Vous êtes sur la page 1sur 21

MAKALAH

BLOK 20 MODUL ELEKTIF ADVANCED PEDODONSIA


MODUL 2 KURATIF 1
LAPORAN KASUS KURATIF GIGI DEPAN ANAK

Nama Mahasiswa : Siti Nur Azizah


NIM : 1310015109

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2016
1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat
dan hidayah-Nya lah makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga
terselesaikannya makalah ini. Pertama-tama kami ingin mengucapkan terima kasih kepada :
drg.Musnar Munir,Sp.KGA , drg.Tara Mayang Sari,Sp.KGA, drg.Silvia Agustin, dan
drg.Dewi Arsih,M.Med.Kom selaku pembimbing dalam membuat makalah di blok 20 modul
3 tentang Kuratif Gigi Depan Anak.
Kami menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas kuliah di blok 20
modul 3. Dan tentunya kami selaku penyusun juga mengharapkan agar makalah ini dapat
berguna baik bagi penyusun sendiri maupun bagi pembaca di kemudian hari.
Makalah ini sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran serta kritik yang
membangun sangat kami harapkan demi tercapainya kesempurnaan dari isi makalah ini.

Samarinda, Oktober 2016


Hormat kami,

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul..............................................................................................................i
Kata Pengantar.............................................................................................................. ii
Daftar Isi.......................................................................................................................iii
1. Anamnesis.................................................................................................................1
2. Pemeriksaan Fisik.....................................................................................................6
3. Diagnosa Pada Kasus................................................................................................13
4. Rencana Perawatan...................................................................................................14
Daftar Pustaka...............................................................................................................20

LAPORAN KASUS

DESKRIPSI KASUS
Seorang ibu datang ke suatu pelayanan kesehatan gigi ingin memeriksakan gigi
anaknya yang berumur 4 tahun seorang perempuan, ibu menanyakan apa yang dapat
dilakukan untuk gigi depan anaknya yang terlihat tampak digambar. Ibu hanya
mengeluhkan bahwa mulut anaknya bau yang tidak sedap. Ibu ingin merawat gigi
anaknya agar tidak menjadi sakit dan agar gigi anaknya untuk yang akan datang tidak ada
masalah karena anaknya seorang perempuan.
1. Anamnesis
a) Identitas pasien
Nama pasien
: Nn. X
Umur
: 4 tahun
Alamat
: jalan harapan maju no 12
Nama mahasiswa
: Siti Nur Azizah
Semester
: VII
Modul
: 3 (Kuratif 1)
Tahun Ajaran: 2016/2017
Identitas pasien yang perlu di anamnesis adalah (1):
1) Menanyakan nama lengkap, sangat penting menanyakan agar tidak
tertukar dengan orang lain terutama rekam medik, dengan mengetahui
nama sehingga suasana anamnesis lebih akrab.
4

2) Umur anak ditanyakan dengan menanyakan pada ibu/ pengasuh yang


datang. Kecenderungan suatu penyakit gigi dan mulut yang dialami oleh
anak-anak. Misalnya karies rampan.
3) Jenis kelamin dicatat pada rekam medis.
4) Alamat lengkap ditanyakan kepada
mendampingi

anak.

Selain

untuk

orang
identitas

tua/

pengasuh

alamat

juga

yang
dapat

menggambarkan lingkungan dimana pasien tinggal, contohnya pasien


tinggal didaerah perkumuhan dan akses untuk air bersih sangat susah maka
akan menggambarkan oral hygine yang buruk.
b) Keluhan utama
Apakah pasien datang dengan keluhan ? Jika tidak ada keluhan,
mungkin pasien datang untuk pemeriksaan rutin yang dianjurkan. Adalah
penting mengetahui alasan kedatangan pasien, karena berdasarkan alasan ini
diagnosa dapat ditegakkan dan keluhan dapat diatasi (2).
Yang perlu ditanyakan:
1) Apa keluhan yang anak anda alami sehingga anda datang kemari?
2) Ada yang bisa saya bantu?
3) Adik sakit apa?
Jawaban untuk kasus di skenario: ibu mengeluhkan mulut anaknya bau.
c) Riwayat Perjalanan Penyakit
Jika ada keluhan sakit gigi, carilah keterangan tentang lokasi, kapan
dimulai, apakah rasa sakitnya terus menerus atau terputus-putus (jika ya,
berapa lama berlangsung, apakah timbul karena rangsangan panas, dingin,
manis atau sewaktu makan). Apakah anak sampai tidak bisa tidur,
menyebabkan anak gelisah dan menangis terus.
Gejala-gejala sakit gigi memberi indikasi macam kelainan pulpa
misalnya rasa sakit yang terputus-putus dengan jangka waktu pendek yang
disebabkan panas atau dingin diagnosanya pulpitis reversible. Rasa sakit
spontan, berat, membuat anak tidak bisa tidur diagnosanya pulpitis
irreversible. Sedangkan bila disertai pembengkakan kemungkinan sudah abses
akibat gangren pulpa/nekrosis pulpa (1).
Dalam melakukan anamnesis, harus diusahakan mendapatkan datadata sebagai berikut :
-

Apakah pernah merasakan sakit?


