Vous êtes sur la page 1sur 26

Akuntansi Sosial

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah

Pergeseran filosofis pengelolaan organisasi entitas bisnis yang mengalami perubahan dari
pandangan manajemen klasik ke manajemen modern khususnya di beberapa negara industri
seperti Amerika dan Eropa telah melahirkan sebuah orientasi baru tentang tanggung jawab
perusahaan. Pandangan Manajemen klasik tentang tanggung jawab perusahaan yang hanya
beorientasi kepada pemilik modal dan kreditur dengan mencapai tingkat laba maksimum
telah bergeser dengan adanya konsep Manajemen modern, dimana orientasi perusahaan
dalam mencapai laba maksimum perlu dihubungkan dengan tanggung jawab sosial
perusahaan kearah keseimbangan antara tuntutan para pemilik perusahaan, kebutuhan para
pegawai, pelanggan, pemasok, lingkungan dan juga masyarakat umum, karena menurut
pandangan Manajemen modern perusahaan dalam menjalankan operasionalnya harus
berinteraksi dengan lingkungan sosialnya dan sumber-sumber ekonomi yang digunakan oleh
perusahaan semuanya berasal dari lingkungan sosial dimana perusahaan itu berada. Oleh
karena itu perusahaan sebagai organisasi bisnis harus mampu merespon apa yang dituntut
oleh lingkungan sosialnya, sehingga entitas bisnis dan entitas sosial dapat saling berinteraksi
dan berkomunikasi untuk kepentingan bersama.
Seiring dengan perkembangan konsep manajemen tersebut, para akuntan juga membicarakan
bagaimana permasalahan tanggung jawab sosial ini dapat diadaptasikan dalam ruang lingkup
akuntansi (Hines, 1988) dalam Azhar Maksum, (1991), sehingga tujuan utama pelaporan
keuangan guna memberikan infromasi kepada para pemegang saham dan kreditur menjadi
ikut bergeser pula kearah kecenderungan bahwa perlunya pelaporan yang bersifat dari luar
organisasi perusahaan (externality) dalam rangka memberikan informasi kepada beberapa
kelompok orang luar yang berkepentingan terhadap perusahaan. Berdasarkan uraian diatas
dapat dipahami bahwa ide dasar yang melandasi perlunya dikembangkan akuntansi sosial
(sosial Accounting), secara umum sebenarnya adalah tuntutan terhadap perluasan tanggung
jawab perusahaan.
Beberapa penulis seperti Estes (1973); Bowman dan Mason (1976); K.Most (1977); Carrol
AB (1984); Henderson (1984) dan Chua (1990) dalam Sawardjono (1991), menggambarkan

beberapa contoh konkrit yang dapat dianggap sebagai externality, antara lain seperti
melaporkan jumlah karyawan, jaminan kesehatan, informasi tentang upaya pencegahan
pencemaran lingkungan, standar kualitas, pengepakan produk ramah lingkungan, penyaluran
beasiswa pendidikan, kesempatan magang, pelatihan kerja bagi mahasiswa, dan kepedulian
sosial kepada masyarakat sekitar industri. Permasalahan penting lainnya yang menjadi isu
dikalangan para akuntan sehubungan externalily adalah mengenai seberapa jauh perusahaan
harus bertanggung jawab terhadap sosial ekonomi seluruhnya, dan bagaimana perlakuan
akuntansi yang tepat untuk menggambarkan transaksi yang terjadi antara perusahaan dengan
lingkungan sosialnya tersebut.
Harahap (1988;1993; 2001) mengemukakan bahwa persoalan apakah perusahaan perlu
mempunyai tanggungjawab sosial atau tidak, sampai saat ini masih terus merupakan
perdebatan ilmiah dalam sistem ekonomi kapitalis. Lebih jauh Harahap (2002) menyebutkan
bahwa fenomena ini merupakan bentuk dari penyadaran kapitalis terhadap tanggung jawab
sosial perusahaan melalui penyajian informasi akuntansi. Pro dan kontra tersebut tentunya
dapat dipahami karena kelompok yang mendukung maupun yang tidak mendukung punya
kepentingan dan argumentasinya masing-masing.
Di Indonesia sendiri, permasalahan akuntansi sosial memang bukanlah hal yang baru, para
pakar akuntansi di Indonesia juga telah melakukan analisis dan studi tentang kemungkinan
penerapan akuntansi sosial di Indonesia (Harahap, 1988); lihat juga Bambang Sudibyo
(1988); Hadibroto (1988) dalam Arief Suadi (1988), hanya saja akuntansi sosial menjadi
kurang popular.
Terdapat dua hal yang menjadi kendala sulitnya penerapan akuntansi sosial di Indonesia,
yaitu (1) lemahnya tekanan sosial yang menghendaki pertanggungjawaban sosial perusahaan,
dan (2) rendahnya kesadaran perusahaan di Indonesia tentang pentingnya pertanggung
jawaban sosial. Menurut Penulis, perkembangan lingkungan bisnis yang demikian pesat saat
ini telah mendorong perusahaan-perusahaan di Indonesia menuju kearah kesadaran akan
pentingnya pertanggungjawaban sosial, sehingga perlu dianalisis kembali penerapan
akuntansi sosial dalam situasi dan kondisi perekonomian Indonesia sekarang ini.
Sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan, akuntansi berfungsi untuk memberikan
informasi untuk pengambilan keputusan dan pertangungjawaban. Selama ini, laporan
keuangan hanya difokuskan kepada kepentingan investor dan kreditor sebagai pemakai utama
laporan

keuangan.

Hal

ini

tertuang

mulai

dari Standar

Financial

Accounting

Concepts (SFAC) No.1. Selama ini perusahaan hanya menyampaikan informasi mengenai
hasil operasi keuangan perusahaan kepada pemakai, tetapi mengabaikan eksternalitas dari
operasi yang dilakukannya, misalnya polusi udara, pencemaran air, pemutusan hubungan
kerja, dan lainnya. Akhir-akhir ini banyak sekali ditemukan berita di surat kabar,
televisi mengenai dampak operasi perusahaan yang tidak memperhatikan lingkungan di mana
mereka beroperasi.
Pembahasan
1. Definisi Akuntansi sosial
Istilah Akuntansi Sosial (Social Accounting) sebenarnya bukan merupakan istilah baku dalam
akuntansi. Para pakar akuntansi membuat istilah masing-masing untuk menggambarkan
transaksi antara perusahaan dengan lingkungannnya. Ramanathan (1976) dalam Arief Suadi
(1988) mempergunakan istilah Social Accounting dan mendefinisikannya sebagai proses
pemilihan variabel-variabel yang menentukan tingkat prestasi sosial perusahaan baik secara
internal maupun eksternal. Lee D Parker (1986) dalam Arief Suadi (1988) menggunakan
istilah Sosial Responsibility Accounting, yang merupakan cabang dari ilmu akuntansi.
Sementara itu Belkoui dalam Harahap (1993) membuat suatu terminologi Socio Economic
Accounting (SEA) yang berarti proses pengukuran, pengaturan dan pengungkapan dampak
pertukaran antara perusahaan dengan lingkungannya.
Hadibroto (1988); Bambang Sudibyo (1988) dan para pakar akuntansi di Indonesia
menggunakan istilah Akuntansi pertanggung jawaban sosial (APS) sebagai akuntansi yang
memerlukan laporan mengenai terlaksananya pertanggungjawaban sosial perusahaan.
Hendriksen (1994), menggambarkan akuntansi sosial sebagai suatu pernyataan tujuan,
serangkaian konsep sosial dan metode pengukurannya, struktur pelaporan dan komunikasi
informasi kepada pihakpihak yang berkepentingan. Pernyataan Hendriksen (1994) tersebut
memberikan gambaran tentang hubungan mendasar antara konsep akuntansi sosial dengan
informasi yang dihasilkan, sehingga secara kongkrit informasi tersebut dapat dijadikan bahan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Berdasarkan beberapa uraian diatas, pada dasarnya definisi yang diberikan oleh para pakar
akuntansi mengenai akuntansi sosial memiliki karakteristik yang sama, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Ramanathan (1976) dalam Arief Suadi (1988), yaitu Akuntansi sosial
berkaitan erat dengan masalah : (1) Penilaian dampak sosial dari kegiatan entitas bisnis, (2)
mengukur kegiatan tersebut (3) melaporkan tanggungjawab sosial perusahaan, dan (4) sistem

