Vous êtes sur la page 1sur 33

ANALISIS DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN

KEBERADAAN INDUSTRI BATIK PURWANTI


DI DESA JARUM, BAYAT, KLATEN
Disusun guna melengkapi tugas Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan
Dosen pengampu : S. Eko Windarso, SKM., M.Ph.

Disusun oleh :
VERONICA DWI RATNASARI
(P07133213076)

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
TAHUN 2015/2016

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. LATAR BELAKANG ............................................................................ 1
B. TUJUAN ............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 3
A. LATAR BELAKANG ............................................................................ 3
1. Latar Belakang Riwayat ................................................................. 3
2. Kunjungan Lapangan..................................................................... 4
3. Kepedulian Masyarakat Terhadap Dampak .................................... 5
4. Kontaminasi Bahaya Lain .............................................................. 6
5. Gugus Kendali Mutu ...................................................................... 7
6. Bahaya Fisik dan Bahaya Lain ....................................................... 9
B. ANALISA JALUR ................................................................................ 17
1. Jalur Pemajanan ........................................................................... 17
2. Identifikasi dan Evaluasi Pemajanan .............................................. 18
3. Media Lingkungan dan Transport ................................................... 19
4. Transformasi dan Mekanisme Transport ......................................... 20
5. Titik Pemajanan............................................................................. 20
6. Cara Pemajanan ........................................................................... 21
7. Populasi Reseptor ......................................................................... 21
8. Jalur Pemajanan Riil ...................................................................... 21
C. DAMPAK KESEHATAN MASYARAKAT .............................................. 22
1. Evaluasi Toksikologi ...................................................................... 22
2. Evaluasi Outcome Kesehatan ........................................................ 23
3. Evaluasi Kepedulian Masyarakat .................................................... 25
BAB III PENUTUP .......................................................................................... 26
A. KESIMPULAN..................................................................................... 26
B. REKOMENDASI ................................................................................. 26
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 28

ii

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Baku Mutu Air Limbah Bagi Kawasan Industri .................................... 7
Tabel 2. Baku Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Industri ..................................... 8
Tabel 3. Hasil penelitian uji Toksisitas Naphtol ................................................ 15
Tabel 4. Evaluasi pemajanan dekat (10m) dari sumber pencemar .................. 22
Tabel 5. Evaluasi pemajanan jauh ( 30m) dari sumber pencemar ................... 23

iii

iv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Industri batik di Indonesia umumnya merupakan industri/usaha
kecil menengah (UKM) yang menjadi mata pencaharian sebagian
masyarakat. Bayat merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten
Klaten yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai pengrajin
batik. Pusat kerajinan batik di Bayat berada di Desa Jarum, Desa Kebon
dan Desa Paseban.
Suksesnya perdagangan batik di Bayat sayangnya menimbulkan
permasalahan lingkungan tersendiri. Hal ini disebabkan sejumlah besar
UKM batik di Bayat masih menggunakan lilin, pewarna kimia (naptol)
serta pemutih secara berlebihan, dimana semua itu memiliki dampak
negatif terhadap lingkungan dan masyarakat.
Dari aspek penggunaan bahan kimia, industri batik merupakan
industri yang potensial menghasilkan limbah yang mengandung logam
berat dan dikategorikan sebagai limbah berbahaya, sehingga dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan. Seiring dengan peningkatan
produksi batik, maka permasalahan lingkungan juga akan semakin
meningkat. Permasalahan tersebut disebabkan karena proses produksi
seringkali mengakibatkan pemborosan material dan energi serta akibat
pembuangan limbahnya yang akan membebani lingkungan.
Secara keseluruhan, sumber utama air limbah industri batik
berasal dari proses yang berkaitan dengan proses pewarnaan. Selain
kandungan zat warnanya tinggi, limbah industri batik juga mengandung
bahan-bahan sintetik yang sukar larut atau sukar diuraikan. Setelah
proses pewarnaan selesai, akan dihasilkan limbah cair yang berwarna
keruh dan pekat. Biasanya warna air limbah tergantung pada zat warna
yang digunakan. Limbah air yang berwarnawarni ini yang menyebabkan
masalah terhadap lingkungan.
Limbah zat warna yang dihasilkan dari industri batik umumnya
merupakan

senyawa

organik

non-biodegradable,

yang

dapat

menyebabkan pencemaran lingkungan terutama lingkungan perairan.


Salah satu contoh zat warna yang banyak dipakai industri batik adalah

naptol dan indigosol. Dalam pewarnaan, senyawa ini hanya digunakan


sedikit sedangkan sisanya akan dibuang sebagai limbah. Senyawa ini
cukup stabil sehingga sangat sulit untuk terdegradasi (terurai) di alam dan
berbahaya bagi lingkungan apalagi dalam konsentrasi yang sangat tinggi
karena dapat menaikkan COD (Chemical Oxygen Demand). Selain itu
efek negatif pewarna kimiawi dalam proses pewarnaan adalah risiko
terkena kanker kulit. Hal ini terjadi karena saat proses pewarnaan,
umumnya para perajin tidak menggunakan sarung tangan sebagai
pengaman, kalaupun memakai, tidak benar-benar terlindung secara
maksimal. Akibatnya, kulit tangan terus-menerus bersinggungan dengan
pewarna kimia berbahaya seperti Naptol.
Bahan kimia yang termasuk dalam kategori B3 (bahan beracun
berbahaya) ini dapat memicu terjadinya kanker kulit. Selain itu, limbah
pewarna yang dibuang sembarangan, juga bisa mencemari lingkungan
dan menyebabkan ekosistem sungai rusak. Akibatnya, ikan ikan mati
dan air sungai tidak dapat dimanfaatkan lagi. Lebih dari itu, air sungai
yang telah tercemar meresap ke sumur dan mencemari sumur yang
digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari
Dengan demikian, sangat penting bagi para pengrajin (UKM) batik
untuk memperhatikan aspek-aspek lingkungan dalam tiap proses agar
dapat mencegah terjadinya pemborosan bahan dan energi serta mampu
menciptakan keserasian dengan lingkungan sekitarnya. Agar memenuhi
batas aman pembuangan limbah batik pada lingkungan yang ditetapkan,
maka harus dilakukan pengolahan terhadap limbah sehingga memenuhi
baku mutu sebelum dibuang ke lingkungan atau sungai.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui keluhan masyarakat sekitar Industri Batik Purwanti
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui analisis dampak lingkungan sekitar industri Batik
Purwanti
b. Mengetahui kandungan air sumur di sekitar industri Batik
Purwanti yang telah tercemar limbah

