Vous êtes sur la page 1sur 11

Apakah Nabi Isa disamarkan wajahnya?

Posted on 12/12/2011 by Arman


Apakah Nabi Isa disamarkan wajahnya ?
Oleh : Armansyah

Ilustrasi
Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan-tulisan saya dalam buku : Rekonstruksi Sejarah Isa
al-Masih yang terbit pada 2007 lalu. Tulisan ini juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari tulisan saya yang lain dalam blog ini yang berjudul : Misteri Penyaliban Nabi Isa (silahkan
baca disini : https://arsiparmansyah.wordpress.com/2008/06/24/misteri-penyaliban-nabi-isa/ )
atau juga tulisan yang berjudul : Menjawab bantahan tentang pingsannya Nabi Isa disini :
https://arsiparmansyah.wordpress.com/2010/04/07/menjawab-bantahan-tentang-pingsannyanabi-isa/ serta tentu saja tulisan saya : Kesalahan Terjemahan al-Quran versi Depag disini :
https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/12/04/kesalahan-terjemahan-al-quran-versi-depagri/
Beberapa bagian dari tulisan yang akan segera anda baca ini juga merupakan rangkuman dari
beberapa perdiskusian saya dimilis Iqra beberapa tahun yang lampau, mengenai hal yang sama.
Kita awali dulu tulisan ini dengan isi dari surah ke-4 al-Quran yaitu an-Nisaa ayat 157 :





Terjemahan ayat diatas adalah :
Dan perkataan mereka: Bahwa kami telah membunuh al~Masih Isa putera Maryam, utusan
Allah, padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan
untuk mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya.
Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah
membunuhnya. -Qs. 4 An-Nisaa 157

Kita tidak lagi membahas perihal terjemahan versi Departemen Agama RI yang keliru dari ayat
tersebut karena memang sudah sering dibahas dan anda tinggal klik saja link yang sudah saya
siapkan tersebut https://arsiparmansyah.wordpress.com/2011/12/04/kesalahan-terjemahan-alquran-versi-depag-ri/
Disini kita akan membedah secara lebih dalam, lebih akurat dan jujur dari ayat tersebut diatas.
Bukan sebuah rahasia bahwa beranjak dari ayat diatas ini, banyak tafsir dan pemahaman dalam
dunia Islam terbentuk berkaitan dengan eksistensi Nabi Isa al-Masih dan peristiwa yang
menyertainya, termasuk penyaliban.
Ayat ini sebenarnya adalah pemberitaan Allah kepada kita, umat Islam tentang sikap sombong
dari bangsa Israel terhadap kebenaran yang datang dari Tuhan. Seolah mereka hendak menantang
balik Tuhan dengan kemampuan mereka yang berhasil menangkap dan menaikkan utusan-Nya
diatas kayu palang untuk kemudian disiksa serta dibunuh dalam hukuman yang dikenal sebagai
penyaliban.
Perhatikan apa yang mereka serukan :


Transliterasi :
Inna qotalna almasiiha isa ibna maryama rasuulaAllahi
Bahwa kami telah membunuh al~Masih Isa putera Maryam, utusan Allah.
atau dalam bahasa Palembang pasar kira-kira mereka itu bilangnya begini :
Jingok ! La tebunuh si Isa anaknyo Maryam itu yang disuruh samo Allah oleh kame.
Itulah kalimat kesombongan yang mereka agulkan kepada Allah, jadi disini, mereka itu
menonjolkan sisi kehebatan mereka yang bisa mempecundangi Allah dengan membunuh Nabi
Isa. Bagaimana cara pembunuhannya ? Dari ayat ini juga didapati pengetahuan bahwa
pembunuhan tersebut dilakukan dengan cara menyalibnya.
Menurut Wikipedia Indonesia, tata cara penyaliban dilakukan dengan mengikat kedua tangan
siterhukum sementara kaki mereka diberi pijakan kayu. Dalam keadaan tersebut orang itu masih
harus dijemur panas matahari terlebih dahulu dan menjadi tontonan orang-orang sebagai
peringatan agar tidak melakukan kesalahan seperti yang didakwakan pada siterpidana. Biasanya
siterpidana akan digantung dan disiksa diatas kayu salib itu selama berhari-hari, kaki mereka
dipatahkan dan bagian kepala serta badan dibiarkan sampai dipatuk oleh burung liar diangkasa.
Dalam tradisi atau hukum masyarakat Yahudi dan bangsa Israel dimasa itu, hukuman dalam
bentuk penyaliban adalah hukuman yang terkutuk dimata Tuhan.

