Vous êtes sur la page 1sur 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tingginya kasus kesakitan dan kematian ibu di banyak Negara
berkembang terutama disebabkan oleh perdarahan persalinan, eklamsia,
sepsis, dan komplikasi keguguran. Sebagian besar penyebab utama
kesakitan dan kematian ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui
upaya pencegahan yang efektif. Asuhan kesehatan ibu selama dua dasawarsa
terakhir terfokus kepada : keluarga berencana untuk lebih mensejahterakan
anggota

masyarakat.

Asuhan

neonatal

trfokus

untuk

memantau

perkembangan kehamilan mengenai gejala dan tanda bahaya, menyediakan


persalinan dan kesediaan menghadapi komplikasi. Asuhan pasca keguguran
untuk penatalaksaan gawat darurat keguguran dan komplikasinya serta
tanggap terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya.
Persalinan yang bersih dan aman serta pencegahan kajian dan bukti
ilmiah menunjukan bahwa asuhan persalinan bersih, aman dan tepat waktu
merupakan salah satu upaya efektif untuk mencegah kesakitan dan
kematian. Penatalaksanaan komplikasi yang terjadi sebelum, selama dan
setelah persalinan. Dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian
ibu

perlu

diantisipasi

adanya

keterbatasan

kemampuan

untuk

menatalaksanakan komplikasi pada jenjang pelayanan tertentu. Kompetensi


petugas, pengenalan jenis komplikasi dan ketersediaan sarana pertolongan
menjadi penentu bagi keberhasilan penatalaksanaan komplikasi yang
umumnya akan selalu berada menurut derajat keadaan dan tempat
terjadinya.
Persalinan saat ini menjadi momok yang ditakutkan dikalangan ibu,
khususnya ibu hamil. Tidak sedikit ibu dan bayinya mengalami
kegawatdaruratan dan sampai pada akhirnya tak dapat terselamatkan yang
pada akhirnya menyebabkan meningkatnya angak kematian ibu dan anak.
Akan tetapi hal tersebut dapat diminimalisir dengan asuhan persalinan.

Asuhan persalinan kala I, II, III, dan IV memegang kendali penting


pada ibu selama persalinan karena dapat membantu ibu dalam
mempermudah proses persalinan, membuat ibu lebih yakin untuk menjalani
proses persalinan serta untuk mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi
selama persalinan dan ketidaknormalan dalam proses persalinan. Untuk itu
kami bermaksud membuat makalah ini dengan tujuan menyelesaikan tugas
Asuhan Kebidanan 2 dan dapat membantu para ibu dalam mempersiapkan
proses persalinan yang lebih baik.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat
dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut :
1. Apa pengertian persalinan?
2. Bagaimana cara pencegahan banyaknya angka kematian ibu ataupun
anak saat proses persalinan?
3. Langkah-langkah apa sajakah yang dlakukan agar proses persalinan bias
berjalan dengan baik, dan aman?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini,
sebagai berikut :
1. Mendukung ibu, pasangan dan keluarga selama persalinan dan
2.
3.
4.
5.

periodenya.
Member reaksi terhadap kebutuhan ibu, pasangan dan keluarga.
Mencegah, mendeteksi dan menangani komplikasi dengan tepat.
Mengantisipasi masalah potensial.
Menjelaskan secara umum mengenai faktor yang mempengaruhi
persalinan.

1.4 Manfaat
Dalam makalah ini diharapkan adanya manfaat yang dapat diperoleh,
sebagai berikut :
1. Sebagai bahan bacaan.
2. Merupakan stimulant bagi mereka yang berminat dalam memepelajari
persalinan.
3. Sebagai sarana belajar bagi pembaca.
4. Sebagai bahan bacaan khususnya dalam profesi kebidanan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Persalinan


