Vous êtes sur la page 1sur 17

AKHLAK KEPADA SESAMA MANUSIA

(DERMAWAN, KERJA KERAS, ULET, RELA BERKORBAN ATAU


MENOLONG, PEMAAF)

Kelompok IV
1. Ajeng Ina Aprisa
2. Erika Dina Pratiwi
3. Saptia Linda Wati

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH (STIKes)


PRINGSEWU - LAMPUNG
2011
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil alamin, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah


SWT, karena atas nikmatnya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Akhlak Kepada Sesama Manusia .

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Dosen


pengampu yang telah memberikan bimbingan dan arahan beserta teman-teman
yang telah membantu dalam penyusunan dan penyelesaian makalah ini.

Dalam penyusunan makalah ini kritik dan saran sangat kami harapkan agar
dapat lebih baik lagi dalam menyelesaikan tugas-tugas berikutnya. Kami berharap
bahwa makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan para pembaca
pada umumnya.

Pringsewu, September 2011

Kelompok IV

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................i
KATA PENGANTAR.......................................................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...........................................................................................1
B. Tujuan ........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Akhlak ......................................................................................2
B. Akhlak Terhadap Sesama Manusia.............................................................2
C. Macam-macam Akhlak Kepada Sesama Manusia......................................3
1. Dermawan.............................................................................................3
2. Kerja Keras...........................................................................................5
3. Ulet atau Pantang Menyerah.................................................................8
4. Rela Berkorban.....................................................................................9
5. Pemaaf..................................................................................................11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................13
B. Saran...........................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sang Maha Pencipta menciptakan manusia bukanlah untuk sesuatu yang siasia. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi
ini diciptakan-Nya sebagai khalifah, yang menjadi pemimpin dan menjaga
amanat Sang Khalik. Mereka dititipi akal untuk berpikir, hati untuk merasakan
kasih sayang Allah, dan tubuh yang menjadi sarana untuk beribadah.
Dari segala yang Allah Swt titipkan itu, ada satu yang menjadi ukuran derajat
seorang manusia di muka bumi, yaitu akhlak. Kata akhlak berasal dari kata
dalam Bahasa Arab, akhlaq, yang merupakan bentuk jamak dari khulqu, yang
artinya perangai, tabiat, dan adab.
Pengertian akhlak dalam Islam adalah perangai yang ada dalam diri manusia
yang mengakar, yang dilakukannya secara spontan dan terus menerus. Agama
Islam menjadi sumber datangnya akhlak. Orang yang memiliki akhlak
memiliki landasan yang kuat dalam bertindak.
Secara umum Ada dua pembagian akhlak, yaitu akhlaaqul mahmudah atau
akhlak yang terpuji dan akhlaaqul madzmuumah atau akhlak tercela. Akhlak
terbentuk menjadi watak seseorang akibat beberapa faktor. Di antaranya faktor
gen atau keturunan, faktor psikologis atau kejiwaan, faktor lingkungan atau
syariah istijmaiah, dan Al-Qiyam atau nilai-nilai Islam yang telah
dipelajarinya selama hidup yang berpedoman akhlak adalah Al-Quran dan
hadist.
B. Tujuan
Dapat mengetahui dan menerapkan dalam kehidupan sehari hari akhlak
kepada manusia (dermawan, kerja keras, ulet, rela berkorban, suka menolong,
dan pemaaf).

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akhlak
Menurut Imam Al Gazali, kata akhlak sering diidentikkan dengan kata
kholqun (bentuk lahiriyah) dan Khuluqun (bentuk batiniyah), jika dikaitkan
dengan seseorang yang bagus berupa kholqun dan khulqunnya, maka artinya
adalah bagus dari bentuk lahiriah dan rohaniyah. Dari dua istilah tersebut
dapat kita pahami, bahwa manusia terdiri dari dua susunan jasmaniyah dan
batiniyah. Untuk jasmaniyah manusia sering menggunakan istilah kholqun,
sedangkan untuk rohaniyah manusia menggunakan istilah khuluqun. Kedua
komponen ini memilih gerakan dan bentuk sendiri-sendiri, ada kalanya bentuk
jelek (Qobiah) dan adakalanya bentuk baik (jamilah). Akhlak yang baik
disebut adab. Kata adab juga digunakan dalam arti etiket, yaitu tata cara sopan
santun dalam masyarakat guna memelihara hubungan baik antar mereka.
B. Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur'an berkaitan dengan
perlakuan sesama manusia. Petunjuk dalam hal ini bukan hanya dalam bentuk
larangan melakukan hal-hal negative seperti membunuh, menyakiti badan,
atau mengambil harta tanpa alasan yang benar, tetapi juga sampai kepada
menyakiti hati dengan cara menceritakan aib sesorang dibelakangnya, tidak
perduli aib itu benar atau salah. Dalam hal ini Allah berfiman dalam Al-Qur'an
surat Al-Baqarah ayat 263 yakni :
( : )
Artinya: "Perkataan yang baik dan pemberian ma'af, lebih baik dari sedekah
yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan penerimanya), Allah
Maha Kaya Lagi Maha Penyantun. (Al-Baqarah : 263)
Di sisi lain Al-Qur'an menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan
secara wajar. Tidak masuk kerumah orang lain tanpa izin, jika bertemu saling

