Vous êtes sur la page 1sur 8

PROSES KEJADIAN ASAL MULA KEHIDUPAN MANUSIA

1.1.1 Asal-Usul Dunia dan Manusia Menurut Beberapa Pandangan Filsafat


Sejak dahulu iman Kristen berhadapan dengan jawaban-jawaban menyangkut
pertanyaan mengenai asal mula, yang bunyinya lain dari pada jawaban Kristen. Dalam
agama dan kebudayaan kuno terdapat banyak mitos mengenai asal-usul bumi. Di
antara pandangan-pandangan tersebut, muncul misalnya dalam bentuk pandanganpandangan filsafat tentang asal-asal usul dunia dan kehidupan, seperti berikut:
Panteisme :
Aliran Panteis berpendapat segala-galanya adalah Allah; bumi ini adalah Allah dan
jadinya bumi ini adalah jadinya Allah.
Dualisme/Manikheisme
Aliran Dualis berpendapat, bumi ini secara mutlak mengalir keluar dari Allah; ia
mengalir dari-nya dan bermuara lagi pada-Nya.
Gnosis
Kaum Gosis berpendapat bahwa dunia ini (minimal dunia material) adalah jahat,
merupakan suatu gejala kemerosotan,dan karena itu harus ditinggalkan.
Deisme
Kaum Deistis berpandangan bahwa bumi dan isinya ini diciptakan oleh Allah, tetapi
setelah diciptakan langsung diserahkan kepada dirinya sendiri, dan pencipta-nya tidak
mempunyai tanggungjawab lagi terhadap ciptaan itu.
Materialisme
Kaum materialis pada dasarnya tidakmengakui asal bumi dari sesuatu yang lebih tinggi,
tetapi hanya merupakansebuah permainan materi, yang sudah selalu ada (berasal dari
materi yang sudahada).
1.1.2 Asal Usul Manusia Menurut Pandangan Sains
IMAN DAN ILMU PENGETAHUAN, apakah bertentangan ?
(diambil dari tulisan Prof. Magnis Suseno - Menjadi Saksi Kristus DiTengah
Masyarakat Majemuk) *

