Vous êtes sur la page 1sur 15

CEKUNGAN PULAU JAWA BAGIAN SELATAN

Cekungan pulau jawa bagian selatan terletak di daerah Jawa Tengah, yang
merupakan bagian dari Pulau Jawa, menunjukan bagian yang menjorok ke dalam
atau indentasi pada garis pantai sebelah utara dan selatannya apabila
dibandingkan dengan garis pantai di Jawa Timur dan Jawa Barat. Indentasi ini
merupakan expresi dari gejala tektonik di Pulau Jawa. Gejala tektonik Paleogene
Pulau Jawa yang berbelok ke arah Meratus (Kalimantan) menimbulkan zona sesar
anjakan yang berkembang menjadi Zona strike-slip fault (sinistral) pada bagian
Muria hingga Kebumen dan dalam mencapai keseimbangannya terbentuk
Antithetic fault berupa zona sesar anjakan yang berkembang menjadi strike-slip
fault (dextral) pada Daerah Pamanukan hingga Cilacap.
Dua sesar utama ini yang menyebabkan perubahan kondisi geologi dan
morfologi di Jawa Tengah. Dua sesar utama ini menyebabkan beberapa tinggian
serta bagian yang subsidence (basin). Beberapa tinggian serta subsidence yang
disebabkan oleh dua sesar ini adalah tinggian Pegunungan Serayu Utara dan
Selatan, terexpose-nya batuan pra-Tersier di kompleks mlange Luk Ulo,
subsidence di bagian utara dan selatan Jawa Tengah dan perubahan garis pantai
di utara dan selatan Pulau Jawa.
Cekungan Banyumas / Banyumas Basin merupakan salah satu cekungan yang
terdapat di selatan Jawa Tengah, cekungan ini diduga terbentuk dari proses
subsidence akibat expresi dari salah satu sesar utama di Jawa Tengah
(Pemanukan-Cilacap Fault) yang berarah Tenggara-Barat Laut. Pemanukan-

Cilacap fault yang merupakan strike-slip fault (Dextral) menghasilkan expresi


berupa Tinggian dan Subsidence, tinggian berupa tinggian Bumiayu dan
Subsidence berupa Banyumas Basin. Banyumas Basin ini sendiri telah
mengalami evolusi yang awalnya merupakan Intra-arc basin dan saat ini menjadi
Fore-arc basin. struktur yang dijumpai di endapan sedimen Banyumas basin saat
ini dominan berupa Lipatan dan sesar-sesar anjak / Trust Fault. referensi dari
peneliti terdahulu mengatakan bahwa struktur-struktur lipatan dan trust-reverse
fault ini terbentuk oleh tektonik dengan Pola Jawa.
Daerah Cipari merupakan daerah yang berada di selatan Pulau Jawa yang
terdapat didalam cekungan Banyumas/Banyumas Basin dan dilewati oleh salah
satu sesar utama di Jawa Tengah. Bila dipandang dari sisi geologi, daerah ini
merupakan daerah yang kompleks dengan struktur geologi yang cukup beragam,
selain itu daerah ini juga memiliki potensi cadangan minyak bumi yang ditandai
dengan adanya rembesan minyak atau seepage. Namun hingga saat ini
explorasi di daerah ini tidak mendapatkan hasil yang signifikan. Hal ini menjadi
suatu tantangan bagi para pelaku dalam kegiatan ekplorasi di daerah tersebut.
Daerah ini umumnya didominasi oleh endapan turbidit yang mengalami sesar
anjakan-lipatan atau fold-trust belt. Sesar anjakan-lipatan tersebut membentuk
tinggian dan cekungan yang menunjukan suatu batas ketidakselarasaan pada
selang waktu pembentukan sesar tersebut dan membentuk suatu sikuen
stratigrafi yang cukup jelas (Mulhadiyono, 1996).