BAB II
PEMBAHASAN
A. LATAR BELAKANG
1. Latar Belakang Riwayat
Nama pemilik

: Purwanti Susana Dewi

No. telepon

: 085728800303/ 087834766696

Alamat

: Pandungrejo, Jarum, Bayat, Klaten

Nama Usaha

: Batik Purwanti

Batik Purwanti ini didirikan sejak tahun 1968 oleh Ibu Purwanti dan
bertahan hingga sekarang. Saat ini Batik Purwanti telah memiliki 100
pekerja yang terdiri dari 70 pekerja wanita dan 30 pekerja pria. Batik
Purwanti teletak di Dusun Pandungrejo, Desa Jarum, Kecamatan Bayat,
Kabupaten Klaten. Dimana wilayah ini merupakan dusun yang padat
penduduk. Daerah ini berbatasan dengan wilayah sebagai berikut:
a. Utara

: Kecamatan Trucuk dan Kecamatan Kalikotes

b. Selatan

: Kecamatan Gedangsari

c. Timur

: Kecamatan Cawas

d. Barat

: Kecamatan Wedi

Setiap minggunya Batik Purwanti mampu memproduksi batik tulis


kurang lebih 80 lembar kain dengan motif khas Bayat yaitu Gajah Birowo,
Pintu Retno, Parang Liris, Babon Angrem, dan Mukti Wirasat. Untuk
menghasilkan kain batik yang siap dipasarkan maka harus melalui proses
penggambaran

motif

batik,

pembatikan,

pencelupan/pewarnaan,

pengeringan, dan pengemasan.


Sampai saat ini Batik Purwanti masih menggunakan pewarna kimia
karena warna yang dihasilkan lebih tajam dan proses pembuatannya lebih
cepat. Pewarna kimia yang biasa digunakan adalah Naptol dan Indigosol.
Proses pewarnaan yang dilakukan di workshop Batik Purwanti seminggu
bisa 4 kali sehingga limbah sisa pewarnaan yang dihasilkan lumayan
banyak. Semakin banyaknya limbah yang dihasilkan maka permasalahan
lingkungan juga akan semakin meningkat. Permasalahan tersebut
disebabkan karena Naptol, zat reaktif, soda abu dan Indigosol tergolong
bahan kimia beracun dan berbahaya (B3) yang sulit terdegradasi.

2. Kunjungan Lapangan
a. Kunjungan Hari I
i.

Hari/Tanggal : Senin, 15 September 2016

ii.

Waktu

: 09.00 selesai

iii.

Pengunjung

: Veronica Dwi Ratnasari

iv.

Materi

: Survey awal lokasi

b. Kunjungan Hari II
i.

Hari/Tanggal : Senin, 19 September 2016

ii.

Waktu

: 09.00 selesai

iii.

Pengunjung

: Veronica Dwi Ratnasari

iv.

Materi

: Pengambilan Sampel

c. Kunjungan Hari III


i.

Hari/Tanggal : Senin, 26 September 2016

ii.

Waktu

: 09.00 selesai

iii.

Pengunjung

: Veronica Dwi Ratnasari

iv.

Materi

: Wawancara dengan masyarakat sekitar

d. Demografi Penggunaan Lahan & Sumber Daya Alam


Usaha Batik Purwanti merupakan salah satu indutri batik yang
terletak di Dusun Pandungrejo, Desa Jarum, Kecamatan Bayat,
Kabupaten Klaten. Luas lahan tempat usaha Batik Purwanti 100 m 2
(20m x 50m) dengan luas bangunan 90m 2. Bangunan tersebut
tersebut terbagi menjadi beberapa bagian yaitu gudang bahan baku,
tempat pembuatan pola, tempat pembatikan, tempat pencelupan,
tempat penjemuran, tempat pengemasan dan galeri tempat penjualan
produk.
Dalam pembuatan produksi kain batik, sangat dibutuhkan
Sumber Daya Alam yang mendukung, diantaranya air, kayu bakar
dan sinar matahari. Air digunakan dalam proses pencelupan/
pewarnaan dan pencucian 10 m 3/ minggu yang bersumber dari
sumur gali. Kayu bakar digunakan untuk proses pelorodan 10 ikat
yang bersumber dari penjual kayu. Dan sinar matahari untuk proses
penjemuran/pengeringan.

e. Data Outcome Kesehatan


Masalah kesehatan yang sering dikeluhkan oleh pekerja Batik
Purwanti adalah gatal gatal pada tangan dan kaki pekerja, pada
bagian pewarnaan. Hal ini disebabkan karena pada proses
pewarnaan

pekerja

tidak

menggunakan

APD

dan

hanya

menggunakan celana pendek.


Banyak pula keluhan nyeri punggung dan nyeri lutut akibat posisi
kerja pada proses pembatikan hanya duduk di kursi pendek yang
tidak

ergonomis.

Selain

itu

beberapa pekerja pada proses

pembatikan mengalami sesak nafas, hal ini disebabkan karena pada


proses

pemanasan

malam

batik

menghasilkan

asap

yang

mengandung NO, CO, CH, H, dan S.


f.

Kepedulian masyarakat
Dampak negatif yang diterima warga sekitar workshop adalah air
sumur yang tercemar pewarna batik sehingga menyebabkan air
sumur tidak memenuhi syarat fisik dan tidak layak untuk dikonsumsi.
Hal ini disebabkan oleh limbah cair sisa pewarnaan dan pencucian
Batik Purwanti yang dibuang ke saluran pembuangan (parit).
Masyarakat yang sumurnya tercemar limbah Batik Purwanti tidak lagi
menggunakan air tersebut untuk kebutuhan makan dan minum.
Untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, masyarakat
menggunakan air isi ulang dan atau meminta air sumur milik tetangga
yang tidak tercemar. Dengan demikian maka hubungan sosial dan
kekeluargaan dengan tetangga menjadi lebih baik.

