Vous êtes sur la page 1sur 26

KISTA OVARIUM

Kista ovarium disebut juga kistoma ovarii, yaitu suatu kantong abnormal
berisi cairan atau setengah cair yang tumbuh dalam indung telur
(ovarium). Dengan istilah lain kista ovarium adalah tumor neoplastik jinak
ovarium yang bersifat kistik.
Gambaran klinis :
a) Benjolan perut bagian bawah
b) Nyeri perut bagian bawah (karena peregangan kapsula, torsi, atau
ruptur)
c) Gangguan penekanan (ureter, vesika urinaria, rektum)
d) Gejala endokrin (maskulinisasi atau feminimisasi)
ANATOMI

Gambar 1 Genitalia interna wanita


Ovarium merupakan sepasang organ pada sistem reproduksi wanita.
Ovarium terletak pada rongga pelvis, masing-masing terletak di samping
uterus dan berukuran kira-kira sebesar biji almond. Ovarium memproduksi

sel telur dan hormon-hormon yang akan mengatur fungsi organ


reproduksi.
Setiap bulan, selama siklus menstruasi, sel telur dilepaskan dari salah
satu ovarium dalam suatu proses yang disebut sebagai ovulasi. Telur
tersebut melakukan perjalanan sepanjang tuba fallopi menuju uterus.
Ovarium juga merupakan sumber utama penghasil hormone estrogen dan
progesterone. Hormon-hormon juga berperan dalam berkembangnya
organ seks sekunder wanita, seperti payudara, bentuk tubuh, dan rambut
dibeberapa lokasi tubuh, dan juga dapat mengontrol siklus menstruasi dan
kehamilan.
Salah satu bagian ovarium yang penting adalah yang berada di dalam
cavum peritonei dilapisi oleh epitel kubik silindrik, disebut epitelium
germinativum.

Dibawah

epitel

ini

terdapat

tunika

albuginea

dan

dibawahnya lagi baru ditemukan lapisan tempat folikel primordial. Pada


wanita diperkirakan terdapat banyak folikel. Tiap bulan satu folikel,
kadang-kadang dua folikel, berkembang menjadi folikel de graaf. Folikelfolikel ini merupakan bagian ovarium yang terpenting, dan dapat
ditemukan di korteks ovarii dalam letak yang beraneka ragam, dan pula
dalam tingkat-tingkat perkembangan dari satu sel telur yang dikelilingi oleh
suatu lapisan sel-sel saja sampai folikel de graaf yang matang. Folikel
yang matang ini terisi likuor folikuli yang mengandung estrogen, dan siap
untuk berovulasi.

Gambar 2. Ovarium dan

folikel-folikel dalam berbagai tingkat

perkembangan.

Klasifikasi
A.

Tumor non-neoplastik
1. Tumor akibat radang
2. Tumor lain
a) Kista folikel
b) Kista korpus luteum
c) Kista lutein
d) Kista inklusi germinal
e) Kista endometrium
f) Kista Stein-Leventhal

B.

Tumor neoplastik jinak


1. Kistik

a)

Kistoma ovarii simpleks

b)

Kistoma ovarii serosum

c)

Kistoma ovarii epidermoid

d)

Kista dermoid
2. Solid
a)

Fibroma, Leiomioma, Fibriadenoma, Papiloma, Angioma

b)

Tumor Brenner

c)

Tumor sisa adrenal

Jenis Kistoma Ovarii


1. Berdasarkan letak
a.

Intraligamenter
-

gerak terbatas

gambaran pembuluh darah (+)

terdapat diantara ligamentum latum

b.

Bertangakai
-

batas jelas, gerak bebas

perlengketan (-)

dapat berubah mengakibatkan torsi


-

dapat

tumbuh

intraligamenter

sebagai

kistoma

ovarii

intraligamenter
c.

Pseudo Intraligamenter
-

gerak terbatas

terletak diluar ligamentum latum

2. Berdasarkan histopatologi
a.

Kistoma Ovarii Simpleks


Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya
bertangkai, seringkali bilateral, dan dapat menjadi besar.
Dinding kista tipis dan cairan di dalam kista jernih, serous, dan
berwarna kuning. Pada dinding kista tampak lapisan epitel

kubik. Berhubungan dengan adanya tangkai, dapat terjadi torsi


(putaran tangkai) dengan gejala-gejala mendadak. Diduga
bahwa kista ini suatu jenis kistadenoma serosum, yang
kehilangan epitel kelenjarnya berhubungan dengan reseksi
ovarium, akan tetapi jaringan yang dikeluarkan harus segera
diperiksa secara histologik untuk mengetahui apakah ada
keganasan.
b.