Lokasi, rasa sakit, kapan mulai sakit?
Apakah rasa sakitnya terputus-putus atau terus menerus?
Jika rasa sakitnya terputus-putus, berapa lama berlangsungnya?
Apakah rasa sakit ditimbulkan oleh rangsang panas, dingin atau manis atau
sewaktu makan?
5

Apakah rasa sakit menyebabkan anak terbangun di waktu malam?


Sudah berapa kali sakitnya ?
Apakah rasa sakit berkurang/hilang dengan analgesia (penghilang rasa

sakit)
- Apakah ada bengkak?
- Sejak kapan bengkak?
- Dimana letak bengkak ?
d) Riwayat kesehatan oral
Sikap dan harapan orang tua terhadap perawatan gigi sangat berbeda,
rencana perawatan yang diluar yang diluar harapan jangan dilakukan sebelum
menjelaskan dan menimbang keuntungannya. Dapat diantipasi bahwa
beberapa orang tua tidak akan menerima apakah perawatan gigi yang lalu
dilakukan secara teratur atau tidak, apakah pernah mengunjungi dokter gigi
lain. Jika ya mengapa diganti, perlu ditanyakan karena bila anak pernah
mengalami trauma, kemungkinan untuk menumbuhkan rasa percayanya lebih
sulit, sehingga dokter gigi pengganti harus lebih berhati-hati (1).
Riwayat yang harus ditanyaka mencakup hal berikut :
1) Apakah perawatan gigi yang lalu dilakukan teratur atau tidak?
2) Apakah pernah diberikan perawatan gigi di tempat lain? Jika ya, mengapa
orang tua mengganti dokter gigi?
3) Apakah anak pernah mengalami sesuatu dengan perawatan giginya? Jika
ya, perawatan apakah? Misalnya, penambalan, pencabutan, analgesia lokal
dan anastesi umum?
4) Sikap anak terhadap setiap perawatan, misalnya : penambalan, pencabutan,
anastesi lokal dan anastesi umum. Pada anak kecil, pendapat orang tua
cukup relevan.
5) Sikap orang tua terhadap perawatan gigi.
Keterangan perawatan gigi yang lalu menunjukkan sikap orang tua.
Jika anak dibawa ke dokter gigi baru karena tidak bisa kerja sama dengan
dokter gigi yang lama, alasan ini perlu ditelusuri dengan teliti dengan memberi
tahu anak bahwa dokter gigi menarik dan simpatik dan anak pasti akan
mencari jalan untuk mengatasi masalah. Sewaktu menanyai anak tentang
pengalaman analgesia lokal yang lalu, sebaiknya tanyakan apakah gigimu
tidak menggaggu tidurmu ?. Jangan apakah gigimu disuntik?, yang akan
membuat anak takut. Hal serupa juga berlaku untuk anastesi umum (1).
Setiap sikap yang tidak menyenangkan selama perawatan harus
diperhatikan dalam rencana perawatan mendatang. Telusuri setiap bentuk
6

perawatan, dengan mengabaikan sikap anak terhadap perawatan tersebut


menunjukkan kurangnya perhatian pada perasaan anak yang tentunya tidak
sesuai dengan prinsip-prinsip penanganan pasien yang baik. Sikap anak
terhadap perawatan yang lalu dapat diketahui dari reaksinya terhadap
pertanyaan sederhana seperti apakah kamu merasa enak? (1).
e) Data Medik Umum/ Riwayat Medis Umum
Perlu ditanyakan pada orang tua atau pengasuh mengenai riwayat medik
umum pada pasien anak, meliputi:
1) Penyakit jantung
- Apakah anak anda punya penyakit jantung bawaan?
- Apakah jika anak beraktivitas tidak tergamggu?
- Jika anak lari apakah sering merasa kecapean atau tidak?
2) Diabetes(terutama DM Tipe-1)
- Apakah anak anda punya penyakit gula darah keturunan?
- Apakah anak mengalami gejala sering buang air kecil dimalam hari,
sering merasa haus, sering merasa lapar? (poliuria, polidipsi,
poliphaghi)ngejala DM yang bisa dilihat oleh orang tua adalah poliuria
dimana anak akan berulang kali mengompol pada malam hari,dan anak
terlihat dehidrasi.
3) Hemophilia
- Apakah anak anda pernah mengalami perdarahan berlebih setelah

4)
5)

6)
7)
-

terluka?
- Apakah anak sering lebam tanpa diketahui penyebabnya?
Hepatitis
- Apakah anak anda pernah menderita penyakit hepatitis?
- Apakah anak pernah mengalami sakit kuning?
Penyakit lainnya
- Apakah anak anda pernah dirawat dirumah sakit?
- Jika ya, karena penyakit apa anak anda berada dirumah sakiT?
- Apakah anak anda pernah melakukan operasi?
- Apakah anak anda sekarang dalam perawatan dokter?
- Apakah anak anda saat ini sedang meminum obat tertentu?
Alergi terhadap obat
- Apakah anak anda pernah mengalami alergi terhadap suatu obat?
Alergi terhadap makanan
- Apakah anak anda pernah mengalami alergi makanan?
Apakah anak pernah mengalami gatal/ ruam kulit saat memakan
makanan tertentu?
Riwayat penyakit terdahulu merupakan penilaian kesehatan pasien secara
keseluruhan yang bertujuan mengetahui kemungkinan adanya hubungan
antara penyakit yang dulu diderita dengan penyakit sekarang (1).