3. Kepedulian Masyarakat Terhadap Dampak Negatif


Usaha Batik Purwanti menghasilkan limbah padat dan limbah
cair. Limbah cair dari proses produksi Batik Purwanti disalurkan ke
saluran pembuangan (parit). Selokan yang digunakan untuk pembuangan
belum diplester sehingga limbah cair dapat meresap kedalam tanah dan
kemudian mencemari tanah dan mencemari air permukaan serta air
sumur. Masyarakat sudah banyak yang mengeluhkan tentang terjadinya
pencemaran lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. Bahkan

sebagian sudah melakukan protes kepada pemilik Batik Purwanti, dan


meminta pertanggungjawaban atas dampak dari kegiatan usaha batik
tersebut.
Saat ini masyarakat yang sumurnya tercemar limbah tidak lagi
menggunakan air tersebut untuk kebutuhan makan dan minum. Untuk
memenuhi kebutuhan makan dan minum, masyarakat menggunakan air
isi ulang dan atau meminta air sumur milik tetangga yang tidak tercemar.
Masyarakat yang masih nekat menggunakan air sumur untuk kegiatan
mandi dan mencuci mengalami gatal gatal (dermatitis) pada kulit.
4. Kontaminasi dan Bahaya Lain
a. Kontaminasi di dalam kompleks
Industri batik mengandung beberapa bahan yaitu parafin,
gondorukem, damar, microwax dan lemak hewan. Bahan bahan
tersebut diproses menjadi satu disebut malam batik. Untuk membuat
motif batik pada kain, malam batik dipanaskan sehingga keluar asap
malam

batik

yang

mengandung

polutan

dan

menimbulkan

pencemaran lingkungan kerja. Polutan tersebut terdiri dari gas gas


dan partikel. Satu hasil analisa kualitatif menunjukkan bahwa asap
malam batik mengandung NO, CO, CH, H, dan S. Gas ini dapat
menimbulkan gangguan faat paru dan jika proses ini berjalan lama
mungkin menimbulkan penyakit akibat kerja. Polusi ini diperkirakan
menimbulkan kerusakan akut atau kronis pada saluran pernafasan
dan jaringan paru, namun hal ini tergantung pada konsenstrasi
polutan, lama terpapar dan kerentanan tubuh.
Selain itu dlam proses pewarnaan, pekerja melakukan kontak
langsung dengan bahan kimia tanpa menggunakan APD. Bahaya
utama yang mungkin timbul akibat kontak dengan bahan kimia pada
proses pewarnaan adalah iritasi mata, kulit dan saluran pernapasan,
kerusakan hati dan ginjal.
. Selain itu pekerja pada bagian pelorodan dengan kondisi ruang
kerja yang panas akan cepat merasa lelah dan dehidrasi sehingga
menyebabkan tidak fokus pada saat bekerja yang kemudian bisa
menimbulkan kecelakaan kerja. Pekerja pada bagian pembatikan

akan cepat mengalami kelelahan kerja, nyeri otot punggung dan nyeri
pada lutut akibat posisi kerja yang tidak ergonomis.
b. Kontaminasi di luar kompleks
Industri batik merupakan salah satu penghasil limbah cair yang
berasal dari proses pewarnaan. Selain kandungan zat warna tinggi,
limbah industri batik juga mangandung bahan bahan sintetik yang
sukar larut dan sukar terurai. Setelah proses pewarnaan selesai akan
dihasilkan limnah cair yang berwarna keruh, hitam peka. Biasanya
warna air limbah tergantung pada zat warna yang digunakan. Limbah
air yang berwarna dapat mencemari tanah dan sumur masyarakat
disekitar industri. Air sumur yang tadinya jernih berubah menjadi
berwarana keruh, hitam pekat serta berbau dan menyebabkan air
sumur tidak dapat dikonsumsi
5. Gugus Kendali Mutu
Dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup perlu dilakukan
upaya pengendalian terhadap usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi
mencemari lingkungan hidup, maka pemerintah mengeluarkan Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 03 Tahun 2010 Tentang Baku
Mutu Air Limbah Bagi Kawasan Industri.
Tabel 1. Baku Mutu Air Limbah Bagi Kawasan Industri
Kadar
No

Parameter

1.

Ph

2.

Satuan

Maksimal

6-9

TSS

mg/L

150

3.

BOD

mg/L

50

4.

COD

mg/L

100

5.

Sulfida

mg/L

6.

Amonia (NH3-N)

mg/L

20

7.

Fenol

mg/L

8.

Minyak dan Lemak

mg/L

15

9.

MBAS

mg/L

10

10.

Kadmium

mg/L

0,1

11.

Krom Heksavalen (Cr6+)

mg/L

0,5

12.

Krom Total (Cr)

mg/L

13.

Tembaga (Cu)

mg/L

14.

Timbal

mg/L

15.

Nikel (Ni)

mg/L

0,5

16.

Seng (Zn)

mg/L

10

17.

Kualitas Air Limbah

0,8 L perdetik per Ha

Maksimum

Lahan Kawasan Terpakai

Menurut Peraturan Gubernur No 7 Tahun 2010 mengenai baku


mutu limbah cair bagi kegiatan industri, pelayanan kesehatan, dan jasa
pariwisata mengatur mengenai parameter limbah cair industri batik
sebagai berikut.
Tabel 2. Baku Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Industri
Kadar dan Beban Pencemar
Parameter

Satuan

Kadar max

Beban pencemar

mg/L

max kg/ton

pH

6.0-9.0
3oC terhadap suhu

Temperatur

udara

Konduktivitas

mhos/cm

1,5625

BOD

mg/L

50

COD

mg/L

100

TSS

mg/L

200

TDS

mg/L

1000

Minyak lemak mg/L

nabati

6. Bahaya Fisik dan Bahaya Lain


a. Bahaya Fisik
Bahaya fisik yang timbul di area produksi Batik Purwanti antara
lain Iklim kerja. Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 tahun 2011 Tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja, iklim
kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan
gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas
dari tubuh tenaga kerja sebagai
dimaksudkan dalam

akibat pekerjaannya, yang

peraturan ini adalah iklim

kerja panas.

Berdasarkan hasil observasi untuk iklim kerja menunjukkan bahwa


pada lokasi pelorodan suhunya sangat panas dengan beban kerja
berat. Tanpa dilakukan pengukuran suhu pun sudah terasa bahwa
suhu di tempat tersebut melebihi Nilai Ambang Batas menurut
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 51 Tahun 1999 tentang Nilai
Ambang Batas (NAB) untuk tekanan panas dengan parameter Indeks
Suhu Basah Bola (ISBB) ditempat kerja adalah sebesar 30 C.
b. Bahaya Mekanik
Kecelakaan dengan sumber bahaya mekanik sering disebut
dengan kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja sendiri dapat ditimbulkan
dari kelalaian pekerja (human error). Terjadinya kesalahan atau
human error memberikan pengaruh terhadap perusahaan karena
dapat

menyebabkan terganggunya proses produksi,

kerugian

material dan waktu. Permasalahan human error dengan frekuensi


kejadian yang jarang masih terjadi di area produksi Batik Purwanti
seperti tertusuk tersiram air panas pelorodan, tersiram malam pada
saat proses pembatikan, dll.

c. Bahaya Kimia
Penggunaan bahan kimia pada proses pewarnaan seperti
Naptol, zat reaktif, soda abu dan Indigosol dapat menimbulkan
bahaya

bagi

menybabkan

kesehatan.
iritasi

mata,

Bahaya
kulit

utamanya
dan

adalah

saluran

dapat

pernapasan.

