Vous êtes sur la page 1sur 64

ISBN : 978-979-3132-23-5

ATLAS ROTAN INDONESIA


Jilid 1
Cetakan Ke-2

Penyusun :
Jasni
Ratih Damayanti
Titi Kalima

Editor :
Osly Rachman
Johanis P. Mogea

KEMENTERIAN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KETEKNIKAN
KEHUTANAN DAN PENGOLAHAN HASIL HUTAN
BOGOR, 2012

SAMBUTAN CETAKAN KE-2


Atlas Rotan Indonesia Jilid 1, pertama kali di terbitkan tahun 2007
dan mendapat sambutan yang mengembirakan dari berbagai kalangan.
Lima tahun setelah penerbitan, permintaan atas Atlas Rotan Indonesia
Jilid 1 masih tetap tinggi. Untuk memenuhi permintaan tersebut Pusat
Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan pada tahun
2012 melakukan cetak ulang (ke-2) tanpa merubah isi cetakan pertama.
Perlu diinformasikan bahwa Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan
dan Pengolahan Hasil Hutan telah menerbitkan Atlas Rotan Indonesia
Jilid 2 dan pada tahun 2012 akan menerbitkan Atlas Rotan Jilid 3. Kami
berharap penerbitan tiga jilid Atlas Rotan Indonesia menjadi sebuah
kontribusi yang berharga bagi pengembangan pemanfaatan Rotan, yang
termasuk salah satu HHBK paling penting dan berpontensi
mandatangkan devisa dan meningkatkan kesejateraan rakyat.
Atas terlealisasinya cetakan ke-2 Atlas Rotan Indonesia Jilid 1,
pertama-tama kami panjatkan rasa syukur Kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa atas perkenannya. Penghargaan disampaikan kepada jajaran
Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan atas
upaya yang dilakukan guna merealisasikan pencetakan ulang tersebut.
Bogor, Juni 2012
Kepala Pusat Penelitian dan
Pengembangan Keteknikan Kehutanan
dan Pengolahan Hasil Hutan

I.B. Putera Parthama

iii

SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan uyang Maha Kuasa
atas terbitnya Buku Atlas Rotan Indonesia Jilid I. Buku ini sejak lama
telah dinanti oleh kalangan institusi, pengusaha, dan juga para
pengguna rotan lainnya. Kami menilai buku ini sangat berguna dalam
upaya pemanfaatan sumberdaya rotan di lapangan. Dalam buku ini
diuraikan mengenal karakteristik sejumlah jenis rotan yang telah
diperdagangkan, serta rekomendasi penggunaanya yang paling sesuai.
Diharapkan buku ini dapat membantu peningkatan efisiensi
pemanfaatan sumber daya hutan, khusunya rotan.
Saya ucapkan selamat atas upaya Saudara Dra. Jasni, M.Si.,
Ratih Damayanti, S.Hut., dan Dra. Titi Kamila ,M.Si. selaku penyusun,
dan Prof. Dr. Ir. Osly Rachman, MS. dan Dr. Johanis P. Mogea, selaku
penyunting, serta Ir. Suhariyanto, MM dan rekan lainnya yang telah
memfasilitasi penerbitan buku ini.
Dalam buku ini kami sadari masih terdapat banyak kekurangan,
namun demikian kami berharap semoga buku ini hendaknya bermanfaat
bagi peneliti, ilmuwan, praktisi, perencanaan dan perumus kebijakan
serta pengambil keputusan di bidang rotan di Indonesia di masa kini
maupun masa datang.

Bogor, Desember 2007


Kepala Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hasil Hutan

Maman Mansyur Idris

KATA PENGANTAR
Sejak 30 tahun terakhir ini Indonesia diperkirakan merupakan
pemasok 70-85% bahan baku rotan dunia. Jika bahan baku tersebut
tetap tersedia dan indonesia dapat mengekspor hanya barang jadi saja,
maka diyakini komoditi ini akan banyak memberikan devisa bagi negara
yang berarti pula dapat memberikan lapangan kerja yang cukup
signifikan bagi masyarakat yang terkait dengan pengusahaan rotan ini.
Salah satu aspek yang perlu dikuasai untuk mencapai cita-cita tersebut
adalah perlunya pemahaman yang tepat mengenai pengetahuan botani
tentang rotan tersebut berikut pemahaman mengenai kualitasnya dalam
industri. Pengetahuan ini sangat bermanfaat dalam mengembangkan
pengolahan industri pengrajin rotan, budidaya dan pengusahaan yang
berkelanjutan. Untuk tujuan itulah Buku Atlas Rotan Indonesia ini
disusun dan disebarluaskan di kalangan institusi, pengusaha, dan
pengguna rotan lainnya.
Atlas Rotan Indonesia merupakan hasil kerjasama antara Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, LIPI serta beberapa
Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, data yang digunakan untuk
menyusun buku ini terutama berasal dari hasil penelitian yang telah
dilakukan pada instansi tersebut dan material yang telah maupun yang
belum dipublikasikan. Tujuan dari buku ini adalah memperkenalkan
informasi botani, sifat dan kegunaan beberapa jenis rotan yang telah
diperdagangkan.
Buku ini menyajikan risalah 10 jenis rotan berisi data dan
informasi mengenai botani, sifat serta kegunaan rotan. Pada jenis
tertentu kadang dijumpai informasi yang kurang lengkap, karena
penelitian tentang jenis tersebut belum dilakukan dan datanya memang
belum tersedia. Kepada semua pihak yang telah membantu
terlaksananya penyusunan dan penerbitan buku ini penyusun
mengucapkan banyak terima kasih. Semoga bermanfaat bagi
masyarakat yang memerlukannya.
Bogor,

Desember 2007

Penyusun

vii

DAFTAR ISI
SAMBUTAN CETAKAN KE-2 ......................................................... iii
SAMBUTAN ............................................................................... v
KATA PENGANTAR ..................................................................... vii
DAFTAR ISI ............................................................................... ix
I. PENDAHULUAN

...................................................................
II. PENJELASAN RISALAH .........................................................
A. Nama Botani ..................................................................
B. Nama Perdagangan/Nama Daerah ...................................
C. Nama di Negara Lain .......................................................
D. Daerah Persebaran .........................................................
E. Perawakan .....................................................................
F. Struktur Anatomi ............................................................
G. Komponen Kimia ............................................................
H. Fisis Mekanis .................................................................
I. Pelengkungan ................................................................
J. Ketahanan Terhadap Bubuk ............................................
K. Pemanfaatan .................................................................
L. Silvikultur .......................................................................
III. RISALAH ROTAN ..................................................................
A. Balubuk Calamus burckianus Beccari ............................
B. Batang Calamus zollingeri Beccari ................................
C. Batang Susu Daemonorops robusta Warburg ...............
D. Bubuai Plectocomia elongata Martius ex Blume ............
E. Manau Calamus manan Miquel ....................................
F. Manau tikus Calamus tumidus Furtado ........................
G. Sampang Korthalsia junghuhnii Blume .......................
H. Semambu Calamus scipionum Loureiro ......................
I. Seuti Calamus ornatus Blume .....................................
J. Tohiti Calamus inops Beccari ........................................

1
3
4
4
5
5
5
5
6
7
7
7
8
9
10
10
14
18
22
26
32
35
39
42
47

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 51


GLOSARI ................................................................................... 54
INDEKS .................................................................................... 57

ix

I. PENDAHULUAN
Dalam dunia botani, tumbuhan rotan termasuk dalam suku
Arecaceae (dh. Palmae) yang merupakan salah satu dari delapan
ratusan suku tumbuhan berbunga yang ada di muka bumi. Nama
yang sering digunakan ialah suku pinang-pinangan atau
Arecaceae. Tumbuhan rotan sebagian besar merambat.
Batangnya memiliki ruas yang jelas seperti bambu, namun bagian
dalam tidak kosong tetapi berisi jaringan pembuluh. Bentuk,
ukuran, kualitas batang dan panjang ruas bervariasi bergantung
kepada jenisnya. Diameter batang yang terkecil 3 mm (Calamus
ciliaris Blume sensu Ridley) dan yang terbesar dapat mencapai
100 mm (Plectocomia elongata martius ex Blume). Daunnya
mulai dari pelepah, tangkai, tulang daun, rakis, kucir dan
flagellum umumnya berduri. Terutama melalui duri-duri di
flagellum, kucir dan rakis, tumbuhan rotan dapat merambat pada
batang atau cabang pohon kayu. Rotan mudah dibedakan dari
tumbuhan lain, selain karena ciri-ciri tersebut, ciri lain yang sangat
nyata ialah kulit buahnya selalu bersisik mirip buah salak, atau
lebih tepatnya mirip buah sagu. Kedua tumbuhan ini memang
termasuk dalam suku Palmae, suku yang sama dengan tumbuhan
rotan.
Rotan merupakan hasil hutan yang memiliki nilai ekonomi
kedua setelah kayu. Indonesia merupakan penghasil rotan
terbesar dengan memasok sekitar 80% bahan baku konsumsi
dunia (Hartono, 1998). Indonesia memiliki sekitar 350 jenis
(spesies) rotan. Sepuluh dari tiga belas marga (genus) rotan yang
ada di dunia terdapat di Indonesia.
Penelitian mengenai rotan telah dilakukan oleh banyak
lembaga penelitian, perguruan tinggi dan beberapa industri di
Indonesia maupun manca negara. Penelitian tersebut meliputi
penelitian tentang botani, silvikultur, struktur anatomi, fisis
mekanis, komponen kimia, ketahanan terhadap bubuk dan
pengolahan serta aspek ekonomi perdagangan. Namun demikian,

informasi hasil penelitian tersebut masih terpencar pada banyak


publikasi dengan aspek-aspek yang berbeda sehingga sulit untuk
dipelajari secara menyeluruh, oleh karena itu disusunlah atlas
rotan yang berisi informasi yang komprehensif tentang jenis-jenis
rotan, sifat dasar dan kegunaannya sehingga dapat digunakan
oleh pemerintah, investor, industri, dan masyarakat sebagai
informasi dasar ilmiah dalam pengelolaan rotan.

