Vous êtes sur la page 1sur 22

MAKALAH SEMINAR

PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN


DIAGNOSA MEDIS BRONKITIS
DI RUANG GARUDA RSUD Dr. M. ASHARI KABUPATEN PEMALANG

Disusun Oleh :
MOH. FURQON
(12.0838.S)

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
PEKAJANGAN PEKALONGAN
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit infeksi sekarang ini yang banyak menimbulkan kematian adalah
saluran pernafasan baik itu pernafasan atas maupun bawah, yang bersifat akut atau
kronis

salah

satunya

penyakit bronchitis. Bronchitis pada

anak

berbeda

dengan bronchitis yang terjadi pada orang dewasa. Pada anak bronchitis merupakan
bagian dari berbagai penyakit saluran nafas lain, namun dapat juga merupakan
penyakit tersendiri (Ngastiyah, 2006).
Di Amerika Serikat, menurut National Center for health Statistics, kira-kira
ada

14

juta

orang

menderita bronchitis.

Lebih

dari

12

juta

orang

menderita Bronchitis pada tahun 1994, sama dengan 5% populasi Amerika. Di


dunia Bronchitis merupakan masalah dunia. Frekuensi Bronchitis lebih banyak pada
status ekonomi rendah dan pada kawasan industri.Bronchitis lebih banyak terdapat
pada laki-laki dibanding perempuan (Samer, 2007).
Menurut data statistik Belanda, tujuh kali pada pasien anak-anak dibawah usia
1 tahun masuk rumah sakit dengan diagnosis bronchitis. Jumlah pasien tersebut
meningkat dari 1500 menjadi 5000 antara tahun 1981 2005, dengan rata-rata 35%
pasien pada usia 0 1 tahun. Di kelompok umur tersebut juga terjadi peningkatan
sebanyak tujuh kali di periode tersebut. Antara tahun 19812005, pasien dengan
diagnosis bronchitis meningkat dari 29 menjadi 147 per 10.000 orang usia 01 tahun,
separuh pasien tersebut adalah bayi dibawah usia 4 bulan (Ploemacher, 2010).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang penyakit Bronchitis serta
Asuhan Keperawatan pada klien dengan Bronchitis.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu Mengetahui tentang pengertian Bronchitis
b. Mampu melakukan pengkajian keperawatan pada anak dengan Bronchitis
c. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada anak dengan Bronchitis
d. Mampu menentukan intervensi pada anak dengan Bronchitis
e. Mampu melakukan implementasi pada anak dengan Bronchitis
f. Mampu melakukan evaluasi pada anak dengan Bronchitis

g. Mampu mendokumentasikan semua tindakan asuhan keperawatan pada anak


dengan Bronchitis

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Pengertian
Bronkhitis berasal dari bronchus (saluran napas) dan itis artinya menunjukkan
adanya suatu peradangan. Bisa disimpulkan bronkitis merupakan suatu gejala
penyakit pernapasan. Sebetulnya ada dua pengertian bronkitis. Pertama,
berdasarkan radiologi/ahli rontgen, bronkhitis merupakan gambaran foto paruparu dengan kelainan pada saluran napas. Pada gambaran tersebut cirinya akan
tampak sangat ramai dan jelas. Berbeda bila dalam keadaan normal, gambaran
saluran napas tak begitu jelas terlihat karena berisi udara. Tapi pada kasus
bronkhitis akan muncul gambaran sebagian saluran napasnya tersumbat lendir
atau ada peradangan.
Bronkhitis pada anak berbeda dengan bronchitis yang terdapat pada orang
dewasa. Pada anak, bronchitis merupakan bagian dari berbagai penyakit saluran
nafas lain, namun ia dapat juga merupakan penyakit tersendiri.
Bronkhitis berarti infeksi bronkus. Bronkitis dapat dikatakan penyakit
tersendiri, tetapi biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran peranpasan atas
atau bersamaan dengan penyakit saluran pernapasan atas lain seperti
Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis, Bronkitis pada asma dan sebagainya.
2. Klasifikasi
Bronkhitis dapat diklasifikasikan sebagai :
a. Bronkhitis Akut
Bronkhitis akut pada bayi dan anak biasanya bersama juga dengan
trakheitis, merupakan penyakit infeksi saluran nafas akut (ISNA) bawah yang
sering dijumpai. Penyebab utama penyakit ini adalah virus. Batuk merupakan
gejala yang menonjol dank arena batuk berhubungan dengan ISNA atas.
Berarti bahwa peradangan tersebut meliputi laring, trachea dan bronkus.
Gangguan ini sering juga disebut laringotrakeobronkhitis akut atau croup dan
sering mengenai anak sampai umur 3 tahun dengan gejala suara serak, stridor,
dan nafas berbunyi.
b. Bronkhitis Kronis atau Batuk Berulang
Belum ada persesuaian pendapat mengenai bronchitis kronik, yang ada
ialah mengenai batuk kronik dan atau berulang yang di singkat (BKB). BKB

