Vous êtes sur la page 1sur 9

AR 5242 I ANALISIS LINGKUNGAN BINAAN 2016

Prospek Analisis Tipo-Morfologi dalam Menganalisis Kampung


Kota Cikapundung di Kota Bandung
Medhiansyah Putra Prawira (1)
(1)

Program Studi Rancang Kota, SAPPK, Institut Teknologi Bandung.

Abstrak
Kampung adalah kawasan permukiman di dalam kota yang terbentuk tanpa perencanaan atau tumbuh
sebelum perencanaan ditetapkan. Tipe permukiman ini merupakan komponen dalam pembentukan
struktur kota, sehingga penataan suatu kota harus mempertimbangkan eksistensi dari kampung. Salah
satu kampung yang terletak di bantaran sungai adalah kampung di sepanjang Sungai Cikapundung
Kota Bandung. Sungai Cikapundung merupakan sungai yang mengalir dari utara menuju selatan
Bandung. Keberadaan Sungai Cikapundung dimanfaatkan sebagai tempat untuk melakukan aktivitas
dan memenuhi kebutuhan sehari hari bagi masyarakat sekitar. Kepadatan hunian yang cukup tinggi,
kondisi lingkungan fisik yang kurang baik serta sarana dan prasarana yang kurang memadai
merupakan gambaran umum yang ditemui pada kampung kota. Studi tipo-morfologi diperlukan untuk
memahami bentuk, tatanan serta karakter kampung sebagai dasar perancangan permukiman di
perkotaan. Minimnya penelitian tipo-morfologi dalam menjelaskan kampung menjadi landasan awal
dilakukannya tinjauan awal terkait studi analisis tipo-morfologi. Tulisan ini akan menjelaskan lebih
rinci tentang studi analisis tipo-morfologi dari segi gagasan, tahapan analisis, studi kasus hingga
kelebihan dan kekurangan analisis. Contoh yang diberikan dalam tulisan ini terkait dengan pola jalan
dan tipe bangunan dalam kampung, pengaruh perkembangan perkotaan terhadap eksistensi kampung
dan perkembangan permukiman tradisional. Pada bagian akhir, dijelaskan prospek analisis tipo
morfologi dalam menganalisis kampung kota di perkotaan. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi
alternatif referensi analisis tipo-morfologi dan kerangka acuan dalam penelitian berikutnya.
Kata-kunci : tipo-morfologi, kampung, perkotaan

Pendahuluan
Perkembangan kota pada dasarnya berasal dari
corak kehidupan kampung pedesaan (rural) yang
kemudian berkembang menuju arah corak
kehidupan
perkotaan
(urban). Eksistensi
kampung menjadi lingkungan permukiman
perkotaan dengan segala perkembangan dan
perubahan perubahan yang terjadi hingga
mencapai
bentuknya
seperti
sekarang
merupakan sebuah proses panjang dalam
dinamika perkembangan kota.
Kampung merupakan lingkungan tradisional khas
Indonesia, ditandai dengan ciri kehidupan yang
terjalin dalam ikatan kekeluargaan yang erat.
Menurut Wiryomartono (1999), kampung kota

adalah permukiman pribumi yang masih


meneruskan tradisi kampung halamannya,
sekalipun tinggal di kota. Permukiman kampung
kota merupakan permukiman yang tumbuh di
kawasan urban tanpa perencanaan infrastruktur
dan jaringan ekonomi kota.
Kampung kota seringkali dianggap sebagai tipikal
permukiman informal dikarenakan menimbulkan
permasalahan
bagi
perkotaan.
Menurut
Handayani
(2008),
permasalahan

permasalahan yang umum ditemui dalam


kampung kota antara lain :
a.

Kepadatan
penduduk
yang
menyebabkan kurangnya ruang
fungsi sosial

tinggi
untuk

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015 | 1

Kriteria Fasilitas Olahraga Ideal bagi Masyarakat Perkotaan

b.
c.
d.
e.

Rendahnya tingkat ketersediaan fasilitas


umum dan fasilitas sosial
Kurangnya infrastruktur
Tataguna lahan yang tidak teratur
Kondisi rumah yang kurang sehat

Ditinjau dari perkembangan dan pola tata letak


geografisnya, Barros dan Prawoto (1979)
membagi kampung kota di Indonesia menjadi 4
tipe, yaitu :
a.

b.
c.

d.