f) Riwayat kesehatan keluarga


7

Riwayat keluarga memberikan informasi mengenai kesehatan seluruh


keluarga yang hidup atau mati. Harus diberi perhatian khusus terhadap
kemungkinan aspek genetik dan lingkungan dari penyakit yang mungkin
berdampak terhadap pasien. Umur dan kesehatan semua anggota keluarga
dekat harus diketahui. Jika seorang anggota keluarga meninggal dunia, umur
orang tersebut dan penyebab kematian harus dicatat. Penting untuk ditanyakan
bagaimana dampak penyakit seorang anggota keluarga terhadap pasien.
Tanyakan riwayat ini dengan orang tua/ pengasuhnya. Hal yang perlu
ditanyakan (1):
1) Apakah keluarga atau anggota keluarga terdekat anda memiliki penyakit
keturunan?
2) Aapakah keluarga anda ada yang meninggal karena penyakit keterunan
tersebut?
3) Apakah ada keluarga yang mengalami kondisi seperti ini? (jika anak
menunjukkan ciri-ciri mengalami suatu kelainan herediter misalnya down
syndrom, cerebral palsy).
g) Riwayat kehidupan pribadi/sosial
Riwayat sosial mencakup informasi pengalaman hidup dan hubungan
pribadi pasien yang meliputi data-data sosial, ekonomi, pendidikan dan
kebiasaan. Bagian ini mencakup gaya hidup pasien, orang lain yang tinggal
dengan pasien, pekerjaan, dan keluarga. Meskipun penyakit bersifat universal,
pasien dapat memberikan respon yang berbeda terhadap penyakitnya. Suatu
pertanyaan tertentu yang diajukan pasien yang berbeda akan dijawab, dengan
gaya yang dipengaruhi oleh latar belakang etnik, emosi, kebiasaan, umur,
riwayat sosial dan riwayat keluarga pasien. Faktor-faktor ini menentukan cara
pasien menerima dan bereaksi terhadap suatu pertanyaan. Bagian ini
menguraikan pentingnya memahami latar belakang pasien sebagai bantuan
untuk mengadakan komunikasi yang lebih baik. Hal yang perlu ditanyakan
pada orang tua (1):
1) Apakah pekerjaan ibu/ bapak ?
2) Apa pendidikan terakhir ibu/bapak?
3) Ada berapa orang yang tinggal dengan anak dalam satu rumah?
2. Pemeriksaan Fisik
a) Vital sign
1) Pemeriksaan Tekanan Darah (3-6 tahun: 95-110/60-75 mmHg) (3).
2) Pemeriksaan Suhu Tubuh ( normal : 36,5-37,5C) (3).

3) Pemeriksaan Frekuensi Nadi ( bayi 1-3 bulan :120-140 x/menit, bayi 4


bulan-2 tahun : 110-150 x/menit, anak 3-6 tahun: 65-110 x/menit, anakanak 12 tahun : 55-85 x/menit, dewasa : 60-90 x/menit, usia lanjut :60/100
x/menit. Takikardia: Takikardia adalah laju denyut jantung yang lebih
cepat daripada laju normal.Takikardia dapat terjadi antara lain pada
keadaan demam, aktifitas fisik,ansietas, tirotoksikosis, miokarditis, gagal
jantung, dehidrasi atau renjatan. Sewaktu demam, setiap kenaikan suhu
badan

1C

diikuti

oleh

kenaikan

denyut

nadi

sebanyak

15-

20/menit.Bradikardia: Bradikardia adalah frekuensi denyut jantung yang


lebih lambat dari frekuensi normal. Beberapa variannya adalah
bradikardia relatif (pada demam tifoid), bradikardia sinus (pada
olahragawan

terlatih,

sepsis,

tekanan

intracranial

meningkat,

hipotiroidisme, intoksikasi digitalis) dan blok jantung komplet (3).


4) Pemeriksaan Frekuensi Pernafasan ( normal bayi :30-60 x/menit, anakanak: 20-25 x/menit, dewasa : 16-20 x/ menit).
Tabel. Vital Sign (3).

5) Berat badan anak.