Inilah yang waktu itu diklaimkan bangsa Israel kepada Nabi Isa alayhissalam. Beliau dihujat
sebagai orang yang terkutuk, sebagai seorang terpidana yang telah banyak melakukan kritik dan
provokasi terhadap para ketua adat maupun ketua agama dari masyarakat Israel. Mereka bangga
bahwa berhasil menjadikan Isa al-Masih sebagai sosok yang terkutuk dan mati dalam penyiksaan
versi mereka.
Tetapi rupanya, rencana boleh saja disusun namun Allah juga yang akhirnya menentukan.
Sebagaimana dalam kasus gagalnya penganiayaan dan pembunuhan yang hendak dilakukan oleh
bangsa Babilonia terhadap Nabi Ibrahim alayhissalam melalui hukum bakar, maka dalam kasus
penyaliban Isa al-Masih inipun, digagalkan oleh Allah.


Transilterasinya : wama qotaluuhu wama solabuuhu walakinshubbiha lahum
Tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan untuk mereka.
Ini sebuah bantahan yang tegas sekali dari Allah bahwa maksud mereka untuk menjadikan Isa
selaku orang yang terkutuk dengan dinaikkannya ia keatas kayu palang dan dipertontonkan pada
orang banyak sebagai seorang penjahat tidaklah terwujud. Ia tetaplah sebagai seorang Nabi yang
hanif, seorang hamba Allah yang sholeh, Rasul yang didekatkan kepada-Nya yang
permintaannya senantiasa didengar. Isa bukan orang yang jahat, ia bukan orang yang terlaknat
dan terkutuk. Mereka telah gagal dalam anggapannya terhadap esensi penyaliban itu sendiri atas
Isa al-Masih.
Mereka juga telah gagal dalam membunuh Isa diatas kayu palang tersebut, semua usaha mereka
digagalkan melalui berbagai cara Tuhan. Seperti jika kita melihat dalam kitab Perjanjian Baru,
disana disebutkan bahwa kaki beliau sama sekali tidak dipatahkan, beliaupun digantung tidak
berhari-hari namun cuma dalam hitungan 3 jam saja. Meskipun beliau sempat ditikam dengan
tombak oleh salah seorang prajurit Romawi tetapi lihat, dari lukanya masih keluar air dan darah.
Sebuah pertanda bahwa Isa saat itu masih dalam keadaan hidup !

Beliau juga lalu diturunkan dari kayu palang lalu diurapi oleh orang-orang terdekatnya dengan
berbagai rempah-rempah yang sebenarnya justru merupakan obat penyembuh herbal untuk diri
beliau yang sedang terluka. Sampai kemudian pada hari ke-3 dari penyalibannya itu, beliau
muncul kembali dalam keadaan yang sedikit lebih baik ditengah-tengah pengikutnya. Bahkan
sampai untuk membuktikan jika ia tetap hidup dan tidak sedang datang dalam wujud hantu, Nabi
Isa diceritakan memperlihatkan bekas-bekas luka ditangan maupun lambungnya. (Semua
penjelasan detil dari peristiwa ini, mulai dari kronologis awal penyaliban sampai intrik dari
pamannya Maryam ibunda Nabi Isa yang bernama Yusuf Arimatea untuk menyelamatkan Nabi
Isa dari kematian bisa dibaca tuntas dalam buku pertama saya : Rekonstruksi Sejarah Isa alMasih, jadi saya tidak akan membahas ulang disini sebab memang bukan itu inti dari tulisan kali
ini dalam blog ini).