informasi internal dan eksternal atas penilaian terhadap sumber-sumber daya perusahaan dan
dampaknya secara sosial ekonomi.
Akuntansi Sosial sering juga disebut Akuntansi Lingkungan ataupun Akuntansi Sosial
Ekonomi, oleh Belkoui (2000), yang diterjemahkan Ramanathan, didefinisikan sebagai
proses seleksi variabel-variabel kinerja sosial tingkat perusahaan, ukuran dan prosedur
pengukuran; yang secara sistematis mengembangkan informasi yang bermanfaat untuk
mengevaluasi kinerja sosial perusahaan dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada
kelompok sosial yang tertarik, baik di dalam maupun di luar perusahaan. Sedangkan menurut
Haniffa (2002), Akuntansi sosial mengidentifikasi, menilai dan mengukur aspek penting dari
kegiatan sosial ekonomi perusahaan dan negara dalam memelihara kualitas hidup masyarakat
sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkannya.
Kegundahan Gray (1994) tentang memaknai akuntansi sosial dan lingkungan membawa
proses pertumbuhan pemahaman terhadap sub disiplin akuntansi ini. Akuntansi sosial dan
lingkungan (yang kita ketahui juga sebagai akuntansi sosial, akuntansi lingkungan, corporate
social

reporting, corporate

sosial

responsibility

reporting, non-financial

reporting,

atausustainability accounting) adalah proses pengkomunikasian efek sosial dan lingkungan


dari tindakan ekonomi organisasi kepada beberapa kelompok tertentu dalam suatu
lingkungan. Akuntansi sosial dan lingkungan biasa digunakan dalam hubungannya dengan
bisnis, walaupun organisasi secara luas, seperti NGO, dan institusi pemerintahan bahkan
institusi pendidikan juga menggunakannya.
Pandangan lebih khusus dan sangat kalkulatif disampaikan oleh Belkaoui (2006: 349).
Belkaoui mengartikan akuntansi sosial dan lingkungan sebagai proses untuk memilih
variabel, mengukur, dan menghasilkan pengukuran dari kinerja sosial dalam tingkatan
organisasi; yang secara sistematis mengembangkan informasi yang berguna untuk evaluasi
kinerja sosial organisasi tersebut, dan mengkomunikasikan bahwa informasi untuk kelompokkelompok sosial itu adalah suatu hal yang penting, baik untuk internal maupun eksternal
organisasi. Kemudian Zarkasyi (2007: 10) mendefinisikan akuntansi sosial dan lingkungan
adalah suatu usaha untuk mengganti kerugian dengan pertimbangan bahwa organisasi
mempengaruhi, melalui tindakannya, pada lingkungan eksternal (baik secara positif dan
negatif) dan karenanya harus memperhitungkan efek-efek sebagai bagian dari keseluruhan
akuntansi sebagai tindakannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa akuntansi mempunyai perhatian

dalam caranya untuk tidak membebaskan manusia dan organisasinya tumbuh begitu saja
dengan tidak memperdulikan sosial dan lingkungannya.
Secara khusus Hendricksen dan Breda (1992: 10) menggambarkan keprihatinan organisasi
pada isu-isu dalam pandangan mikro-ekonomi akuntansi tidak harus mencakup semua efek
organisasi terhadap masyarakat. Adalah penting biaya polusi terhadap lingkungan,
pengangguran, kondisi kerja yang tidak sehat, dan masalah sosial lainnya biasanya tidak
dilaporkan oleh organisasi, kecuali bahwa biaya tersebut ditanggung langsung oleh organisasi
melalui perpajakan dan regulasi.
Menurut Sahid (2002), ada beberapa pengertian akuntansi lingkungan atau akuntansi sosial,
ada pengertian yang luas dan ada pula pengertian yang sempit. Dalam pengertian yang luas
dalam himpunan istilah lingkungan untuk manajemen (Handry Satriago), akuntansi
lingkungan merupakan proses akunting yang:
a.

Mengenali, mencari, dan kemudian mengurangi efek-efek lingkungan negatif dari

pelaksanaan praktik laporan yang konvensional;


b.

Mengenali secara terpisah biaya-biaya dan penghasilan yang berhubungan dengan

lingkungan dalam sistem laporan yang konvensional;


c.

Mengambil

langkah-langkah

aktif

untuk

menyusun

inisiatif-inisiatif

untuk

memperbaiki efek-efek lingkungan yang timbul dari praktik-praktik pelaporan konvensional;


d.

Merencanakan bentuk-bentuk baru sistem laporan finansial dan non finansial, sistem

informasi dan sistem pengawasan untuk lebih mendukung keputusan manajemen yang secara
lingkungan tidak berbahaya;
e.

Mengembangkan bentuk-bentuk baru dalam pengukuran kinerja, pelaporan, dan

penilaian untuk tujuan internal dan eksternal;


f.

Mengenali, menguji, mencari dan memperbaiki area-area dimana kriteria finansial

konvensional dan kriteria lingkungan bertentangan;


g.

Mencoba cara-cara dimana sistem berkelanjutan dapat dinilai dan digabungkan

menjadi kebiasaan yang berhubungan dengan organisasi.


Dalam pengertian sempit, sebagaimana dikemukakan dalam Natural Resource Accounting,
salah satu dokumen INTOSAI Working Group on Environtmental Auditingmenyatakan bahwa

akuntansi lingkungan sebagai kompilasi data lingkungan dalam kerangka kerja akuntansi.
(Sahid, 2002)
Dari definisi-definisi tersebut dapat dilihat bahwa akuntansi sosial memberikan gambaran
mengenai interaksi dari aktivitas perusahaan terhadap lingkungan sosialnya. Akuntansi sosial
juga memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi kinerja
sosial dari perusahaan.
Dari beberapa pengertian akuntansi sosial di atas maka dapt dismpulkan dari pengertian
akuntansi sosialadalah mengidentifikasi, mengukur dan melaporkan hubungan antara bisnis
dan lingkungannya. Lingkungan bisnis meliputi sumber daya alam, komunitas dimasa bisnis
tersebut beroperasi, orang-orang yang dipekerjakan, pelanggan, pesaing, dan perusahaan serta
kelompok lain yang berurusan dengan bisnis tersebut. Prose pelaporan dapat bersifat baik
internal maupun eksternal.

2. Fase-Fase Perkembangan Akuntansi Sosial dan Lingkungan


Avatar Grace adalah seorang peneliti flora dan fauna yang berpendapat bahwa lingkungan
Pandora mempunyai sistem bio-botanical neural network. Bio-botanical neural network ini
mempunyai satu kesatuan dalam system alam yang tidak dapat dipisahkan. Bila satu
dihancurkan akan berpengaruh kepada yang lain. Avatar pada sistem kehidupan penduduk
Navi mempunyai fase pertumbuhan dan pengembangan dengan sistem jaringan neural
(saraf).
Metafora ini seiring dengan fase-fase perkembangan akuntansi sosial dan lingkungan (Lihat
Gambar 1 dibawah ini). Gambar tersebut adalah sistem jaringan saraf yang antara satu
dengan yang lain mempunyai kaitan dan saling mempunyai relasi. Menariknya dari Gambar
tersebut adalah Jurusan Akuntansi Universitas Brawijaya (JAUB) berada dalam system
jaringan saraf perkembangan akuntansi sosial dan lingkungan dunia. JAUB masuk dalam
pusaran jaringan saraf ke sepuluh dengan kontribusi nya pada titik saraf sosio-spiritual
akuntansi. Mari kita telaah kontribusi JAUB pada Perkembangan Akuntansi Sosial dan
Lingkungan di Dunia ini.
Fase Pertama Howard Bowen

