Vous êtes sur la page 1sur 8

APENDISITIS

1.

Pengertian

2.

Fisiologi
Appendiks menghasilkan lendir 1 2 ml perhari. Lendir itu secara normal dicurahkan kedalam

lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir dimuara appendiks tampaknya
berperan pada patogenesis appendicitis.
Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymfoid Tissue) yang
terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks. Immunoglobulin itu sangat efektif sebagai
pelindung terhadap infeksi. Namun demikian pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi system
imun tubuh sebab jumlah jaringan limfa disini kecil sekali jika dibandingkan jumlah disaluran cerna
dan seluruh tubuh.
3.

Etiologi
Appendicitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi Yaitu :

a.

Factor yang tersering adalah obtruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena :
Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak
Adanya faekolit dalam lumen appendiks
Adanya benda asing seperti biji bijian
Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya

b.

Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus

c.

Laki laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 30 tahun (remaja dewasa).
Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.

d.

Tergantung pada bentuk appendiks


1. Appendik yang terlalu panjang
2. Messo appendiks yang pendek
3. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
4. Kelainan katup di pangkal appendiks

4.

Insiden

Appendisitis aku dinegara maju lebih tinggi daripadadi negara berkembang namun dalam tiga
empat dasawarsa terjadi peningkatan.kejadian ini diduga disebabkan oleh meningkatnya
pola makan berserat dalam menu sehari hari, pada laki laki dan perempuan pada
umumnya sebanding kecuali pada umur 20 30 tahun insiden pada laki laki lebih tinggi.
Appendicitis dapat ditemukan pada semua umur , hanya pada anak yang kurang dari satu
tahun yang jarang dilaporkan, mungkin karena tidak terduga sebelumnya. Insiden tertnggi
terjadi pada kelompok umur 20 30 tahun, setelah itu menurun.
5.

Patofisiologi

Appendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat kemungkinan
oleh fekolit ( massa keras dari fecces) atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan
intaraluminal, menimbulkan nyeri atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam
terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya appendiks yang terinflamasi terisi
pus.
6.

Manisfestasi klinis

1. Nyeri kuadran kanan bawah biasanya disertai dengan demam derajat rendah, mual, dan sering
kali muntah.
2. Pada titik McBurney (terletak dipertengahan antara umbilicus dan spina anterior dari ilium) nyeri
tekan setempat karena tekanan dan sedikit kaku dari bagian bawah otot rectum kanan.
3. Nyeri alih mungkin saja ada, letak appendiks mengakibatkan sejumlah nyeri tekan, spasme otot,
dan konstipasi atau diare
4. Tanda rovsing dapat timbul dengan mempalpasi kuadran bawah kiri, yang secara paradoksial
menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran kanan bawah
5. Jika terjadi ruptur appendiks, maka nyeri akan menjadi lebih menyebar, terjadi distensi abdomen
akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk.
7.

Test Diagnosa

Untuk menegakkan diagnosa pada appendicitis didasarkan atas annamnesa ditambah dengan
pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.
a. Gejala appendicitis ditegakkan dengan anamnesa, ada 4 hal yang penting adalah :

1. Nyeri mula mula di epeigastrium (nyeri visceral) yang beberapa waktu kemudian menjalar
keperut kanan bawah.
2. Muntah oleh karena nyeri visceral
3. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus)
4. Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit,
menghindarkan pergerakan di perut terasa nyeri
b. Pemeriksaan yang lain
1. Lokalisasi
Jika sudah terjadi perforasi, nyeri akan terjadi pada seluruh perut,tetapi paling terasa nyeri
pada titik Mc Burney. Jika sudah infiltrat, insfeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit,
dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney

2. Test Rectal
Pada pemeriksaan rectal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah
prolitotomi.
3. Pemeriksaan Laboratorium
a. Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap
mikroorganisme yang menyerang pada appendicitis akut dan perforasi akan terjadi
leukositosis yang lebih tinggi lagi.
b. Hb (hemoglobin) nampak normal
c. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan appendicitis infiltrat
d. Urine penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
4. Pemeriksaan Radiologi
Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosaappendicitis akut, kecuali bila
terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut :
a. Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan
b. Kadang ada fekolit (sumbatan)
c. Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma
8.