TEKTONIK DAN PEMBENTUKAN CEKUNGAN


Tabrakan lempeng benua dan lempeng samudra (akhir Kapur Oligosen)
menyebabkan zona subduksi berarah barat-timur di selatan Jawa, kemudian
melengkung ke arah baratlaut pada bagian barat dan timurlaut pada bagian
timur dan memotong Jawa Timur hingga Kalimantan bagian tenggara.
Pada akhir tabrakan, tiga retakan mulai terbentuk. Retakan tersebut
berarah barat-timur pada bagian utara, berarah baratlaut-tenggara dari timur
Kroya dan berarah utara-baratdaya dari barat Kulon Progo. Ketika tumbukan
mulai melambat atau berhenti pada akhir Oligosen, bagian-bagian yang terpisah
kemudian berpisah dikarenakan retakan-retakan yang teratur secara isostatik.
Penyesuaian ini menyebabkan pergerakan vertikal atau blok yang terpatahkan.
Pegunungan Serayu Selatan secara drastis merupakan blok yang turun. Dimana
sebuah graben berkembang di area Kebumen. Di bagian selatan dari Jawa

Tengah bagi menjadi tiga blok dimana pada masa Neogen berkembang sebagai
sub cekungan Banyumas, Kebumen dan Jogjakarta. Yang terpisah satu sama lain
oleh patahan Karang Bolong dan Purwerejo. Selama perkembangan cekungan,
secara berkelanjutan area terangkat dan juga membentuk area di sepanjang
utara (Jawa Geantiklin).
Dataran tinggi Kebumen terangkat di bagian utara dan blok yang turunnya
di bagian selatan. Karena dua pergerakan yang berlawanan, sebuah sistem blok
patahan sekunder juga berkembang pada basement cekungan. Subsiden
(penurunan dasar cekungan) maksimum di sub cekungan Kebumen terbentuk di
sepanjang patahan Karang Bolong. Sub cekungan Banyumas mulai terbentuk
secara intensif hanya pada akhir Miosen Tengah, dimana cekungan kecil
terbentuk di selatan Majenang (depresi dari Majenang-Wangon). Cekungan ini
merupakan efek dari pengangkatan geantiklinal dari selatan (dataran tinggi
Majenang). Sub cekungan Jogjakarta belum mulai terbentuk secara pasti tapi
tempat pengendapannya kemungkinan terhampar di sekitar kota Jogjakarta.
Konfigurasi dari cekungan berlanjut hingga akhir Pliosen, meskipun
sebagian besar dari cekungan terisi hampir penuh. Hanya pada bagian selatan
dan perpanjang dari lepas pantai cekungan masih berkembang.

Gambar 2. Penampang cekungan Jawa selatan


POLA PENGENDAPAN

Pengendapan pada cekungan Tersier dikendalikan sedikit banyaknya oleh


perlipatan berkelanjutan dari Jawa Geantiklin dan relatif stabil setelah Oligosen
High.
Sub cekungan banyumas secara umum merupakan cekungan laut dangkal
dengan sedikit paparan sedimen yang diendapkan. Hanya selama akhir dari
Miosen Tengah hingga Pliosen Bawah pada Besuki High dan Depresi dari
Majenang Wangon, sebuah sikuen turbiditik terbentuk ketika sebuah cekungan
berkembang pada pengangkatan Majenang. Selama sedimentasi, Gabon hingga
selatan terintenmitenkan tinggi ketika bukit-bukit karang lokal terbentuk dan
juga aktif sebagai sumber sedimentasi.
Di area Kulon Progo sedimentasinya hampir sama dengan area Banyumas.
Sebuah shelf terbentuk di sekitar high (kecuali di barat) dan secara progresif
semakin dalam ke arah luar.
Sedimentasi di sub cekungan Kebumen lebih komlpek dimana turbidit,
slump dan luncuran sedimen seperti sikuen sedimen yang belum terpatahkan,
ditemukan pada semua unit-unit stratigrafi Tersier. Indikasi ini menandakan
selama sedimentasi arah ini merupkan zona yang sangat aktif. Pengangkatan
berkelanjutan di daerah utara, dan patahan yang aktif turun di barat dan timur,
dan sistem blok patahan sekunder pada basement cekungan Tersier yang
dipengaruhi oleh gravitasi dari aliran sedimen yang di endapkan pada cekungan.