Menyebabkan darah abnormal serta kerusakan hati dan ginjal. Selain


itu dapat menyebabkan anemia dan kelainan sel darah lainnya.
Inhalasi, terserap melalui kulit atau menelan secera terus menerus
dapat menyebabkan anemia hemolitik yang parah
d. Bahaya Ergonomi
Peningkatan jumlah penyakit akibat kerja seiring dengan tidak
diperhatikannya aspek ergonomi atau ketidaksesuaian antara pekerja
dengan alat kerja di tempat mereka kerja. Karena ketidak sesuaian
tersebut menimbulkan berbagai keluhan dari pekerja Batik Purwanti
seperti

nyeri

punggung akibat

posisi

saat

membatik sedikit

membungkuk, dan tidak ada sandaran. Nyeri lutut kaki akibat posisi
tekukan lutut tidak sesuai dengan standar ergonomi, sehingga perlu
pembuatan kursi yang lebih ergonomis dan tempat untuk meletakkan
kain mori yang akan dibatik sesuai dengan ukuran kursi.
e. Efek Klinis Limbah
Dalam proses pembuatan Batik Purwanti dari pemilihan kain
mori hingga batik siap dipasarkan memiliki hasil samping berupa
limbah cair dan limbah padat. Limbah tersebut merupakan limbah
non-biodegradable dan termasuk limbah B3. Oleh sebab itu apabila
tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan bahaya bagi manusia
maupun ekosistem air. Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan,
perlu diadakan pemanfaatan.
Limbah padat batik dihasilkan pada saat pembatikkan dan
pelorodan, dimana limbah tersebut berupa malam dan abu bakar dari
sisa pembakaran kayu untuk pelorodan. Limbah padat berupa malam
dimanfaatkan kembali untuk pembatikan, sehingga limbah padat ini
tidak menimbulkan masalah.

10

Limbah cair batik dihasilkan pada proses pemlorodan,


pewarnaan dan pencucian. Limbah cair ini mengandung bahan kimia
Naptol, zat reaktif, soada abu dan Indigosol, sehingga kandungan
COD pada air limbah tinggi. Limbah cair yang dihasilkan dibuang ke
saluran pembuangan (parit) dan mengalir kepemukiman warga.
Limbah ini meresap ke dalam tanah yang kemudian mencemari air
permukaan dan air sumur.
Berikut penjelasan mengenai bahan kimia yang terkandung
didalam limbah cair Batik Purwanti:
1) Indigosol
Zat warna indigosol adalah jenis zat warna Bejana yang
larut dalam air. Larutan zat warnanya merupakan suatu larutan
berwarna jernih. Pada saat kain dicelupkan ke dalam larutan zat
warna belum

diperoleh warna yang diharapkan. Setelah

dioksidasi / dimasukkan ke dalam larutan asam (HCl atau


H2SO4) akan diperoleh warna yang dikehendaki.
Obat pembantu yang diperlukan dalam pewarnaan dengan
zat warna indigosol adalah Natrium Nitrit (NaNO2) sebagai
oksidator. Warna yang dihasilkan cenderung warna-warna
lembut / pastel. Dalam pembatikan zat warna indigosol dipakai
secara celupan maupun coletan.
Zat warna Indigosol atau Bejana Larut adalah zat warna
yang ketahanan lunturnya baik, berwarna rata dan cerah. Zat
warna ini dapat dipakai secara pencelupan dan coletan. Warna
dapat timbul setelah dibangkitkan dengan Natrium Nitrit dan
Asam/ Asam sulfat atau Asam florida.
Jenis warna Indigosol antara lain:
a) Indigosol Yellow Indigosol Green IB
b) Indigosol Yellow JGK Indigosol Blue 0 4 B
c) Indigosol Orange HR Indigosol Grey IBL
d) Indigosol Pink IR Indigosol Brown IBR
e) Indigosol Violet ARR Indigosol Brown IRRD
f)

Indigosol Violet 2R Indigosol Violet IBBF.

11

Limbah batik yang mengandung senyawa indigosol sangat


berbahaya karena dapat menyebabkan beberapa dampak bagi
kesehatan. Zat warna ini dapat mengakibatkan penyakit kulit dan
yang sangat membahayakan dapat mengakibatkan kanker kulit
2) Naptol
Naphthol (CI76 605)/Hydroxynaphthalene termasuk zat
warna Azo (Developed Azo Dyes) karena jika digabungkan
dengan garam diazo baru timbul warna dan tidak larut dalam air.
Naphtol tergolong dalam asam organic naftalen alcohol. Napthol
berberntuk serbuk padatan kristal putih dan baunya seperti
etanol. Untuk mendapatkan warna yang jelas maka naptol
memerlukan zat pelarut yaitu soa abu dan garam diazonium atau
biasa disebut garam napthol.
Zat warna napthol sangat sedikit larut dalam air dengan
berat molekul 144,17 g/mol, titik didih 288 0C, titik lebur 94-960C,
titik nyala1440C, kerapatan 1,181g/cm 3,tegangan permukaan 51
dyne/cm, tekanan uap 0,00139 mmHg pada suhu 250C dan
mudah larut dalam alcohol
1-naphthol atau -naphthol adalah hidrokarbon aromatik polisiklik
dengan "khas rumah sakit" bau.

