Vous êtes sur la page 1sur 4

Kesiapan Indonesia dalam kompetisi di era MEA

Sektor Pariwisata
Bidang Pengembangan Kepariwisataan di Kementrian Pariwisata pada saat ini sedang
mengembangkan health tourism, dari segi potensi Indonesia memiliki potensi yang sangat
besar, yaitu 17.540 pulau, 252 suku bangsa, 250 bahasa daerah, 7,5 km2 luas Negara dan
pada tahun ini pemerintah memberikan anggaran yang cukup besar untuk sektor pariwisata
sebesar 5,4 triliun dan pertumbuhan pariwisata 9,3% jauh diatas pertumbuhan ekonomi yang
hanya 5,4%. (HM Amansyah dalam acara Diskusi Terbuka di Universitas Bakrie 20/4)
Indonesia masih belum maksimal dalam mengoptimalkan potensi pariwisata. Dibandingkan
dengan negara ASEAN lainnya tantangan terbesar bagi Indonesia ada pada penguasaan
bahasa asing, IT dan manajemen, sudah saatnya Indonesia bersanding dari segi kualitas
bukan dari kuantitas.
Indonesia dapat meningkatkan kualitas dan daya saing, beberapa langkah strategis telah
dilakukan diantaranya Sertifikasi SDM Pariwisata per tahun. Mensertifikasi lulusannya
dengan standar ASEAN.
kelemahan Indonesia adalah pada infrastruktur, isu-isu keamanan, global warning, bencana
alam.
Harus ada pengawasan anggaran promosi pariwisata apakah sudah tepat sasaran seperti
apakah sudah ditujukan kepada komunitas yang tepat, apakah media yang digunakan sudah
efektif dan monitoring bersama. Karena mengejar target wisatawan sebanyak 20 juta
wisatawan di 2019/2020 merupakan kerja keras bersama termasuk perguruan tinggi. Kita
harus bekerjasama untuk mendukung sektor pariwisata di Indonesia, mampu melihat
peluang-peluang yg diciptakan oleh pemerintah untuk menciptakan destinasi wisata baru.
Tantangan yg harus dipelajari termasuk added value-nya.
Sektor Kuliner
Dalam bidang kuliner, kuliner lokal Indonesia tentunya memiliki kekuatan tersendiri. Hal ini
bisa dilihat dari Letak astronomisnya. Letak astronomis Indonesia adalah 60 LU 110 LS
dan 950 BT 1410 BT. Jika dilihat dari posisi astronomis Negara Indonesia berada di
kawasan tropis, hal ini membuat Indonesia selalu disinari matahari sepanjang tahun. Di
Indonesia hanya terjadi dua kali pergantian musim dalam setahun yaitu musim kemarau dan
penghujan. Negara-negara yang memiliki iklim tropis pada umumnya dilimpahi alam yang
luar biasa. Curah hujan tinggi akan membuat tanah menjadi subur. Flora dan fauna juga
sangat beraneka ragam. Sehingga kuliner lokal Indonesia juga sangat beragam dan kaya akan
rempah-rempahnya, karena flora dan fauna di Negara Indonesia jauh lebih beragam
dibandingkan dengan Negara ASEAN yang lain. Contohnya kuliner di Wonosobo. Di
Wonosobo terkenal dengan produksi sayuran yang melimpah dan di daerah dieng ada juga
buah khas yang hanya bisa tumbuh subur di daerah dieng yang kemudian dijadikan manisan
yang lezat yaitu manisan buah Carica, adapun bunga kecombrang atau bunga honje yang
dijadikan campuran pembuatan megana. Contoh lain yaitu dari daerah Kediri yaitu sambal
tumpang. Kuliner sambal tumpang ini kaya akan rempah-rempahnya dan ini bisa menjadi
salah satu kekuatan (strength) dalam analisis swot dari kuliner lokal Indonesia yang kaya
akan rempah-rempahnya.

Tiga kuliner khas akan menjadi andalan Indonesia menjelang diberlakukannya Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA), yakni kopi kintamani, kopi bajawa, dan rendang payakumbuh.
Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Emilia
Suhaimi mengatakan pihaknya akan melakukan branding ulang dan pengemasan ulang tiga
produk kuliner khas lokal itu.
ketiga produk kuliner lokal itu telah mendapatkan sertifikat Kekayaan Intelektual (KI)
Indikasi Geografis. Pihaknya akan mengumpulkan dan mengidentifikasi semua merek dan
kemasan untuk tiga produk kuliner itu yang telah beredar di pasaran
kopi kintamani dari Bali, kopi arabika dari Flores NTT yang dikenal dengan bajawa, dan
rendang payakumbuh dari Sumatera Barat sangat potensial menjadi andalan kuliner
Indonesia. Selain itu ketiganya juga memiliki ciri-ciri atau kualitas yang tidak ada di daerah
lain.
Adanya sertifikat indikasi geografis itu juga dinilainya akan memberikan nilai tambah dan
keuntungan kepada para stakeholders yang terlibat seperti petani dan eksportir. Sementara
dari sisi konsumen, dengan adanya sertifikat produk indikasi geografis yang ditempelkan
pada kemasan produk yang bersangkutan, berarti produk tersebut adalah asli.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan
peningkatan realisasi investasi hingga Triwulan III 2015 di tiga sektor prioritas diharapkan
dapat mendukung kesiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
Tiga sektor prioritas tersebut yaitu industri berorientasi ekspor, industri substitusi impor dan
hilirisasi sumber daya mineral. Kenaikan realisasi investasi di ketiga sektor tersebut
menunjukkan arah pemerintah untuk mendorong industri kita berdaya saing dan berorientasi
ekspor semakin terlihat
Sektor Tenaga Kerja Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kapasitas Sumber Daya Manusia yang
banyak. Namun dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia-nya, Indonesia masih sangat jauh
tertinggal dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan negara lainnya.
Rendahnya Sumber Daya Manusia Indonesia menyebabkan kondisi tenaga kerja mengalami
berbagai masalah yang cukup serius dan membutuhkan peran pemerintah yang efektif untuk
menanggulanginya guna mencapai Sumber Daya Manusia yang memiliki daya saing tinggi
untuk menghadapi persaingan global terlebih Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Masalah
masalah yang sering dihadapi oleh tenaga kerja di Indonesia adalah
1. Rendahnya kualitas tenaga kerja
2. Jumlah angkatan kerja yang tidak sebanding dengan kesempatan kerja
3. Persebaran tenaga kerja yang tidak merata
4. Pengangguran

