Vous êtes sur la page 1sur 25

LAPORAN KULIAH LAPANGAN GEOLOGI STRUKTUR

(Diajukan untuk memenuhi tugas laporan akhir kelompok kuliah lapangan Geologi
Struktur)

Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Iyan Haryanto, M.T.


Disusun Oleh
Yuni Faizah

270110130027

Fachmy M. Irhamsyah

270110130059

Muhammad Alifan

270110130107

Heru Benowo

270110130127

Jayadi

270110130159

Teknik Geologi C

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2015

Kata Pengantar

Puji dan syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan kesehatan, kesempatan, karunia, beserta rahmatnya sehingga penyusun dapat
menyelesaikan tugas laporan kuliah lapangan mata kuliah Geologi Struktur yang berjudul
Laporan Kuliah Lapangan Geologi Struktur.
Dengan dapat diselesaikannya laporan ini, penyusun berterima kasih kepada dosen
pengampu, serta pihak lain yang ikut mendukung proses penyelesaian laporan ini. Penyusun
berharap laporan ini dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran untuk pengembangan ilmu
Geologi Struktur. Penyusun menyadari bahwa materi yang disampaikan masih sangat jauh
dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangatlah penyusun
harapkan.

Jatinangor, April 2015

Penyusun

Daftar Isi

Kata Pengantar ............................................................................................................................ i


Daftar Isi ....................................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan ................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1
1.2 Tujuan .............................................................................................................................. 1
1.3 Tempat dan Waktu Kegiatan ........................................................................................... 1
1.4 Metode ............................................................................................................................. 1
1.5 Alat ................................................................................................................................... 2
BAB II Studi Literatur ............................................................................................................... 3
2.1 Geologi Regional ............................................................................................................. 3
2.1.1 Stratigrafi .................................................................................................................. 3
2.2.2 Tektonik Regional ..................................................................................................... 3
2.2.3 Sesar Cimandiri ......................................................................................................... 5
2.2.4 Formasi Rajamandala................................................................................................ 7
BAB III Pengambilan Data ...................................................................................................... 10
3.1 Peta Lintasan .................................................................................................................. 10
3.2 Jurnal .............................................................................................................................. 11
3.3 Pengolahan Data ............................................................................................................ 16
3.3.1 Stereonet Kekar ....................................................................................................... 16
3.3.2 Rosenet Kekar ........................................................................................................ 18
3.3.3 Stereonet Sesar ........................................................................................................ 19
BAB IV Pembahasan ............................................................................................................... 20
BAB V Kesimpulan ................................................................................................................. 21
Daftar Pustaka .......................................................................................................................... 22

ii

BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Seperti halnya ilmi-ilmu geologi yang lain, geologi struktur membutuhkan
pengamatan lapangan. Bentuk-bentuk struktur geologi yang terdapat di literatur sejatinya
adalah penggambaran dari apa yang ada di lapangan. Kemampuan untuk mendeskripsikan
struktur geologi yang ada di lapangan menjadi esensial bagi seorang ahli geologi.
Daerah Tagogapu, Padalarang termasuk ke dalam Formasi Rajamandala yang
memanjang sepanjang Sesar Cimandiri, sisi selatan Cekungan Bogor. Keterdapatan struktur
geologi yang ada di daerah Tagogapo menjadikannya daerah yang ideal untuk mempelajari
struktur-struktur geologi seperti lipatan, sesar, dan kekar.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dalam pelaksanaan kuliah lapangan ini:
1. Mengaplikasikan ilmu geologi struktur yang didapatkan pada proses perkuliahan
di kelas.
2. Mengamati dan menganalisis struktur geologi dilapangan serta proses-proses
yang mengakibatkan struktur itu terbentuk.

1.3 Tempat dan Waktu Kegiatan


Kuliah lapangan Geologi Struktur ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 11 April 2015 di
daerah Desa Tagogapu, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa
Barat.

1.4 Metode
Metode yang digunakan dalam pembuatan laporan ini adalah metode studi pustaka
dan metode pengolahan data berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan dilapangan.

Data yang diperoleh dilapangan adalah data deskripsi batuan, strike/dip perlapisan, kekar dan
sesar.