6) Tinggi badan anak.
Secara umum tinggi badan seorang anak dapat diamati dengan cepat
sewaktu anak memasuki ruang praktek. Untuk memastikannya dapat
diukur dan membandingkannya dengan tabel yang memuat perbandingan
antara tinggi badan, usia dan berat badan anak. Faktor yang mempengahi
keadaan tinggi, berat badan dalam masa perkembangan adalah herediter,
lingkungan, penyakit sistemik dan gangguan endokrin (3).
Pada skenario tidak terlihat data untuk pemeriksaan vital sign.
b) Ekstraoral
Tidak dapat dilakukan pemeriksaan pada ekstraoral karena tidak dapat terlihat.
Pemeriksaan ekstraoral meliputi kepala/muka, kulit, mata, hidung, bibir, telinga,
muskuloskeletal sistem pengunyahan, kelenjal saliva, kelenjar limfe.
1) Kulit
Adanya perubahan atau kelainan pada kulit di wajah atau tangan dapat
dipakai sebagai petunjuk adanya kelainan atau penyakit. Lesi yang primer
atau sekunder dapat terjadi pada kulit muka, bila terdapat herpes pada bibir
9

atau muka yang disertai rasa sakit dan juga disertai sakit gigi, sebaiknya
perawatan gigi ditunda atau diberi premedikasi dan pasien dirujuk ke
dokter kulit terlebih dulu (1).
2) Mata
Infeksi/abses pada gigi rahang atas dapat menyebar ke mata
menyebabkan pembengkakan atau conjuctivitis pada mata. Bila perawatan
gigi telah selesai dan pembengkakan pada mata belum hilang, sebaiknya
pasien dirujuk ke dokter mata (1).
3) Bibir
Pemeriksaan bibir dilakukan dengan mengamati ukuran, bentuk, warna
dan tekstur permukaan. Dipalpasi dengan ibu jari dan telunjuk. Pada bibir
sering dijumpai abrasi, fisur, ulserasi atau crust. Trauma sering
menyebabkan memar pada bibir, reaksi alergi juga dapat terlihat (1).
4) Wajah
Asimetris wajah dapat terjadi secara fisiologis atau patologis. Secara
fisiologis misalnya kebiasaan tidur bayi terutama yang lahir prematur
sehingga meyebabkan perubahan bentuk wajah yang permanen. Asimetris
wajah patologis dapat disebabkan tekanan abnormal dalam intra uterus,
paralise saraf kranial, fibrous displasia atau gangguan perkembangan
herediter. Selain itu asimetris wajah patologis pada anak anak sering juga
disebabkan karena infeksi atau trauma (1).
Pemeriksaan dan riwayat pembengkakan penting diketahui untuk
menentukan diagnosa dan etiologi. Bila terdapat asimetris wajah tanpa rasa
sakit dan penyebabnya tidak diketahui dengan pasti serta tidak
berhubungan dengan gigi lebih baik merujuk pasien ke dokter anak. Pada
anak sering ditemui selulitis yaitu infeksi pada jaringan lunak yang difus,
disebabkan infeksi pulpa gigi susu/tetap. Selulitis dapat menimbulkan
pembengkakan pada wajah dan leher. Bila disebabkan gigi atas
pembengkakan dapat meluas ke bawah mata dan dalam keadaan akut mata
kelihatan merah (1).
5) Kelenjar limfe/Nodus Limfatik
Nodus limfatik yang normal tidak dapat diraba. Bila suatu nodus
limfatik teraba, berarti kondisi itu abnormal. Sebaiknya nodus limfatik
diperiksa secara ekstraoral dan palpasi yang dilakukan dari arah belakang
pasien. Bagian leher dibiarkan terbuka dengan meminta pasien
melonggarkan bajunya. Leher tidak perlu dipanjangkan, karena otot
sternomastoideus harus dalam posisi relaks. Dengan menggunakan ujung
10

jari, bawa kelenjar kearah struktur yang lebih keras. Submental kepala
sedikit menunduk ke depan, gerakkan nodus kearah bagian dalam tulang
mandibular. Submandibula- sama seperti di atas, hanya kepala pasien
dimiringkan kearah sisi yang akan di periksa (1).
6) Pemeriksaan TMJ
Ukur pembukaan rahang maksimal yang bebas dari rasa sakit
kemudian

ukur

pembukaan

maskimal

yang

dapat

di

lakukan.

Penyimpangan lateral yang terjadi pada saat pembukaan rahang pada


umumnya bergerak kearah daerah yang terlibat (misalnya, daerah yang
terasa sakit). Gunakan palpasi bimanual dengan cara menekan bagian
lateral sendi. Gerakan ini diikuti dengan palpasi intra-aurikular dengan
cara meletakkan jari kelingking ke dalam meatus akustikus eksterna dan
menekanya perlahan kea rah depan. Mendengar suara pada TMJ
disebabkan oleh pergerakan relative yang tiba-tiba menuju kondilus (1).
c) Intraoral
1) Mukosa
Untuk setiap lesi yang ditemukan, catat lokasinya, bentuk, ukuran dan
kualitas permukaanya. Lakukan palpasi pada permukaan mukosa yang
terdapat lesi untuk menentukan konsistensi lunak, kenyal atau keras,
apakah tepinya tegas atau membaur dengan sekitarnya dan apakah lesi
tersebut dapat digerakkan ataukah tidak dari dasarnya. Pemeriksaan
mukosa diperlukan untuk melihat kelainan pada jaringan lunak. Salah satu
urutan pemeriksaan mukosa mulut yang dianjurkan adalah (1):
- sulkus bibir rahang atas dan rahang bawah. Tarik bibir dengan
-

mulut setengah terbuka.