1. Pengertian
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan
plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan

melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa
bantuan (kekuatan sendiri). Proses ini di mulai dengan adanya kontrasi
persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara
progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta.
Kelahiran bayi merupakan pristiwa penting bagi kehidupan seorang
pasien dan keluarganya. Sangat pentng untuk diingat bahwa persalinan
adalah proses yang normal dan merupakan kejadian yang sehat. Namun
demikian, potensi terjadinya komplikasi yang mengancam nyawa selalu
ada sehingga bidan harus mengamati dengan ketat pasien dan bayi
sepanjang proses melahirkan. Dukungan yang terus menerus an
penatalaksanaan yang trampil ari bidan dapat menyumbangkan suatu
pengalaman melahirkan yang menyenagkan dengan hasil persalinan
yang sehat dan memuaskan. (APN Revisi tahun 2010)
2. Sebab-sebab terjadinya persalinan
Sebab sebab terjadinya persalinan masih merupakan teori yang
komplek. Perubahan perubahan dalam biokimia dan biofisika telah
banyak mengungkapkan mulai dari berlangsungnya partus antara lain
penurunan kadar hormon progesteron dan estrogen. Progesteron
merupakan penenang bagi otot otot uterus. Menurunnya kadar hormon
ini terjadi 1 2 minggu sebelum persalinan. Kadar prostaglandin
meningkat menimbulkan kontraksi myometrium. Keadaan uterus yang
membesar dan menjadi tegang mengakibatkan iskemia otot otot uterus
yang

mengganggu sirkulasi

berdegenerasi.

Tekanan

uterus

pada

plasenta

ganglion

sehingga

servikale

dari

plasenta
fleksus

frankenhauser di belakang serviks menyebabkan uterus berkontraksi.


3. Mekanisme persalinan
Kepemimpinan, ada aturan main, ada hukumnya, ada tatakramanya
dan

ada

waktu

untuk

memimpin,

semua

ini

disebut kepemimpinanpersalinanKeseluruhan 58 standar dan langkah


asuhan persalinan normal yang mempunyai arti, maksud dan tujuan, dan
harus dikuasai seorang bidan tersebut adalah
1. Mendengar dan Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.

2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk


mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai
2 ml ke dalam wadah partus set.
3. Memakai celemek plastik.
4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn
sabun & air mengalir.
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan
digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi
dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set.
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan
gerakan vulva ke perineum.
8. Melakukan pemeriksaan dalam pastikan pembukaan sudah lengkap
dan selaput ketuban sudah pecah.
9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan
klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai
pastikan DJJ dalam batas normal (120 160 x/menit).
11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik,
meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa
ingin meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk
meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk
dan pastikan ia merasa nyaman.
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang
kuat untuk meneran.
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi
nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam
60 menit.
15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu,
jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 6 cm.
16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu
17. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan
alat dan bahan
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 6 cm,
memasang handuk bersih untuk menderingkan janin pada perut ibu.
20. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar
secara spontan.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara
biparental. Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi.
Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu
depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas
dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk
menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan
tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah
atas.
24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung
kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai
bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin)
25. Melakukan penilaian selintas : Apakah bayi menangis kuat dan atau
bernapas tanpa kesulitan? Dan Apakah bayi bergerak aktif
26. Mengeringkan tubuh bayi nulai dari muka, kepala dan bagian tubuh
lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti
handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi
atas perut ibu.
27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi
dalam uterus.
28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus
berkontraksi baik.
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit
IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan
aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kirakira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal
(ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.

31. Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi
perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem
tersebut.
32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi
kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya
dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di
kepala bayi.
34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari
vulva
35. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas
simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
36. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan
kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah
doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 40 detik, hentikan
penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi
berikutnya dan mengulangi prosedur.
37. Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta
terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat
dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti
poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).
38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta
dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta
dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu
pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.
39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri
dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian
palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba
keras)
40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan
kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput
ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik
yang tersedia.

41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum.


Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi
perdarahan pervaginam.
43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu
paling sedikit 1 jam.
44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes
mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di
paha kiri anterolateral.
45. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi
Hepatitis B di paha kanan anterolateral.
46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan
pervaginam.
47. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan
menilai kontraksi.
48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit
selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama
jam kedua pasca persalinan.
50. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas
dengan baik.
51. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin
0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan
setelah di dekontaminasi.
52. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang
sesuai.
53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan
sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai
pakaian bersih dan kering.
54. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk
membantu apabila ibu ingin minum.
55. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
56. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5%
melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya
dalam larutan klorin 0,5%
57. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
58. Melengkapi partograf.

