Vous êtes sur la page 1sur 17

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR DISLOKASI THORAKAL


CT

OLEH :
Nor Amali Hidayatni
NPM. 1514901310

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN TAHAP PROFESI NERS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
TAHUN AKADEMIK 2016/2017

CI

1. ANATOMI FISIOLOGI
A. Anatomi
Tulang adalah jaringan yang kuat dan tangguh yang memberi bentuk pada tubuh.
Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan melindungi
organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul. Tulang membentuk rangka
penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang
menggerakan kerangka tubuh. Tulang juga merupakan tempat primer untuk
menyimpan dan mengatur kalsium dan fosfat (Price dan Wilson, 2006). Berikut
adalah gambar anatomi tulang manusia :

Gambar 1: Anatomi Tulang


Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk
melekatnya otot- otot yang menggerakan kerangka tubuh. Tulang juga merupakan
tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan fhosfat. Tulang rangka
orang dewasa terdiri atas 206 tulang. Tulang adalah jaringan hidup yang akan
suplai syaraf dan darah. Tulang banyak mengandung bahan kristalin anorganik
(terutama garam- garam kalsium ) yang membuat tulang keras dan kaku., tetapi
sepertiga dari bahan tersebut adalah fibrosa yang membuatnya kuat dan elastis
(Price dan Wilson, 2006).
Toraks merupakan rangka yang menutupi dada dan melindungi organ-organ
penting di dalamnya. Secara umum toraks tersusun atas klavikula, skapula,
sternum, dan tulang-tulang kostal.

1) Skapula merupakan tulang yang terletak di sebelah posterior, dan berartikulasi


dengan klavikula melalui akromion. Selain itu, skapula juga berhubungan
dengan humerus melalui fossa glenoid.
2) Klavikula merupakan tulang yang berartikulasi dengan skapula melalui
akromion, dan di ujungnya yang lain berartikulasi dengan manubrium sternum.
3) Sternum merupakan suatu tulang yang memanjang, dari atas ke bawah,
tersusun atas manubrium, korpus sternum, dan prosesus xyphoideus.
Manubrium berartikulasi dengan klavikula , kostal pertama, dan korpus
sternum. Sedangkan korpus stenum merupakan tempat berartikulasinya
kartilago kostal ke-2 hingga kostal ke-12.
4) Tulang-tulang kostal merupakan tulang yang berartikulasi dengan vertebra
segmen torakal di posterior, dan di anterior berartikulasi dengan manubrium
dan korpus sternum. Ada 12 tulang kostal; 7 kostal pertama disebut kostal
sejati (karena masing-masing secara terpisah di bagian anterior berartikulasi
dengan manubrium dan korpus sternum), 3 kostal kedua disebut kostal palsu
(karena di bagian anterior ketiganya melekat dengan kostal ke-7), dan 2 kostal
terakhir disebut kostal melayang (karena di bagian anterior keduanya tidak
berartikulasi sama sekali) (Davis Company; 2007).

B. Fisiologi
Sistem musculoskeletal adalah penunjang bentuk tubuh dan peran dalam pergerakan.
Sistem terdiri dari tulang sendi, rangka, tendon, ligament, bursa, dan jaringan-jaringan
khusus yang menghubungkan struktur tersebut (Price dan Wilson, 2006). Tulang adalah
suatu jaringan dinamis yang tersusun dari tiga jenis sel antara lain : osteoblast, osteosit