Mukosa pipi, mengan mulut terbuka lebar, pipi ditarik ke
samping. Sulkus pipi rahang atas dan rahang bawah. Tarik pipi ke

samping dengan mulut setengah terbuka.


2) Gingiva
Pemeriksaan gingiva meliputi warna, ukuran,

bentuk

dan

konsistensinya. Sewaktu erupsi gigi, gingiva dapat membengkak, sakit


(terutama bila terkena trauma gigi antagonisnya) dan meradang. Pada
anak-anak gigi yang mengalami gangren pulpa sering disertai fistel pada
gingiva karena abses periodontal (1).
3) Dasar Mulut

11

Dasar mulut diperiksa dengan meminta pasien mengangkat lidahnya ke


Palatum. Apakah ada edema pada dasar mulut ?, muara duktus Wharton
harus diperiksa. Dasar mulut harus diperiksa dengan palpasi bimanual. Ini
dilakukan dengan meletakkan satu jari di bawah lidah dan jari lain di
bawah dagu untuk memeriksa adanya penebalan atau massa. Sewaktu
mempalpasi mulut pasien, pemeriksa harus memegang pipi pasien. Ini
adalah tindakan pencegahan jika pasien berusaha berbicara atau menggigit
jari pemeriksa (1).
4) Lidah
Perhatikan permukaan atas dan tepi lidah, bagaimana warnanya?
Apakah ada massa. Apakah lidah tampak lembab?. Mintalah pasien untuk
mengangkat lidahnya menyentuh palatum sehingga permukaan bawah
lidah dapat diperiksa. Palpasi lidah dilakukan dengan meminta pasien
untuk menjulurkan lidahnya ke dalam sepotong kasa. Lidah itu kemudian
dipegang oleh tangan kiri pemeriksa ketika sisi-sisi lidah diinspeksi dan
dipalpasi dengan tangan kanan (1).
Periksa ukuran, bentuk, warna dan pergerakannya. Daerah di bawah
lidah harus diperiksa karena sering terjadi pembengkakan atau ulserasi
yang dapat mengganggu bila berbicara dan sewaktu lidah digerakkan.
Selain itu frenulum lingualis yang pendek dapat menahan gerakan lidah ke
depan, sehingga mengganggu anak berbicara. Dasar lidah diperiksa
perlahan-lahan dengan menggunakan kain kasa yang diletakkan diantara
ibu jari dan telunjuk. Permukaan lidah anak umumnya licin, halus dan
papila filiformis relative pendek. Pada awal penyakit exantematous, lidah
berselaput putih keabu-abuan atau putih kecoklatan. Selaput itu berisi sel
yang mengalami desquamasi, sisa makanan dan bakteri. Keadaan ini
sering juga terlihat pada anak yang sedang demam. Avitaminosis tertentu,
anemi atau stress dapat menyebabkan desquamasi papila yang ditandai
dengan peru- bahan warna dan pembengkakan. Adanya pembesaran lidah
yang patologis dapat disebabkan cretinisme, mongolism atau tumor.
Kebiasaan jelek pada lidah dapat menimbulkan maloklusi (1).
5) Palatum
Untuk melihat langsung bentuk, warna dan lesi pada jaringan lunak
dan keras palatum, kepala pasien direbahkan ke belakang. Pembengkakan,
12

kelainan bentuk dan konsistensinya dapat diketahui dengan palpasi.


Palatum durum dan palatum mole. Tekan lidah dengan menggunakan
spatel lidah. Palatum durum diperiksa secara visual disertai palpasi.
Palatum molle diperiksa secara visual, termasuk mobilitasnya. Minta
pasien mengucapkan AH (1).
6) Tonsil
Tonsil merupakan jaringan kelenjar limfa yang berbentuk oval yang
terletak pada kedua sisi belakang tenggorokan. Dalam keadaan normal
tonsil membantu mencegah terjadinya infeksi. Tonsil bertindak seperti
filter untuk memperangkap bakteri dan virus yang masuk ke tubuh melalui
mulut dan sinus. Tonsil juga menstimulasi sistem imun untuk
memproduksi antibodi untuk membantu melawan infeksi (1).
Penentuan besar tonsil (3):
T0: tonsil dalam fosa tonsil atau telah diangkat
T1: besarnya arkus anterior uvula
T2: besarnya arkus anterior uvula
T3: besarnya arkus anterior uvula
T4: besarnya mencapai uvula atau lebih
7) Gigi Geligi
Pemeriksan gigi menggunkan tekhnik inspeksi, sondasi dan perkusi.
Teknik inpspeksi dilakukkan bersamaan dengan tekhnik sondasi. Tekhnik
sondasi menggunakan instrument sonde dengan menjajaki seluruh daerah
permukaan gigi dimulai dari daerah paling posterior regio kanan RA-regio
kiri RA-Regio Kiri RB- Regio kanan RB untuk melihat ada atau tidaknya
karies. Teknik Perkusi dengan mengetuk bagian oklusal/insisal gigi
dengan menggunakan handle instrument (Kaca Mulut/Sonde) untuk
mengetahui kelainan peripikal pada gigi. Gigi - gigi yang masih ada harus
diperiksa mobilitasnya.

