Vous êtes sur la page 1sur 5

Kelompok maria mustika dewanti

Aspek hukum penyalahgunaan formalin


A. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 tahun 2012
tentang bahan tambahan pangan. Pasal 1, dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Bahan Tambahan Pangan yang selanjutnya disingkat BTP adalah
bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi
sifat atau bentuk pangan.
2. Asupan Harian yang Dapat Diterima atau Acceptable Daily Intake yang selanjutnya
disingkat ADI adalah jumlah maksimum bahan tambahan pangan dalam miligram per
kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi setiap hari selama hidup tanpa
menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan.
3. Asupan maksimum harian yang dapat ditoleransi atau Maximum Tolerable Daily
Intake yang selanjutnya disingkat MTDI adalah jumlah maksimum suatu zat dalam
milligram per kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi dalam sehari tanpa
menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan.
4. Asupan mingguan sementara yang dapat ditoleransi atau Provisional Tolerable
Weekly Intake yang selanjutnya disingkat PTWI adalah jumlah maksimum sementara
suatu zat dalam miligram per kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi dalam
seminggu tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan.
5. Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
kesehatan.
6. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan yang selanjutnya disebut Kepala Badan
adalah Kepala Badan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengawasan obat
dan makanan.
7. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal pada Kementerian Kesehatan yang tugas
dan tanggung jawabnya di bidang Pembinaan kefarmasian dan alat kesehatan.

B. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 tahun 2012,
Pasal 2, BTP yang digunakan dalam pangan harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
1. BTP tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung dan/atau tidak
diperlakukan sebagai bahan baku pangan.
2. BTP dapat mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang sengaja
ditambahkan ke dalam pangan untuk tujuan teknologis pada pembuatan,
pengolahan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan dan/atau
pengangkutan pangan untuk menghasilkan atau diharapkan menghasilkan
suatu komponen atau mempengaruhi sifat pangan tersebut, baik secara
langsung atau tidak langsung.
3. BTP tidak termasuk cemaran atau bahan yang ditambahkan ke dalam pangan
untuk mempertahankan atau meningkatkan nilai gizi.
C. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 tahun 2012,
Pasal 8, bahan tambahan makanan yang dilarang:
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19

Nama Bahan
Asam borat dan senyawanya (Boric acid)
Asam salisilat dan garamnya (Salicylic acid and its salt)
Dietilpirokarbonat (Diethylpyrocarbonate, DEPC)
Dulsin (Dulcin)
Formalin (Formaldehyde)
Kalium bromat (Potassium bromate)
Kalium klorat (Potassium chlorate)
Kloramfenikol (Chloramphenicol)
Minyak nabati yang dibrominasi (Brominated vegetable oils)
Nitrofurazon (Nitrofurazone)
Dulkamara (Dulcamara)
Kokain (Cocaine)
Nitrobenzen (Nitrobenzene)
Sinamil antranilat (Cinnamyl anthranilate)
Dihidrosafrol (Dihydrosafrole)
Biji tonka (Tonka bean)
Minyak kalamus (Calamus oil)
Minyak tansi (Tansy oil)
Minyak sasafras (Sasafras oil)

D. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 tahun 2012,
Pasal 4, bahan tambahan makanan yang diizinkan:
Pengawet (Preservative)
Pengawet (Preservative) adalah bahan tambahan pangan untuk mencegah atau menghambat
fermentasi, pengasaman, penguraian, dan perusakan lainnya terhadap pangan yang
disebabkan oleh mikroorganisme.
No.
1

Jenis BTP Pengawet (Preservative)


Asam sorbat dan garamnya (Sorbic acid and its salts):
Asam sorbat (Sorbic acid)
Natrium sorbat (Sodium sorbate)
Kalium sorbat (Potassium sorbate)
Kalsium sorbat (Calcium sorbate)
Asam benzoat dan garamnya (Benzoic acid and its

salts):
Asam benzoat (Benzoic acid)
Natrium benzoat (Sodium benzoate)
Kalium benzoat (Potassium benzoate)
Kalsium benzoat (Calcium benzoate )
Etil para-hidroksibenzoat (Ethyl para-

210
211
212
213
214

hydroxybenzoate)
Metil para-hidroksibenzoat (Methyl para

218

6
7
8
9

hydroxybenzoate)
Sulfit (Sulphites):
Belerang dioksida (Sulphur dioxide)
Natrium sulfit (Sodium sulphite )
Natrium bisulfit (Sodium bisulphate)
Natrium metabisulfit (Sodium metabisulphite)
Kalium metabisulfit (Potassium metabisulphite)
Kalium sulfit (Potassium sulphite)
Kalsium bisulfit (Calcium bisulphite)
Kalium bisulfit (Potassium bisulphite)
Nisin (Nisin)
Nitrit (Nitrites):
Kalium nitrit (Potassium nitrite)
Natrium nitrit (Sodium nitrite)
Nitrat (Nitrates):
Natrium nitrat (Sodium nitrate)
Kalium nitrat (Potassium nitrate)
Asam propionat dan garamnya (Propionic acid and its
salts):
Asam propionat (Propionic acid)
Natrium propionate (Sodium propionate)
Kalsium propionate (Calcium propionate)

INS
200
201
202
203

220
221
222
223
224
225
227
228
234
249
250
251
252

280
281
282
3

10

Kalium propionate (Potassium propionate)


Lisozim hidroklorida (Lysozyme hydrochloride)

283
1105

E. Menurut Undang-Undang No. 8 Tahun 1999, pasal 60,61,62 dan 63, tentang sanksi
administratif dan sanksi pidana:
Pasal 60:
1. Badan penyelesaian sengketa konsumen berwenang menjatuhkan sanksi
administratif terhadap pelaku usaha yang melanggar Pasal 19 ayat (2) dan ayat
(3), Pasal 20, Pasal 25, dan Pasal 26.
2. Sanksi administratif berupa penetapan ganti rugi paling banyak Rp
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
3. Tata cara penetapan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (I)
diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang- undangan.
Pasal 61:
Penuntutan. pidana dapat dilakukan terhadap pelaku usaha dan/atau pengurusnya.
pasal 62:
1. Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
8, Pasal 9,Pasal 10, Pasal 13 ayat (2), Pasa! 15, Pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf
b, huruf c, huruf e, ayat (2), dan Pasal 18 dipidana dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp
2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
2. Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
11,Pasal 12, Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal 16, dan Pasal 17 ayat (1) huruf d
dan huruf f dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau
pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
3. Terhadap pelanggaran yang mengakibatkan luka berat, sakit berat, cacat tetap
atau kematian diberlakukan ketentuan pidana yang berlaku
Pasal 63:
Terhadap sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62, dapat dijatuhkan
hukuman tambahan,berupa:
a) perampasan barang tertentu;
b) pengumuman keputusan hakim;
c) pembayaran ganti rugi;

d) perintah

penghenlian

kegiatan

tertentu

yang

menyebabkan

timbulnya kerugian konsumen;


e) kewajiban penarikan barang dari peredaran; atau
f) pencabutan izin usaha.