Vous êtes sur la page 1sur 7

1

PENDAHULUAN
Sebagian dari masyarakat kita kurang atau tidak setuju dengan poligami dan mereka
menentang praktik poligami yang ada sekarang ini, karena efek negatifnya sangat besar bagi
keluarga

dan

banyak

menyakiti

kaum

perempuan. Namun,

sebagian

yang

lain menyetujui poligami dengan alasan-alasan tertentu. Kelompok terakhir ini beralasan
bahwa meskipun poligami memiliki banyak resiko, tetapi bukanlah sesuatu yang dilarang
oleh agama Islam.
Terlepas dari pendapat pro dan kontra tentang poligami, yang jelas masalah
poligami menjadi masalah yang menarik untuk didiskusikan. Praktik poligami semakin
lama semakin banyak di tengah-tengah masyarakat kita. Dalam praktiknya, masih banyak
di antara kaum poligami belum memenuhi ketentuan yang ada, baik secara hukum
Negara maupun hukum agama. Dalam makalah ini kami mencoba membahas mengenai tafsir
Surah An-Nisa ayat 3-4 yang membahas masalah poligami semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

PEMBAHASAN
ANJURAN MENIKAH, POLIGAMI, DAN MASKAWIN

Surah An-Nisa (4) Ayat 3-4:


(
)


()
3. Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan
yatim (apabila kamu menikahinya) maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi :
dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka
(nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki.. Yang demikian
itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.
4. Berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian
yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari
(maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan
senang hati.

A.Makna Mufradat (Kosakata)

: Kata inkihu dalam ayat ini merupakan fi'il amar jamak dari inkih. Kata dasarnya
ialah nakaha. Secara etimologi kata ini berarti wathak atau jima' (mempergauli istri).
Sebagian ahli bahasa menyebutkan pula bahwa makna dasarnya ialah `aqad.

: Kata nikah dalam ayat ini berarti 'aqad, yaitu suatu ijab dan kabul yang dilakukan oleh
wali seorang wanita dan calon suami, dimana `aqad itu membolehkan laki-laki mencampuri
wanita yang dikabulnya dalam aqad tersebut.

: Kata yatama jamak dari yatim. Kata ini berasal dari kata yatama. Makna

dasarnya ialah al-fard (tunggal) kemudian diartikan pula kepada faqd al-ab (ayahnya sudah
tidak ada). Al-Lais mengatakan, yatim adalah seorang anak yang belum mencapai usia baligh
dan ayahnya sudah meninggal dunia. Jika anak itu sudah baligh maka ia tidak lagi disebut
dengan yatim. Menurut Abu Ubaydah, anak perempuan yang sudah meninggal ayahnya tetap
disebut yatim selama ia belum menikah.

: Kata al-`adl adalah masdar dari 'adala, ya'dilu, 'adlan, dan 'addlatan. Secara
bahasa kata ini dimaknai dengan al-istiqamah (konsisten).Secara syar'i, kata 'adalah diartikan
kepada "menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dilarang agama". Pengertian 'adil ini
merupakan lawan dari fasik, seperti istilah 'adil yang dipakai dalam kajian hadis dan hukum
Islam. Di samping itu, kata adil dimaknai pula dengan "kemampuan dalam jiwa seseorang
menghalangi dirinya untuk berbuat perbuatan yang dilarang." Kata al-' adl dalam ayat ini
dapat dimaknai dengan pengartian al-adl yang terakhir, yaitu seorang suami harus berbuat
adil terhadap istrinya. Artinya, seorang suami harus mampu menghalangi dirinya dari
menyakiti istrinya dengan cara mencukupkan belanjanya dan tidak membedakannya dengan
istrinya yang lain dalam hal belanja dan pembagian lainnya.

Kata shaduqat merupakan jamak dari shadaqah, yang berarti suatu

pemberian. Ia juga disebut dengan mahar atau maskawin, karena maskawin itu adalah harta
yang diberikan kepada istri sebagai tanda atau syarat terjadinya ikatan perkawinan antara
seorang laki-laki dan wanita. Secara harfiah kata ini berarti "makanlah". Akan tetapi, dalam
ayat ini ia tidak harus diterjemahkan kepada makan. Ia diartikan kepada "ambillah".

B. Asbabun Nuzul
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa ayat ini turun berkenaan dengan seorang anak
perempuan yatim yang dipelihara oleh seorang laki-laki. Anak yatim itu mempunyai harta
benda. Laki-laki tersebut menikahinya karena mengharapkun harta benda anak tersebut.
Kemudian ia memukul anak yatim itu dan mempergaulinya dengan buruk serta tidak
memberikan sesuatu kepadanya, Selanjutnya turunlah ayat:

Imam AI-Bukhari, sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Katsir, meriwayatkan dari
Aisyah bahwa seorang laki-laki memelihara seorang anuk yatim yang mempunyai kemuliaan
dan keluhuran. Kemudian ia menikani anak yatim itu dengan tidak memberikan sesuatu
kepadanya. Selanjutnya turunlah ayat:

c. Syarah Ayat

Firman Allah:

