Vous êtes sur la page 1sur 7

Analisi kualitas butir soal

1. Tingkat kesukaran soal (Difficulty Index)


Merupakan pengukuran seberapa besar derajat kesukaran suatu
soal.
Jika suatu soal memiliki tingkat kesukaran seimbang
(proporsional), maka dapat dikatakan bahwa soal tersebut baik.
a. Menghitung tingkat kesukaran soal bentuk objektif
1. Dengan rumus tingkat kesukaran
TK = (Wl+WH)/(nL+nH)100%
Keterangan :
WL = jumlah peserta didik yang menjawab salah dari kelompok
bawah
WH = jumlah peserta didik yang menjawab salah dari
kelompok atas
nL = jumlah kelompok bawah
nH = jumlah kelompok atas
Sebelum menggunakan rumus diatas, harus ditempuh dulu langkahlangkah sebagai berikut :
a. Menyusun lembar jawaban siswa dari skor tinggi sampai skor
terendah
b. Mengambil 27% lembar jawaban dari atas yang selanjutnya
disebut kelompok atas (higher group), dan 27% lembar jawaban
dari bawh yang selanjutnya disebut kelompok bawah (lower
group). Sisa sebanyak 46% disisihkan.
c. Membuat table untuk mengetahui jawaban (benar atau salah)
dari setiap peserta didik, baik untuk kelompok atas maupun
kelompok bawah. Jika jawaban peserta didik benar diberi tanda
+ (plus), sebaliknya jika jawaban peserta didik salah diberi
tanda (minus)
Tabel untuk kelompok atas/kelompok bawah
Pese

rta Didik
No. Soal
1
2
3
4
5
Dst.
1. Membuat table seperti berikut :
No.
So
al
1

WL

WH

WL+WH

WLWH

dst

2
3
4
dst

Kriteria penafsiran tingkat kesukaran soal :


1. Jika jumlah presentase sampai dengan 27% termasuk mudah.
2. Jika jumlah presentase 28% - 72% termasuk sedang.
3. Jika jumlah presentase 73% ke atas termasuk sukar.
Tabel Penafsiran Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaraan Soal
Nomor
Soal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Presentase
Kesukaran
50%
40%
45%
35%
45%
25%
40%
40%
45%
40%

Tingkat

Penafsira
n
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Mudah
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang

Table Klasifikasi Soal Berdasarkan Proporsi Tingkat Kesukarannya


Tingkat
Kesukaran Nomor Soal
Jumlah
Soal
Mudah
P 27%
6
1 (10%)
Sedang
P 28% - 72%
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10
9 (90%)
Sukar
P 73%
0
10 (10%)
Untuk memperoleh prestasi belajar yang baik, sebaiknya proporsi antara tingkat
kesukaran soal tersebar secara normal. Perhitungan proporsi ersebut dapat diatur
sebagai berikut :
1. Soal sukar 25%, soal sedang 50%, soal mudah 25%, atau
2. Soal sukar 20%, soal sedang 60%, soal mudah 20%, atau
3. Soal sukar 15%, soal sedang 70%, soal mudah 15%

2. Menggunakan table batas tingkat kesukaran seperti berikut :


Tabel Formulas For Finding (WL + WH) Values At Three Difficulty Levels
Percentage of
testee
who
do
not
know
the
corret answer
to the item
16
50
84

Number of option each item has


2

0,160 n
0,500 n
0,840 n

0,213 n
0,667 n
1,120 n

0,240 n
0,750 n
1,260 n

0,256 n
0,800 n
1,344 n

Persamaan yang digunakan untuk menentukan proportion correct (p)


adalah :

P=

B
N

Keterangan :
P = tingkat kesukaran
B = jumlah peserta didik yang menjawab benar
N = jumlah peserta didik
Sehubungan dengan tingkat kesukaran, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam menyusun soal di bank soal, yaitu :
1. Soal yang termasuk ekstrem sukar atau ekstrem mudah tidak
memberikan informasi yang berguna bagi sebagian besar peserta
didik. Oleh sebab itu, soal seperti ini kemungkinan distribusi
jawaban pada alternative jawaban ada yang tidak memenuhi
syarat.
2. Jika ada soal ekstrem sukar atau ekstrem mudah, tetapi setiap
pengecoh (distribusi jawaban) pada soal tersebut menunjukkan
jawaban yang merata, logis, dan daya bedanya negative (kecuali
kunci), maka soal-soal tersebut masih memenuhi syarat untuk
dterima.
3. Jika ada soal ekstrem sukar dan ekstrem mudah, tetapi memiliki
daya pembeda dan statistic pengecoh memenuhi kriteria, maka

