Vous êtes sur la page 1sur 12

I.

KONSEP PENYAKIT
I.1. Definisi
Asma adalah suatu gangguan pada saluran bronkial yang mempunyai ciri
bronkospasme periodic (kontraksi spasme pada saluran napas) terutama pada
percabangan trakeobronkial yang dapat diakibatkan oleh berbagai stimulus seperti
oleh faktor biokemikal, endokrin, infeksi, otonomik, dan psikologi. (Irman Somantri,
2009 : 50)
Asma merupakan penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversible, dimana trakea
dan bronchi berespon secara hiperaktif terhadap stimulan tertentu. (Smeltzer, C.
Suzanne, 2002 : 611)
I.2. Etiologi
Sampai saat ini etiologi asma belum diketahui dengan pasti, suatu hal yang menonjol
pada semua penderita asma adalah fenomena hiperreaktivitas bronkus. Bronkus
penderita asma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non-imunologi.
Namun, ada faktor-faktor pencetus yang menimbulkan asma dan digolongkan menjadi
2, yaitu:
a. Faktor predisposisi

Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya
mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi
ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan
faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa
diturunkan.

b. Faktor presipitasi

Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga,
jamur, bakteri, polusi
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut ex: makanan dan obat-obatan
3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulitex: perhiasan, logam dan jam tangan

Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir
yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang

serangan berhubungan dengan musim, seperti; musim hujan, musim kemarau, musim

bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
Stress
Stress/ gangguan emosi bukan penyebab asma namun dapat menjadi pencetus serangan
asma, selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang
timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat
untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya

belum bisa diobati.


Lingkungan Kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan
dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik
asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan

aktifitas jasmani atau olah raga yang berat.


Lari Cepat
Paling mudah menimbulkan serangan asma.
Obat-obatan
Beberapa klien asma bronkhial sensitif atau alergi terhadap obat tertentu seperti pennisilin,
salisilat, beta blocker dan kodein.

I.3. Manifestasi Klinis


BATUK
Batuk kering, paroksismal, iritatif, dan nonproduktif. Kemudian menghasilkan
sputum yang berbusa, jernih, dan kental.
TANDA-TANDA TERKAIT PERNAFASAN
Sesak nafas
Fase ekspirasi memanjang
Mengi dapat terdengar (wheezing)
Tulang zigomatik memerah dan telinga merah
Bibir berwarna merah gelap
Dapat berkembang menjadi sianosis pada dasar kuku dan/atau sianosis sirkumoral
Gelisah
Ketakutan
Berkeringat semakin banyak sejalan dengan berkembangnya serangan asma.
Berbicara dengan frase yang singkat, epatah-patah, dan terengah-engah
DADA
Hiperesonansi pada perkusi
Bunyi nafas kasar dan keras
Mengi di seluruh bidang paru
Ekspirasi memanjang
Ronhi kasar
Mengi pada saat inspirasi dan ekspirasi nada meninggi
PADA EPISODE BERULANG

Dada barrel
Bahu meninggi
Penggunaan otot-otot pernapasan tambahan
Tamplan wajah tulang zigomatik mendatar, lingkaran disekeliling mata, hidung
mengecil, gigi atas menonjol

I.4. Klasifikasi
1. Asma Alergik/Ektrinsik, merupakan suatu bentuk asma dengan allergen seperti
bulu binatang, debu, ketombe, tepung sari, makanan, dan lain-lain. Alergen
terbanyak adalah airborne dan musiman (seasonal). Klien dengan asma alergik
biasanya mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat
pengobatan eksim atau rhinitis alergik. Paparan terhadap alergi akan mencetuskan
serangan asma. Bentuk asama ini biasanya dimulai sejak kanak-kanak.
2. Idiopatik atau Nonalergik Asma/Intrinsik, tidak berhubungan secara langsung
dengan allergen spesifik. Faktor-faktor seperti common cold, infeksi saluran nafas
atas, aktivitas, emosi/stress, dan polusi lingkungan akan mencetuskan serangan.
Beberapa agen farmakologi seperti antagonis -adrenergik dan bahan sulfat
(penyedap makanan) juga dapat menjadi faktor penyebab. Serangan dari asma
idiopatik atau nonalergik menjadi lebih berat dan seringkali dengan berjalannya
waktu dapat berkembang menjadi bronchitis dan emfisema. Pada beberapa kasus
dapat berkembang menjadi asma campuran. Bentuk asma ini biasanya dimulai
ketika dewasa (>35 tahun).
3. Asma campuran (Mixed Asma), merupakan bentuk asma yang paling sering.
Dikarakteristikan dengan bentuk kedua jenis asma alergi dan idiopatik dan
nonalergi.
I.5. Tingkat Keparahan
TINGKAT 1: ASMA INTERMITEN RINGAN
Gejala <2 kali seminggu
Eksaserbasi singkat (dari beberapa jam sampai beberapa minggu), intensitas dapat