Urban kampung, lingkungan permukiman


dari mayoritas masyarakat berpenghasilan
rendah, yang berada di daerah transisi atau
pinggiran kota.
Tenement kampung, perkampungan yang
tumbuh sejak jaman kolonial Belanda.
Fringe kampung, kumpulan permukiman
desa di luar batas kota (biasanya terdiri dari
30 sampai dengan 50 rumah)
Illegal kampung, perkampungan yang
tumbuh secara liar di tanah-tanah yang
tidak diperuntukkan bagi permukiman.

Lingkungan
kampung
kota
seringkali
digambarkan sebagai suatu lingkungan yang
miskin struktur, tidak teratur dan terkesan kumuh.
Kurangnya akses masyarakat kampung terhadap
berbagai kepentingan dikarenakan lingkungan
kampung kota yang tidak tersentuh oleh pola
kebijakan tata ruang kota. Di sisi lain, kesadaran
masyarakat kampung yang rendah sehingga
pemahaman akan kualitas permukiman juga
menjadi rendah.
Sebagai salah satu unsur utama pembentuk kota,
keberadaan kampung kota tidak dapat dihiraukan.
Apabila ditelaah lebih jauh, permasalahan dalam
kampung kota disebabkan oleh faktor yang
berkaitan
satu
sama
lain.
Karenanya
permasalahan yang berkaitan dengan kampung
kota merupakan masalah yang multi dimensi.
Diperlukan studi analisis tipo-morfologi untuk
menganalisis kampung kota agar tidak
berkembang
menuju
unplanned
(tidak
terencana). Studi analisis tipo-morfologi untuk
mengetahui pola, tipe dan karakter kampung
kota sehingga dapat dirumuskan upaya
penanganan serta peningkatan kualitas kampung
dengan tepat.
2 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015

Pendekatan Analisis Tipo-Morfologi


Analisis tipo morfologi merupakan analisis yang
mengklasifikasikan objek menjadi beragam tipe
bentuk. Analisis ini memperhitungkan variabel
tipologi dan morfologinya. Menurut Brill (1994),
tipologi adalah kegiatan membangun tipe dan
suatu cara untuk kategorisasi, mengulang dan
mengetahui. Sehingga tipologi merupakan
kriteria dalam mencari persamaan dalam bentuk
dasar, fungsi dan asal usul yang dimiliki oleh
obyek. Sedangkan analisis morfologi menurut
Rose (1976) adalah studi tentang perubahan
bentuk, hubungan, metamorphosis dan struktur
suatu obyek.
Analisis
tipo-morfologi
merupakan
suatu
rangkaian analisis, setelah menemukan tipe
bentuk maka dikaji perubahan bentuk sehingga
disebut dengan tipo-morfologi. Secara garis
besar terdapat 2 poin utama dalam analisis tipomorfologi yaitu tatanan spasial dan proses
perkembangan transformasi tatanan spasial.
Terdapat paradigma dalam kerangka analisis
tipo-morfologi antara lain :
a.

b.

c.

Obyek diasumsikan sebagai arsitektur.


Arsitektur dilihat sebagai bangunan dan
lingkungannya juga dilihat. Arsitektur
sebagai kota dan lingkungannya.
Tatanan dari obyek. Memiliki logika spasial.
Mengapa dan alasan terbentuknya dikaitkan
dengan faktor sosial dan budaya.
Analisa harus menggunakan 2 metodologi.
Sinkronik yaitu memotret untuk melihat
keadaan
sekarang.
Diakronik
yaitu
membaca sejarah dari ruang yang diteliti
(perubahan yang terjadi) dan faktor faktor
yang menyebabkan perubahan tersebut.