soal tersebut dapat dipilih dan diterima sebagai salah satu


alternative untuk disimpan dalam bank soal.
4. Jika ada soal ekstrem sukar dan ekstrem mudah, daya pembeda
dan statistic pengecohnya belum memenuhi kriteria, maka soal
tersebut perlu direvisi dan diuji coba lagi.
b. Menghitung Tingkat Kesukaran untuk Soal Bentuk Uraian
Merupakan perhitungan berapa persen peserta didik yang gagal
menjawab benar atau ada di bawah batas lulus (passing grade) untuk tiptiap soal. Untuk menafsirkan tingkat kesukaran soalnya dapat digunakan
kriteria sebagai berikut :
1. Jika jumlah peserta didik yang gagal mencapai 27%, termasuk mudah.
2. Jika jumlah peserta didik yang gagal antara 28% sampai dengan 72%,
termasuk sedang.
3. Jika jumlah peserta didik yang gagal 72% ke atas, termasuk sukar.

Daya pembeda ( Discriminating Power)


Perhitungan daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal
mampu membedakan peserta didik yang selalu menguasai kompetensi
dengan peserta didik yang belum/kurang belum menguasai kompetensi
berdasarkan kriterial tertentu. Semakin tinggi koefisien daya pembeda suatu
butir soal, semakin mampu butir soal tersebut membedakan antara peserta
didik yang menguasai kompetensi dengan peserta didik yang belum
menguasai kompetensi. Untuk menghitung daya pembeda setiap butir soal
dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
DP=

( WLWH )
n

Keterangan :
DP=daya pembeda
WL=jumlah peserta didik yang gagal dari kelompok bawah
WH=jumlah peserta didik yang gagal dari kelompok atas
n= 27%xN
contoh :
jumlah peserta didik (N) =40
jumlah sampel (n)
=27%x40=10,8=11 (dibulatkan)
WL
=10
WH
=2
Jadi, daya pembeda DP =

102
11 =0,73

Untuk menginterpretasikan koefisien daya pembeda tersebut


digunakan kriterial yang dikembangkan oleh Ebel sebagai berikut :
Index of discrimination
Item evaluation
0,40 and up : very good items
0,30-o,39
: reasonably good, but possibly subject to improvement.

dapat

0,20-0,29
: marginal items, ussualy needing and being subject to
improvement
Below -0,19 : poor items, to be rejected or improved by revision
a. Menghitung signifikansi daya pembeda soal bentuk objektif
1) Membuatt table Persiapan
No.item
WL
WH
WL-WH
01
02
03
dst
2) Menghitung jumlah peserta didik yang gagal pada kelompok
bawah WL dan menghitunng jumlah peserta didik yang gagal
pada kelompok atas WH.
3) Mengurangkan hasil WL dengan hasil WH
4) Menambahkan hasil WL dengan hasil WH
5) Membandingkan nilai WL-WH dengan nilai table signifikansi DP
Jika WL-WH lebih besar dari harga table signifikansidaya
pembeda, maka soal tersebut signifikan.
Table for determining whether or not given test item
discriminates significantly between a high and low group.

WL+WH

Analisis Pengecoh
Butir soal yang baik pengecohnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik
yang menjawab salah. Sebaliknya, butir soal yang kurang baik pengecohnya akan
dipilih secara tidak merata.
Pengecoh dianggap baik bila jumlah peserta didik yang memilih pengecoh itu sama
atau mendekati ideal. Indeks pengecoh dihitung dengan rumus :

IP =

P
( NB)/(n1)

100%

Keterangan :
IP = indeks pengecoh
P = jumlah peserta didik yang memilih pengecoh
N = jumlah peserta didik yang ikut tes
B = jumlah peserta didik yang menjawab benar pada setiap soal
n= jumlah alternative jawaban (opsi)

1 = bilangan tetap
Catatan :
Jika semua peserta didik menjawab benar pada butir soal tertentu (sesuai kunci
jawaban), maka IP = 0 yang berarti soal tersebut jelek. Dengan demikian, pengecoh
tidak berfungsi.
Kualitas pengecoh berdasar indeks pengecoh adalah :
Sangat Baik

IP = 76% - 125%

Baik

IP = 51% - 75% atau 126% - 150%

Kurang Baik

IP = 26% - 50% atau 151% - 175%

Jelek

IP = 0% - 25% atau 176% - 200%

Sangat Jelek IP = lebih dari 200%