ialah keadaan klinis yang disebabkan oleh berbagai penyebab dengan gejala
batuk yang berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu berturut-turut dan atau
berulang paling sedikit 3 kali dalam 3 bulan, dengan atau tanpa disertai gejala
respiratorik dan non respiratorik lainnya. Dengan memakai batasan ini secara
klinis jelas bahwa bronchitis kronik pada anak adalah batuk kronik dan atau
berulang (BKB) yang telah disingkirkan penyebab-penyebab BKB itu
misalnya asma atau infeksi kronik saluran napas dan sebagainya.
Walaupun belum ada keseragaman mengenai patologi

dan

patofisiologi bronchitis kronik, tetapi kesimpulan akibat jangka panjang


umumnya sama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bayi sampai anak
umur 5 tahun yang menderita bronchitis kronik akan mempunyai resiko lebih
besar untuk menderita gangguan pada saluran napas kronik setelah umur 20
tahun, terutama jika pasien tersebut merokok akan mempercepat menurunnya
fungsi paru.
3. Etiologi
Penyebab bronchitis sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas.
Pada kenyataannya kasus-kasus bronchitis dapat timbul secara congenital maupun
didapat.
a) Kelainan kongenital
Dalam hal ini bronchitis terjadi sejak dalam kandungan. Factor genetic
atau factor pertumbuhan dan factor perkembangan fetus memegang peran
penting. Bronchitis yang timbul congenital ini mempunyai ciri sebagai
berikut:
1) Bronchitis mengenai hampir seluruh cabang bronkus pada satu atau kedua
paru.
2) Bronchitis konginetal sering menyertai penyakit-penyakit konginetal
lainya, misalnya : mucoviscidosis ( cystic pulmonary fibrosis ), sindrom
kartagener (bronkiektasis konginetal, sinusitis paranasal dan situs
inversus), hipo atau agamaglobalinemia, bronkiektasis pada anak kembar
satu telur (anak yg satu dengan bronkiektasis, ternyata saudara kembarnya
juga menderita bronkiektasis), bronkiektasis sering bersamaan dengan

kelainan congenital berikut : tidak adanya tulang rawan bronkus, penyakit


jantung bawaan, kifoskoliasis konginetal.
b) Kelainan didapat
Kelaianan didapat merupakan akibat proses berikut :
1) Infeksi
Bronchitis sering terjadi sesudah seseorang menderita pneumonia yang
sering kambuh dan berlangsung lama, pneumonia ini merupakan
komplikasi pertusis maupun influenza yang diderita semasa anak,
tuberculosis paru dan sebagainya.
2) Obstruksi bronkus
Obstruksi bronkus yang dimaksud disini dapat disebabkan oleh
berbagai macam sebab : korpus alineum, karsinoma bronkus atau tekanan
dari luar terhadap bronkus.
Penyebab utama penyakit Bronkhitis Akut adalah adalah virus. Sebagai
contoh Rhinovirus, Respiratory Sincytial Virus (RSV), Infulenza Virus, Parainfluenza Virus, Adenovirus dan Coxsakie Virus. Bronkitis Akut sering terjadi
pada anak yang menderita Morbilli, Pertusis dan infeksi Mycoplasma Pneumonia.
Belum ada bukti yang meyakinkan bahwa bakteri lain merupakan penyebab
primer Bronkitis Akut pada anak. Infeksi sekunder oleh bakteri dapat terjadi,
namun ini jarang di lingkungan sosio-ekonomi yang baik.
Faktor predisposisi terjadinya bronchitis akut adalah alergi, perubahan cuaca,
polusi udara, dan infeksi saluran napas atas kronik, memudahkan terjadinya
bronchitis.
Sedangkan penyebab pada Bronkitis Kronik dan Batuk Berulang adalah
sebagai berikut:
a) Spesifik
Asma
Infeksi kronik saluran napas bagian atas (misalnya sinobronkitis).
Penyakit paru yang telah ada misalnya bronkietaksis.
Sindrom aspirasi.
Penekanan pada saluran napas
Kelainan jantung bawaan
Fibrosis kistik
b.