dan osteoklas. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe 1 dan
proteoglikan sebagai matriks tulang dan jaringan osteoid melalui suatu proses yang di
sebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid , osteoblas
mengsekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peran penting dalam
mengendapkan kalsium dan fosfat kedalam matriks tulang, sebagian fosfatase alkali
memasuki aliran darah dengan demikian maka kadar fosfatase alkali di dalam darah
dapat menjadi indikator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah
mengalami patah tulang atau pada kasus metastasis kanker ke tulang. Ostesit adalah selsel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi
melalui tulang yang padat. Osteklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang
memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat di absorbsi. Tidak seperti osteblas dan
osteosit, osteklas mengikis tulang. Sel-sel ini menghsilkan enzim-enzim proteolotik
yang memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang,
sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah. Secara umum fungsi tulang
menurut Price dan Wilson (2006) antara lain:
1) Sebagai Kerangka Tubuh
Tulang sebagai kerangka yang menyokong dan memberi bentuk tubuh.
2) Proteksi
Sistem musculoskeletal melindungi organ- organ penting, misalnya otak dilindungi
oleh tulang-tulang tengkorak, jantung dan paru-paru terdapat pada rongga dada
(cavum thorax) yang di bentuk oleh tulang-tulang kostae (iga).
3) Ambulasi dan Mobilisasi
Adanya tulang dan otot memungkinkan terjadinya pergerakan tubuh dan
perpindahan tempat, tulang memberikan suatu system pengungkit yang di gerakan
oleh otot- otot yang melekat pada tulang tersebut ; sebagai suatu system pengungkit
yang digerakan oleh kerja otot- otot yang melekat padanya.
4) Deposit Mineral
Sebagai reservoir kalsium, fosfor,natrium,dan elemen- elemen lain. Tulang
mengandung 99% kalsium dan 90% fosfor tubuh.
5) Hemopoesis
Berperan dalam bentuk sel darah pada red marrow. Untuk menghasilkan sel- sel
darah merah dan putih dan trombosit dalam sumsum merah tulang tertentu
2. DEFINISI
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik
(Price dan Wilson, 2006).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan di tentukan sesuai jenis dan
luasnya, fraktur terjadi jika tulang di kenai stress yang lebih besar dari yang dapat
diabsorbsinya (Smeltzer dan Bare, 2002).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, kebanyakan fraktur akibat dari
trauma, beberapa fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis, yang
menyebabkan fraktur yang patologis (Mansjoer, 2002).

Fraktur vertebra torakal adalah patah tulang yang terjadi pada bagian tulang
belakang torakal yang biasanya disebabkan oleh kecelakaan kecepatan tinggi, seperti
kecelakaan mobil atau jatuh dari ketinggian.
3. ETIOLOGI
Cedera biasanya disebabkan oleh trauma energi tinggi , seperti :
a. kecelakaan mobil
b. Jatuh dari ketinggian
c. kecelakaan Olahraga
d. Tindak kekerasan , seperti luka tembak
Patah tulang belakang tidak selalu disebabkan oleh trauma . Misalnya, orang dengan
osteoporosis , tumor , atau kondisi yang mendasari lainnya, yang menyebabkan tulang
bisa patah saat melakukan aktifitas sehari-hari.
4. FRAKTUR MENURUT MEKANISMEN CEDERA
A. Fraktur kompresi (Wedge fractures) adanya kompresi pada bagian depan corpus
vertebralis yang tertekan dan membentuk patahan irisan. Fraktur kompresi adalah
fraktur tersering yang mempengaruhi kolumna vertebra. Fraktur ini dapat
disebabkan oleh kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan posisi terduduk ataupun
mendapat pukulan di kepala, osteoporosis dan adanya metastase kanker dari tempat
lain ke vertebra kemudian membuat bagian vertebra tersebut menjadi lemah dan
akhirnya mudah mengalami fraktur kompresi.
Vertebra dengan fraktur kompresi akan menjadi lebih pendek ukurannya daripada
ukuran vertebra sebenarnya.
B. Fraktur remuk (Burst fractures) fraktur yang terjadi ketika ada penekanan corpus
mvertebralis secara langsung, dan tulang menjadi hancur. Fragmen tulang
berpotensi masuk ke kanalis spinais. Terminologi fraktur ini adalah menyebarnya
tepi korpus vertebralis kearah luar yang disebabkan adanya kecelakaan yang lebih
berat dibanding fraktur kompresi. tepi tulang yang menyebar atau melebar itu akan
memudahkan medulla spinalis untuk cedera dan ada fragmen tulang yang mengarah
ke medulla spinalis dan dapat menekan medulla spinalis dan menyebabkan paralisi
atau gangguan syaraf parsial. Tipe burst fracture sering terjadi pada thoraco lumbar
junction dan terjadi paralysis pada kaki dan gangguan defekasi ataupun miksi.
Diagnosis burst fracture ditegakkan dengan x-rays dan CT scan untuk mengetahui
letak fraktur dan menentukan apakah fraktur tersebut merupakan fraktur kompresi,
burst fracture atau fraktur dislokasi. Biasanya dengan scan MRI fraktur ini akan
lebih jelas mengevaluasi trauma jaringan lunak, kerusakan ligamen dan adanya
perdarahan.
C. Fraktur dislokasi terjadi ketika ada segmen vertebra berpindah dari tempatnya
karena kompresi, rotasi atau tekanan. Ketiga kolumna mengalami kerusakan