Gambar 1. Rumus struktur dan model molekul 1-naphthol


Naph
tol blue black merupakan salah satu senyawa kimia disazo
aromatik yang diklasifikasikan sebagai zat kimia berbahaya
karena bersifat karsinogenik. Dengan kelarutan 1-5 gram dalam
100 gram air maka penyebarannya akan cepat jika sudah sampai
dilingkungan. Biasanya dilaboratorium,
digunakan

sebagai

pewarna

12

protein

naphtol blue black


pada

membran

nitroselulosa, dan sebagai indikator adanya protein dalam


darah. Sedangkan dalam industri, naphtol blue black digunakan
sebagai pewarna tekstil, cat, tinta, plastik dan kulit. Penelitian ini
dilakukan untuk mendegradasi
warna naphtol

blue

polutan organik yaitu zat

black menggunakan

metoda

sonolisis,

fotolisis dan kombinasi keduanya dengan penambahan TiO2anatase. TiO2-anatase merupakan katalis yang efektif digunakan
untuk mendegradasi senyawa-senyawa organik toksik seperti
pestisida dan zat warna.
Zat warna naptol terdiri dari komponen naftol sebagai
komponen dasar dan komponen pembangkit warna yaitu garam
diazonium atau disebut garam naptol. Naftol mempunyai ciri-ciri
kimia sebagai berikut:
a) Padatan kristal putih,
b) Bau seperti : etanol, sangat sedikit larut dalam air
c) Berat molekul 144,17 g/mol
d) Rumus molekul C10H8O
e) Titik didih 288oC
f)

Titik lebur 94-96OC

g) Titik nyala 144oC


h) Kerapatan 1,181 gr/cm2
i)

Tegangan permukaan 51 dyne/cm

j)

Tekanan uap 0,00139 mmHg pada suhu 25oC

k) Mudah larut dalam alkohol.


Frasa resiko, frasa keamanan, dan tingkat bahaya adalah
sebagai berikut.
g) Peringkat NFPA (skala 0-4) (1, 3, 5, 6)
Kesehatan 2 = tingkat keparahan tinggi
Kebakaran 1 = sedikit dapat terbakar
Reaktifitas 1 = sedikit reaktif

13

h) Klasifikasi EC
R 21/22 = berbahaya jika kontak dengan kulit
R 37/38 = mengiritasi saluran nafas dan kulit.
R 41 = bahaya resiko serius pada mata.
S 22 = jangan hirup debu.
S 26 = jika kena kontak dengan mata,bilas segaera dengan
air secukupnya dan segera pergi ke dokter
S 37/39 = gunakan sarung tangan pelingdung dan penutup
muka/mata.
S 2 = jauhkan dari jangkauan anak
Naftol yang banyak dipakai dalam pembatikan antara lain:
Naptol AS-G, Naptol AS-LB, Naptol AS-BO, Naptol AS-D, Naptol
AS, Naptol AS.OL, Naptol AS-BR, Naptol AS.BS, dan Naptol ASGR.
Garam diazonium yang dipakai dalam pembatikan antara
lain: Garam Kuning GC, Garam Bordo GP, Garam Orange GC,
Garam Violet B, Garam Scarlet R, Garam Blue BB, Garam
Scarlet GG, Garam Blue B, Garam Red 3 GL, Garam Black B,
dan Garam Red B.
Bahaya utama terhadap kesehatan dapat mengiritasi mata
dan saluran pernapasan, berbahaya jika tertelan atau terhirup.
Menyebabkan darah abnormal serta kerusakan hati dan ginjal
Dapat mengiritasi kulit dan berbahaya jika terabsorpsi. Apabila
terhirup dapat mengiritasi saluran pernafasan termasuk batuk,
bersin. Paparan jangka panjang dari penggunaan naphtol ini
adalah dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Dapat
menyebabkan anemia dan kelainan sel darah lainnya. Inhalasi,

14

terserap melalui kulit atau menelan secara terus menerus


menyebabkan anemia hemolitik yang parah.
Stabilitas

: stabil dalam kondisi suhu ruang


dan tekanan

Kondisi yang dihindari

: cahaya, debu dan paparan udara

Hasil

: tidak terbentuk

polimerisasi

berbahaya
Bahan

tak : oksidator kuat, basa kuat, asam

tercampurkan

klorida, asam anhidrida, halogen

Produk terdekomposisi : karbon monoksida dan karbon


berbahaya

dioksida

Penyimpanannya napthol adalah disimpan dalam wadah


tertutup rapat, disimpan di tempat sejuk dan kering, berventilasi.
Hindari dari bahan tak tercampurkan dan terlindung dari cahaya.
Toksisitas pada manusia tidak diketahui namun pada hewan
didapatkan data sebagai berikut.
Hasil

Percobaan

tentang

Toksisitas

Napthol

pada

beberapa hewan percobaan yaitu sebagai berikut:


Tabel 3. Hasil penelitian uji Toksisitas Naphtol
Hewan percobaan

Jenis

Jenis

Kadar

Percobaan

Naphtol

Toksisitas

Draize tes

1 mg

500 mg/24jam

Oral

LD50

6,3 Mg/kg

Oral

LD50

9 mg/kg

pada mata
Kelinci
`

Draize tes
pada kulit

15

Skin

880mg/kg

LD50

>420
Inhalation

LD50

mg/m3/jam

Oral

LD50

1870 mg/kg

Oral

LD50

2000 mg/kg

Oral

LD50

275 mg/kg

Tikus

Mencit

Naphtol tidak menyebabkan karsinogen pada manusia atau


hewan. 1-naftol tidak teratogenik ketika diuji pada tikus.
Penelitian pada tikus digunakan dosis setinggi 5% dalam
makanan,

yang

menghasilkan

toksisitas

ringan.

Tidak

menyebabkan tumorigen pada manusia atau hewan. Toksisitas


lingkungan : LC50/96 jam ikan antara 1 dan 10 mg/L.
Efek klinik keracunan akut terhadap manusia sebagai
berikut :
a) Terhirup : menyebabakan iritasi saluran nafas disertai
gejala batuk dan nafas pendek.
b) Kontak dengan

kulit,

dapat

mengiritasi

kulit

timbul

kemerahan dan rasa sakit. Bila terserap kedalam kulit


dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan kulit terkelupas.
c) Kontak dengan mata, dapat menyebabkan iritasi mata
kemerahan, nyeri dan kerusakan pada kornea
d) Tertelan dalam dosis tinggi bisa mengakibatkan rasa sakit
pada perut, muntah, mual, berkeringat, penurunan tekanan
darah, anemia, konvulsi dan kematian.
Efek keracunan kronis paparan terhadap kulit berulangkali
menyebabkan dermatitis kulit. Adapun pertolongan pertama
sebagai berikut :
a) Jika terhirup pindahkan korban keudara segar. Jika tidak
bernafas berikan pernafasan buatan. Jika sulit bernafas
berikan oksigen dan segera dapat perawatan medis.