Non-spesifik

asap rokok

Polusi udara

4. Patofisiologi
Virus (penyebab tersering infeksi) - Masuk saluran pernapasan - Sel mukosa
dan sel silia - Berlanjut - Masuk saluran pernapasan(lanjutan) - Menginfeksi
saluran pernapasan - Bronkitis - Mukosa membengkak dan menghasilkan lendir Pilek 3 4 hari - Batuk (mula-mula kering kemudian berdahak) - Riak jernih Purulent - Encer - Hilang - Batuk - Keluar - Suara ronchi basah atau suara napas
kasar - Nyeri subsernal - Sesak napas - Jika tidak hilang setelah tiga minggu Kolaps paru segmental atau infeksi paru sekunder (pertahanan utama).
Apabila bronchitis kongenital patogenesisnya tidak diketahui diduga erat
hubungannya dengan genetic serta factor pertumbuhan dan perkembangan fetus
dalam kandungan. Pada bronchitis yang didapat patogenesisnya diduga melelui
beberapa mekanisme : factor obstruksi bronkus, factor infeksi pada bronkus atau
paru-paru, fibrosis paru, dan factor intrinsik dalam bronkus atau paru.
Patogenesis pada kebanyakan bronchitis yang didapat melalui dua mekanisme
dasar:
a. Infeksi bacterial pada bronkus atau paru, kemudian timbul bronchitis. Infeksi
pada bronkus atau paru akan diikuti proses destruksi dinding bronkus daerah
infeksi dan kemudian timbul bronchitis.
b. Obstruksi bronkus akan diikuti terbentuknya bronchitis, pada bagian distal
obstruksi dan terjadi infeksi juga destruksi bronkus.
Bronchitis merupakan penyakit paru yang mengenai paru dan sifatnya kronik.
Keluhan-keluhan yang timbul juga berlangsung kronik dan menetap . keluhankeluhan yang timbul erat dengan : luas atau banyaknya bronkus yang terkena,
tingkatan beratnya penyakit, lokasi bronkus yang terkena, ada atau tidaknya
komplikasi lanjut. Keluhan-keluhan yang timbul umumnya sebagai akibat adanya
beberapa hal: adanya kerusakan dinding bronkus, akibat komplikasi, adanya
kerusakan fungsi bronkus.
5. Pathway

6. Tanda dan Gejala


Gejala awal Bronkhitis, antara lain :
a. Batuk membandel
Batuk kambuhan, berdahak-tidak, berat-tidak. Kendati ringan harus
tetap diwaspadai karena bila keadaan batuk terus menerus bisa menghebat dan
berlendir sampai sesak napas.
b. Sulit disembuhkan
Bisa sering atau tidak tapi sulit disembuhkan. Dalam sebulan batuk
pileknya lebih dari seminggu dan baru sembuh dua minggu, lalu berulang
lagi.
c. Terjadi kapan saja
Batuknya bisa muncul malam hari, baru tidur sebentar batuknya grokgrok bahkan sampai muntah. Bisa juga batuk baru timbul menjelang pagi.
Atau habis lari-lari, ia kemudian batuk-batuk sampai muntah.
Tanda dan gejala secara umum dapat disimpulkan:
a. Sering bersin dan banyak sekret atau lendir
b. Demam ringan
c. Tidak dapat makan dan gangguan tidur
d. Retraksi atau tarikan pada dinding-dinding dada, suprasternal, interkostal dan
subkostal pada inspirasi
e. Cuping hidung
f. Nafas cepat
g. Dapat juga cyanosis
h. Batuk-batuk
i. Wheezing
7. Komplikasi
a. Bronkitis Akut yang tidak ditangani cenderung menjadi Bronkitis Kronik
b. Pada anak yang sehat jarang terjadi komplikasi, tetapi pada anak dengan gizi
kurang dapat terjadi Othithis Media, Sinusitis dan Pneumonia
c. Bronkitis Kronik menyebabkan mudah terserang infeksi
d. Bila sekret tetap tinggal, dapat menyebabkan atelektasisi atau Bronkietaksis
e. Gagal jantung kongestif
f. Pneumonia
8. Pemeriksaan Penunjang