II. PENJELASAN ISI RISALAH


Rotan yang dimuat dalam buku ini sebanyak 10 jenis
didasarkan kepada jenis rotan yang batangnya telah digunakan di
Indonesia, baik yang diperjualbelikan untuk keperluan industri
besar maupun lokal oleh para pengrajin.
Risalah yang disajikan dalam Bab III memuat uraian
mengenai sumberdaya, sifat dan pemanfaatannya. Penjelasan
tersebut meliputi nama botani, sinonim jika ada, nama lokal
terseleksi dan nama dagang jika ada, sifat dan ciri-cirinya, tempat
tumbuh dan daerah persebaran, perbanyakan dan penanaman,
pemanfaatan, serta catatan yang berhubungan dengan
pemanfaatan lain. Nama rotan yang ditampilkan meliputi nama
botani, sinonim, nama perdagangan, nama daerah dan nama lain
yang mungkin berlaku di daerah atau negara lain. Penetapannya
mengacu kepada Dransfield (1974, 1979 dan 1984), Dransfield
dan Manokaran (1996) dan Hadikusumo (1994).
Pertelaan ringkas dalam perawakan memuat karakter
morfologi yang dapat mencirikan identitas jenis. Dalam pertelaan,
istilah-istilah teknis tidak dapat dihindari, namun penggunaannya
diusahakan minimal. Arti istilah-istilah teknis dijelaskan dalam
glosari yang terdapat pada bagian akhir buku. Untuk dapat lebih
memahami jenis-jenis rotan dalam buku ini, pada setiap jenis
dilengkapi dengan foto batang dan foto anatomis batang, serta
gambar bagian tumbuhan.
Sebagian besar infomasi risalah diperoleh dari buku
PROSEA Sumberdaya Nabati Asia Tenggara 6: Rotan, pustaka
dan laporan terkini yang belum dipublikasikan, termasuk yang
berasal dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Pusat
Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan
Pengolahan Hasil Hutan dan Pusat Penelitian dan Pengembangan
Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Alam (dh.Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Pusat Penelitian
dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Lembaga Ilmu

Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta beberapa perguruan tinggi.


Data berasal dari material yang telah diterbitkan dalam berbagai
media publikasi dan yang masih dalam bentuk arsip. Daftar
pustaka yang dipakai sebagai bahan acuan dapat dilihat pada
bagian akhir buku ini.
A. Nama Botani
Setiap tumbuhan hanya memiliki satu nama ilmiah yang
benar. Dalam hal tumbuhan disebutkan nama botani. Nama
botani ini menggunakan dua kata berbahasa latin. Kata yang
pertama menunjukkan marga dan yang kedua menunjukkan
jenis. Dalam naskah-naskah taksonomi, di belakang kata kedua
dituliskan nama penemunya, misalkan untuk rotan manau ditulis
Calamus manan Miquel.
Nama suku tidak dicantumkan karena semua jenis rotan
termasuk dalam satu suku yaitu Arecaceae (Palmae) yang
termasuk Ordo Palmales, kelas Monocotyledon, sub divisi
Angiospermae. Pada penggunaan nama botani jika ada
penambahan nama baru maka sinonimnya perlu disertakan.
B. Nama Perdagangan dan Nama Daerah
Nama perdagangan merupakan nama yang sudah lazim
dipakai dalam perdagangan. Perlu dibedakan antara nama
perdagangan dan nama botani, karena nama perdagangan yang
sama dari beberapa jenis rotan dapat memiliki nama botani yang
berbeda.
Di Indonesia terdapat banyak bahasa daerah dengan
berbagai dialek, sehingga suatu jenis rotan seringkali mempunyai
berbagai nama daerah yang kadang-kadang mencapai lebih dari
sepuluh nama. Untuk itu, jika memungkinkan seluruh nama
daerah akan dicantumkan, namun jika tidak, maka sedapat
mungkin dari tiap pulau atau kepulauan utama sekurangkurangnya dicantumkan satu nama yang banyak digunakan di
daerah tersebut.

C. Nama di Negara Lain


Nama di negara lain adalah nama jenis rotan yang berlaku di
luar Indonesia, baik di negara produsen maupun konsumen yang
sudah dipakai atau sudah dikenal dalam perdagangan.
D. Daerah Persebaran
Daerah persebaran disusun menurut nama pulau dimana
jenis tersebut tumbuh. Daerah persebaran di luar Indonesia tidak
dicantumkan walaupun banyak jenis rotan yang sama secara
alami tumbuh di sana. Informasi mengenai daerah persebaran
mengacu pada Dransfield (1974, 1979, dan 1984), Dransfield dan
Manokaran (1996) dan Hadikusumo (1994).
E. Perawakan
Rotan yang masih hidup perlu diketahui ciri-cirinya untuk
mengenal dan untuk membedakan dengan jenis rotan lain. Ciriciri penting yang dicantumkan dalam risalah ini meliputi: batang,
daun, organ panjat, perbungaan dan bunga, buah dan semai.
Semua bentuk-bentuk ini terdapat pada foto-foto risalah antara
lain balubuk dan seuti. Sedangkan pengertian istilahnya dapat
dilihat pada glosari. Informasinya terutama mengacu kepada
Dransfield (1974, 1979 dan 1984), Alrasyid (1989), Dransfield dan
Manokaran (1996) dan Kalima (1996).
F. Struktur Anatomi
Struktur anatomi dibedakan menjadi dua ciri, yaitu ciri
umum dan ciri anatomi. Ciri umum ditetapkan berdasarkan hasil
pengamatan secara makroskopis atau dengan bantuan kaca
pembesar (10 kali) yang meliputi warna, diameter tanpa pelepah,
panjang ruas, tinggi buku dan rata-rata (KIP) Kerapatan Ikatan
Pembuluh. Ciri anatomi ditetapkan berdasarkan hasil
pengamatan dan pengukuran secara mikroskopis yang meliputi

dimensi ikatan pembuluh, pembuluh metaxylem dan protoxylem,


phloem serta sel serabut. Cara penyajian ciri anatomi dapat
berbeda bergantung kepada data yang didapatkan. Informasinya
banyak mengacu pada Siripatanadilok (1974), Weiner and Liese
(1990 dan 1993), Bhat and Thulasidas (1993), Rachman (1996),
Jasni et al. (1997) dan Anonim (2003).
G. Komponen Kimia
Komponen kimia yang disajikan meliputi kadar
holoselulosa, alfaselulosa, lignin dan kadar pati. Diduga, semakin
tinggi kadar holoselulosa yang terdapat dalam rotan maka
keteguhan lenturnya juga makin tinggi. Alfaselulosa yang
terdapat dalam holoselulosa, dan memiliki fungsi yang sama
dengan selulosa. Penentuan kadar holoselulosa mengikuti
prosedur SNI. 01-1303-1989 (Anonim,1989 a), sedangkan
penetapan kadar alfaselulosa mengikuti prosedur SII 0443-1981
(Anonim, 1981).
Lignin merupakan polimer phenolik dan enolik berbentuk
amorf yang berfungsi sebagai bahan perekat serat. Penetapannya
dilakukan dengan SNI 14-0492-1989 (Anonim, 1989 b). Lignin
diduga dapat menentukan kekuatan pada batang dimana
semakin tinggi kadar lignin dalam rotan maka rotan makin kaku karena ikatan antara serat juga makin kuat.
Kadar pati merupakan cadangan karbohidrat utama pada
tumbuhan tingkat tinggi. Pati merupakan makanan utama
serangga bubuk rotan kering. Makin tinggi kandungan pati makin
rentan terhadap serangan bubuk rotan kering. Informasi ini
penting untuk mengetahui ketahanan atau keawetan rotan.
Penetapan kadar pati dilakukan dengan metode Standar SII. 701979 (Anonim, 1979).
Pada beberapa jenis dicantumkan juga kandungan silika
dalam batang rotan. Penentuan kadar silika ini mengikuti
prosedur SNI 14-1031-1989 (Anonim, 1989 c).