sehingga sangat tidak stabil, cedera ini sangat berbahaya. Terapi tergantung apakah
ada atau tidaknya korda atau akar syaraf yang rusak.
Kerusakan akan terjadi pada ketiga bagian kolumna vertebralis dengan kombinasi
mekanisme kecelakaan yang terjadi yaitu adanya kompresi, penekanan, rotasi dan
proses pengelupasan. Pengelupasan komponen akan terjadi dari posterior ke anterior
dengan kerusakan parah pada ligamentum posterior, fraktur lamina, penekanan
sendi facet dan akhirnya kompresi korpus vertebra anterior. Namun dapat juga
terjadi dari bagian anterior ke posterior. kolumna vertebralis. Pada mekanisme rotasi
akan terjadi fraktur pada prosesus transversus dan bagian bawah costa. Fraktur akan
melewati lamina dan seringnya akan menyebabkan dural tears

dan keluarnya

serabut syaraf.

D. Cedera pisau lipat (Seat belt fractures) sering terjadi pada kecelakaan mobil
dengan kekuatan tinggi dan tiba-tiba mengerem sehingga membuat vertebrae dalam
keadaan fleksi, dislokasi fraktur sering terjadi pada thoracolumbar junction.
Kombinasi fleksi dan distraksi dapat menyebabkan tulang belakang pertengahan
menbetuk pisau lipat dengan poros yang bertumpu pada bagian kolumna anterior
vertebralis. Pada cedera sabuk pengaman, tubuh penderita terlempar kedepan
melawan tahanan tali pengikat. Korpus vertebra kemungkinan dapat hancur
selanjutnya kolumna posterior dan media akan rusak sehingga fraktur ini termasuk
jenis fraktur tidak stabil

Tipe fraktur

Bagian yang terkena

Stable vs Unstable

Wedge fractures

Hanya Anterior

Stable

Burst fractures

Anterior dan middle

Unstable

Fracture/dislocation injuries

Seat belt fractures

Anterior,

middle,

posterior
Anterior,
posterior

middle,

Unstable

Unstable

5. PATOFISIOLOGI
Fraktur Torakal dapat disebabkan oleh trauma langsung pada toraks yang menyebabkan
fraktur kompresi akibat keruntuhan tulang belakang. Fraktur kompresi dan frakturdislokasi biasanya stabil. Akan tetapi, kanalis spinalis pada segmen thoraks relatif
sempit sehingga kerusakan korda sering ditemukan dengan manifestasi neurologis.

Pada trauma langsung dengan energi yang hebat terjadi fraktur kompresi pada daerah
thorakal. Pada trauma tidak langsung, fraktur kompresi thorakal dapat terjadinya apaila
energi yang diterimanya melebihi batas toleransi dan kelenturan costae. Seperti pada
kasus kecelakaan dimana dada terhimpit dari depan dan belakang, maka akan terjadi
fraktur pada sebelah depan angulus costa, dimana pada tempat tersebut merupakan
bagian yang paling lemah.
Fraktur kompresi thorakolumbal yang displace akan dapat mencederai jaringan
sekitarnya atau bahkan organ dibawahnya. Fraktur pada costa ke 4-9 dapat mencederai
intercostalis, pleura visceralis, paru maupun jantung, sehingga dapat mengakibatkan
timbulnya hematotoraks, pneumotoraks ataupun laserasi jantung.