Karakteristik Penelitian Tipo-Morfologi dalam


Lingkungan Permukiman Kampung.
Penelitian tipo-morfologi khususnya dalam
lingkungan
permukiman
kampung
pada
umumnya banyak digunakan untuk mengetahui
pola perkembangan kampung tradisional. Kondisi
dan pola permukiman kampung yang terbentuk,
dianalisis untuk menemukan sebab dan akibat
yang mempengaruhi terbentuknya kampung
tersebut. Faktor fisik seperti letak geografis,
topografi, kenampakan alam sekitar (sungai dan

Medhiansyah Putra Prawira

gunung) hingga faktor sosial dan budaya yang


dapat mempengaruhi perkembangan kampung
tersebut.
Preseden
Penerapan
Analisis
Morfologi terkait Kampung Kota

Tipo-

Pada bagian ini akan dijelaskan beberapa contoh


preseden terkait analisis tipo morfologi dalam
lingkungan
permukiman
kampung
kota.
Penjelasan untuk setiap preseden akan memuat
tujuan dan manfaat penelitian, variabel penelitian,
metode pengumpulan data, tahapan analisis
serta hasil analisis. Preseden preseden tersebut
bertujuan untuk membantu memahami ketika
analisis tersebut digunakan dalam studi kasus
kampung kota di perkotaan. Adapun preseden
yang dijelaskan dalam bab ini membahas tentang
pola jalan dan tipe bangunan dalam kampung,
pengaruh perkembangan perkotaan terhadap
eksistensi
kampung
dan
perkembangan
permukiman tradisional.
Preseden
Penerapan
Analisis
TipoMorfologi dalam Mengetahui Persistensi
Pola dan Tipe Jalan di Kampung Dalem,
Yogyakarta
Kampung kota sebagai bagian kota yang bersifat
tradisional tidak luput dari pengaruh modernitas.
Berkembangnya kampung dalem sebagai
permukiman
tradisional
yang
menerima
pengaruh dari luar tampak dari merebaknya
bangunan bangunan yang mendukung kegiatan
pariwisata. Bangunan yang semula rumah tinggal
bertambah fungsinya menjadi fungsi penginapan,
caf, money changer, persewaan kendaraan bagi
wisatawan, galeri seni dan rumah makan. Jalan
menuju dalem yang semula dipergunakan
sebagai ruang pencapaian bagi para sentana dan
keluarganya, saat ini dipergunakan oleh
masyarakat untuk aktivitas sirkulasi menuju
bagian dalam kampung dan bersosialisasi. Dalam
kondisi
berkembangnya
aktivitas
baru
(pariwisata) di kampung dalem, terlihat gejala
yang menunjukkan bahwa pola jalan jalan di
kampung dalem relatif masih tetap bertahan.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami konsep
pola dan tipe jalan di kampung dalem.

Gambar 1. Elemen dasar kampung dalem di ketiga


blok

Manfaat
teoritik
penelitian
ini
dapat
dikembangkan untuk kepentingan praktis.
Manfaat tersebut adalah pemahaman tentang
aspek tradisional yang tetap bertahan dan
berubah dalam konteks pertemuan antara aspek
modern dan tradisional di kampung dalem.
Metode pengambilan data dalam penelitian ini
menggunakan survei primer dan sekunder. Data
diperoleh melalui cara pengamatan, mendengar,
bertanya dan merekam. Selama pengamatan
dilakukan rekaman visual berupa foto,
penggambaran dan pengukuran. Data sekunder
berupa peta dan literature sejarah yang terkait.

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015 | 3

Kriteria Fasilitas Olahraga Ideal bagi Masyarakat Perkotaan

Tahapan analisis yang dilakukan adalah


memahami pola dan tipe jalan di kampung dalem,
selanjutnya adalah menemukan faktor faktor
yang mendukung persistensi pola dan tipe jalan
di kampung dalem.

Gambar 3. (a) Peta blok Sosrowijayan dan denah


situasi jalan tipe ke 2. (b) Suasana jalan menuju
permukiman penduduk di blok Sosrowijayan
Tabel 2. Dimensi, orientasi, elemen, penggunaan jalan
dan susunan spasial
Gambar 2. (a) Peta blok Sosrowijayan dan denah
situasi jalan tipe ke 1. (b) Suasana jalan menuju
dalem di blok Sosrowijayan
Tabel 1. Dimensi, orientasi, elemen, penggunaan jalan
dan susunan spasial