Gambar 3. cekungan Jawa selatan

STRATIGRAFI
STRATIGRAFI
Penyusunan unit batuan berdasarkan penulis terdahulu (Harloff 1933,
Marks 1957, Mulhadiono 1973, Asikin 1974).

1.4.1 Sub cekungan Banyumas


Batuan tertua dari formasi Gabon yang berumur relatif akhir Oligosen
hingga awal Miosen Tengah (N1-N9). Terdiri dari breksi vulkanik, breksi batupasir
dengan interkalasi yang jarang dari marl yang mengindikasikan asal marin. Unit
ini tersingkap pada pegunungan Gabon, Nusakambangan dan Karang Bolong dan
mencapai ketebalan lebih dari 1 km. Unit di atasnya adalah Formasi Penanjung
yang berusia Miosen Tengah (N1-N12), terdiri dari dominasi marl endapan dari
lingkungan

laut

terbuka.

Di

area

Besuki

marl

dari

Formasi

Penanjung

berkembang menjadi lempung yang dikenal sebagai Formasi Pemali. Formasi


Pemali (N10-N13) diendapkan pada batas lingkungan laut, yang diindikasikan
kayu yang terpiritkan. Formasi Kalipucang diatas Formasi Penanjung. Terdiri dari
karang-karang

dan

batugamping

yang

berlapis

(akhir

Miosen

N13-N14).

Perkembangan dari Kalipucang tidak mencapai area Besuki dan Karang Bolong
Area secara tepat terhampar di atas formasi Gabon.
Formasi Pemali dan Kalipucang menindih Formasi Halang pada akhir
Miosen hingga awal Pliosen (N14-N19), yang terdiri dari dominasi marl,
interkalasi breksi di bagian tengah dan batupasir di bagian atas (pegunungan
Gabon). Di area Besuki, formasi ini terbagi menjadi dua anggota, yaitu MS1 dan
MS2. MS1 terdiri dari sikuen turbidit dari batuan pasir vulkanik, breksi mikro dan
marl tufaan. Pada struktur dari gunung Wetan terdapat interkalasi delapan aliran
basalatik. Ketebalan Formasi Halang mencapai 500 hingga 1000 m. Sikuen tebal
batuan vulkanik dikenal sebagai Formasi Kumbang yang menindih Anggota MS1
Formasi Halang.
Formasi Kumbang terdiri dari breksi dan intrusi dan pada beberapa tempat
ditemukan bongkah marl tak beraturan. Keberadaan dari marl menandakan
bahwa unit ini terbentuk pada lingkungan laut dalam dengan aliran gravititasi

pada sedimen laut yang belum terkonsolidasi (Reineck dan Singh 1973). Formasi
Kumbang yang berusia akhir Miosen dan awal Pliosen (N15-N19) mencapai
ketebalan lebih dari 1 km. Formasi ini saling menjemari dengan Formasi Halang.
MS2

berusia

awal

Pliosen

(N19)

terdiri

dari

batupasir

kasar,

batupasir

gampingan, dengan fragmen-fragmen lignit secara lokal, lapisan batugamping


(di temukan dekat Rawalo). Selatan dari Majenang, anggota ini berkembang
dalam satu fasies lempung yang mengandung fragmen-fragmen cangkang dan
konkresi lempung dengan ketebalan hingga 250 m.

Gambar 4. Stratigrafi umum daerah Banyumas


(Sumber: F.X. Suyanto dan Roskamil, 1977, p.68)

Formasi Tersier termuda adalah formasi Bantardawa Talanggundang. Unit


ini berusia Pliosen (N19-N21) yang mengkin dibagi menjadi 2 anggota. Anggota
Bantardawa terdiri dari batupasir yang keras, homogen, dan berbutir kasar yang
diendapakan pada suatu paralik atau litoral hingga lingkungan neritik dangkal,
dan anggota Talanggundang terdiri dari lempung-lempung dengan intervalinterval

dari

lignit

yang

mengindikasikan

tipe

dari

lingkungan

laguna.