Dalam sejarah,perjumpaan antara iman dan ilmu pengetahuan sering mengalami up


and down. Perjumpaan itu kadang saling berkolaborasi dan saling mendukung, tetapi
tidak jarang juga saling menegasi dan saling klaim sebagai yang paling benar.
Berkaitan dengan hal tersebut, ada dua tema hendak diangkat sebagai contoh kasus
hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan dalam perjalanan sejarah. Dengan
penyajian ini diharapkan terbentuk pemahaman bahwa iman dan ilmu pengetahuan
adalah dua hal yang dapat saling menunjang namun sekaligus menjadi inspirasi kritis
satu terhadap yang lain.
Penciptaan dan Evolusi
Pada tahun 1857 Charles Darwin (1809 1882) menerbitkan bukunya berjudul: On
the Origin of Species by Means of Natural Selection. Dalam buku itu Darwin menulis
bahwa tetumbuhan dan binatang tidak selalu seperti sekarang, melainkan merupakan
hasil suatu perkembangan (evolusi). Pada awalnya, ratusan juta tahun lalu (menurut
pengetahuan sekarang sekitar 3,5 miliar tahun lalu) hanya ada organisme-organisme
amat sederhana, tetapi Darwin tidak berbicara tentang bagaimana organismeorganisme pertama itu terjadi. Organisme-organisme sederhana itu berkembang
menjadi kemajemukan jenis yang kita kenal sekarang. Dijelaskan bahwa proses itu
semata-mata karena kekuatan alam sendiri, persisnya dengan dua faktor: yakni adanya
perubahan-perubahan kecil spontan (mutasi), dan adanyaseleksi alam dimana hanya
yang paling sesuai dengan lingkungan (alam) yang berhasil mempertahankan diri.
Dalam teori Darwin,manusia merupakan hasil evolusi dari binatang bukan manusia
yang menjadi nenek moyang bersama manusia dan kera.
Ajaran Darwin ini kelihatan bertentangan sama sekali dengan apa yag ditulis dalam
Kitab Suci. Menurut teori Evolusi, bumi dan segala isinya tidak diciptakan sekali jadi
dalam enam hari seperti dalam kisah Kejadian bab 1, tetapi berkembang, tanpa
intervensi dari Tuhan, atas kekuatan alam sendiri, selama miliaran tahun, sampai
akhirnya sekitar 2 juta tahun lalu melahirkan manusia primitif mirip kera, dan bukan
makhluk hebat di taman Firdaus, seperti diceritakan dalam KS. Maka, baik ajaran
penciptaan maupun cara penciptaan dipertanyakan.
Teori Evolusi, karena itu, cukup lama ditolak gereja sebagai suatu teori yang tidak
sesuai dengan ajaran gereja (iman) dan karena itu tidak mungkin benar. Secara
proporsional, penolakan itu terjadi karena: di satu pihak, teori evolusi dan ilmu-ilmu
alam pada abad 19, tidak cukup memperhatikan batas metodenya dan berasumsi
bahwa mereka dapat memberikan penjelasan yang menyeluruh tentang dunia dan
manusia. Di pihak lain, juga harus diakui bahwa penolakan tersebut terjadi karena
gereja pada waktu itu tidak cukup merefleksikan apa yang bisa menjadi isi Wahyu Ilahi,
dan mengklaim bahwa dapat mengetahui semuanya dari Kitab Suci, maka harus
mengajar secara otoritatif bagaimana terjadinya manusia.
Sebetulnya, teori evolusi tidak perlu bertabrakan / bertentangan dengan ajaran
gereja jika kedua-duanya memperhatikan pendekatannya yang khas terhadap dunia,
dan juga memperhatikan batas dari masing-masing pendekatan itu.