a. Foto Thorax : Tidak tampak adanya kelainan atau hanya hyperemia


b. Laboratorium : Leukosit > 17.500.
9. Penatalaksanaan
a. Tindakan Perawatan
1) Pada tindakan perawatan yang penting ialah mengontrol batuk dan
mengeluarakan lender/secret.
2) Sering mengubah posisi.
3) Banyak minum.
4) Inhalasi.
5) Nebulizer
6) Untuk mempertahankan daya tahan tubuh, setelah anak muntah dan
tenang perlu diberikan minum susu atau makanan lain.
b. Tindakan Medis
1) Jangan beri obat antihistamin berlebih
2) Beri antibiotik bila ada kecurigaan infeksi bacterial
3) Dapat diberi efedrin 0,5 1 mg/KgBB tiga kali sehari
4) Chloral hidrat 30 mg/Kg BB sebagai sedative
Pemberian antibiotic yang serasi untuk M. Pneumoniae dan H. Influenzae
sebagai bakteri penyerang sekunder misalnya amoksisilin, kotrimoksazol dan
golongan makrolid. Antibiotik diberikan 7-10 hari dan jika tidak berhasil maka
perlu dilakukan foto thorak untuk menyingkirkan kemungkinan kolaps paru
segmental dan lobaris, benda sing dalam saluran napas, dan tuberkolusis.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Dasar data pengkajian pasien
a. Identitas Klien : Nama, umur, alamat, pendidikan, agama, no. register,
diagnose medis
b. Riwayat kesehatan: Riwayat alergi dalam keluarga, gangguan genetic, riwayat
tentang disfungsi pernapasan sebelumnya, bukti terbaru penularan terhadap
infeksi, allergen, atau iritan lain, trauma.
c. Pemeriksaan Fisik:
1) B1 (Breathing)

Adanya retraksi dan pernapasan cuping hidung, warna kulit dan


membrane mukosa pucat dan cyanosis, adanya suara serak, stridor dan
batuk. Pada anak yang menderita bronchitis biasanya disertai dengan
demam ringan, secara bertahap mengalami

peningkatan distress

pernapasan, dispnea, batuk non produktif paroksimal, takipnea dengan


pernapasan cuping hidung dan retraksi, emfisema.
Gejala:
a) Takipnea (barat saat aktivitas)
b) Batuk menetap dengan sputum terutama pagi hari
c) Warna sputum dapat hijau, putih, atau kuning dan dapat banyak sekali
d) Riwayat infeksi saluran nafas berulang
e) Riwayat terpajan polusi (rokok dll)
Tanda:
a) Lebih memilih posisi fowler/semi fowler untuk bernafas
b) Penggunaan otot bantu nafas
c) Cuping hidung
d) Bunyi nafas krekel (kasar)
e) Perkusi redup (pekak)
f) Kesulitan bicara kalimat (umumnya hanya kata-kata yang terputusputus)
g) Warna kulit pucat, normal atau sianosis
h) Clubing finger (jari tabuh)
2) B2 (Blood)
Gejala : Pembengkakan pada ekstremitas bawah
Tanda : Peningkatan TD, Takikardi, Distensi vena jugularis, Bunyi
jantung redup(karena cairan di paru-paru), Warna kulit normal atau
sianosis
3) B3 (Brain)
Klien tampak gelisah, peka terhadap rangsang, ketakutan, nyeri dada.
4) B4 (Bladder)
Tidak ditemukan masalah, tidak ditemukan adanya kelainan.
5) B5 (Bowel)
Gejala
a) Mual/muntah
b) makan menurun
c) Ketidakmampuan makan karena distres pernafasan
d) Penurunan berat badan.
e) Nyeri abdomen
Tanda
a) Turgor kulit buruk
b) Edema