Kata yang akan menjadi tema pembahasan utama kita disini adalah :


Kata ini memiliki arti dalam bahasa Indonesia : DISAMARKAN atau ada juga yang
menterjemahkannya dengan istilah DISERUPAKAN. Inilah yang lalu memicu silang pendapat
ditengah mufassirin Muslim. Apa maksud dari istilah disamarkan atau diserupakan disini ?
Pemahaman umum yang beredar ditengah komunitas muslim, maksud dari kata tersebut adalah
adanya orang lain yang dialih rupakan menjadi Isa dan lalu orang itulah yang kemudian
menjalani semua proses penyaliban.
Untuk menjadi pegangan awal bersama : TIDAK ADA SATUPUN NASH YANG BERASAL
DARI NABI YANG MENYEBUTKAN TAFSIR AYAT TERSEBUT SEPERTI INI. Artinya,
Nabi tidak pernah diriwayatkan menafsirkan ayat dari surah an-Nisaa 157 ini sebagai adanya
pertukaran wajah dan fisik dari Nabi Isa kepada orang lain diluarnya.
Ditinjau dari sudut tata bahasapun penafsiran adanya proses substitusi wajah dari Nabi Isa
kepada orang lain diluarnya kurang tepat. Dimana jika memang benar seseorang menggantikan
Nabi Isa maka mestinya al-Quran menggunakan Isim Dhamir atau kata ganti diri ketiga tunggal
seperti lakin syubiha lahu (melainkan yang disamarkan untuk dia) dan bukan lakin syubbiha
lahum (melainkan yang disamarkan untuk mereka). Lebih jauh ayat ini tidak menggunakan
bentuk fiil marruf dengan subjek penjelas, melainkan ia menggunakan bentuk fiil majhul yang
tidak menjelaskan siapa penggantinya dalam ketersamaran tersebut.
Next lagi sebelum lafas syubbiha tidak disebutkan nama seseorang yang telah diserupakan
dengan Nabi Isa, padahal disini ada lafas syubbiha yang majhul dan didalamnya ada Isim
Dhamir mufrad yang Mustatir. Menurut hukum gramatikal, Nahu Dhamir itu harus terdahulu
sebutannya dengan lafas atau makna atau hukum.