Pengamatan gigi secara menyeluruh dapat

dilakukan dengan cepat sebelum masing-masing gigi didiagnosa secara


teliti. Pemeriksaan gigi dilakukan dengan memakai kaca mulut,
ekskavator dan pinset. Perlu diketahui apakah ada gigi yang dicabut
sebelum waktunya (prematur loss), gigi yang sudah waktunya tanggal atau
gigi persistensi (gigi penggantinya sudah erupsi tetapi gigi sulung belum
tanggal). Gigi persistensi dan gigi yang mengalami prematur loss akan
mengganggu susunan gigi dan perkembangan lengkung rahang. Kelainan
13

akibat pertumbuhan dan perkembangan dicatat, yaitu meliputi kelainan


jumlah, waktu erupsi, struktur, warna dan bentuk gigi. Gigi berlebih
(supernumerary) dicatat regio dan jenisnya (mesiodens, laterodens atau
paramolar). Kondisi pada saat pemeriksaan perlu dipertimbangkan apakah
gigi berlebih tersebut perlu segera dicabut, menunggu waktu yang tepat
atau tidak perlu dicabut. Pada beberapa keadaan dibutuhkan pemeriksaan
vitalitas gigi, misalnya gigi dengan keadaan (1):
- sesudah mengalami trauma.
- perubahan warna.
- kavitas yang dalam/penyebab abses.
- gigi penyebab kista atau pembengkakan lain.
Pemeriksaan vitalitas pulpa meliputi tes perkusi, tes druk, tes termal, tes
elektrik, dan tes kavitas (1).
Setelah dilakukan pemeriksaan visual pada gambar di skenario
didapatkan suatu temuan klinis:
1) Mukosa dan jaringan lunak
- Mukosa dan Gingiva
: terdapat fistul di antara mukogingival
junction berdiameter 1-2 cm di apex gigi 61, dan diantara gigi 62-63.
Terdapat pembengkakan abses pada gingiva antara gigi 52 dan 53
berdiameter 3-4 cm.
- Lidah dan dasar mulut
: tidak terlihat.
- Palatum
: normal
- Tonsil
: tidak terlihat.
2) Gigi geligi :
- 51
: sisa akar (rrx).
- 52
: sisa akar (rrx).
- 53
: normal (sou)
- 54
: karies pada bagian mesial meluas ke oklusal (OM-Car).
- 61
: sisa akar (rrx).
- 62
: sisa akar (rrx).
- 63
: karies pada bagian mesial meluas ke bagian palatal (LM-Car).
- 64 : karies pada bagian mesial meluas ke oklusal (OM-Car).
- Gigi geligi yng lain tidak terlihat pada skenario.
d) Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dengan foto rontegen panoramik. Dalam bidang
kedokteran gigi anak, guna ronsen foto antara lain:
1) Mendeteksi dan melihat perluasan karies. Karies proksimal sering
dijumpai bila gigi molar sulung/tetap sudah mempunyai kontak sempurna
(pada gigi sulung, kontaknya merupakan kontak bidang dan gigi tetap
kontak titik).Oleh karena itu bila gigi sudah berkontak dengan sempurna
sebaiknya dilakukan pengambilan ronsen foto untuk mendeteksi karies
14

yang sering tidak terlihat dengan mata yang disebut dengan Hidden Caries
(karies tersembunyi). Ini digunakan untuk membantu menegakkan
diagnosa.
2) Melihat pertumbuhan dan posisi benih gigi sulung/tetap.
3) Melihat resobsi akar gigi sulung, ini berhubungan dengan perawatan
saluran akar (1) (3).
3. Diagnosa
Diagnosa sementara pada kasus di skenario adalah:
a) Gigi 51 nekrosis pulpa/ganggren pulpa (K.04.1).
b) Gigi 52 nekrosis pulpa/ganggren pulpa (K.04.1), yang telah menyebar
infeksinya ke jaringan lunak terdapat abses pada mukogingival junction antara
gigi 52 dan 53.
c) Gigi 54 tidak dapat ditegakan diagnosa karena data pada skenario kurang
lengkap.
d) Gigi 61 nekrosis pulpa/ganggren pulpa (K.04.1) yang menyebar infeksinya
dan terdapat fistul.
e) Gigi 62 nekrosis pulpa/ganggren pulpa (K.04.1). yang menyebar infeksinya
dan terdapat fistul.
f) Gigi 63 pulpitis reversible (K04.01).
g) Gigi 64 tidak dapat ditegakan diagnosa karena data pada skenario kurang
lengkap.
4. Rencana Perawatan
a) Kunjungan 1 : Terapi Inisial
1) Pendidikan kesehatan mulut dan instruksi pengendalian plak di rumah.
2) Pembersihan permukaan gigi dari plak dan debris. Bila terjadi abses selain
dilakukan pembukaan kamar pulpa untuk drainase.
3) Premedikasi untuk penatalaksanaan abses. Pemberian