6. MANIFESTASI KLINIK
a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi
b. Deformitas adalah pergeseran fragmen pada fraktur
c. Terjadi pemendekan tulang akibat kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah
tempat fraktur
d. Krepitus adalah derik tulang yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan yang lainnya
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma
dan perubahan yang mengikuti fraktur. (Smeltzer, S, 2001)

7. PENATALAKSANAAN
Pertolongan pertama dan penanganan darurat trauma spinal terdiri atas:
penilaian kesadaran, jalan nafas, sirkulasi, pernafasan, kemungkinan adanya
perdarahan dan segera mengirim penderita ke unit trauma spinal ( jika ada).
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan klinik secara teliti meliputi pemeriksaan
neurology fungsi motorik, sensorik dan reflek untuk mengetahui kemungkinan
adanya fraktur pada vertebra.2 Terapi pada fraktur vertebra diawali dengan mengatasi
nyeri dan stabilisasi untuk mencegah kerusakan yang lebih parah lagi. semuanya
tergantung dengan tipe fraktur
a. Braces & Orthotics ada tiga hal yang dilakukan yakni, mempertahankan
kesegarisan vertebra (aligment), 2 imobilisasi vertebra dalam masa penyembuhan,
3 mengatsi rasa nyeri yang dirasakan dengan membatasi pergerakan. Fraktur yang
sifatnya stabil membutuhkan stabilisasi, sebagai contoh; brace rigid collar (Miami
J) untuk fraktur cervical, cervical-thoracic brace (Minerva) untuk fraktur pada
punggung bagian atas,

thoracolumbar-sacral orthosis (TLSO) untuk fraktur

punggung bagian bawah, dalam waktu 8 sampai 12 minggu brace akan terputus,
umumnya fraktur pada leher yang sifatnya tidak stabil ataupun mengalami dislokas
memerlukan traksi, halo ring dan vest brace untuk mengembalikan kesegarisan
b. Pemasanagan alat dan prosoes penyatuan (fusion). Teknik ini adalah teknik
pembedahan yang dipakai untuk fraktur tidak stabil. Fusion

adalah proses

penggabungan dua vertebra dengan adanya bone graft dibantu dengan alat-alat
seperti plat, rods, hooks dan pedicle screws. Hasil dari bone graft adalah penyatuan
vertebra dibagian atas dan bawah dari bagian yang disambung. Penyatuan ini
memerlukan waktu beberapa bulan atau lebih lama lagi untuk menghasilkan
penyatuan yang solid.
c. Vertebroplasty & Kyphoplasty, tindakan ini adalah prosedur invasi yang minimal.
Pada prinsipnya teknik ini digunakan pada fraktur kompresi yag disebabkan
osteoporosis dan tumor vertebra. Pada vertebroplasti bone cement diinjeksikan
melalui lubang jarung menuju corpus vertebra sedangkan pada kypoplasti, sebuah
balon dimasukkanan dikembungkan untuk melebarkan vertebra yang terkompresi
sebelum celah tersebut diisi dengan bone cement .
Pengelolaan penderita dengan paralisis meliputi
a. Pengelolaan kandung kemih dengan pemberian cairan yang cukup, kateterisasi
dan evakuasi kandung kemih dalam 2 minggu

b. Pengelolaan saluran pencernaan dengan pemberian laksansia setiap dua hari


c. Monitoring cairan masuk dan cairan yang keluar dari tubuh
d. Nutirsi dengan diet tinggi protein secara intravena
e. Cegah dekubitus
f. Fisioterapi untuk mencegah kontraktur