4. Teori-Teori Mengenai Proses Terjadinya Persalinan


Penyebab terjadinya persalinan belum diketahui

dengan

pasti,sehingga timbul beberapa teori yang menyatakan kemungkinan


proses persalinan. Menurut manuaba (1998), pengertian persalinan
adalahsebagaiberikut.
1. Teori Penurunan Hormon
Beberapa hari sebelum partus terjadi penurunan kadar hormon
estrogen dan progesteron. Sehingga otot rahim sensitif terhadap
oksitosin. Penurunan kadar progestron pda tingkat tertentu
menyebabkan otot rahim molai kontraksi.
2. Teori Kerengangan
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu.
Apabila batas tersebut telah terlewati, maka akan terjadi kontraksi,
sehingga persalinan dapat dimulai.
3. Teori Plasenta Menjadi Tua
Plasenta yang semmakin tua sering dengan bertambahnya usia
kehamilan akan mmenyebabkan turunya kadar estrogen dan
progesteron, sehingga pembuluh darah mengalami kekejangan dan
timbul kontraksi rahim.
4. Teori Iritasi Mekanik
Di belakan seviks terletak

ganglion

servikale/fleksus

Fran

Kenhauser. Bila ganglion ini digeser dan ditekan atau tertekan


kepada janin, maka akan timbul kontraksi rahim.
5. Teori Oksitosin Interna
Menurutnya kosentrasi progesteron akibat tuanya kehamilan
mengakibatkan aktivitas oksitosin meningkat dan kontraksi braxton
hicks sering terjadi, sehingga persalian dapat dimulai.
6. Teori Prostaglanndin
Prostaglanndinn yang dikeluarkan oleh decidua konssentrasinya
meninggkat sejak usia kehamilan 15 minggu. Prostaglandin
dianggap

sebagai

pemicu

terjadinya

persalinan,

pemberian

prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot hamil.


Persalinan normal adalah proses lahirnya janin dengan tenaga ibu
sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang

10

pada

umumnya

berlangsung

kurang

dari

24

jam.

Persalinan normal menurut Farer (2001) adalah persalinan yang


memiliki karakteristik berikut ini.
a. Terjadi pada kehamilan aterm, bukan prmatur atau pun postmrur.
b. Mempunyai onset yang spontan, bukan karena induksi.
c. Selesai setelah 4 jam dan sebelum 24 jam sejak saat onset,
bukan partus presipitatus ataupun partus lama.
d. Janing tunggal dengan presentasi puncak kepala dan oksiput ada
bagian anterior pelvis.
e. Terlaksana tampa bantuan artifial.
f. Tidak terdapatkomplikasi.
g. Mencakup kelahiran plasenta yang normal.
5. Tanda-tanda Gejala Persalinan
a. Tanda dan gejala permualaan persalinan menurut mochtar (1994).
Sebelum terjdi persalinan yang sebenarnya, beberapa seminggu
sebelum wanita memasuki hari perkiraan kelahiran yang di sebut
kala pendahuluan (preparatori stage of labor) dengan tanda sbb.
b. Lightening atau settling atau dropping, yaitu kepala turun memasuki
pintu atas panggul..pada primigravida terjadi menjelang minggu ke36. Lightenig disebabkan oleh:
Kontraksi braxton hicks.
Ketegangan dinding perut;
Ketegangan ligamentum rotumdum;
Gaya berat janin.
c. Saat kepala masuk pintu atas panggul, ibu akan merasakan rasa
sesat pada perut bagian atas berkurang dan pada bagian bawah
terasa sesak.

6. Sebab-sebab Mulainya Persalinan


Beberapa teori yang dikemukakan ialah:
1. Penurunan Kadar Progesteron
Proses penurunan fungsi plasenta terjadi mulai usia kehamilan 28
minggu, dimana terjadinya penimbunan jaringan ikat sehingga
pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu. Produksi

11

progesteron menurun sehingga otot rahim menjadi sensitif terhadap


oksitosin.
2. Teori Oxytocin
Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofise posterior. Perubahan
hormon estrogen dan progesteron dapat mengubah sensitivitas otot
rahim sehingga terjadi his
3. Keregangan Otot- Otot
Otot rahim mempunyai kemampuan untuk merenggang dalam batas
tertentu, setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga
persalinan dapat dimulai.
4. Pengaruh Janin
Kehamilan dengan Aensephalus sering terjadi keterlambatan
persalinan

karena

tidak

terbentuk

hipotalamus

(Teori

ini

dikemukakan oleh Linggin 1973). Dari berbagai percobaan maka


dapat disimpulkan ada hubungan antara hipotalamus-pituitari dengan
mulainya persalinan.
5. Teori Prostaglandin
Prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15 minggu.
Prostaglandin dihasilkan oleh desidua, dapat menimbulkan kontraksi
otot rahim sehingga hasil konsepsi di keluarkan. Pemberian oksitosin
pada kehamilan dapat menimbulkan his

