Vous êtes sur la page 1sur 7

Tumbuh tegak

Surukan disebut peperomia pellucida L atau peperomia gamela Miq dan


termasuk famili piperaceae. Nama daerahnya seladaan, saladaan, ketumpanga
ayer, atau gotu garoko. Tanaman gulma semusim batang tegak atau rebah dan
banyak tumbuh liar di tempat yang lembab atau tanah kritis. Batang warna hijau
pucat dan banyak mengandung air. Daun bulat telur melebar membentuk
jantung warna hijau mengkilap dengan panjang 1-3 cm. Bunga berwarna hijau.
Buahnya bulat dengan ujung runcing, warna kecoklatan, tersusun seperti buah
lada. Tanaman ini mengandung minyak asiri yang terdiri dari apiole, kariofilen,
akasetin, apigenin, pellusidatin, isoviteksin, pellusidatin-8-neokesperidosida, dan
2-4-5 trimeteksi stiren. Khasiatnya untuk demam, ginjal, bisul, dan obat kulit.
Rumput Teki ( Cyperus rotundus )

Tanaman ini tarmasuk dalam family Cyperaceae. Rumput teki merupakan rumput
semu menahun, tingginya 10-95 cm. Batang rumputnya berbentuk segitiga dan
tajam. Daunnya berjumlah 4-10 helai yang terkumpul pada pangkal batang. Akar
dengan pelepah daunnya tertutup tanah. Helaian daun berbentuk pita bersilang
sejajar. Permukaan atas berwarna hijau mengilat dengan panjang daun 10-30 cm
dan lebar 3-6 cm.
Tanaman ini tumbuh liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari sinar
matahari, seperti di tanah kosong, tegalan, lapangan rumput, pinggir jalan, atau
di lahan pertanian, dan tumbuh sebagai gulma yang susah diberantas.
Menurut Ir. Heru, bagian rumput teki yang bisa digunakan adalah umbinya yang
mengandung alkaloid, flavonoid, sineol, pinen, siperon, rotunal, siperenon, dan
siperol. Sifat kimiawi dan efek farmakologis rumput teki adalah rasa pedas,
sedikit pahit, dan manis, berkhasiat menormalkan siklus haid, menghilangkan
rasa sakit (analgesik) dan sebagai penenang (sedatif). Dalam TCM, tambah
Retno, rumput teki masuk meridian hati dan san ciao.
Dalam konsep TCM, rimpang teki punya sifat mendinginkan. Secara empiris, teki
telah lama digunakan masyarakat Cina dan India sebagai obat peluruh haid.
Sebuah situs kesehatan menyebutkan, penelitian di Cina menemukan bahwa
secara tunggai maupun kombinasi, 6-9 gram rimpang teki bisa membantu
meringankan ketidakteraturan siklus haid serta meringankan sindrom
pramenstruasi (PMS). Rimpang teki juga sering dipakai untuk meningkatkan
nafsu makan, meredakan demam, dan meringankan penyakit hati. Di India
digunakan sebagai produk perawatan rambut dan kulit. Kandungan minyak
atsirinya digunakan sebagai parfum.

3. Bandotan (Ageratum conyzoides)

Bandotan (Ageratum conyzoides) adalah sejenis gulma pertanian anggota suku


Asteraceae. Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis, khususnya Brazil,
akan tetapi telah lama masuk dan meliar di wilayah Nusantara. Disebut juga
sebagai babandotan atau babadotan (Sd.); wedusan (Jw.); dus-bedusan (Md.);
serta Billygoat-weed, Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed dalam bahasa
Inggris, tumbuhan ini mendapatkan namanya karena bau yang dikeluarkannya
menyerupai bau kambing.
Terna berbau keras, berbatang tegak atau berbaring, berakar pada bagian yang
menyentuh tanah, batang gilig dan berambut jarang, sering bercabang-cabang,
dengan satu atau banyak kuntum bunga majemuk yang terletak di ujung, tinggi
hingga 120 cm. Daun-daun bertangkai, 0,55 cm, terletak berseling atau
berhadapan, terutama yang letaknya di bagian bawah. Helaian daun bundar
telur hingga menyerupai belah ketupat, 210 0,55 cm; dengan pangkal agakagak seperti jantung, membulat atau meruncing; dan ujung tumpul atau
meruncing; bertepi beringgit atau bergerigi; kedua permukaannya berambut
panjang, dengan kelenjar di sisi bawah. Bunga-bunga dengan kelamin yang
sama berkumpul dalam bongkol rata-atas, yang selanjutnya (3 bongkol atau
lebih) terkumpul dalam malai rata terminal. Bongkol 68 mm panjangnya, berisi
6070 individu bunga, di ujung tangkai yang berambut, dengan 23 lingkaran
daun pembalut yang lonjong seperti sudip yang meruncing. Mahkota dengan
tabung sempit, putih atau ungu. Buah kurung (achenium) bersegi-5, panjang lk.
2 mm; berambut sisik 5, putih.
Tumbuhan ini menyebar luas di seluruh wilayah tropika, bahkan hingga
subtropika. Didatangkan ke Jawa sebelum 1860, kini gulma ini telah menyebar
luas di Indonesia. Bandotan sering ditemukan sebagai tumbuhan pengganggu di

sawah-sawah yang mengering, ladang, pekarangan, tepi jalan, tanggul, tepi air,
dan wilayah bersemak belukar. Ditemukan hingga ketinggian 3.000 m, terna ini
berbunga sepanjang tahun dan dapat menghasilkan hingga 40.000 biji per
individu tumbuhan. Karenanya, gulma ini dirasakan cukup mengganggu di
perkebunan. Di luar Indonesia, bandotan juga dikenal sebagai gulma yang
menjengkelkan di Afrika, Asia Tenggara, Australia, serta di Amerika Serikat.
Manfaat babadotan dikenal luas sebagai obat luka. Menurut Heyne, daun
tumbuhan ini diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan pada luka yang
masih segar. Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit dada,
sementara ekstrak daunnya untuk obat mata yang panas. Akar yang ditumbuk
dioleskan ke badan untuk obat demam; ekstraknya dapat diminum.
Meski demikian, tumbuhan ini juga memiliki daya racun. Di Barat, bandotan juga
dimanfaatkan sebagai insektisida dan nematisida. Sementara, penelitian lain
menemukan bahwa bandotan dapat menyebabkan luka-luka pada hati dan
menumbuhkan tumor. Tumbuhan ini mengandung alkaloid pirolizidina.