mengucapkan salam, dan ucapan yang dikeluarkan adalah ucapan yang baik,
hal ini dijelaskan dalam surat an-Nur ayat 24 yakni :
( : )
Artinya: "Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas
mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan (An-Nur : 24).

C. Macam-macam Akhlak Kepada Sesama Manusia


Beberapa macam akhlak kepada sesama manusia seperti : Dermawan, Kerja
Keras, Ulet, Rela Berkorban Atau Menolong, Pemaaf
1. Dermawan
Pada dasarnya setiap manusia cenderung memiliki sifat kikir atau pelit
(QS An Nisa 4:128). Untungnya, pada waktu yang sama manusia juga
memiliki kecenderungan untuk berusaha menjadi lebih baik dalam
berbagai segi termasuk merubah perilaku pelit menjadi dermawan.

Dermawan adalah sikap tengah antara pelit dan boros. Sikap dermawan
menunjukkan kemauan untuk berbagi. Simbol dari kepedulian pada orang
lain. Dan salah satu bibit dari sekian banyak unsur-unsur karakter
kepemimpinan yang diperlukan.

Mengapa seorang muslim dianjurkan bersikap dermawan? Pertama,


perintah Islam. Islam memerintahkan kita untuk berzakat, berinfaq dan
bersedekah (QS Maryam 19:31; An Nisa 4:39; Al Baqarah 2:261).

Kedua, karena setiap muslim, pada level tertentu, adalah seorang


pemimpin (QS Ali Imron 3:104). Dan seperti disinggung di muka, hanya

orang dermawan yang dapat menjadi pemimpin yang baik dan mendapat
respek kalangan yang dipimpin. Karena kedermawanan identik dengan
pengorbanan dan kesediaan berkorban selalu diperlukan dalam setiap
kepemimpinan.

Ketiga, keseimbangan sosial. Keberuntungan materi yang dimiliki


manusia tidak sama antara satu dengan yang lain. Hal ini terkait antara lain
dengan kelebihan dan kemampuan dalam berusaha serta menangkap
peluang.

Ada yang bekerja keras dan berusaha begitu lama tapi tidak juga
menangguk kesuksesan yang diinginkan. Ada yang keberuntungannya
begitu cepat didapat sehingga memancing rasa iri dan terkadang juga rasa
dengki. Kekayaan di satu sisi dan kemiskinan di sisi yang lain akan
menimbulkan ketimpangan sosial. Kedermawanan adalah salah satu cara
untuk menyeimbangkan ketimpangan sosial yang terjadi dan mondorong
terjadinya kehidupan sosial yang harmonis dalam suatu masyarakat.

Macam-macam Kedermawanan
Kedermawanan dengan harta adalah yang pertama dan utama. Karena
memang istilah zakat, infak dan sedekah itu identik dengan harta. Dalam
realitas keseharian pun, istilah orang dermawan juga merujuk pada orang
yang suka mendermakan hartanya baik pada fakir miskin atau pada
yayasan sosial.

Namun demikian, sikap kedermawanan tidak hanya itu. Karena pada


dasarnya kedermawanan adalah kemauan yang tinggi untuk berbagi.
Bagi seorang hartawan, kedermawanan adalah dengan hartanya. Bagi
seorang ilmuwan, kemauan berbagi ilmu dianggap sebagai sikap
kedermawanan.

Bagaimana dengan seseorang yang tidak berilmu dan tidak berharta?