8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Foto Rontgen, yang memperlihatkan adanya perubahan degeneratif pada tulang
belakang, atau tulang intervetebralis atau mengesampingkan kecurigaan patologis
lain seperti tumor, osteomielitis.
2) Elektromiografi, untuk melokalisasi lesi pada tingkat akar syaraf spinal utama yang
terkena.
3) Venogram Epidural, yang dapat dilakukan di mana keakuratan dan miogram
terbatas.
4) Fungsi Lumbal, yang dapat mengkesampingkan kondisi yang berhubungan, infeksi
adanya darah.
5) CT - Scan yang dapat menunjukkan kanal spinal yang mengecil, adanya protrusi
discus intervetebralis.
6) MRI, termasuk pemeriksaan non invasif yang dapat menunjukkan adanya
perubahan tulang dan jaringan lunak dan dapat memperkuat adanya herniasi discus.
7) Mielogram, hasilnya mungkin normal atau memperlihatkan penyempitan dari
ruang discus, menentukan lokasi dan ukuran herniasi secara spesifik.
9. KOMPLIKASI
1) Infeksi
2) Syok hipovolemik atau traumatic
3) Sindrom emboli lemak
4) Sindrom kompartemen
5) Koagulasi intravaskuler diseminata (KID)
(Smeltzer, S, 2001)

10. ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1) Riwayat Penyakit Sekarang
Adanya riwayat trauma yang mengenai tulang belakang akibat kecelakaan lalu
lintas, kecelakaan olahrga, kecelakaan industri, kecelakaan lain, seperti jatuh
dari pohon atau bangunan, luka tusuk, luka tembak. Pengkajian meliputi

hilangnya sensabilitas, paralisis, ileus aralisis, retensi urine, dan hilangnya


refleks.
2) Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian perlu ditanyakan, meliputi adanya penyakit degeneratif dengan
tulang belakang seperti osteoporosis, osteoartritis, spondilitis, spondiolitesis,
stenosis spinal yang memungkinkan terjadinya kelainan tulang belakang.
3) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan patah tulang cruris adalah salah
satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti osteoporosis yang sering
terjadi pada beberapa keturunan dan kanker tulang yang cenderung diturunkan
secara genetik.
4) Pola Kesehatan Fungsional
a) Aktivitas / Istirahat
Keterbatasan gerak/ kehilangan fungsi motorik pada bagian yang terkena
( dapat segera atau sekunder, akibat pembengkakan atau nyeri). Serta
adanya kesulitan dalam istiraha-tidur akibat nyeri.
b) Sirkulasi
Tanda : Hipertensi ( kadang-kadang terlihat respons terhadap nyeri atau
ansietas)

atau

hipotensi

(hipovolemia).

Takikardi

(respons

stress,

hipovolemia. Penurunan atau tak teraba nadi distal, pengisian kapiler lambat,
kulit dan kuku pucat atau sianosis. Pembengkakan jaringan atau massa
hematoma pada sisi cedera.
c) Neurosensori
Gejala: Hilang gerak atau sensasi, spasme otot. Kebas atau kesemutan
(parestesi)
Tanda: Deformitas tulang, angulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi,
spasme otot, kelemahan atau hilang fungsi. Agitasi berhubungan dengan
nyeri, ansietas, trauma lain.
d) Nyeri / Kenyamanan
Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area
jaringan / kerusakan tulang pada imobilisasi ), tidak ada nyeri akibat
kerusakan syaraf .
Spasme / kram otot (setelah imobilisasi)
e) Keamanan
Laserasi kulit, avulse jaringan, pendarahan, perubahan warna
Pembengkakan local (dapat meningkat secara bertahap atau tiba- tiba).
f) Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat karena
klien harus menjalani rawat inap.
g) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul dari klien fraktur adalah timbul ketakutan dan
kecacatan akibat fraktur yang dialaminya, rasa cemas, rasa ketidak
mampuan untuk melakukan aktifitasnya secara normal dan pandangan
terhadap dirinya yang salah.
h) Pola Sensori dan Kognitif