Kistadenoma Ovarii Musinosum


Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Menurut Meyer,
kista

ini

berasal

dari

suatu

teratoma

di

mana

dalam

pertumbuhannya satu elemen mengalahkan elemen-elemen


lain. Ada penulis yang berpendapat bahwa tumor berasal dari
epitel germinativum, sedang penulis lain menduga tumor ini
mempunyai asal yang sama dengan tumor Brenner. Tumor
lazimnya berbentuk multilokuler, oleh karena itu, permukaan
berlobus (lobulated). Kira-kira 10% dapat mencapai ukuran
yang amat besar, lebih-lebih pada penderita yang datang dari
pedesaan. Pada tumor yang besar tidak lagi dapat ditemukan
jaringan ovarium yang normal. Tumor biasanya unilateral, akan
tetapi dapat juga dijumpai yang bilateral.
Dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabu-abuan,
yang terakhir ini khususnya bila terjadi perdarahan atau
perubahan degeneratif di dalam kista. Pada pemeriksaan
makroskopis (Intraoperatif) dapat ditemukan cairan lendir yang
khas, kental seperti gelatin, melekat, dan berwarna kuning
sampai coklat, tergantung dari percampurannya dengan darah.
Pada pemeriksaan mikroskopis tampak dinding kista dilapisi
oleh epitel torak tinggi pada dasar sel, terdapat di antaranya selsel yang membundar karena terisi lendir (sel goblet).

Sel-sel epitel yang terdapat dalam satu lapisan mempunyai


potensi untuk tumbuh seperti struktur kelenjar. Kelenjar-kelenjar
menjadi kista-kista baru, yang menyebabkan kista menjadi
multilokuler. Jika terjadi robekan atau ruptur pada dinding kista,
maka sel-sel epitel dapat tersebar pada permukaan peritoneum
rongga perut, dan dengan sifatnya yang menghasilkan sekresi
maka dapat menyebabkan pseudomiksoma peritonei.
Akibat pseudomiksoma peritonei ialah timbulnya penyakit
menahun dengan musin terus bertambah dan menyebabkan
banyak perlekatan. Akhirnya, penderita meninggal karena ileus.
Pada kista kadang-kadang dapat ditemukan daerah padat, dan
pertumbuhan papiler. Tempat-tempat tersebut perlu diteliti
dengan seksama oleh karena disitu dapat ditemukan tandatanda ganas. Keganasan ini, terdapat dalam kira-kira 5-10%
dari kistadenoma musinosum.
c.

Kistadenoma Ovarii Serosum


Pada umumnya para penulis berpendapat bahwa kista ini
berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal epithelium).
Pada umumnya kista jenis ini tidak mencapai ukuran yang amat
besar

dibandingkan

dengan

kistadenoma

musinosum.

Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi kista serosum pun


dapat berbentuk multilokuler, meskipun lazimnya berongga satu.
Warna kista putih keabu-abuan, ciri khas kista ini ialah potensi
pertumbuhan papiler ke dalam rongga kista sebesar 50%, dan
keluar pada permukaan kista sebesar 5%. Isi kista cair, kuning,
dan kadang-kadang coklat karena campuran darah. Tidak
jarang kistanya sendiri kecil, tetapi permukaannya penuh
dengan pertumbuhan papiler (solid papilloma)

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa tidak mungkin


membedakan gambaran makroskopis kistadenoma serosum
papiliferum yang ganas dari yang jinak, bahkan pemeriksaan
mikroskopis

pun

tidak

selalu

memberi

kepastian.

Pada

pemeriksaan mikroskopis terdapat dinding kista yang dilapisi


oleh epitel kubik atau epitel torak yang rendah, dengan
sitoplasma eosinofil dan inti sel yang besar dan gelap
warnanya. Karena tumor ini berasal dari epitel permukaan
ovarium (germinal epithelium), maka bentuk epitel pada papil
dapat beraneka ragam, tetapi sebagian besar epitelnya terdiri
atas epitel bulu getar, seperti epitel tuba. Pada jaringan papiler
dapat ditemukan pengendapan kalsium dalam stromanya yang
dinamakan

psamoma.

Adanya

psamoma

biasanya

menunjukkan bahwa kista adalah kistadenoma ovarii serosum


papiliferum, tetapi tidak berarti bahwa tumor itu ganas.
Perubahan kearah ganas apabila ditemukan pertumbuhan
papilifer, proliferasi dan stratifikasi epitel, serta anaplasia dan
mitosis pada sel-sel, kistadenoma serosum secara mikroskopis
digolongkan kedalam kelompok tumor ganas. Akan tetapi, garis
pemisah antara kistadenoma ovarii papiliferum yang jelas ganas
kadang-kadang sukar ditentukan. Oleh karena itu, tidaklah
mengherankan bahwa potensi keganasan yang dilaporkan
sangat berbeda-beda. Walaupun demikian, dapat dikatakan
bahwa

30%-35%

perubahan

dari

keganasan.

kistadenoma
Bila pada

serosum
suatu

mengalami

kasus terdapat

implantasi peritoneum disertai dengan asites, maka prognosis


penyakit itu kurang baik, meskipun diagnosis histopatologis
pertumbuhan itu mungkin jinak (histopatologically benign). Klinik
kasus tersebut menurut pengalaman harus dianggap sebagai
neoplasma ovarium yang ganas (clinically malignant).

d.