c) Berkeringat
d) Palpitasi abdomial dapat menunjukkan hepatomegali
6) B6 (Bone)
Gejala
a) Keletihan, kelelahan
b) Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas karena sulit bernafas
c) Ketidakmampuan untuk tidur, perlu dalam posisi duduk tinggi
d) Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan
Tanda
a) Keletihan
b) Gelisah
c) Insomnia
2. Pemeriksaaan diagnostik
a. Rongent
Peningkatan tanda bronkovaskuler
b. Tes fungsi paru
Memperkirakan derajad disfungsi paru
c. Volume residu
Meningkat
d. GDA
Memperkirakan progresi penyakit (Pa02 menurun dan PaCO2 meningkat atau
normal)
e. Bronkogram
Pembesaran duktus mukosa
f. Sputum
Kultur untuk menentukan adanya infeksi,identifikasi pathogen
g. EKG
Disritmia arterial
h. EKG latihan
Membantu dalam mengkaji derajad disfungsi paru untuk program latihan
3. Diagnosa perawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi
sekret.
Tujuan : Mempertahankan jalan nafas paten.
Rencana Tindakan:
1) Auskultasi bunyi nafas
Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan
nafas dan dapat dimanifestasikan dengan adanya bunyi nafas.
2) Kaji/pantau frekuensi pernafasan.
Rasional : Tachipnoe biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat
ditemukan selama / adanya proses infeksi akut.
3) Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir

Rasional : Memberikan cara untuk mengatasi dan mengontrol dispoe dan


menurunkan jebakan udara.
4) Observasi karakteristik batuk
Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif, khususnya pada
lansia, penyakit akut atau kelemahan
5) Tingkatkan masukan cairan sampai 1500-2000 ml/hari
Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan

sekret

mempermudah pengeluaran.
b. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas oleh
sekresi, spasme bronchus.
Tujuan : Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan yang
adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress
pernafasan
Rencana Tindakan:
1) Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan.
Rasional : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernafasan dan
kronisnya proses penyakit.
2) Tinggikan kepala tempat tidur, dorong nafas dalam.
Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk
tinggi dan
3) Latihan nafas untuk menurunkan kolaps jalan nafas, dispenea dan kerja
nafas. Auskultasi bunyi nafas.
Rasional : Bunyi nafas makin redup karena penurunan aliran udara atau
area konsolidasi
4) Awasi tanda vital dan irama jantung
Rasional : Takikardia, disritmia dan perubahan tekanan darah dapat
menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung.
5) Awasi GDA
Rasional : PaCO2 biasanya meningkat, dan PaO2 menurun sehingga
hipoksia terjadi derajat lebih besar/kecil.
6) Berikan O2 tambahan sesuai dengan indikasi hasil GDA
Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah buruknya hipoksia.
c. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan broncokontriksi, mukus.
Tujuan : perbaikan dalam pola nafas.
Rencana Tindakan:
1) Ajarkan pasien pernafasan diafragmatik dan pernafasan bibir
Rasional : Membantu pasien memperpanjang waktu ekspirasi. Dengan
teknik ini pasien akan bernafas lebih efisien dan efektif.

2) Berikan dorongan untuk menyelingi aktivitas dan periode istirahat


Rasional : memungkinkan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa distres
berlebihan.
3) Berikan dorongan penggunaan pelatihan otot-otot pernafasan jika
diharuskan
Rasional : menguatkan dan mengkondisikan otot-otot pernafasan.

BAB III
RESUME KASUS

An N adalah seorang bayi yang berusia 7 bulan dengan diagnosa medis


bronkitis yang mengalami batuk, serta pilek. An N masuk re RSUD Dr. M. ASHARI
pada tanggal 6 mei 2016 jam 08.00 wib nomer registrasi 309303. Ibu pasien
mengatakan 4 hari sebelum masuk RS panasnya naik turun, batuk, muntah tiap batuk,

sudah diperiksakan keklinik terdekat tapi tidak kunjung sembuh. Saat pengkajian
pada tanggal 9 mei 2016 jam 21.00 wib ibu pasien mengatakan panasya sudah hilang,
batuk dan pilek masih, BAB berlendir dan klien rewel. Suhu 36C , BB 5,7 Kg Rr 33
x /menit Nadi 101 x/menit.
Menurut keterangan dari keluarga An. N sebelumnya tidak pernah masuk RS.
An.N anak kedua dari 2 bersaudara. Klien tinggal bersama kedua orang tua dan
kakak kandungnya. Keadaan lingkungan tempat tinggal mereka selalu