Maka kalau kamu takut tidak berlaku adil kepada anak yatim, maka nikahilah orang-orang
yang baik bagi kamu dari wanita dua, tiga, atau empat orang.
Ayat ini secara implisit mengandung anjuran menikah. Dalam hadis juga dijelaskan
tentang keutamaan menikah.
Ayat di atas menggambarkan pula sikap atau etika yang harus dimiliki oleh orang-orang
yang memelihara anak yatim. Apabila seseorang memelihara anak yatim perempuan dan ia
tidak bisa berlaku adil kepadanya -yaitu khawatir kalau ia enggan memberikan maskawin
kepada anak yatim itii karena anak asuhannya - maka sebaiknya ia tidak menikah dengan
anak yatim tersebut. Ia lebih baik menikah dengan perempuan lain yang ia bisa berlaku adil
terhadapnya.
Ayat 3 Surah An-Nisa' (4) ini menggambarkan kebolehan poligami, yaitu seorang lakilaki boleh memiliki istri lebih dari satu, dua, tiga atau empat, baik mendapat persetujuan dari
istri pertamanya ataupun tidak. Poligami itu paling banyak empat orang, tidak boleh lebih
dari jumlah itu. Hal ini juga didasarkan atas sebuah hadis yang diriwayatkan dari Az-Zuhri:
Dari ibnu umar, bahwasanya Ghailan bin Salamah Ats-tsaqafi masuk islam. Pada
zaman jahiliyah ia memiliki sepuluh orang istri, dan istri-istrinya itu masuk islam pula
bersamanya.maka nabi menyuruh memilih empat orang diantara mereka.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Imam Asy-Syafi'i, yang ia terima dari Naufal bin
Mu'awiyah Ad-Daily, dijelaskan pula:
Saya masuk Islam dan saya ketika itu memiliki lima orang istri. Maka Rasulullah
berkata kepada saya, pilih empat orang di antara mereka yang kamu sukai dan ceraikanlah
yang lainnya.
Dengan keterangan ini jelaslah bahwa poligami itu tidak boleh lebih dari empat orang.
Firman Allah:

Maka jika kamu takut bahwa kamu tidak bisa berlaku adil maka (cukup) satu orang (saja)
atau budakmu, demikian itu lebih dekat agar tidak melampaui batas.
Islam membolehkan poligami dengan syarat jika suami dapat berlaku terhadap istriistrinya itu. Akan tetapi, apabila ia tidak bisa berlaku adil, maka tidak boleh memiliki istri
lebih dan satu. Adapun yang dimaksud dengan adil di sini, seperti yang telah disinggung
dalam makna mufradat, adalah keadilan dalam memberikan nafkah, yang disesuaikan dengan
keadaan masing-masing istri, dan pembagian waktu buat mereka. Adapun perasaan hati, yang
terkadang lebih menyayangi yang satu dan yang lain, tidaklah mengapa selama tidak
diwujudkan dalam tindakan atau perbuatan. Alquran juga menafikan kemampuan seorang
suami menyamaratakan perasaannya terhadap semua istrinya :
"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu) , walaupun
kamu sangat ingin berbuat demikian. Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada
yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung."
Firman Allah:



:Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh
kerelaan.
Calon suami harus memberikan maskawin kepada calon istrinya. Hal ini merupakan
suatu syarat yang harus ada dalam perkawinan. Mahar hak seorang istri pada suaminya. Istri
boleh bertahan dari memberikan pelayanan kepada suaminya, jika suaminya itu belum
menyerahkan kepadanya.
Alquran tidak menentukan kuantitas harta yang harus diberikan kepada istrinya sebagai
maskawin. Karena maskawin itu merupakan hak maka ia yang menentukan jumlahnya. Akan
tetapi, apabila 'aqad nikah berlangsung, sedangkan maskawin belum ditentukan jumlahnya
dan telah mempergauli istrinya itu, maka suami tersebut wajib membayar mitsal, yaitu
seharga mahar kaum kerabat istri.
Firman Allah:

Jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati,
maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan), yang sedap lagi baik
akibatnya.
Para suami boleh mengambil maskawin yang diberikan kembali oleh istrinya, jika ia
memberikan dengan niat yang tulus, tidak ada unsur keterpaksaan. Al-Qurthubi menyebutkan
bahwa suatu kaum dahulunya tidak suka menerima pengembalian maskawin yang telah
diberikan kepada istrinya. Maka ayat ini turun guna menjelaskan bahwa mereka boleh saja
menerima pengembalian tersebut.

PENUTUP

Kesimpulan
Poligami adalah perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang isteri
dalam waktu yang bersamaan. Lawan dari poligami adalah monogami. Dalam perspektif
hukum Islam, poligami dibatasi sampai maksimal empat orang isteri. Ada dua ayat pokok
yang dapat dijadikan acuan dilakukannya poligami, yakni QS. al-Nisa (4): 3-4. Poligami
sudah berjalan seiring perjalanan sejarah umat manusia, sehingga poligami bukanlah suatu
trend baru yang muncul tiba-tiba saja.
Walaupun poligami itu dibolehkan, tetapi yang melakukannya harus memenuhi syarat
yaitu berlaku adil terhadap istri-istrinya.