16

b) Jika kontak dnegan mata, segera lepaskan kontak lens ajika


korban menggunakannya. Segera bilas mata dengan air
yang

banyak

sekurang-kurangnya

15

menit.

Dapat

digunakan air dingin dan segera dapatkan perawatan medis.


c) Kontak dengan kulit segera siram kulit dengan banyak air.
tanggalkan pakaian dan sepatu yang yerkontaminasi. Cuci
sebelum diguanakan kembali.
d) Jika tertelan jangan merangsang muntah kecuali bila
disarankan

oleh petugas medis. Jangan memberikan

apapun melalui mulut. Longgarkan pakain ketat seperti dasi,


ikat pinggang dank rah. Dapatkan segera perawatan medis.
B. ANALISA JALUR
1. Jalur Pemajanan
a. Sumber pencemar
Hasil dari pengamatan, sumber pencemar Batik Purwanti, yaitu:
Limbah cair yang berasal dari proses pewarnaan, pelorodan dan
pencucian yang mengandung naptol dan indigosol sebagai zat
warna.
b. Media lingkungan dan mekanisme penyebaran
1) Udara
Pada umumnya masyarakat sekitar Batik Purwanti dapat
mengenali bau yang dihasilkan dari limbah cair yang dibuang
ke parit. Bau yang dihasilkan dari limbah cair merukan bau
bahan kimia yang akan bertahan diudara berhari hari,
namun bau ini tidak terlalu kuat.
2) Air
Limbah cair yang dibuang oleh Batik Purwanti mengandung
zat kimia Napthol, karena limbah tersebut merupakan limbah
sisa pewarnaan kain batik. Limbah ini dibuang ke parit dan
akan meresap kedalam tanah yang kemudian mencemari air
permukaan dan air sumur.

17

3) Tanah
Limbah cair yang dibuang ke parit dan akan meresap kedalam
tanah yang kemudian mencemari tanah.
c. Titik pemajanan
Titik pemajanan limbah cair Batik Purwanti adalah sumur-sumur
masyarakat yang berada di sekitar Batik Purwanti dan disekitar
saluran air buangan (parit).
d. Cara pemajanan
Jalur pemajanan yang potensial yaitu melalui inhalasi dan kontak
langsung dengan tubuh.
1) Melalui inhalasi jangka pendek yaitu limbah cair yang terhirup
atau tertelan dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan
termasuk batuk dan bersin, anemia dan kelainan sel darah.
Apabila pemaparan terjadi terus menerus (jangka panjang)
maka dapat menyebabkan anemia hemolitik yang parah,
kerusakan hati dan ginjal serta kelainan sel darah.
2) Melalui kontak langsung yaitu limbah cair yang dibuang ke
parit akan meresap dalam tanah dan mencemari air sumur.
Dalam jangka pendek masyarakat yang masih mengkonsumsi
air sumur tersebut dapat mengalami kerusakan ginjal dan hati.
Sedangkan

pencemaran

dalam

jangka

panjang

akan

menyebabkan air sumur berubah warna menjadi keruh dan


berbau zat kimia. Apabila air tersebut berkontak langsung
dengan manusia maka akan menimbulkan dermatitis.
2. Identifikasi dan Evaluasi Pemajanan
Pencemaran dari proses pembuatan batik Purwanti ke media
lingkungan dilihat dari rona awal daerah menunjukan tingkat
pencemar dalam media lingkungan lebih rendah dari rona dan
standar. Rona awal dari pencemaran dilihat dari perubahan warna
tanah dan warna air sumur setiap pembuangan limbah cair. Hal itu
mempengaruhi mikroorganisme dalam tanah dan mempengaruhi air
sumur warga sekitar parit. Efek interaktif yang dirasakan masyarakat
adalah air sumur tidak layak untuk dikonsumsi. sehingga pencemaran

18

dari naphthol perlu didaftar sebagai pencemar sasaran yang perlu di


lakukan pengolahan.
Limbah cair yang berasal dari proses pewarnaan, pelorodan
dan pencucian yang mengandung naptol dan indigosol sebagai zat
warna. Limbah cair ini dibuang ke parit yang kemudian meresap ke
dalam tanah yang kemudian mencemari air permukaan dan air sumur
milik masyarakat sekitar parit. Air sumur yang tercemar oleh limbah
ini berbau zat kimia dan baunya dapat bertahan diudara berhari hari
sehingga dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat. Selain itu, air
sumur yang tercemar warnanya keruh kehitaman tidak layak untuk
dikonsumsi lagi.
Jalur pemajanan diatas merupakan jalur pemjanan riil, hal ini
dapat

dilihat

menghubungkan

dari

kelima

sumber

elemen

pencemar

jalur
dengan

pemajanan

yang

masyarakat

yang

terpajan. Melihat dampak yang ditimbulkan akibat limbah cair yang


dibuang

tanpa

pengolahan,

sebaiknya

pihak

industri

mulai

memperhitungkan untuk melakukan pengolahan limbah cair sebelum


dibuang ke parit. Dengan demikian pencemaran diatas perlu
dilakukan pembahasan lebih lanjut. Apabila pencemaran air tersebut
dibiarkan berlama-lama tanpa pengolahan akan membuat degradasi
fisik lingkungan. Pencemaran yang dirasakan masyarakat akan lebih
banyak sehingga penyakit akan menyebar dan memnyebabkan efek
samping yang berkepanjangan.
3. Media Lingkungan dan Transport
Media lingkungan yang berperan sebagai pembawa pencemar dari
sumber menuju titik pemajanan dan akhirnya berdampak pada
masyarakat adalah air dan udara. Limbah cair dibuang ke parit yang
kemudia mengalir ke perkampungan dan meresap ke tanah
kemudian mencemari air permukaan maupun air sumur. Luas
persebaran pencemaran pada parit dapat dilihat dari perubahan
warna parit yang tadinya keruh kehitaman menjadi jernih kembali.
Jarak pencemaran sungai sampai tidak berwarna keruh kembali yaitu
setelah mengalir sampai jarak

19

1 km. Disekitar parit banyak

ditemukan sumur gali sebagai sumber air bersih masyarakat sekitar.