Informasi kandungan kimia ini banyak mengacu pada


Hadikusumo (1994), Rachman (1996) dan Jasni et al. (1997,
1998).
H. Fisis Mekanis
Sifat fisis yang dicantumkan berupa kadar air kering udara
dan berat jenis.
Sifat mekanis merupakan salah satu sifat penting yang
dapat dipakai untuk menduga kekuatan suatu jenis rotan. Dalam
risalah ini disajikan nilai rata-rata keteguhan dalam kondisi kering
udara. Nilai keteguhan diperoleh dari hasil pengujian contoh uji
ukuran kecil yang bebas cacat. Nilai sifat mekanis yang disajikan
meliputi Modulus of Rupture (MOR) dan Modulus of Elasticity
(MOE). Informasi mengenai sifat fisis mekanis ini banyak
mengacu pada Nasa (1989), Hadikusumo (1994), Rachman
(1996) dan Anonim (2003).
I. Pelengkungan
Sifat pelengkungan sangat dibutuhkan untuk membuat
bentuk lengkung. Pada dasarnya rotan dapat dilengkungkan
dengan mudah, namun untuk menghindari pecah dan rusak
akibat pelengkungan, perlu perlakuan pendahuluan. Perlakuan
pendahuluan yang digunakan berupa pengukusan. Informasi
yang disajikan berupa radius lengkung dan waktu pengukusan
yang dianjurkan. Data mengenai pelengkungan banyak mengacu
pada Hadikusumo (1994) dan Rachman et al. (2006).
J. Ketahanan Terhadap Bubuk
Data ketahanan terhadap bubuk yang disajikan
merupakan hasil pengujian di laboratorium terhadap bubuk rotan
kering (Dinoderus minutus Fabr.).
Untuk rotan berdiameter besar (diameter > 18 mm),
pengujian dilakukan dengan menggunakan contoh uji berukuran
panjang 2 cm dan lebar tergantung diameternya. Salah satu sisi

terlebar dipasang semprong kaca. Kemudian ke dalam semprong


kaca tersebut dimasukkan bubuk dewasa yang sehat dan aktif
sebanyak 10 ekor, dan ditutup dengan kapas.
Sedangkan untuk rotan berdiameter kecil (diameter < 18
mm), pengujian dilakukan menggunakan contoh uji berukuran
panjang 5 cm dengan lebar tergantung diameternya. Contoh uji
dibelah dua dan dimasukkan ke dalam botol plastik. Kemudian ke
dalam botol tersebut dimasukkan bubuk dewasa yang sehat dan
aktif sebanyak 10 ekor, dan ditutup. Botol dan semprong disimpan
dalam ruangan tertutup pada suhu kamar selama 5 minggu.
Setelah pengujian selesai baik rotan berdiameter besar maupun
kecil diamati pengurangan berat contoh akibat serangan bubuk.
Pengurangan berat dipakai sebagai ukuran untuk menetapkan
daya tahan terhadap bubuk.
Klasifikasi daya tahan rotan terhadap bubuk sebagai berikut:

Kelas

Ketahanan

Informasi mengenai ketahanan terhadap bubuk mengacu


pada Jasni dan Supriana (1999).
K. Pemanfaatan
Pemanfaatan banyak mengacu kepada Dransfield dan
Manokaran (1996), Rachman dan Jasni (2006) serta Anonim
(2003).

L. Silvikultur
Uraian mengenai silvikultur meliputi tempat tumbuh,
perbanyakan dan penanaman. Faktor yang mempengaruhi
tempat tumbuh diuraikan secara singkat, terutama ketinggian
dari permukaan laut. Uraian mengenai permudaan meliputi
permudaan alam dan permudaan buatan. Pada beberapa jenis
diuraikan mengenai persemaiannya. Informasi mengenai
silvikutur ini terutama didapat dari Dransfield (1979 dan 1984),
Dransfield dan Manokaran (1996) serta Alrasyid (1989).

III. RISALAH ROTAN


A. BALUBUK
Nama Botani: Calamus burckianus Beccari
Nama Daerah: Howe balubuk (Sunda), rotan sepet, penjalin
bakul (Jawa).
Nama di Negara lain: Daerah Persebaran: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur
Perawakan
Jenis ini ini tumbuh berumpun, memanjat hingga mencapai
panjang 20 - 40 m bahkan lebih. Diameter batang dengan pelepah
daun mencapai 30 mm. Pelepah daun hijau dengan duri tersusun
rapat berwarna hitam. Tebal lutut 0,5 cm, tinggi okrea 2 cm.
Panjang daun sekitar 3-6 m termasuk kucir 1 m dan tangkai daun
19-22 cm. Anak daun berjumlah 60-75 di kanan kiri rakis,
berwarna hijau muda tersusun menyirip teratur berukuran 40 x
2,5 cm. Perbungaan jantan dan betina hampir sama, terdiri atas
5-10 bagian bunga.
Struktur Anatomi
Ciri umum:
Diameter tanpa pelepah rata-rata
Panjang ruas
Tinggi buku rata-rata
KIP
Warna putih kecoklatan.

25 mm
20 - 22 cm
2,6 mm
2
3 buah/mm

Ciri anatomi:
Diameter metaxylem
Diameter protoxylem
Diameter phloem
Prosentase pori
Panjang sel serabut
Tebal dinding sel serabut

10

397 m
50 m
29 m
18,9 %
1.186 m
4 m

Komponen Kimia
Holoselulosa
Alfaselulosa
Lignin
Pati

73,3 %
42,4 %
24,0 %
20,9 %

Fisis Mekanis
Kadar air
Berat jenis
MOE
MOR

13,9 %
0,50
18.270 kg/cm2
510 kg/cm2

Pelengkungan
Radius pelengkungan dengan pengukusan selama 10 menit
rata-rata 4,9 cm.
Ketahanan Terhadap Bubuk
Kelas II : Tahan
Pemanfaatan
Batang umumnya digunakan dalam bentuk poles untuk
mebel. Selain itu dijadikan rotan belah berupa kulit, hati dan filtrit
sebagai bahan anyaman. Sedangkan yang alami digunakan untuk
tangkai sapu dan parut kelapa tradisional.
Silvikultur
Tempat tumbuh :
Calamus burckianus merupakan jenis dataran rendah

sampai pegunungan, dekat sungai, yang tersebar luas sampai


pada ketinggian 0-1.500 m di atas permukaan laut.
Perbanyakan dan penanaman : -

11

Gambar 1. Bentuk batang Calamus burckianus

(Foto : Jasni, Rachman dan Damayanti)

Gambar 2. Struktur anatomi batang Calamus burckianus.


Keterangan : M. Metaxylem; Ph. Phloem; Pr. Protoxylem; Is. Berkas
serabut; Pd. Jaringan parenkim dasar
(Foto: Jasni)

12

rk

rb
cp

Gambar 3. Calamus burckianus


A.
B.
C.
D.

Pelepah daun, lutut


Pelepah daun, lutut, sebagian batang, ujung tangkai daun
Pangkal kucir, sebagian rakis, anak daun
Perbungaan jantan; rb= rakis bunga; cp= cabang perbungaan;
rk= rakila
(Foto A : Kalima, Foto B,C,D : Johanis P. Mogea dari spesimen J.
Dransfield & J.P. Mogea 1162)

13

B. BATANG
Nama Botani: Calamus zollingeri Beccari
Nama Perdagangan dan Nama Daerah: Rotan batang,
batang putih, umul (Sulawesi), rotan air, halawaku malibat
(Maluku)
Nama di Negara Lain: Daerah Persebaran: Sulawesi dan Maluku
Perawakan
Jenis rotan ini tumbuh berumpun, panjang batang sampai
40 m. Daun berkucir panjang sampai 7 m. Pelepah daun dengan
panjang 40 cm, warna hijau kusam, ditumbuhi duri yang lebat
beragam bentuk segitiga yang liat, coklat kusam sampai hitam,
panjang 5,5 cm, pangkal 8-12 duri, yang berdampingan sering
menyatu membentuk kerah yang panjangnya 2,5 cm. Buah masak
membulat. Diameter 5 mm, coklat tua, buah muda hijau, berubah
menjadi putih dalam specimen herbarium yang kering.
Struktur Anatomi
Ciri umum:
Diameter tanpa pelepah
Panjang ruas
Tinggi buku rata-rata
KIP
Warna abu-abu mengkilap

20 - 40 mm
35-50 cm
2,7 mm
5 buah/mm2

Ciri anatomi:
Diameter ikatan pembuluh

347 m

Diameter metaxylem
Diameter protoxylem
Diameter phloem
Panjang sel serabut
Tebal dinding sel serabut

206 m
34 m
39 m
1.555 m
6 m

14

Komponen Kimia
Selulosa
Lignin
Silika
Pati

41,1 %
21,2 %
1,4 %
20,6 %

Fisis Mekanis
Berat jenis
MOE
MOR

0,49
2
29.442 kg/cm
580 kg/cm

Pelengkungan
Radius terkecil pelengkungan tanpa pengukusan 12,5-26,9
cm; dengan pengukusan 7,2-21,7 cm.
Ketahanan Terhadap Bubuk
Kelas II : Tahan
Pemanfaatan
Batangnya sangat bagus, digunakan dalam bentuk bulat
yang umumnya cukup dikikis buku atau dipoles sebagai kerangka
mebel.
Silvikultur
Tempat tumbuh :
Terdapat di hutan primer dataran rendah sampai ketinggian
800 m dpl, biasanya dekat sungai kecil. Tumbuh pada tanah yang
berstruktur liat dan beriklim basah.
Perbanyakan dan penanaman:
Perbanyakan dengan biji dan tunas. Penanganan seperti
Calamus manan.

15

Gambar 4. Bentuk batang Calamus zollingeri

(Foto : Jasni, Rachman dan Damayanti)

Gambar 5. Struktur anatomi batang Calamus zollingerii.