Ada tiga pendapat: Pertama, teori evolusi membantah ajaran penciptaan oleh Allah,
maka kepercayaan akan penciptaan harus dilepaskan. Kedua, Teori evolusi tidak
sesuai dengan Kitab Suci, maka tidak mungkin betul. Kitab Suci adalah Wahyu Allah,
lebih benar daripada teori ilmiah. Dan pendapat Ketiga, teori evolusi tidak mesti
bertentangan dengan kepercayaan akan penciptaan. Maka dua-duanya dapat samasama dipertahankan. Kita boleh menerima bahwa organis medan makhluk sekarang
merupakan hasil evolusi, tetapi alam semesta dan daya evolusi sendiri berasal /
diciptakan oleh Allah.
Pendapat pertama dan kedua jelas sangat tidak memuaskan. Bagi penganut agama
Wahyu,yang percaya pada ajaran penciptaan (spt Yahudi, Kristen dan Islam) adalah
tidak mungkin dan tidak masuk akal untuk melepaskan sesuatu yang diyakini sebagai
wayu ilahi, demi sebuah teori manusia. Namun di pihak lain juga, pihak yang tidak
menolaknya semata-mata karena alasan religius, tidak meragukan teori evolusi, dan
menganggap tidak masuk akal seorang yang beragama harus melepaskan sesuatu
yang tampak sebagai fakta ilmiahyang sudah mantap.
Persoalannya adalah, bagaimana dua pendapat yang kelihatan saling membatalkan
bisa dipertahankan sekaligus, dan tidak masuk dalam kategori dualisme kebenaran
(seolah-olah ada dua kebenaran, yang satu ilmiah, yang lainnya teologis. Karena
dualisme itu secara intelektual kurang sedap).
Beberapa agumentasi dapat dikemukakan: Pertama, dengan mengesampingkan
kisah penciptaan, perlu ditegaskan bahwa teori evolusi sama sekali tidak bertentangan
dengan iman akan penciptaan dunia oleh Allah. Ajaran Penciptaan dan Teori evolusi
adalah dua pendekatan yang berbeda terhadap dunia, dan membicarakan dua aspek
yang berbeda. Teori evolusi mengungkapkan kenyataan riil, sebagaimana adanya.
Namum perlu diperhatikan bahwa, yang dianggap tak terbantahkan hanyalah fakta
evolusi. Akan tetapi,Darwinisme tidak berhasil sama sekali untuk menjelaskan faktorfaktor mana yang memungkinkan terjadinya evolusi itu. Mutasi dan seleksi alam hanya
menjelaskan perbaikan organisme yang ada, bukan terjadinya organisme baru
(misalnya terjadinya ikan atau hewan menyusui, dll.).Mengatakan bahwa
perkembangan itu kebetulan adalah sama sekali tidak rasional. Sedangkan, Ajaran
Penciptaan berbicaratentang sebuah dimensi baru, tentang sesuatu yang harus
diandaikan sebagai sebab / pendasaran dari kenyataan yang riil itu. Evolusi bisa
diselidikimelalui eksperimen dan panca indera, sedangkan penciptaan harus diandaikan
sebagai prinsip metaphysis, meta-empiris,yang memungkinkan adaya evolusi. Ajaran
Penciptaan mau menjelaskanasal dan alasan keberadaan dari semua kenyataan yang
ada, alasan yangterus-menerus memberi kualitas tertentu, yang membuat sesuatu yang
tidak adamenjadi ada. Sedangkan evolusi hanya bisa menjelaskan perkembangan dari
sesuatuyang sudah ada. Jadi, evolusi, kalau tidak melampaui batasnya,
tidakmenjelaskan asal dari adanya segala sesuatu, tetapi (hanya) tentang perubahan
dari yang ada, yang berubah dalam proses evolusi. Maka menjadi masuk akal kalau
mengatakan bahwa rupanya evolusimengikuti suatu rencana (design) tertentu. Tetapi,
Siapa yang bisa memberikan rencana pada perkembangan organisme itu, kalau
bukan yang menciptakannya ?