Berdasarkan hasil analisis, tipe tipe jalan di


kampung dalem yaitu (a) jalan menuju dalem
(gledegan), (b) jalan menuju permukiman
penduduk dari margi ageng (lurung dan regol)
dan (c) jalan yang menempati lahan penduduk
(gang saduluran). Keberadaan jalan di kampung
dalem juga dapat dikelompokkan ke dalam tiga
kategori yaitu fungsi manfaat (parkir kendaraan
4 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015

Medhiansyah Putra Prawira

roda dua dan tiga, penyimpanan barang dan


gerobak), fungsi sosial berhubungan dengan
susunan ruang jalan dan bangunan serta kondisi
sosial, fungsi perseptual yang berkaitan dengan
susunan fisik ruang (jalan dan bangunan).

lahan di Kampung Kauman. Perubahan


penggunaan lahan yang terjadi bertujuan untuk
mendukung aktivitas aktivitas utama yaitu
perdagangan dan jasa.

Preseden
Penerapan
Analisis
TipoMorfologi dalam Mengetahui Pengaruh
Perkembangan
Perkotaan
Terhadap
Morfologi Kampung Kauman, Semarang
Kota Semarang merupakan salah satu pusat
peradaban budaya di Indonesia sejak jaman dulu.
Kota Semarang menjadi wadah perpaduan
berbagai macam budaya yaitu Arab, Tionghoa,
Eropa dan Jawa (pribumi). Kampung Kauman
merupakan salah satu kampung kota di
Semarang yang dulunya sebagai embrio
perkembangan kota dan tempat tinggal
masyarakat pribumi. Kauman juga dikenal
sebagai pusat peradaban Islam yang ditunjukkan
dengan adanya Masjid Agung Kauman sehingga
menjadi kawasan penting kebudayaan Semarang.
Kota Semarang yang terus mengalami
perkembangan, berdampak pada penggunaan
lahan di pusat kota. Kampung Kauman secara
tidak langsung mendapatkan pengaruh dari
perkembangan yang terjadi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh dari perkembangan perkotaan Kota
Semarang terhadap morfologi Kampung Kauman.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan survei primer dan sekunder.
Survei primer meliputi wawancara, observasi dan
penyebaran kuisioner. Survei sekunder dilakukan
melalui studi literatur.

Gambar 4. Perubahan Guna Lahan di Kampung


Kauman

Penggunaan lahan, di Kampung Kauman pada


awalnya
digunakan
sebagai
kawasan
permukiman dan juga perdagangan. Akan tetapi,
saat ini banyak terjadi perubahan penggunaan

Gambar 5. (a) Figure Ground Kampung Kauman. (b)


Teori Place di Kampung Kauman

Perkembangan jalan di Kampung Kauman


ditinjau dari lebar jalan dan bentuk perkerasan.
Lebar jalan yang ada di Kampung Kauman tidak
mengalami perubahan lebar jalan. Hal ini
diakibatkan kepadatan kampung yang cukup
tinggi sehingga tidak tersedia lahan untuk
pelebaran jalan. Sedangkan perubahan pada
bentuk perkerasan terjadi pada jalan jalan di
Kampung Kauman. Beberapa ruas jalan di dalam
Kampung Kauman mengalami perubahan dari
aspal menjadi paving. Tipe bangunan di dalam
Kampung Kauman mengalami perubahan
bersamaan dengan perubahan fungsi dari
bangunan tersebut. Perubahan tipe bangunan
yang terjadi dilihat dari bentuk atau tampilan fisik
bangunan
yang
mengalami
perubahan.
Sedangkan untuk luasan bangunan umumnya
tidak mengalami perubahan.