Diagnosa Banding
Gastroenteritis akut adalah kelainan yang sering dikacaukan dengan appendicitis. Pada kelainan

ini muntah dan diare lebih sering. Demam dan leukosit akan meningkat jelas dan tidak sesuai dengan

nyeri perut yang timbul. Lokasi nyeri tidak jelas dan berpindah pindah. Hiperperistaltik merupakan
merupakan gejala yang khas. Gastroenteritis biasanya berlangsung akut, suatu obsevasi berkala akan
dapat menegakkan diagnosis.
Adenitis mesebrikum juga dapat menunjukan gejala dan tanda yang identik dengan appendicitis.
Penyakit ini lebh sering pada anak anak, biasanya didahului dengan infeksi saluran napas. Lokasi
nyeri di perut kanan bawah tidak konstan dan menetap, jarang terjadi truemuscie guarding.
Divertikulitis Meckeli juga menunjukan gejala yang hampir sama. Lokasi nyeri mungkin lebih
kemedial, tetapi ini bukan criteria diagnosis yang dapat dipercaya. Karena kedua kelainan ini
membutuhkan tindakan operasi, maka perbedaannya bukanlah hal yang penting.
Enteritis regional, amubiasis,ileitis akut, perforasi ulkus duodeni, kolik ureter, salpingitis akut,
kehamilan ektopik terganggu, dan kista ovarium terpuntir juga sering dikacaukan dengan appendicitis.
Pneumonia lobus kanan bawah kadang kadang juga berhubungan dengan nyeri di kuadran kanan
bawah.
9.

Komplikasi

Apabila tindakan operasi terlambat, timbul komplikasi sebagai berikut :


1. Peritonitis generalisata karena ruptur appendiks
2. Abses hati
3. Septi kemia
B. Penatalaksanaan
a. Perawatan prabedah perhatikan tanda tanda khas dari nyeri
Kuadran kanan bawah abdomen dengan rebound tenderness (nyeri tekan lepas), peninggian laju
endap darah, tanda psoas yang positif, nyeri tekan rectal pada sisi kanan. Pasien disuruh istirahat
di tempat tidur, tidak diberikan apapun juga per orang. Cairan intravena mulai diberikan, obat
obatan seperti laksatif dan antibiotik harus dihindari jika mungkin.
b.

Terapi bedah : appendicitis tanpa komplikasi, appendiktomi segera dilakukan setelah


keseimbangan cairan dan gangguan sistemik penting.

c.

Terapi antibiotik, tetapi anti intravena harus diberikan selama 5 7 hari jika appendicitis telah
mengalami perforasi.

DATA DASAR PENGKAJIAN APENDISITIS


(PRE OPERASI)
DATA DASAR YANG DAPAT DITEMUKAN DALAM PENGKAJIAN :
1)

Aktivitas atau istirahat


Gejala : Malaise

2)

Sirkulasi
Tanda : Takikardi

3)

Eliminasi
Gejala : Konstipasi pada awitan
Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan atau lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.

4)

Makanan/ Cairan
Gejala : Anoreksia, mual atau muntah

5)

Nyeri atau kenyamanan


Gejala :
o

Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus yang meningkat berat dan terlokalisasi pada
titik Mc. Burney (setengah jarak antara umbilicus dan tulang ileum kanan). Meningkat karena
berjalan, bersin, batuk atau napas dalam.

Keluhan berbagai rasa nyeri/ gejala tidak jelas (sehubungan dengan lokasi appendiks, contoh
retrosekal atau sebelah ureter).

Tanda :
o

Prilaku berhati hati berbaring kesamping atau terlentang dengan lutut ditekuk : meningkatnya
nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi

6)

Ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak

Nyeri lepas pada sisi kiri diduga inflamasi peritoneal.