Keterangan : a. Metaxylem; b. Phloem; c. Protoxylem; d. Pa re n k i m
aksial; e. Berkas serabut; f. Jaringan parenkim dasar
(Foto : Indrawati)

16

Gambar 6. Calamus zollingeri


A.
B.
C.
D.
E.

Perawakan tumbuhan muda


Bagian atas pelepah daun dan bagian bawah tangkai daun
Pelepah daun, lutut dan buah
Pelepah daun
Buah masak
(Foto : Johanis P. Mogea)

17

C. BATANG SUSU
Nama Botani : Daemonorops robusta Warburg
Nama Daerah: Batang susu (Sulawesi Utara), batang merah
(Sulawesi Tengah) rotan bulu rusa (Seram Ambon), noko
(Sulawesi Tenggara)
Nama di Negara Lain : Daerah Persebaran : Sulawesi, Maluku
Perawakan
Jenis ini tumbuh berumpun. Batang mencapai panjang 20
m. Diameter batang dengan pelepah 40 mm. Panjang daun
sampai 5,5 m, pelepah daun bewarna kuning sampai pucat, lebat
ditumbuhi indumentum hitam. Duri biasanya lunak, ramping,
coklat keputih-putihan sampai hitam, panjang duri sampai 7 cm.
Buah masak agak membulat, panjang 17 mm dan diameter 20
mm, dengan sisik putih, dan berwarna coklat cemerlang bila
dikeringkan.
Struktur Anatomi
Ciri umum:
Diameter tanpa pelepah
23 mm
Panjang ruas
20-25 cm
Tinggi buku rata-rata
3,7 mm
Warna hijau keabu-abuan dan kuning kehitaman.
Ciri anatomi:
Diameter ikatan pembuluh
Diameter metaxylem
Diameter protoxylem
Diameter phloem
Panjang sel serabut
Tebal dinding sel serabut

18

316 m
198 m
33 m
35 m
1.180 m
3 m

Kimia
Holoselulosa

Selulosa

50,9 %

Lignin

22,4 %

Pati

Silika

1,6 %

Fisis Mekanis
Kadar air

Berat jenis

0,42

MOE

33.774 kg/cm

MOR

647 kg/cm

Ketahanan Terhadap Bubuk


Pelengkungan
Radius terkecil pelengkungan tanpa pengukusan 18,5 cm;
dengan pengukusan 6,5 cm.
Pemanfaatan
Pembuatan kerangka mebel dengan kualitas sedang.
Silvikultur
Tempat tumbuh :
Daemonorops robusta merupakan jenis tumbuhan rotan

yang hidup berumpun, tumbuh 10 - 900 m di atas permukaan


laut pada tanah sarang sampai tanah yang berbatu-batu dan
berpasir.
Perbanyakan dan penanaman : -

19

Gambar 7. Bentuk batang Daemonorops robusta

( Foto: Jasni, Rachman dan Damayanti)

Gambar 8. Struktur anatomi Daemonorops robusta


Keterangan : a. Metaxylem; b. Phloem; c. Protoxylem; d. Parenkim
aksial; e. Berkas serabut; f. Jaringan parenkim dasar
( Foto: Indrawati)

20

bh

bh

Gambar 9. Daemonorops robusta


A.
B.
C.
D.
E.
F.

Perawakan tumbuhan muda ( Kalima)


Pelepah daun
Pelepah daun & pangkal perbuahan
Pelepah daun & pangkal perbungaan
Sebagian rakis & anak daun
Pangkal kucir
(Foto B,C,D, E dan F: Johanis P. Mogea 5076)

21

D. BUBUAI
Nama Botani: Plectocomia elongata Martius ex Blume
Nama Daerah: Bubuai, hoe bubuai (Sunda), menjalin warak
(Jawa)
Nama di Negara Lain : Rotan mantang (Semenanjung
Peninsula)
Daerah Persebaran : Jawa, Sumatera dan Kalimantan
Perawakan
Jenis ini tumbuh berumpun dan ada juga yang tunggal,
memanjat sampai mencapai tinggi 30-50 m. Diameter dengan
pelepah mencapai 25-100 mm. Pelepah daun hijau, ditutupi oleh
duri horizontal atau berbentuk sisir miring (roset). Warna duri
coklat keemasan atau coklat kemerahan, panjang 3-4 cm dengan
indumentum berwarna putih atau kuning tua. Lutut tidak ada.
Daun sangat besar, panjang 6-7 m termasuk sirus 3 m dan tangkai
daun 20-30 cm. Anak daun 50-60 di kanan kiri rakis, berbentuk
pita jorong, tersusun tidak teratur atau berkelompok 2-3.
Permukaan atas anak daun hijau dan bagian bawah keputihan.
Perbungaan muncul dari ujung berjumlah sekitar 7-10 bongkol
yang panjangnya mencapai 80 cm. Buah masak sangat banyak
sekitar 8 buah, dibagian pangkal tandan tidak memiliki braktea.
Diameter buah 15 mm ditutupi oleh 50 sisik vertikal ke bawah
berwarna coklat kemerahan. Biji berdiameter sekitar 10 mm.
Daun pada tingkat semai berbentuk lanset.
Struktur Anatomi
Ciri umum:
Diameter tanpa pelepah rata-rata
Panjang ruas
Tinggi buku rata-rata
Warna coklat dan coklat kemerahan

22

20 - 90 mm
30-40 cm
3,5 mm

Ciri anatomi:
Diameter ikatan pembuluh
Diameter metaxylem
Diameter protoxylem
Diameter phloem
Panjang sel serabut
Tebal dinding sel serabut

982 m
366 m
74 m
39 m
2.259 m
4 m.

Komponen Kimia
Holoselulosa
Alfaselulosa
Lignin
Pati

73,8 %
40,6 %
16,9 %
23,6 %

Fisis Mekanis
MOE
Keteguhan belah
Kekerasan

38.098 kg/cm
2
69,3 kg/cm
2
305 kg/cm

Pelengkungan
Radius pelengkungan dengan pengukusan selama 10 menit
adalah 14,7 cm.
Ketahanan Terhadap Bubuk
Kelas V : Sangat tidak tahan
Pemanfaatan
Sudah mulai digunakan dalam bentuk poles untuk kerangka
mebel. Hati dan fitrit belum digunakan sebagai anyaman karena
terlalu lunak, tetapi kulit kemungkinan dapat digunakan.
Silvikultur
Tempat tumbuh
merupakan jenis dataran rendah
yang tersebar luas sampai pada ketinggian 1.200 m di atas
permukaan laut.
Plectocomia elongata

23

Perbanyakan dan penanaman


Perbanyakan dapat menggunakan tunas yang tumbuh pada
ruas batangnya, jumlah tunas pada ruas batang sekitar 4-10.
Nampaknya budidaya melalui tunas yang tumbuh pada ruas
batang lebih cepat dibandingkan dengan pembiakan melalui biji.
Cara perbanyakan seperti ini sangat menarik untuk diketahui dan
dilakukan penelitian agar dapat diterapkan pada jenis-jenis rotan
lainnya.

Gambar 10. Bentuk batang Plectocomia elongata

(Foto: Jasni, Rachman dan Damayanti)

1
3

2
4

Gambar 11. Struktur anatomi Plectocomia elongata


Keterangan : 1. Metaxylem; 2. Protoxylem; 3. Phloem; 4. Parenkim
aksial; 5. Berkas serabut; 6. Jaringan parenkim dasar
(Foto: Jasni)

24

Gambar 12. Plectocomia elongata


A.
B.
C.
E.

Perawakan
Pelepah daun tumbuhan muda dan tangkai daun (Kalima)
Pelepah daun tumbuhan muda
Sebagian pelepah daun tumbuhan dewasa
(Foto: A, C dan D: Johanis P. Mogea)

25

E. MANAU
Nama Botani: Calamus manan Miquel.
Sinonim: Calamus giganteus Beccari.
Nama Perdagangan dan Nama Daerah: Rotan manau
(umum di seluruh kawasan dan dalam perdagangan)
Nama di Negara Lain: Rotan manau telur (Semenanjung
Malaysia)
Daerah Persebaran: Sumatera dan Kalimantan
Perawakan
Tumbuh tunggal, memanjat, panjang mencapai 100 m.
Diameter batang dengan pelepah daun 66-80 mm. Pelepah
daun hijau tua, dilengkapi dengan duri yang sangat rapat. Duri
pipih segitiga dan tersusun dalam kelompok-kelompok yang
tersebar acak. Di antara duri terdapat lapisan lilin tipis yang
berlimpah. Lutut sangat jelas berduri tunggal tersebar, panjang
lutut sampai 8 cm, okrea tidak jelas. Daun bersirus sampai sekitar
8,5 m panjangnya termasuk sirus 3 m ditumbuhi duri-duri
menyerupai jangkar. Panjang tangkai daun sampai sekitar 12 cm
dan lebarnya 5 cm pada tumbuhan dewasa. Rakis dilengkapi duri
segitiga pendek, lebat, baik permukaan atas maupun bawah,
dengan indumentum kelabu yang tersebar di antaranya. Anak
daun berjumlah 47 di kanan dan kiri rakis, berbentuk lanset,
tersusun secara teratur. Ukuran anak daun 43-53 cm x 7,5 cm.
Perbungaan masif, bunga jantan bercabang lebih halus dari
bunga betina, panjang sampai 2,5 m dengan perbungaan parsial
sampai 9 pasang yang panjangnya mencapai 70 cm. Buah masak
bulat sampai bulat telur, berukuran 28 x 20 mm, ditutupi dengan
15 barisan vertikal sisik kekuningan dengan pinggiran coklat
kehitaman ujungnya berbentuk paruh dengan panjang 3 mm. Biji
bulat telur, 18 x 12 mm, dengan permukaan berbintik-bintik
kecil; endosperma termamah rapat dan dalam. Daun semai
dengan 2 anak daun yang menudung menyebar, permukaan

26

hijau pucat dan kuncup berwarna kelabu kebiru-biruan berlilin.