bersih

dirumah terdapat keluarga yang merokok. imunisasi An.N yaitu sudah mendapatkan
imunisasi imunisasi BCG, hepatitis B, polio, DPT, Hib. Tidak mempunyai riwayat
alergi terhadap apapun. Riwayat pencegahan tindakan medisnya ketika sakit, An. N
hanya dibawa kepuskesmas atau dokter terdekat.
Riwayat keperawatan untuk pola nutrisi metabolic pada An.N tidak ada
perubahan sebelum sakit dan selama sakit, makan ASI + bubur tim. Riwayat
keperawatan untuk pola eliminasinya, An.N selama sakit menggunakan pampers dan
mengenai pola eliminasi BAB berlendir 10x sehari. riwayat keperawatan untuk pola
istirahat tidurnya selama sakit ketika tidur sering bangun dimalam hari, tidur siang
1 jam, tidur malam 4 jam klien sering rewel ketika akan tidur ataupun setelah
bangun tidur.
Pada pemeriksaan fisiknya ditemukan data kesadaran Compos Mentis,dengan
suhu 36C, nadi 101 x/menit , Rr : 33 x/menit, bb sebelum sakit 6 kg ketika sakit bb
5,7 kg.
Untuk pemeriksaan fisik yang mengalami gejala abnormal pada hidung yaitu,
terdapat sekret pada kedua lubang hidung. Pada dada, inspeksi paru pengembangan
dada simetris, Auskultasinya wezing palpasinya, Tidak ada nyeri tekan, perkusi
Sonor, pada jantung Tidak ada pembesaran jantung, pada jantung auskultasinya
Terdengar bunyi jantung 1 dan 2 (lup dup), Palpasi Tidak ada nyeri tekan, denyut nadi
teraba, Perkusi Suara jantung redup. Pada bagian ekstrimitas bawah kaki kiri
terpasang infus Trindex 24 tpm.

Pada pemeriksaan penunjang pada An.N ditemukan data Eritrosit : 3.79


(normal 4.00-5.20), Hb 9.7 (Normal 11.5-15.5), hematokrit 28.6 (35.0-45.0), monosit
8.9 (0.0-5.0).
Untuk analisa datanya ditemukan Ibu klien mengatakan anaknya batuk pilek,
batuk disertai dahak, ibu klien mengatakan anaknya sulit tidut dan anaknya sering
terbangun pada malam hari, untuk data objektifnya : Rr: 33x /menit, suhu 36C nadi
101x/menit, auskultasi paru wezing, Klien tampak batuk berdahak, hidung ada sekret
namun sedikit, klien tampak menangis dimalam hari, intensitas tidur 5 jam.
Dari beberapa analisa data diatas ditemukan diagnosa yaitu ketidak efektifan
bersihan jalan nafas berhubungan dengan brokopasme, gangguan pola tidur
berhubungan dengan suhu lingkungan.
Untuk mencapai hasil yang

diinginkan

pada

diagnosa

diatas,kita

menggunakan intervensi klasifikasi asuhan keperawatan ( nursing intervention


classification,NIC ). untuk diagnosa pertam pada diagnosa ketidak efektifan bersihan
jalan nafas berhubungan dengan bronkopasme, dengan tujuan dan kriteria hasilnya
bersihan jalan nafas efektif dengan kepatenan jalan nafas, bunyi nafas
vesikuler/normal. Dengan intervensi Kaji frekuensi, Auskultas

bunyi nafas,

kolaborasi penggunaan nedbulizer, Kolaborasi dengan doter pemberian Obat. Untuk


diangnosa kedua gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu lingkungan sekitar.
Dengan tujuan pola tidur teratasi dan kriteria hasilnya anak tidak menangis di malam
hari, intesitas 9 jam. Dengan intervensi monitor/catat kebutuhan tidur, ciptakan
lingkungan yang nyaman, diskusikan dengan keluarga tentang teknik tidur klien,
kolaborasi pemberian obat tidur(jika perlu).
Implementasi yang pertama yang dilakukan pada tanggal 9-10 Mei 2016
pukul 21.00-07.00 WIB yaitu mengkaji pola pernafasan pasien respon untuk
subjeknya Ibu klien mengatakan klien batuk pilek O: suhu 36c, rr: 33 x/m n: 101 x/m
bunyi nafas wezing. Implemntasi selanjutnya memmonitor kebutuhan tidur klien
respon subjek ibu klien mengatakan anaknya susah tidur, sering terbangun di malam
hari, menciptakan lingkungan yang nyaman, mengkolaborasi dengan pemberian obat
antipertik sanmol drop dengan dosis 75 mg, injeksi ceftriaxone 175 mg, injeksi metal