Howard Bowen (1908-1989) adalah seorang historian ekonom Amerika yang memberikan
inspirasi kemunculan akuntansi sosial dan lingkungan. Bowen mengawali karirnya di
University of Iowa, hingga keposisi the presiden of Grinnell College, the University of Iowa.
Kontribusi Bowen adalah dengan publikasi buku dengan judul Social Responsibility of
Businessmen tahun 1953. Bowen (1953) meletakan dasar konsep ini dengan mengatakan
it refers to the obligation of businessman to pursue those policies, to make those
decisions, or to follow those lines of action which are desirable in terms of the objectives and
values of our society .
Kemudian secara kolektif dijadikan landasan awal mendefinisikan tanggungjawab sosial bagi
kewajiban pelaku bisnis untuk menetapkan tujuan bisnis yang selaras dengan tujuan
(objectives) dan nilai-nilai masyarakat (Society values). Konsep ini merontokan faham
ekonomi yang dengan perngorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil yang sebesarbesarnya. Jadi sudah lama hukum ekonomi yang selalu kita dengar di sekitar kita ini telah
rontok. Jangan lah kita pakai lagi pemahaman hukum ekonomi ini, berkorban sedikit untuk
hasil yang sebesarnya. Nilai-nilai sosial dan lingkungan harus menjadi tujuan organisasi.
Sekalipun masa itu belum sangat berarti dalam perkembangannya, tetapi American
Accounting Association (1971) mencatat bahwa fase ini mulai bermunculan gagasan, konsep,
proposal dan pendekatan untuk memperkenalkan awal akuntansi sosial dan lingkungan.
Asosiasi ini berpandangan bahwa Non-Financial Measures (atau Pengukuran Non Keuangan)
adalah penting untuk efektivitas operasional organisasi.
Fase Kedua Keith Davis
Menyambung apa yang digagas oleh Bowen (1953), Davis (1960) memperkenalkan tulisnya
tentang Can Business Afford to Ignore its Social Responsibilities? Davis secara tajam
berpandangan bahwa tanggungjawab sosial harus dimiliki oleh organisasi. Businesses'
decisions and actions taken for reasons at least partially beyond the firms direct economic
or technical interest (Davis, 1960)
Dengan pernyataan ini Davis menegaskan adanya tanggung jawab sosial organisasi di luar
tanggung jawab ekonomi semata. Argumen Davis menjadi sangat relevan, karena pada masa
tersebut (1960an) pandangan mengenai tanggung jawab sosial organisasi masih sangat
didominasi oleh pemikiran para ekonom klasik. Pada saat itu, para ekonom klasik
memandang para pelaku bisnis itu memiliki tanggung jawab sosial sebatas penggunaan
sumber daya organisasi mereka secara efisien, untuk menghasilkan barang dan jasa dengan

harga yang terjangkau oleh masyarakat. Tanggungjawab sosial mereka sebatas masyarakat
dapat membeli dengan harga yang telah diciptakan secara efisien. Bila hal tersebut berjalan
dengan baik maka organisasi akan mendapatkan keuntungan atas penjualan dan kemudian
organisasi akan mampu melakukan tanggung jawab sosialnya, seperti:
a. Menciptakan lapangan kerja.
b. Memberi kontribusi untuk pemerintahan dengan cara membayar pajak.
c. Menghasilkan barang dengan harga yang rasional.
Para ekonom klasik ini secara kuat berpandangan bahwa memupuk laba semaksimal mungkin
adalah cara klasik mereka dalam berbisnis.

Fase Ketiga US Committee for Economic Development in 1971


Committee for Economic Development (CED) adalah organisasi non-profit dan non-partisan
Amerika yang beranggotakan 200 senior corporate executives dan pemimpin universitas
terkemuka membuat laporan sangat fenomena tahun 1971 berjudul Social Responsibilities
of Business Corporations. Laporan tersebut menggunakan three concentric circles yaitu
Firstly, the inner circle included basic economic functionsgrowth, products, jobs. Secondly,
the intermediate circle suggested that the economic functions must be exercised with a
sensitive awareness of changing social values and priorities.
And thirdly, the outer circle outlined newly emerging and still amorphous responsibilities that
business should assume to become more actively involved in improving the social
Environment (Carroll, 1991)
Three concentric cicles ini dapat difahami bahwa
1.

Inner circle of responsibilities (lingkaran tanggungjawab terdalam)

Pada lingkaran ini organisasi bisnis diharapkan mampu melaksanakan pertumbuhan ekonomi,
menghasilkan barang/ jasa, dan menyediakan aktivitas pekerjaan kepada masyarakat.
2.

Intermediate circle of responsibilities (lingkaran tanggungjawab menengah)

Menunjukkan tanggung jawab untuk melaksanakan fungsi ekonomi sementara pada saat yang
sama memiliki kepekaan kesadaran terhadap perubahan nilai-nilai dan prioritas-prioritas

sosial seperti meningkatnya perhatian terhadap konservasi lingkungan hidup, hubungan


dengan karyawan, meningkatnya ekspektasi konsumen untuk memperoleh informasi produk
yang jelas, serta perlakuan yang adil terhadap karyawan di tempat bekerja.
3.

Outer circle of responsibilities (lingkaran tanggung jawab terluar)

Mencakup kewajiban perusahaan untuk lebih aktif dalam meningkatkan kualitas lingkungan
sosial. Pada tahun 1971 ini ditandai dengan pemahaman yang komprehensif terhadap
akuntansi sosial dan lingkungan dalam kehidupan bisnis, sebagai akibat three concentric
cicles.
Today it is clear that the terms of social contract between society and business are, in fact,
changing in substantial and important ways. Business is being ask to assume broader
responsibilities to society than ever before and to serve a wider range of human values.
Business enterprise, in effect, are being asked to contribute more to the quality of American
life than just supplying quantities of goods and services.
Carroll (1979) menjelaskan komponen-komponen tanggungjawab sosial organisasi bisnis ke
dalam empat kategori, yaitu:
1.

Economic responsibilities, tanggungjawab sosial pada kategori ini berlandaskan

bahwa motif profit adalah motif utama dalam membangun organisasi bisnis. Organisasi bisnis
pada dasarnya adalah tanggungjawab ekonomi karena lembaga bisnis terdiri atas aktivitas
ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa bagi masyarakat yang menguntungkan.
2.

Legal responsibilities, tanggungjawab organisasi dalm menjalankan bisnis yaitu

dengan menaati hukum dan peraturan yang berlaku di mana hukum dan peraturan tersebut
pada hakikatnya dibuat oleh masyarakat melalui lembaga legislatif. Tanggungjawab legal ini
adalah koridor dan sistem untuk mengatur organisasi dalam berbisnis.
3.

Ethical responsibilities, organisasi diharapkan menjalankan bisnisnya secara etis

dan norma moral masyarakat. Masing-masing pihak dalam menjalankan bisnis diatur standar,
etika, norma agar masing-masing puas dalam berbisnis.
4.

Discretionary responsibilities, tanggungjawab ini bersumber pada pandangan

bahwa keberadaan dari organisasi diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat.


Ekspektasi masyarakat tersebut dipenuhi oleh organisasi melalui berbagai program yang
bersifat Filantropis (kedermawanan).

Selain isu mengenai kapasitas organisasi dalam memberikan respons terhadap tekanantekanan sosial yang akan tercermin dari citra organisasi di mata publik, perkembangan
akuntansi sosial pada tahun 1970-an sampai 1980-an juga lingmencatat adanya kebutuhan
baru dari organisasi yang melaksanakan aktivitas pelaporan sosial dan lingkungan agar
aktivitas sosial dan lingkungan yang mereka lakukan terukur. Oleh karenanya, para peneliti
seperti Carroll (1979); Wartick dan Cochran (1985); dan Wood (1991) mengembangkan
konsep yang disebut dengan corporate social performance (CSP), yang didalamnya
mengandung tiga dimensi, yaitu:
1.

Dimensi kategori tanggung jawab sosial (ekonomi, hukum, etika, dan discretionary).

2.

Dimensi kemampuan memberikan respons (responsiveness).

3.