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015 | 5

Kriteria Fasilitas Olahraga Ideal bagi Masyarakat Perkotaan

Preseden
Penerapan
Analisis
TipoMorfologi dalam Mengetahui Morfologi
Permukiman Tradisional di Kawasan
Seberang Ulu Palembang.
Kota Palembang merupakan kota yang terbagi
menjadi 2 bagian yaitu bagian ulu (Kawasan
Seberang Ulu) dan bagian ilir (Kawasan Seberang
Ilir) yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Pada
Kesultanan Palembang Darussalam, penduduk
pendatang Kota Palembang lebih banyak tinggal
di Kawasan Seberang Ulu karena kawasan
Seberang Ilir merupakan kawasan pusat
pemerintahan
Kesultanan
Palembang
Darussalam. Penduduk pendatang ini terdiri dari
berbagai suku bangsa yaitu Melayu, Cina dan
Arab. Penduduk pendatang tersebut menghuni
kawasan tertentu dan terbentuklah suatu
permukiman berupa kampung dengan nama
kampung menyesuaikan dengan asal keturunan
penduduk penghuninya, yaitu Kampung Kapitan,
Arab dan Palembang. Permukiman tradisional di
Kota
Palembang
tersebut
mengalami
perkembangan
menyesuaikan
dengan
pertumbuhan jumlah hunian dan kondisi sosial
ekonomi
penghuninya.
Perkembangan
permukiman tradisional ini membentuk suatu
pola pola permukiman dengan kondisi
permukiman yang berbeda antara satu kampung
dengan kampung lain sehingga membentuk
suatu morfologi permukiman tradisional di
Kawasan Seberang Ulu Palembang.

rumah, bentuk massa bangunan, kepadatan


bangunan, garis sempadan bangunan, ruang
terbuka umum, halaman rumah, ruang antar
bangunan, ruang antara bangunan dengan jalan
dan perkembangan kapling. Survei sekunder
melalui
studi
literatur
tentang
sejarah
permukiman Kampung Arab 9 Ulu dan 13 Ulu
Palembang, Permukiman Kampung Kapiten dan
Permukiman Kampung Cina 9 10 Palembang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui


morfologi permukiman tradisional di Kawasan
Seberang Ulu Palembang mencakup tata guna
tanah, massa bangunan, kapling dan jalan yang
membentuk suatu pola permukiman dengan
karakteristik tipe rumah, hubungan antar rumah
dan hubungan permukiman dengan lingkungan
di sekitarnya.
Dalam konteks ilmiah, penelitian ini diharapkan
memberikan manfaat informasi mengenai kondisi
permukiman tradisional di Kawasan Seberang Ulu
Palembang.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan survei primer dan sekunder.
Survei primer melalui observasi dan wawancara
untuk mengetahui fungsi atau aktivitas dalam
6 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015

Gambar 6. (a) Tata Guna Lahan dan Massa bangunan


Kampung Cina 9-10 Ulu (b) Tata Guna Lahan dan Massa
bangunan Kampung Kapiten 7 Ulu (c) Pola Permukiman
Kampung Arab Al Munawar 13 Ulu.

Medhiansyah Putra Prawira

Hasil analisis penelitian menunjukkan morfologi


permukiman
terbentuk
karena
adanya
aksesibilitas berbentuk jalan, tata guna lahan dan
penataan massa bangunan.
a. Kampung Cina 9-10 Ulu
Bangunan inti terdiri atas tiga rumah,
merupakan bangunan yang paling besar
menghadap ke arah Sungai Musi. Rumah di
tengah merupakan rumah yang sering
difungsikan untuk menyelenggarakan pesta
dan pertemuan dengan banyak orang.
Sedangkan kedua rumah di sisi barat dan
timur lebih banyak difungsikan untuk rumah
tinggal
b. Kampung Kapiten 7 Ulu
Pola awal permukiman berbentuk linear
kemudian berkembang menjadi pola
permukiman linera cluster karena adanya
pertambahan
kebutuhan
masyarakat
terhadap fasilitas sosial. Permukiman ini
memiliki susunan rumah rumah yang
mengelompok dan berdempet dempet
namun masih berbentuk linear sebagai pola
awal dari perkampungan ini
c. Kampung Arab Al Munawar 13 Ulu
Pola permukiman terbentuk dari pencapaian
dan sirkulasi sehingga pola yang terbentuk
adalah pola linear dan cluster. Terdapat
bangunan bangunan yang mengelompok
dan membentuk open space yang dijadikan

dalam pendekatan penelitian tipo-morfologi.


Kelebihan penelitian tipo-morfologi antara lain :
a.

b.

c.

d.

e.

assembling point.
d.

Kampung Arab 9-10 Ulu


Tata guna lahan dan massa bangunan
permukiman
ini
membentuk
pola
permukiman cluster. Tata guna lahan dan
massa bangunan kampung berorientasi
pada open space sebagai tempat berbagai
aktivitas penduduk seperti menjemur, padi,
untuk acara, jemur kopi, pakaian dan
bermain anak.