Bagaimanapun foreminifera planktonik yang juga ditemukan mengindikasikan

intermiten dari laut yang transgresi selama akhir Pliosen. Batu vulkanik Kuarter
yang ditemukan disekitar kota Banyaumas mengandung konglomerat dan breksi
dengan komponen batuan vulkanik yang bersubordinasi dengan lempunglempung dan kuarsit-kuarsit. Unit ini diendapkan tidak pada kondisi marin.

1.4.2 Sub cekungan Kebumen


Unit stratigrafi tersier tertua adalah Formasi Karangsambung yang berusia
Eosen Tengah hingga Eosen Akhir (P14-P16). Terdiri dari konglomerat basal,
batulempung, batuserpih, dan lensa-lensa batugamping.
Lapisan paling atas merupakan dominasi dari lempug-lempung yang
terubah dan diendapkan pada lingkungan laut dalam. Formasi ini memiliki
ketebalan lebih dari 600 m. Diatasnya adalah unit formasi Totogan (formasi
breksi

lempung)

berusia

akhir

Oligosen

hingga

awal

Miosen

(N3

pada

Karangsambung, N3-N5 pada area Lamuk) terdiri dari lempung hitam yang
terdeformasi sangat tinggi dan marl. Lempung-lempung terkadang mengandung
bongkah marl, kuarsit atau batugamping diperkirakan ada pada endapan
olistostrome. Di atas Totogan adalah Formasi Waturanda yang berusia awal
Miosen (N5-N8) yang berkomposisi vulkanik turbidit yang mencapai ketebalan
900m.
Formasi Penosogan yang terhampar diatas Formasi Waturanda terdiri atas
dominasi marl yang beusia awal Miosen hingga Miosen Tengah (N7-N13). Lapisan
basal ditemukan dalam kandungan komponen-komponen yang mengandung
batupasir dan fragmen-fragmen karang. Struktur turbidit dan slump juga
ditemukan (daerah Worawari). Ketebalannya lebih dari 1000 meter.
Di atasnya terhampar Tuff marl horizon ketiga yang berusia akhir Miosen
(N14-N18) yang terdiri dari dominasi batupasir sangat kasar pada bagian paling
bawah dan marl tufaan di bagian teratas. Pada dasar batupasir mengandung
bongkah batuan tertua. Formasi ini memiliki ketebalan 500m. struktur patahan

sesudah sedimentasi (synsedimentary) sering ditemukan. Breksi horizon kedua


merupakan penjemarian dari Penosogan dan unit tuff marl ketiga. Terdiri dari
braksi vulkanik, aliran basaltik, dan terkadang interkalasi dari marl.

Tubidit,

slump, dan struktur patahan synsedimentary biasa ditemukan. Formasi in


berumur akhir Miosen (N13-N14), dan mencapai ketebalan 130m (K. Curug,
Kebumen). Breksi horizon ketiga tersingkap menyebar. Unit ini berumur Pliosen
(N19) dan tersiri dari breksi vulkanik dengan komponen lempung. Kemungkinan
unit ini diendapkan secara gravitasional.
Unit termuda adalah breksi Lembah Serayu, yang terdiri dari breksi
vulkanik tua. Penyebarannya sepanjang sungai Serayu pada bagian selatan dari
Kebumen High, diendapkan pada lingkungan non marin.

