Vous êtes sur la page 1sur 11

TOKOH FILOSOF MUSLIM

( AL-RAZI )

CATATAN/BIOGRAFI TOKOH MUSLIM


Disusun dan Diajukan Guna Memenuhi Tugas Perkuliahan
Mata Kuliah : Filsafat Islam
Dosen Pengampu : Dr. Hj. Nita Triana, M.Si.
Program Studi : Manajemen Pendidikan Islam / MPI B

Disusun Oleh :
Oky Ahmad Wahab
NIM. 1617651019

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM


PASCASARJANA
ISNTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO
2016

TOKOH FILOSOF MUSLIM


( AL-RAZI )
Nama aslinya ialah Abu Bakar Muhammad bin
Zakaria Al-Razi (Persia: ) atau dikenali
sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah
seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun
864 - 930. Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251
H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Al-Razi
sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia,
matematika dan kesastraan. Dalam bidang
kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di
Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya
untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy.
Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit
Muqtadari di Baghdad.1
Al-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serbabisa dan dianggap sebagai salah
satu ilmuwan terbesar dalam Islam.
Suku bangsa: Ilmuwan Persia (atau sekarang Iran)
Bidang Keilmuan : Kimia, Kedokteran, Biologi, Sains
Gagasan penting : Menemukan Alkohol, menciptakan asam sulfur, membuat
catatan tentang penyakit cacar, memelopori bedah saraf dan
bedah mata
A. Biografi
Al-Razi lahir pada tanggal 28 Agustus 865 Masehi dan meninggal pada
tanggal 9 Oktober 925 Masehi. Nama Razi-nya berasal dari nama kota
Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi
Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran.2 Di kota ini juga, Ibnu Sina
menyelesaikan hampir seluruh karyanya. Perlu diketahui bahwasanya
tempat yang tinggal Al-Razi yakni Iran yang sebelumnya terkenal dengan
sebutan Persia, merupakan tempat dimana terjadinya pertemuan berbagai
kebudayaan terutama kebudayaan Yunani dan Persia. Dengan suasana
seperti lingkungan seperti ini mendorong bakat Al-Razi tampil sebagai
seorang intelektual.3
Ada beberapa nama tokoh lain yang juga dipanggil Al-Razi, yakni Abu
Hatim Al-Razi dan Najmun Al-Razi. Oleh karena itu, untuk membedakan AlRazi dengan yang lainnya, perlu ditambahkan dengan sebutan Abu Bakar,
yang merupakan nama kun-yah-nya (gelarnya).
Beliau pernah menjadi tukang intan pada mudanya, penukar uang, dan
pemain kecapi. Lalu beliau memusatkan perhatiannya pada ilmu kimia
1 https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Zakariya_ar-Razi, dikutip pada hari
Senin 19 September 2016 Pukul 12.18 WIB
2 Sirajuddin Zar, FilsafatIslam, (jakarta: PT Raja Grapindo Persada, 2012), halaman
113
3 https://menantikau.wordpress.com/kumpulan-makalah/metodologi-studiislam/tokoh-tokoh-filsafat-islam-dan-pemikirannya/, dikutip pada hari Senin 19
September 2016 Pukul 12.25 WIB
1