Dimensi dalam isu sosial tempat perusahaan terlibat (lingkungan, diskriminasi pekerja,

keamanan produk, keselamatan pekerja dan pemegang saham).


Berkaitan dengan hal tersebut, Wood (1991) mendefinisikan CSP sebagai: a business
organization`s of principle of social responsibilities, process of social responsiveness, and
policies, programs and observable outcomes as they relate to the firm`s societal relationship.
Sebagaimana dapat dilihat dari definisi CSP tersebut, dampak pelaksanaan akuntansi sosial
dan lingkungan yang dapat diamati (observable outcome) merupakan isu penting dalam
model CSP yang membedakannya dengan konsep akuntansi sosial dan lingkungan generasi
awal. Hal ini sejalan dengan menguatnya tuntutan agar pelaksanaan akuntansi sosial dan
lingkungan dapat memberikan dampak yang terukur serta memberikan kontribusi terhadap
kinerja keuangan organisasi.
Fase Keempat Mandatori Regulasi Perancis Pertama di Dunia
Davis (1960) kemudian mempertegas argumennya dengan statemen tentang iron law of
responsibility yang menjadi fase ini tumbuh sebagai penyemangat kemunculan akuntansi
sosial dan lingkungan. Davis menyatakan bahwa: social responsibility of businessman
need to be commensurate with their social powerthen the avoidance of social responsibility
leads to gradual erosion of social power .Argumen-argumen yang dibangun oleh Davis,
menjadi cikal bakal untuk identifikasi kewajiban organisasi bisnis yang akan mendorong
munculnya konsep akuntansi sosial dan lingkungan di era 70-an. Selain itu, konsepsi Davis
mengenai iron law of responsibility menjadi acuan bagi pentingnya reputasi dan
legitimasi publik atas keberadaan suatu organisasi. Negara Amerika lebih dulu

mengembangkan tanggungjawab ini, kendatipun regulasi belum dilaksanakan secara


mandatory. Beberapa Negara seperti German dan Eropa Barat kemudian mengikuti
mengadopsi regulasi yang pertama dilakukan oleh Amerika tentang laporan tanggungjawab
sosial (Social Responsibility Reporting) (Preston, et.al 1978). Perancis adalah Negara yang
pertama pada tahun 1977 mewajibkan organisasi bisnis untuk melaporkan kegiatan
tanggungjawab sosialnya.
the only country that actually did introduce legislation requiring corporate social
reporting at this time was France in 1977. The French law mandates a report "composed of a
lengthy list of indicators open to ulterior statistical treatments and multiple interpretations"
and its scope is quite narrow, covering employee issues butno impacts of business on the
social or natural environment "even though preliminary work had provided for this
possibility" (Capron 1997, p.3)
Fase ini membawa perubahan yang sangat mendasar tentang beberapa persyaratan detail
tentang pelaporan akuntansi sosial dan lingkungan. Kendatipun hal ini masih terbatas di
Perancis, tetapi regulasi ini menjadi dasar kajian beberapa Negara maju untuk mulai
memikirkan tentang implementasi akuntansi sosial dan lingkungan.

Fase Kelima Runtuhnya Ekonomi Sosialis


Runtuhnya ekonomi sosialis yang disongsong dengan ekonomi neoliberalisme yang
konservatif pada tahun 1980an mengakibatkan stagnan pengembangan akuntansi sosial dan
lingkungan. Propaganda kedermawanan para pemilik perusahaan besar mulai mengatur
strategi baru untuk extra hati-hati terhadap pengeluaran dana mereka. Para pemegang saham
perusahaan besar mengencangkan ikat pinggang mereka terhadap tanggungjawab sosial
mereka. Apalagi pada runtuhnya ekonomi sosialis juga dibarengi dengan kinerja perusahaanperusahaan besar ternama melorot tajam, seperti IBM, General Motors dan Westinghouse di
Amerika. Saat bersamaan pula terjadinya skandal keuangan oleh antara lain Maxwell dan
Adir di UK, hal ini berakibat munculnya regulasi tentang corporate governance yang
mengutamakan para pemegang saham. Ini berdampak ketatnya pengendalian keuangan
organisasi-organisasi bisnis besar dunia.

Sekalipun masa tersebut terjadi resistan dan pengendalian keuangan yang ketat, konsep dan
kerangka model akuntansi sosial dan pelaporannya tetap berjalan. Hanya pada masa ini
beberapa konsep baru dengan nama baru mulai muncul. Istilah baru tersebut adalah Socially
Responsible Investing (SRI). SRI ini banyak digunakan pada umumnya di UK.
Fase Keenam Balance Scorecard
Fase ini merupakan bentuk kombinasi finansiil dan non-finansiil dalam menilai kinerja
organisasi. Diperkenalkan pertama kali tahun 1987 oleh Art Schneiderman, yang kemudian
didesain ulang secara komprehensif oleh Kaplan dan Norton (1990). Akuntansi sosial dan
lingkungan mendapatkan tempat tersendiri dalam kemunculan Balance Scorecard. Ke empat
perspektif sangat fenomenal tersebut adalah

Financial: encourages the identification of a few relevant high-level financial measures. In


particular, designers were encouraged to choose measures that helped inform the answer to
the question "How do we look to shareholders?"

Customer: encourages the identification of measures that answer the question "How do
customers see us?"

Internal Business Processes: encourages the identification of measures that answer the
question "What must we excel at?"

Learning and Growth: encourages the identification of measures that answer the question
"Can we continue to improve and create value?".
Awal tahun 1990an merupakan booming model pelaporan akuntansi sosial dan lingkungan
dengan memanfaatkan konsep Balance Scorecard. Banyak perusahaan besar di Amerika dan
Eropa menggunakan konsep ini agar mereka mampu mengekspresikan kepedulian
organisasinya kepada stakeholdernya.
Fase Ketujuh Robert Hugh Gray
Kontribusi Gray (1992) untuk pengembangan akuntansi sosial dan lingkungan tidak
diragukan lagi. Publikasinya telah mewarnai konsep akuntansi sosial dan lingkungan hingga
gagasan accounting for sustainability. Gray (1993) mengidentifikasikan warna yang beda
terhadap metode akuntansi sustainabilitas. Metode tersebut adalah

1.

Sustainable Cost, metode ini memberikan penekanan pada biaya yang harus

dikeluarkan oleh organisasi pada akhir periode akuntansi, untuk mengembalikan dampak
lingkungan hidup seperti posisi semula.
2.

Natural Capital Inventory Accounting, metode ini memberikan perhatian serius

terhadap keberadaan Modal Alam (Natural Capital), sebagai penyertaan yang selalu ada.
3.

Input Output Analysis, metode ini melaporkan arus fisik pemanfaatan material

dan energy dan keluar atas produk dan barang sisa dalam unit.
Pada Fase ini, pemahaman akuntansi sosial dan lingkungan secara khusus didesain secara
quantitative dalam bentuk nilai moneter, sebagaimana melengkapi akuntansi konvensional
selama ini.
Fase Kedelapan John Elkingtons Triple Bottom Line
Elkington (1997) adalah peletak dasar konsep triple bottom line. Konsep ini memberikan
inspirasi lebih serius tentang perluasan akuntansi konvensioanl yang single bottom line, yaitu
keuangan saja. Istilah Triple Bottom Linemenjadi penting saat people, planet dan profit
ditawarkan menjadi konsep akuntansi pertanggungjawaban sosial dan lingkungan.
1.

Profit (Keuntungan perusahaan)

Perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan
untuk terus beroperasi dan berkembang.
2.

People (Kesejahteraan manusia/masyarakat)

Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia. Beberapa perusahaan


mengembangkan program Corporate Social Responsibility seperti pemberian beasiswa bagi
pelajar di sekitar perusahaan, pendirian sarana pendidikan dan kesehatan, penguatan kapasitas
ekonomi lokal dan bahkan ada perusahaan yang merancang berbagai skema perlindungan
sosial bagi warga setempat.
3.

Planet (Keberlanjutan lingkungan hidup)

Perusahaan peduli terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan keragaman hayati. Beberapa
program Corporate Social Responsibility yang berpijak pada prinsip ini biasanya berupa
penghijauan lingkungan hidup, penyediaan sarana air bersih, perbaikan pemukiman dan
pengembangan pariwisata.