bervariasi
Gejala di malam hari <2 kali sebulan
PEF asimtomatik dan normal diantara eksaserbasi
PEF atau FEV >80% dari nilai yang sudah diperkirakan
Variabilitas PEF <20%

TINGKAT 2: ASMA PERSISTEN RINGAN

Gejala >2 kali seminggu, namun <1 kali sehari


Eksaserbasi dapat mempengaruhi aktifitas
Gejala di malam hari >2 kali sebulan
PEF atau FEV >80% dari nilai yang sudah diperkirakan

Variabilitas PEF 20% sampai 30%


TINGKAT 3: ASMA PERSISTEN SEDANG

Gejala setiap hari


Penggunaan inhalasi agonis , kerja singkat
Eksaserbasi mempengaruhi aktifitas
Eksaserbasi >2 kali seminggu
Eksaserbasi dapat berlangsung berhari-hari
Gejala di malam hari >1 kali seminggu
PEF atau FEV60% sampai 80% dari nilai yang sudah diperkirakan
Variabilitas PEF > 30%

TINGKAT 4: ASMA PERSISTEN BERAT

Gejala kontinu
Eksaserbasi sering
Gejala lebih sering di malam hari
Aktifitas fisik terbatas
PEF atau FEV <60% dari nilai yang sudah diperkirakan
Variabilitas PEF >30%

I.6. Komplikasi
a. Hipoksemia
Hipoksemia adalah penurunan nilai PaO 2 < 55 mmHg, dengan nilai saturasi
oksigen < 85%. Pada awalnya klien akan mengalami perubahan mood, penurunan
konsentrasi, dan menjadi pelupa. Pada tahap lanjut akan timbul sianosis.
b. Asidosis Respiratori
Timbul akibat dari peningkatan nilai PaCO2 (hiperkapnea). Tanda yang muncul
antara lain nyeri kepala, fatigue, letargi, dizziness, dan takikapnea.
c. Infeksi Respiratori
Infeksi pernafasan akut disebabkan karena peningkatan produksi mukus dan
rangsangan otot polos bronchial serta edeuma mukosa. Terbatasnya alira udara
akan menyebabkan peningkatan kerja nafas dan timbulnya dyspnea.
d. Gagal Jantung
Terutama kor pulmonal (gagal jantung kanan akibat penyakit paru), harus
diobservasi terutama pada klien dengan dispnea berat. Komplikasi ini sering kali
berhubungan dengan bronchitis kronis, tetapi kllien dengan emfisema berat juga
dapat mengalami masalah ini.
e. Kardiak Disritmia
Timbul karena hipoksemia, penyakit jantung lain, efek obat atau asidosis
respiratori.
f. Status Asmatikus
Merupakan komplikasi mayor yang berhubungan dengan asma bronkial. Penyakit
ini sangat berat, potensial mengancam kehidupan, dan seringkali berespon

terhadap terapi yang biasa diberikan. Penggunaan otot bantu pernafasan dan
distensi vena leher seringkali terlihat pada klien dengan asma.
I.7. Pemeriksaan Penunjang
1. Lung Function Test (Uji Fungsi Paru), mengevaluasi keberadaan dan derajat
penyakit paru, serta respon terhadap terapi.
2. Skin Test (Uji Kulit), mengidentifikasi allergen spesifik dan mengetahui
petnyebab dari asma
3. Chest X-Ray (Foto Toraks), komplikasi (pneumotoraks) atau untuk memeriksa
pulmonary shadow dengan allergic bronchypulmonary aspergilosis.
4. Histamine Bronchial Provocation Test, mengindikasikan adanya airway yang
hiperresponsif, biasanya ditemukan pada seluruh penyakit asama terutama pasien
dengan gejala utama batuk. Tidak boleh dilakukan pada pasien dengan fungsi paru
batuk (FEV1 <1,5 L).
5. Blood and Sputum Test, pasien asma mungkin memiliki peningkatan eosinofil di
darah perifer (>9,4 x 109 L).
II.

