Vous êtes sur la page 1sur 16

Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari perilaku individu, sejak lama telah diakui

sebagai salah satu landasan pendidikan. Banyak teori dan praktik pendidikan yang dihasilkan dan
bersumber dari psikologi, terutama berkenaan dengan psikologi perkembangan dan psikologi
belajar (lihat: Landasan Kurikulum, Kontribusi Psikologi terhadap Pendidikan)
Psikologi Positif sebagai cabang baru dalam psikologi, saat ini telah menjadi daya tarik
tersendiri bagi kalangan teoritisi dan praktisi, baik dalam bidang psikologi itu sendiri maupun
bidang pendidikan tentang berbagai kemungkinan untuk menerapkan Psikologi Positif dalam
dunia pendidikan, sehingga belakangan ini muncullah gagasan dan konsep tentang Pendidikan
Positif (Possitive Education), yakni sebuah pendekatan pendidikan yang menitik-beratkan pada
kekuatan dan motivasi pribadi untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran. (Wikipedia).
Farah Aulia (2015) dalam makalahnya yang berjudul: Aplikasi Psikologi Positif dalam
Konteks Sekolah mengetengahkan tentang : (1) Pentingnya optimisme dalam konteks
akademik. Guru perlu optmisme di kalangan siswanya. Guru perlu memiliki pengalaman yang
mendukung pengembangan dan pemeliharaan optimisme. Guru sendiri perlu memiliki
pandangan positif terhadap dirinya sendiri dan menggunakan teknik yang menggunakan
pendekatan yang positif untuk mengelola perilaku di kelas. Guru secara umum dapat mendorong
optimisme siswa dengan memberikan atribusi terkait dengan keberhasilan-keberhasilan atau
kegagalan-kegagalan yang dialami siswa di kelas. Guru juga dapat mengajarkan siswa untuk
mengatasi masalah dan mencari alternative pemecahan masalah. Guru sendiri harus memberikan
contoh tentang bagaimana menghadapi masalah sehingga siswa pun belajar tentang mengatasi
masalah dan bukan menyerah saat menghadapi masalah. Memberikan umpan balik yang realistis
juga menjadi hal yang penting yang perlu dilakukan guru untuk mengembangkan optimisme
siswa; (2) Menggali kekuatan karakter siswa di sekolah, sekolah perlu menggali karakterkarakter positif dari siswa sebagaimana juga menggali kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh
siswa. Selain itu, sekolah sendiri harus memiliki budaya yang memang menghargai karakter
yang positif yang ditampilkan oleh keseluruhan elemen yang ada di sekolah; (3) Menumbuhkan
keterikatan siswa dan lingkungan belajar yang optimal. Keterikatan siswa dengan sekolah
menjadi hal yang penting bagi proses belajar yang optimal. Untuk membuat siswa terikat dengan
sekolah maka ia harus memiliki persepsi yang positif tentang sekolah itu sendiri. Persepsi yang

positif ini dapat terbentuk dari pengalaman belajar yang menyenangkan di sekolah. Usaha yang
dilakukan oleh guru dalam hal ini adalah meningkatkan kompetensinya untuk dapat membuat
format pembelajaran yang menyenangkan dan menantang serta membangun hubungan yang
positif dengan siswa itu sendiri.
Sementara itu, berkenaan dengan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah, Husni
Abdillah (2012) mengupas tentang Implikasi Psikologi Positif dalam Layanan Bimbingan dan
Konseling Karakter. Dikatakannya, bahwa dalam perspektif psikologi positif konselor disarankan
untuk memberikan layanan yang lebih menyeluruh, dan mengembangkan kekuatan karakter yang
dimilki agar dapat mengembangkan lingkungan belajar yang lebih sehat, dan siswa dapat
mengembangkan nilai karakter yang berguna bagi peningkatan prestasi. Dengan berbasis
psikologi positif, program konseling akan lebih banyak berorentasi pada pengembangan dan
pencegahan, tidak terlalu fokus dengan mengobati masalah, layanan bimbingan konseling akan
lebih banyak mencoba menganalisis potensi terbaik untuk digunakan mengembangkan perilaku
yang baik, bukan menganalisis perilaku yang bermasalah kemudian ditangani.
A. Kontribusi psikologi
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah
digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktek pendidikan dan telah
memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan
kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.
1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum.
Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum
pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks
belajar mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada
intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana in put, proses dan
out pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian
peserta didik.
Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian,
kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan
yang dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan,

kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta karakterisktik-karakteristik individu


lainnya.
Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada
setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik
dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya.
Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang
dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya
menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar
yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan
bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi
kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk
melakukan sesuatu.
Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian
psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek: (1) kemampuan siswa melakukan
sesuatu dalam berbagai konteks; (2) pengalaman belajar siswa; (3) hasil belajar (learning
outcomes), dan (4) standarisasi kemampuan siswa
2. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran
Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari
sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti :
teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori
kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai
kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah
memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.
Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah
prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo,2002)
mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni :
a. Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan
b. Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan
karena dipaksakan oleh orang lain.
c. Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha
dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.

d. Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.


e. Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.
f. Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
g. Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk
pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.
h. Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
i. Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami.
Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.
j. Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar
tujuan-tujuan lain.
k. Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
l. Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
m. Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.
3. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Penilaian
Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna
memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melaui kajian psikologis kita
dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah
mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.
Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam
pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah
dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan,
bakat maupun kepribadian individu lainnya.Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang
saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti
Multiple Aptitude Test (MAT), Differensial Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur
lainnya.
Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui
pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses
pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai
perkembangan individu yang optimal.
Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi
kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya.

B. Landasan Kurikulum
Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memiliki pengaruh terhadap
seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan
manusia, maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyusunan
kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil
pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada
landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan
sendirinya, akan berkibat pula terhadap kegagalan proses pengembangan manusia.
Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan empat landasan utama
dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4)
ilmu pengetahuan dan teknologi..Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara
ringkas keempat landasan tersebut.
1.

Landasan Filosofis
Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kuikulum. Sama halnya
seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti :
perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme. Dalam
pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran aliran filsafat tertentu,
sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan.
Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang
isi dari-dari masing-masing aliran filsafat, kaitannya dengan pengembangan kurikulum.
a. Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari
pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting
dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini
menekankan pada kebenaran absolut , kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat
dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
b. Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan
dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang
berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar
substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan
perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.

c. Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup


dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri.
Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia ? Apa pengalaman itu ?
d. Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat
pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan
landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
e. Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada
rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping
menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme
lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran
ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan
sesuatu ? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.
Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran
filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis.
Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum
Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam
pengembangan Model Kurikulum Interaksional.
Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri.
Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat
cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan
berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada
beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan
dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat
rekonstruktivisme.
2. Landasan Psikologis
Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua
bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi
perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang
mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam
psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan,
aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang

berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan


pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu
yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar
mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku
individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan
sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teoriteori psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip
pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa
kompetensi merupakan karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan
kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam
pekerjaan pada suatu situasi.Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi,
yaitu :
a. motif; sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan
untuk melakukan suatu aksi.
b. bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau
informasi.
c. konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang;
d. pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang; dan
e. keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.
Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap perencanaan
sumber daya manusia atau pendidikan. Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih
tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih
tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. Kompetensi
permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan. Pelatihan
merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan
motif jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan.
Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2002) menyoroti
tentang aspek perbedaan dan karakteristik peserta didik, Dikemukakannya, bahwa sedikitnya
terdapat lima perbedaan dan karakteristik peserta didik yang perlu diperhatikan dalam
Kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu : (1) perbedaan tingkat kecerdasan; (2) perbedaan

kreativitas; (3) perbedaan cacat fisik; (4) kebutuhan peserta didik; dan (5) pertumbuhan dan
perkembangan kognitif.
3. Landasan Sosial-Budaya
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu
rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa
pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan
masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal
pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan
lebih lanjut di masyarakat.
Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun
informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula.
Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi
landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.
Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia manusia yang
menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan
dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu,
tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi,
karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya
tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah
satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara
berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber
dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.
Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam
masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk
melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di
sekitar masyarakat.
Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukmadinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui
pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang
dan membuat peradaban masa yang akan datang.

Dengan

demikian,

kurikulum

yang

dikembangkan

sudah

seharusnya

mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial budaya dalam


suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.
4. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif
sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai
penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan kedepannya akan
terus semakin berkembang
Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu
yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil
kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat
di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di
Bulan.
Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa
terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia
sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang
memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang
berlaku pada konteks global dan lokal.
Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang
berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat
pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih,
sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan
kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam
mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan
antisipatif terhadap ketidakpastian..
Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam
bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh
karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi

dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan
kelangsungan hidup manusia.