prednisson 10 mg, mengkolaborasi penggunaan terapi nedbulizer ventilon 0,5 cc +


NaCl 2 cc.
Implementasi yang kedua yang dilakukan pada tanggal 11 Mei 2016 pukul
07.00-12.00 WIB mengobservasi kembali KU ,mungukur TTV dan keluhan ,
memberikan terapi nedbulizer dengan obat NaCl 2 cc + ventilon 0,5 cc,
mengaauskultasi bunyi nafas, memberikan injeksi ceftriaxone 175 mg, sanmol, 75
mg, metal prednisone 10 mg.
Implementasi yang ketiga yang dilakukan pada tanggal 11 mei 2016 pukul
14.00-21.00 Mengobservasi kembali KU dan mengukur TTV serta keluhan lain
memberikan injeksi kepada klien berupa sanmol 10 Mg dan metal prednisson 75 mg,
mengkolaborasi terapi nedbulier dengan obat NaCl 2 cc + ventilon 0,5 cc.
Untuk evaluasinya dilihat respon perkembangan klien untuk melihat
kemajuan dari kondisi klien tersebut. Evaluasi dari implementasi tanggal 9-10 Mei
2016 untuk diagnosa ketidak efektifan bersihan jalan nafas, S : ibu klien mengatakan
anaknya masih batuk pilek, O : suhu : 36 C, rr: 25 x/m, bunyi nafas wezing,
Eritrosit : 3.79 (normal 4.00-5.20), Hb 9.7 (Normal 11.5-15.5), hematokrit 28.6 (35.045.0), monosit 8.9 (0.0-5.0). A : masalah belum teratasi ,P : lanjutkan intervensi
(pantau TTV, auskultasi bunyi nafas, kolaborasi terapi nedbulizer, kolaborasi
pemberian obat ceftriaxon 2x 175 mg, sanmol 4x 75 mg, metal prednisson 3x 10 mg.
untuk diagnosa kedua gangguan pola tidur, S : Ibu klien mengatakan anaknya sudah
bisa tidur pulas , O : tidur 7 jam, sudah tidak nangis di malam hari A: Masalah teratasi
sebagian, P: lanjutkan intervensi
Evaluasi dari implementasi tanggal 11 Mei 2016 untuk bersihan jalan nafas
tidak efektif S : ibu pasien mengatakan batuk pilek anaknya sudah tidah ada , O :
klien tampak tenang tidak rewel, bunyi nafas vesikuler A : masalah teratasi , P : klien
pulang.

BAB IV
PEMBAHASAN
A. Analisa Kasus

An.N dirawat diruang garuda RSUD Dr. M. ASHARI Pemalang dengan diagnosa
Bronkitis. Ibu pasien mengatakan 4 hari sebelum masuk RS panasnya naik turun,
batuk, muntah tiap batuk, sudah diperiksakan keklinik terdekat tapi tidak kunjung
sembuh. Saat pengkajian pada tanggal 9 mei 2016 jam 21.00 wib ibu pasien
mengatakan panasya sudah hilang, batuk dan pilek masih, BAB berlendir dan klien
rewel. Suhu 36C , BB 5,7 Kg Rr 33 x /menit Nadi 101 x/menit. Bronkitis merupakan
suatu gejala penyakit pernapasan. biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran
peranpasan atas atau bersamaan dengan penyakit saluran pernapasan atas lain seperti
Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis, Bronkitis pada asma dan sebagainya.
Penyebab terjadinya bronchitis secara congenital, bronchitis ini terjadi kelainan
sejak dalam kandungan. Factor genetic atau factor pertumbuhan dan factor
perkembangan fetus memegang peran penting. Pada An. N diusia 7 bulan ini sering
batuk tetapi diperiksakan keklinik terdekat sembuh, saat pertama batuk badanya
panas naik turu. Untuk tanda gejala dari penyakit bronchitis ini sama seperti yang
dialami oleh An.N yaitu demam ringan, batuk produktif, ganguan tidur, terjadi kapan
saja saat bernapas terdengar wezing.
Untuk penatalaksanaan pada klien yang mengalami bronkitis akan diberikan pada
tindakan perawatan yang penting ialah mengontrol batuk dan mengeluarakan
lender/secret, Sering mengubah posisi, Banyak minum, Inhalasi, Nebulizer, Untuk
mempertahankan daya tahan tubuh, setelah anak muntah dan tenang perlu diberikan
minum susu atau makanan lain. Disini klien mendapatkan terapi anti mikrobial
berdasarkan kultur dan sensivitas, ceftriaxone 175 Mg 2x iv, sanmol 75 mg 4x iv,
methylprednisolone 10 mg 3x iv.
Ceftriaxone adalah golongan antibiotik cephalosporin yang dapat digunakan
untuk mengobati beberapa kondisi akibat infeksi bakteri, seperti pneumonia, sepsis,
meningitis, infeksi kulit, gonore atau kencing nanah, dan infeksi pada pasien dengan
sel darah putih yang rendah. Selain itu, ceftriaxone juga bisa diberikan kepada pasien
yang akan menjalani operasi-operasi tertentu untuk mencegah terjadinya infeksi.
Sanmol adalah obat yang digunakan sebagai penurun demam untuk segala usia
dan pereda nyeri seperti sakit kepala, sakit gigi dan nyeri ringan lainnya. Sanmol