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Persalinan


2.2.1 Passage (Jalan Lahir)
Tulang panggul terdiri dari :
Tulang panggul dibentuk oleh gabungan illium, iskium, pubis, dan
tulang- tulang sacrum. Terdapat empat sendi panggul, yaitu simfisis pubis,
sendi sakroiliaka kiri dan kanan dan sakrokoksiges.
Tulang panggul dipisahkan oleh pintu atas panggul menjadi dua
bagian: panggul palsu dan panggul sejati. Panggul palsu adalah bagian
diatas pintu atas panggul dan tidak berkaitan dengan persalinan. Panggul

12

sejati di bagi menjadi tiga bidang: pintu atas atau permukaan atas, panggul
tengah atau rongga panggul, dan pintu bawah panggul.
Bagian anterior pintu atas panggul yakni batas atas panggul dibentuk
oleh tepi atas tulang pubis; bagian lateralnya dibentuk oleh dibentuk oleh
linea illiopektinea, yakni sepanjang jalan inominata dan bagian
posteriornya dibentuk oleh bagian anterior tepi atas sakrum dan
promontorium sakrum.
Rongga panggul tengah merupakan saluran lengkung yang memiliki
dinding anterior pendek dan dinding posterior yang jauh lebih cembung
dan panjang. Rongga panggul melekat pada bagian posterior simfisis
pubis, iscium sebagian illium sakrum, dan koksigum.
Pintu bawah panggul adalah batas bawah panggul sejati, dilihat
dari bawah berbentuk lonjong, dibagian anterior dibatasi lengkung pubis,
dibagian lateral oleh tuberositas iskium,dan dibagian posterior oleh ujung
koksigum, pada kehamilan tahap akhir, koksigem dapat bergerak (kecuali
jika struktur itu patah, misalnya akibat jatuh dan telah menyatu dengan
sakrum ketika sedang penyembuhan.
Pada ketinggian yang berbeda, bentuk dan saluran ukuran panggul
juga berbeda, diameter bidang pintu atas, panggul tengah, pintu bawah dan
sumbu jalan lahir menentukan mungkin tidaknya persalinan pervaginam
berlangsung dan bagai mana janin dapat menuruni jalan lahir (pergerakan
kardinal mekanisme persalinan).
Empat jenis panggul dasar dikelompokan sebagai berikut:
1. ginekoid (tiple wanita klasik)
2. android (mirip panggul pria)
3. antropoid (mirip panggul kera)
4. platipeloid (panggul pipih)
Panggul ginekoid adalah bentuk yang paling yang paling sering ditemui,
bentuk panggul ginekoid dimiliki oleh 50 % wanita.
Bidang-Bidang Hodge :
Hodge I

: Setinggi Promontorium ke Pinggir Atas Simfisis Pubis

Hodge II

: Sejajar Hodge I setinggi Pinggir Bawah Simfisis Pubis

Hodge III

: Sejajar Hodge I dan II setinggi Spina Isisadika

13

Hodge IV

: Sejajar Hodge I, II dan III setinggi Ujung Os Cocygis

2.3 Asuhan Persalinan Kala I, II, III, dan IV


2.3.1 Kala I (kala Pembukaan)
Permulaan persalinan ditandai dengan keluarnya lendir bercampur
darah karena serviks mulai mendatar dan membuka. Kala pembuka dibagi
menjadi du fase (mochtar, 1994).
a. Fase laten: pembukaan serviks berlangsung lambbat, sampai
pembukaan 3 cm yang berlangsung dalam tujuh sampai delapan jam.
b. Fase aktif: berlangsung selanma enam jam yang dibagi atas tiga
subvase, antara lain.
c. periode akselerasi, pembukaan menjadi 4 cm yang berllangsung selam
dua jam.
d. periode dilatasi maksimal, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan
menjadi 9 cm.
e. periode deselerasi, yaitu pembukaan berlansung llambat kembali
dalam waktu dua jam pembukaan dari 9 cm mencapai lengkap 10 cm.
Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung selama 12 jam
sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Bardasarkan kurva Friedman
diperhitungkan pembukaan primigravida adalah 1 cm tiap jam dan
untuk multigravida 2 cm tiap jam. Dengan perhitungan tersebut, maka
2.3.2

waktu pembuaan lengkkap dapat diperkirakan.