1.5 Alat
Alat yang digunakan adalah:
1.
2.
3.
4.
5.

Kompas geologi
GPS
Papan
Pita ukur
Paku

6. Tali Rafia
7. Alat tulis
8. Lup
9. HCl
10. Komparator

BAB II Studi Literatur


2.1 Geologi Regional
2.1.1 Stratigrafi
Formasi

Rajamandala

mempunyai

kedudukan

stratigrafi

yang

penting.

Penyebaran singkapan Formasi Rajamandala memanjang sepanjang Sesar Cimandiri, sisi


selatan Cekungan Bogor. Di daerah lebih ke selatan, seperti di
Formasi

daerah Ciletuh,

Ciletuh langsung ditutupi oleh Formasi Jampang yang terdiri dari endapan

gunungapi.
Pelamparan Formasi Rajamandala di Cekungan Bogor kearah utara tidak dapat diketahui, ataupun ditafsirkan.
Di Paparan Sunda, batugamping yang seumur

dengan

Formasi Rajamandala

dikenal sebagai Formasi Baturaja. Arpandi dan Padmosoekismo (1975) menganggap bahwa
Formasi Baturaja tidak menerus ke Zona Bogor, walaupun data yang menunjang tidak ada.
Pada pemboran di dekat Purwakarta (PWK 1), ketebalan non-klastik adalah 145 m, dengan
Ratio klastik/non-klastik sangat kecil (2,3) yang membuktikan kurang pentingnya endapan
gamping di daerah tersebut.
Tetapi data yang menarik adalah hubungan fasies antara gamping di Ps. Pabeasan dan
Ps. Cikamuning (gambar 17, 18). Batugamping di Cikamuning ternyata banyak mengandung
fo-ram plangton dan berfasies lebih dalam dibanding batugamping di deretan Perbukitan
Rajamandala. Dengan demikian penulis berkesimpulan bahwa Formasi Rajamandala dan
Formasi Baturaja yang berada di daerah paparan di utara merupakan tubuh batugamping yang
terpisah satu terhadap yang lain.

2.2.2 Tektonik Regional


Tatanan tektonik di daerah Jawa bagian barat tidak terlepas dari teori tektonik
lempeng,dimana kepulauan Indonesia merupakan titik pertemuan antara tiga lempeng, yaitu
Lempeng Eurasia yang relatif diam, Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat, dan Lempeng
Samudera Hindia yang menyatu dengan Lempeng Australia bergerak ke utara (Hamilton,
1979). Berdasarkan rekonstruksi geodinamika (Katili, 1975 op cit Hamilton, 1979), subduksi
Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia yang aktif pada Eosen telah
3