dan meninggalkannya akibat eksperimen-eksperimen yang dilakukannya


yang menyebabkan mata terserang penyakit. Setelah itu, beliau
mendalami ilmu kedokteran dan filsafat yang ada pada masa itu.
Konon ceritanya, ayah Al-Razi berharap agar putranya menjadi seorang
pedagang besar, maka dari itu ayahnya membekali Al-Razi ilmu-ilmu
perdagangan. Akan tetapi, Al-Razi lebih memilih kepada bidang intelektual
ketimbang dengan perdagangan karena menurutnya bidang intelektual
merupakan perkara yang lebih besar ketimbang urusan dengan materi
belaka. Pada umurnya yang ke-30, Al-Razi memutuskan untuk berhenti
menekuni bidang alkemi dikarenakan berbagai eksperimen yang
menyebabkan matanya menjadi cacat. Kemudian dia mencari dokter yang
bisa menyembuhkan matanya, dan dari sinilah Al-Razi mulai mempelajari
ilmu kedokteran.
Dia belajar ilmu kedokteran dari Ali ibnu Sahal at-Tabari, seorang dokter
dan filsuf yang lahir di Merv. Dahulu, gurunya merupakan seorang Yahudi
yang kemudian berpindah agama menjadi Islam setelah mengambil
sumpah untuk menjadi pegawai kerajaan dibawah kekuasaan khalifah
Abbasiyah, Al-Mu'tashim.
Razi kembali ke kampung halamannya dan terkenal sebagai seorang
dokter disana. Kemudian dia menjadi kepala Rumah Sakit di Rayy pada
masa kekuasaan Mansur ibnu Ishaq, penguasa Samania. Al-Razi juga
menulis at-Tibb Al-Mansur yang khusus dipersembahkan untuk Mansur
ibnu Ishaq. Beberapa tahun kemudian, Al-Razi pindah ke Baghdad pada
masa kekuasaan Al-Muktafi dan menjadi kepala sebuah rumah sakit di
Baghdad.
Setelah kematian Khalifan Al-Muktafi pada tahun 907 Masehi, Al-Razi
memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya di Rayy, dimana dia
mengumpulkan murid-muridnya. Oleh karena itu, dalam buku Ibnu Nadim
yang berjudul Fihrist, Al-Razi diberikan gelar Syaikh karena dia memiliki
banyak murid. Selain itu, Al-Razi dikenal sebagai dokter yang baik dan
tidak membebani biaya pada pasiennya saat berobat kepadanya.
Karena ketekunannya dalam bidang kedoteran dan filsafat, Al-Razi
menjadi terkenal sebagai dokter yang dermawan, penyayang kepada
pasien-pasiennya, oleh karena tiu dia sering memberi pengobata cumaCuma kepada orang miskin. Dan karena reputasinya dalam kedokteran,
dia pernah mejabat sebagai kepala rumah sakit Rayy pada masa
pemerintahan Gubernur Al-Mansur ibnu Ishaq. Kemudian dia berpindak ke
Baghdad dan memimpin rumah sakit di sana pada masa pemerintahan
Khlifah Al-Muktafi. Setelah Al-Muktafi meninggal, ia kembali ke kota
kelahirannya, kemudian ia berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri
lainnya dan meninggal dunia pada tanggal 5 Syaban 313 H/ 27 Oktober
925 dalam usia 60 tahun.
B. Kontribusi
1. Bidang Kedokteran
a. Cacar dan campak
Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, Al-Razi
merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar
penyakit cacar:
"Cacar terjadi ketika darah 'mendidih' dan terinfeksi, dimana
kemudian hal ini akan mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian
darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak basah di kulit) berubah
menjadi darah yang makin banyak dan warnanya seperti anggur
yang matang. Pada tahap ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk
2