Struktur Anatomi
Ciri umum:
Diameter tanpa pelepah
Panjang ruas
Tinggi buku rata-rata
KIP
Warna kekuningan

30 80 mm
18-35 cm
2,1 mm
3 buah/mm2

Ciri anatomi:
Diameter ikatan pembuluh
Diameter metaxylem
Diameter protoxylem
Diameter phloem
Panjang sel serabut
Tebal dinding sel serabut

405 m
228 m
38 m
40 m
1.587 m
5 m

Komponen Kimia
Holoselulosa
Alfaselulosa
Lignin
Pati

71,5
39,1
22,2
18,5

%
%
%
%

Fisis Mekanis
Kadar air
Berat jenis
MOE
MOR

13,8 %
0,55
19.827 kg/cm2
734 kg/cm2

Pelengkungan
Sangat mudah dilengkungkan. Dengan pengukusan selama
kurang lebih 10 menit, mampu dilengkungkan dengan radius < 10
cm.

27

Ketahanan Terhadap Bubuk


Kelas I : Sangat tahan
Pemanfaatan
Batang Calamus manan memiliki diameter besar dan
kualitas sangat baik, sehingga banyak dicari. Merupakan bahan
baku kerangka mebel baik dalam bentuk alami (tanpa poles)
maupun dipoles.
Silvikultur
Tempat tumbuh:
Rotan ini merupakan jenis yang tumbuh di hutan
dipterokarpa dataran rendah terutama dekat lereng yang curam
dengan kisaran ketinggian antara 500-1.000 m di atas permukaan
laut, paling melimpah pada ketinggian 50-600 m di atas
permukaan laut, pada lahan kering. Tanah bersolum dalam,
lembab dan berstruktur liat dengan iklim basah. Semai ditemukan
melimpah di hutan perbukitan.
Perbanyakan dan penanaman:
Perbanyakan menggunakan biji, dengan prosedur
perbanyakan sebagai berikut: dinding buah yang berdaging
dibersihkan dan dijaga agar tetap lembab karena kondisi yang
kering akan menyebabkan embrio mati. Biji ditanam dalam
bedeng yang dinaungi dan dipindahkan dalam kantung politena
ketika daun pertama muncul. Semai ditempatkan di bawah
naungan dan diberi banyak kelengasan, namun tetap dijaga agar
tidak ada genangan air. Semai siap ditanam setelah kurang lebih
berusia 9-12 bulan. Saat penanaman, semai membutuhkan
pohon penopang dengan intensitas pencahayaan kurang lebih
50 %. Pada skala komersial telah ditanam.

28

Gambar 13. Bentuk batang Calamus manan


(Foto: Jasni, Rachman dan Damayanti)

Gambar 14. Struktur anatomi batang Calamus manan


Keterangan: a. Metaxylem; b. Phloem; c. Protoxylem; d. Parenkim
aksial; e. Jaringan parenkim dasar; f. Berkas serabut
(Foto: Indrawati)

29

Gambar 15. Calamus manan


A.
B.
C.
D.
E.
F.

Perawakan tumbuhan muda


Perawakan tumbuhan dewasa (Kalima)
Pelepah daun
Pelepah daun dewasa (Kalima)
Sebagian rakila memuat buah
Buah masak
(Foto: A,C,E dan F: Johanis. P. Mogea)

30

B
Gambar 16. Calamus manan
A. Buah masak: yang kiri : kulit buah telah dikupas, kanan sebagian kulit
buah dikupas
B. Anakan berumur 3 tahun
(Foto: Johanis P. Mogea)

31

F. MANAU TIKUS
Nama Botani: Calamus tumidus Furtado
Nama Daerah: Rotan manau tikus
Nama di Negara Lain: Rotan manau buku hitam (Semenanjung
Malaysia bagian utara)
Daerah Persebaran : Sumatera
Perawakan
Jenis ini tumbuh tunggal dengan batang yang dapat
mencapai panjang lebih dari 60 m. Diameter batang dengan
pelepah 45 mm. Pelepah daun ditumbuhi duri dan indumentum,
tebal lutut 1 cm, tinggi okrea 1 cm, panjang tangkai daun sekitar
30 cm, waktu muda berwarna coklat kemerahan sampai merah
padam, setelah tua kemudian berubah menjadi hijau kekuningkuningan. Panjang daun mencapai 4 m termasuk kucir yang
panjangnya 1,5 m, anak daun pada tiap sisi rakis berjumlah sekitar
25, anak daun berpasangan dua-dua, berukuran 40 x 6 cm, warna
hijau kekuningan, permukaan bawah anak daun muda
berlapiskan lilin putih mencolok, sepanjang pinggirannya berbulu
hitam, perbungaan jantan dan betina mirip, panjang sampai 1 m,
brakteanya berduri.
Struktur Anatomi
Ciri umum:
Diameter tanpa pelepah berkisar
Panjang ruas
Tinggi buku rata-rata
Warna putih kekuningan

12 - 25 mm
-

Ciri anatomi:
Diameter ikatan pembuluh
Diameter metaxylem
Diameter protoxylem

32

317 m
194 m
32 m

Diameter phloem
Panjang sel serabut
Tebal dinding sel serabut

33 m
1233 m
4 m

Kimia
Holoselulosa
Alfaselulosa
Lignin
Pati
Silika

56,6 %
21,8 %
20,6 %
2,3 %

Fisis Mekanis
Kadar air
Berat jenis
Keteguhan tarik sejajar bagian luar (kulit)
Keteguhan tarik sejajar bagian dalam (core)

0,45
631 kg/cm2
538 kg/cm2

Ketahanan Terhadap Bubuk


Pelengkungan
Pemanfaatan
Sama dengan rotan manau yaitu untuk pembuatan
kerangka mebel.
Silvikultur
Tempat tumbuh : Perbanyakan dan penanaman : -

33

Gambar 17. Bentuk Batang


Calamus tumidus
(Foto: Jasni, Rachman dan
Damayanti)

Gambar 18. Struktur anatomi


Calamus tumidus
Keterangan :
a. Metaxylem;
b. Phloem;
c. Protoxylem;
d. Parenkim aksial;
e. Berkas serabut;
f. Jaringan parenkim dasar

(Foto: Indrawati)

B
Gambar 19. Calamus tumidus

A. Pelepah daun
B. Rakis dan anak daun
C. Perbungaan jantan
(Foto: Grashoff 793)
34

G. SAMPANG
Nama Botani: Korthalsia junghuhnii Blume
Nama Daerah: Howe sampang, owe menceng
Nama di Negara Lain: Daerah Persebaran : Jawa dan Sumatera
Perawakan
Jenis ini tumbuh berumpun dengan lebat dan sering
bercabang tinggi dalam tajuk hutan sehingga mengakibatkan
belitan besar. Batang mencapai panjang 8 m. Batangnya ramping,
memanjat tinggi, hapasantik, dan hermaprodit. Diameter dengan
pelepah mencapai diameter 2,1 cm. Daun bersirus panjangnya
sampai 140 cm, termasuk tangkai dan sirus; panjang sirus sampai
70 cm; panjang tangkai daun sampai 13 cm dilengkapi duri
tunggal tersebar, warna duri hijau kekuningan. Pelepah daun hijau
dengan duri tersebar warna hijau kekuningan, panjangnya sampai
1 cm. Pelepah daun tidak berlutut dan selalu berakhir dalam suatu
okrea. Pelepah daun dan okrea ditumbuhi duri yang beragam,
jarang sampai lebat. Okrea menyerupai jala. Anak daun berjumlah
13 pasang, berbentuk rhomboid, berukuran 20-26 x 5-12 cm.
Spesimen steril.
Struktur Anatomi
Ciri umum:
Diameter tanpa pelepah rata-rata
Panjang ruas
Tinggi buku rata-rata
Warna coklat kusam

16 mm
32-40 cm
4,9 mm

Ciri anatomi:
Diameter ikatan pembuluh
Diameter metaxylem
Diameter protoxylem
Diameter phloem
Panjang sel serabut
Tebal dinding sel serabut

808 m
383 m
44 m
42 m
1.940 m
5 m
35

Panjang sel serabut


Tebal dinding sel serabut

1.940 m
5 m

Komponen Kimia
Holoselulosa
Alfaselulosa
Lignin
Pati

71,5
42,9
24,4
19,6

%
%
%
%

Fisis Mekanis
Kadar air
Berat jenis
MOE
MOR

18,2 %
0,58
22.000 kg/cm2
834 kg/cm2

Ketahanan Terhadap Bubuk


Kelas III : Sedang
Pelengkungan
Radius pelengkungan dengan pengukusan selama 10 menit
adalah 4,7 cm.
Pemanfaatan
Batang Khortalsia junghuhnii umumnya digunakan dalam
bentuk poles untuk rangka mebel. Selain diolah menjadi kulit, hati
dan filtrit digunakan pula sebagai bahan anyaman, tali-temali
serta untuk cambuk.
Silvikultur
Tempat tumbuh
Khortalsia junghuhnii dijumpai tumbuh di dataran
rendah, lereng bukit, pegunungan, mulai pada ketinggian 4001.100 m di atas permukaan laut.
Perbanyakan dan penanaman
Selama ini budidayanya belum pernah dilakukan.