Triple bottom line dengan triple P dapat disimpulkan bahwa profit sebagai wujud aspek
ekonomi, planet sebagai wujud aspek lingkungan dan people sebagai aspek sosial. Dan jika
dirinci lebih lanjut dari ketiga aspek Tripple Bottom Line, maka ketiga aspek tersebut dapat
diwujudkan dalam kegiatan berikut:
1.

Aspek Sosial, misalnya: pendidikan, pelatihan, kesehatan, perumahan,penguatan

kelembagaan (secara internal, termasuk kesejahteraan karyawan) kesejahteraan sosial,


olahraga pemuda, wanita, agama, kebudayaan dan sebagainya.
2.

Aspek Ekonomi, misalnya: kewirausahaan, kelompok usaha bersama/unit mikro

kecil dan menegah, agrobisnis, pembukaan lapangan pekerjaan, infrastruktur ekonomi dan
usaha produktif lain.
3.

Aspek Lingkungan,misalnya: penghijauan, reklamasi lahan, pengelolaan air,

pelestarian alam, ekowisata penyehatan lingkungan, pegendalian polusi, serta penggunaan


produksi dan energi secara efisien.
Ketiga aspek tersebut tanpa kehadiran aspek spiritual yang implementasinya dibutuhkan
strategi tertentu. Adapun strategi dasar yang dapat digunakan dalam implementasi akuntansi
sosial dan lingkungan tersebut adalah:
1.

Penguatan kapasitas (capacity building)

2.

Kemitraan (collaboration), dan

3.

Penerapan inovasi.

Sedangkan menurut Brodshaw dan Vogel (1981) menyatakan bahwa ada tiga dimensi dari
garis besar ruang lingkup akuntansi sosial dan lingkungan yaitu sebagai berikut:
1.

Corporate philantrophy adalah usaha-usaha amal yang dilakukan oleh suatu

organisasi, dimana usaha-usaha amal ini tidak berhubungan secara langsung dengan kegiatan
normal organisasi.
2.

Corporate responsibility adalah usaha-usaha wujud tanggung jawab sosial

organisasi ketika sedang mengejar profitabilitas sebagai tujuan organisasi.


3.

Corporate policy adalah berkaitan erat dengan bagaimana hubungan organisasi

dengan pemerintah yang meliputi posisi suatu organisasi dengan adanya berbagai kebijakan
pemerintah yang mempengaruhi baik untuk organisasi atau masyarakat secara keseluruhan.

Akuntansi sosial dan lingkungan pada fase ini mulai disibukkan dengan model laporan yang
memberikan kategori relasi aktivitas berhubungan dengan masyarakat, ekonomi dan
lingkungan.
Fase Kesembilan Sustainability Reporting
Pada waktu yang hampir bersamaan dengan Elkington (1997), NGO CERES (Coalition for
Environmentally Responsible Economies) dan the United Nations Environment Programmes
(UNEP) mendirikan GRI (Global Reporting Initiative), organisasi independen yang
membangun standar Sustainability Reporting. Guideline GRI pertama dikeluarkan tahun
1999 (GRI, 1997)
GRI was set up to develop and disseminate globally applicable Sustainability Reporting
Guidelines. It helps organisations and their stakeholders to report on the economic,
environmental, and social dimensions of their activities, products, and services, using six
extra-financial indicators.
The GRI recognises the need for non-financial indicators to measure a company's impact in
terms of sustainable development and also to assess its overall performance, a factor that
contributes to its future profitability.
GRI mengidentifikasikan 6 (enam) extra-indikator keuangan: aspek kemasyarakatan,
ekonomi, lingkungan, ketenagakerjaan, hak asasi manusia, tanggungjawab produk. Hingga
sekarang GRI telah mengeluarkan pedoman generasi ke 3 (G3 GRI) pada tahun 2006. Fase
ini membawa perkembangan akuntansi sosial dan lingkungan menjadi lebih baik dan menjadi
pola adopsi yang cukup luas. Model pelaporan GRI G3 ini menginspirasi model pelaporan
akuntansi sosial dan lingkungan sebagai alternatif pelaporan akuntansi konvensional. Model
GRI ini disimpulkan dengan tanpa kehadiran aspek spiritual, yang banyak ahli dari banyak
lintas disiplin ilmu, mempunyai banyak terobosan pelaporan komprehensif aktivitas bisnis,
kendatipun tanpa aspek spiritual ada di dalamnya.
Fase Kesepuluh Sosio-Spiritualitas Akuntansi
Akuntansi telah memasuki phenomena baru beyond materiality (Sukoharsono, 2008). Akhir
tahun 2000, Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya memperkenalkan
pemahaman akuntansi tidak hanya terbatas pada angka moneter dan tabel jurnal transaksi
ekonomi, tetapi juga memperkenalkan relasi spiritualitas dan metafisika (Sukoharsono,
2009). Spiritualitas dipahami bahwa setiap individu dan organisasi (kelompok orang)

mempunyai tanggungjawab membangun peristiwa-peristiwa ekonomi, sosial dan lingkungan


dalam organisasi nya yang direlasikan dengan holy spirit.
Holy spirit merupakan bentuk berbasis religiusitas dan universalitas. Pada pembahasan ini
lebih diutamakan holy spirit dalam bentuk universalitas yang dapat dimaknai dengan kasih
yang tulus (merciful), cinta yang tulus (truthful love), kesadaran transcendental, mampu
melakukan kontemplasi diri, dan kejujuran. Lima dimensi ini adalah indikator utama dalam
proses pertanggungjawaban individu dan organisasi disekelilingnya. Sosio-Spiritualitas
Akuntansi menjadi penting dalam upaya menanamkan holy spirit dalam mengkreasi dan
melaksanakan pertanggungjawaban terhadap peristiwa-peristiwa ekonomi, sosial dan
lingkungan dalam kesatuan organisasi.
Walaupun konvensi akuntansi menggunakan monetary unit dalam pengukuran dan diskursus
kebijakannya, sosio-spiritual akuntansi dibangun dengan memanfaatan multiple units of
measurements untuk menilai kinerja individu dan organisasi. Multiple units of measurements
ini pada dasarnya untuk memberikan assessmen terhadap 5 (lima) unsur holy spirit: kasih
yang tulus (merciful), cinta yang tulus (truthful love), kesadaran transcendental, mampu
melakukan kontemplasi diri, dan kejujuran.
Fase Kesepuluh ini JAUB mengajak dunia Akuntansi sadar akan nilai-nilai diatas materialitas
(beyond materiality). Sosio Spiritual Akuntansi hadir untuk mengkodifikasi kinerja individu
dan organisasi pada ke 5 (lima) unsur holy spirit tersebut yang dilaporkan secara periodik
kepada stakeholders.

3. Tujuan Akuntansi Sosial


Adapun tujuan akuntansi sosial menurut Hendriksen (1994) adalah untuk memberikan
informasi yang memungkinkan pengaruh kegiatan perusahaan terhadap masyarakat dapat di
evaluasi. Ramanathan (1976) dalam Arief Suadi (1988) juga menguraikan tiga tujuan dari
akuntansi sosial yaitu : (1) mengidentifikasikan dan mengukur kontribusi sosial neto periodik
suatu perusahaan, yang meliputi bukan hanya manfaat dan biaya sosial yang di
internalisasikan keperusahaan, namun juga timbul dari eksternalitas yang mempengaruhi
segmen-segmen sosial yang berbeda, (2) membantu menentukan apakah strategi dan praktik
perusahaan yang secara langsung mempengaruhi relatifitas sumberdaya dan status individu,
masyarakat dan segmen-segmen sosial adalah konsisten dengan prioritas sosial yang

diberikan secara luas pada satu pihak dan aspirasi individu pada pihak lain, (3) memberikan
dengan cara yang optimal, kepada semua kelompok sosial, informasi yang relevan tentang
tujuan, kebijakan, program, strategi dan kontribusi suatu perusahaan terhadap tujuan-tujuan
sosial perusahaan.
Berdasarkan tujuan akuntansi sosial yang diuraikan diatas dapat dipahami bahwa akuntansi
sosial berperan dan menjalankan fungsinya sebagai bahasa bisnis yang mengakomodasi
masalahmasalah sosial yang dihadapi oleh perusahaan, sehingga pospos biaya sosial yang
dikeluarkan kepada masyarakat dapat menunjang operasional dan pencapaian tujuan jangka
panjang perusahaan.