Daya raba pasien fraktur berkurang terutama pada bagian distal fraktur,
sedangkan indra yang lain dan kognitif tidak mengalami gangguan. Selain
itu juga timbul nyeri akibat fraktur.
i) Pola Nilai dan Keyakinan
Klien fraktur tidak dapat beribadah dengan baik, terutama frekuensi dan
konsentrasi dalam ibadah. Hal ini disebabkan oleh nyeri dan keterbatasan
gerak yang di alami klien.
B. Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum: keadaan baik dan buruknya pasien. Tanda-tnda yang perlu
dicatat adalah kesadaran pasien, kesakitan satau keadaan penyakit, tandatanda vital tidak normal karena ada gangguan lokal, baik fungsi maupun
bentuk.
b) B1 (Breathing) : tidak mengalami kelainan
c) B2 (Blood): tidak ada iktus jantung, nadi meningkat, iktus tidak teraba, S1
dan S2 tunggal, tidak ada mur-mur.
d) B3 (Brain): tingkat kesadaran biasanya kompos mentis, status mental tidak
mengalami perubahan.
e) B4 (Bladder): biasanya mengalami inkontinensia urine, reflek kandung
kemih hilang sementara.
f) B5 (Bowel): masalah nyeri pada fraktur kompresi thorakal menyebabkan
pasien kadang-kadang mual-muntah sehingga pemenuhan nutrisi menjadi
berkurang.
g) B6 (Bone): adananya ileus paralitik, hilangnya bising usus, kembung, dan
defekasi tidak ada.
1) Look : adanya perubahan warna kulit, abrasi, memar pada punggung.
Pada pasien yang telah lama dirawat dirumah sering didapatkan adanya
dekubitus di daerah bokong adanya hambatan untuk beraktivitas karena
kelemahan, keilangan sendori, mudah lelah menyebabkan masalah
pada pola aktvitas dan istirahat.
2) Feel : prosesus spinosus dipalpasi untuk mengkaji adanya suatu celah
yang dapat diraba akibat robeknya ligamen posterior yang menandakan
cedera yang tidak stabil. Sering didapatkan adanya nyeri tekan pada
area lesi.
3) Move : gerakan tulang punggung atau spina tidak boleh dikaji.
Disfungsi motorik yang paling umum adalah kelemahan dan
kelumpuhan pada seluruh ekstremitas bawah. Kekuatan otot dinilai
dengan menggunakan derajat kekuatan otot.

11. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1) Hambatan mobilitas fisik b.d ganggun musculoskeletal
NOC:

Menunjukkan

tingkat

mobilitas,

ditandai

dengan

indikator

berikut

(ketergantungan(tidak berpartisipasi), membutuhkan bantuan orang lain dan alat,


membutuhkan bantuan orang lain, mandiri dengan pertolongan alat bantu, atau
mandiri penuh)
Tujuan/Kriteria Hasil:
Pasien akan meminta bantuan untuk aktivitas mobilisasi, jika diperlukan
NIC:
Terapi aktivitas, ambulasi: meningkatkan dan membantu berjalan untuk
mempertahankan atau memperbaiki fungsi tubuh volunter dan autonom selama
perawatan serta pemulihan dari sakit atau cedera
Perubahan posisi : memindahkan pasien atau bagian tubuh untuk memberikan
kenyamanan, menurunkan risiko kerusakan kulit, mendukung integritas kulit, dan
meningkatkan penyembuhan
Aktivitas Keperawatan:
- Ajarkan dan bantu pasien dalam proses perpindahan
Rasional : Dengan mengajarkan hal itu pasien akan meningkat kesembuhannya
- Berikan penguatan positif selama aktivitas
Rasional : Dengan penguatan positif pasien akan lebih mempunyai dorongan
-

untuk beraktivitas
Ajarkan pasien bagaimana menggunakan postur dan mekanika tubuh yang
benar saat melakukan aktivitas
Rasional : Dengan mengajarkan hal itu dapat menambah pengetahuan pasien