Kedua, bila mengambil secara harafiah tentang kisah penciptaan dalam enam hari,
memang menjadi pertentangan. Namun bila diperhatikan, antara kisah penciptaan
dalam Kej. 1 dan kisah penciptaandalam Kej. 2 terdapat perbedaan. Maka kisah
penciptaan dalam Kitab Kejadian bukanlah sebuah kisah ilmiah tentang proses
penciptaan. Kitab Kejadian memakai cerita sastra untuk mengungkapkan kebenaran
tentang tiga hal, yaitu:pertama, segala sesuatu yang ada diciptakan oleh Allah; kedua,
segala yang diciptakan oleh Allah itu baik adanya; dan ketiga, manusia adalah puncak
dari seluruh ciptaan (manusia sebagai mahkota ciptaan).
Maka sama sekali tidak ada dan tidak perlu ada pertentangan antara iman akan
penciptaan oleh Allah dan teori evolusi. Kitab Suci bukan buku ilmu alam atau ilmu
pengetahuan, maka tidak berbicara tentang bagaimana Allah menciptakan bumi,
tetumbuhan, binatang dan manusia; apakah dalam waktu beberapahari atau melalui
proses jutaan / milyaran tahun lamanya. Dan juga, manusia hasil evolusi tidak kurang
diciptakan oleh Allah daripada manusia yang langsung dibentuk dari tanah (bdk. Kej.2:
7).
Secara teologis, Allah tidak pernah menghapus kegiatan dari ciptaan menurut
kemampuannya. Allah memberi kemampuan kepada makhluk-makhluk untuk
bergiatsendiri dan Allah tidak menggantikan aktivitas makhluk-makhluk itu dengan
kemahakuasaan-Nya. Evolusi justru bisa dipahami kalau percayabahwa Allah
menciptakan seluruh dunia dengan semua hukum alam serta meletakkankekuatan dan
arah perkembangan ke dalam organisme ciptaan. Seperti makhlukindividual
berkembang dan bertumbuh seturut kemampuan dan tujuan yang sudah Iaberikan
kepadanya, begitu juga Allah menggunakan kekuatan ciptaan untukmenghasilkan jenisjenis baru dalam dunia melalui evolusi.
Sebuah Catatan Tentang Kasus Galileo Galilei:
Galileo Galilei (1564 1642) adalah seorang ahli ilmu perbintangan. Dengan
mengamati planet-planet melalui teropong yang dibuat sendiri, Galileo mendukung teori
heliosentris, yang dikemukakanoleh Kopernikus. Galileo sebagai ilmuwan awalnya
sangat dihargai di Roma danbahkan diterima menjadi anggota Akademi Ilmu
Pengetahuan Kepausan.Namun, pada tahun 1616, ketika Galileo masuk dalam
persoalan apakah system heliosentris dapat disesuaikan dengan Kitab Suci, maka
muncullah reaksi dari Inkuisisi (Pengadilan Iman) dengan melarang Galilei untuk
mengajar sistemnya, dan buku Galileo dimasukkan dalam daftar buku terlarang. Selain
itu, gereja tidak mengganggu dia. Namun pada tahun 1635, Galileo mempublikasikan
sebuah buku baru tentang sistem heliosentris. Maka karena itu,Galileo diadili dan
dinyatakan bersalah oleh Inkuisisi, disuruh bersumpah bahwa ia menyangkal sistem
heliosentris dan dihukum penjara seumur hidup (meskipun pelaksanaannya dijalankan
sebagai tahanan di rumahnya di Firense).
Secara sportif dan positif, memang sekarang kita merasa malu bahwa Gereja Katolik
pernah menolak sebuah teori yang saat ini diterima sebagai suatu kebenaran ilmu
pengetahuan. Dan kurang-lebih 350 tahun setelah peristiwa tersebut, Gereja Katolik di

bawah kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II, mengulangi pengadilan iman dan telah
menyatakan diri salah dan resmi menyatakan Galileo tidak bersalah.
Hal yang sering kali kurang diperhatikan dari persoalan ini adalah bahwa Galilei(dan
teori Kopernikus) baru dikutuk sesudah Galilei memasuki masalah interpretasi Kitab
Suci (khususnya dalam Yosua 10: 13 ditulis, matahari berhenti di langit agar rakyat
Israel mempunyai waktu untuk mengalahkan musuh-musuhnya;).
Galilei yang bukan seorang ahli Kitab Suci, seharusnya tidak memasuki ranah yang
bukan kompetensinya. Namun karena dia memasuki wilayah itu, maka gereja bertindak
dan memang kalau dilihat dari saat ini, reaksi itu mungkin berlebihan (karena mungkin
akan lebih proporsional jika gereja pada waktu itu membatasi diri untuk melarang Galilei
bicara tentang Kitab Suci). Maka, menjadi jelas dalam kasus Galileo Galilei bahwa
bukan kemajuan ilmu pengetahuan itu sendiri yang ditentang(ditolak) Gereja, tetapi
kenyataan bahwa Galileo memasuki ranah teologi KitabSuci, yang bukan
kompetensinya. Dan juga menjadi jelas bahwa seluruh konflikGalileo dengan Gereja
bukanlah konflik antara iman dan ilmu pengetahuan, tetapiantara paradigma
kosmologis lama dan baru.
Situasi dan iklim intelektual saat persoalan iti muncul, mesti juga
menjadipertimbangan untuk memahami persoalan Galileo dan Gereja Katolik pada
waktuitu. Bagi banyak pemikir pada paruh pertama abad 17, baik pimpinan
gereja,teolog, filsuf dan bahkan para ilmuwan, perubahan pandangan dari paradigma
lama bahwa bumi menjadi pusatalam semesta, kepada paradigma baru di mana
matahari menjadipusat alam semesta adalah sesuatu yang berlangsung terlalu cepat.
1.1.3