menghasilkan pola penyebaran batuan volkanik Tersier di Pulau Jawa. Selain terjadi
pembentukan gunungapi berarah barat-timur, terbentuk juga suatu cekungan tengah busur
dan kemudian cekungan belakang busur di Jawa Barat bagian utara. Cekungan belakang
busur ini secara progresif semakin berpindah ke arah utara sejalan dengan perpindahan jalur
gunungapi selama Tersier hingga Kuarter (Soeria-Atmadja, dkk., 1994 op cit Darman, H., &
Sidi, F.H., 2000).
Menurut Katili (1975 op cit Asikin, 1992) sebagai akibat dari interaksi konvergen ini
terbentuk gelang-gelang jalur subduksi yang berkembang semakin muda ke arah
baratdayaselatan dari arah utara. Pada umur Kapur Akhir-Eosen Awal, jalur subduksi dapat
diikuti mulai dari Jawa Barat bagian selatan (Ciletuh), Pegunungan Serayu (Jawa Tengah),
dan Laut Jawa bagian timur ke Kalimantan di bagian tenggara, dengan jalur magmatik
menempati lepas pantai utara Jawa. Pada Tersier, jalur subduksi membentuk punggungan
bawah permukaan laut yang terletak di selatan Pulau Jawa. Jalur ini merupakan kelanjutan
dari deretan pulau-pulau yang berada di sebelah barat Pulau Sumatra. Sedangkan jalur
magmatik pada kala Oligo-Miosen terletak pada jalur subduksi Kapur Akhir di daerah Jawa
Barat dan Jawa Tengah, dan terus memanjang dengan arah barat-timur hingga Jawa Timur,
kepulauan Nusatenggara, dan Busur Banda.
Hal ini menunjukkan adanya pergerakan jalur subduksi ke arah selatan dari Kapur
Akhir hingga Oligo-Miosen. Pada Neogen sampai Kuarter jalur magmatis Jawa bergerak
kembali ke arah utara, namun dengan jalur subduksi yang relatif diam. Hal ini
mengindikasikan penunjaman yang relatif lebih landai pada Neogen dibandingkan dengan
Paleogen
Tektonik Jawa Barat dibagi menjadi tiga fase tektonik yang dimulai dari Pra Tersier
hingga Plio-Pliostosen. Fase tektonik tersebut adalah sebagai berikut :
1.Tektonik Pertama
Pada periode ini terjadi sesar geser mendatar menganan utama krataon Sunda akibat
dari peristiwa tumbukan Lempeng Hindia dengan Lempeng Eurasia. Sesar-sesar ini
membentuk Cekungan Jawa Barat Utara sebagai pull apart basin. Tektonik ektensi ini
membentuk sesar-sesar bongkah (half graben system) dan merupakan fase pertama rifting
(Rifting I : fill phase). Sedimen yang diendapkan pada riftingI ini disebut sebagai sedimen
synrift I. Cekungan awal rifting

terbentuk selama fragmentasi, rotasi dan pergerakan dari

kraton Sunda. Dua trend sesar normal yang diakibatkan oleh perkembangan rifting-I (early
fill) berarah N 60o W N 40o W dan hampir N S yang dikenal sebagai Pola sesar Sunda.
2.Tektonik kedua
Fase tektonik kedua terjadi pada permulaan Neogen (Oligo-Miosen) dan dikenal
sebagai Neogen Compressional Wrenching . Ditandai dengan pembentukan sesar-sesar geser
akibat gaya kompresif dari tumbukan Lempeng Hindia. Jalur volkanik periode Miosen Awal
ini menghasilkan endapan gunungapi bawah laut yang sekarang dikenal sebagai old
andesite yang tersebar di sepanjang selatan Pulau Jawa. Pola tektonik ini disebut Pola
Tektonik Jawa yang merubah pola tektonik tua yang terjadi sebelumnya menjadi berarah
barat-timur dan menghasilkan suatu sistem sesar naik, dimulai dari selatan (Ciletuh) bergerak
ke utara. Pola sesar ini sesuai dengan sistem sesar naik belakang busur atau yang dikenal
thrust foldbelt system.
3.Tektonik Terakhir
Fase tektonik akhir yang terjadi adalah pada Pliosen Pleistosen, dimana terjadi
proses kompresi kembali dan membentuk perangkap-perangkap sruktur berupa sesar-sesar
naik di jalur selatan Cekungan Jawa Barat Utara. Sesar-sesar naik yang terbentuk adalah sesar
naik Pasirjadi dan sesar naik Subang, sedangkan di jalur utara Cekungan Jawa Barat Utara
terbentuk sesar turun berupa sesar turun Pamanukan. Akibat adanya perangkap struktur
tersebut terjadi kembali proses migrasi hidrokarbon.

2.2.3 Sesar Cimandiri


Sesar Cimandiri adalah sesar aktif yang terdapat di Sukabumi Selatan. Sesar yang
memanjang Barat-Timur ini belum sepenuhnya diketahui karakternya seperti halnya Sesar
Sumatera. Dari penelitian di lapangan yang dilakukan oleh Geotek LIPI disimpulkan bahwa
Sesar Cimandiri dapat dibagi menjadi 5 segmen mulai dari Pelabuhan Ratu sampai
Gandasoli. Kelima segmen sesar Cimandiri tersebut adalah segmen sesar Cimandiri
Pelabuhan Ratu Citarik, Citarik Cadasmalang, Ciceureum Cirampo, Cirampo
Pangleseran dan Pangleseran Gandasoli. Sesar ini dipotong oleh beberapa sesar lain yang
cukup besar seperti sesar Citarik, sesar Cicareuh dan sesar Cicatih. Sesar Cimandiri berarah
baratdaya-timurlaut, sesar naik Rajamandala serta sesar-sesar lainnya di Purwakarta ( arah ini
sering dikenal dengan arah Meratus dengan arah mengikuti pola busur kapur.