Barbuat baik pada orang lain adalah sikap dermawan. Dalam sebuah
Hadits disebutkan, membuang duri dari tengah jalan adalah sedekah.
Bahkan, sebuah senyuman tulus sama nilainya dengan sedekah.

Begitu banyak cara untuk bersikap dermawan pada sesama. Modal yang
diperlukan hanya satu: kemauan tinggi untuk melakukannya. Dan yang tak
kalah penting, perbuatan baik pada orang lain pada hakikatnya adalah
berbuat baik pada diri sendiri (QS Al Isra 17:7).[]

2. Kerja Keras
Arti kerja keras adalah berusaha dengan sepenuh hati dengan sekuat
tenaga untuk berupaya mendapatkan keingingan pencapaian hasil yang
maksimal pada umumnya.
Tetapi kerja keras jangan di salah artikan untuk tujuan yang negatif,
berusaha dengan jujur adil untuk tujuan positif. Bekerja keras lah sesuai
kemampuan yang dimiliki dan jangan memaksakan diri nantinya dapat
menghasilkan hasil yang kurang maksimal, kerja keras juga mempunyai
batasan - batasan limit. kerja keras merupakan salah satu cara yang dapat
digunakan bila mana sesuatu hal ingin di capai, kerja keras untuk ini itu,
dan yang penting kerja keras dalam konteks yang positif tidak serta merta
bekerja keras untuk tujuan yang negatif ( malakukan perbuatan melanggar

hukum, merugikan hak asasi orang lain dan merugikan lingkungan di


sekitarnya).
Semua makhluk hidup didunia butuh kerja keras walapun kerja keras tidak
tiap harinya dilakukan makhluk hidup. marilah kita bekerja keras dengan
maksimal dengan tujuan yang positif sesuai dengan tujuan yang ingin kita
capai saat ini
Al-Quran adalah pedoman bagi manusia yang ingin memilih jalan
kebenaran daripada jalan kesesatan (al-Baqarah :185), pembimbing
(guidance) untuk membina ketakwaan (al-Baqarah: 2). Namun, hidup
yang taqwa bukan semata harapan atau angan-angan untuk meraih
kebahagiaan, tetapi merupakan medan dan cara kerja yang sebaik-baiknya
untuk merealisasikan kehidupan yang berjaya di dunia dan memperoleh
balasan yang lebih baik lagi di akhirat (an-Nahl: 97).
Bekerja adalah kodrat hidup, baik kehidupan spiritual, intelektual, fisik
biologis, maupun kehidupan individual dan sosial dalam berbagai bidang
(al-Mulk: 2). Seseorang layak untuk mendapatkan predikat yang terpuji
seperti potensial, aktif, dinamis, produktif atau profesional, semata-mata
karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar hidup,
dalam kehidupan ini ia memerlukan ruh (spirit). Untuk ini, Al Quran
diturunkan sebagai ruhan min amrina, yakni spirit hidup ciptaan Allah,
sekaligus sebagai nur (cahaya) yang tak kunjung padam, agar aktivitas
hidup manusia tidak tersesat (asy-Syura: 52).
Posisi Kerja dalam Kitabullah
Al-Quran menyebut kerja dengan berbagai terminologi. Al-Quran
menyebutnya sebagai amalun, terdapat tidak kurang dari 260
musytaqqat (derivatnya), mencakup pekerjaan lahiriah dan batiniah.
Disebut filun dalam sekitar 99 derivatnya, dengan konotasi pada
pekerjaan lahiriah. Disebut dengan kata shunun, tidak kurang dari 17
derivat, dengan penekanan makna pada pekerjaan yang menghasilkan
keluaran (output) yang bersifat fisik. Disebut juga dengan kata

taqdimun, dalam 16 derivatnya, yang mempunyai penekanan makna


pada investasi untuk kebahagiaan hari esok.
Pekerjaan yang dicintai Allah SWT adalah yang berkualitas. Untuk
menjelaskannya, Al Quran mempergunakan empat istilah: Amal
Shalih, tak kurang dari 77 kali; amal yang Ihsan, lebih dari 20 kali;
amal yang Itqan, disebut 1 kali; dan al-Birr, disebut 6 kali.
Pengungkapannya kadang dengan bahasa perintah, kadang dengan bahasa
anjuran. Pada sisi lain, dijelaskan juga pekerjaan yang buruk dengan
akibatnya yang buruk pula dalam beberapa istilah yang bervariasi. Sebagai
contoh, disebutnya sebagai perbuatan syaitan (al-Maidah: 90, alQashash:15), perbuatan yang sia-sia (Ali Imran: 22, al-Furqaan: 23),
pekerjaan