antibiotik

Amoxicillin sirup selama 5 hari dosis untuk anak-anak 25-5 mg/kg/hr


dibagi 3 dosis (4).
b) Pemeriksaan penunjang rontegen panoramik.
c) kunjungan ke 2 : rencana perawatan gigi depan.
1) ekstraksi gigi 51,52,61,62. Dapat dilakukan secara bertahap.
- Persipan alat dan bahan untuk ekstraksi.
- Persiapan operator dan posisi pasien.
- Anastesi
Persiapan (2) (5) (1):
Sebagian negara mempunyai hukum yang mengharuskan izin
tertulis dari orang tua (Informed Concent) sebelum melakukan
anastesi pada pasien anak.

15

Kunjungan untuk pencabutan sebaiknya dilakukan pagi hari


(saat anak masih aktif) dan dijadwalkan, sehingga anak tidak
menunggu terlalu lama karena anak cenderung menjadi lelah
menyebabkan anak tidak koperatif. Anak bertoleransi lebih
baik terhadap anastesi lokal setelah diberi makan 2 jam
sebelum pencabutan.
Instrumen yang akan dipakai, sebaiknya jangan diletakkan di
atas meja.
Sebaiknya dikatakan kepada anak yang sebenarnya bahwa
akan ditusuk dengan jarum (disuntik) dan terasa sakit sedikit,
tidak boleh dibohongi.
Rasa sakit ketika penyuntikan sedapat mungkin dihindarkan
dengan cara sebagai berikut :
Memakai jarum yang kecil dan tajam
Pada daerah masuknya jarum dapat dilakukan anastesi
topikal lebih dahulu. Misalnya dengan 5 % xylocaine

(lidocaine oitmen)
Jaringan lunak yang bergerak dapat ditegangkan

sebelum penusukan jarum


Deponir anastetikum perlahan, deponir yang cepat
cenderung menambah rasa sakit. Jika lebih dari satu
gigi maksila yang akan dianastesi, operator dapat
menyuntikkan anastesi awal, kemudian merubah arah
jarum menjadi posisi yang lebih horizontal, bertahap

memajukan jarum dan mendeponir anastetikum.e.


Penekanan dengan jari beberapa detik pada daerah

injeksi dapat membantu pengurangan rasa sakit.


Jaringan diregangkan jika longgar dan di masase jika
padat (pada palatal). Gunanya untuk membantu
menghasilkan derajat anastesi yang maksimum dan

mengurangi rasa sakit ketika jarum ditusukan.


Aspirasi dilakukan untuk mencegah masuknya
anastetikum dalam pembuluh darah, juga mencegah

reaksi toksis, alergi dan hipersensitifitas.


Waktu untuk menentukan anastesi berjalan 5 menit
dan dijelaskan sebelumnya kepada anak bahwa
nantinya akan terasa gejala parastesi seperti mati rasa,
16

bengkak, kebas, kesemutan atau gatal dijelaskan pada


anak agar anak tidak takut, tidak kaget, tidak bingung
atau merasa aneh. Pencabutan sebaiknya dilakukan
setelah 5 menit. Jika tanda parastesi tidak terjadi,
anastesi kemungkinan gagal sehingga harus diulang

kembali.
Vasokontristor

sebaiknya

digunakan

dengan

konsentrasi kecil, misalnya xylocaine 2 % dan


epinephrine 1 : 100.000.

Tahapan (2) (6):

Pemilihan anastesi sesuai kasus akan dilakukan anastesi


dengan teknik infiltrasi pada gigi yang aka dicabut pada
bagian labial dan blok Nervus Nasopalatinus untuk

bagian palatal.
Informed consent.
Menjelaskan pada anak bahwa akan dilakukan bius agar
tidak sakit saat pencabutan, dan dijelaskan nanti akan

sedikit terasa sakit.


Manipulasi larutan anastesi kedalam spuit.
Lakukan isolasi daerah kerja dengan mengeringkan
daerah yang akan dianastesi dengan kasa lalu memberi

larutan antiseptik.
Beri anastesi topikal 5 % xylocaine pada daerah yang

akan ditusuk jarum tunggu 5 menit.


Tegangkan jaringan lunak yang bergerak.
Lakukan penusukan jarum dengan bevel menghadap ke
tulang. Dilakukan pada muko-labial fold untuk teknik
infiltrasi, di insersi hingga setinggi apex gigi yang akan
di ekstraksi. Lakukan aspirasi dan deponir perlahan 0,5
-1

cc

larutan

anastesi.

Untuk

teknik

Nervus

Nasopalatinus, titik suntikan terletak sepanjang papila


insisivus yang berada di posterior gigi insisivus sentral

rahang atas , deponir 0,5 cc larutan anastesi.


Evaluasi keberhasilan anastesi.
Ekstraksi gigi sulung (3) (2).
Indikasi :
17

Natal tooth/neonatal tooth.