Dari beberapa pengukuran lapisan konglomerat (bagian dari Formasi Ciletuh) yang
tersingkap di sekitar Desa Ciwaru, menunjukan arah relatif barat-timur hingga baratlauttenggara dengan kemiringan berkisar antara 15 hingga 25. Pada peta geologi Lembar
Jampang, nampaknya pola lipatan pada formasi ini lebih kompleks (Sukamto, 1975).
Selanjutnya jurus perlapisan batuan pada Formasi Jampang yang diukur di sekitar
Balekambang menunjukan arah relatif baratlaut-tenggara dengan nilai dip di bawah 15.
Mengacu kepada peta geologi lembar Jampang, nampaknya jurus perlapisan batuan Formasi
Jampang di sekitar lembah Ciletuh mengikuti geometri tebing lembahnya (Sukamto, 1975).
Tersingkapnya batuan pra-tersier dan Formasi Ciletuh di daerah ini kemungkinan
berhubungan dengan aktifitas sesar Pelabuhanratu Pangrango yang diperkirakan sebagai
sesar mendatar sinistreal. Melalui sesar regional inilah batuan di bagian timur sesar bergerak
ke utara secara lateral dan pada saat yang bersamaan diikuti oleh pengangkatan. Adanya
perbedaan ketinggian akibat pensesaran ini kemungkinan menyebabkan sebagian Formasi
Jampang runtuh (longsor) ke arah barat (ke arah samudra) dan akhirnya menyingkapkan
batuan pra-tersier dan Formasi Ciletuh. Bukti-bukti adanya pelengseran ini nampak pada citra
indraja (Gambar 2).
Di daerah Pelabuhan Ratu, sesar Pelabuhan Ratu Pangrango selain memotong
kelurusan Cimandiri juga memotong Formasi Jampang dan Formasi Cimandiri (Miosen
Tengah). Dari hasil pengukuran jurus perlapisan batuan di kedua formasi ini, menunjukan
arah relatif barat-timur dengan sudut kemiringan batuan berkisar antara 20 hingga 30.
Selanjutnya ke arah barat muara Sungai Cimandiri (ke arah hulu sungai) tersingkap Formasi
Rajamandala dengan jurus relatif sama namun memiliki kemiringan lapisan batuan lebih
tegak lagi.
Tersingkapnya ketiga formasi di lembah Cimandiri ini diperkirakan berhubungan
dengan aktifitas sesar berarah barat-timur atau merupakan bagian dari kelurusan struktur
Cimandiri Subang bagian barat. Bukti-bukti yang memperkuat pendapat ini yang pertama
adalah adanya kesamaan arah antara jurus perlapisan batuan dengan kelurusan CimandiriSubang bagian barat dan yang kedua adalah tersingkapnya lapisan batuan Formasi
Rajamandala dengan kemiringan lapisan cukup besar. Pada peta geologi regional lembar
Cianjur (Sudjatmiko, 1972), hubungan pola lipatan dengan kelurusan struktur Cimandiri
nampaknya masih konsisten dimana pola lipatan batuan dari Formasi Rajamandala (OligoMio) dan Formasi Citarum (Miosen Tengah) relatif sejajar dengan zona sesar Cimandiri.

Berdasarkan pada peta geologi regional tersebut di atas serta bukti-bukti lapangan,
memperkuat dugaan bahwa sesar Cimandiri cenderung sebagai sesar naik.
Ke arah timur laut yaitu di sekitar Lembang, sesar Cimandiri memotong kelurusan
sesar Lembang yang berarah barat-timur. Sesar lembang ini diperkirakan sebagai sesar
antitetik dari sesar Cimandiri. Selanjutnya ke arah timur laut, sesar Cimandiri ini menerus
hingga ke daerah Subang melalui kompleks Gunung Burangrang dan Tangubanprahu. Dapat
diduga bahwa gunungapi ini muncul melalui rekahan yang terbentuk akibat sesar regional ini.