Kista endometrioid
Kista ini biasanya unilateral dengan permukaan licin, pada
dinding dalam terdapat satu lapisan sel-sel, yang menyerupai
lapisan epitel endometrium. Kista ini, yang ditemukan oleh
Sartesson dalam tahun 1969, tidak ada hubungannya dengan
endometriosis ovarii.

e.

Kista dermoid
Sebenarnya kista dermoid ialah suatu teratoma kistik yang
jinak dimana struktur-struktur ektodermal dengan diferensiasi
sempurna, seperti epitel kulit, rambut, gigi, dan produk glandula
sebasea berwarna putih kuning menyerupai lemak nampak
lebih menonjol daripada elemen-elemen dan mesoderm.
Tentang histogenesis kista dermoid, teori yang paling banyak
dianut ialah bahwa tumor berasal dari sel telur melalui proses
parthenogenesis. Tidak ada ciri-ciri yang khas pada kista
dermoid. Dinding kista terlihat putih keabuan, dan agak tipis.
Konsistensi tumor sebagian kenyal, dibagian lain padat, sekilas
terlihat seperti kista berongga satu, akan tetapi jika dibelah akan
tampak suatu kista besar dengan ruangan kecil-kecil di dalam
dindingnya. Pada umumnya terdapat satu daerah pada dinding
bagian dalam, yang menonjol dan padat. Kista dermoid terdiri
atas elemen ektodermal, mesodermal dan entodermal, maka
dapat

ditemukan

kulit,

rambut,

kelenjar

sebasea,

gigi

(ektodermal), tulang rawan, otot dan jaringan ikat (mesodermal),


mukosa traktus gastrointestinal, epitel saluran pernafasan, dan
jaringan tiroid (entodermal).
Bahan yang terdapat dalam rongga kista ialah produk dari
kelenjar sebasea

berupa

massa

lembek

seperti

lemak,

bercampur dengan rambut. Rambut ini terdapat beberapa serat,

tetapi

dapat

pula

merupakan

gelondongan

seperti

konde/kumparan. Pada kista dermoid dapat terjadi torsi tangkai


dengan gejala nyeri mendadak diperut bagian bawah. Ada
kemungkinan pula terjadinya sobekan dinding kista dengan
akibat pengeluaran isi kista kedalam rongga peritoneum.
Perubahan ke arah ganas agak jarang, kira-kira dalam 1,5 % dari
semua kista dermoid, dan biasanya terjadi pada wanita lewat menopause.
Yang tersering adalah karsinoma epidermoid yang tumbuh dari salah satu
elemen ektodermal. Ada kemungkinan pula bahwa satu elemen tumbuh
lebih cepat dan menyebabkan terjadinya tumor yang khas, termasuk disini
adalah :

Stroma ovarium
Tumor ini terutama terdiri atas jaringan tiroid, dan terkadang dapat
menyebabkan hipertiroid.

Kistadenoma ovarii musinosum dan kistadenoma ovarii serosum


Kista dapat dianggap sebagai adenoma yang berasal dari satu
elemen dari epithelium germinativum.

Koriokarsinoma
Tumor ganas ini jarang ditemukan dan untuk diagnosis harus
dibuktikan adanya hormon koriogonadotropin.

Diagnosis
a. Berdasarkan gambaran klinis
b. Pemeriksaan fisik
Pada palpasi teraba massa kistik, permukaan halus, mobile, pada
perut bagian bawah (biasanya di lateral tetapi bila besar sulit
dibedakan karena memenuhi seluruh abdomen), pada pemeriksaan
bimanual

serviks

tidak

ikut

bergerak

bila

massa

tersebut

digerakkan.
9

c. Pemeriksaan penunjang
-

Sondase
Pada kistoma ovarii sondase normal karena tidak ada
pembesaran uterus.

Ultrasonografi
Tampak gambaran uterus normal, namun tampak massa
pada adneksa, sering bersekat-sekat, atau multilokuler dan
pada kecurigaan keganasan dapat dijumpai gambaran
papiler dan neovaskularisasi.

BNO-IVP
Pada kistoma ovarii yang besar atau dengan perlekatan
dapat merubah topografi ureter.