ASUHAN KEPERAWATAN
II.1.
Pengkajian
a. Identitas Pasien
Nama
: Anak X
Umur
: 8 tahun
Alamat : b. Keluhan Utama
Sesak nafas disertai batuk terutama pagi hari, nafas berbunti ngiik, dan wajah
tampak pucat. Sesak terjadi kedua kalinya dalam satu minggu terakhir.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Sesak nafas disertai batuk.
d. Riwayat Kesehatan Dahulu
Anak pernah sesak nafas saat malam hari duakali dalam satu bulan ini.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
f. Pola Aktifitas
Bermain pacuan kuda di lapangan berdebu.
g. Pemeriksaan Fisik
RR : 24x / menit
HR : 100x / menit
Suhu : 37,4oC
Dyspnea (+)
Wheezing
Ekspirasi memanjang
h. Terapi/Penatalaksanaan Medis
Pemeriksaan Spirometri
Nebulisasi dengan Albuterol 0,09 mg
i. Analisis Data
No.

Data

Etiologi

Masalah

1.

DS:
Klien mengatakan sesak
nafas.

Faktor pencetus serangan

Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas.

Edema mukosa dan


dinding bronkus

DO:
Adanya suara nafas

Peningkatan usaha dan

tambahan dan wheezing,

frekuensi pernafasan

pernafasan >20x/menit.

Penggunaan otot bantu


nafas

Ketidakefektifan bersihan
jalan nafas

2.

DS:
Klien sesak nafas.

Faktor pencetus serangan

Gangguan
pertukaran gas.

Edema mukosa dan


DO:
Frekuensi nafas >20x/menit,

dinding bronkus

nadi >90x/menit, dyspnea,

Peningkatan usaha dan

sianosis, GDA abnormal.

frekuensi pernafasan

Penggunaan otot bantu


nafas

Gangguan pertukaran gas

3.

DS:
Pasien mengeluh nafsu
makan menurun (tak ada
keinginan makan).

Faktor pencetus serangan

Edema mukosa dan


dinding bronkus

DO:
BB, mual/muntah, tampak
letih dan lemah.

Peningkatan usaha dan


frekuensi pernafasan

Penggunaan otot bantu

Keseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan

nafas

Keluhan sistematis,
mual/muntah, intake
nutrisi tidak adekuat,
malaise dan kelelahan fisik

Keseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
4.

DS:

Faktor pencetus serangan

Pasien mengatakan cemas


dengan penyakit yang

Ansietas

Edema mukosa dan

dialami.

dinding bronkus

DO:

Peningkatan usaha dan

Pasien tampak gellisah dan

frekuensi pernafasan

berkeringat dingin.

Penggunaan otot bantu


nafas

Keluhan psikososial,
kecemasan, ketidaktahuan
akan prognosis

Ansietas

II.2.
Diagnosa
Diagnosa I : Bersihan

jalan

nafas

tidak

efektif

berhubungan

dengan

bronkokontriksi, bronkospasme, edeuma mukosa dan dinding bronkus,


serta sekresi mukus yangkental.
Diagnosa II : Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan gangguan suplai
O2 dan kerusakan alveoli.
Diagnosa III : gangguan pemenuhan nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan dengan penurunan nafsu makan.


Diagnosa IV : Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yag
tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan.

II.3.

Intervensi
No.

Diagnosa

1.