4. Tanggungjawab Sosial dan Lingkungan


Tanggung jawab sosial ini erat kaitannya dengan munculnya konsep coorporate
social responsibility (CSR). Secara singkat CSR merupakan suatu upaya untuk meningkatkan
kualitas hidup dari stakeholder. Stakeholder yang dimaksudkan disini diantaranya adalah
karyawan, pembeli, pemilik, pemasok, dan komunitas lokal, organisasi nirlaba,
aktivis, pemerintah, dan media, yang pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama yakni
kemakmuran. Dengan demikian, perusahaan sebagai entitas bisnis hendaknya peduli terhadap
akibat sosial dan berusaha mengatasi kerugian lingkungan sebagai akibat dari aktivitas usaha
perusahaan.
Kita ketahui bersama Prinsip perusahaan yang profit ini ingin mendapatkan keuntungan yang
sebesar-besarnya

tanpa

memikirkan

lingkungan

sekitarnya.

Sehingga

seringkali

menyebabkan tindakan yang menjurus menghalalkan segala cara. Polusi air dan udara,
kebisingan suara, keracunan, radiasi, kemacetan lalu lintas, produksi makanan haram, serta
limbah kimia yang bisa mengancam masyarakat dan ekosistem adalah suatu contoh bentuk
dampak negatif (negative externalities) yang dapat timbul dari keberadaan dan aktivitas
perusahaan. Dalam usaha untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi sering kali
mengakibatkan perusakan lingkungan, berupa pencemaran air, penggundulan hutan,
pencemaran udara, dan lainnya. Perusahaan menganggap semua yang dilakukannya sebagai
eksternalitas dari usaha meningkatkan produktivitas dan efisiensi perusahaan. Tapi tindakan
perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi tersebut, di satu sisi hanya akan
meningkatkan produktivitas perusahaan, tetapi di sisi lain juga mungkin akan merugikan

pihak-pihak yang berkepentingan, antara lain karyawan, konsumen, dan tentu saja
masyarakat.
Keberadaan perusahaan tidak terlepas dari kepentingan berbagai pihak. Investor
berkepentingan terhadap sumber
berkepentingan

terhadap

daya yang diinvestasikan di perusahaan. Kreditor

pengembalian

pokok

dan

bunga

pinjaman.

Pemerintah

berkepentingan terhadap kepatuhan perusahaan terhadap peraturan yang berlaku agar


kepentingan masyarakat secara umum tidak terganggu (Satyo, 2005). Namun, yang tak kalah
pentingnya adalah pihak-pihak yang selama ini kurang mendapat perhatian, yaitu karyawan,
pemasok, pelanggan, dan masyarakat di sekitar perusahaan. Karyawan perlu mendapatkan
penghasilan dan jaminan sosial yang layak. Bila memungkinkan, karyawan memerlukan
pendidikan dan pelatihan teknis untuk meningkatkan keahlian sehingga dapat meningkatkan
karier di perusahaan. Pemasok berkepentingan terhadap pelunasan utang dagang. Pelanggan
berkepentingan terhadap kualitas produk perusahaan. Terakhir, masyarakat yang tinggal di
sekitar perusahaan berkepentingan terhadap dampak sosial dan lingkungan yang berasal dari
aktivitas perusahaan. Dengan berbagai dampak dari keberadaan perusahaan ditengah-tengah
masyarakat, menyadarkan masyarakat di dunia bahwa sumber daya alam adalah terbatas dan
oleh karenanya pembangunan ekonomi harus dilaksanakan secara berkelanjutan, dengan
konsekuensi bahwa perusahaan dalam menjalankan usahanya perlu menggunakan
sumberdaya dengan efisien dan memastikan bahwa sumber daya tersebut tidak habis,
sehingga tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi di masa datang.

5. Akuntansi Pertanggungjawaban Sosial dan Lingkungan


Akuntansi pertanggungjawaban sosial merupakan penerapan akuntansi dalam ilmu sosial, ini
menyangkut pengaturan, pengukuran, analisis dan pengungkapan pengaruh kegiatan ekonomi
dan sosial dari kegiatan yang bersifat mikro dan makro pada kegiatan pemerintah
maupun perusahaan.

Kegiatan pada tingkat makro bertujuan untuk mengukur dan

mengungkapkan kegiatan ekonomi dan sosial suatu negara, mencakup akuntansi sosial dan
pelaporan akuntansi dalam pembangunan ekonomi. Pada tingkat mikro bertujuan untuk
mengukur dan melaporkan pengaruh kegiatan perusahaan terhadap lingkungan yang
mencakup, financial, managerial social accounting dan social auditing.
Akuntansi pertanggungjawaban sosial juga merupakan alat yang sangat berguna bagi
perusahaan dalam mengungkapan aktivitas sosialnya di dalam laporan keuangan.

Pengungkapan tanggung jawab sosial dalam laporan keuangan penting karena melalui social
reporting disclosure, pemakai laporan keuangan akan dapat menganalisis sejauh mana
perhatian dan tanggung jawab sosial perusahaan dalam menjalankan bisnis.
Adapun Tujuan akuntansi pertanggungjawaban sosial yaitu :
a.

Untuk meningkatkan citra perusahaan dan untuk mempertahankan biasanya secara

implisit, asumsi bahwa perilaku perusahaan secara fundamental adalah baik.


b.

Untuk membebaskan akuntabilitas organisasi atas dasar asumsi adanya kotrak sosial

diantara organnisasi dan masyarakat. Keberadaan kontrak sosial ini menuntut dibebaskannya
akuntabilitas sosial.
c.

Sebagai perpanjangan dari pelaporan keuangan tradisional dan tujuannya memberikan

informasi kepada investor.

6. Teori Yang Mendukung Laporan Pertanggungjawaban Sosial Dan Lingkungan


Teori-teori yang Mendukung Laporan Pertanggungjawaban Sosial dan Lingkungan
yaituLegitimacy theory dan Stakeholder Theory. Legitimacy theory menjelaskan bahwa
organisasi secara kontinu akan beroperasi sesuai dengan batas-batas dan nilai yang diterima
oleh masyarakat di sekitar perusahaan dalam usaha untuk mendapatkan legitimasi. Proses
untuk mendapatkan legitimasi berkaitan dengan kontrak sosial antara yang dibuat oleh
perusahaan dengan berbagai pihak dalam masyarakat. Kinerja perusahaan tidak hanya diukur
dengan laba yang dihasilkan oleh perusahaan, tetapi ukuran kinerja lainnya yang berkaitan
dengan berbagai pihak yang berkepentingan. Untuk mendapatkan legitimasi perusahaan harus
memiliki insentif untuk melakukan kegiatan sosial yang diharapkan oleh masyarakat di
sekitar kegiatan operasional perusahaan. Sedangkan Stakeholder merupakan individu,
sekelompok manusia, komunitas atau masyarakat baik secara keseluruhan maupun secara
parsial yang memiliki hubungan serta kepentingan terhadap perusahaan. Individu, kelompok,
maupun komunitas dan masyarakat dapat dikatakan sebagai stakeholder jika memiliki
karakteristik seperti mempunyai kekuasaan, legitimasi, dan kepentingan terhadap perusahaan.
Dengan menggunakan definisi diatas, pemerintah bisa saja dikatakan sebagaistakeholder bagi
perusahaan karena pemerintah mempunyai kepentingan atas aktivitas perusahaan dan
keberadaan perusahaan sebagai salah satu elemen sistem sosial dalam sebuah negara oleh