Kala II (kala Pengeluaran)
Menurut mochtar (1994), pada kala pengeluaran janin, his

terkoordinir, kuat, interval 2-3 menit dengan durasi 50 sampai 100 detik.
Pada akhir kala I ketuban akan pecah disertai pengeluaran cairan mendada,
kepala janin turun masuk ruang panggul, sehingga terjadi tekanan pada otot
dasar panggul yang akan menimbulkan keinginan untuk mengejan. Oleh
karena tertekannya fleksus Franken Hauser, ibu merasa seperti ingin buang
air besar karena adanya tekanan pada rektum. Tanda-tanda kala II (Farrer,
2001) antara lain:
a. pemeriksaan vaginal serviks sudah dilatasi penuh.
b. Selaput amnion biasanya sudah pecah.

14

c. His atau kontraksi uterus yang berlangsung panjang kuat, dan tidak
begitu sering bukan 2-3 menit lagi, melainkan sekitar 3-5 menit sekali.
d. Mungkin terdapat tetesan darah dari vagina.
e. Ibu mengalami desakan kuat untuk mengejan.
f. Sfingter ani terlihat berlilatasi.
g. Perineum tampak menonjol.
2.3.3 Kala III (Pelepasan Uri)
Setelah kala II, kontraksi uterus berhenti sekitar 5 sampai 10 menit.
Lepasnya plasenta secara Schultze yang biasanya tidak ada perarahan
sebelum plasenta lahir dan banyak mengeluarkan darah setelah plasenta
lahir. Sedangkan pengeluaran plasenta cara Duncan yaitu plasenta lepas
dari pinggir, biasanya darah mengalir keluar antara selaput ketuan (Mochtar
1994). Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan dengan memerhatikan
tanda-tanda:
a. uterus menjadi bundar;
b. fundus uterus mengalami kontraksi kuat;
c. uterus terdorong ke atas karena plasenta lepass ke segmen
bawah rahim;
d. tali pusat bertambah panjang;
e. terjadi perdarah
2.3.4 Kala IV (Observasi)
Kala IV dimaksudkan untuk observasi pendarahan postpartun.
Paling sering terjadi pendarhan pad dua jam pertama, yang perlu
diobservasi adalah:
a.
b.
c.
d.

Tingkat kesadaran;
Tanda tanda vital;
Kontrasi uterus;
Terjadinya pendarahan pendarahan dikatakan normal jika jumlahnya
tidak lebih dari 500 ml.

KONSEP DASAR KELAINAN PRESENTASI DAN POSISI

15

PENGERTIAN
Kelainan posisi merupakan posisi abnormal ubun-ubun kecil sebagai penanda
terhadap panggul ibu. Kelainan presentasi adalah semua presentasi lain dari janin
selain presentasi belakankepala.Janin dalam keadaan malpresentasi dan malposisi
sering menyebabkan partus lama/partus macet.
ETIOLOGI
1.

2.

Faktor maternal dan faktor uterus


Panggul sempit
Perut ibu yang pendulans
Neoplasma
Kelainan uterus
Kelainan letak dan besarnya placenta
Faktor janin
Bayi yang besar
Kesalahan dalam polaritas janin
Putaran paksi dalam yang abnormal
Sikap janin: tidak fleksi tetapi extensi
Kehamilan ganda
Kelainan janin
Hydramnion
PENGARUH PENGARUH
Pengaruh terhadap persalinan
Adaptasi bagian terendah janin dengan servix dan panggul yang kurang simetris
merupakan salah satu faktoryang mempengaruhi persalinan.
1. Insidendisporporsi fetopelvik lebih tinggi
2. Kerja terus yang kurang efisien adalah biasa. Kontraksinya cenderung
lemah dan tidak teratur.