Diagnosa 1

Tujuan
Dalam waktu 3x24 Kaji

Intervensi
warna

Rasional
dan Karakteristik sputum

jam setelah diberikan kekentalan sputum


posisi
semi
tindakan,
bersihan Atur
jalan nafas kemballi fowler
Ajarkan cara
efektif
efektif

Bantu
Kriteria Hasil:
Dapat
melakukan

dapat

menunjukan

berat

ringanya

obstruksi
batuk Meningkatnya
ekspansi dada
klien Batuk yang terkontrol
nafas dan efektif dapat

mendemonstrasikan dalam
memudahkan
Pertahankan
intake
batuk efektif
pengeluaran
sekret
Dapat menyatakan cairan
sedikitnya
yang
melekat
strategi
untuk 2500 ml/hari
Kolabrasi
dengan padajalan nafas
menurunkan
Ventilasi
maksimal
melakukan fisioterapi
kekentalan sekresi
lumen
Tidak ada suara nafas dada dengan teknik membuka
jalan
nafas
dan
tambahan,
postural
drainase,
menigkatkan gerakan
wheezing (-)
perkusi dan fibrasi
Pernafasan
klien
secret kedalam jalan
dada
normal (16-20x per Agen mukolitik
nafas besar untuk
menit) tanpa ada Kortikosteroid
dikeluarkan
Hidrasi yang adekuat
penggunaan
otot
membantu
bantu nafas
mengencerkan secket
dn

mengefektifkan

jalan nafas
Fisioterapi

dada

merupakan

strategi

untuk mengeluarkan
sekret
Pemberian
bronkodilator
inhalasi

via

langsung

menuju bronkus yang


mengalami spasme
Agen
mukolitik

menurunkan
kekentalan

dan

kelengketan
paru

secret
sehingga

memudahkan
pembersihan
Kortikosteroid
berguna

pada

keterlibatan

luas

dengan
dan

hipoksemia
menurunnya

reaksi

inflamasi

akibat

edeuma

mukosa dan dinding


bronkus
2

Diagnosa 2

Dalam waktu 3x24


Kaji keefektifan jalan
Bronkhospasme
jam setelah diberikan naps
Kolaborasi
intervensi
keperawatan,

pemberian

deteksi
untuk

di
ketika

terdengar mengi saat


di auskultasi dengan

gas bronkhodilator secara stetoskop


Terapi
aerosol
aerosol
membaik.

Lakukan
fisioterapi
Kriteria Hasil :
membantu
RR = 16-20x/menit
dada
mengencerkan sekresi
HR 70-90x/menit Kolaborasi
untuk
Sianosis (-)
sehingga
dapat
pemantauan
analisa
Dyspnea (-)
dibuang
GDA normal
gas arteri
Bronkhodilator yang
Kolaborasi pemberian
dihirup
sering
O2 via nasal
ditambahkan kedalam
pertukaran

nebulizer
memberikan

untuk
aksi

bronkhodilator
langsung pada jalan
napas,
demikian
memperbaiki

dengan

pertukaran gas
Setelah
inhalasi
bronkhodilator
nebulizer,

klien

disarankan

untuk

meminum air putih


untuk

lebih

mengencerkan sekresi
Sebagai
bahan
evaluasi

setelah

melakukan intervensi
O2 diberikan ketika
terjadi hipoksemia

Diagnosa 3

Dalam

waktu
Kaji

status

3x24jam

setelah klien,

diberikan

tindakan, integritas

intake nutrisi klien oral,

nutrisi
Memvalidasi

turgor,

BB, menetapkan

&
derajat

mukosa masalah

untuk

kemampuan, menetapkan

pilihan

terpenuhi.
riwayat mual/muntah
Kriteria Hasil :

&
diare
Klien
dapat
Pantau intake-output,
mempertahankan
timbang BB secara
status gizinya dari

periodik
semula kurang jadi
Lakukan & ajarkan

intervensi
Berguna

dalam

mengukur keefektifan
intake gizi & cairan
Menurunkan
rasa
tidak enak karena sisa

adekuat
perawatan mulut
makanan yang dapat
Pernyataan motivasi
Kolaborasi
dengan
merangsang muntah
kuat
untuk ahli
Merencanakan
diet
gizi
untuk
memenuhi

menetapkan

kebutuhan nutrisi

komposisi

dengan
&

kandungan

jenis gizi cukup


Memaksimalkan

yang tepat
Fasilitas
pemberian intake nutrisi
Menilai
kemajuan
diet, berikan dalam
terapi diet
porsi kecil
Multivitamin
Kolaborasi pemberian
multivitamin

