Vous êtes sur la page 1sur 5

Si pemuda juga tidak heran dengan pertanyaan tentang Abdullah ibn Rawahah, sebab

antara Abu Darda dan Abdullah terjalin persaudaraan yang sangat erat. Kedua orang itu
bersahabat baik semenjak masa jahiliyah. Ketika Islam datang, Abdullah ibn Rawahah
langung masuk Islam sedangkan Abu Darda menolak. Namun hal itu tidak memutuskan
hubungan baik mereka. Abdullah ibn Rawahah bahkan selalu mengunjungi Abu Darda untuk
membujuknya agar memeluk Islam. Dia senantiasa menyesalkan hari-hari yang disia-siakan
oleh Abu Darda dalam kekufuran.
Abu Darda tiba di tokonya. Dia segera mengatur segala sesutunya kemudian duduk di
kursinya yang tinggi. Jual beli pun dimulai. Dengan cepat dia tenggelam dalam kesibukan.
Dari mulutnya terus keluar perintah untuk budak-budaknya.
Abu Darda tidak tahu apa yang terjadi di rumahnya. Saat itu Abdullah ibn Rawahah
berkunjung ke sana membawa niat tertentu.
Pintu rumah Abu Darda terbuka dan Abdullah ibn Rawahah melihat Ummu Darda di
dalam. Dia memberi salam. Assalamualaiki, ya amatillah.
Wanita itu menjawab. Waalaikassalam, wahai saudara kami.
Di mana gerangan Abu Darda? tanya Abdullah.
Dia sudah pergi ke toko. Tak lama lagi tentu pulang.
Bolehkah aku menunggunya? tanya Abdullah lagi.
Silahkan dengan senang hati.
Wanita itu memberi jalan kepada Abdullah ibn Rawahah kemudian pergi ke dalam
untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tinggallah Abdullah ibn Rawahah sendirian. Dia lalu masuk ke kamar tempat Abu
Darda menyumpan patungnya. Dengan palu yang dibawanya dari rumah, dihantamnya
patung tersebut sambil bergumam. Semua yang menyekutukan Allah itu sesat. Dia terus
memukuli petung tersebut sampai hancur tak berbentuk lagi, dan setelah itu ditinggalkannya
begitu saja.
Tak berapa lama Ummu Darda masuk ke kamar itu. Dia menjerit histeris demi melihat
patung pemujaan suaminya hancur tak karuan dan berserakan di lantai. Sambil memukulmukul kepala dan pipinya dia meratap. Engkau menhancurkanku. Ibnu Rawahah, engkau
menghancurkanku...
Saat Abu Darda pulang, dilihatnya Ummu Darda duduk sambil menangis di depan
pintu kamar penyimpanan patung. Wajahnya tampak ketakutan, sehingga Abu Darda
bertanya. Kenapa kau?
Dia menjawab, Saudaramu Abdullah ibn Rawahah, tadi datang kemari lalu
menghancurkan patung pemujaanmu,,,
Abu Darda mnjadi berang menyaksikan patungnya remuk. Sekejap dia ingin
membalas kelakuan sahabatnya. Tapi setelah berpikir-pikir, amarahnya menjadi reda.
Katanya, Kalau patung ini memiliki kebaikan, tentu dia mampu melindungi dirinya dari
segala gangguan...
Dia lalu pergi mencari Abdullah ibn Rawahah dan minta diantar menghadap
Rasulullah untuk menyatakan keislamannya. Dialah orang terakhir dari kaumnya yang
memeluk Islam.