Diagnosa Banding
1. Kista mesenterial
Merupakan neoplasma jinak yang bersifat kistik, yang terdapat
pada mesenterium.
2. Mioma uteri degenerasi kistik
Mioma uteri degenerasi kistik dapat meliputi daerah kecil maupun
luas, sebagian dari mioma manjadi cair, terbentuk ruanganruangan yang tidak teratur berisi cairan yang kental seperti agaragar, dapat terjadi pembengkakan luas dan bendungan limfe
sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak
ini tumor sukar dibedakan dari kista ovarium.
3. Tuba ovarial abses
-

Biasanya terjadi bersama dengan salpingitis

Besarnya dapat sampai 15-20 cm

Sering bilateral
10

Konsistensi bisa kistik atau padat

Dapat menyebabkan menometrorhargia, demam

Pada pemeriksaan lab terdapat leukositosis

Komplikasi
a. Torsi
-

Terjadi warna biru karena tekanan vena

Menimbulkan akut abdomen

b. Ruptur
-

Menimbulkan

perdarahan

intra

abdominal

(dari

arteri

Ovarica) sehingga menimbulkan akut abdomen.


-

Peritoneum dan rongga abdomen terisi cairan gelatinosa


(Pseudomiksoma Peritonei)

d. Infeksi
-

Panas, nyeri, leukositosis, peritonitis

Defans muscular

e. Keganasan
-

25 % regresi ganas sebagai Cystadenocarsinoma (terjadi


ascites)

Keganasan
Kistoma ovarii dicurigai ganas apabila :
a. Terdapat bagian yang padat
b. Permukaan berbenjol-benjol
c. Pertumbuhannya cepat
d. Perlekatan (sulit digerakkan)
e. Disertai ascites
f. Disertai penurunan berat badan (kakesia)

11

Penanganan
a. Kistektomi + potong beku (Frozen Section)
b. Ooforektomi unilateral + potong beku
c. Panhisterektomi + Omentektomi pada keganasan
Potong beku (frozen section) adalah pemeriksaan histopatologi hasil
operasi yang dilakukan durante operasi yang berfungsi untuk menentukan
ganas atau tidaknya sediaan tersebut sehingga dapat dipergunakan
sebagai pedoman untuk menentukan jenis tindakan atau operasi yang
dilakukan serta tindakan lanjut pesca operasi (radioterapi / kemoterapi).

12

TORSIO KISTA OVARIUM


Sebagian besar massa ovarium, baik jinak maupun ganas, terbentuk
dari kista. Insidensi kista ovarium di berbagai tempat sedikit bervariasi
tergantung pada faktor demografi penduduk, yaitu sekitar 5-15 persen.
(Hoffman, 2008)
Secara histologi, kista di ovarium terbagi atas dua bagian besar yaitu;
(1) kista neoplasma ovarium yang berasal dari pertumbuhan neoplastik,
dan (2)

kista ovarium fungsional yang diakibatkan oleh gangguan

proses ovulasi normal. Pembedaan kedua jenis kista ini, baik dengan
pencitraan maupun penanda tumor, pada umumnya tidak begitu penting
secara klinis. Kedua jenis kista ovarium tersebut seringkali ditangani
sebagai satu kesatuan klinis. (Hoffman, 2008)
Pada kasus torsio, umumnya ovarium dan tuba falopii berputar
mengelilingi ligamen latum sebagai sebuah unit tunggal. Namun
terkadang, hanya ovarium yang berputar mengeliling mesovarium ataupun
tuba falopii mengeliling mesosalfing. Torsio bisa terjadi pada jaringan
adneksa normal, namun dalam 50-80% kasus ditemukan massa ovarium
unilateral. (Hoffman, 2008)
Insiden torsio adneksa paling sering terjadi pada usia reproduksi.
Hibbard et al (1985) menemukan bahwa 70% kasus torsio terjadi pada
wanita usia 20-39 tahun. Sebagian kasus torsio juga terjadi pada masa
kehamilan dan kasus ini merupakan 20-25% dari seluruh kasus torsio.
(Hoffman, 2008)
I. MANIFESTASI KLINIS
A. Anamnesa

13

Pada umumnya, wanita yang mengalami torsio kista ovarium akan


datang dengan keluhan utama nyeri akut abdomen. Oleh karena itu,
keterangan-keterangan mengenai karakteristik nyeri (lokasi, onset,
migrasi,