Namun karena adanya limbah cair tersebut, sumur gali masyarakat
saat ini telah tercemar dan airnya tidak layak untuk dikonsumsi.
4. Transformasi dan Mekanisme Transport
Penyebaran limbah cair dari awal pembuangan hingga jarak 1
km membutuhkan waktu setengah hari. Pencemaran tersebut
menyebar mengikuti aliran parit yang kemudian mencemari sumur
masyarakat dan menyebabkan masyarakat kontak dengan manusia.
Limbah yang dibuang ke parit mengalami degradasi warna, semakin
jauh jarak limbah dengan sumber pencemar maka warnanya semakin
memudar. Saat limbah cair dari proses pewarnaan dialirkan ke parit
maka air parit akan berubah warna sesuai dengan warna yang
digunakan saat proses pewarnaan. Setelah beberapa jam warna parit
akan kembali jernih.
Pada masa lalu parit di Dusun Pandungrejo hanya tercemar
limbah cair rumah tangga berupa air sisa pencucian pakaian ataupun
piring dan belum tercemar limbah cair batik. Namun saat ini parit
tersebut telah tercemari limbah cair batik. Apabila pembuangan
limbah

cair

dilakukan

terus

menerus

maka

kedepannya

keberlangsungan hidup ekosistem yang ada didalam parit akan


rusak.
5. Titik Pemajanan
Limbah cair sisa pewarnaaan, pelorodan dan pencucian batik
dibuang ke parit yang kemudian mencemari air permukaan dan bau
yang dihasilkan dari

limbah tersebut mencemari

udara.

Air

permukaan yang telah tercemar limbah cair batik kemudian meresap


ke dalam tanah, mencemari tanah dan air tanah. Air tanah tersebut
diambil oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari hari
melalui sumur gali.

20

6. Cara Pemajanan
Cara pencemar kontak dengan manusia yaitu melalui air sumur
yang telah terkontaminasi limbah cair industri batik yang kemudian
dikonsumsi oleh masyarakat dan digunakan untuk kegiatan mandi
dan mencuci. Pencemar juga dapat kontak dengan manusia melalui
udara yang terhirup oleh sistem pernafasan manusia sehingga dapat
menyebabkan sesak nafas. Selain itu pencemar dapat diadsorbsi
oleh kulit yang kemudian menyebabkan dermatitis.
7. Populasi reseptor
Limbah cair industri batik Purwanti dialirkan ke parit yang mengarah
ke arah timur, yaitu ke Desa Kebonagung. Media pemajanan limbah
cair tersebut adalah melalui air, udara dan tanah. Limbah tersebut
mencemari air tanah/air sumur disekitar parit yang menuju Desa
Kebonagung. Sumur yang tercemar merupakan sumur sumur
pribadi milik masyarakat sekitar. Sehingga populasi terpajan adalah
penduduk yang menggunakan sumur pribadi tersebut.
8. Jalur pemajanan Riil
Dari keseluruhan analisa diatas maka dapat disimbulkan bahwa jalur
pemajanan

dalam

pencemaraan

lingkungan

ini

adalah

jalur

pemajanan riil. Hal ini disebabkan karena kelima elemen jalur


pemajanan dari sumber pencemar ke populasi reseptor telah
terpenuhi sehingga populasi dianggap terpajan. Kelima elemen
tersebut diantaranya:
a. Elemen 1: sumber pencemar yang berasal dari limbah cair sisa
pewarnaan, pelorodan dan pencucian.
b. Elemen 2: media lingkungan dan mekanisme penyebaran melalui
air, udara dan tanah.
c. Elemen 3: titik pemajanan atau area terjadinya kontak antara
manusia dengan lingkungan pencemar yaitu air permukaan (air
parit), air tanah (air sumur), udara dan tanah.
d. Elemen 4: cara pemajanan limbah cair tersebut dengan
mengkonsumsi, inhalasi dan adsorbsi kulit.

21

e. Elemen 5: penduduk berisiko terpajan limbah batik adalah


pendudu yang menggunakan sumur pribadi.
Pada masa lalu parit di Dusun Pandungrejo hanya tercemar
limbah cair rumah tangga berupa air sisa pencucian pakaian ataupun
piring dan belum tercemar limbah cair batik. Namun saat ini parit
tersebut telah tercemari limbah cair batik. Apabila pembuangan
limbah

cair

dilakukan

terus

menerus

maka

kedepannya

keberlangsungan hidup ekosistem yang ada didalam parit akan rusak.


Karena ada jalur pemajanan masa lalu, kini dan masa depan maka
populasi terpajan
C. DAMPAK KESEHATAN MASYARAKAT
1. Evaluasi Toksikologi
Tabel 4. Evaluasi pemajanan dekat (10m) dari sumber pencemar

Suparman

45

41

65

60

40

35

Lama Pemaparan (th)

Paidi

Lama tinggal (th)

Berat Badan (Kg)

Nama

Umur (th)

15

Keluhan

Bau, gatal

Bau, gatal

Lintas

Dampak

Pemajanan

Kesehatan

Kontak

Dermatitis,

Langsung

faringitis

Kontak

Dermatitis

Langsung
3

Mujimin

46

70

25

15

Bau, gatal

Inhalasi,Kontak

Dermatitis

Langsung
4

Heru

30

65

15

10

Bau, gatal

Kontak

Dermatitis

Langsung
5

Gito

47

60

30

80

Bau, gatal

Inhalasi,Kontak
Langsung

22

Dermatitis

Tabel 5. Evaluasi pemajanan jauh ( 30m) dari sumber pencemar

30

Sarino

43

71

66

40

35

Lama Pemaparan (th)

Sumiran

Lama tinggal (th)

Nama

Berat Badan (Kg)

Umur (th)

15

Keluhan

Bau, gatal

Bau, gatal

Lintas

Dampak

Pemajanan

Kesehatan

Kontak

Dermatitis,

Langsung

faringitis

Kontak

Dermatitis

Langsung
3

Ngadimin

40

59

25

15

Bau, gatal

Inhalasi,Kontak

Dermatitis

Langsung
4

Surya

33

60

15

10

Bau, gatal

Kontak

Dermatitis

Langsung
5

Agus R.

31

63

30

80

Bau, gatal

Inhalasi,Kontak

Dermatitis

Langsung

2. Evaluasi Outcome Kesehatan


Pencemaran dari naptol yang berasal dari proses pewarnaan
batik mengakibatkan efek iritasi pada mata dan sesak nafas apabila
terhirup. Zat naptol berbentuk serbuk padatan kristalin dan berbau
seperti etanol bila terhirup dapat menyebabkan iritasi pada saluran
pernafasan

sehingga,

menyebabkan

darah

kerusakan hati dan ginjal.