Abu Darda langsung beriman secara menetap kepada Allah dan Rasul-Nya sejak awal
keislamannya, seakan meresap sampai ke pori tubuhnya. Dia menyesali ketinggalannya
dalam kebaikan. Oleh karena itu, dengan giat dia mempelajari agamanya agar dapat
menyusul lain-lainnya. Ditekuninya ibadah dan ilmu seperti oreng yang kehausan. Akhirnya
dia menjadi orang yang paling mengerti tentang dinullah dan hafal Kitabullah.
Bahkan ketika perniagaannya mengganggu kenikmatan ibadahnya dan menyita
waktunya untuk menghadiri majelis-majelis ilmu, ditinggalkannya begitu saja tanpa ragu atau
menyesal.
Ketika beberapa kawan bertanya tentang hal itu, dia menjawab, Sebelum kenal
dengan Rasulullah aku adalah pedagang. Begitu memeluk Islam, aku ingin memadukan
kegiatan dagangku dengan ibadah, tetapi gagal. Lebih baik kutinggalkan saja perdaganganku
dan kupusatkan diriku pada ibadah.
Demi jiwa Abu Darda di tangan-Nya lanjutnya, sekarang ini aku tak suka
memiliki satu toko pun di sebelah pintu masjid dan mendapat laba 300 dinar seharinya
walaupun aku tidak pernah tertinggal shalat fardhu berjamaah. Aku tidak bilang bahwa Allah
mengharamkan jual beli, namun aku ingin menjadi golongan yang tidak dilalaikan oleh
perniagaannya dalam berdzikir kepada Allah.
Abu Darda tidak sekedar meninggalkan perniagaannya saja, melainkan juga
meninggalkan dunia. Dia menjauhkan diri dari keindahan dan kemewahan dunia, dan merasa
cukup dengan sepiring makanan kasar untuk menguatkan sendi-sendinya dan pakaian
sederhana sekedar untuk menutup aurat
Alkisah pada suatu malam yang dingin menggigit, Abu Darda kedatangan
serombongan tamu. Untuk mereka, dia menyediakan makanan hangat tetapi tidak
memberikan selimut , padahal malam begitu dingin. Ketika waktu tidur, para tamu itu
berunding soal selimut.
Aku akan menemuinya untuk membicarakan soal selimut ini,kata yang satu.
Jangan,kata yang lain, Tidak usah.
Akhirnya salah satu dari tamu-tamu tersebut menghampiri pintu Abu Darda.
Dilihatnya si tuan rumah tidurmembujur dengan istrinya, dan hanya mengenakan pakaian
tipis yang sama sekali tak mampu menahan hawa dingin.
Tak tahan orang itu bertanya, Ya Abu Darda, kulihat anda tidur seperti kami. Mana
barang-barang hasil perniagaan Anda?
Abu Darda menjawab, kita punya rumah di sana sehingga barang-barang
kukirimkan semua ke sana. Kalau saja masih ada yang masih tersisa di rumah ini tentulah
akan kuberikan kepada kalian. Jalan yang harus ditempuh untuk sampai ke rumah itu penuh
rintangan dan kesulitan, dengan demikian dengan demikian orang yang bawaannya ringan
lebih enak daripada yang berat. Itu sebabnya kami ingin meringankan diri dari beban pada
saat menempuh jalan tersebut. Sudah paham?
Ya, aku paham,jawab orang itu. Terima kasih.
Pada masa kekhalifahan al-Faruq Umar Ibn Khathathab, Abu Darda diserahi jabatan
di Syam tapi menolak. Ketika Umar memaksa, akhirnya dia mengajukan syarat, Aku
bersedia hanya bila Anda setuju aku pergi ke sana untuk mengajari mereka Kitabullah dan
sunnah Rasul, serta shalat bersama mereka.