tentang perpindahan yang benar


Kaji kebutuhan pasien akan pendidikan kesehatan
Rasional : Dengan pengkajian itu dapat mengetahui kemampuan pasien tentang
kesehatan
Awasi seluruh kegiatan mobilisasi dan bantu pasien, jika diperlukan
Rasional : Agar tidak terjadi cedera pada pasien
Berikan analgesik sebelum memulai aktivitas
Rasional : Mengurangi nyeri yang bisa terjadi selama pasien beraktivitas
Dukung pasien/keluarga untuk memandang keterbatasan dengan realistis
Rasional : Dengan dukungan itu pasien/keluarga akan menerima dengan ikhlas
Letakkan tempat tidur terapeutik yang benar
Rasional : hal yang mendukung mobilisasi pasien
Dukung latihan ROM aktif
Rasional : dengan latihan itu mempercepat kesembuhan pasien khususnya
dalam pergerakan sendi
Ubah posisi pasien yang imobilisasi minimal 2 jam, berdasarkan jadwal
spesifik
Rasional : membuat pasien nyaman dengan perubahan posisi

2) Nyeri akut/kronis b.d agen cidera: fisik


NOC:
- Tingkat kenyamanan perasaan senang secara fisik & psikologis
- Prilaku mengendalikan nyeri
- Nyeri: efek merusak terhadap emosi dan prilaku yang diamati
- Tingkat nyeri: jumlah nyeri yang dilaporkan
Kriteria evaluasi:

Menunjukkan nyeri efek merusak dengan skala 1-5: ekstrim, berat, sedang,

ringan, atau tidak ada


Menunjukkan teknik relaksasi secara individu yang efektif
Mengenali factor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah

nyeri.
NIC:
- Pemberian analgesik
- Sedasi sadar
- Penatalaksanaan nyeri
- Bantuan Analgesika yang Dikendalikan oleh Pasien
Aktivitas keperawatan:
- Minta pasien untuk menilai nyeri/ketidak nyamanan pada skala 0 sampai 10
- Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif
- Observasi isyarat ketidak nyamanan nonverbal
3) Ansietas b.d perubahan dalam: status kesehatan
NOC:
Kontrol Agresi: Kemampuan untuk menahan perilaku kekerasan, kekacauan, atau
perilaku destruktif pada orang lain.
Kontrol Ansietas: Kemampuan untuk menghilangkan atau mengurangi perasaan
khawatir dan tegang dari suatu sumber yang tidak dapat diidentifikasi.
Koping: Tindakan untuk mengatasi stressor yang membebani sumber-sumber
individu.
Kontrol Impuls: Kemampuan untuk menahan diri dari perilaku kompulsif atau
impulsive.
Penahanan Mutilasi Diri: Kemampuan untuk berhenti dari tindakan yang
mengakibatkan cedera diri sendiri (non-letal) yang tidak diperhatikan.
Keterampilan Interaksi Sosial: Penggunaan diri untuk melakukan interaksi yang
efektif.
Tujuan/Kriteria Hasil:
- Ansietas berkurang
- Menunjukkan Kontrol Ansietas
NIC:
Pengurangan Ansietas: Minimalkan kekhawatiran, ketakutan, berprasangka atau
rasa gelisah yang dikaitkan dengan sumber bahaya yang tidak dapat diidentifikasi
dari bahaya yang dapat diantisipasi.
Aktivitas Keperawatan:
- Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien secara berkala
- Menentukan kemampuan pengambilan keputusan pada pasien.
- Aktivitas Kolaboratif: Berikan pengobatan untuk mengurangi ansietas, sesuai
dengan kebutuhan
4) Kurang pengetahuan b.d keterbatasan kognitif
NOC:
Pengetahuan: Pengendalian infeksi : tingkat pemahaman pada apa yang
disampaikan.
Tujuan/Kriterioa Hasil:

Menunjukkan pengetahuan: Pengendalian Infeksi: dibuktikan dengan indicator

1-5: tidak ada, terbatas, cukup, banyak, atau luas.