2.2.4 Formasi Rajamandala


Formasi Rajamandala dicirikan oleh batugamping. Macam batugamping pembentuk
formasi ini, ternyata secara lateral banyak berubah. Batugamping masif umumnya, banyak
mengandung algae, berwarna putih sampai kuning muda, berkristal halus, kadang-kadang
mengandung foraminifera besar. Batugamping fragmental, umumnya berlapis, berwarna
abuabu, kalau melapuk umumnya coklat, fragmen terdiri dari butir halus algae dan sering
terdapat foram besar. Beberapa zona yang kaya akan foram besar didapatkan di Ps. Pabeasan
(Tjahyo Hadi, 1972).
Batugamping Formasi Rajamandala, di G. Karang, maupun di selatan desa Batuasih
(Ps. Bintang) bagian bawahnya selalu dimulai dengan batugamping fragmental, pasiran (2
m) kemudian diikuti oleh batugamping berlapis, berwarna abu-abu, kecoklatan, kaya akan
algae dengan ketebalan sekitar 9 m. Diatasnya didapatkan batugamping berlapis tebal-tebal,
kaya akan foraminifera kecil dan besar, dengan matriks halus. Fragmen lain adalah algae,
pelecypoda dan foraminifera kecil jenis milliolid yang bercangkang kalsit tebal. Batugamping
ini dapat dinamakan sebagai batugamping wackestone Dunham (1962). Ketebalan di G.
Karang sekitar 23 m. Diatasnya didapatkan batugamping kaya akan algae dan foraminifera
besar. Koral sangat sedikit, kadang-kadang ditemukan sebagai fragmen. Fragmen kontak satu
terhadap yang lain. Batugamping ini berlapis tebal antara 0,5 sampai 1 m. Ketebalan interval
ini adalah 38 m. Bagian teratas dari Formasi Rajamandala di G. Karang, terdiri dari algae dan
koral, dengan beberapa fragmen foraminifera dan duri echinoid. Batuannya umumnya masif,
berwarna putih abu-abu. Di beberapa tempat, koral kelihatannya dominan, sedangkan
umumnya algae lebih dominan. Beberapa proses diagenesa yang lanjut telah merubah koral
menjadi mikrit, dimana hanya micritic envelope saja yang menunjukkan struktur koral.
Ketebalan interval ini minimum 25 m.
7

Formasi Rajamandala, sebagaimana ciri dasarnya adalah gamping, maka umumnya


umurnya juga ditentukan berdasar foraminifera besar. Di daerah Tinggian Sukabumi,
penyelidikan foraminifera secara mendalam dilakukan oleh Baumann (1972). Bagian
terbawah dari Formasi Rajamandala di G. Karang, selatan Cibadak, didapatkan fosil foram
besar Heterostegina borneensis, disamping fosil lainnya. Dengan demikian, maka umur dari
Formasi Rajamandala bagian terbawah adalah Oligosen Akhir. Bagian teratas ditandai oleh
Lepidocyclina ephipioides, disertai oleh Heterostegina borneensis dan Miogypsinoides
bantamensis yang dapat menunjukkan umur Miosen Awal. Dari uraian tersebut diatas kita
dapat simpulkan bahwa umur Formasi Rajamandala adalah Oligosen Akhir sampai Miosen
Awal.Singkapan batugamping formasi Rajamandala di daerah Padalarang
Dari fosil-fosil yang terdapat pada sayatan formasi Rajamandala, dimana
Bufflestonemerupakan salah satu litologi pada formasi Rajamandala dimana litologi
didominasi oleh fosil koral dengan jenis Rhabdophyllia sp merupakan jenis koral yang paling
banyak ditemukan baik pada komposisi sayatan ini dan yang lain yang meliputi Wackstone
dan Rudstoneselain itu ketiga litologi penysun formasi Rajamandala ini juga didominasi oleh
komposisi fosil Foraminifera besar, Algae, coralsdimana walaupun terdapat komposisi fosil
yang sama tapi masing-masing batuan memiliki proses diagenesis dan lingkungan
pengendapan yang berbeda puladimana Buffle stone dan Rudstone merupakan batuan yang
sama-sama terbentuk pada Facies Inti terumbu tetapipada subfacies yang berbeda ini
mengindikasikan proses pengendapan yang berbeda pula sedangkan Wackstone terbentuk
pada daerah Back reef
Dari komposisi fosil dan jenis batuan yang terdapat pada Formasi Rajamandala, dapat
mengindikasikan bagaimana lingkungan pengendapan formasi Rajamandala secara umum
dimana dari komposisi dan fosil yang terdapat pada beberapa sayatan batuan yang berasal
dari Formasi Rajamandala merupakan batuan karbonat yang terbentuk pada facies Back reef
sampai dengan bagian facies inti terumbu (Reef core) yang terbentuk pada Reef flat dan
bufflestone