36

Gambar 20. Bentuk batang Korthalsia junghuhnii


(Foto : Jasni, Rachman, dan Damayanti)

6
5
3

1
2
4
Gambar 21. Struktur anatomi Korthalsia junghuhnii
Keterangan : 1. Metaxylem; 2. Protoxylem; 3. Phloem;
4. Parenkim aksial; 5. Berkas serabut; 6. Jaringan
parenkim dasar
(Foto : Jasni)

37

Gambar 22. Korthalsia junghuhnii


A.
B.
C.
D.

Perawakan (Kalima)
Bentuk percabangan
Pelepah dan tangkai
Rakis dan anak daun
(Foto B, C, dan D: Johanis P. Mogea)

38

H. SEMAMBU
Nama Botani: Calamus scipionum Loureiro
Nama Perdagangan dan Nama Daerah: Rotan semambu
(Jawa, Sumatera); (Kalimantan)
Nama di Negara Lain: Semambu (Semenanjung Malaya), Waai
maithao (Thailand)
Daerah Persebaran: Sumatra, Kalimantan dan Jawa.
Perawakan
Jenis ini tumbuh berumpun, memanjat sampai mencapai
panjang 100 m bahkan lebih. Diameter batang dengan pelepah
daun 50 mm. Pelepah daun berwarna hijau dengan duri besar
berbentuk segi tiga pipih, duri kekuningan dengan bagian pangkal
hitam, berukuran 5x1,5 cm. Indumentum berwarna kelabu ketika
masih muda. Tebal lutut 2,5 cm, tinggi okrea 0,5-1 cm. Panjang
flagela 7 m dilengkapi dengan duri hitam. Panjang daun sampai 2
m. Tangkai daun berukuran sekitar 25-30 cm. Anak daun
berjumlah 25 di kiri dan kanan rakis, tersusun menyirip teratur.
Ukuran anak daun bagian bawah sekitar 40x3 cm, bagian tengah
sekitar 55x6 cm, bagian atas sekitar 20x3 cm; hanya bagian
ujung anak daun yang berambut hitam. Perbungaan jantan dan
betina hampir sama, panjangnya mencapai 6 m atau lebih. Buah
masak berbentuk bulat telur, berukuran 14x9 mm dan ditutupi
dengan 14-15 sisik vertikal ke bawah. Warna sisik hijau. Biji bulat
telur berukuran 9x5 mm.
Struktur Anatomi
Ciri umum:
Diameter tanpa pelepah
25 - 35 mm
Panjang ruas
30 - 80 cm
Tinggi buku rata-rata
2,1 mm
Warna coklat muda atau coklat muda sampai coklat tua
kehitaman.

39

Ciri anatomi:
Panjang sel serabut
Tebal dinding sel serabut

1.476 m
4 m

Komponen Kimia
Holoselulosa
Alfaselulosa
Lignin
Pati

70,1 %
37,4 %
22,2 %
21,4 %

Fisis Mekanis
Kadar air
Berat jenis
MOE
MOR

13,5 %
0,44
20.500 kg/cm2
611 kg/cm2

Pelengkungan
Radius pelengkungan dengan pengukusan selama sepuluh
menit 4,5 cm.
Ketahanan Terhadap Bubuk
Kelas awet III: Sedang
Pemanfaatan
Batang Calamus scipionum umumnya dalam bentuk poles
digunakan untuk membuat perabot dengan kualitas sedang.
Batang dengan jarak antar buku-buku yang panjang baik untuk
membuat tongkat, tangkai payung, tas, serta tangkai saringan
minyak goreng.
Silvikultur
Tempat tumbuh
Jenis ini tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan,
yang tersebar luas sampai pada ketinggian lebih dari 200 m di atas
permukaan laut. Umumnya dijumpai dalam belukar atau hutan
basah dan menyukai tanah aluvial serta sering terdapat di hutan
sekunder.

40

Perbanyakan dan penanaman :


Penanaman menggunakan tunas akar, namun budidaya
yang lebih efisien menggunakan semai yang ditumbuhkan dari
biji. Prosedur persemaian dan teknik penanaman di lapangan
seperti Calamus manan.

Gambar 23. Bentuk batang Calamus scipionum


(Foto : Jasni, Rachman, dan Damayanti)

d
a

e
f

Gambar 24. Struktur anatomi batang Calamus scipionum


Keterangan : a. Metaxylem; b. Phloem; c. Protoxylem; d. Parenkim
aksial; e. Berkas serabut; f. Jaringan parenkim dasar
(Foto: Rachman)

41

Gambar 25. Calamus scipionum


A. Pelepah daun (Kalima)
B. Perawakan (JPM)

I. SEUTI
Nama Botani: Calamus ornatus Blume
Nama Perdagangan dan Nama Daerah: Howe seuti, rotan
kasur (Jawa Barat), rotan kesup (Bengkulu), rotan lambang
(Sulawesi Tengah), rotan buku dalam (Sulawesi Utara), minong
atau munau (Kalimantan).
Nama di Negara Lain: Rotan dok, sek batang, we maliang
(Malaysia); limuran, rimoran, borongan (Filipina); waai chaang
(Thailand)
Daerah Persebaran: Sumatera, Jawa, Kalimantan
Perawakan
Jenis ini tumbuh berumpun, memanjat hingga mencapai
panjang 70 m bahkan lebih. Diameter batang dengan pelepah
mencapai 7 cm. Pelepah daun berwarna hijau dengan duri besar
berbentuk segitiga pipih. Duri berwarna hitam dan bagian pangkal
duri berwarna kekuningan, berukuran 4x1 cm. Pelepah daun yang

42

muda kadang tidak berduri atau berduri sangat jarang. Tebal lutut
2 cm, tinggi okrea 1 cm. Panjang flagela sekitar 8-10 m, hijau tua
dengan duri pendek hitam dan pangkal kekuningan. Panjang
daun sekitar 3,2-4 m, dengan tangkai daun 7-10 m. Anak daun
berjumlah 20-30 di kanan kiri rakis, berwarna hijau muda
tersusun menyirip teratur. Bentuk anak daun jorong berukuran
68-80 cm x 8-9 cm, di ujung 4x0,5 cm. Perbungaan termasuk
flagela mencapai 8 m, terdiri atas 4-6 bagian bunga. Buah masak
berukuran 30x20 mm berbentuk bulat panjang, ditutupi 15 sisik
vertikal ke bawah berwarna coklat sampai hitam. Buah masak
berbiji satu, bulat telur berukuran 15x10 cm ditutupi sisik hijau
tua berkeluk balik, rapi, kecil, di tengah bersaluran yang dalam
dengan pinggiran yang bewarna samar-samar coklat jingga,
berubah menjadi hijau kuning pucat bila masak. Biji berukuran
sekitar 11,5 cm x 7,5 cm.
Struktur Anatomi
Ciri umum:
Diameter tanpa pelepah
Panjang ruas
Tinggi buku rata-rata
KIP
Warna putih kekuningan

30 - 40 mm
20 - 30 cm
2,4 mm
2
3 buah/mm

Ciri anatomi:
Diameter ikatan pembuluh
Diameter metaxylem
Diameter protoxylem
Diameter phloem
Panjang sel serabut
Tebal dinding sel serabut

815 m
363 m
58 m
44 m
1.298 m
4 m

43

Komponen Kimia
Holoseulosa
Alfaselulosa
Lignin
Pati

72,7 %
34,1 %
13,4 %
21,8 %

Fisis Mekanis
Kadar air
Berat jenis
MOE
MOR

13,8 %
0,51
17.090 kg/cm2
442 kg/cm2 ;

Pelengkungan
Radius terkecil pelengkungan tanpa pengukusan 23,0 cm
dengan pengukusan 6,5 cm.
Ketahanan Terhadap Bubuk
Kelas III : Sedang
Pemanfaatan
Batang rotan umumnya digunakan dalam bentuk poles
untuk mebel dan tangkai payung. Selain itu digunakan juga dalam
bentuk alami untuk tangkai sapu, tangkai parang dan tangkai
kampak.
Silvikultur
Tempat tumbuh:
Calamus ornatus merupakan jenis yang tumbuh di dataran
rendah, lereng bukit, yang tersebar luas sampai pada ketinggian
50-1.200 m di atas permukaan laut. Hidup pada tanah berstruktur
liat dan iklim basah.

Perbanyakan dan penanaman:


Perbanyakan dilakukan dengan biji. Jika semai telah mapan
hanya diperlukan sedikit perawatan disamping penyiangan.