gelembung pada minuman anggur. Penyakit ini dapat terjadi tidak


hanya pada masa kanak-kanak, tapi juga masa dewasa. Cara terbaik
untuk menghindari penyakit ini adalah mencegah kontak dengan
penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa menjadi
epidemi."
Diagnosa ini kemudian dipuji oleh Ensiklopedia Britanika (1911)
yang menulis: "Pernyataan pertama yang paling akurat dan
tepercaya tentang adanya wabah ditemukan pada karya dokter
Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes, dimana dia menjelaskan
gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan
perumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah
tersebut."
Buku Al-Razi yaitu Al-Judari wAl-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah
buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai
dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan
kali ke dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang
tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam
pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir Al-Razi dalam buku
ini.
Berikut ini adalah penjelasan lanjutan Al-Razi: "Kemunculan cacar
ditandai oleh demam yang berkelanjutan, rasa sakit pada punggung,
gatal pada hidung dan mimpi yang buruk ketika tidur. Penyakit
menjadi semakin parah ketika semua gejala tersebut bergabung dan
gatal terasa di semua bagian tubuh. Bintik-bintik di muka mulai
bermunculan dan terjadi perubahan warna merah pada muka dan
kantung mata. Salah satu gejala lainnya adalah perasaan berat pada
seluruh tubuh dan sakit pada tenggorokan."
b. Alergi dan demam
Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit
"alergi asma", dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi
dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan
timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada
musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang
menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi
diri.
2. Farmasi
Pada bidang farmasi, Al-Razi juga berkontribusi membuat peralatan
seperti tabung, spatula dan mortar. Al-Razi juga mengembangkan obatobatan yang berasal dari merkuri.
3. Etika kedokteran
Al-Razi juga mengemukakan pendapatnya dalam bidang etika
kedokteran. Salah satunya adalah ketika dia mengritik dokter jalanan
palsu dan tukang obat yang berkeliling di kota dan desa untuk menjual
ramuan. Pada saat yang sama dia juga menyatakan bahwa dokter tidak
mungkin mengetahui jawaban atas segala penyakit dan tidak mungkin
bisa menyembuhkan semua penyakit, yang secara manusiawi
sangatlah tidak mungkin. Tapi untuk meningkatkan mutu seorang
dokter, Al-Razi menyarankan para dokter untuk tetap belajar dan terus
mencari informasi baru. Dia juga membuat perbedaan antara penyakit
yang bisa disembuhkan dan yang tidak bisa disembuhkan. Al-Razi
kemudian menyatakan bahwa seorang dokter tidak bisa disalahkan
karena tidak bisa menyembuhkan penyakit kanker dan kusta yang
sangat berat. Sebagai tambahan, Al-Razi menyatakan bahwa dia
3

merasa kasihan pada dokter yang bekerja di kerajaan, karena biasanya


anggota kerajaan suka tidak mematuhi perintah sang dokter.
Al-Razi juga mengatakan bahwa tujuan menjadi dokter adalah untuk
berbuat baik, bahkan sekalipun kepada musuh dan juga bermanfaat
untuk masyarakat sekitar.
C. Buku-buku Al-Razi pada bidang kedokteran
Mengenai karyanya, tentu berkaitan dengan siapa dia belajar, dan siapa
yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepadanya. Menurut Al-Nadim,
beliau belajar filsafat kepada Al-Bakhli yang menguasai filsafat dan ilmuilmu kuno. Ia sangat rajin dalam menulis dan membaca, mungkin inilah
yang menyebabkan penglihatannya secara berangsur-angsur melemah
dan akhirnya buta total. Ia menolak akan untuk di obati dengan
mengatakan bahwa pengobatan untuknya itu sia-sia karena tak sebentar
lagi dia akan meninggal.4 Berikut ini adalah karya Al-Razi pada bidang
kedokteran yang dituliskan dalam buku:
1.
2.
3.
4.

Hidup yang Luhur (Arab: ).


Petunjuk kedokteran untuk masyarakat umum (Arab:)
Keraguan pada Galen
Penyakit pada anak

Tak heran jika karya-karyanya sangat banyak sekali bahkan dia


menuliskan pada salah satu kitabnya, bahwasanya dia menulis tidak
kurang dari 200 karya tulis dalam berbagai ilmu pengetahuan. Karyakaryanya yang meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ilmu Falak,
Matematika,
Bidang kimia, yang terkenal dengan Kitab As-rar
Bidang kedoteran, yang terkenal dengan Al-mansuri Liber Al-Almansoris
Bidang Medis, yang terkenal dengan kitab Al-Hawi,
Mengenai penyakit cacar dan pencegahannya, yakni Kitab Al-Judar wa
Al-Hasbah