Dan apabila Nabiul Fail kata syubbiha disebutkan maka itu akan berarti bahwa Nabi Isa-lah
yang diserupakan wajahnya menjadi rupa orang lain, bukan orang lain yang diserupakan menjadi
wajah Nabi Isa. Jelas ini bertambah rancu. Kesimpulan pastinya bukanlah rupa alias wajah dan
fisik Nabi Isa yang disamarkan dengan orang lain, melainkan keadaan atau kondisinya sajalah
yang diserupakan atau disamarkan seolah-olah telah mati dalam proses tersebut, seolah-olah
beliau sudah dipermalukan dan menjadi manusia terkutuk karena ia tersalibkan.
Memang dalam kitab Tafsir Jalalain (Jalaluddin As-Suyuthi & Jalaluddin Muhammad Ibnu
Ahmad Al-Mahalliy) ditemukan tafsir sebagai berikut :
(Serta karena ucapan mereka) dengan membanggakan diri (Sesungguhnya kami telah
membunuh Almasih Isa putra Maryam utusan Allah) yakni menurut dugaan dan pengakuan
mereka. Artinya disebabkan semua itu Kami siksa mereka. Dan Allah berfirman menolak
pengakuan mereka telah membunuhnya itu (padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula
menyalibnya tetapi diserupakan bagi mereka dengan Isa) maksudnya yang mereka bunuh dan
mereka salib itu ialah sahabat mereka sendiri yang diserupakan Allah dengan Isa hingga mereka
kira Nabi Isa sendiri.
(Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham padanya) maksudnya pada Isa
(sesungguhnya dalam keragu-raguan terhadapnya) maksudnya terhadap pembunuhan itu. Agar
terlihat orang yang dibunuh itu, sebagian mereka berkata, Mukanya seperti muka Isa, tetapi
tubuhnya lain, jadi sebenarnya bukan dia! Dan kata sebagian pula, Memang dia itu Isa!
(mereka tidak mempunyai terhadapnya) maksudnya pembunuhan itu (keyakinan kecuali
mengikuti persangkaan belaka) disebut sebagai istitsna munqathi'; artinya mereka hanya
mengikuti dugaan-dugaan hasil khayal atau lamunan belaka (mereka tidak yakin telah
membunuh Isa) menjadi hal yang menyangkal pembunuhan Isa itu.
Tetapi darimana tafsir diatas diperoleh ? Saya menemukannya dari kitab tafsir Ibnu Katsir, (anda
bisa membacanya secara online disini : http://www.quran4u.com/Tafsir Ibn Kathir/004
Nisa.htm). Isinya kurang lebih saya akan ambil bagian yang terpenting saja :
Ketika Allah ingin mengangkat Isa -alaihis salam- ke langit, beliau pun keluar menuju para
sahabatnya dan ketika itu dalam rumah terdapat 12 orang sahabat al Hawariyyun. Beliau keluar
menuju mereka dan kepala beliau terus meneteskan air. Lalu Isa mengatakan, Sesungguhnya di
antara kalian ada yang mengkufuriku sebanyak 12 kali setelah ia beriman padaku. Kemudian
Isa berkata lagi, Ada di antara kalian yang akan diserupakan denganku. Ia akan dibunuh
karena kedudukanku. Dia pun akan menjadi teman dekatku. Kemudian di antara para sahabat
beliau tadi yang masih muda berdiri, lantas Isa mengatakan, Duduklah engkau. Kemudian Isa
kembali lagi pada mereka, pemuda tadi pun berdiri kembali. Isa pun mengatakan, Duduklah
engkau. Kemudian Isa datang lagi ketiga kalinya dan pemuda tadi masih tetap berdiri dan ia
mengatakan, Aku, wahai Isa. Betulkah engkau yang ingin diserupakan denganku? ujar Nabi
Isa. Kemudian pemuda tadi diserupakan dengan Nabi Isa.
Isa pun diangkat melalui lobang tembok di rumah tersebut menuju langit. Kemudian datanglah
rombongan orang Yahudi. Kemudian mereka membawa pemuda yang diserupakan dengan Nabi
Isa tadi. Mereka membunuhnya dan menyalibnya.