karena itu, perusahaan tidak bisa mengabaikan eksistensi pemerintah dalam melakukan
operasinya. Hal tersebut berlaku sama bagi komunitas lokal, karyawan, pemasok, pelanggan,
investor dan kreditor yang masing-masing elemen stakeholder tersebut memiliki kekuasaan,
legitimasi, dan kepentingan sehingga masing-masing elemen tersebut membuat sebuah
hubungan fungsional dengan perusahaan untuk bisa memenuhi kebutuhannya masingmasing. Stakeholder sendiri memiliki bermacam-macam definisi yang kesemuanya memiliki
kesamaan. Hanya saja, fokus dan penekanan yang berbeda memberikan ruang perdebatan
mengenai apa itu stakeholder. Definisi stakeholder dalam beberapa literatur adalah sebagai
berikut,Segenap pihak yang terkait dengan isu dan permasalahan yang sedang
diangkat,semua yang melandasi suatu pihak menjadi stakeholder adalah ada atau tidaknya
kepentingan darinya yang terkait. Stakeholder bermacam-macam,tergantung situasi dan
kondisi.
Menurut Gaffikin (2008 : 201), ide pertanggungjawaban sosial perusahaan bisnis sudah ada
pada zaman Yunani Klasik. Perusahaan bisnis diharapkan untuk menerapkan standar yang
tinggi mengenai moralitas dalam perdagangan. Pada zaman pertengahan di Eropa, Gereja
mewajibkan industri dan perusahaan bisnis berperilaku sesuai dengan kode moral Gereja. Isu
ini kemudian menjadi hangat di Amerika Serikat pada tahun 1960. Pada tahun 2000 perhatian
serupa diberikan oleh Global Reporting Initiative (GRI), sebagai bagian dari program
lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang memberikan pedoman SR yang meliputi tiga
elemen, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial yang selanjutnya direvisi pada tahun 2002
(Satyo, 2005).
Hal lain yang memicu timbulnya pemikiran akuntansi pertanggungjawaban sosial ini
adalah perubahan pandangan manajemen dalam pengelolaan perusahaan. Pandangan
manajemen klasik mengungkapkan bahwa ada satu dan hanya ada satu tanggungjawab
perusahaan, yaitu untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya guna menambah nilai suatu
perusahaan. Sebaliknya, pandangan manajemen modern mengungkapkan bahwa kebijakan
perusahaan

dibuat

dengan

mempertimbangkan

tanggung jawab

sosial

mengingat

ketergantungan perusahaan pada lingkungannya yang turut mempunyai andil dalam


pencapaian tujuan perusahaan.Tanggung jawab sosial ini erat kaitannya dengan munculnya
konsepcoorporate social responsibility (CSR). Dengan demikian, perusahaan sebagai entitas
bisnis hendaknya peduli terhadap akibat sosial dan berusaha mengatasi kerugian lingkungan
sebagai akibat dari aktivitas usaha perusahaan. Izin sosial dan legitimasi dari masyarakat
menjadi bagian kecil dari usaha untuk meningkatkan kualitas hidup tersebut. Perusahaan

tidak hanya mempunyai kewajiban-kewajiban ekonomis dan legal kepada pemegang saham
atau shareholder , tapi juga kewajiban-kewajiban terhadap pihak-pihak lain yang
berkepentingan (stakeholders) yang jangkauannya melebihi kewajiban-kewajiban di atas.

7. Pengukuran Akuntansi Sosial


Dalam pertukaran yang terjadi antara perusahaan dan lingkungan sosialnya terdapat dua
dampak yang timbul yaitu dampak positif atau yang disebut juga dengan manfaat
social (Social benefit) dan dampak negatif yang disebut dengan pengorbanan sosial (Social
Cost). Masalah yang timbul adalah bagaimana mengukur kedua dampak tersebut. Menurut
Harahap (1993), masalah pengukuran akuntansi sosial memang rumit, karena jika
dibandingkan dengan transaksi biasa yang langsung dapat dicatat dan mempengaruhi posisi
keuangan, maka dalam akuntansi sosial terlebih dahulu harus diukur dampak positif dan
dampak negatif yang ditimbulkan oleh perusahaan. Lebih jauh Harahap (1993) menguraikan
beberapa metode yang biasa dipakai dalam pengukuran Akuntansi sosial yaitu;
a.

Menggunakan penilaian dengan menghitung Opportunity cost approach

b.

Menggunakan daftar kuesioner

c.

Menggunakan hubungan antara kerugian massal dengan permintaan untuk

barangperorangan dalam menghitung kerugian masyarakat


d.

Menggunakan reaksi pasar dalam menentukan harga

Ansry Zulfikar (1987) dalam Achmad Sonhadji (1989) memberikan beberapa teknik
pengukuran yang dapat dipakai, antara lain ;
a.

Penilaian pengganti, yaitu jika nilai dari sesuatu tidak dapat langsung ditentukan,

maka dapat mengetimasikannya dengan nilai pengganti.


b.

Teknik survey, yaitu mencakup cara-cara untuk mendapatkan informasi dari kelompok

masyarakat tentang pengukuran aktifitas sosial perusahaan.


c.

Biaya perbaikan dan pencegahan, yaitu biaya-biaya perbaikan yang dikeluarkan oleh

perusahaan sebuhubungan dengan lingkungan sosialnya.


d.

Penilaian dari penilai independen, yaitu memberikan suatu wewnang kepada pihak

luar untuk mengukur aktifitas sosial perusahaan

e.

Putusan pengadilan, yaitu dengan suatu keputusan yang mempunyai kekuatan hukum

8. Pelaporan, Pengungkapan (Disclosure) Akuntansi Sosial


Menurut Belkoui (1985) yang dikutip oleh Harahap (1993), pelaporan dalam akuntansi sosial,
berarti memuat informasi yang menyangkut dampak positif atau dampak negatif yang
ditimbulkan oleh perusahaan. Pelaporan ini menurut Belkoui (1980) dalam Sawardjono
(1991) didasari relevan atau tidaknya informasi tersebut, dan relevansi ini tergantung pada
para pemakai informasi. Menurut Sawardjono (1991), peningkatan kebutuhan informasi ini
dapat dilihat dari semakin banyaknya perusahaan yang telah melaporkan tanggungjawab
sosialnya. Di negara-negara maju seperti Amerika, Kanada, Inggeris, Australia dan Jepang,
pelaporan ini sudah merupakan hal yang lazim. Estes (1976) dalam Achmad Sondhaji (1989)
menggambarkan Praktik pelaporan akuntansi sosial yang terdiri dari :
a.

Praktik yang sederhana, yaitu laporan terdiri dari uraian akuntansi sosial yang tidak

disertai dengan data kuantitaif, baik satuan uang maupun satuan yang lainnya
b.

Praktik yang lebih maju, yaitu laporan terdiri dari uraian akuntansi sosial dan disertai

dengan data kuantitatif


c.

Praktik yang paling maju, yaitu laporan dalam bentuk kualitatif, perusahaan juga

menyusun laporannya dalam bentuk neraca.


Selanjutnya

dengan

semakin

berkembangnya

pasar

modal,

perusahaan-perusahaan

melaporkan dan mengungkapkan aktifitas sosial untuk memberikan informasi kepada pemilik
modal, calon investor dan pihak-pihak luar (stakeholders) lainnya yang juga berkepentingan.
Praktik pengungkapan sosial (social disclosure) dalam laporan tahunan perusahaan telah
dilakukan dinegara negara Eropa barat, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Singapura
dan Malaysia. Keadaan ini turut mendorong perusahaanperusahaan untuk mengungkapkan
secara sukarela untuk setiap periode mengenai lingkungan sosialnya, sehingga dapat
menunjukkan kepada kepada pihakpihak yang berkepentingan terhadap laporan tahunan
perusahaan yang dapat menjelaskan kepedulian dan kepekaan sosial suatu entitas bisnis.
Di negara Amerika Serikat praktik pengungkapan sosial ini sudah dimulai sejak tahun 1970an dan sampai saat ini FASB telah banyak merekomendasikan secara lebih spesifik tentang
standar pelaporan externalities. Davidson (1993) memberikan contoh FAS No. 5 yang

mengatur tentang penyajian dampak sosial khususnya mengenai dampak lingkungan.