Sebagian dari karyanya telah dikumpulkan menjadi satu kitab yang


bernama Al-Rasail Falsafiyyat dan buku-buku yang lainnya seperti Thib AlRuhani, Al-Sirah Al-Falsafah dan lain sebagainya. Dia terkenal sebagai ahli
kimia dan ahli kedokteran dibanding dengan sebagai filosof.
D. Corak Filsafat Al-Razi.
Al-Razi adalah seorang rasionalis murni. Ia mempercayai akal di bidang
kedokteran, studi klinis yang dilakukan telah menemukan metode yang
kuat dengan berpijak kepada observasi dan eksprimen, sebagaimana yang
terdapat dalam kitab Al-Faraj bad Al-Syaiddah karya Al-Tanukhi (Wafat
384H). jadi corak pemikiran Al-Razi adalah rasional elektis artinya ia selalu
mencari kebenaran dengan pangkal tolak kekuatan akal dan elektis
artinya selektif. Akal termasuk untuk mengetahui adanya Tuhan.
Pemikiran Al-Razi tentang otoritas akal ini dapat kita lihat pada
pernyataan-pernyataanya antara lain, Tuhan yang maha agung telah
mengaruniakan akal pada kita agar kita bisa memperoleh manfaat baik di
dunia maupun di akhirat. Dengan akal kita dapat menciptakan dan
menggunakan perahu (kapal) yang mengarungi lautan nan luas,
menemukan teori-teori kedokteran yang sangat bermanfaat bagi
kehidupan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Menemukan hal-hal
4 Sirajuddin Zar, FilsafatIslam, (jakarta: PT Raja Grapindo Persada, 2012), halaman
116
4

yang tersembunyi walaupun jauh sekalipun mengetahui gugus planet dan


antariksa serta gerak dan rotasinya. Sampai akhirnya mengetahui dan
meyakini sang adikodrati. Jika akal sedemikian mulia dan penting kita
tidak boleh meremehkannya dan menurunkan derajatnya. Kita tidak boleh
menentukan karena ia adalah penentu atau mengendalikannya karena ia
pengendali, atau memerintah karena ia adalah pemerintah.
Tuhan memberi kepada manusia akal sebagai anugrah terbesar. Dengan
akal kita mengetahui segala apa yang bermanfaat bagi kita dan dapat
memperbaiki hidup kita. Berkat akal itu, kita mengetahui hal yang
tersembunyi dan apa yang akan terjadi,. Dengan akal kita mengenal
Tuhan, ilmu tertinggi bagi manusia. Akal itu menghakimi segala-galanya
dan tidak boleh dihakimi oleh sesuatu yang lain, kelakuan kita harus
ditentukan oleh akal semata.
Oleh karena itu Al-Razi sangat mengandalkan akalnya, ia tetap bertuhan
tetapi dia tidak mengakui adanya wahyu dan kenabian. Dengan dasar
pemikiran atau alasan berikut:5
1. Bahwa akal sudah memadai untuk membedakan antara yang baik dan
yang buruk, yang benar dan yang jahat yang berguna dan yang tak
berguna. Melalui akal manusia dapat mengetahui Tuhan dan mengatur
kehidupan kita sebaik-baiknya.kemudian mengapa masih dibutuhkan
nabi.
2. Setiap manusia dilahirkan dengan kecerdasan yang sama, maka tak
ada keistimewaan khusus buat seseorang untuk membimbing manusia,
baik keistimewaan rasional maupun keistimewaan spiritual. Rendah
dan tingginya suatu intelegensi manusia bukan karena pembawaan
alamiah, melainkan karena pengembangan dan pendidikannya.
3. Para nabi saling bertentangan, apabila mereka berbicara atas nama
Tuhan mengapa implementasi mereka terhadap pertentangan. Setelah
menolak kenabian Al-Razi mengkritik agama secara umum. Ia
menjelaskan kontradiksi kaum Yahudi Kristen ataupun Majusi.
Al-Razi menolak mujizat Al-Quran baik karena gayanya maupun isinya dan
menegaskan adanya kemungkinan kitab-kitab yang lebih baik dan gaya
yang lebih baik, disamping itu dia mengatakan bahwa mukjizat kenabian
adalah mitos keagamaan atau rayuan dan keahlian yang dimaksudkan
untuk menipu dan menyesatkan. Ajaran agama saling kontradiksi karena
satu sama lain saling menghancurkan, dan tidak sesuai dengan statemen
yang mengatakan bahwa ada realitas permanent. Setiap Nabi
membatalkan risalah pendahulunya tetapi menyerukan apa bahwa apa
dibawahnya adalah kebenaran bahkan tidak ada kebenaran lain dan
menusia bingung tentang pimpinan dan yang dipimpin, panutan dan yang
dianut. Al-Razi lebih suka terhadap buku-buku ilmiah dari pada kitab suci,
sebab buku-buku ilmiah lebih berguna bagi kehidupan manusia daripada
kitab suci. Buku kedokteran, astronomi, geometri, logika lebih berguna
daripada injil dan Alquran. Penulis ilmiah telah menemukan kenyataan dan
kebenaran melalui kecerdasan mereka sendiri tanpa bantuan para nabi.
E. Falsafat Lima Kekal
Falsafat Al-Razi terkenal dengan doktrin lima yang kekal, yaitu Tuhan, Jiwa
Universal, Materi pertama, Ruang Absolut dan Zaman Absolut. Dua dari
lima yang kekal itu hidup dan aktif, Yaitu Tuhan dan Roh, satu tidak hidup
dan pasif yaitu materi, sedangkan dua yang lainnya tidak hidup dan tidak
aktif ruang dan waktu.
5 https://ansarbinbarani.blogspot.co.id/2015/11/pemikiran-filsafat-ar-razi.html,
dikutip pada hari Senin 19 September 2016 Pukul 12.30 WIB
5