Kontribusi
Penerapan
Analisis
TipoMorfologi dalam Penelitian Kampung Kota
Analisis Tipo-Morfologi memiliki kelebihan dan
kekurangan dalam menganalisis lingkungan
permukiman kampung kota di perkotaan.
Berdasarkan beberapa preseden yang dibahas
mengenai kampung kota, terdapat beberapa
kelebihan kelebihan maupun keterbatasan

Penelitian
tipo-morfologi
dalam
menjelaskan obyek lingkungan binaan
memiliki tingkat kedalaman data yang tinggi.
Peneliti dapat menjelaskan maupun
menguraikan obyek lingkungan binaan
dengan detail.
Penelitian
tipo-morfologi
menekankan
apabila obyek lingkungan binaan tidak
dilihat sebagai bentuk, namun juga sebagai
proses. Transformasi obyek dilihat sebagai
bagian yang penting.
Penelitian
tipo-morfologi
mampu
menjelaskan hubungan dalam obyek
lingkungan binaan. Sehingga perubahan
dalam lingkungan binaan juga terbentuk
karena hubungan ruang ruang di
dalamnya.
Sebagai
contoh
dalam
menjelaskan kampung kota, peneliti juga
dapat menguraikan hubungan antara
bangunan dengan kapling, kapling dengan
jalan, jalan dengan kawasan maupun
kawasan dengan kota.
Penelitian tipo-morfologi menekankan akan
aspek keberlanjutan sehingga sangat baik
apabila digunakan dalam meneliti sejarah
maupun profil sebuah perkotaan.
Penelitian tipo-morfologi yang memiliki
fokus dalam menguak keunikan dan
kekayaan dari obyek lingkungan binaan
sehingga peneliti dapat berinteraksi
langsung dengan obyek lingkungan binaan.

Adapun kekurangan penelitian tipo-morfologi


antara lain :
a.

b.

Penelitian tipo-morfologi memakan waktu


yang cukup lama dalam prosesnya. Tingkat
kedetailan dalam menguraikan obyek
lingkungan binaan membuat analisis ini
memerlukan waktu dan tenaga yang tidak
sedikit.
Penelitian tipo-morfologi membutuhkan
keterlibatan peneliti secara intens terhadap
obyek lingkungan binaan. Hasil dari
penelitian tipo-morfologi cenderung tidak
maksimal
apabila
peneliti
memiliki
manajemen waktu yang buruk dan kurang
memahami obyek lingkungan binaan.
Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015 | 7

Kriteria Fasilitas Olahraga Ideal bagi Masyarakat Perkotaan

c.

Penelitian tipo-morfologi kurang berfokus


pada aspek desain. Tingkat kedetailan
analisis ini dalam menguraikan obyek
lingkungan binaan hanya berfokus pada
ruang secara spasial. Sehingga tidak dapat
menjelaskan obyek lingkungan binaan
secara detail dalam kaitannya dengan
desain.

Peluang Analisis Tipo-Morfologi dalam


Studi Kasus Kampung Kota Cikapundung,
Bandung.
Sesuai dengan studi kasus pada Kampung Kota
Cikapundung, Kota Bandung. Analisis tipomorfologi dapat digunakan untuk menjelaskan
lingkungan permukiman pada kampung bantaran
Sungai Cikapundung Kota Bandung.

dapat menjawab permasalahan yang umumnya


terjadi dalam revitalisasi kampung kota pada
perkotaan. Sebagian besar proses revitalisasi
kampung
kota
dilakukan
tanpa
mempertimbangkan konteks lokal kawasan
sehingga terkadang menimbulkan permasalahan
baru bagi lingkungan.
Keberadaan Sungai Cikapundung terhadap
lingkungan permukiman kampung kota dapat
dijelaskan dengan baik oleh analisis tipomorfologi. Selain itu kelebihan analisis tipomorfologi dalam menjelaskan transformasi
kawasan, dapat digunakan untuk mengetahui
perkembangan kampung di sepanjang Sungai
Cikapundung. Hal ini sangat penting karena
dapat mencegah perkembangan kampung kota
menuju arah unplanned (tidak terencana).