radiasi,

kualitas,

tingkat

keparahan,

serta

faktor

yang

memperberat atau memperingan nyeri) harus dapat digali melalui proses


anamnesa. (Close & Tintinalli, 2004)
Pasien torsio kista ovarium biasanya merasakan nyeri yang tajam di
daerah abdomen bagian bawah. Nyeri tersebut terlokalisir pada lokasi
ovarium yang mengalami gangguan dan terkadang dapat menjalar ke
daerah pinggang dan paha (nyeri referal/referred pain) (Hoffman, 2008).
Hal ini disebabkan karena serabut saraf viseral dari ovarium memasuki
tulang belakang di tingkatan yang sama dengan serabut saraf somatik
yang mempersarafi daerah pinggang dan paha, yaitu setingkat T9-T10.
(Close & Tintinalli, 2004; Rapkin & Howe, 2007)
Onset nyeri terjadi mendadak dan mengalami perburukan secara
intermitten dalam beberapa jam (Hoffman, 2008). Onset nyeri biasanya
muncul pada saat pasien mengangkat beban berat, melakukan latihan
fisik, maupun ketika berhubungan intim (Rapkin & Howe, 2007). Nyeri
yang ditimbulkan cukup berat sehingga terkadang digambarkan sebagai
nyeri yang dapat membangunkan pasien dari tidurnya. Nyeri dengan
tingkat keparahan seperti ini biasanya berhubungan dengan kasus torsio
yang telah mengalami iskemia. (Close & Tintinalli, 2004; Hoffman, 2008)
Suatu torsio yang menyebabkan obstruksi tuba falopii juga dapat
menghasilkan nyeri kolik. Nyeri kolik pada dasarnya adalah suatu nyeri
viseral dan berhubungan dengan peregangan organ berongga (hollow
organ) dalam rongga abdomen. Nyeri kolik ini menghadirkan suatu
gambaran awitan nyeri yang timbul secara bergelombang. (Close &
Tintinalli, 2004)

14

Selain nyeri, keluhan penyerta yang sering didapatkan pada pasien


torsio kista ovarium adalah gejala-gejala refleks autonom seperti mual dan
muntah (Rapkin & Howe, 2007). Di samping itu, kadang terdapat keluhan
demam yang tidak begitu tinggi yang menandakan sudah terjadinya
proses nekrosis. (Hoffman, 2008)
Diagnosa banding kasus torsio ovarium dengan keluhan utama nyeri
akut abdomen dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Diagnosa Banding Keluhan Utama Nyeri Akut Abdomen

(Sumber: Close & Tintinalli, 2004)


B. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik kasus torsio, dari status generalis dapat
ditemukan tanda-tanda demam jika sudah terjadi proses nekrosis
(Hoffman, 2008). Selain itu, bila nyeri yang ditimbulkan sangat hebat,
dapat timbul syok neurogenik yang bisa terlihat dari perubahan tandatanda vital, seperti takikardia dan hipotensi.

15

Pada pemeriksaan status lokalis, dari pemeriksaan abdomen akan


ditemukan abdomen terasa sangat lembut, khususnya di daerah kista
ovarium. Tanda paling penting adalah ditemukannya massa intra
abdomen. Namun, pemeriksaan di daerah ini harus dilakukan dengan
lembut dan hati-hati agar kenyamanan pasien dapat terjaga. Jika kista
ovarium telah menyebabkan peradangan peritonuem, terkadang bisa
ditemukan tanda-tanda rangsang peritoneal, seperti nyeri tekan dan nyeri
lepas. (Close & Tintinalli, 2004; Rapkin & Howe, 2007)
Pada pemeriksaan ginekologis, dari pemeriksaan panggul biasanya
akan dapat ditemukan adanya massa dan rasa nyeri di daerah ovarium
yang mengalami torsio. Namun demikian, menurut beberapa hasil
penelitian, pemeriksaan panggul pada pasien dengan keluhan nyeri akut
abdomen memiliki tingkat spesifisitas dan sensitifitas yang rendah. Oleh
karena itu, masih dibutuhkan beberapa pemeriksaan penunjang lainnya
agar diagnosa torsio kista ovarium dapat ditegakkan. (Close & Tintinalli,
2004)
C. Pemeriksaan Penunjang
Keluhan nyeri yang dialami oleh pasien pada kasus torsio kista
ovarium, khususnya pada kasus yang telah mengalami iskemia, memiliki
persamaan dengan keluhan yang terjadi pada kasus-kasus kehamilan
ektopik. Oleh karena itu, pada pasien yang datang dengan keluhan
tersebut dianjurkan untuk dilakukan tes kehamilan agar dugaan kehamilan
ektopik dapat disingkirkan. (Close & Tintinalli, 2004)
Pemeriksaan ultrasonografi juga memiliki peranan penting dalam
evaluasi pasien dengan persangkaan torsio. Namun demikian, tanda yang
ditemukan

pada

pemeriksaan

sonografi

dapat

sangat

bervariasi

tergantung pada derajat gangguan vaskuler, karakterisitik massa, serta


ada atau tidaknya perdarahan adneksa. Pada pemeriksaan sonografi,
suatu kasus torsio dapat menyerupai gambaran kehamilan ektopik, abses