bertujuan

untuk

memenuhi kebutuhan
vitamin
4

Diagnosa 4

Dalam

waktu
Bantu

dalam
Pemanfaatan sumber

1x24jam

klien mengidentifikasi

memahami koping yang ada


Ajarkan
teknisi
&
menerima
keadaanya sehingga relaksasi
Pertahankan hubungan

tidak
terjadi
saling percaya
kecemasan
Kaji
faktor
yang
Kriteria Hasil :
rasa
Klien terlihat mampu menimbulkan

beradaptasi dengan cemas


Bantu klien mengenali
keadaanya
Respon non verbal dan mengakui rasa
klien tampak lebih cemasnya
mampu

rileks

koping yang ada


Mengurangi
ketegangan otot dan
kecemasan
Hubungan
percaya

saling
membantu

memperlanjar proses
terapeutik
Rasa

cemas

merupakan efek emosi


sehingga
sudah

apabila

teridentifikasi

dengan

baik

perasaan

yang

mengganggu

dapat

diketahui
III.

PENATALAKSANAAN
3.1 Penatalaksanaan Farmakologi
2 Agonis Adrenergik
Digunakan untuk pengobatan eksaserbasi akut dan pencegahan bronkospasme akibat
latihan. Obat ini diberikan dalam bentuk inhalasi dengan nebuliser, oral atau
parenteral. Selain bekerja sebagai bronkodilatasi, 2 Agonis Adrenergik dapat
meningkatkan fungsi clereance silia, mengurangi edema dan menghambat kebocoran
kapiler. Obat 2 Agonis Adrenergik ini memiliki dua golongan yaitu sebagai obat

untuk serangan asma dan obat pengendali asma.


o Obat serangan asma : salbutamol dan terbutalin
o Obat pengendali asma : salmeterol dan formeterol
Metilxantin
Pada obat Metilxantin ini yang sering digunakan untuk pengobatan asma adalah
teofilin yang fungsinya untuk mengurangi gejala asma dan mencegah serangan asma.
Selain memiliki efek bronkodilator, teofilin juga merupakan stimulan pernapasan

sentral dan mengingkatkan kontraktilitas otot pernapasan.


Natrium Kromolin
Merupakan jenis obat nonsteroid untuk asma. Obat ini berfungsi untuk menstabilkan
sel mast, menghambat aktivasi dan pelepasan mediator dari eosinofil dan sel-sel
epitelial, menghambat penyempitan jalan nafas akut akibat aktivitas fisik dan udara

dingin.
Kortikosteroid

maka

Merupakan obat anti inflamasi yang digunakan untuk mengatasi obstruksi jalan nafas
yang reversible dan mengendalikan gejala serta mengurangi hiperaktivitas bronkus
pada asma kronis. Obat ini dapat diberikan secara parenteral, oral atau aerosol.
3.2 Penatalaksanaan Non Farmakologi
Latihan Fisik
Latihan fisik dapat bermanfaat bagi anak-anak penderita asma, dan sebagian besar
anak dapat berpartisipasi dalam aktivitas di sekolah dengan kesulitan minimal

sehingga asma dapat dikendalikan.


Fisioterapi dada
Terapi ini mencakup latihan bernapas dan latihan fisik. Terapi ini dapat membantu
relaksasi fisik dan mental, memperbaiki postur, memperkuat otot pernapasan dan
membentuk pola pernapasan yang efisien.

PATOFISIOLOGI
Faktor pencetus
(allergen)
Antibodi dan antigen

permeabilitas

Kontraksi otot polos

Sekesi mukus

kapiler
Bronkospasme

MK: Bersihan jalan

Kontraksi otot

polos
Edeuma mukosa
Hipersekresi

nafas tak efektif


Obstruksi saluran
nafas

Peningkatan sekret

Sesak nafas saat


ekspirasi
Tekanan di dada

Penyempitan jalan

Hipoventilasi

nafas
kerja pernafasan
Asidosis
Meningkatnya
Hiperventilasi
Retensi
Respiratori
CO2

Batuk
Distribusi gas tidak
MK: gangguan
merata
Gangguan
Hipoksemia
difusi
pertukaran
gasgas

MK: Wheezing
deficit