mengandung paracetamol, obat yang memiliki aktivitas sebagai antipyretic sekaligus


analgetic.
Methylprednisolone adalah obat steroid yang menekan sistem kekebalan tubuh
(immunosupresan) yang berguna untuk mengurangi gejala peradangan (inflamasi)
seperi pembengkakan, nyeri, dan ruam. Pada umumnya obat methylprednisolone
digunakan untuk meredakan nyeri dan gejala alergi, namun bisa juga digunakan
untuk mengatasi penyakit lainnya seperti asma, penyakit Crohn, colitis ulseratif, serta
jenis-jenis kanker tertentu. Untuk mendapatkan obat ini harus dengan resep dokter
dan bisa berupa tablet ataupun suntikan.
B. Penemuan
Berdasarkan pengkajian yang dilakukan pada tanggal 9 mei 2016 pada An.N
ditemukan diagnosa sebagai berikut ketidak efektifan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan bronkopasme disebabkan meningkatnya produksi secret
sehingga jalan nafas mengalami peneyempitan. Diagnosa yang kedua gangguan pola
tidur berhubungan dengan suhu lingkungan sekitar disebabkan oleh batuk berulang
pada malam hari dan merasa gerah sehingga anak sering terbangun pada malam hari
dan rewel.

BAB V
PENUTUP

A. SIMPULAN
Bronchitis adalah suatu penyakit yang ditandai adanya dilatasi ( ektasis ) bronkus
lokal yang bersifat patologis dan berjalan kronik . Berdasarkan kasus yang diderita

An.N mengalami ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan


bronkopasme, gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu lingkungan. Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan selama tiga hari masalah
ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkopasme teratasi,
masalah gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu lingkungan teratasi. Pasien
pulang pada tanggal 12 mei 2016 jam 10.00 wib.
B. SARAN
.Saran untuk perawat dan mahasiswa praktek bahwa dalam menangani pasien
anak dengan Bronkitis lebih memahami tanda dan gejala bronchitis pada bayi/anak
sehingga tidak terjadi kesalahan dalam memberikan pelayanan kesehatan. harus
mempertahatikan hal-hal sebagai berikut, untuk ketidak efektifan bersihan jalan napas
perawat harus mengobserfasi pernapasan, frekuensi batuk, bunyi napas, adanya sekret
pada hidung, dan memberikan terapi nedbulizer (inhalasi uap) untuk mngencerkan
dahak supaya bisa keluar dan jalan nafas menjadi paten. Diagnosa gangguan pola
tidur berhubungan dengan suhu lingkungan perawat harus mengobsevasi kebutuhan
tidur, menciptakan lingkungan yang nyaman untuk meningkatkan porsi istirahat
klien.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, ; alih bahasa, I Made Kariasa; editor,
Monica Ester, Edisi 3, Jakarta : EGC
Dona L. Wong, 2004, Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4, Jakrta : Buku
Kedokteran EGC
Keliat, Budi Anna, Proses Keperawatan
Ngastiyah, 1997. Perawatan Anak Sakit, Jakarta : Buku Kedokteran EGC

dr.Rusepno Hasan, Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak, 1981)