Vous êtes sur la page 1sur 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Kompetisi adalah interaksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan
sumber daya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan (survival),
pertumbuhan dan reproduksi individu kompetisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu
yang berakibat pada pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar
individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik.
Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling
memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang
menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu jenis tumbuhan atau
lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Odum,
1983. Hal: 46).
Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplai
sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2)
kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih
banyak.organisme mungkin bersaing jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang
paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat
yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu adalah untuk hidup dan
bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Naughhton,1973. Hal: 88).
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan interspesifik pada
tumbuhan, yaitu yang pertama jenis tanaman. Faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, sistem
perakaran, bentuk pertumbuhan secara fisiologis. Di alam beberapa faktor lingkungan yang
berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman antara lain cahaya, tunjangan
mekanik, suhu udara, air dan unsur hara. Jumlah bahan organik yang dapat dihasilkan oleh lahan
itu tetap walaupun kompetisi tumbuhannya berbeda. Apabila ketersediaan air dan hara telah
cukup dan pertumbuhan berbagai tumbuhan subur, maka faktor pembatas berikutnyaa adalah
cahaya matahari yang redup di musim penghujan berbagai pertanaman berebut untuk
memperoleh cahaya matahari. Tumbuhan yang berhasil bersaing mendapatkan cahaya adalah
yang tumbuh lebih dahulu, oleh karena itu tumbuhan itu lebih tua, lebih tinggi dan lebih rimbun
tajuknya (Wirakusumah, 2003. Hal:78).

Tumbuh-tumbuhan juga dapat bersaing antar sesamanya secara interaksi biokimiawi,


yaitu salah satu tumbuhan mengeluarkan senyawa beracun ke lingkungan sekitarnya dan dapat
mengakibatkan gangguan pertumbuhan yang ada di dekatnya. Interaksi antara biokimiawi antara
gulma dan pertanaman antara lain menyebabkan gangguan perkecambahan biji, kecambah biji
jadi abnormal, pertumbuhan memanjang akar terhambat, perubahan susunan sel akar dan lain
sebagainya. Beberapa spesies tanaman menyaingi pertanaman dengan mengeluarkan senyawa
beracun dari akarnya (root exuadates atau lechates) atau dari pembusukan bagian vegetatifnya.
Persaingan yang timbul akibat dikeluarkannya zat yang meracuni tumbuhan lain disebut
allelopati dan zat kimianya disebut allelopat. Umumnya senyawa yang dikeluarkan adalah dari
golongan fenol (Kastono, 2005. Hal : 83).
Persaingan interspesific antara kedua spesies dapat mengakibatkan kepunahan salah satu
atau kedua kompetitor di habitat mereka, atau keduannya saling berkoeksistensi di habitatnya.
Pada keadaan terjadinya kepunahan (bisa akibat migrasi atau mati) satu spesies, salah satu
spesies kompetitor itu unggul dan mendesak spesie yang lemah. Bila spesies yang lemah tidak
mengubah nichennya sehingga tingkat keberimpitan nichennya berkurang maka akan terjadilah
kepunahan populasi di habitat tersebut. Jika spesies yang lemah menyesuaikan diri dengan
spesies yang unggul maka keduannya dapat berkoeksistensi di habitat tersebut (Nurdin
Muhammad suid, 2003. Hal :75).
Kompetisi dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
1. Kompetisi intraspesifik yakni persaingan antara organisme yang sama dalam lahan yang
sama.
2.

Kompetisi interspesifik yakni persaingan antara organisme yang beda spesies dalam lahan
yang sama.

3. Intraplant competition yakni persaingan antara organ tanaman, misalnya antar organ vegetatif
atau organ vegetatif lawan organ generatif dalam satu tubuh tanaman.
4. Interplant competition yakni persaingan antar dua tanaman berbeda atau bersamaan
spesiesnya (dapat pula terjadi pada intra maupun interplant competition)

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap persaingan intraspesifik dan interspesifik pada


tumbuhan
1. Jenis tanaman, faktor ini meliputi sifat biologi tumbuhan, system perakaran, bentuk
pertumbuhan secara fisiologis. Misalnya adalah pada tanaman ilalang yang memiliki system
perakaran yang menyebar luas sehingga menyebabkan persaingan dalam memperebutkan
unsure hara.
2. Kepadatan tumbuhan, jarak yang sempit antar tanaman pada suatu lahan dapat menyebabkan
persaingan terhadap zat-zat makanan hal ini karena zat hara yang tersedia tidak mencukupi
bagi pertumbuhan tanaman.
3. Penyebaran tanaman, untuk menyebarkan tanaman dapat dilakukan dengan penyebaran biji
atau melalui rimpang (akar tunas). Tanaman yang penyebarannya dengan biji mempunyai
kemampuan bersaing yang lebih tinggi daripada tanaman yang menyebar dengan rimpang.
Namun persaingan yang terjadi karena faktor penyebaran tanaman sangat dipengaruhi faktorfaktor lingkungan lain seperti suhu, cahaya, oksigen, dan air.
4. Waktu dalam hal ini waktu adalah lamanya tanaman sejenis hidup bersama. Periode 25-30%
pertama dari daur tanaman merupakan periode yang paling peka terhadap kerugian yang
disebabkan oleh persaingan (Djoko. 2009. hal 78)

DAFTAR PUSTAKA

Djoko.2009. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Yogyakarta: Fakultas Biologi Universitas


Gajah Mada.
Kastono, 2005. Pengantar Ekologi Tropika . Bandung: ITB.
Muhammad suid, Nurdin 2003. Ilmu Gulma. Yogyakarta: Jurusan Budidaya Pertanian.
UGM.
Naughhton,1973. Ekologi Umum. edisi kedua. Yogyakarta: UGM Press.
Odum, 1983. Dasar-dasar Ekologi. Yogyakarta: UGM Press.
Wirakusumah, 2003