Setelah Umar menyetujui syarat itu, Abu Darda berangkat ke Syam dan langsung
menuju ke Damaskus.
Sesampainya di sana dia kaget melihat orang-orang sudah menyukai kemewahan,
hidup bersenang-senang dan bergelimang kenikmatan. Dipanggil mereka ke masjid lalu dia
menghujat, Wahai penduduk Damaskus, apa yang menghalangi kalian dari bersahabat
denganku dan mendengarkan nasihatku, padahal aku tidak minta upah sepeserpun dari
kalian? Nasihatku adalah untuk kalian, sedangkan biaya yang lain bukan dari kalian.
Mengapa kulihat ulama-ulama kalian wafat lalu yang bodoh-bodoh tak mau menuntut
ilmu?
Mengapa kulihat kalian sudah mengajarkan perbuatan yang tidak diperintahkan Allah
dan meninggalkan yang diperintahkan-Nya?
Mengapakulihat kalian mengumpulkan sesuatu yang tidak kalian makan, membangun
sesuatu yang tidak kalian tempati dan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai?
Kaum-kaum sebelum kalian juga pernah mengumpulkan dunia dan tenggealam dalam
angan-angan kosong. Maka tidak berapa lama persatuan mereka berantakan, angan-angannya
sekedar impian, dan rumah-rumah mereka menjadi kuburan.
Wahai penduduk Damaskus, itulah kaum Ad, yang telah memenuhi dunia ini dengan
harta dan anak. Siapa yang ingin membeli warisan mereka sekarang dengan dua dirham
saja?
Orang-orang pun menangis sampai terdengar isaknya dari luar masjid.
Sejak hari itu Abu Darda menjadi pemimpin majelis penduduk Damaskus. Dia
berkrliling ke pasar-pasar menjawab berbagai macam pertanyaan, mengajari yang bodohbodoh, dan mengingatkan yang lupa. Dia tak pernah melewatkan kesempatan yang ada.
Suatu hari Abu Darda melihat sekelompok orang mengeroyok seseorang sambil
mengejek. Dia segera menghampiri seraya bertanya, Ada apa ini?
Orang-orang menjawab, Orang ini telah melakukan dosa besa.
Seandainya ada seseorang yang terjatuh ke dalam sumur, apakah kalian akan
menolong mengeluarkannya?
Ya.
Kalau demikian, jangan memaki dan memukulinya. Beri dia nasihat dan pengarahan.
Kalian harus bersyukur kepada Allah karena Allah tidak menghinakan kalian seperti dia.
Mereka bertanya, Apakah anda tidak membencinya?
Jawab Abu Darda, Yang kubenci adalah perbuatannya. Kalau perbuatan itu dia
tinggalkan, maka dia adalah saudaraku.
Mendengar itu orang yang dikeroyok tadi menangis dan bertobat tidak mengulangi
perbuatannya lagi.
Seorang pemuda mendatangi Abu Darda seraya memohon, Beri aku nasihat, wahai
sahabat Rasulullah.
Abu Darda lalu memberi nasihat, Anakku ingatlah Allah dalam kebahagiaanmu,
niscaya Dia akan mengingatmu dalam penderitaanmu.
Anakku, jadilahorang yang berilmu, atau pelajar, atau pendengar. Jangan menjadi
orang yang keempat.