Gambar 5. Stratigrafi umum daerah Kebumen


(Sumber: F.X. Suyanto dan Roskamil, 1977, p.67)

1.4.3 Sub cekungan Kulon Progo


Unit strafigrafi tertuanya adalah Formasi Nanggulan yang berusia Eosen
Tengah hingga akhir Eosen (P14-P16). Singkapannya ditemukan dekat desa
Nanggulan. Bagian bawah formasi ini terdiri dari batupasir, batuserpih dan

batulempung dengan lignit dan interkalasi dari karbon. Formasi ini kebanyakan
diendapkan pada lingkungan paralik, tapi pada bagian atas mengandung
sedimen laut. Ketebalannya lebih dari 100m. Diatasnya terhampar andesit tua
yang terdiri dari breksi vulkanik dan intrusi. Fosil tidak ditemukan pada unit ini,
tapi dari korelasi dan hukum superposisi diperkirakan umurnya adalah Oligosen.
Unit ini menindih Formasi Sentolo dan Formasi Sambipitu yang berkembang
dalam dua fasies berbeda.
Formasi Sambipitu berumur awal Miosen (N4-N7), terdiri dari braksi
vulkanik dan aglomerat pada bagian paling bawah (Nglanggran Bed) lapisan
batugamping, batuserpih dengan fosil tanaman dan greywacke dengan bongkah
gampingan pada bagian paling atas. Ketebalannya lebih dari 1000m. Formasi
Sentolo berumur awal Miosen (N4-N18), pada bagian paling bawah terdiri dari
lapisan basal tapi dominasi marl jug aditemukan pada formasi ini. Formasi in
diendapkan pada lingkungan neritik hingga bathial dan ketebalannya mencapai
1200m. Formasi Jonggrangan menindih Andesit Tua yang dikenal juga sebagai
Formasi Sambipitu. Terdiri dari longsoran karang batugamping dan pada bagian
paling atas terdapa interkalasi lempung dan lignit. Unit ini memiliki ketabalan
400m. Berusia Miosen Awal hingga Miosen Tengah (TF1-2).
Terhampar diatasnya Formasi Wonosari yang terdiri dari batugamping
dengan festoon atau crossbeding planar. Berusia Pliosen (N20-N21) dan
mencapai

900m.

diendapakan

pada

lingkungan

neritik.Vulkanik

Kuarter

mengandung aglomerat tufaan non marin yang terhampar diatas sedimen


tertua.

Gambar 6. Stratigrafi umum daerah Kulonprogo


(Sumber: F.X. Suyanto dan Roskamil, 1977, p.67)

FORMASI YANG TERDAPAT DI CEKUNGAN BANYUMAS


Stratigrafi regional mandala serayu selatan atau cekungan banyumas terdiri dari
beberapa formasi antara lain yang berbeda karakteristik anggota penyusunnya
dan lingkungan pengendapannya, antara lain:
1. Batuan Pratersier
Merupakan batuan tertua yang tersingkap di zona pegunungan serayu selatan,
mempunyai umur kapur tengah sampai denga paleosen yang dikenal sebagai
kompleks Mlange Luk Ulo (Sukendar Asikin, 1974 dalam Prasetyadi 2010).
Kelompok batuan ini merupakan bagian dari kompleks mlange yang terdiri dari
graywake, sekis, lava basalt berstruktur bantal, gabbro, batugamping merah,
rijang, lempung hitam yang bersifat serpihan dimana semuanya merupakan
campuran yang dikontrol oleh tektonik.
2. Formasi Karangsambung
Merupakan kumpulan endapan olisostrom, terjadi akibat pelongsoran gaya berat
di bawah permukaan laut, melibatkan endapan sedimen yang belum terkompaksi
yang berlangsung pada lerengparit di bawah pengaruh endapan turbidit. Formasi
ini merupakan sedimen pond dan diendapkan diatas bancuh Luk Ulo, terdiri dari
konglomerat polimik, lempung abu-abu, serpih, dan beberapa lensa