Berikut ini uraian mengenai lima kekekalan.


1. Tuhan
Kebijakan Tuhan itu sempurna, ketidak sengajaan tidak disifatkan
kepadanya. Kehidupan berasal dari-Nya, sebagaimana sinar datang
dari matahari. Ia mempunyai kepandaian sempurna dan murni,
kehidupan mengalir dari ruh. Tuhan menciptakan segala sesuatu tidak
ada yang bisa menandingi-Nya dan sesuatupun dapat menolak
kehendak-Nya. Kalau Allah menghendaki sesuatu maka jadilah
sebagaimana dalam QS Yasin (36): 82. Apabila dia menghendaki
sesuatu hanyalah berkata kepadanya, jadilah maka terjadilah ia.
Tuhan mengetahui sepenuhnya segala sesuatu dan mengetahui bahwa
ruh cenderung kepada materi dan membutuhkan kesenangan bendawi,
kemudian ruh mengikatkan dirinya pada materi. Tuhan dengan
kebijakannya mengatur ikatan tersebut supaya dapat tercapai jalan
paling sempurna. Setelah itu Tuhan memberikan kepandaian dan
kemampuan pengamatan pada ruh.
Inilah yang menyebabkan kenapa ruh mengingat dunia nyata, dan
mengetahui bahwa selama ia berada di dunia benda, ia takkan pernah
bebas dari rasa sakit, jika ruh mengetahui hal itu dan juga mengetahui
bahwa di dunia ini nyata ia akan mempunyai kebahagiaan tanpa rasa
sakit, maka ia menghasratkan dunia itu dan begitu ia terpisah dari
materi maka ia akan tinggal disana untuk selamanya dengan penuh
bahagia.
Dengan demikian seluruh sikap skiptis pada kekekalan dunia dan
maujud kejahatan dapat dihilangkan. Jika mengalami adanya kebijakan
sang pencipta, maka kita harus mengakui pula bahwa dunia ini
diciptakan. Apabila orang bertanya kenapa dunia ini diciptakan pada
saat ini atau itu, maka kita bisa jawab bahwa ruh mengikatkan dirinya
pada materi pada saat itu. Tuhan mengetahui bahwa pengikatan ini
merupakan sebab kejahatan tetapi setelah hal itu terjadilah Tuhan
mengarahkan ke jalan yang sebaik mungkin, namun demikian
kejahatan tetap ada, sumber dari kejahatan tetap ada, sumber dari
kejahatan serta susunan ruh dan materi tidak dapat dimurnikan sama
sekali sehingga keadaanya tetap terpengaruh oleh materi.
Menurut Al-Razi Tuhan itu maha bijaksana, ia tidak mengenal istilah
lupa pengetahuan. Tuhan itu tidak dibatasi oleh pengalaman, Tuhan
tahu itu sifat jiwa yang cenderung bersatu dengan benda dan mencari
kelezatan material. Setelah jiwa bergabung dengan tubuh Tuhan
kemudian mengatur hubungan tersebut dengan harmonis. Yaitu
dengan jalan melimpahkan akal ke dalam jiwa. Lantaran memiliki akal
jiwa menjadi sadar bahwa selama masih bergandengan dengan tubuh
ia masih menderita. dengan akal, jiwa tahu tempat asalnya. Akal
pulalah yang menginsafkan jiwa bahwa kebahagiaan tertinggi hanya
akan diperoleh setelah jiwa mampu melepaskan diri dari dukungan
tubuh.
2. Jiwa Universal
Menurut Al-Razi, Tuhan tidak menciptakn dunia lewat desakan apapun,
tetapi ia memutuskan untuk menciptakannnya setelah pada mulanya
tidak berkehendak menciptakannya. Siapakah yang membuatnya
untuk melakukan demikian itu mestinya ada keabadian lain yang
membuat ia memutuskan.
Keabadian lain adalah ruh yang hidup tetapi ia bodoh. Materi juga
kekal. Karena kebodohannya ruh mencintai materi dan membuat
6