44

Gambar 26. Bentuk batang Calamus ornatus


(Foto : Jasni, Rachman dan Damayanti)

3
4
2
1

Gambar 27. Struktur anatomi batang Calamus ornatus


Keterangan : 1. Metaxylem; 2. Protoxylem; 3. Phloem;
4. Parenkim aksial; 5. Berkas serabut; 6. Jaringan
parenkim dasar
(Foto : Jasni)

45

f
p

rk

A
Gambar 28. Calamus ornatus Blume
A. Bagian bagian perawakan tumbuhan
B. Perawakan
C. Bagian bagian perawakan tumbuhan
p = pelepah daun; t = tangkai daun; rk = rakis; a = anak daun; f= flagela
(Foto: Johanis P. Mogea)

46

J. TOHITI
Nama Botani : Calamus inops Beccari ex Heyne
Nama Perdagangan dan Nama Daerah: Rotan tohiti,
sambutan (Sulawesi, Maluku)
Nama di Negara Lain: Daerah Persebaran: Sulawesi dan Maluku
Perawakan
Jenis ini tumbuh tunggal, memanjat sampai tinggi
mencapai 10 m. Diameter batang dengan pelepah daun 20 - 25
mm. Pelepah daun mempunyai duri-duri yang agak pipih dan
berukuran 10 - 15 x 15 mm, duri-duri cukup lebat. Mulut pelepah
daun berduri. Tebal lutut 1 cm, kadang-kadang berduri dan
kadang-kadang tidak. Tidak mempunyai flagela, tetapi
mempunyai kucir yang panjangnya 0,8-1,5 m. Panjang tangkai
daun 20-30 cm, dengan duri-duri yang bervariasi di seluruh
permukaanya , Panjang tangkai daun 20-30 cm, dengan duri-duri
yang bervariasi di seluruh permukaannya. Panjang helaian daun
2-3,5 m. Anak daun menyirip teratur, berjumlah 25-50 pada setiap
sisi, bentuk pita dengan ukuran 20-30 cm x 0,5-1,0 cm, pada
bagian tepi dan permukaan atasnya terdapat duru-duri halus.
Perbungaan jantan mempunyai pola percabangan tingkat 3.
Perbungaan betina mempunyai percabangan tingkat 2. Buah yang
belum masak berbentuk lonjong dengan ukuran panjang 1 cm dan
ditutupi oleh sisik-sisik secara vertikal jumlahnya 12 dan secara
horizontal jumlahnya 6. Buah masak mempunyai sisa kepala
putik.
Struktur Anatomi
Ciri umum:
Diameter tanpa pelepah
Panjang ruas
Tinggi buku rata-rata
KIP
Warna kuning kebiruan, kuning gading

15 - 20 mm
30 - 60 cm
1,1 mm
2
6 buah/mm

47

Ciri anatomi:
Ikatan pembuluh
Sklerenkim
Parenkim
Panjang sel serabut
Tebal dinding sel serabut

31%
34%
34%
1.210
6 m

Komponen Kimia
Holoselulosa
Alfaselulosa
Lignin
Pati

74,4 %
43,3 %
21,3 %
18,6 %

Fisis Mekanis
Kadar air
Berat jenis
MOE
MOR

12,6 %
0,56
2
54.000 kg/cm
2
456 kg/cm

Pelengkungan
Radius terkecil pelengkungan tanpa pengukusan
mencapai 17,5-28,4 cm, dengan pengukusan 5,3-12,0 cm.
Ketahanan Terhadap Bubuk
Kelas I : Sangat Tahan
Pemanfaatan
Batang umumnya digunakan dalam bentuk bulat poles atau
tanpa poles sebagai rangka mebel. Selainnya diolah menjadi kulit,
hati dan fitrit untuk bahan anyaman.
Silvikultur
Tempat tumbuh:
Calamus inops dijumpai di dataran rendah, lahan kering

dan lereng gunung pada hutan Agathis, sampai pada ketinggian


1.500 m di atas permukaan laut. Tumbuh di tanah yang
berstruktur liat dan beriklim basah.

48

Perbanyakan dan penanaman:


Perbanyakan dilakukan dengan biji. Persemaian dan teknik
penanaman di lapangan seperti jenis Calamus manan.

Gambar 29. Bentuk batang Calamus inops

(Foto : Jasni, Rachman dan Damayanti)

c
d

Gambar 30. Struktur anatomi batang Calamus inops


Keterangan: a. Metaxylem; b. Phloem; c. Protoxylem; d. Parenkim
aksial; e. Jaringan parenkim dasar; f. berkas serabut.
(Foto: Jasni)

49

D
Gambar 31. Calamus inops

A.
B.
C.
D.

Perawakan tumbuhan muda (Kalima)


Perawakan tumbuhan dewasa
Perbuahan memuat buah yang masak
Pelepah daun
(Foto B, C dan D: Johanis P. Mogea)

50

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1979. Standar Industri Indonesia. Mutu dan Cara Uji Tepung
Gaplek. Departemen Perindustrian Republik Indonesia, SII 701979.
. 1981. Standar Industri Indonesia. Cara Uji Kadar Selulosa,
Alpha, Betha, dan Gamma dalam Pulp. Departemen
Perindustrian Republik Indonesia. SII 0443-1981.
. 1989 a. Standar Nasional Indonesia. Cara Uji Kadar
Holoselulosa
Kayu, Badan Standarisasi Nasional. SNI 011303-1989.
. 1989 b. Standar Nasional Indonesia. Cara Uji Kadar Lignin Dan
Pulp (Metode Klason). Badan Standarisasi Nasional. SNI 140492-1989.
. 1989 c. Standar Nasional Indonesia. Cara Uji Kadar Abu, Silika
& Silikat dalam Kayu dan Pulp Kayu. Badan Standarisasi
Nasional. SNI 14-1031-1989.
. 2003. RSNI3. Jenis, Sifat dan kegunaan rotan. Badan
Standardisasi Nasional. Jakarta. Belum Diterbitkan.
Al Rasyid, H. 1989. Teknik penanaman rotan. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Badan Penelitian
dan Pengembangan Kehutanan. Bogor. Tidak diterbitkan.
Dransfield, J. 1974. A short guide to rattan biotrop/TF/74/128 bogor,
Indonesia 69 pp.
.1979. A Manual of the rattan of Malay Peninsula. Malayan
Forest Record No. 29. FRIM. Malaysia.
.1984. The rattan of Sabah. Sabah Forest Record. No 13. Forest
Department Sabah.
Dransfield, J. dan N. Manokaran. 1996. Sumberdaya nabati asia
tenggara 6: Rotan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
dan PROSEA Bogor.
Hadikusumo, S. A. 1994. Exploration of physical dan mechanical
properties of precently unused rattan. Buletin Fakultas
Kehutanan No.25:1-19. Fahutan UGM. Yogyakarta.
Hartono. 1998. Prospek industri rotan dan saran yang diperlukan.
Makalah pada workshop tentang deregulasi rotan. Asmindo.
Jakarta.
Indrawati, L. 1992. Struktur anatomi beberapa jenis rotan. Skripsi S1.
Jurusan Teknologi Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut
Pertanian Bogor. Bogor. Tidak di Tebitkan.

51

Jasni. 1996. Struktur anatomi batang dan kandungan kimia rotan serta
pencegahan serangan bubuk Dinoderus minitus Fabr. Pada
beberapa jenis rotan. Tesis S2. Program Studi Biologi. Program
Pasca Sarjana. Universitas Indonesia. Depok. Tidak Ditebitkan.
Jasni, A. Basukriadi dan P. Kramadibrata. 1997. Anatomi dan kandungan
kimia batang beberapa jenis rotan. Jurnal Ilmiah Biodiversitas
Indonesia 1 (1): 37-47. FMIPA Universitas Indonesia. Depok.
Tidak diterbitkan.
Jasni, A. Basukriadi, dan P. Kramadibrata. 1998. Pencegahan serangan
bubuk Dinoderus minutus Fabr. Pada beberapa jenis rotan.
Diskusi hasil hutan bukan kayu. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan.
Bogor.
Jasni, dan N. Supriana, 1999. The resistence of eight rattan species
against the powder post beetle Dinoderus minutus Fabr.
Proceeding of Fourth Internatoinal Conference of Wood
Science, Wood technology and Forestry. Missenden Abbey.
14 t h -16 t h Juli. Forest Product Research Centre.
Bungkinghamshire Chilters University College High Wycome,
England. pp : 157-162.
Jasni, D. Martono dan N. Supriana, 2000. Sari hasil penelitian rotan.
Himpunan Sari Hasil Penelitian Rotan dan Bambu. Puslitbang
Hasil Hutan, Bogor.
Jasni, O. Rachman, Krisdianto, T. Kalima, N. Hadjib, Suhariyanto, dan J.
Mogea. 2006. Konsep Atlas Rotan. Puslitbang Hasil Hutan .
Laporan Proyek. Tidak diterbitkan.
Kalima, T. 1996. Flora rotan di pulau jawa serta kerapatan dan
persebaran populasi rotan di tiga wilayah kawasan taman
nasional Gunung Halimun Jawa Barat. Tesis S2 Program Studi
Biologi Program Pasca Sarjana. Universitas Indonesia. Depok.
Tidak diterbitkan.
Kramadibrata, P. dan J. Dransfield. 1992. Calamus inops (Palmae:
Calamoideae) and its relative. Kew Bulletin. 47(4):581-593.
Nasa, I. M. 1989. Studi Perbandingan Beberapa Sifat Fisik, Mekanik dan
Kimia antara Rotan Bubuay (Plectocomia eongata BI.) dengan
Rotan Manau (Calamus manan Miq.). skirpsi S1. Jurusan
Teknologi Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor.
Rachman, O. 1996. Peranan Sifat Anatomi Kimia dan Fisis terhadap
Mutu Rekayasa Rotan. Disertasi Doktor. Program Pasca sarjana
IPB. Bogor.

52

Rachman, dan Jasni. 2006. Rotan Sumberdaya, Sifat dan


Pemanfaatannya. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan. 132 hal.
Rachman, Jasni, dan Krisdianto. 2006. Teknologi Pelengkungan dan
Peningkatan Kemampuan Radius Lengkung Untuk Efesiensi
Industri Pengolahan Rotan. Sub judul : Peningkatan
Kemampuan radius lengkung rotan sebagai bahan baku mebel.
Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Hasil Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan kehutanan.
Bogor. Tidak diterbitkan.
Siripatanadilok, S. 1974. Anatomical Investigation of Javanese Rattan
Cane as a guide to their Identification. Biotrop Tropical Forest
Research. Bogor.
Wiener, G. and W. Liese. 1990. Rattan stem anatomy and taxonomic
implication. IAWA Bulletin : 11 (1):61-70.
Wiener, G. 1993. Generic Identification key to rattan palms based and
stain anatomical character. IAWA. Journal. 14(1): 55-61.
Winarno, F. G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.

