Vous êtes sur la page 1sur 4

Algoritma Evaluasi Hematuria

Tatalaksana
Tatalaksana untuk hematuria kasar bergantung kepada etiologinya. Diagnosis
dan tatalaksana akan dibahas berikut.1
1. PIAGN : dicurigai pada anak yang didahului dengan riwayat faringitis atau
impetigo, meskipun pada 25-33% tidak dikonfirmasi memeliki riwayat
infeksi sebelumnya. Infeksi bakteri, virus, dan parasit seperti endokarditis
infeksi dan infeksi jalur pintas ventrikulo-peritoneal juga telah dilaporkan
menginduksi GNA. Lebih dari 85% pasien dengan PIAGN akan tampak
edem dan mengalami hipertensi, dimana membutuhkan retriksi garam dan
cairan dan kontrol tekanan darah dengan diuretik dan Penghambat Kanal
Kalsium. Beberapa pasien dengan PIAGN mungkin juga menghasilkan
oliguria dan insufisiensi ginjal akut pada beberapa kasus. Pada kasus
PIAGN, tanpa memandang epidemiologi, diagnosis dikonfirmasikan oleh

hipokomplemenemia (dengan karakteristik kadar C3 yang rendah dengan


normal C4) dan serpihan RBC pada urin. PIAGN biasanya self limited,
sembuh dalam 1-2 minggu, dan jarang kambuh. Serum C3 kembali normal
dalam 6-8 minggu, meskipun normalisasi mungkin tidak lebih dari 12
minggu. Hematuria mikroskopik bisa menetap selam 6-12 bulan. Jika serum
komplemen tidak kembali normal atau hematuria mikroskopik menetap
lebih dari 12 bulan pada diagnosis awal seharusnya dipertimbangkan
kembali.
2. Membranoproliferative Glomerulonephritis (MPGN). Terdapat laporan tiga
tipe MPGN. Tipe I lebih sering daripada tipe II (juga diketahui sebagai
penyakit deposit dense) dan biasanya ada pada anak yang lebih tua dan
dewasa muda. Sekitar 50% timbul beserta SN dan 25% lainnya memiliki
presentasi nefritik dengan edema, hipertensi, dan insufisiensi renal.
Kecurigaan MPGN tipe I seharusnya tumbuh dari proteinuria masiv dan
hipokomplemenemia persisten C3 dan C4. Tipe II tampak dengan C3
rendah (faktor nefritik C3) tetapi level C4 normal. MPGN merupakan
primer pada anak, tetapi mungkin juga terjadi sekunder dari Hepatitis B dan
C. MPGN primer tipe I dan II sering diobati dengan prednison pengganti
harian; sebuah penelitian mengindikasikan kemajuan kemampuan bertahan
ginjal dengan tercapai prednison pada MPGN tipe I.
3. Nefropati Immunoglobulin A (IgAN); ketika hematuria terjadi dengan sakit
akut dan terutama rekuren, sebaiknya dipertimbangkan Nefropati IgAN.
Meskipun jarang pada bayi terutama sebelum remaja, IgAn adalah satu dari
glomerulonefritis yang sering terjadi di dunia. Pasien mengalami hematuria
mikroskopik persisten diantara episode hematuria kasar dan serum
komplemen normal. Serum IgA mungkin meningkat pada IgAN, tetapi
sensitivitas diagnostik pemeriksaan ini rendah, terutama pada anak.
Berbagai macam protokol pengobatan meliputi penggunaan kortikosteroid,
imunosupresif, minyak ikan/asam lemak omega 3, ACE inhibitor, dan
reseptor bloker dengan efikasi yang bervariasi.
4. Henoch Schonstein Purpura Nephritis (HSPN); hematuria kasar pada nyeri
abdomen dengan atau tanpa perdarahan tinja, atralgia, dan ruam purpura
meliputi bokong dan ekstremitas bawah memberi kesan diagnostik HSP,
vaskulitis terbanyak pada anak.

5. Nefrolitiasis, nyeri pinggang yang berhubungan dengan hematuria kasar


seharusnya memberi kesan diagnosis nefrolitiasis. Batu kalsium oksalat
merupakan tipe batu yang paling banyak dan sering dihubungkan dengan
hiperkalsiuria. Adalah penting untuk menilai anak dengan nefrolitiasis
untuk penyakit batu metabolik, termasuk hiperoxaluria dan kistinuria,
dimana mengakibatkan penyakit ginjal tahap akhir. Batu yang kurang dari 5
mm bisa keluar sendiri, tetapi batu yang lebih besar mungkin membutuhkan
intervensi urologi, meliputi Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy
(ESWL). Penyebab jarang dari nyeri pinggang berulang dan hematuria
kasar adalah Sindrom Nutcracer (kompresi vena renalis diantara arteri
mesentrika superior dan aorta abdominalis)
6. Penyakit Sickle Sell/Trait: pasien dengan penyakit sickle sel atau trait
mungkin berkembang menjadi hematuria kasar dan atau hematuria
mikroskopik. Hematuria pada pasien dengan penyakit sickle sell atau trait
sering dikarektirisasikan hematuria mikroskopik ketika diobservasi pada
pada penyakit sickle sel mungkin disertai hematuria mikroskopik atau
hematuria kasar. Hematuria sering terjadi sekunder dari perkembangan
infark papiler ginjal yang merupakan hasil dari oklusi pembuluh darah vasa
rekta. Nekrosis papiler terjadi lebih banyak pada daerah hipoksia, asidosis,
osmolalitas yang tinggi dan derah yang statis. Perempuan lebih sering
terkena pada ginjal kiri dibandingkan dengan ginjal kanan.
7. Trombosis arteri/vena renalis: penyakit ini seharusnya secara kuat
dipertimbangkan pada neonatus dengan hematuria. Pada trombosis arteri
renalis biasanya terdapat riwayat patent duktus arteriosus. Keberadaan
hematuria mikroskopiok atau hematuria kasar berhungan dengan hipertensi.
Mungkin juga terdapat oliguria, dan gagal ginjal akut jika lesi bilateral.
Ultrasonografi renal dengan dopler menunjukan sedikit sampai tidak ada
aliran darah dan mungkin hanya memiliki abnormalitas struktur yang
minor. Trombosis vena renalis mungkin tampak pada dehidrasi, aspiksia,
bayi dengan ibu diabetes, polisitemia, penyakit jantung sianotik, dan skor
APGAR yang rendah dan sering dihibungkan dengan trombositopenia.
USG renal menunjukan pembesaran ginjal. Pada trombosis arteri dan vena,
pengobatan meliputi pembatasan pemanjangan klot dan pengobatan faktor
resiko penyebab.