bentuk dirinya untuk memperoleh kebahagiaan materi. Tetapi materi


menolak, sehingga Tuhan campur tangan membantu ruh. Dengan
bantuan inilah Tuhan membuat dunia dan menciptakan di dalamnya
bentuk-bentuk yang kuat yang di dalamnya ruh dapat memperoleh
kebahagiaan jasmani. Kemudian Tuhan menciptakan manusia guna
menyadarkan ruh dan menunjukkan kepadanya bahwa dunia ini
bukanlah dunia yang sebenarnya dalam arti hakiki.
Tetapi manusia tidak akan mencapai dunia hakiki ini, kecuali dengan
filsafat. Mereka yang mempelajari filsafat dan mengetahui dunia hakiki
dan memperoleh pengetahuan akan selamat dari keadaan buruknya.
Ruh-ruh tetap akan berada di dunia ini sampai mereka disadarkan oleh
filsafat akan rahasia dirinya kemudian diarahkan kepada dunia sejati.
3. Materi.
Materi adalah kekal, karena creatio ex nihilo (Penciptaan dari tiada)
merupakan suatu hal yang tidak mungkin. Kalau materi kekal, ruang
mesti kekal, karena materi tidak boleh, tidak mesti bertempat dalam
ruang. Karena materi mengalami perubahan dan perubahan
menandakan zaman, maka zaman mesti kekal pula kalau materi kekal.
Kemutlakan materi pertama terdiri atas atom-atom. Setiap atom
mempunyai volume, kalau tidak maka dengan pengumpulan atomatom itu, tidak dapat dibentuk,
bila dunia dihancurkan maka ia juga terpisah-pisah dalam bentuk atom.
Dengan demikian materi berasal dari kekekalan, karena tidak mungkin
menyatakan bahwa sesuatu berasal dari ketiadaan.
Yang lebih padat menjadi unsur bumi, apa yang lebih renggang
daripada unsur bumi menjadi unsur air, apa lagi yang lebih renggang
lagi menjadi unsur udara.
Al-Razi memberikan bukti untuk memperkuat pendapatnya tentang
kekekalan materi. Pertama, penciptaan adalah bukti. Dengan demikian
mesti ada penciptanya, apa yang diciptakan itu ialah materi yang
terbentuk. Kita membuktikan bahwa pencipta lebih dahulu daripada
yang dicipta dan bukan yang diciptakan itu terlebih dahulu ada.
Bukti kedua, berlandaskan ketidak mungkinan penciptaan dari
ketiadaan. yang membuat sesuatu dari ketiadaan lebih muda daripada
menyusunnya. Manusia diciptakan oleh Tuhan dalam sekejap lebih
mudah daripada menyusun mereka dalam empat puluh tahun. Inilah
peremis pertama. Pencipta yang tidak bijak tidak lebih menghendaki
melaksanakan apa yang lebih jauh dari tujuannya daripada yang lebih
dekat, kecuali apabila ia tidak mampu melakukan apa yang lebih muda
dan lebih dekat. Inilah premis kedua. Maka dapat disimpulkan bahwa
premis ini adalah bahwa keberadaan segala sesuatu pasti disebabkan
oleh pencipta dunia lewat penciptaan dan bukan lewat penyusunan.
Segala sesuatu di dunia ini dihasilkan oleh susunan dan bukan oleh
penciptaan, bila demikian maka ia tidak mampu menciptakan dari
ketiadaan, dan dunia ini mewujud melalui susunan sesuatu yang
asalnya adalah materi.
Al-Razi menambahkan bahwa induksi alam semesta membuktikan hal
ini. Bila tiada Sesuatu mewujud di dunia ini kecuali lain, dan sesuatu
yang lain ini adalah materi. Karenanya materi itu kekal.
4. Ruang