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Berita Resmi Statistik No.
38/05/Th. XVII, 5 Mei 2014, keadaan Ketenagakerjaan per bulan Februari 2014 adalah
sebagai berikut:
1. Jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2014 mencapai 125,3 juta orang;
bertambah sebanyak 5,2 juta orang dibanding angkatan kerja Agustus 2013 sebanyak
120,2 juta orang atau bertambah sebanyak 1,7 juta orang dibanding Februari 2013.
2. Jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia pada Februari 2014 mencapai 118,2 juta
orang; bertambah sebanyak 5,4 juta orang dibanding keadaan pada Agustus 2013
sebanyak 112,8 juta orang atau bertambah 1,7 juta orang dibanding keadaan Februari
2013
3. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2014 mencapai 5,70
persen; mengalami penurunan dibanding TP Agustus 2013 sebesar 6,17 persen dan
TPT Februari 2013 sebesar 5,82 persen.
4. Selama setahun terakhir (Februari 2013 Februari 2014), jumlah penduduk yang
bekerja mengalami kenaikan pada hampir semua sektor, terutama di Sektor Jasa
Kemasyarakatan sebanyak 640 ribu orang (3,59 persen), Sektor Perdagangan
sebanyak 450 ribu orang (1,77 persen), serta Sektor Industri sebanyak 390 ribu orang
(2,60 persen). Sedangkan sektor yang mengalami penurunan adalah Sektor Pertanian
yang mengalami penurunan jumlah penduduk bekerja sebesar 0,68 persen.
5. Berdasarkan jumlah jam kerja pada Februari 2014, sebanyak 81,2 juta orang (68,71
persen) bekerja di atas 35 jam per minggu, sedangkan penduduk bekerja dengan
jumlah jam kerja kurang dari 15 jam per minggu mencapai 7,3 juta orang (6,16
persen).
6. Pada Februari 2014, penduduk bekerja pada jenjang pendidikan SD kebawah masih
tetap mendominasi yaitu sebanyak 55,3 juta orang (46,80 persen), sedangkan
penduduk bekerja dengan pendidikan Diploma sebanyak 3,1 juta orang (2,65 persen)
dan penduduk bekerja dengan pendidikan Universitas hanya sebanyak 8,8 juta orang
(7,49 persen).

Ada beberapa persoalan mendasar yang dihadapi Indonesia dalam rangka menghadapi
MEA 2015, yaitu:
1. masih tingginya jumlah pengangguran terselubung (disguised unemployment);
2. rendahnya jumlah wirausahawan baru untuk mempercepat perluasan kesempatan
kerja.
3. pekerja Indonesia didominasi oleh pekerja tak terdidik sehingga produktivitas
tenaga kerja menjadi rendah;
4. meningkatnya jumlah pengangguran tenaga kerja terdidik, akibat ketidaksesuaian
antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar tenaga kerja;
5. ketimpangan produktivitas tenaga kerja antarsektor ekonomi;
6. sektor informal mendominasi lapangan pekerjaan, dimana sektor ini belum
mendapat perhatian optimal dari pemerintah;

7. pengangguran di Indonesia merupakan pengangguran tertinggi dari 10 negara


anggota ASEAN; ketidaksiapan tenaga kerja terampil dalam menghadapi MEA
2015;
8. tuntutan pekerja terhadap upah minimum, tenaga kontrak, dan jaminan sosial
ketenagakerjaan; serta
9. masalah Tenaga Kerja Indonesia yang banyak tersebar di luar negeri.
Menurut Immanuel Adi Pakaryanto (Corporate Human Resource Management Deputy
Function Head Triputra Group) penerapan MEA memiliki dampak positif dan negatif
dalam terhadap iklim bisnis di Indonesia :
1. Dampak positif : izin kerja sudah mudah.Dengan demikian bagi dunia kerja di Indonesia,
expat akan mudah masuk ke sini. Jika ditanggapi secara positif, talent-talent lokal bisa
menggali ilmu lebih dalam darinya, mengadopsi working style mereka. Kemudian dari sisi
pelaku bisnis juga tidak lagi kesulitan mencari talent yang diinginkan untuk mengisi rolerole penting, karena hunting talent sudah semakin luas, tidak hanya scope-nya Indonesia
saja. Jadi bisa dapat yang worth it antara fee dan kualitas. Begitu juga dengan talent
Indonesia, mereka berpeluang juga untuk hijrah ke luar negeri, sepanjang kompetensi
mereka mencukupi, seperti secara English litteracy, teknis, dan sertifikasi.
2. Dampak Negatif : Perilaku konsumtif membuat pelaku bisnis dari negara tetangga melihat
Indonesia sebagai market yang gemuk dan lemah. Jika ini tetap dipertahankan, tidak
menutup kemungkinan industri lokal akan kalah saing dengan global.