Keamanan

Tanda : demam (biasanya rendah)


7)

Pernapasan
Tanda : takipnea, pernapasan dangkal (Marilyn E. doenges, 508 505, 2000)

8)

Penyuluhan/pembelajaran
Gejala

: Riwayat kondisi lain yang berhubunngan dengan nyeri abdomen contohnya


pielis akut, batu uretra, salpingitis akut, ileitis regional. Dapat terjadi pada
berbagai usia

Pertimbangan

: DRG menunjukkan rerata lama dirawat: 4,2 hari

Rencana pemulangan

: Membutuhkan bantuan sedikit dalam transportasi tugas pemeliharaan


rumah

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
SDP : Leukositosis diatas 12.000/mm3, neutrofil menungkat sampai 75 %
Urinalisis : normal tetapi erytrosit/leukosit mungkin ada
Foto Abdomen : Dapat menyatakan adanya pergeseran material dari apendiks (fekalit), ileus terlokalisir
PRIORITAS KEPERAWATAN
TUJUAN PEMULANGAN
1. Nyeri b/d distensi jaringan usus, inflamasi, adanya luka operasi
Tujuan : Nyeri hilang/berkurang dengan criteria (pasien tampak rileks, mampu tidur atau istirahat)
No
1

INTERVENSI
Kaji nyeri, catat lokasi,karakteristik
beratnya.

RASIONALISASI
Dapat diketahui tingkat nyeri pasien,

Pertahankan istirahat dengan


mempertahankan istirahat dengan
posisi semi fowler

Posisi ini mengurangi ketegangan pada


insisi dan organ organ abdomen

Berikan aktivitas hiburan

Ajarkan tehnik relaksasi dengan


napas dalam
Berkolaborasi dalam pemberian
analgesik

Mengalihkan pasien dari rasa nyeri

Mengurangi ketegangan dapat


mengurangi
Sebagai mitra kita perlu berkolaborasi
dengan dokter ,apabila nyeri pasien tidak
dapat hilang dengan posisi dan tehnik
relaksasi

2. Resiko defisit volume cairan elektrolit tubuh b/d mual dan muntah
Tujuan : defisit volume cairan tidak terjadi, ditunjukan dengan (turgor kulit baik, kelembaban
membran mukosa baik,tanda tanda vital stabil dan keluaran urine adekuat.
No
1

INTERVENSI
Kaji tanda tanda vital

RASIONALISASI
Tanda tanda vital sangat membantu
mengidentifikasi fluktuasi volume
intravaskuler

Kaji membran mukosa, turgor kulit

Turgor kulit dan membran mukosa

dan pengisian kapiler

merupakan indikasi status hidrasi serta


keadekuatan sirkulasi perifer

Kaji dan catat intake dan output


cairan secara teliti, termasuk urine
output,catat warna urine/konsentrasi
dan jenis

Penurunan output urine pekat dan


peningkatan berat jenis diduga dehidrasi/
kebutuhan peningkatan cairan.

Berikan cairan peroral atau


parenteral sesuai anjuran dan
lanjutkan dengan diet sesuai
toleransi

Dapat menurunkan iritasi gaster dan


muntah serta meminimalkan kehilangan
cairan

3. Resiko infeksi b/d perporasi atau ruptur appendiks, peritonitis, pembentukan abses
Tujuan : infeksi tidak terjadi ditandai dengan ( tidak dijumpainya tanda tanda
infeksi,inflamasi,drainase purulenta, eritema dan demam)
No
1

INTERVENSI
Awasi dan catat tanda tanda vital,

RASIONALISASI
Segera timbulnya dugaan infeksi atau

perhatikan bila ada demam berkeringat,

terjadinya

perubahan mental, meningkatnya nyeri

memudahkan

abdomen

dan melakukan tindakan keperawatan

sepsis,

abses

perawat

peritonitis

merencanakan

secara dini.
2

Lakukan pencucian tangan yang baik dan

Dapat

menrukan

perawatan luka septic sesuai prosedur

terjadinya infeksi

atau

mencegah

kerja
3

Pantau insisi luka dan balutan, catatan

Memberikan

karakteristik

situasi proses infeksi atau pengawasan

drainase

luka/

adanya

deteksi

dini

terjadinya

eritema

penyembuhan

Berikan informasi yang tepat dan jujur

Suatu informasi yang akurat memberikan

pada klien atau orang terdekatnya tentang

pengetahuan tentang adanya kemajuan

kondisi klien

situasi sehingga memberikan dukungan


emosi,

membantu

menurunkan

kecemasan
5

Kolaborasi dalam pemberian abat obat

Memungkinkan

penurunan

antibiotik

organisme terutama pada infeksi yang


telah ada sebelumnya

4. Kurang pengetahuan b/d kurang mengingat, kurang informasi


Tujuan : pengetahuan pasien tantang proses penyakitnya bertambah

jumlah