16

tubo-ovarium, kista ovarium hemoragik, dan endometrioma. Menurut


kepustakaan, tingkat keakuratan dignosa dengan pemeriksaan sonografi
sekitar 50-75 persen. (Hoffman, 2008)
Beberapa

gambaran spesifik kasus torsio ovarium yang dapat

ditemukan pada pemeriksaan adalah ditemukannya gambaran folikel


multipel mengelilingi sebuah ovarium yang mengalami pembesaran
memiliki tingkat keakuratan diagnosa sampai 64 persen. Tanda ini
menggambarkan proses kongesti dan edema yang terjadi di ovarium.
Pedikulum yang terpelintir kemungkinan juga akan memberikan gambaran
yang dikenal dengan sebutan bulls-eye target, whirlpool, maupun snail
shell. Gambaran tersebut berupa sebuah struktur bulat hiperekhoik
dengan cincin hipoekhoik multipel yang tersusun secara konsentrik ke
bagian dalam. (Hoffman, 2008)
Selain itu, pemeriksaan Transvaginal Color Doppler Sonography (TVCDS) bisa menambahkan informasi penting dalam evaluasi klinis kasus
torsio. Umumnya, melalui pemeriksaan ini akan dapat ditemukan
gangguan pada aliran darah normal adneksa. Pada sebagian besar kasus
tidak ditemukan gambaran aliran darah vena intraovarium. Seiring dengan
perjalanan kasus torsio, maka aliran darah arteri selanjutnya juga akan
mengalami

penurunan.

Namun

demikian,

meski

memiliki

angka

keakuratan yang tinggi bagi sebagian besar kasus, kasus torsio adneksa
inkomplit atau intermitten dapat memberikan gambaran masih adanya
aliran vena maupun arteri. Oleh karena itu, torsio tidak dapat disingkirkan
bila hanya berdasarkan gambaran normal dari pemeriksaan Doppler.
(Hoffman, 2008)
Pemeriksaan CT-Scan atau MRI kemungkinan juga dapat membantu
untuk kasus-kasus torsio inkomplit dan kronik serta pada kasus-kasus
yang memiliki presentasi klinis yang ambigu. (Close & Tintinalli, 2004)
II. MANAJEMEN

17

Tujuan tindakan manajemen pada kasus torsio adalah untuk


menyelamatkan jaringan adneksa, reseksi terhadap jaringan kista, dan
kemungkinan ooporeksi. Namun demikian, pada penemuan keadaan
nekrosis adneksa maupun perdarahan, harus dilakukan pengangkatan
struktur yang mengalami torsio. (Hoffman, 2008)
Torsio dapat dievaluasi dengan teknik laparoskopi maupun laparotomi.
Pada awalnya, saat dilakukan tindakan bedah eksplorasi, biasanya
dilakukan adneksektomi guna menghindari terjadinya trombus ketika
dilakukan detorsi dan emboli. Bukti ilmiah ternyata tidak mendukung
tindakan ini. Kepustakaan menyatakan bahwa pada hampir 1000 kasus
torsio hanya terdapat 0,2% kasus emboli paru. Sebagai catatan, kasus
emboli paru tersebut berhubungan dengan tindakan eksisi adneksa dan
bukan dengan tindakan pelepasan pelintiran secara konservatif. Pada
sebuah studi dengan 94 orang subjek penelitian, Zweizig et al (1993)
melaporkan bahwa tidak terdapat peningkatan morbiditas pada pasien
yang dilakukan tindakan pelepasan pelintiran adneksa jika dibandingkan
dengan pasien yang dilakukan adneksektomi. (Hoffman, 2008)

Gambar 3. Torsio adneksa


(Sumber; Rapkin & Howe, 2007)

18

Dengan

alasan

ini,

maka

tindakan

detorsi

pada

umumnya

direkomendasikan. Dalam beberapa menit setelah tindakan detorsi,


biasanya kongesti menjadi berkurang, begitu juga dengan sianosis dan
volume ovarium. Pada beberapa kasus, tidak adanya tanda-tanda ini
merupakan patokan untuk dilakukannya pengangkatan adneksa. Ovarium
yang

berwarna

hitam

kebiruan

menetap

bukanlah

suatu

tanda

patognomonik nekrosis sehingga masih ada kemungkinan ovarium untuk


kembali berfungsi. Cohen et al (1999) melakukan tinjauan ulang terhadap
54 kasus dimana adneksa tetap dipertahankan tanpa memperhatikan
keadaannya pada saat dilakukan detorsi.