Rumus dari evaluasi outcome kesehatan
RQ =

23

abnormal

serta

Dimana:
RQ > 1

: Konsentrasi Agen berisiko dapat menimbulkan efek


merugikan kesehatan

RQ 1

: Konsentrasi Agen belum berisiko dapat menimbulkan


efek merugikan kesehatan

: intake (asupan), jumlah risk agent yang diterima individu


per berat badan per hari (mg/kghari)

: konsentrasi risk agent, mg/M3 (udara), mg/L (air minum),


mg/kg (makanan)

: laju (rate) asupan, 20 M3/hari (udara), 2 L/hari (air


minum)

tE

: waktu pajanan harian, jam/hari

fE

: frekuensi pajanan tahunan, hari/tahun

Dt

: durasi pajanan, real time atau 30 tahun proyeksi

Wb

: berat badan, kg

Tavg

: Periode waktu rata rata, 30 tahun, 365 hari/tahun (non


karsinogen) atau 70 tahun, 365 hari/tahun (karsinogen

RfD

: Dosis pajanan harian suatu agen tanpa risiko efek


kesehatan walau terpajan seumur hidup, untuk media
padat dan air

Penghitungan intake naptol :


C

= 2,36 mg/l

= 2 L/hari

= 8 jam/hari

= 280 hari/tahun

= 30 tahun

= 63,9 kg

Tavg = 30 x 365 hari/tahun


RfD napthol = 2 x 10-2 mg/kg hari
24

a. Asupan paparan rata-rata pekerja

b. Konsentrasi agen berisiko

Hasil RQ yang didapat yaitu 19,5, dimana hasil tersebut > 1 artinya
konsentrasi agen berisiko dapat menimbulkan efek yang merugikan
bagi kesehatan.
3. Evaluasi Kepedulian Masyarakat
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar
industri Batik Purwanti, masyarakat sudah melakukan protes kepada
industri tersebut melalui kepala aparat desa (ketua RT, ketua RW,
dan Kadus). Hasil yang diperoleh dari protes tersebut adalah pihak
indusri berjanji akan mulai melakukan penanganan limbah sebelum
dibuang ke parit agar masyarakat tidak menjadi korban lagi. Upaya
yang akan dilakukan pihak industri adalah dengan membuat instalasi
pengolahan air limbah (IPAL). Dengan demikian masyarakat tidak
perlu khawatir lagi.
Upaya yang dilakukan masyarakat ketika terjadi pencemaraan
air sumur adalah dengan tidak menggunakan air sumur untuk
kegiatan makan dan minum. Kebutuhan minum dipenuhi dengan
membeli air minum isi ulang sedangkan untuk masak masyarakat
meminta air bersih dari sumur tetangga yang tidak tercemar.

25

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Industri Batik Purwanti berada dusun yang padat penduduk
dimana limbah cair yang dihasilkan dibuang ke parit yang mengalir sejauh
1km ke arah timur (Desa Kebonagung). Parit yang dijadikan tempat
pembuangan limbah tersebut berdekatan dengan sumur sumur milik
masyarakat. Limbah yang dibuang ke parit belum dilakukan pengolahan
sehingga kualitasnya sangat buruk.
Bahaya utama yang disebabkan oleh limbah cair batik terhadap
kesehatan dapat menybabkan iritasi mata, kulit dan saluran pernapasan.
Menyebabkan darah abnormal serta kerusakan hati dan ginjal. Selain itu
dapat menyebabkan anemia dan kelainan sel darah lainnya. Apabila bau
limbah cair terserap melalui kulit atau menelan secera terus menerus
dapat menyebabkan anemia hemolitik yang parah
Hasil RQ yang didapat yaitu 19,5, dimana hasil tersebut > 1
artinya konsentrasi agen berisiko dapat menimbulkan efek yang
merugikan bagi kesehatan
B. REKOMENDASI
1. Bagi industri Batik Purwanti
a. Melihat kondisi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh
industri batik, maka sebaiknya pihak pengelola indutri segera
membuat instalasi pengolahan air limbah (IPAL) agar limbah yang
dihasilkan dari proses pembuatan batik dapat diolah terlebih
dahulu. Sehingga saat dibuang ke parit, limbah tersebut tidak
mencemari lingkungan lagi.
b. Sebaiknya melakukan substitusi bahan pewarna dari zat warna
sintetis yang berbahaya bagi lingkungan dengan zat warna alami
yang ramah lingkungan seperti kulit buah manggis, kunyit, daun
jati, kayu secang dsb.

26

c. Menyediakan APD bagi pekerja yang terpapar langsung dengan


zat kimia pewarna (naptol dan indigosol), hal ini untuk mencegah
terjadinya penyakit akibat kerja (PAK)
d. Sebaiknya proses pewarnaan, pencucian dan pelorodan dilakukan
sekali dalam seminggu untuk meminimalkan timbulan limbah cair
2. Bagi Masyarakat
Agar terhindar dari paparan secara langsung, sebaiknya masyarakat
tidak lagi menggunakan sumur yang tercemar limbah untuk kegiatan
sehari hari meskipun hanya untuk mencuci.

27

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.1-Naftol.

Diakses

melalui

http://ik.pom.go.id/v2012/katalog/1-

Naftol_upload.pdf pada tanggal 29 September 2016


EPA.

Reference

Dose

for

Oral

Exposure

(RfD).

Diakses

melalui

https://cfpub.epa.gov/ncea/iris2/chemicalLanding.cfm?substance_nm
br=436 pada tanggal 29 September 2016
Liliathreey .2012. Analisis Zat Warna Naphtol Blue Black. Diakses melalui
http://liliathreey.blogspot.co.id/2012/04/analisis-zat-warna-naphtolblue-black.html pada tanggal 29 September 2016
Meiyanto, EJ. 2012. Peluang Bisnis Batik di Klaten. Diakses melalui
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=70575&val=4879
pada tanggal 29 September 2016
Nurfadilah, Reza. 2015. Pewarna Pada Batik. Diakses melalui http://rezanur.heck.in/pewarna-sintetis-pada-batik.xhtml

pada

tanggal

29

September 2016
Nugrahaningsih, D., Gusmaranti, IR. & Mufirah. 2012. Analisis Dampak
Kesehatan

Lingkungan

Keberadaan

Industri

Batik

Plentong

Danunegaran Kecamatan Matrijeron Kota Madya Yogyakarta.


Diakses

melalui

https://www.scribd.com/doc/117205740/Analisis-

Dampak-Kesehatan-Lingkungan-Industri-Batik-Plentong pada tanggal


29 September 2016

28