Riwayat dalam kitab Ibnu Katsir ini dituliskan secara sanadnya shahih sampai Ibnu Abbas. An
Nasa-i meriwayatkan tafsir ini dari Abu Kuraib dan dari Abu Muawiyah. Oke, kita berhenti dulu
disini. Bahwa sanadnya berhenti sampai di Ibnu Abbas. Jadi tidak disebutkan lagi Ibnu Abbas
bersumberkan dari siapa tafsir tersebut.
Semua dari kita mahfum bila Ibnu Abbas dianggap sebagai seorang penafsir al-Quran yang
besar. Namun disini, jelas bahwa Ibnu Abbas kemungkinan mendapatkan tafsirnya dari Wahb
ibnu Munabbih sebagaimana dicatat cerita yang hampir serupa oleh Ibnu Katsir dengan sanad
Yaqub al-Qummi dari Harun Ibnu Antarah dari Wahb ibnu Munabbih. Ada juga tafsir lain
sejenis dengan sanad Ismail ibnu Abdul Karim dari Abdus Samad ibnu Maqal dari Wahb ibnu
Munabbih.
Anda
bisa
mengeceknya
secara
online
disini
:
http://www.scribd.com/doc/39570083/Tafsir-Ibnu-Katsir-Juz-6 buka halaman 21 sampai 37.
Wahab ibnu Munabbih sendiri nama aslinya Abu Abd Allah al-S anaani al-Dhimari ada juga
yang mengatakan nama aslinya Wahab ibn Munabbih ibn Kamil ibn Sirajud-Din Dhee Kibaar
Abu-Abdullah al-Yamani al-Sanani. Dia bersama rekannya Kaab al-Akhbar adalah orang
Yahudi Yaman yang masuk Islam setelah Nabi Muhammad wafat dan masuk kedalam kategori
Tabiin. Wahab ibn Munabbih juga banyak meriwayatkan hadis-hadis Israiliyat dan memiliki
pengetahuan yang tinggi tentang kitab-kitab Yahudi, dia wafat pada usia 90 tahun.
Sama seperti Wahab ibnu Munabbih, Kaab al-Akhbar juga adalah seorang Yahudi Yaman yang
baru masuk Islam setelah Nabi Muhammad wafat (karenanya Kaab termasuk kategori Tabiin
dan bukan sahabat), nama aslinya adalah Kaab bin Mati Himyari. Kaab tercatat adalah seorang
Yahudi yang sangat mengetahui isi Taurat, mungkin yang dimaksud Taurat disini bisa jadi adalah
ajaran-ajaran Talmud, Perjanjian Lama atau tulisan-tulisan apokripa Yahudi lainnya karena kitab
Taurat sendiri tidak ada lagi pada jaman Nabi Muhammad hidup. Anehnya Kaab al-Akhbar
menjadi salah satu sumber terpercaya selama berabad-abad dalam dunia Islam dan banyak
dijadikan rujukan dalam buku-buku sejarah dan tafsir, ia wafat pada tahun 32 atau 33 Hijriah di
kota Himsh.
Tidak sedikit ulama yang memegang riwayat dari Kaab al-Akhbar, diantaranya Imam Bukhari,
Ibnu Jauziy, Ibnu Hibban, Abu Shahbah, Addzahabi, Ibnu Asaaqir Abu Nuaim filhulyah dan
Ibnu Hajar. Silahkan kesini untuk membaca lebih lengkap : http://www.islamicawareness.org/Hadith/Ulum/israel.html
Kecenderungan para sahabat Nabi untuk mencari tahu lebih lanjut dari ayat-ayat cerita didalam
al-Quran yang berkaitan dengan bangsa Israel bukan sebuah rahasia. Umar ibnu Khatab, Abu
Hurairah, Atha bin Jasar dan termasuklah Ibnu Abbas adalah orang-orang yang cukup intens
dengan pengetahuan-pengetahuan yang ada didalam Taurat dan Injil. Banyak hal yang mereka
ingin ketahui seperti sifat-sifat Nabi didalam Taurat dan berbagai hal lainnya. Tempat mereka
bertanya tentu saja orang-orang Ahli Kitab yang baru masuk Islam seperti diantaranya Wahb
ibnu Munabbih, Kaab al-Akhbar, Abdullah ibnu Amr bin Ash dan lain sebagainya.
Bukan hal yang tidak mungkin jika informasi hadis yang disampaikan oleh para sahabat yang
notabene mantan penganut ahli kitab dimasa lalu lebih banyak bersandar pada sisa-sisa
kepercayaan lama mereka. Sehingga banyak kemudian tafsir-tafsir Israiliyat yang belum jelas

