Vous êtes sur la page 1sur 3

Kelompok 7

Abdul Muiz Maulana 115020301111014


Fandy Rahmadya

125020300111023

Muhammad Ridwan 145020307111069

Hasil Riset tentang Parkir di Kota Malang


Retribusi parkir dan pajak parkir diatur dalam perda nomor 3 tahun 2015 memiliki
peranan penting untuk menambah pendapatan kota Malang, yang secara langsung berdampak
pada pembangunan Kota Malang. Dalam kurun waktu terakhir ini di Kota Malang terjadi
permasalahan yang menarik perhatian masyarakat kota malang tentang problematika jasa
parkir Kota Malang. Awal mula permasalahan adalah banyaknya parkir liar, pelayanan jukir
yang kurang baik, dan isu pengakuan wilayah kekuasaan lahan parkir oleh oknum tertentu di
Kota Malang. Disamping permasalahan tersebut muncul isu baru yang timbul bahwa hasil
retribusi parkir terjadi penguapan atau terjadi praktek-praktek KKN yang dilakukan oleh
Dinas, sehingga muncul wacana memperbaiki problematika tersebut melalui pelaksanaan EParkir (Elektronik Parkir) atau sistem parkir berlangganan agar tidak ada penguapan
pendapatan retribusi parkir. Wacana tersebut pada intinya setiap titik parkir di kota Malang
dijaga oleh 2 orang dan pembayaran parkir menggunakan token, sehingga retribusi parkir
akan langsung masuk ke kas daerah.
Menanggapi isu tersebut, kami berhasil mewancarai seorang juru parkir di wilayah
Dinoyo Tanah Agung Square (Ditas). Juru parkir tersebut biasa dipanggil Cak Ko sudah
berprofesi jadi juru parkir di Ditas sekitar 2,5 tahun sejak wilayah tersebut dibangun. Ditas
merupakan tempat yang berisi rumah kos-kosan, berbagai macam warung makan, cafe dan
juga berbagai toko yang cukup besar dan selalu ramai pengunjung setiap harinya dengan
kendaraan bermotor. Di wilayah tersebut juga selalu ramai pengunjung baik siang maupun
malam, sehingga parkir berlaku 24 jam di wilayah tersebut dan penjagaan parkir juga
dilakukan pembagian jam kerja. Menurut Cak Ko, juru parkir di wilayah terebut telah
membentuk paguyuban dengan nama Paguyuban Mandiri Makmur yang beranggotakan 14
orang dalam 4 titik wilayah Dinoyo dan anggota tersebut merupakan warga yang berdomisili
di sekitar Dinoyo dan Ketawanggede. Cak Ko sendiri sebelumnya berprofesi serabutan dan
mayoritas anggotanya juga berprofesi tukang dan kuli bangunan, jika dibandingkan sebagai
jukir penghasilannya lebih baik dari profesi sebelumnya. Dia juga mengakui bahwa lahan

parkir memang ada pemegangnya bahkan ada negosiasi jual beli lahan dengan kelompok lain,
dan juga tak jarang terjadi pertikaian perebutan lahan.
Besaran tarif parkir sebelum perda tahun 2015 berlaku tarif Rp. 1000 untuk motor dan
Rp. 2000 untuk mobil, kemudian diberlakukan Perda Nomor 3 tahun 2015 tarif parkir di Kota
Malang sebesar Rp.2000 untuk motor dan Rp3.000 untuk mobil hal tersebut juga tercantum
dalam karcis parkir yang ditunjukkan Cak Ko kepada kami. Tetapi kami lihat saat dia
melakukan penarikan parkir tidak menggunakan karcis tersebut, disini kami rasa bisa terjadi
kecurangan karena tidak ada bukti transaksi dalam penarikan parkir dan bagaimana cara
mereka nantinya memberikan setoran pada Dinas Perhubungan tanpa adanya karcis yang
terpakai. Untuk setoran dari wilayah tersebut ke Dinas Perhubungan Kota Malang sebesar
Rp. 750.000 per bulan. Tarif retribusi parkir tersebut disesuaikan dengan tingkat keramaian di
tiap-tiap wilayah, sehingga setiap wilayah yang menjadi lahan parkir wajib memberikan
setoran sesuai dengan ketentuan yang berlaku di wilayah masing-masing, dan setiap harinya
ada setoran ke RT/RW wilayah tersebut sekitar Rp. 5.000-10.000 per hari. Sisa dari setoransetoran tersebut akan ditabung dan nantinya akan dibagikan rata ke setiap anggota.
Terkait isu sistem parkir berlangganan yang pembayaran parkir dilakukan secara
elektronik, menurut Cak Ko Saya tahu wacana tersebut beberapa waktu lalu dan sampai
sekarang belum ada kabar lebih lanjut. Ya semoga wacana tersebut nggak diberlakukan mas,
gimana nasib kami nanti?. Memang wacana tersebut ketika berlaku dapat meningkatkan
retribusi parkir pada pendapatan daerah di Kota Malang, tapi secara tidak langsung dapat
menghentikan profesi mereka sebagai juru parkir yang merupakan sumber penghasilan utama
dan juga semua anggota mereka adalah warga asli kota Malang. Sebaiknya wacana tersebut
dikaji lebih dalam, dan mempertimbangkan bagaimana nasib para juru parkir.
Diluar permasalahan carut marutnya jasa parkir di Kota Malang, perlu digaris bawahi
bahwa jasa parkir menyerap tenaga kerja yang cukup banyak di setiap wilayah. Memang
banyak dilakukan kecurangan oleh berbagai oknum baik dari Dinas maupun juru parkir,
tetapi perlu dikaji ulang dan secara mendalam tentang wacana sistem parkir berlangganan.
Secara tidak sadar akan menimbulkan permasalahan baru yang menimbulkan meningkatnya
angka pengangguran di Kota Malang, karena di lapangan dalam satu titik wilayah parkir
bukan hanya dikelola oleh 2 jukir, melainkan dikelolah oleh lebih dari 10 jukir tergantung
besar kecilnya titik parkir, karena dengan meningkatnya angka pengangguran juga akan
dibarengi dengan angka kriminalitas.

Kesimpulannya adalah Pemerintah harus jeli dalam mengkaji permasalahan ini,


terkait tarif parkir sebaiknya diturunkan kembali karena dengan kenaikan tersebut memang
memberatkan perekonomian masyarakat. Dan juga tentang isu sistem parkir berlangganan,
lebih baik pemerintah mengkaji ulang sistem parkir yang berjalan saat ini. Dimulai dari
penentuan wilayah umum yang bebas parkir dan wilayah yang wajib kena parkir, sehingga
masyarakat mengetahui bila ada parkir liar dan dapat dilaporkan. Dalam penarikan parkir,
juru parkir harus menggunakan karcis yang berlaku dan nanti ketika melakukan setoran ke
Dinas harus beserta karcis yang telah terpakai biar jelas berapa pendapatan yang memang
diterima. Setiap anggota parkir harus terdaftar dalam Dinas Perhubungan, dan ditentukan gaji
pokoknya sesuai dengan wilayah masing-masing anggota sehingga dapat mencegah tingkat
kecurangan juru parkir. Perlu adanya pengawasan yang intens baik dari pemerintah maupun
masyarakat terhadap juru parkir dan oknum Dinas yang berpeluang melakukan kecurangan.