Psikologi Positif di Sekolah


Menurut Seligman (2002), psikologi positif memiliki tiga fokus utama: Emosi Positif, Sifat-sifat
individu positif, dan Institusi positif. Emosi positif berkaitan dengan kepuasan dan kebahagiaan,
masa lalu dan sekarang juga harapan untuk masa depan. Individu positif berkaitan dengan
kekuatan dan kebajikan, seperti kapasitas untuk cinta dan pekerjaan, keberanian, kasih sayang,
ketahanan, kreativitas, rasa ingin tahu, integritas, pengetahuan diri, pengendalian diri, dan
kebijaksanaan. Lembaga positif berkaitan dengan arti dan tujuan serta kekuatan yang mendorong
masyarakat lebih baik, seperti keadilan, tanggung jawab, kesopanan, pengasuhan, pemeliharaan,
etos kerja, kepemimpinan, kerja tim, tujuan, dan toleransi.
Psikologi positif di sekolah bertujuan untuk membentuk karakter siswa yang optimis, belajar
berbagi, belajar melepaskan dendam, belajar menyelesaikan konflik, belajar untuk bersyukur,
dan belajar untuk mengendalikan emosi. Untuk mewujudkan hal tersebut, guru sebagai mediator
dalam mengembangkan perilaku tersebut sudah seharusnya memiliki sifat dan karakter yang
positif. Adapun peranan penting seorang guru di dalam sekolah yaitu :
Guru sebagai pendidik artinya :
Guru harus dapat menempatkan dirinya sebagai teladan bagi siswanya. Teladan di sini bukan
berarti bahwa guru harus menjadi manusia sempurna yang tidak pernah salah. Guru adalah
manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Tetapi guru harus berusaha menghindari
perbuatan tercela yang akan menjatuhkan harga dirinya. Karena ia berhadapan langsung dengan
mereka yang otomatis menjadi contoh dalam berperilaku dan bertata karma dan menghargai
sesama. Hal ini sangat penting terutama untuk guru tk, dan SD sebagai pembentuk mental
pertama siswa.
Guru harus mengenal siswanya. Bukan saja mengenai kebutuhan, cara belajar dan gaya
belajarnya saja. Akan tetapi, guru harus mengetahui sifat, bakat, dan minat masing-masing
siswanya sebagai seorang pribadi yang berbeda satu sama lainnya
Guru harus mampu memberikan motivasi pada setiap siswa yang mereka didik, guru harus
memberikan semangat dan menjadi sumber energi untuk para muridnya. Bagi murid yang sedang
lesu dan lemas, maka guru harus memberikan solusi sebagai penyemangat.

Guru harus mengatahui metode-metode penanaman nilai dan bagaimana menggunakan metodemetode tersebut sehingga berlangsung dengan efektif dan efisien. Guru yang notabanenya lebih
tua daripada muridnya harus mampu sebagai pendidik dan menjadikan perilaku murid sesuai
dengan ajaran yang baik dan benar. Bagaimana guru mendidik para siswanya agar menjadi
manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Guru harus memberikan cara belajar efektif dan
efisien serta cara menghafal cepat untuk muridnya. Guru menjadi pendidik bagaimana cara
menjadi pintar untuk muridnya.
Guru harus memiliki pengetahuan yang luas tentang tujuan pendidikan Indonesia pada
umumnya, sehingga memberikan arah dalam memberikan bimbingan kepada siswa. Dalam
memberikan pelajaran dan pendidikan guru harus memberikan materi dengan metode baru dan
mengembangkan ilmu pengetahuan. Contoh adalah bagaimana guru mengajarkan metode dan
cara meningkatkan daya ingat otak dalam menerima pelajaran. Mengembangkan ilmu yang
dikuasai merupakan tugas dosen dan tenaga pendidik lainnya seperti guru.
Guru harus memiliki pengetahuan yang luas tentang materi yang akan diajarkan. Selain itu guru
harus selalu belajar untuk menambah pengetahuannya, baik pengetahuan tentang materi-materi
ajar ataupun peningkatan keterampilan mengajarnya agar lebih profesional.
Guru Sebagai Pendamping
maksudnya di sini adalah bagaimana seorang guru menjadi orang tua di sekolah. Ia harus
memberikan solusi dan jalan jika muridnya ingin melakukan sesuatu dan ingin mengembangkan
serta berpartisipasi dalam acara serta kejuaraan tertentu.
Guru harus menjadi wali yang baik untuk muridnya, ia harus berusaha mengetahui kondisi para
muridnya dan berperan aktif untuk mencari solusi atas kesulitan tersebut. Ia harus memberikan
solusi seperti cara menghindari stress saat belajar dan berbagai masalah lain yang muridnya
hadapi. Tugas guru sebenarnya adalah menjadi orang tua wali yang baik bagi siswanya
Selain memiliki peranan penting Dalam proses mengajar disekolah, guru atau pendidik harus
memiliki aspek positif dalam mengajar . Salah satu aspek positif yang harus dimiliki oleh
pendidik adalah aspek psikologis dimana sikap respek merupakan aspek psikologis yang harus
dimiliki oleh seorang pendidik. Pernyataan ini ditunjukkan dalam ciri pendidik humanis adalah
dirinya memiliki sikap empati, respek dan caring (Suardiman,2011). Seorang guru yang memiliki