yang

bercampur

dengan

keburukan

(at-Taubah:102),

pekerjaan kamuflase yang nampak baik, tetapi isinya buruk (an-Naml:4,


Fusshilat: 25).
Al-Quran sebagai pedoman kerja kebaikan, kerja ibadah, kerja taqwa atau
amal shalih, memandang kerja sebagai kodrat hidup. Al-Quran
menegaskan bahwa hidup ini untuk ibadah (adz-Dzariat: 56). Maka, kerja
dengan sendirinya adalah ibadah, dan ibadah hanya dapat direalisasikan
dengan kerja dalam segala manifestasinya

(al-Hajj: 77-78, al-

Baqarah:177).
Jika kerja adalah ibadah dan status hukum ibadah pada dasarnya adalah
wajib, maka status hukum bekerja pada dasarnya juga wajib. Kewajiban
ini pada dasarnya bersifat individual, atau fardhu ain, yang tidak bisa
diwakilkan kepada orang lain. Hal ini berhubungan langsung dengan
pertanggung jawaban amal yang juga bersifat individual, dimana
individulah yang kelak akan mempertanggung jawabkan amal masingmasing. Untuk pekerjaan yang langsung memasuki wilayah kepentingan
umum, kewajiban menunaikannya bersifat kolektif atau sosial, yang
disebut dengan fardhu kifayah, sehingga lebih menjamin terealisasikannya

kepentingan umum tersebut. Namun, posisi individu dalam konteks


kewajiban sosial ini tetap sentral. Setiap orang wajib memberikan
kontribusi dan partisipasinya sesuai kapasitas masing-masing, dan tidak
ada toleransi hingga tercapai tingkat kecukupan (kifayah) dalam ukuran
kepentingan umum.
Syarat pokok agar setiap aktivitas kita bernilai ibadah ada dua, yaitu
sebagai berikut.
Pertama, Ikhlas, yakni mempunyai motivasi yang benar, yaitu untuk
berbuat hal yang baik yang berguna bagi kehidupan dan dibenarkan oleh
agama. Dengan proyeksi atau tujuan akhir meraih mardhatillah (alBaqarah:207 dan 265).
Kedua, shawab (benar), yaitu sepenuhnya sesuai dengan tuntunan yang
diajarkan oleh agama melalui Rasulullah saw untuk pekerjaan ubudiyah
(ibadah khusus), dan tidak bertentangan dengan suatu ketentuan agama
dalam hal muamalat (ibadah umum). Ketentuan ini sesuai dengan pesan
Al-Quran (Ali Imran: 31, al-Hasyr:10).
3. Ulet atau Pantang Menyerah
Kobasa dkk. dalam Journal of Personality and Social Psychology (1982)
menjelaskan keulatan sebagai suatu konstelasi karakteristik kepribadian
yang berfungsi sebagai sumber daya untuk menghadapi peristiwaperistiwa hidup yang menimbulkan stres.
Tokoh lain, Cotton (1990), lebih jelas lagi mengartikan keulatan sebagai
komitmen yang kuat terhadap diri sendiri, sehingga dapat menciptakan
tingkah laku yang aktif terhadap lingkungan dan perasaan bermakna yang
menetralkan efek negatif stres.
Sementara Quick dkk. (1997) menyatakan keulatan sebagai konstruksi
kepribadian yang merefleksikan sebuah orientasi yang lebih optimistis
terhadap hal-hal yang menyebabkan stres. Ini sesuai dengan pendapat
8

Kobasa

yang

melihat

keulatan

sebagai

kecenderungan

untuk

mempersepsikan atau memandang peristiwa-peristiwa hidup yang


potensial mendatangkan stres sebagai sesuatu yang tidak terlalu
mengancam.
Orang yang memiliki keulatan

memiliki keberanian berkonfrontasi

terhadap perubahan atau perbedaan dan menarik hikmah dari keadaan


tersebut (Foster & Dion, 2004).
Franken dalam bukunya Human Motivation (2002) menjelaskan adanya
tiga komponen di dalam ketabahan hati. Ketiga komponen itu adalah:

1.