benar dan salahnya justru merasuk kedalam khasanah tafsir al-Quran dan bagi orang awam
cenderung diamini sebagai sebuah kebenaran mutlak.
Lantas boleh jadi anda akan bertanya sama saya : Pak Arman, setahu saya orang-orang ahli kitab
semua berkeyakinan bahwa Nabi Isa alias Yesus menurut mereka adalah orang yang disalibkan.
Jadi bagaimana mungkin Wahab ibnu Munabbih atau yang lainnya ini bisa menafsirkan
sebaliknya ?
Jawab saya : apa yang anda tahu mungkin tidak mewakili semua fakta dan kebenaran yang ada.
Faktanya sejak abad ke-2 masehi, artinya jauh hari sebelum Wahab ibnu munabbih lahir atau
jauh hari sebelum Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad muncul, keyakinan adanya proses
substitusi wajah dalam peristiwa penyaliban Nabi Isa sudah ada.
Riwayat-riwayat yang menyatakan tentang teori subsitusi wajah seseorang kepada wajah Isa
al~Masih dalam kejadian menjelang penyaliban itu bisa ditemui dalam banyak variasi pada
naskah-naskah apokripa Kristen. Sebut saja misalnya dalam naskah yang diperkirakan dicatat
pada abad ke-2 Masehi yang disebut sebagai Second Treatise of the Great Seth tertulis :
Dan rencana yang mereka susun untukku, untuk melepaskan kesalahan mereka dan
ketidakberperasaan mereka aku tidak mengalah pada mereka seperti yang mereka rencanakan.
Bahkan aku tidak menderita sama sekali. Mereka yang di sana menghukumku. Dan aku
sesungguhnya tidak mati, hanya seolah-olah telah mati, agar aku tidak dipermalukan oleh mereka
karena semua ini merupakan keluargaku
Karena kematianku yang menurut mereka sudah terjadi, karena kesalahan dan kebutaan mereka,
karena mereka memakukan orang mereka sendiri hingga mati karena mereka tuli dan buta
Ya, mereka melihatku; mereka menghukumku. Adalah orang lain, ayah mereka, yang meminum
empedu dan cuka; bukan aku. Mereka menyerangku dengan buluh; itu adalah orang lain, Simon,
yang memanggul salib di pundaknya. Adalah orang lain yang mereka pakaikan mahkota duri
dan aku menertawakan kejahilan mereka Karena aku mengubah bentuk fisikku, berubah dari
satu bentuk ke bentuk lainnya.
Naskah lainnya yang serupa adalah yang berasal dari abad ke-4 Masehi yang dikenal dengan
nama Apocalypse of Peter yang bercerita :
Ketika dia mengatakan hal itu, aku melihatnya seolah-olah ditangkap oleh mereka. Dan aku
berkata, Apakah yang aku lihat, Tuanku, benarkah engkau yang mereka tangkap, padahal
engkau menggapaiku? Atau siapakah orang ini, yang bergembira dan tertawa di atas pohon itu?
Dan adakah orang lain yang kaki dan tangannya mereka ikat? Sang Juru Selamat bersabda
kepadaku, Dia yang engkau lihat di atas pohon, yang bergembira dan tertawa, adalah Isa yang
masih hidup.
Namun, orang yang tangan dan kakinya mereka paku adalah bagian dagingnya yang merupakan
wujud pengganti yang dibuat sama, seseorang yang sungguh-sungguh mirip dengannya. Tetapi
lihatlah ia dan aku. Namun aku, ketika aku melihat, berkata, Tuan, tidak ada seorang pun
yang melihatmu. Biarkanlah kami lari dari tempat ini. Namun, ia berkata kepadaku, Sudah