Sungai Cikapundung merupakan salah satu


sungai
yang
berpengaruh
terhadap
perkembangan
Kota
Bandung.
Sehingga
kampung kampung kota yang terletak di
sepanjang Sungai Cikapundung secara tidak
langsung merupakan bagian dari dinamika
perkembangan Kota Bandung. Keberadaan
sungai pada lingkungan permukiman kampung
tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar
dalam memenuhi kebutuhan dan menjalankan
aktivitas sehari hari. Saat ini banyak ditemui
kondisi bangunan pada kampung kampung
tersebut yang tidak tertata, cenderung kumuh
memiliki kualitas lingkungan yang rendah serta
antara bangunan satu dengan bangunan lainnya
saling berhimpitan.

Penutup

Analisis tipo-morfologi dapat digunakan untuk


menguraikan perkembangan tipo-morfologi dari
kampung kota di sepanjang Sungai Cikapundung
Kota Bandung. Penelitian tipo-morfologi dapat
digunakan untuk mengetahui pola, tipe dan
karakter dari bangunan yang ada di kampung
kota tersebut. Selain itu kelebihan penelitian tipomorfologi dapat menjelaskan hubungan antara
pengaruh
Sungai
Cikapundung
dengan
perkembangan lingkungan permukiman yang ada
di kampung tersebut. Hasil penelitian tersebut
dapat digunakan sebagai bahan untuk
merumuskan strategi peningkatan kualitas
kampung kota Cikapundung yang sesuai dengan
perkembangan dan karakternya. Hal ini dirasa

Roihanah, Ita (2014). Pendekatan Tipo-Morfologi

8 | Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015

Analisis tipo-morfologi merupakan salah satu


metode analisis yang digunakan untuk
menjelaskan obyek lingkungan binaan. Analisis
tipo-morfologi
memliki
kelebihan
dalam
menjelaskan tatanan spasial dan transformasi
tatanan spasial. Analisis ini seringkali digunakan
dalam menjelaskan sejarah maupun citra
kawasan dalam ruang lingkup yang luas. Salah
stau poin penting dalam analisis tipo-morfologi
adalah analisis ini menjelaskan obyek lingkungan
binaan bukan sebagai obyek namun sebagai
bagian dari proses yang tidak dapat dihiraukan.
Daftar Pustaka
sebagai
Alat
Analisis
Pertumbuhan
dan
Perkembangan Lingkungan Binaan di Perkotaan.
Nababan, Melissa & Kustiwan, Iwan. (2014). Potensi
Peremajaan Kampung di Kelurahan Babakan Ciamis,
Bandung Berdasarkan Persepsi dan Preferensi
Masyarakat. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B
SAPPK V4N2.
Handayani, Sri.

(2008). Partisipasi Masyarakat


Kampung Kota Untuk Meningkatkan Kualitas
Lingkungan Permukiman (Kasus : Permukiman Kota
di Bandung). Institut Pertanian Bogor
Heryati. (2008). Kampung Kota Sebagai Bagian Dari
Permukiman Kota Studi Kasus : Tipologi Permukiman
RW 01 RT 02 Kelurahan Limba B dan RW 04 RT 04
Kelurahan Biawu Kecamatan Kota Selatan Kota
Gorontalo. Universitas Negeri Gorontalo.

Medhiansyah Putra Prawira


Allie, Cynthia Putriyani & Suwandono, Djoko. (2013).

Pengaruh Perkembangan Perkotaan Terhadap


Morfologi Kampung Kauman Kota Semarang. Jurnal
Perencanaan Wilayah dan Kota Volume I Nomor I
Tahun 2013.
Setiadi, Amos. (2006). Persistensi Pola dan Tipe Jalan

di Kampung Dalem. Suatu Analisis Tipo Morfologi


Dalam Konteks Pertemuan Antara Aspek Modern dan
Tradisional Pada Kampung Kampung di Yogyakarta.
Muraman, Iwan. (2010). Morpologi Permukiman
Tradisional di Kawasan Seberang Ulu Palembang.
Progam Studi Teknik Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Brawijaya.
Nudini, Allis. (2006). Cross Sectional Vs Longitudinal :

Pilihan Rancangan Waktu Dalam Penelitian


Perumahan Permukiman. Jurusan Teknik Arsitektur
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Universitas
Kristen Petra.

Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2015 | 9