Asal-Usul Dunia dan Manusia Menurut Kitab Suci Kisah Penciptaan

Manusia Diciptakan Menurut Citra Allah Berarti Manusia diciptakan segambar atau
serupa Allah. Hal ini tertulis dalam Kitab Kej. 1:26-28 3. Manusia sebagai Citra Allah.
Pengertian Kata Citra berarti gambar, rupa, bayangan Definisi Citra berarti gambar
yang menunjukan pada identitas atau ciri seseorang/sekelompok orang
Kej.1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan
rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara
dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap
di bumi." Kej.1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut
gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Kej.
1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah
dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikanikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di
bumi." KISAH PENCIPTAAN Manusia diciptakan segambar dengan Allah Manusia
diciptakan sepasang: laki-laki dan perempuan agar beranak cucu dan bertambah
banyak Manusia diberi mandat untuk bertanggung- jawab atas mahluk ciptaan lain
Allah melihat segala yang dijadikannya sungguh amat baik
Konsekwensi Manusia sebagai Citra Allah: a) Kata secitra Allah hanya pada manusia,
tidak pada mahluk lain b) Manusia adalah ciptaan Allah yg bermartabat luhur c)

Manusia di dunia merupakan mahluk yg dikehendaki Allah demi diri-Nya sendiri d)


Manusia mempunyai ikatan kesatuan dg Allah.
Manusia Lebih Luhur dan Memiliki Keunggulan daripada Ciptaan Allah Lainnya Manusia
dianugerah Allah dg 3 kemampuan Istimewa: 1) Akal Budi/pikiran 2) Kebebasan/
kehendak bebas 3) Hati Nurani
1. Kemampuan Akal Budi
Kemampuan Akal Budi: 1) Mengerti dan menyadari diri sendiri (Cogito Ergo Sum, kata
Rene Descartes) 2) Mengerti dan menyadari semua yang ada di luar dirinya 3) Manusia
dapat mengembangkan diri, dapat membuat riwayat dan sejarah hidupnya 4) Manusia
dapat membangun hubungan yang khas dengan sesamanya
Dengan akal budi antara lain kita dapat:
a.

Mengerti dan menyadari diri sendiri.


Manusia mengerti dan sadar bahwa dia ada, bahwa ia sedang berbuat sesuatu. Ia
sadar bahwa ia sadar. Ia dapat merefleksikan kembali apa yang sedang dia buat.
Hanya manusia dapat berbuat demikian, binatang tidak!

b.

Mengerti dan menyadari apa saja di luar dirinya.


Manusia dapat menyadari bahwa ada awan dan ada hujan, dan mencari tahu hubungan
antara awan dan hujan. Manusia dapat mencari hubungan antara faktor-faktor dan
membuat kesimpulan. Hewan tidak. Manusia dapat membuat rencana untuk masa
depan, binatang tidak.
Kalau mendapat 2 buah apel, manusia dapat makan satu buah dan yang lainnya
disimpan. Kalau babi dia akan memakan kedua-duanya.

c.

Manusia dapat mengembangkan dirinya, dapat membuat riwayat dan sejarah


hidupnya.
Manusia dapat bertanya dan mencari jawaban. Dengan demikian, manusia dapat
membuat kemajuan, dapat menetukan arah dan sejarah hidupnya.

d.

Manusia dapat membangun hubungan yang khas dengan sesama.


Manusia dapat bertemu dan mengalami kebersamaan dan persahabatan dengan orang
lain. Karena itu, manusia menciptakan bahasa, adat istiadat, dan sebagainya.