Aku katakan, tinggalah si buta itu sendiri! Dan kamu, lihatlah betapa mereka tidak mengetahui
apa yang mereka katakan. Karena sebenarnya bukan pelayanku yang mereka permalukan.
Begitupula dengan naskah yang disebut sebagai Acts of John yang ditulis pada abad ke-2
Masehi :
Dan kami seperti orang-orang yang heran atau kebingungan, kami berlari ke sana kemari.
Demikianlah, aku melihatnya menderita serta tidak tahan dengan penderitaannya, kemudian
berlari menuju Bukit Zaitun, meratapi apa yang telah terjadi. Dan ketika ia digantung pada Hari
Jumat, pada jam enam hari itu, muncullah kegelapan menyelimuti seluruh bumi. Dan Tuanku
berdiri di tengah goa dan menjelaskan hal itu seraya bersabda, Yohanes, bagi orang-orang yang
ada di Yerusalem, Aku memang disalib dan ditusuk dengan tombak dan bambu, serta diberi cuka
dan empedu untuk diminum.
Namun, bagimu Aku tengah berbicara dan mendengarkan apa yang Aku katakan Dan ketika
Ia selesai mengatakan hal ini, Ia menunjukkan padaku sebuah salib bersinar yang sangat kokoh,
dan di sekitar salib itu ada kerumunan yang sangat besar, yang tidak memiliki bentuk tunggal;
dan di dalamnya terdapat satu bentuk dan kemiripan yang sama. Dan aku melihat Tuan sendiri
ada di atas salib Ini bukanlah salib kayu yang akan kamu lihat ketika engkau turun dari sini;
Aku juga bukan orang yang ada di atas salib itu. Aku adalah orang yang kini tidak bisa kamu
dengar, tetapi kamu hanya bisa mendengar suaraku. Aku dijadikan seseorang yang bukan aku,
aku bukanlah diriku bagi banyak orang lain; tetapi apa yang akan mereka katakan tentang aku
tidak berarti apa-apa untukku
Demikianlah aku tidak menderita segala hal yang akan mereka katakan tentang aku; bahkan
penderitaan yang aku tunjukkan kepadamu dan kepada murid-muridku dalam tarian, itulah yang
aku sebut sebuah misteri Kamu mendengar bahwa aku menderita, padahal aku tidak
menderita;
Dan bahwa Aku tidak menderita, padahal aku menderita; dan bahwa Aku ditombak, padahal aku
tidak terluka; bahwa aku digantung, padahal aku tidak digantung; bahwa darah mengalir dariku,
padahal tidak ada darah yang mengalir; dan, singkatnya, apa yang mereka katakan tentang aku,
aku tidak mengalaminya, tetapi apa yang tidak mereka katakan, itulah hal-hal yang membuatku
menderita
Ketiga cerita yang ada didalam naskah apokripa Kristen diatas semuanya memang mengukuhkan
teori substitusi wajah Isa al~Masih kepada wajah orang lain, sama seperti apa yang disampaikan
Ibnu Katsir, tapi dari sini kita sebenarnya justru bisa memberikan cukup banyak catatan kritis
kepadanya yang mengharuskan diadakannya peninjauan kembali validasi historisnya sebelum
diterima sebagai dogma keimanan bagi umat Islam. Semua argumen atau cerita mereka diatas ini
tidak masuk akal dan lemah sekali untuk bisa diterima. Apalagi ketiganya berbeda dalam isi
ceritanya. Jadi menurut saya kita belum bisa berdiri diatas benang basah seperti itu.
Sebagian dari kita sebagai umat Islam terkadang terlalu berlebihan dalam memandang sosok para
Nabi dan Rasul sehingga nyaris menganggap mereka sebagai manusia langit yang sama sekali
tidak tersentuh dengan berbagai permasalahan duniawiah, banyak dari kita berpikir bahwa
seorang Nabi itu haruslah senantiasa berkhotbah tentang akhlak, berkhotbah tentang ketuhanan,