Gigi dengan karies luas, karies mencapai bifurkasi dan
tidak dapat direstorasi sebaiknya dilakukan pencabutan.
Kemudian dibuatkan space maintainer.
Infeksi di periapikal atau di interradikular dan tidak dapat
disembuhkan kecuali dengan pencabutan.
Gigi yang sudah waktunya tanggal dengan catatan bahwa
penggantinya sudah mau erupsi.
Gigi sulung yang persistensi
Gigi sulung yang mengalami impacted, karena dapat
menghalangi pertumbuhan gigi tetap.
Untuk perawatan ortodonsi.
Supernumerary tooth.
Gigi penyebab abses dentoalveolar.
Kontraindikasi :
Anak yang sedang menderita infeksi akut di mulutnya.
Misalnya akut infektions stomatitis, herpetik stomatitis.
Infeksi ini disembuhkan dahulu baru dilakukan pencabutan.
Blood dyscrasia atau kelainan darah, kondisi ini
mengakibatkan terjadinya perdarahan dan infeksi setelah
pencabutan. Pencabutan dilakukan setelah konsultasi
dengan dokter ahli tentang penyakit darah.
Pada penderita penyakit jantung. Misalnya : Congenital
heart disease, rheumatic heart disease yang akut.kronis,
penyakit ginjal/kidney disease.
Pada penyakit sistemik yang akut pada saat tersebut
resistensi tubuh lebih rendah dan dapat menyebabkan
infeksi sekunder.
Adanya tumor yang ganas, karena dengan pencabutan
tersebut dapat menyebabkan metastase.
Pada penderita Diabetes Mellitus (DM), tidaklah mutlak
kontraindikasi. Jadi ada kalanya pada penyakit DM ini
boleh dilakukan pencabutan tetapi haruslah lebih dahulu
mengadakan konsultasi dengan dokter yang merawat
pasien.
Teknik (1):
Untuk gigi sulung berakar tunggal :
18

Gerakan rotasi dengan satu jurusan diikuti dengan gerakan


ekstraksi (penarikan).
Untuk gigi berakar ganda :
Gerakan untuk melakukan pencabutan adalah gerakan
luksasi bukal dan ke arah palatal, diikuti dengan gerakan
ekstraksi.
2) penambalan gigi 63 dengan bahan Glass Ionomor Cement (GIC).
Keuntungan:
- Teknik sederhana yang dapat diandalkan untuk semua operator.
- Perlekatan kimia ke dentin enamel.
- Pelepasan Fluoride berkelanjutan.
- Waktu yang cukup untuk peletakan dan pengerasan yang cepat.
- Sifat biokompatibel yang bagus.
- Sensitivitas air yang minimal.
- Compressive strength yang tinggi (7).
Indikasi :
-

Restorasi pada lesi erosi/abrasi tanpa preparasi kavitas.

Penumpatan pit dan fisura oklusal.

Restorasi gigi sulung.

Restorasi lesi karies klas V.

Restorasi lesi karies kl. III lebih diutamakan yang pembukaannya arah
lingual.

Reparasi kerusakan tepi restorasi mahkota (7).

Kontraindikasi :
-

Kavitas-kavitas yang ketebalannya kurang.

Kavitas-kavitas yang terletak pada daerah yang menerima tekanan


tinggi.

Lesi karies kelas IV atau fraktur insisal.

Lesi yang melibatkan area luas pada email labial yang mengutamakan
faktor estetika (7).

Tahapan kerja:
-

Isolasi gigi.

Preparasi Kavitas.

Persiapan Kavitas (conditioning).

Manipulasi GIC.

Hasil adukan dimasukkan ke dalam kavitas dengan plastis filling


instrument.
19

Bentuk sesuai anatomi gigi.

Tutup seluruh permukaan tumpatan dengan fuji varnish (1).

Adapun prinsip dari preparasi gigi pada GIC meliputi 7 prinsip yaitu :
- Outline Form.
- Resistance Form.
- Retention Form.
- Removal of caries.
- Finishing of the enamel wall.
- Convinience Form.
- Cavity toilet (1).
d) Kunjungan ke 3: Rehabilitatif pada gigi depan dengan pembuatan space
maintener.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pedodonsia Terapan : Dental Health Education: USU, Departemen Pedodonsia; 2012.

20

2. Welbury, Richard; Duggal, Monty;Department of Child Dental Care. Paediatric Dentistry3rd Ed New York: Oxford University Press; 2005.
3. McDONALD RE. Dentistry Child and Adolescent Eighth Edition America: Mosby; 2004.
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia NO. HK.02.02/MENKES/62/2015.
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Gigi.
5. Berg JH, Slayton RL. Early Childhood Oral Health USA: Wiley-Blackwell; 2009.
6. Purwanto , Yuwono L. Petunjuk Praktis: Anastesi Lokal Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 1993.
7. Craig RG, Powers JM, Wataha JC. Dental Materials Properties and Manipulation 9th
Edition Mosby Elseiver: Missouri; 2004.

21