batugamping foraminifera besar. Hubungan tidak selaras dengan batuan


Pratersier.
3. Formasi Totogan
Harloff (1933) dan Tjia HD (1996) menamakan sebagai tufa napalm I, sedangkan
Suyanto & Roksamil (1974) menyebutnya sebagai lempung breksi. Litologi
berupa breksi dengan komponen batulempung, batupasir, batugamping, napal,
dan tufa. Berumur oligosen-miosen awal, dan berkedudukan selaras diatas
formasi karang sambung.
4. Formasi Waturanda
Fomasi ini terdiri dari batupasir vulkanik dan breksi vulkanik yang berumur
miosen awal-miosen tengah yang berkedudukan selaras diatas formasi totogan.
Formasi ini memiliki anggota Tuff, dimana Harloff (1933) menyebutnya sebagai
Eerste Merger Tuff Horizon.
5. Formasi Penosogan
Formasi ini terendapkan selaras diatas formasi waturanda, litologi tersusun dari
perselingan batupasir, batulempung, tufa, napal, dan kalkarenit. Ketebalan
formasi ini 1000 meter, memiliki umur miosen awal-miosen tengah.
6. Formasi Halang
Menindih selaras di atas formasi Penosogan dengan litologi terdiri dari
perselingan batupasir, batulempung, napal, tufa dan sisipan breksi. Merupakan
kumpulan sedimen yang dipengaruhi oleh turbidit bersifat distal sampai
proksimal pada bagian bawah dan tengah kipas bawah laut. Formasi ini memiliki
umur miosen awal-pliosen. Anggota Breksi Halang, Sukendar Asikin menamakan
sebagai formasi breksi II dan berjemari dengan formasi Penosogan. Namun
Sukendar Asikin (1974) meralat bahwasanya Anggota Breksi ini menjemari
dengan Formasi Halang (dalam Prasetyadi, 2010)
7. Formasi peniron
Peneliti terdahulu menamakan sebagai horizon breksi III. Formasi ini menindih
selaras diatas formasi haling dan merupakan sedimen turbidit termuda yang
diendapkan di Zona pegunungan serayu selatan. Litologinya terdiri dari breksi
aneka bahan dengan komponen andesit, batulempung, batupasir dengan masa
dasar batupasir sisipan tufa, batupasir, napal, dan batulempung.
8. Batuan vulkanik muda
Memiliki hubangan yang tidak selaras dengan semua batuan yang lebih tua
dibawahnya. Litologi terdiri dari breksi dengan sisipan batupasir tufan, dengan
komponen andesit dan batupasir yang merupakan bentukan aliran lahar pada
lingkungan darat. Berdasarkan ukuran komponen yang membesar kearah utara
menunjukkan arah sumber di utara yaitu Gunung Sumbing yang berumur
plistosen (Dari berbagai sumber dalam Prasetyadi, 2010)

SEJARAH PENGENDAPAN
1.5.1 Eosen hingga Oligosen.
Transgresi laut tersier muncul pada area tenggara. Pada waktu Eosen
Tengah, garis pantai bertambah ke arah selatan yang berhubungan dengan garis
pantai Purwekerto Banjarnegara Magelang dimana sedimennya diendapkan
pada kondisi paralik hingga laut dangkal. Transgrasi berlanjut hingga akhir Eosen
kemudian setelah akhir Eosen area masuk kedalam laut dalam ditandai dengan
kesesuaian dari zona subduksi, yang berlanjut hingga akhir Oligosen. Dimana
sedimen sangat komplek dan terubah.
Pada Oligosen Akhir terjadi vulkanisme aktif yang hadir pada garis pantai
(Gabon, Karang Bolong, dan Kulon Progo). Gunung api terbentuk pada beberapa
tempat dengan material-material halus yang terlontar dan terhampar di
lingkungan laut dalam.
Pada akhir Oligosen, area ini mengalami tektonisme regional, dimana
muncul sebagai blok patahan dan terpisah menjadi tiga bagian.

1.5.2 Awal Miosen hingga awal Miosen Tengah


Pada Awal Miosen, transgresi berlanjut, pada area Gabon Karang Bolong
vulkanisma tetap terjadi, dan pada akhir awal Miosen bagian timur dari Karang
Bolong cenderung menjadi sub marin high dan karang-karang tidak dapat
terbentuk. Selama periode ini, bagian barat dari area Gabon, vulkanisma diakhiri
dengan karang yang mulai terbentuk.
Pada area Kebumen, bagian atas dari Luk Ulo terangkat sedikit bersamaan
dengan

suatu

vulkanisma.