Kontrol
Komponen ini berisi keyakinan bahwa individu dapat memengaruhi
atau mengendalikan apa saja yang terjadi dalam hidupnya. Individu
percaya bahwa dirinya dapat menentukan terjadinya sesuatu dalam
hidupnya, sehingga tidak mudah menyerah ketika sedang berada
dalam keadaan tertekan.
Individu dengan keulatan yang tinggi memiliki pandangan bahwa
semua kejadian dalam lingkungan dapat ditangani oleh dirinya sendiri
dan ia bertanggung jawab terhadap apa yang harus dilakukan sebagai
respon terhadap stres.

2.

Komitmen
Komponen ini berisi keyakinan bahwa hidup itu bermakna dan
memiliki tujuan. Individu juga berkeyakinan teguh pada dirinya
sendiri walau apa pun yang akan terjadi.
Individu dengan keulatan

yang tinggi percaya akan nilai-nilai

kebenaran, kepentingan dan nilai-nilai yang menarik tentang siapakah


dirinya dan apa yang mampu ia lakukan. Selain itu, individu dengan
keulatan yang tinggi juga percaya bahwa perubahan akan membantu

dirinya berkembang dan mendapatkan kebijaksanaan serta belajar


banyak dari pengalaman yang telah didapat.
3.

Tantangan
Komponen ini berupa pengertian bahwa hal-hal yang sulit dilakukan
atau diwujudkan adalah sesuatu yang umum terjadi dalam kehidupan,
yang pada akhirnya akan datang kesempatan untuk melakukan dan
mewujudkan hal tersebut.

4. Rela Berkorban
Definisi Rela Berkorban. Menurut istilah berarti bersedia dengan ikhlas,
senang hati, dengan tidak mengharapkan imbalan, dan mau memberikan
sebagian yang dimiliki sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya.
Makna yang terkandung dalam pengertian ini adalah bahwa untuk
mencapai suatu kemajuan, keserasian, keselarasan, dan keseimbangan,
dalam hidup bermasyarakat, diperlukan adanya kesediaan dengan ikhlas
hati untuk memberikan seseuatu yang kita miliki untuk keperluan orang
lain atau masyarakat.
Jenis-jenis Rela berkorban
1. Rela berkorban dalam lingkungan keluarga ;

Biaya untuk sekolah yang diberikan orang tua kepada anakanaknya

Keikhlasan orang tua dalam memelihara, mengasuh, dan mendidik


anak-anaknya

2.

Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan sekolah :

5. Pemberian dari siswa berupa sumbangan pohon, tanaman dan bunga untuk
halaman sekolah
6. Para siswa dan guru mengumpulkan sumbangan pakaian layak pakai untuk
meringankan beban warga yang tertimpa bencana.
3. Rela berkorban dalam lingkungan kehidupan masyarakat :

Warga masyarakat bergotong royong meperbaiki jembatan yang


rusak karena longsor

10

Warga masyarakat yang mampu menjadi guru sukarelawan bagi


anak-anak yang terlantar putus sekolah dan tidak mampu

4. Rela berkorban dalan lingkungan kehidupan berbangsa dan bernegara :

Para warga negara atau masyarakat membayar pajak sesuai dengan


ketentuan yang berlaku, seperti pajak kendaraan bermotor, pajak
bumi dan bangunan

Warga masyarakat merelakan sebagian tanahnya untuk


pembangunan irigasi dengan memperoleh penggantian yang layak

Dalil tentang Rela Berkorban


Artinya:Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu
berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang
satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar
perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah.
kalau dia Telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan,
dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orangorang yang berlaku adil.(QS. Al-Hujurat:9)
Contoh perilaku rela berkorban
Contoh rela berkorban dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, kerelaan berkorban sangatlah penting sebab tidak ada
kerukunan, kebersamaan, kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, bangsa
dan Negara tanpa adanya kerelaan berkorban dari warganya. Sebagai
contoh jika anggota masyarakat giat mengadakan siskamling / ronda
malam , maka keamanan lingkungan akan lebih terjamin.
5. Pemaaf
Dalam bahasa Arab, maaf diungkapkan dengan kata al-'afwu. Kata
al-'afwu, berarti terhapus atau menghapus. Jadi, memaafkan mengandung
pengertian menghapus luka atau bekas-bekas luka yang terdapat dalam
hati. Dengan memaafkan kesalahan orang lain berarti hubungan antara