respek pada dirinya kemudian dikembalikan oleh siswa berupa respek dari siswa kepada
gurunya, akan menambah loyalitas murid kepada gurunya. Hal ini ditunjukkan oleh hasil temuan
Bareto & Ellemers (2002) bahwa respek siswa terlihat berbeda antara siswa yang menghormati
identitas yang mereka pilih dan siswa yang tidak diperhatikan identitasnya. Mereka yang
diperhatikan identitasnya memiliki kelompok loyalitas yang tinggi dan bersedia untuk bekerja
sama dalam kelompok. Kondisi ini apabila terus ditindaklanjuti oleh guru, maka pembelajaran
dalam kelompok kecil dan kelompok besar akan maksimal.
Respek dalam hubungan antara pendidik dengan peserta didik mempengaruhi identitas siswa,
termasuk reputasi. Hal ini ditunjukkan dalam penelitian De Climer & Tyler (2005), memberikan
identitas kepada siswa dengan menyebutnya sesuai dengan kondisi negatifnya, maka akan
membuat reputasi siswa dimata teman-temannya rendah. Istilah labeling negatif kepada siswa,
misalnya gendut, jangkung, jam karet, bertahi lalat, atau panggilan lainnya yang tidak berkenan
dalam diri siswanya, membuat perasaan rendah diri dan memungkinkan timbulnya tidak percaya
diri. Apabila kondisi ini dibiarkan, maka akan mempengaruhi minat dan motivasi siswa dalam
belajar. Ada kecenderungan tidak siap menghadapi pelajaran di keesokan harinya,karena label
yang diberikan kepadanya
Respek yang dimiliki oleh pendidik berdampak positif bagi pendidik itu sendiri, juga bagi
akademis siswa dan hasil pembelajaran secara keseluruhan. Seorang pendidik yang respek,
menghormati siswa apa adanya tanpa memandang negative, akan membentuk siswa percaya diri
dengan kemampuannya. Kondisi akan menambah kedekatan yang positif antara pendidik dengan
siswanya, sehingga terhindar dari permasalahan yang akan menghambat perkembangan mental
dan akademis siswa.
Berkomunikasi yang efektif, mendengarkan segala keluhan yang dialami siswa, memberikan
kebebasan untuk kreasi, kemudian menjadi teman dalam diskusi akan memberi kesan yang
bermakna sebagai guru yang bisa menyelami keinginan siswa, sehingga siswa mempunyai sosok
teladan yang akan dibawanya kelak ketika masa dewasanya nanti Pendidik yang memiliki respek
yang baik secara tidak sadar memberikan penanaman etika dan moral akan tersalurkan kepada

siswa. Nilai nilai kehidupan akan secara tidak langsung dipelajari oleh siswa ketika
memandang sosok guru yang mengedapankan aspek-aspek positif dalam situasi pembelajaran.
Adapun dampak bagi pendidik yang telah menerapkan prinsip-prinsip psikologi positif :
Pendidik yang telah menerapkan psikologi positif dalam cara mendidiknya, akan menimbulkan
beberapa dampak. Dampak-dampak tersebut seperti yang telah dijelaskan oleh Susetyo (2004),
pertama, terdapat dampak yang bersifat kognitif antara lain guru dapat mengembangkan label
yang lebih netral dan mengurangi pemikiran negatif terhadap siswa, selain itu guru juga dapat
mereduksi sikap ragu-ragu dalam menilai siswanya, guru juga dapat menilai segala sesuatu yang
ada dalam diri siswa dengan positif. Kedua, dampak yang bersifat afektif, antara lain guru
mampu mereduksi rasa jengkel, cemas, dan pesimis ketika berhadapan dengan siswa. Selain itu,
guru yang memiliki sisi pandang positif terhadap siswa, mampu menghargai setiap usaha yang
dilakukan oleh siswa. Ketiga, dampak yang bersifat motorik/perilaku antara lain, mereduksi
perilaku emosional guru baik dalam bentuk kata-kata maupun perilaku. Sehingga, jika dampakdampak tersebut muncul dalam diri seorang pendidik, hubungan guru dan siswa menjadi lebih
akrab, dan perlakuan guru menyebabkan siswa merasa senang dan siswa dapat menghargai guru
sama halnya dengan guru menghargai siswanya.
Psikologi Positif di Dunia Kerja
Dalam dunia kerja saat ini psikologi positif tengah digunakan sebagai metode baru untuk
mengembangkan individu yang memiliki pandangan dan karakter yang positif. Dalam dunia
kerja atau bisnis, seringkali terdapat perubahan-perubahan yang signifikan sehingga akan
mempengaruhi keadaan psikologis individu. Oleh karena itu, penerapan psikologi positif dalam
lingkungan bekerja sangat berguna sebagai bekal para karyawan untuk menghadapi dunia kerja
yang dinamis. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa Psikologi positif berkaitan
dengan Emosi Positif, Sifat-sifat individu positif, dan Institusi positif. Psikologi positif di dunia
kerja diharapkan mampu membentuk individu yang lebih baik dan positif.