Semua

massa

besar

dari

material

vulkanik

terendapkan pada lantai samudra yang sangat tidak stabil, massa tersebut
mengalir turun membentuk turbidit-turbidit pada Formasi Waturanda.
Pada area Kulon Progo, diakhir Oligosen gunung api mungkin telah
mencapai tahap kaldera (MacDonald 1972). Area terangkat dipermulaan awal
Miosen dan sebelumnya terendapkan marl pada upper marin, lapisan-lapisan
basal juga diendapkan. Pada waktu yang sama dibagian utara terbentuk cone-

cone kecil secara aktif menghasilkan material aliran vulkanik (lapisan-lapisan


Nglanggran) pada akhir awal Miosen Kulon Progo mencapai kestabilannya dan
karang-karang

mulai

berkembang

bersamaan

dengan

ekuivalensi

dari

lingkuanag lautnya (Formasi Sambipitu dan Formasi Sentolo).


Pada permulaan Miosen Tengah, vulkanisma berakhir tapi pengangkatan
geantiklinal dan patahan mulai aktif. Dimana pada area Kebumen, lapisanlapisan dari Formasi Penosogan terendapkan.

1.5.3 Awal Miosen Tengah hingga Akhir Miosen


Pada masa Miosen Tengah seluruh area tenang dan mengalami transgrasi
yang meluas yang ditandai dengan pengendapan marl dan kalkarenit (Formasi
Penanjung, Penosogan, dan Sentolo).
Pada area Banyumas, area Nusakambangan-Karang Bolong muncul dan
bertindak sebagai pembatas dari terputusnya hubungan antara area Banyumas
dan area lepas pantai di selatan. Pada akhir Miosen tengah, pembatas tersebut
di tutupi oleh air laut dan menghasilkan Formasi Kalipucang.
Pada Miosen kahir, kegiatan tektonik dan vulkanik (Horizon Breksi
Sekunder,

lapisan

dan

aliran

Gn

Wetan,

Formasi

Kumbang)

tergabung.

Pengangkatan geantiklin pada Majenang High menyebabkan sebuah cekungan


berkembang pada depresi Majenang- Wangon. Pada cekungan, turbidit-tubidit
dari Halang diendapkan. Pada masa yang sama karang-karang Kalipucang
berkembang dan berakhir pada naiknya muka laut. Pada area Kebumen,
pengangakatan terbentuk pada endapan material kasar dari tuff marl horizon
ketiga, sementara pada marl Kulon Progo, marl dari Formasi Sentolo sedang
diendapkan.

1.5.4 Pliosen
Selama kelanjutan dari pengangkatan geantiklin, laut mengalami regresi
dan area merupakan lingkungan litoral-neritik. Laut dalam hanya melingkupi
area sekitar Kebumen. Pada laut dangkal materal kasar dan sedimen lignit

diendapkan (Formasi Bantarjawa-Talanggundang), sementara pada bagian bawah


dari cekungan materal vulkanik telah terbawa turun oleh luncuran gravitasional.

1.5.5 Kuarter
Pada akhir dari Pliosen seluruh area secara regional terangkat dalam suatu
hubungan dengan akhir fase dari pembentukan geantiklin. Kemudian area
mengalami erosi yang sangat ekstensif bersamaan dengan vulkanisma. Erosi
menghasilkan endapan dari vulkanik kuarter dan breksi lembah Serayu.