Mengidentifikasi keperluan untuk penambahan informasi menurut penanganan

yang dianjurkan.
NIC:
Panduan Sistem Kesehatan: memfasilitasi daerah pasien dan penggunaan layanan
kesehatan yang tepat.
Pengajaran, Proses Penyakit: Membantu pasien dalam memahami informasi yang
berhubungan dengan proses timbulnya penyakit secara khusus.
Pengajaran, Individu: Perencanaan, implementasi, dan evaluasi penyusunan
program pengajaran yang dirancang uuntuk kebutuhan khusus pasien.
Aktivitas Keperawatan:
- Tentukan kebutuhan pengajaran pasien
- Lakukan penilaian tingkat pengetahuan pasien dan pahami isinya
- Tentukan kemampuan pasien untuk mempelajari informasi khusus
- Berinteraksi kepada pasien dengan cara yang tidak menghakimi untuk
memfasilitasi pengajaran
5) Intoleran aktivitas b.d imobilitas
NOC:
klien mentoleransikan aktivitas yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan daya
tahan penghimatan energi, dan perawatan diri,
kritria evaluasi:
- mengedentivikasikan aktivitas/situasi yang menimbulkan kecemasan
- mengungkap secara verbal pemahaman tentang kebutuhan oksigen,pengubatan
dan perawatan yang dapat meningkatkan aktivitas
- menampilkan aktivitas kehehidupan sehari-hari(AKS)&beberapa bantuan
NIC:
- Terapi Aktivitas
- Pengelolaan energi
Aktivitas keperawatan:
- Kaji respon,sosial dan spritual terhadap aktivitas
- Tentukan penyebab keletihan
- pantau pola istirahat klien dan lamanya waktu tidur
- Kaloborasikan dengan ahli okupasi,fisik atau rekreasi untuk merencenakan dan
memantau aktivitas,sesuai dengan kebutuhan.
6) Risiko infeksi
NOC:
Status imun: Keadekuatan alami yang didapat dan secara tepat ditujukan untuk
menahan antigen-antigen internal maupun eksternal.
Pengetahuan: Pengendalian Infeksi: tingkat pemahaman mengenai pencegahan dan
pengendalian infeksi.
Pengendalian resiko: tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman
kesehatan akual, pribadi, serta dapat dimodifikasi.
Deteksi Resiko: indakan yang dilakukan untuk mengidentifikasi ancaman
kesehatan seseorang.
Tujuan/Kriteria Evaluasi:

Fakto resiko infeksi akan hilang dengan dibuktikan oleh keadekuatan status

imun pasien.
- Pasien menunjukkan Pengendalian Risiko.
NIC:
Pemberian Imunisasi/Vaksinasi: Pemberian imunisasi untuk mencegah penyakit
menuar.
Pengendalian Infeksi: Meminimalkan penularan agen infeksius.
Perlindungan terhadap Infeksi: Mencegah dan mendeteksi dini infeksi pada pasien
yang berisiko.
Aktivitas Keperawatan:
- Pantau tanda gejala infeksi
- Kaji factor yang meningkatkan serangan infeksi
- Patau hasil laboratorium
- Amati penampilan praktik hygiene pribadi untuk perlindungan terhadap infeksi
- Aktivitas Kolaboratif: Berikan terapi antibiotic, bila diperlukan

DAFTAR PUSTAKA
Herdman, Heather T. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 20092011.Jakarta : EGC. Allih bahasa: Made Sumarwati, Dwi Widiarti, Etsu Tiar.
Wilkinson, M. Judith. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 7. Jakarta :EGC.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta: EGC
Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC

Moore keith, (2002), Essential Clinical Anatomy; Second Edition, lippincot Williams and
Wilkins: Baltimore.
Rasjad Chaeruddin, (2003), Ilmu Bedah Ortopedi, bintang Lamumpatue : Makassar.
Apley graham and Solomon louis, (1995), Ortopedi Fraktur System Apley;edisi ketujuh,
widya medika: Jakarta.