh rata-rata P1 dan P2
dari tiga pengulangan adalah 144 mm dan 81,67 mm. Setelah didapatkan nilai
untuk P1 dan P2 kemudian ketiga pengulangan dilakukan perhitungan nilai
porositasnya dengan menggunakan rumus yang sama dengan percobaan
sebelumnya. Sehingga didapatkan untuk pengulangan pertama porositasnya
0,77 mmHg, untuk pengulangan kedua porositasnya 0,70 mmHg dan untuk
pengulangan ketiga porositasnya 0,81 mmHg. Sehingga dari ketiga
pengulangan diperoleh bahwa nilai rata-rata porositas yang didapatkan adalah

0,76 mmHg. Jadi, produk gabah kering memiliki nilai porositas atau nilai
aliran udara dan panas sebesar 0,76 mmHg.
V.655

Selanjutnya dengan produk kedelai, pengulangan pertama

nilai P1 atau atau tekanan pada manometer saat keran 1 ditutup adalah 151
mm, diperoleh P2 yaitu 81 mm, P2 ini diperoleh saat kran 1 dan 3 ditutup
sehingga massa total udara menjadi 2 yaitu M1 dan M2. M1 mengisi tangki 1
dan M2 mengisi ruang pori V2 yang berisi kedelai. Untuk pengulangan kedua
dengan proses yang sama dengan P1 yaitu 155 mm diperoleh nilai P2 yaitu
115 mm, dan untuk pengulangan ketiga dengan P1 yaitu 159 mm diperoleh
nilai untuk P2 yaitu 80 mm. Sehingga diperoleh rata-rata P1 dan P2 dari tiga
pengulangan adalah 155 mm dan 92 mm. Setelah didapatkan nilai untuk P1
dan P2 kemudian ketiga pengulangan dilakukan perhitungan nilai
porositasnya dengan menggunakan rumus yang sama dengan percobaan
sebelumnya. Sehingga didapatkan untuk pengulangan pertama porositasnya
0,86 mmHg, untuk pengulangan kedua porositasnya 0,34 mmHg dan untuk
pengulangan ketiga porositasnya 0,98 mmHg. Sehingga dari ketiga
pengulangan diperoleh bahwa nilai rata-rata porositas yang didapatkan adalah
0,73 mmHg. Jadi, produk kedelai memiliki nilai porositas atau nilai aliran
udara dan panas sebesar 0,73 mmHg.
V.656

Selanjutnya dengan produk kacang tanah, pengulangan

pertama nilai P1 atau atau tekanan pada manometer saat keran 1 ditutup
adalah 120 mm, diperoleh P2 yaitu 65 mm, P2 ini diperoleh saat kran 1 dan 3
ditutup sehingga massa total udara menjadi 2 yaitu M1 dan M2. M1 mengisi
tangki 1 dan M2 mengisi ruang pori V2 yang berisi kacang tanah. Untuk
pengulangan kedua dengan proses yang sama dengan P1 yaitu 117 mm
diperoleh nilai P2 yaitu 80 mm, dan untuk pengulangan ketiga dengan P1
yaitu 120 mm diperoleh nilai untuk P2 yaitu 83 mm. Sehingga diperoleh ratarata P1 dan P2 dari tiga pengulangan adalah 119 mm dan 76 mm. Setelah
didapatkan nilai untuk P1 dan P2 kemudian ketiga pengulangan dilakukan
perhitungan nilai porositasnya dengan menggunakan rumus yang sama
dengan percobaan sebelumnya. Sehingga didapatkan untuk pengulangan
pertama porositasnya 0,85 mmHg, untuk pengulangan kedua porositasnya

0,46 mmHg dan untuk pengulangan ketiga porositasnya 0,45 mmHg.


Sehingga dari ketiga pengulangan diperoleh bahwa nilai rata-rata porositas
yang didapatkan adalah 0,59 mmHg. Jadi, produk kacang tanah memiliki nilai
porositas atau nilai aliran udara dan panas sebesar 0,59 mmHg.
V.657

Terakhir, dengan produk kacang hijau, pengulangan

pertama nilai P1 atau atau tekanan pada manometer saat keran 1 ditutup
adalah 120 mm, diperoleh P2 yaitu 80 mm, P2 ini diperoleh saat kran 1 dan 3
ditutup sehingga massa total udara menjadi 2 yaitu M1 dan M2. M1 mengisi
tangki 1 dan M2 mengisi ruang pori V2 yang berisi kacang hijau. Untuk
pengulangan kedua dengan proses yang sama dengan P1 yaitu 100 mm
diperoleh nilai P2 yaitu 70 mm, dan untuk pengulangan ketiga dengan P1
yaitu 115 mm diperoleh nilai untuk P2 yaitu 80 mm. Sehingga diperoleh ratarata P1 dan P2 dari tiga pengulangan adalah 111,67 mm dan 76,76 mm.
Setelah didapatkan nilai untuk P1 dan P2 kemudian ketiga pengulangan
dilakukan perhitungan nilai porositasnya dengan menggunakan rumus yang
sama

dengan

percobaan

sebelumnya.