ASPEK HIDROKARBON
Sejumlah rembesan minyak (oil seeps) dijumpai di daerah onshore Bayah.
Sebuah peningkatan pesat yang dijumpai dalam gradien geothermal di masa
Piocene hingga Pleistosen (Soenandar, 1997). Hal tersebut juga sama seperti
yang dijumpai di Cekungan Sunda, SubAsri, cekungan Jawa barat laut (NW java
basins). Daerah Banyumas, cekungan Jawa Tengah bagian selatan dijumpai
rembesan minyak. Rembesan minyak tersebut banyak yang muncul di daerah
tersebut. Cekungan Banyumas telah di bor pada sumur Cipari-1 oleh BPM dan
Karang Nangka-1, Gunung Wetan-1, Karang Gedang-1 oleh Pertamina.
Beberapa sumur dijumpai adanya keberadaan minyak dan gas. Sumur tersebut
tidak bisa menembus lebih dalam dari horison Miosen akhir akibat adanya
gangguan mekanis yang dihasilkan akibat adanya tekanan yang berlebih yang
dihasilkan oleh serpih (overpressured shale).n Pada sumur Jati-1 (Lundin) yang
sedang melakukan drilling didaerah tersebut dapat mengatasi kesulitan
operasional ini, hal terebut dilakukan dengan mencoba untuk mengevaluasi
bagian lebih dalam sampai Oligosen / Eosen dari dasar Gabon. Potensi reservoir
akhir Miosen Halang-Rambatan dijumpai sand volkaniklastik, awal miosen
dijumpai Kalipucang reefs, Oligo-Miosen Gabon dijumpai sand volkaniklastik, dan
menengah Eosen pada endapan delta Nanggulan dijumpai quartzitic sand,
mengalami fold dan fault dalam waktu Miosen akhir. Potensi dari source pada
akhir-tengah Eosen tengah daerah Nanggulan / Karangsambung shales (TOC
sampai dengan 7,5%) dan awal Miosen bituminous shale Kalipucang / formasi
Pemali (TOC sampai dengan 15,6%), hal tersebut bertahan hingga pada saat ini
dalam mature window awal pertengahan (Muchsin et al., 2002).
Lepas pantai cekungan Selatan Jawa Tengah telah dibor oleh Alveolina-1 dan
Borelis-1 (Jawa Shell, awal tahun 1970-an) daerah tersebut terletak di lepas
pantai selatan Yogyakarta. Pada sumur Alveolina-1 dijumpai reservoir yang
sangat baik dari Wonosari karbonat berumur tengah-akhir Miosen. Pada sumur
Borelis-1 kehilangan reservoir akibat dari adanya perubahan fasies menjadi

serpih. Akibatnya kedua sumur kering karena tidak adanya pengisian Hidro
karbon (Bolliger dan Ruiter, 1975).

PENUTUP
KESIMPULAN
Ada tiga sub cekungan pada jawa tengah selatan yaitu sub cekungan
Banyumas, Kebumen, dan Jogjakarta yang terpisahkan oleh dua patahan besar.
Sub cekungan Kebumen muncul sebagai blok yang turun, tipe-tipe sedimennya
bervariasi dari satu area ke area yang lain. Pada sub cekungan Kebumen,
Jogjakarta sedimen paparan secara umum ditemukan kecuali pada Halang MS1
dan Formasi Kumbang, dimana sub cekungan Kebumen terdiri oleh kebayankan
tipe batuan flysh yang monoton yang diendapkan pada kondisi laut dalam.
Formasi vuklanik Gabon yang waktunya ekuivalen dengan formasi
vulkanik Jatibarang, tetapi tidak diendapkan pada lingkungan yang sama. Gabon
merupakan lingkungan marin sedangkan Jatibarang merupkan kontinental.
Cekungan dalam dari Bumiayu (kelajutan dari cekungan bogor) terpisah oleh dua
sub basin ini.
DAPUSS
Suyanto, F.X. dan Roskamil, 1977, The Geology and hydrocarbon aspect of
southern Central Java, Majalah IAGI, j. 4 / no. 1, 61-71.
(https://anggajatiwidiatama.wordpress.com/category/geologi/)
http://geologi4ilmukepecintaalaman.blogspot.co.id/2011_04_01_archive.html

http://aryadhani.blogspot.co.id/2010/05/cekunganjawa.html
https://en.wikibooks.org/wiki/The_Geology_of_Indonesia/Java_
%26_Java_Sea#4.3_SOUTH_CENTRAL_JAVA_BASINS