2. Kemampuan Berkehendak Bebas


Kemampuan Berkehendak Bebas 1) Dengan kehendak bebas manusia dapat bertindak
melakukan sesuatu dengan sengaja 2) Dengan kehendak bebas manusia dapat
melakukan suatu tindakan dan perbuatan moral 3) Dengan
kehendak bebas manusia dapat bertindak secara bertanggungjawab
Kehendak bebas berarti kemampuan untuk bertindak dengan tidak ada paksaan.
Kebebasan merupakan ciri khas manusia.
a.

Dengan kehendak bebas, kita dapat bertindak dan melakukan sesuatu dengan
sengaja.
Hanya manusia dapat melakukan sesuatu dengan sengaja. Melakukan dengan tahu
dan mau. Hewan tidak. Hewan berbuat sesuatu karena naluri.

b.

Dengan kehendak bebas manusia dapat melakukan suatu tindakan dan perbuatan
moral.
Tindakan moral hanya dapat dibuat oleh manusia, sebab hanya manusia dapat
bertindak dengan tahu dan mau. Hewan tidak.
Oleh karena itu, manusia mempunyai kewajiban-kewajiban moral.
Kewajiban moral ini dibisikkan oleh hati nurani kita masing-masing. Tuhan berbicara
kepada kita lewat hati nurani kita!

c.

Dengan kehendak bebas, kita dapat bertindak secara bertanggung jawab.


Hanya manusia dapat bertindak dengan bertanggung jawab. Hewan tidak,
3. Kemampuan Hati Nurani
Kemampuan Hati Nurani 1) Manusia diberi kemampuan untuk membedakan yang baik
dan yang tidak baik, yang benar dan salah 2) Manusia menjadi rekan sekerja Allah bagi
ciptaan yang lain (Co-Creator Dei). Allah bekerjasama dg manusia yang bersemi di
setiap hati 3) Manusia sebagai mahluk pribadi dan bermartabat memiliki nilai hakiki
dalam sanubari
Hati nurani berfungsi sebagai pegangan, pedoman, atau norma untuk menilai suatu
tindakan, apakah tindakan itu baik atau buruk.

b.
c.

Hati nurani berfungsi sebagai pegangan atau peraturan-peraturan konkret di dalam


kehidupan sehari-hari.
Hati nurani berfungsi menyadarkan manusia akan nilai dan harga dirinya.

4.

Kemampuan Menguasai
Tuhan menyerahkan alam lingkungan ini kepada manusia untuk menguasainya.
Bukan menguasainya secara sewenang-wenang., tetapi menguasainya secara
bertanggung jawab. Tuhan menghendaki supaya alam ini, selain digunakan oleh
manusia, supaya ditata dan dilestarikan. Kita menjadi rekan sekerja Tuhan untuk
mengembangkan alam lingkungan kita. Untuk itu, kita dikurniai akal budi dan kehendak
bebas.
Dengan melihat kemampuan-kemampuan tersebut, kiranya menjadi jelas bahwa
manusia adalah makhluk yang istimewa dan unik. Manusia adalah makhluk yang
berpribadi dan bermartabat. Manusia sungguh gambaran dan citra Allah. Oleh sebab
itu, sesudah manusia diciptakan sebagai puncak ciptaan, Dalam Kitab Kejadian (Kej
1:31) tertulis: Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya sungguh amat baik!
Manusia Memiliki Daya Cipta : Akal budi utk mengerti, menyadari, dan menciptakan
atau menghasilkan sesuatu.
Manusia Mempunyai Rasa Memiliki perasaan: senang, puas, bangga, kagum, iba,
cinta, cemas, kuatir, heran, marah, benci, sedih.
Manusia Mempunyai Karsa Kemampuan untuk memilih, menentukan, memutuskan,
dan melakukan sesuatu.
Manusia Mempunyai Tubuh, Jiwa dan Roh Tiga unsur pokok manusia: tubuh yang
jasmaniah, jiwa yang berkembang dan roh yang menghidupkan!