4. Patikan Kebo ( Euphorbia hirta )

Terna, tegak atau memanjat, tinggi lebih kurang 20 cm, batang berambut,
percabangan selalu keluar dan pangkal batang dan tumbuh ke atas, warna
merah atau keunguan. Daun berbentuk jonong meruncing sampai tumpul, tepi
daun bergerigi. Perbungaan bentuk bola keluar dan ketiak daun bergagang
pendek, berwarna dadu atau merah kecoklatan. Bunga mempunyai susunan satu
bunga betina dikelilingi oleh lima bunga yang masing-masing terdiri atas empat
bunga jantan.
Patikan kebo mempunyai sifat anti inflamasi (anti radang), diuretic (peluruh
kencing) dan anti pruritic (menghilangkan gatal). Kandungan kimiawi yang sudah
diketahui dari patikan kebo antara lain, taraxerol, friedlin, betha amyrin,

betasitosterol, beta eufol, euforbol, triterpenoid, tirukalol, eufosterol,


hentriacontane, flavonoid, tanin, elagic acid. Dan berdasarkan catatan hasil
penelitian dan pengalaman di berbagai daerah dan penyakit negara, tanaman ini
dapat mengobati disentri, melancarkan kencing, mengobati asbes paru,
bronchitis kronis, asbes payudara, typus abdomenalis, radang ginjal, radang
tenggorokan, astma, dan radang kelenjar susu atau payudara bengkak.

5. Putri Malu ( Mimosa pudica )

Putri malu atau Mimosa pudica adalah perdu pendek anggota suku polongpolongan yang mudah dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat
menutup/layu dengan sendirinya saat disentuh. Walaupun sejumlah anggota
polong-polongan dapat melakukan hal yang sama, putri malu bereaksi lebih
cepat daripada jenis lainnya. Kelayuan ini bersifat sementara karena setelah
beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula. Tumbuhan ini memiliki
banyak sekali nama lain sesuai sifatnya tersebut, seperti makahiya (Filipina,
berarti malu), mori vivi (Hindia Barat), nidikumba (Sinhala, berarti tidur),
mate-loi (Tonga, berarti pura-pura mati) . Namanya dalam bahasa Cina berarti
rumput pemalu. Kata pudica sendiri dalam bahasa Latin berarti malu atau
menciut.Keunikan dari tanaman ini adalah bila daunnya disentuh, ditiup, atau
dipanaskan akan segera menutup. Hal ini disebabkan oleh terjadinya
perubahan tekanan turgor pada tulang daun. Rangsang tersebut juga bisa
dirasakan daun lain yang tidak ikut tersentuh. Gerak ini disebut seismonasti,
yang walaupun dipengaruhi rangsang sentuhan (tigmonasti), sebagai contoh,
gerakan tigmonasti daun putri malu tidak peduli darimana arah datangnya
sentuhan. Tanaman ini juga menguncup saat matahari terbenam dan merekah
kembali setelah matahari terbit.

Tumbuhan semak berduri Putri Malu (Mimosa Pudica) ini memiliki sifat manis dan
agak dingin, hingga disebut putri pemalu. Sifat dari Putri Malu atau Mimosa
Pudica yang pemalu ternyata mempunyai beberapa manfaat dan Khasiat untuk
kesehatan, seperti : peluruh dahak, anti batuk, penurun panas anti radang,
peluruh air seni, mengobati gangguan/sulit tidur (insomnia) dll.

Gulma Mikania micrantha

Merupakan gulma yang tergolong daun lebar, tumbuh merambat,daun berbentuk hati, bunga
berwarna putih. Gulma ini mudah berkembang biak dengan bijimaupun potongan batangnya
oleh karena itu penyebarannya cepat. Gulma ini tumbuh pada tanahlembab atau agak kering
di areal terbuka atau ternaung. Pembabatan dilakukan menggunakansabit. Namun
pengendalian gulma ini dengan pembabatan kurang efektif karena dapat denganmudah
tumbuh kembali dari batangnya. Pengendalian manual yang efektif adalah dengan
pendongkelan yang disertai dengan penyingkiran gulma dari permukaan tanah.

Botani
Batang M. micrantha tumbuh menjalar berwarna hijau muda, bercabang dan ditumbuhi
rambut-rambut halus. Panjang batang dapat mencapai 3-6m. Pada tiap ruas terdapat dua helai
daun
yang
saling
berhadapan,
tunas
baru
dan
bunga.
Helai daun berbentuk segitiga menyerupai hati dengan panjang daun 4-13cm dan lebar daun
2-9cm. Permukaan daun menyerupai mangkok dengan tepi daun bergerigi.
Bunga tumbuh berwarna putih, berukuran kecil dengan panjang 4.5-6mm, dan tumbuh dari
ketiak daun atau pada ujung tunas. Biji dihasilkan dalam jumlah besar, berwarna coklat
kehitaman dengan panjang 2mm.