Sehingga

didapatkan

untuk

pengulangan pertama porositasnya 0,50 mmHg, untuk pengulangan kedua


porositasnya 0,42 mmHg dan untuk pengulangan ketiga porositasnya 0,45
mmHg. Sehingga dari ketiga pengulangan diperoleh bahwa nilai rata-rata
porositas yang didapatkan adalah 0,45 mmHg. Jadi, produk kacang tanah
memiliki nilai porositas atau nilai aliran udara dan panas sebesar 0,45 mmHg.
V.658
VI.

KESIMPULAN
VI.1

Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa:

VI.2

Atribut fisik pertanian terdiri dari beberapa kriteria antara

lain adalah bentuk dan ukuran, volume dan kerapatan, luas permukaan, dan
porositas. Pada percobaan ini dilakukan pengukuran untuk keempat kriteria
sifat fisik produk pertanian tersebut. Atribut fisik produk pertanian ini penting
untuk diketahui karena berguna dalam menentukan mutu dan cara
penanganan dari suatu produk pertanian. Pada praktikum ini untuk bentuk
dan ukuran digunakan produk pertanian berupa mangga, apel, jeruk, alpukat
dan didapat nilai sperisitasnya untuk setiap produk yaitu untuk apel sebesar

0,756 cm2, alpukat sebesar 0,7416 cm2, jeruk I 0,8256 cm2, mangga 0,6846
cm2, dan jeruk II 0,7623 cm2. Sehingga jeruk I memiliki bentuk hampir bulat
atau bola disusul jeruk II, apel, alpukat dan mangga. Untuk praktikum
pengukuran volume dan kerapatan didapat volume sebesar 1,28 x 10-4 m3 dan
kerapatan massa 110,9375 kg/m3 untuk apel. Untuk alpukat volumenya 1,75 x
10-4 m3 dan kerapatan massanya 1091 kg/m3. Sedangkan, untuk jeruk I
volumenya

8 x 10-5 m3 dan kerapatan massanya 1150 kg/m3. Selanjutnya,

volume 3,3 x 10-4 m3 dan kerapatan massa 1079 kg/m3 untuk mangga. Dan
untuk jeruk I volumenya 1,02 x 10-4 m3 dan kerapatan massanya 1157 kg/m3.
Untuk praktium luas permukaan produk pertanian yang digunakan adalah
apel dengan nilai luas permukaannya adalah 12,524 m2, alpukat 0,016 m2,
jeruk I 0,0089 m2, mangga 0,022 m2 , dan jeruk II 10,414 m2. Dan untuk
praktikum porositas produk pertanian yang digunakan adalah jagung pipil
adalah 0,33 mmHg, gabah kering 0,76 mmHg, kedelai 0,73 mmHg, kacang
tanah 0,59 mmHg, dan kacang hijau 0,45 mmHg.

VI.3

DAFTAR PUSTAKA

2006.

Macam-macam

VI.4
VI.5

Angelfire.

Produk

Pertanian.

http://www.angelfire.com/m
VI.6
VI.7
VI.8

t/matrixs/kesehatan.htm. diakses 20 Desember 2015


Bernardius. 2003. Teknologi Benih. Jakarta: Rineka Cipta

Daminik. 2009. Bentuk dan ukuran Buah. www.wikipedia.com. diakses 20


Desember 2015

VI.9

Hamdani, Dadang. 2013. Karakter Fisik Bahan Hasil Pertanian.


http://dadanhamdanimuslih.blogspot.com/. Diakses 20 Desember 2015

VI.10

Kalshoven. 2006. Teknologi Pasca Panen Dan Pengolahan Hasil

Kedelai dan Kacang Tanah. Jawa Timur: Balai Pengkajian Teknologi


Pertanian
VI.11 Liza. 2010. Kebundaran Buah. www.wikipedia.com. Diakses 20 Desember
2015
VI.12 Mohseinini. 1980. Physical Properties of plant and Animal Materials.
New York: Gordon and Breach, Science Publisher, Inc.
VI.13

Mulanto. 2003. Manfaat Kacang Hijau. Jakarta: Liberty Press

VI.14

Paendilan. 2002. Teknologi Benih. Jakarta: Rineka Cipta

VI.15 Suharto. 1991. Teknologi Pengawetan Pangan. Jakarta: Rineka Cipta


VI.16 Winarno F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia
VI.17
VI.18
VI.19
VI.20
VI.21
VI.22
VI.23
VI.24
VI.25
VI.26
VI.27

VI.28
VI.29
VI.30