Davidson (1993) seorang direktur yang menangani urusan lingkungan di Ernst dan Young
consulting Washington, mengatakan bahwa saat ini SEC (stock exchange commission) telah
menerapkan review bagi perusahaan-perusahaan yang mengungkapkan dampak lingkungan
dalam laporan tahunan mereka.
Namun demikian, pengungkapan informasi sosial di Amerika Serikat sampai saat ini masih
bersifat kerelaaan (Voluntary disclosure) dan bukan merupakan suatu kewajiban(Mandatory
disclosure), tetapi kecenderungan yang terjadi adalah perusahaan mengungkapkan aktifitas
sosial tersebut untuk mendeskripsikan lebih jauh tentang kiprah suatu perusahaan dalam
menjalankan fungsi fungsi sosialnya.
Penelitianpenelitian yang dilakukan diluar negeri menunjukkan bahwa di Inggris Ince dan
Davut (1997), Tsang dan Eric WK (1998) di Singapura, Hackson dan Milne (1996) di
Selandia Baru, Adam et.al (1997) di enam negara Eropa (Prancis,Jerman,Swiss,Inggris,dan
Belanda) dan penelitian Andrew et.al (1989) di Malaysia dan Singapura membuktikan
pengungkapan sosial perusahaan sudah menjadi hal yang lazim dilaksanakan dengan
penekanan bahwa perusahaan besar lebih banyak mengungkap informasi sosialnya
dibandingkan dengan perusahaan kecil.
Deegan dan Gordon (1991) dalam Heny dan Murtanto (2001) mengemukakan bahwa
sebagian besar pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan masih bersifat
kualitatif, dan kecenderungan perusahaan mengeungkapkan informasi positif daripada
informasi negatif.

9. Akuntansi untuk Manfaat dan Biaya Sosial


Dasar bagi kebanyakan teori akuntansi sosial datang dari analisis yang dilakukan oleh A.C.
Pigou terhadap biaya dan manfaat sosial. A.C.Pigou adalah seorang ekonom neo-klasik yang
memperkenalkan pemikiran mengenai biaya dan manfaat sosial kedalam ekonomi mikro pada
tahun 1920. Titik pentingnya adalah bahwa optimalitas-Pareto (titik dalam ekonomi
kesejahteraan dimana adalah mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan seseorang tanpa
mengurangi kesejahteraan dari orang lain) tidak dapat dicapai selama produk sosial neto dan
produk pribadi neto tidak serata.

Suatu analisis yang serupa dapat dibuat dalam hal biaya. Bagi Pigou, biaya sosial terdiri atas
seluruh biaya untuk menghasilkan suatu produk, tanpa mempedulikan siapa yang
membayarnya. Biaya yang di bayarkan oleh produsen disebut sebagai biaya pribadi. Selisih
antara biaya sosial dan biaya pribadi (disebut sebagai biaya sosial yang tidak
dikompensasikan) dan disebabkan oleh banyak faktor.
Menurut Pigou, optimalitas-Pareto hanya dapat dicapai jika manfaat sosial marginal sama
dengan biaya sosial marginal. Perbedaan antara Pigou dengan model ekonomi tradisionaldimana pendapatan marginal setara dengan biaya marginal- berasal dari perbedaan antara
manfaat sosial dan pribadi dengan biaya sosial dan pribadi.
Dengan demikian, ketika akuntan mengukur manfaat pribadi (pendapatan) dan biaya pribadi
(beban) serta mengabaikan yang lainnya, mereka bersikap konsisten dengan teori ekonomi
tradisional. Gerakan kearah akuntansi sosial, sebagian besar terdiri dari usaha-usaha untuk
memasukkan biaya sosial dan biaya sosial yang tidak terbagi kedalam model akuntansi.
Berdasarkan analisis Pigou dan gagasan mengenai suatu kontrak sosial, K.V.Ramanathan
(1976) mengembangkan suatu kerangka kerja teoritis untuk akuntansi atas biaya dan manfaat
sosial. Terdapat dua masalah utama dengan pendekatan Ramanathan. Pertama, untuk
menentukan kontribusi neto kepada masyarakat, beberapa jenis system nilai harus ditentukan.
Bagaimana entitas tersebut menentukan apa yang merupakan kontribusi atau apa yang
merupakan kerugian bagi masyarakat?. Beberapa kerugian seperti polusi secara universal
dibenci dan memasukkannya dalam suatu laporan akuntansi dan dibenarkan dengan relative
mudah. Masalah utama kedua berkaitan dengan pengukuran. Adalah teramat sulit untuk
menguantifikasi jumlah pos yang akan dimasukkan dalam laporan kontribusi neto kepada
masyarakat.
Salah satu alasan utama dari lambatnya kemajuan akuntansi sosial adalah kesulitan dalam
mengukur kontribusi dan kerugian. Proses tersebut terdiri atas tiga langkah, yaitu :
1)

Menentukan apa yang menyusun biaya dan manfaat sosial.

2)

Mencoba untuk menguantifikasi seluruh pos yang relevan.

3)

Menempatkan nilai moneter pada jumlah akhir.

Cara lain untuk mengidentifikasi asal dari biaya dan manfaat sosial adalah dengan memeriksa
proses distribusi dan produksi perusahaan individual guna mengidentifikassi bagaimana

kerugian dan kontribusi serta menentukan bagaimana hal itu terjadi. Jika satu bagian dari
proses produksidan distribusi diperiksa mungkin ditemukan produk sampingan yang
negative diciptakan bersama-sama dengan produk yang berguna.
Ketika aktivitas yang menimbulkan biaya dan manfaat sosial ditentukan dari kerugian serta
kontribusi tertentu diidentifikasikan, maka dampak pada manusia dapat dihitung. Untuk
mengukur suatu kerugian dibutuhkan informasi mengenai variable-variabel utama, yaitu
waktu dan dampak.
1)

Waktu

Beberapa peristiwa yang menghasilkan biaya sosial membutuhkan waktu beberapa tahun
untuk menimbulkan suatu akibat. Dalam hal pengukuran, adalah penting untuk menentukan
lamanya waktu tersebut. dampak jangka panjang sebaiknya diberikan bobot yang berbeda
dengan dampak jangka pendek.
2)

Dampak

Orang-orang dapat dipengaruhi secara ekonomi, fisik, psikologis, dan sosial oleh berbagai
kerugian. Untuk mengukur biaya sosial tersebut adalah perlu untuk mengidentifikasikan
kerugian-kerugian tersebut dan menguantifikasikannya.
Biaya-biaya tersebut dapat diklasifikasikan sebagai kerugian ekonomi, fisik, psikologis, atau
sosial.
1)

Kerugian ekonomi

Biaya-biaya ini meliputi tagihan pengobatan dan rumah sakit yang tidak dikompensasi,
hilangnya produktivitas, dan hilangnya pendapatan yang diderita oleh pekerja. Jelaslah,
perhitungan ganda atas hilangnya pendapatan dan produktivitas harus duhindari.
2)

Kerugian fisik

Menghitung nilai dari kehidupan atau kesehatan manusia adalah hal yang sulit untuk
dilakukan, tetapi seringkali dicoba dalam analisis biaya-manfaat yang tradisional.
3)

Kerugian psikologis

Kerugian-kerugian ini juga sulit untuk dikuantifikasi dan harus didiskontokan pada tingkat
bunga yang sesuai.
4)

Kerugian sosial

Dalam keluarga pekerja, perubahan peran dapat terjadi sebagai akibat dari penyakit tersebut.
keluarga tersebut dapat menjadi begitu trauma sehingga terjadi perpecahan. Nilai sekarang
dari seluruh dampak ini bagaimanapun juga harus dihitung.

DAFTAR PUSTAKA
Arfan Ikhsan & Muhammad Ishak 2008, Akuntansi Keperilakuan Penerbit. Salemba Empat,
Jakarta.
Siegel, Gary dan Marcony HR 1989 Behavioral Accounting, South-Western Publishing
Co., Ohio
Cater, Usry. Cost Accounting, Salemba Empat, Jakrta: 2008.