Anakku, jadikan masjid sebagai rumahmu. Aku mendengar Rasulullah bersabda,


Masjid adalah rumah orang-orang bertakwa. Untuk orang-orang yang menjadikan masjid
sebagai rumahnya, Allah menjamin keluasan, rahmat, dan jalan menuju ridha-Nya.
Sekelompok anak muda punya kegemaran duduk-duduk di tepi jalan sambil
mengobrol dan mengamati orang lalu-lalang. Abu Darda mendatangi mereka seraya memberi
pengarahan, Wahai anak-anakku, tempat kediaman orang muslim adalah rumahnya. Tempat
itu bisa menjaga dirimu dan matamu. Jangan suka duduk-duduk di pasar karena tempat itu
menggoda dan membuat lupa.
Ketika Abu Darda berada di Damaskus ini, gubernur Muawiyah ibn Abi Sufyan
pernah meminang putrinya bernama Darda, untuk putranya, Yazid. Tetepi Abu Darda
menolak, dan Menikahkan putrinya dengan seorang pemuda biasa karena dia menyukai
agama dan akhlaknya.
Kejadian ini menjadi omongan orang banyak. Mereka umumnya mencibir, Dipinang
Yazid putra Muawiyah ditolak, malah dikawinkan dengan orang biasa saja..
Ketika seseorang menanyakan tentang alasannya, Abu Darda menjawab, Aku lebih
tau yang terbaik bagi putriku, si Darda.
Bagaimana itu? tanya orang tersebut.
Bagaimana perkiraan kalian bila Darda bangun tidur kemudian di kanan kirinya telah
siap budak-budak melayaninya, dan ditemukan dirinya dalam istana yang mengkilat dan
menyilaukan mata; bagaimana kira-kira agamanya pada waktu itu?
Suatu kali Amirul Mukminin Umar ibn Khaththab menengok keadaan Abu Darda di
Syam. Dia datang pada malam hari. Ketika mendorong pintu, ternyata tidak dikunci. Maka
masuklah Umar ibn Khaththab ke dalam rumah yang gelap gulita.
Mendengar kedatangan Umar, Abu Darda segera bangun menyambut dan
mempersilahkan duduk. Kedua sahabat itu kemudian berbincang-bincang tentang berbagai
hal dan saling bertukaar pikira dalam gelap.
Suatu saat Umar meraba-raba tempat duduk Abu Darda, ternyata terbuat dari karung.
Lalu dia meraba ranjangnya, ternyata berupa lempengan batu. Terpegang pula alas tidur dan
selimutnya, yang ternyata berupa kain tipis yang tidak mungkin menahan dinginnya hawa
Syam.
Sepontan Umar bertanya, Allah merahmati Anda. Bukankah aku telah mencukupi
Anda? Bukankah telah kukirimkan gaji kepadaAnda?
Jawab Abu Darda, Ingatkan Anda, Umar tentang hadis yang dibacakan Rasulullah
kepada kita?
Apa itu?
Bukankah beliau berkata bahwa bekal seseorang di dunia ini laksana bekal seorang
musafir?
Benar Anda, ya Abu Darda.
Lalu apa yang kita lakukan setelah beliau tiada, Umar?
Umar menangis mendengarnya, demikian pula Abu Darda. Tak ada lagi yang bicara
sampai fajar...
Abu Darda tetap tinggal di Damaskus untuk memberi teladan dan nasihat kepada
orang-orang serta mengajarkan Kitabullah dan hikmah sampai wafatnya.

Sewaktu sakit keras yang membawa pada kematiannya, sahabat-sahabatnya


menjenguk dan bertannya, Apa yang Anda keluhkan?
Dosa-dosaku, jawab Abu Darda.
Apa yang Anda inginkan? tanya mereka lagi.
Ampunan pada penciptaku.
Abu Darda kemudian berpesan kepada orang yang mendampinginya. Talkinlah aku
dengan la ilaha illallah Muhammadun rasulullah
Kata-kata itu terus diucap sampai ruhnya lepas dari badan.
Beberapa waktu setelah kematian Abu Darda, Auf ibn Malik al-Assyjai bermimpi
melihat sebuah kemah yang besar lagi tinggi, berwarna hijau berkubah. Dia bertanya, Milik
siapa kemah ini?
Ini untuk Abdurrahman ibn Auf, suatu suara menjawab. Tiba-tiba Abdurrahman ibn
Auf muncul dari dalam kemah lalu berkata, Ya Ibnu Malik, inilah yang diberikan Allah
kepada kami karena Al-Quran. Bila engkau memandang ke atas bukit itu maka akan kau
lihat sesuatu yeng belum pernah kau lihat, belum pernah kau dengar, elum pernah terlintas
dalam benakmu.
Untuk siapa itu, Abu Muhammad?
Untuk Abu Darda, karena dia menolak dunia ini dengan dada dan kedua tangannya.