11

mereka yang bermasalah kembali baik dan harmonis karena luka yang ada
di dalam hati mereka, terutama orang yang memaafkan, telah sembuh.
Islam mendorong Muslim untuk memiliki sifat pemaaf. Sifat ini muncul
karena keimanan, ketakwaan, pengetahuan, dan wawasan mendalam
seorang Muslim tentang Islam. Seorang Muslim menyadari bahwa sikap
pemaaf menguntungkan, terutama membuat hati lapang dan tidak dendam
terhadap orang yang berbuat salah kepadanya, sehingga jiwanya menjadi
tenang dan tenteram. Apabila ia bukan pemaaf, tentu akan menjadi orang
pendendam.
Dendam yang tidak terbalas menjadi beban bagi dirinya. Ini penyakit
berbahaya karena selalu membawa kegelisahan dan tekanan negatif bagi
orang yang bersangkutan. Hanya orang-orang bodoh yang tidak memiliki
sikap pemaaf. Allah SWT berfirman, ''Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah
orang mengerjakan yang baik, serta berpalinglah dari orang-orang yang
bodoh.'' (QS 7: 199).
Sikap pemaaf yang menjadi tradisi Muslim jauh lebih baik dari sedekah
yang diberikan dengan diiringi ucapan atau sikap yang menyakitkan bagi
orang yang menerimanya. Allah SWT berfirman, ''Perkataan yang baik dan
pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang
menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Maha
Penyantun.'' (QS 2: 263).
Seorang Muslim bukan hanya dituntut memberikan maaf. Ia juga
diperintahkan berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah
kepadanya. Mereka yang mampu berbuat demikian mendapat kedudukan
tinggi, pujian, dan pahala yang baik dari Allah SWT. Firman Allah SWT,
''Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang
siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan)
Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.'' (QS
42: 40).

12

Suka memberi maaf kepada orang yang berbuat salah merupakan ciri
orang bertakwa. Orang yang demikian akan memaafkan orang yang
berbuat salah kepadanya, meskipun yang bersalah tidak pernah minta maaf
kepadanya. Allah berfirman, ''Dan bersegeralah kamu kepada ampunan
dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang
menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orangorang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.'' (QS 3: 133-134).
Sikap pemaaf perlu melekat pada diri Muslim dan menjadi akhlak
karimahnya sebagai buah iman, takwa, dan ibadahnya kepada Allah.
Dengan sikap pemaaf, seorang Muslim dicintai Allah dan disenangi
manusia. Dengan sikap pemaaf yang dimiliki, setiap Muslim akan
memperkokoh silaturahim antara sesama kita.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengertian akhlak dalam Islam adalah perangai yang ada dalam diri manusia
yang mengakar, yang dilakukannya secara spontan dan terus menerus. Agama
Islam menjadi sumber datangnya akhlak. Orang yang memiliki akhlak
memiliki landasan yang kuat dalam bertindak. Al-Qur'an menekankan bahwa
setiap orang hendaknya didudukan secara wajar. Tidak masuk kerumah orang
lain tanpa izin, jika bertemu saling mengucapkan salam, dan ucapan yang
dikeluarkan adalah ucapan yang baik, Akhlak yang baik disebut adab. Kata
adab juga digunakan dalam arti etiket, yaitu tata cara sopan santun dalam

13

masyarakat guna memelihara hubungan baik antar mereka. Beberapa macam


akhlak kepada sesama manusia seperti : Dermawan, Kerja Keras, Ulet, Rela
Berkorban Atau Menolong, Pemaaf

B. Saran
Akhlak kepada sesama manusia adalah landasan kuat dalam bertindak dan
melangkah untuk itu sebagai umat muslim kita harus menerapkan akhlak yang
baik terhadap sesama manusia dalam menjalankan salah satu kewajiban agama
yaitu berbuat baik terhadap sesama manusia.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.shvoong.com/books/guidance-self-improvement/1973693-akhlakterhadap-sesama-manusia-dan/
http://sobatbaru.blogspot.com/2010/03/pengertian-akhlak.html
http://afatih.wordpress.com/2009/08/03/dermawan/
http://mta-online.com/v2/2009/07/24/kewajiban-kerja-keras-dalam-islam/
http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/strategi-bisnis/22503-langkahlangkah-ciptakan-pribadi-pantang-menyerah.html
http://spupe07.wordpress.com/2009/12/31/perilaku-terpuji-adil-ridho-relaberkorban/

14