penuh mukjizat, sakti mandraguna, suci tak bernoda dan tidak pernah melakukan kesalahan
sekecil apapun, tidak mungkin bisa dilukai apalagi dibunuh dan berbagai sifat kedewaan lainnya
yang akhirnya secara tidak langsung telah melakukan pengkultusan dan menaikkan status
kemanusiawian mereka diatas manusia-manusia lainnya.
Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu
sebelumnya beberapa Rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa
memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda
kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling -Qs. 5 al-Maidah : 75
Tanyakanlah: Siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak
membinasakan Al-Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan siapa saja diatas bumi
semuanya ? -Qs. Al-Maidah : 17
Dalam sejarah kenabian di al~Quran kita banyak melihat berbagai fenomena bagaimana
misalnya seorang Ibrahim yang disebut sebagai kekasih Allah telah ditangkap dan dibakar oleh
umatnya kedalam api yang membara, kita juga membaca bagaimana Nabi Yunus bisa sampai
terperangkap kedalam perut ikan atau Yusuf putera Nabi Yakub yang terjebak kedalam sumur
oleh saudara-saudaranya atau yang paling akhir adalah Nabi Muhammad sendiri yang harus
hijrah ke Madinah karena intimidasi kaum kafir Mekkah dan perlakuan mereka yang buruk
terhadapnya, dalam sebuah pertempuran dibukit Uhud, wajah beliau terluka dan nyaris terbunuh.
Semuanya menyajikan data-data historis insaniah para Nabi dan Rasul Tuhan yang hidup dan
berinteraksi sebagaimana manusia normal lainnya. Lalu kenapa dalam hal Isa al~Masih yang
umatnya disebut oleh Quran sebagai umat yang terbiasa membunuh para Nabi harus mendapat
pengecualian dengan mengharuskannya terhindar secara luar biasa dari perlakuan umatnya ?
Kesabaran para Nabi dalam menghadapi ujian selalu mendatangkan pertolongan dari Allah,
namun tidak pernah Allah menolong dengan cara menggantikan ujian tersebut kepada diri orang
lain sehingga bukan sang nabi yang menghadapi ujian namun justru orang lainlah yang
mendapatkan ujian tersebut. Pertolongan Allah bekerja dengan cara yang latief (halus) melalui
ujian, kesabaran, dan keteguhan dari sang Nabi dan para murid (sahabat)nya.
Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya Rasul-Rasul sebelum kamupun telah
didustakan (pula), padahal mereka membawa bukti-bukti yang nyata, kekuatan serta kitab yang
memberi penjelasan. -Qs. 3 Ali Imran : 184
Ini semua harus bisa dilihat sebagai sesuatu yang alamiah dan historis, para utusan Tuhan
tersebut berhasil keluar dari semua permasalahan yang mereka hadapi, sebagaimana Nabi
Ibrahim keluar dari kobaran api dalam keadaan hidup, Nabi Musa melewati laut merah dan
mengalahkan para tukang sihir dalam keadaan hidup, Nabi Muhammad melewati berbagai
peperangan dibaris terdepan dan tetap dalam keadaan hidup maka Isa al~Masih, juga berhasil
lolos dari maut atau kematian dalam hukuman penyaliban atas dirinya dan tetap hidup terhormat
dimata Allah dan para pengikut beliau bisa dianggap sebagai sebuah penyaliban yang gagal dan
karenanya Isa al~Masih tidak bisa disebut telah disalibkan.

Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan
kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunnah Allah. -Qs. 33 al-Ahzab : 62
Sebagai akhir catatan ini, saya ingin mengutip tulisan Paulus yang menyatakan dalam Kitab
Ibrani pasal 5 ayat 7 sekaitan penyaliban Nabi Isa ini :
Dalam hidupnya sebagai manusia, ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap
tangis dan keluhan kepada-Nya yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena
kesalehannya, beliau telah didengarkan.
Juga :
Kepada mereka Ia menunjukkan dirinya setelah penderitaannya selesai, dan dengan banyak tanda
Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Kisah Para Rasul pasal 1 ayat 3
Selesai.,
Jangan lupa cari terus dipasaran buku pertama saya : Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih
Penerbit : Restu Agung Jakarta
Tahun Terbit : 2008
ISBN : 979-007-048-9
Kata Sambutan oleh : Masyhud SM (Dewan Pakar FAKTA Forum Anti Gerakan Pemurtadan)
dan Mohammad Singgih Ghasali (Swaramuslim)
Tema : Sejarah Nabi Isa Al-Masih & Kristologi
Cakupan : Menjawab buku James D. Tabor : Dinasti Yesus

Palembang, 12 Desember 2011


Armansyah