Ruang adalah tempat keberadaan materi, Al-Razi mengatakan bahwa


materi itu kekal dan karena materi menempati ruang, maka ruang ada
yang kekal,
Menurut Al-Razi ruang itu terbagi atas dua macam, ruang universal
mutlak, dan ruang tertentu atau relative. Ruang universal adalah tidak
terbatas dan tidak bergantung kepada dunia dan segala yang ada di
dalamnya. Sedang ruang relative adalah sebaliknya.
Suatu kehampaan ada di dalam ruang dan karenanya ia berada di
dalam materi sebagai bukti dari ketidak terbatasan ruang. Al-Razi
mengatakan bahwa wujud yang memerlukan ruang tidak dapat maujud
tanpa adanya ruang meski ruang dapat maujud tanpa adanya wujud
tersebut. Ruang tidak lain adalah tempat bagi wujud-wujud yang
membutuhkan ruang. Bila tidak ada ruang, maka ia adalah wujud dan
terbatas. Jika bukan wujud berarti ia ruang. Karenanya ruang itu tak
terbatas, sedang setiap wujud berada di dalam ruang maka
bagimanapun ruang mesti terbatas. Dan yang terbatas itu adalah
kekal, sehingga dengan demikian ruang pun kekal.
5. Waktu
Waktu itu kekal, ia subtansi yang mengalir. Sebagaimana ruang, waktu
atau zaman juga dibedakan Al-Razi antara waktu mutlak (tak terbatas)
dan waktu mashur (terbatas). Waktu mutlak adalah keberlangsungan ia
kekal dan begerak. Sedang waktu terbatas adalah gerak lingkungan
dan
bintang
gemintang.
Bila
kita
berfikir
tentang
gerak
keberlangsungan, maka kita dapat membayangkan waktu mutlak, dan
itu kekal. Jika kita bayangkan bola bumi, berarti itulah waktu terbatas.
Al-Razi sebenarnya filosof muslim yang hidup pada masa pendewaan
akal secara berlebihan. Hal ini sebagaimana Mutazilah yang
merupakan aliran theologi dalam Islam. Apabila ia seorang muslim,
maka ia muslim yang tidak sempurna (tidak kaffah), karena tidak
mempercayai adanya wahyu dan kenabian. Pada masanya ia
dipandang sebagai pemikir ulung yang tegar dan liberal di dalam Islam.
Bahkan dalam sejarah dialah satu-satunya pemikir rasional murni
sangat mempercayai kekuatan akal bebas dari segala prasangka, dan
terlalu berani dalam mengemukakan gagasan filosufinya.
Ia seorang bertuhan dan, mengaku Tuhan Maha bijak, tetapi ia
mengakui wahyu-Nya/ajarn-Nya. Sebaliknya mempercayai kemajuan
dan pemikiran manusia, kita dapat mengetahui keberaniannya dalam
penggunaan akal sebagai ukuran untuk menilai baik dan buruk, benar
dan jahat atau berguna atau tidak berguna.
Sehubungan dengan penolakan terhadap wahyu dan kenabian serta
tidak mengetahui adanya semua agama, maka dipandang dari theologi
Islam adalah belum muslim, karena keimanan yang dipeluknya tidak
konsokuen dalam pengertian tidak utuh.
F. Pengaruh Pemikiran Al-Razi
Al-Razi adalah filosof yang hidup ketika manusia saat itu mendewadewakan akal. Keterlibatan Al-Razi dalam filsafat telah banyak mengilhami
para pemikir lain, termasuk filosof yang sezaman dengan beliau.
Keistimewaan filsafat Al-Razi disbanding filosof lain sebenarnya terletak
pada penekanan aspek rasionalitas, terutama doktrinnya yang bombastis
tentang lima kekekalan yaitu tuhan, ruh universal, materi pertama, ruang
mutlak. Kelima ini merupakan landasan ajaran filsafatnya. Kaum