Mereka melaporkan bahwa

integritas fungsional dan kehamilan berikutnya dapat terjadi pada 95


kasus. Bidar et al (1991) melaporkan bahwa tidak terdapat peningkatan
kejadian infeksi post-operatif pada tindakan yang sama. Namun demikian,
karena nekrosis masih memiliki kemungkinan untuk terjadi, maka setelah
tindakan masih diperlukan pengawasan terhadap demam, leukositosis,
dan tanda-tanda peritoneal. (Hoffman, 2008)
Lesi ovarium yang spesifik seharusnya dilakukan eksisi. Namun
demikian, tindakan sistektomi pada sebuah ovarium yang telah mengalami
iskemik dan edematous kemungkinan merupakan suatu tindakan yang
sulit. Oleh karena itu, beberapa penulis menyarankan untuk melakukan
penundaan sistektomi hingga 6-8 minggu setelah tindakan penanganan
pertama. (Hoffman, 2008)
Setelah detorsi, belum terdapat konsensus mengenai manajemen
lanjutan adneksa. Setelah perkembangan tindakan konservatif, resiko
terjadinya torsio berulang mengalami peningkatan. Ooporopeksi unilateral
maupun bilateral telah dinyatakan mampu meminimalisir resiko terjadinya
torsio ipslateral dan kontralateral yang berulang. (Hoffman, 2008)
Penanganan torsio pada kehamilan tidak berbeda dengan diluar
kehamilan. Jika korpus luteum diangkat sebelum usia kehamilan 10

19

minggu, maka direkomendasikan untuk diberikan 17-hidroksiprogesteron


kaproat

dengan

dosis

150

mg

secara

intramuskular

guna

mempertahankan kehamilan. Jika terjadi antara 8-10 minggu, maka hanya


dibutuhkan satu kali dosis pemberian segera setelah operasi. Namun jika
korpus luteum dieksisi antara 6-8 minggu, maka dibutuhkan tambahan 2
dosis yang harus diberikan pada 1 dan 2 minggu setelah dosis pertama
diberikan. (Hoffman, 2008)

20

KISTA PECAH
DEFINISI
Kista pecah termasuk dalam salah satu komplikasi dari kista
ovarium, yakni terjadinya peristiwa pecahnya kantung kista yang berisi
cairan atau darah.

Gambar 4 salah satu kista ovarium (kiri) dan gambaran normal


(kanan)
MANIFESTASI KLINIS
(A). Anamnesa
1. Nyeri abdomen dapat timbul mendadak ataupun berkembang
perlahan-lahan, tergantung pada jenis kelainan, perdarahan
bertahap atau perdarahan akut, ruptur meendadak Nyeri dapat
terlokalisir pada salah satu kuadran atau menyeluruh pada
abdomen bagian bawah. Rasa iritasi peritoneum dengan cairan
21

atau darah, rasa nyeri cenderung konstan dan diperhebat oleh


pergerakkan. Nyeri yang berkaitan dengan rupturnya kista folikel
biasanya membaik dalam beberapa jam.
2. Mual dan muntah dapat terjadi segera atau beberapa jam setelah
timbulnya nyeri mendadak.
3. Riwayat menstruasi. Pada umumnya tumor ovarium tidak
mengubah pola haid, kecuali jika tumor itu sendiri mengeluarkan
hormon. Kelainan dapat terjadi pada wanita hamil maupun tidak
hamil. Perdarahan dari korpus luteum yang ruptur terjadi kapan
saja setelah ovulasi, termasuk pada awal kehamilan. Kemungkinan
ruptur

endometrioma

harus

dipertimbangkan

bila

pasien

mempunyai riwayat dismenorhea sekunder yang terjadi selama


siklus menstruai sebelumnya.
4. Gejala akibat pertumbuhan tumor. Dapat terjadi gangguan miksi
pada tumor yang tidak seberapa besar tetapi yang terletak didepan
uterus dan menekan kandung kencing. Selain gangguan miksi,
tekanan tumor dapat mengakibatkan obstipasi dan edema pada
tungkai. Pada tumor yang besar dapat terjadi tidak nafsu makan,
rasa sesak dan lain-lain.
5. Gejala lainya berupa sinkope atau syok atau kedua-duanya yang
memberi kesan perdarahan intraperitoneum yang hebat ataupun
suatu torsi akut. Sering miksi dan defekasi menunjukkan iritasi
peritoneum. Nyeri pundak memberi kesan iritasi diafragma dari
perdarahan yang hebat atau isi kista yang ruptur.
Perdarahan ke dalam kista
Biasanya

terjadi

sedikit-sedikit,

sehingga

berangsur-angsur

menyebabkan pembesaran kista, dan hanya menimbulkan gejala


klinis yang minimal. Jika perdarahannya banyak, akan terjadi
distensi cepat dari kista yang menimbulkan nyeri perut mendadak.
Robekan dinding kista