16

3. Sering terjadi partus lama


4. Dapat terjadi cincin retraksi patologis, dan dapat berakhir dengan ruptura
segmen bawah rahim.
5. Sering kali membukanya servix perlahan-lahan dan tidak lengkap.
6. Bagian terendah tetap tinggi
7. Sering terjadi ketuban pecah awal
8. Kebutuhan akan tindakan operatif lebih tinggi
Pengaruh terhadap Ibu
1. Oleh karena diperlukan kerja otot uterus dan perut yang lebih besar,dan
oleh karena persalinan seringkali berjalan lama sehingga kurang istirahat
dan makan minum, maka biasa terjadi ibu kelelahan dan kehabisan
tenaga.
2. Perinium dan jaringan lunak lebih teregang, sehingga lebih banyak terjadi
robekan.
3. Perdarahan lebih banyak, berasal dari:
1. Robekan uterus, servik dan vagina
2. Tempat perlekatan plasenta; ibu yang kehabisan tenaga menyebabkan
atonia uteri.
3. Ketuban pecah awal
4. Perdarahan banyak
5. Kerusakan jaringan
6. Pemeriksaan vaginal dan rectal yang lebih sering
4. Insidensi infeksi lebih tinggi. Ini disebabkan oleh:
5. Penderitaan pasien tidak sebanding dengan kekuatan kontraksi uterus
merasakan nyeri setelah uterus relaksasi.
6. Paresis usus dan vesica urinaria menambah penderitaan pasien.
Pengaruh pada bayi
1. Janin tidak sempurna menyesuaikan diri dengan panggul sehingga lebih
sulit melewati panggul dan menyebabkan molage yang lebih berlebihan .

17

2. Persalinan yang lama berpengaruh lebih berat untuk janin, mengakibatkan


insidensi anoxia, kerusakan otak, asphyxia, dan kematian intrauterine
yang lebih tinggi.
3. Insidensi tindakan operatif yang yang juga lebih tinggi memperbesar
bahaya trauma pada bayi.
4. Tali pusat menumbung lebih sering terjadi dibanding pada kedudukan
normal.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka
3.

kami dapat menyimpulkan tentang materi yang dibahas, sebagai berikut :


Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta)
yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan
lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan
(kekuatan sendiri). Proses ini di mulai dengan adanya kontrasi
persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks secara

4.

progresif dan diakhiri dengan kelahiran plasenta.


Dalam melakukan pencegahan banyaknya angka kematian ibu ataupun
anak saat proses persalinan, perlu dilakukan asuhan persalinan kala I, II,
III, dan IV sebagai berikut :

18

a. Kala I, tahap pembukaanin partu (partus mulai) ditandai dengan


lendir bercampur darah, karena serviks mulai membuka dan
mendatar.
b. Kala II , pada kala pengeluaran janin, rasa mulas terkordinir, kuat,
cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit sekali.
c. Kala III, pada kala ini terjadi pengeluaran plasenta setelah
pengeluaran janin.
d. Kala IV, tahap ini digunakan untuk melakukan pengawasan terhadap
bahaya perdarahan. Pengawasan ini dilakukan selam kurang lebih
dua jam.

3.1 Saran
Selain menarik kesimpulan di atas, kami juga memeberikan saran
sebagai berikut :
1. Adanya makalah ini diharapkan pembaca agar mempelajari isi dari
makalah tersebut.
2. Agar lebih meningkatkan wawasan dan pengetahuan mengenai asuhan
persalinan yang terbagi atas empat kala.
3. Sebaiknya pembaca mencari buku ataupun mencari di internet mengenai
asuhan persalinan agar lebih memehami asuhan persalinan.

19

DAFTAR PUSTAKA
Aa-aamas. 2011. Online. http://aa-aamas.blogspot.com/2011/03/makalahasuhan- persalinan.html. Akses 12 11 2012.
Anakamak. 2010. Online. http://anakamak07.blogspot.com/2010/07/bab-ipendahuluan-i.html. Akses 21 11 2012.
Bencoolen, Rafless. 2011.
Online.http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com/2011/04/asuhanpersalinan-kala-iv.html. Akses 21 11 2012.
Midwifery, Lheys. 2011. Online. http://lheyzuthary.blogspot.com/2011/04/asuhanpersalinan-kala-iii.html. Akses 12 11 2012.
Reza Muhamad Pahlevi. 2012.
Online.http://muhamadrezapahlevi.blogspot.com/2012/05/konsep-dasarpersalinan.html. Akses 21 11 2012.