Mutazilah sekalipun yang dianggap sebagai paling rasional, ternyata AlRazi ini jauh lebih rasional.6
Agama dan urusan sosial lainnya yang ditafsirkan oleh Al-Razi secara
rasional ini, telah banyak mempengaruhi para pemikir lain bahkan
sekaligus menjadi musuh bagi Al-Razi sendiri. Ada beberapa tokoh pada
saat itu yang kontra dengan Al-Razi, diantaranya :7
1. Abu Al-Qasim AL-Balkhi, pimpinan kaum Mutazilah di bagdad
(319H/931M) yang hidup semasa dengan Al-Razi ia banyak menulis
penolakan terhadap buku-buku Al-Razi, terutama buku ilm Al-Ilahi.ia
berbeda dengan Al-Razi terutama tentang waktu.
2. Syuhaid Ibn Al-Husain Al-Balkhi, adalah tokoh yang memiliki banyak
perbedaan pendapat dengan Al-Razi, terutama teori tentang
kesenangan. Teori tentang kesenangan ini diterangkan dalam kitab
Tafdzil Ladzdzat An-Nafs, yang disarikan kembali oleh Abu Sulaiman AlMantiqi Al-Sajistani dalam Siwan Al-Hikmah.
3. Abu hatim Al-Razi adalah lawan paling penting sekaligus sebagai ahli
dakwah ismailiyah terbesar. Ia salah satu tokoh yang propagandis
yang dengan terang-terangan menentang pemikiran Al-Razi serta
menyampaikan kritiknya dalam kitab terkenal Alam An-Nubuwah. Kita
patut berterima kasih pada buku ini karena berkatjasanya pendapatpendapat Al-Razi tentang kenabian dan agama dapat kita nikmati.
4. Ibn Tammar, menurut Kraus mungkin adalah Abu Bakr Husain At-Tamar,
tabib yang mempunyai beberapa perbedaan dengan Al-Razi
sebagaimana dilaporkan oleh Abu Hatim Al-Razi dalam Alam AnNubuwah. Ibn Tammar menolak tulisan Al-Razi tentang Attib Al-Ruhani.
5. Mereka yang kita kenal dari judul buku yang di tulis oleh Al-Razi :
a. Al-Mismai, seorang mutakalimin yang menulis untuk menentang
kaum materialis, dan terhadap mereka Al-Razi menulis sebuah
risalah.
b. Al-Hasan Ibn Mubarik Al-Ummi, kepadanya Al-Razi menulis dua buah
surat yang sedikit bersinggungan.
c. Mansur Ibn Tolhah yang menulis buku tentang kemaujudan yang
ditolak oleh Al-Razi, Muhammad Ibn Laith Al-Rasaiil yang ditulisnya
terhadap ahli kimia, dijawab oleh Al-Razi.
d. Ahmad Ibnu Thayyib Al-Sharaskhi adalah senior Al-Razi. Al-Razi
menolaknya atas masalah rasa pahit;
e. Al-Razi juga menolak gurunya yaitu Yaqub Ibnu Ishaq Al-kindi, yang
telah menulis sanggahan terhadap ahli-ahli kimia.
REFERENSI
http://atibilombok.blogspot.co.id/2014/06/makalah-filsafat-islam-al-razi.html
http://catatannaniefendi.blogspot.co.id/2016/02/mengenal-filsafat-islamtokoh-dan.html
https://ansarbinbarani.blogspot.co.id/2015/11/pemikiran-filsafat-Al-Razi.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Zakariya_Al-Razi
6 http://atibilombok.blogspot.co.id/2014/06/makalah-filsafat-islam-Al-razi.html,
dikutip pada hari Senin 19 September 2016 Pukul 12.45 WIB
7 Ibid., dikutip pada hari Senin 19 September 2016 Pukul 12.47 WIB
9

https://menantikau.wordpress.com/kumpulan-makalah/metodologi-studiislam/tokoh-tokoh-filsafat-islam-dan-pemikirannya/
https://syafieh.blogspot.com/2013/04/filsafat-islam-Al-Razi-sejarah-dan.html
Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam. Jakarta: PT Raja Grapindo Persada. 2012.

10