Salah satu bagian dari psikologi positif adalah kebersyukuran. Secara konseptual kebersyukuran
(gratitude) merupakan suatu bentuk emosi, affective trait, mood yang merupakan suatu respon
positif yang berwujud rasa terima kasih individu atas kebaikan yang diterima serta mendorong
individu untuk mempresentasikan hidup menjadi lebih positif. Dalam jurnal Ernawati (2014),
dengan judul Kebersyukuran dengan Job Insecurity Pada Karyawan. Job insecurity dikonsepkan
sebagai suatu keadaan dimana pekerja merasakan ketidakberdayaan untuk menjaga
kesinambungan yang diinginkan dalam situasi kerja yang terancam yang menjadikan dirinya
tidak berdaya untuk melakukan apapun terhadap situasi tersebut atau dapat diartikan sebgaai
kekhawatiran yang disebabkan oleh ancaman terhadap kehilangan pekerjaan. Job insecurity saat
ini banyak dialami oleh para karyawan. Dalam jurnal tersebut dijelaskan seberapa berpengaruh
kebersyukuran terhadap kekhawatiran akan pekerjaan yang dialami oleh para karyawan.
Dalam jurnal tersebut, disebutkan bahwa kebersyukuran memiliki kekuatan penting dalam
kehidupan serta memiliki keterkaitan yang erat dengan aspek kesejahteraan individu. Individu
yang memiliki kebersyukuran tinggi cenderung untuk berfikir positif pada setiap situasi atau
kesempatan apapun serta memiliki upaya untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi sehingga
dengan kecenderungan kebersyukuran, maka pengalaman emosional pada karyawan tersebut
dapat mempengaruhi sikap kerja karyawan, sehingga karyawan akan merasa lebih sejahtera
kehidupannya dan puas terhadap pekerjaannya. Hal itu dikarenakan karyawan selalu berfikir
positif terhadap segala situasi serta lebih terbuka dengan segala gagasan yang mendorong dirinya
untuk berkompetisi dan memiliki upaya untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi.
Dengan demikian, pada keadaan job insecurity, karyawan yang cenderung memiliki
kebersyukuran akan mampu untuk menghadapi situasi yang sedang dialaminya, serta selalu
berfikir positif dan mampu untuk berkompetisi dalam keadaan tersebut. Berdasarkan uraian
permasalahan. Dengan demikian, kecenderungan kebersyukuran ini, karyawan akan mampu
untuk menyikapi segala hal secara positif. Karyawan yang memiliki kebersyukuran tinggi lebih
mengalami kelelahan emosional namun dirinya akan mengalami kepuasan kerja. Pada akhirnya,
karyawan akan merasakan ketenangan, keamanan, serta berfikir positif dalam menjalankan
aktivitas kerjanya.

Semakin mampu mensyukuri pekerjaannya maka karyawan akan merasa lebih sejahtera, serta
semakin puas terhadap kerjanya dan begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, pada kondisi di
perusahaan yang cenderung berubah akibat perubahan di lingkungan eksternal perusahaan, yang
kemudian mengancam pekerjaan sehingga menjadikan job insecurity pada karyawan, maka
karyawan yang memiliki kecenderungan bersyukur akan mampu mengatasi dan dapat
berkompetensi dalam menghadapi situasi kerja yang terancam. Hal ini terjadi karena karyawan
akan berfikir bahwa dirinya selalu mendapatkan kebaikan dari manapun, sehingga tidak akan
merasa khawatri akan adanya ancaman-ancaman yang terjadi pada dirinya.