53

GLOSARI
Anyaman rotan: hasil anyaman dengan bahan baku kulit atau hati
rotan yang dapat dibentuk lebih lanjut untuk meningkatkan
manfaat dan nilai tambah.
Alfaselulosa: Bilangan yang menunjukan kemurnian kandungan
selulosa
Bahan baku mebel rotan: bahan baku mebel yang terdiri dari rotan
asalan, W&S, rotan bulat pendek, rotan kikis buku, rotan bulat
kupasan, rotan belahan hati, kulit rotan dan anyaman rotan.
Batang (cane): Bagian dari tumbuhan rotan yang tidak termasuk akar,
daun dan buah yang menjadi bahan baku industri rotan
Berat jenis: merupakan perbandingan berat dan volume rotan dalam
keadaan kering udara.
Biji: unit pembiakan yang dibentuk dari bakal biji yang telah dibuahi,
tersusun atas kulit, endosperma dan embrio.
Braktea: modifikasi daun yang tumbuh untuk melindungi pertumbuhan
perbungaan atau perbuahan
Buah: bakal buah yang masak yang menyatu dengan organ-organ yang
bunga
Bunga: bagian tumbuh-tumbuhan yang akan jadi buah.
Buku: suatu garis melintang di batang atau cabang tempat munculnya
daun atau cabang.
Filtrit: hasil proses pembelahan rotan sehingga menghasilkan rotan
yang berdiameter lebih kecil, yaitu berkisar antara 2-5 mm
Flagelum: organ panjat pada rotan yang mempunyai asal yang sama
dikembangkan dari suatu perbungaan, tumbuh pada pelepah
daun, dan hanya terdapat pada marga Calamus.
Hati (core): hasil proses pembelahan rotan yang menghasilkan rotan
berdiameter di atas 5 mm
Hapasantik: tumbuhan yang batang individualnya berbunga sekali dan
kemudian mati.
Hermaprodit: bunga yang memiliki organ jantan dan betina.
Holoselulosa: merupakan selulosa yang mempunyai molekul gula
linear berantai panjang dan berfungsi memberikan kekuatan tarik
pada batang yang disebabkan karena adanya ikatan kovalen yang
kuat dalam cincin piranosa dan antar unit gula penyusun selulosa.

54

Indumentum: buku yang biasa terdapat pada permukaan pelepah,


rakis dan daun.
Ikatan pembuluh: sel-sel metaxylem, phloem, protoxylem, sel-sel
serabut dan parenkim aksial yang membentuk suatu ikatan yang
terletak menyebar diantara jaringan parenkim dasar.
Kadar air : merupakan kandungan air yang terdapat pada bahan rotan.
Keranjang: hasil anyaman jalinan bahan baku rotan bulat W&S, rotan
bulat pendek, rotan kikis buku, rotan bulat kupas, kulit rotan atau
hati rotan yang ditandai dengan aneka bentuk kerajinan bermotif
bulat.
Kucir: organ panjat dari rotan yang berkembang dari perpanjangan
rakis.
Lanset: bentuk anak daun yang ujung dan pangkalnya lancip dengan
perbandingan panjang dan lebar tengah daun 3 : 1
Lignin: Polimer kompleks dari unit fenilpropana dengan berat molekul
tinggi yang berfungsi memberikan kekakuan pada batang rotan.
Lutut: suatu pembengkakan pelepah daun pada pangkal tangkai.
Mebel: hasil pengerjaan dari beberapa bentuk bahan baku yang sudah
dirakit menjadi suatu produk barang jadi.
Metaxylem: xylem yang berdiameter besar sebagai elemen anatomi
yang berfungsi sebagai saluran air dan zat hara dari akar ke daun.
Modulus elastisitas/Modulus of Elasticity/MOE: perbandingan
antara tegangan dan regangan yang berlaku sepanjang garis
elastis.
Modulus patah/Keteguhan lentur statis maksimum/Modulus of
Rupture/MOR: tegangan pada batas maksimum.
Okrea: perpanjangan pelepah daun yang melampaui pangkal tangkai.
Pati: homopolimer glukosa dengan ikatan alfa glikosidik
Pinak (anak) daun: lembar daun majemuk.
Phloem: elemen anatomi yang berfungsi sebagai saluran hasil
fotosintesis dari tajuk ke bagian-bagian lain dari tanaman.
Protoxylem: xylem berdiameter kecil yang berbentuk spiral sebagai
saluran air dan zat hara dari akar ke daun.
Perawakan: bentuk dari keseluruhan pohon atau tumbuhan
Sel serabut: elemen anatomi batang sebagai komponen struktural
yang memberikan kekuatan pada rotan, yang ditandai oleh
dinding sel yang lebih tebal.

55

Selulosa: molekul gula linier berantai panjang dalam golongan


holoselulosa yang berfungsi untuk memberikan kekuatan tarik
dan lentur batang. Kemurnian selulosa alami ditunjukkan oleh
prosentase alfaselulosa.
Semai: anakan tumbuhan rotan yang berasal dari biji yang masih
tumbuh dalam bedengan
Sifat anatomi: sifat batang suatu jenis rotan yang diidentifikasi secara
anatomi.
Sifat fisis mekanis: sifat batang suatu jenis rotan yang ditentukan
berdasarkan kondisi fisik dan keteguhannya.
Sifat kimia: sifat yang didasarkan atas kandungan kimia yang terdapat
pada batang suatu jenis rotan yang dianalisa secara kimia.
Silika: zat kaca yang sangat keras pada batang rotan yang diperoleh
setelah rotan diabukan.
Rakis: sumbu tempat tumbuh anak-anak daun dan cabang perbungaan.
Rotan: tumbuhan palem memanjat yang termasuk anak suku
Calamoideae.
Ruas: bagian dari batang yang dibatasi oleh dua buku.
Termamah: karakter morfologi endosperma yang mirip biji pinang sirih
(Areca catechu) yang disayat melintang
Tumbuh bercabang: rotan tumbuh bercabang setelah panjang batang
mencapai lebih dari 5 m
Tumbuh berumpun: rotan tumbuh berkelompok karena mempunyai
tunas pada pangkal batang.
Tumbuh tunggal: rotan tumbuh tunggal, tidak mempunyai tunastunas pada batang.
Tunas: cabang atau ranting tumbuhan yang muda.

56

INDEKS NAMA ROTAN


INDEKS NAMA LOKAL ROTAN
Batang merah - Daemonorops robusta Warburg
Batang putih - Calamus zollingeri Beccari
Batang susu - Daemonorops robusta Warburg
Borongan - Calamus ornatus Blume
Bubuai - Plectocomia elongata Martuis ex Blume
Halawaku malibat - Calamus zollingeri Beccari
Howe balubuk - Calamus burckianus Beccari
Howe bubuai - Plectocomia elongata Blume
Howe sampang - Korthalsia junghuhnii Blume
Howe seuti - Calamus ornatus Blume
Limuran - Calamus ornatus Blume
Menjalin warak - Plectocomia elongata Martuis ex Blume
Minong - Calamus ornatus Blume
Munou - Calamus ornatus Blume
Noko - Daemonorops robusta Warburg
Owe menceng - Korthalsia junghuhnii Blume
Penjalin bakul - Calamus burckianus Beccari
Rimoran - Calamus ornatus Blume
Rotan air - Calamus zollingeri Beccari
Rotan batang - Calamus zollingeri Beccari
Rotan buku dalam - Calamus ornatus Blume
Rotan bulu rusa - Daemonorops robusta Warburg
Rotan dok - Calamus ornatus Blume
Rotan kesup - Calamus ornatus Blume
Rotan kesur - Calamus ornatus Blume
Rotan lambang - Calamus ornatus Blume
Rotan manau - Calamus manan Miquel
Rotan manau tikus Calamus tumidus Furtado
Rotan manau telur - Calamus manan Miquel
Rotan manau buku hitam - Calamus tumidus Furtado
Rotan mantang - Plectocomia elongata Martuis ex Blume
Rotan semambu - Calamus scipionum Loureiro
Rotan sepet - Calamus burckianus Beccari

10
14
10
42
22
14
10
22
35
42
42
22
42
42
10
35
10
42
14
14
42
10
42
42
42
42
26
32
26
32
22
39
10

57

Rotan seuti - Calamus ornatus Blume


Rotan tohiti - Calamus inops Beccari
Sambutan - Calamus inops Beccari
Semambu - Calamus scipionum Loureiro
Sek batang - Calamus ornatus Blume
Umul - Calamus zollingeri Beccari
Waai chaang - Calamus ornatus Blum
Waai maithao - Calamus scipionum Loureiro
We maliang - Calamus ornatus Blume

47
52
52
42
47
15
47
42
47

INDEKS NAMA BOTANI ROTAN


Calamus burckianus Beccari
Calamus inops Beccari
Calamus manan Miquel
Calamus ornatus Blume
Calamus scipionum Loureiro
Calamus tumidus Furtado
Calamus zollingeri Beccari
Daemonorops robusta Warburg
Korthalsia junghuhnii Blume
Plectocomia elongata Martius ex Blume

58

10
47
26
42
39
32
14
10
35
22