22

Terjadi akibat trauma seperti jatuh, atau pukulan pada perut, dan
lebih sering pada persetubuhan. Jika kista mengandung cairan
serus, rasa nyeri akibat robekan dan iritasi peritoneum segera
mengurang. Tetapi apabila disertai oleh perdarahan hemorhagi
yang timbul akut, maka perdarahan dalam rongga peritoneum
menimbulkan

rasa nyeri

terus-menerus disertai

tanda-tanda

abdomen akut. Robekan kistadenoma musinosum perlengketan


dalam rongga perut.
(B). Pemeriksaan Fisik
1. Tanda Vital
Suhu biasanya normal atau sedikit meningkat, denyut nadi
biasanya cepat, tekanan darah dan pernafasan dalam batas
normal, kecuali apabila terdapat perdarahan intraperitoneum yang
hebat sehingga menyebabkan gejala-gejala syok hipovolemik.
2. Pemeriksaan abdomen
Nyeri tekan unilateral pada kuadran bagian bawah dengan atau
tanpa nyeri lepas, rigiditas dan pergeseran memberi kesan adanya
proses terlokalisasi. Bising usus biasanya normal. Perdarahan yang
lebih ekstensif atau rupturnya isi kista menyebabkan peritonitis
abdominalis bagian bawah yang biasanya diserta oleh rigiditas,
nyeri lepas, bising usus menurun atau negatif, dan distensi
abdomen. Jarang teraba massa lunak pada palpasi abdomen.
3. Pemeriksaan pelvis
Ukuran uterus biasanya normal kecuali bila pasien hamil. Apabila
serviks digerakkan terdapat rasa nyeri. Daerah adneksa yang
terkena cenderung menjadi sangat lunak, dan pada perdarahan
intraperitoneum suatu massa diskret tidak dapat diidentifikasi.
Apabila

ditemukan

suatu

massa

atau

tumor,

diteliti

sifat-

sifatnya( besarnya, lokalisasi, permukaaan, konsistensi, dan


apakah dapat digerakkan atau tidak). Sering pasien mengalami
nyeri tekan yang sangat hebat sehingga pemeriksaan bimanual

23

yang adekuat tidak mungkin dilakukan kecuali pasien sudah


diberikan analgesia sistemik atau bahkan anestesia. Penonjolan
dalam kavum Douglasi memberi kesan perdarahan intraperitoneum
yang ekstensif.

Pemeriksaan Penunjang
1. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor,
apakah tumor berasal dari uterus, ovarium atau kandung kencing,
apakah tumor solid atau kistik, dapat dibedakan pula antara cairan
dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak.
2. Foto Roentgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks.
Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat
adanya gigi dalam tumor. Foto abdomen tegak, terlentang, atau
dekubitus lateral dapat menunjukkan adanya cairan bebas
intraperitoneum.
3. Parasintesis
Pungsi pada ascites berguna untuk menentukan sebab ascites.
Perlu diingat bahwa tindakan tersebut mencemarkan kavum
peritonei dengan isi kista bila dinding kista tertusuk (bila kista belum
pecah).
MANAJEMEN TINGKAT RUJUKAN
Perhatikan tanda tanda vital. Sirkulasi, pernafasan, suhu. Cegah
pasien jangan sampai jatuh dalam keadaan syok. Waspada bila pasien
tampak pucat, dingin, nafas sesak atau perut kem bung.
1. Bebaskan Jalan Nafas, dengan tujuan untuk menjaga agar tidak
terjadi hipoksia.

24

2. Pantau pernafasan. Bila pasien sesak berikan O2 4-8 liter


3. Periksa sirkulasi. Apakah nadi cepat, lemah dan tidak teratur ?
Apakah tensi rendah ? jika iya maka segera pasang Infus untuk
mengembalikan volume sirkulasi. Jika pasien nampak kondisinya
agak berat cairan koloid lebih dipilih dibandingkan kristaloid.
4. Berikan obat obatan simptomatik. Jika pasien nyeri berikan
analgetik, bila kembung bisa diberikan ranitidin dan bila mual
muntah dapat diberikan metoclopramide atau domperidone.
5. Siapkan alur transportasi rujukan. Dampingi dengan petugas. Bila
perjalanan jauh maka siapkan peralatan untuk intubasi dan obat
obat emergensi. Pantau secara berkala airway, breathing, sirkulasi.
6. Sebelum berangkat hubungi pusat rujukan terlebih dahulu agar
dapat mempersiapkan peralatan, petugas dan obat obatan.

DAFTAR PUSTAKA
Close, R & Tintinalli, JE. 2004. Acute Abdominal Pain in Women of
Childbearing Age. In: Pearlman, MD et al (Editors). Obstetric &
Gynecologic Emergencies: Diagnosis and Management. 1st Edition.
Section VII. Chapter 28. New York: The McGraw-Hill Companies.

25

Hoffman, BL. 2008. Pelvic Mass. In: Schorge, JO et al (Editors). Williams


Gynecology. Section 1. Chapter 9. New York: The McGraw-Hill
Companies.
Rapkin, AJ & Howe, CN. 2007. Pelvic Pain and Dysmenorrhea. In: Berek,
JS et al (Editors). Berek & Novaks Gynecology. 14th Edition. Section
IV. Chapter 15. Massachusetts: Lippincott Williams & Wilkins.

26