Dan secara umum dilihat dari keseluruhan litologi dan kandungan fosil yang terdapat
pada Formasi Rajamandala lingkungan pengendapannya meliputi Facies Back reef sampai
menuju daerah laut basin Toe of slope.

BAB III Pengambilan Data


3.1 Peta Lintasan

10

3.2 Jurnal
Hari/Tanggal : Sabtu, 11 April 2015
Koordinat

: S 06 48 47,23
o

E 107 27 35,60
Stasiun

: St. 1

Cuaca

: Cerah Berawan

Waktu

: 08.20 WIB

Azimuth

: 155o

Lokasi Pengamatan : Tagogapu, Purwakarta

Deskripsi
Pada stasiun ini kita dapat melihat keterbentukan struktur geologi, yaitu sesar, sesar dip-slip.
Terlihat bahwa kelurusan punggungan berarah timur laut barat daya, sejajar dengan sumbu
lipataanya, dengan bentuk domino fault. Sesar tersebut termasuk kedalam sesar Cimandiri.
Hari/Tanggal : Sabtu, 11 April 2015
Koordinat

: S 06 48 54,72
E 107o 27 33,93

Stasiun

: St. 2

Cuaca

: Cerah Berawan

Waktu

: 09.00 WIB

Azimuth

: 23o

Lokasi Pengamatan : Tagogapu, Purwakarta


11

Deskripsi
Terlihat bahwa pada footwall bidang sesar litologinya adalah batugamping, sedangkan hanging
wall nya adalah tuff. Perlapisan batu gamping memiliki umur lebih tua dari perlapisan tuff.
Sesar yang tampak adalah sesar normal. Batugamping (footwall) memiliki lebih banyak
retakan.

12

Hari/Tanggal : Sabtu, 11 April 2015


Koordinat

: S 06o 49 00,95
E 107o 27 25,43

Stasiun

: St. 3

Cuaca

: Cerah Berawan

Waktu

: 09.30 WIB

Azimuth

: 149o

Lokasi Pengamatan : Tagogapu, Purwakarta

Deskripsi
Pada stasiun tiga, dilakukan deskripsi litologi batuan. Pada stasiun ini berdasarkan hasil
deskripsi didapatkan jenis batugamping berupa batugamping wackestone.

13

Hari/Tanggal : Sabtu, 11 April 2015


Koordinat

: S 06o 48 53,17
E 107o 27 49,09

Stasiun

: St. 4

Cuaca

: Cerah Berawan

Waktu

: 13.00 WIB

Azimuth

: 115o

Lokasi Pengamatan : Tagogapu, Purwakarta

Deskripsi
Pada stasiun 4 terdapat singkapan kekar pada batu gamping. Lalu dengan menggunakan metode
bentangan sepanjang 1 meter diperoleh 5 kekar yang kemudian diukur strike, dip, dan panjang
kekar nya.

14

Hari/Tanggal : Sabtu, 11 April 2015


Koordinat

: S 06o 48 53,80
E 107o 27 48,67

Stasiun

: St. 5

Cuaca

: Cerah Berawan

Waktu

: 13.40 WIB

Azimuth

: 30o

Lokasi Pengamatan : Tagogapu, Purwakarta

Deskripsi
Terdapat singkapan hanging wall sesar dengan litologi batugamping di stasiun 5. Terdapat pula
bukti sesar berupa slicken side, penanggaan, dan gas fracture.

15

3.3 Pengolahan Data


3.3.1 Stereonet Kekar

16

17

3.3.2 Rosenet Kekar

18

3.3.3 Stereonet Sesar

19

BAB IV Pembahasan
Pada stasiun 1 terlihat struktur geologi berupa sesar yang terlihat dari morfologi. Hal
itu diperkuat dengan adanya indikasi sesar berupa gawir sesar. Arah tegasan sesar tersebut
timur laut barat daya, dengan azimuth 2350, sejajar dengan sumbu lipatan. Morfologi sesar
menunjukkan bentuk domino fault. Perlapisan batuannya mengarah ke dalam.
Di stasiun 2 terlihat sesar dengan litologi batugamping pada foot wall dan tuff pada
hanging wall. Pada batugamping terdapat banyak retakan. Retakan cenderung berada pada
hanging wall. Sehingga ada kemungkinan terdapat sesar lain yang mengontrol batugamping
tersebut.
Di stasiun 3 dilakukan pendeskripsian terhadap batuan. Pada stasiun 3 didapatkan
jenis batugamping berupa wackestone. Pada saat pendeskripsian didapatkan fosil berupa
foraminifera bentonik besar, hal ini menunjukkan bahwa daerah penelitian dulunya
diendapkan pada lingkungan laut dangkal.
Pada stasiun 4 setelah dilakukan pengukuran strike dip dan panjang kekar, data
tersebut diolah dengan membuat stereonet. Dari stereonet tersebut, dapat dilihat bahwa
posisinya paling dekat dengan zenith, lalu diikuti dengan

2 dan

3. Hal tersebut

menunjukkan bahwa kekar menandakan adanya sesar normal. Akan tetapi, di stasiun 5
ditemukan sesar naik. Ini mengindikasikan kekar pada stasiun 4 keterbentukannya berbeda
dengan sesar stasiun 5. Sementara dari Rosenet, dapat diketahui arah tegasan kekar yaitu
Barat Laut Tenggara.
Pada stasiun 5 diukur strike dip bidang sesar serta, sudut pitch, dan sense of
movement. Data strike dip dan pitch diolah dengan membuat stereonet. Dari stereonet
tersebut dapat dilihat bahwa
2 dan

3 posisinya paling dekat dengan zenith, lalu diikuti dengan

3. Hal tersebut menunjukkan adanya sesar naik. Sense of movement yang terlihat

naik dekstral, sehingga sesar tersebut adalah sesar naik dekstral. Berdasarkan data literatur,
sesar cimandiri adalah sesar naik, sama dengan sesar yang terlihat di lapangan. Berarti sesar
di stasiun 5 mendukung data sesar regional di literatur.

20

BAB V Kesimpulan
1. Daerah Tagogapu, Padalarang termasuk bagian dari Formasi Rajamandala sehingga
tampak Sesar Cimandiri di lapangan
2. Morfologi daerah Tagogapu, Padalarang dipengaruhi oleh struktur geologi yaitu sesar dan
kekar
3. Pada daerah penelitian secara dominan disusun oleh batugamping klastik berupa
wackestone
4. Kekar yang diamati di daerah penelitian memiliki periode tektonik yang berbeda dengan
sesar yang diamati karena arah tegasannya yang berbeda
5. Sesar yang diamati adalah sesar dekstral naik dan mendukung data sesar regional yang ada
di literatur.

21

Daftar Pustaka

Haryanto, I., Asikin,S., Handoyo,A. 2002. Tektonik Sesar Baribis. Prosiding tahunan IAGI
31.
Haryanto, I. 2004. Tektonik Sesar Baribis-Cimandiri. Prosiding tahunan IAGI 33.
Martodjojo S. 1984. Evolusi Cekungan Bogor, Jawa Barat. Tesis Doktor, Pasca Sarjana ITB.
(Tidak dipublikasikan).

22