Vous êtes sur la page 1sur 25

SMF/ Lab Ilmu Kesehatan Anak

Refleksi Kasus

Neurologi
Fakultas Kedokteran Umum
Universitas Mulawarman

KEJANG DEMAM SEDERHANA

DisusunOleh:
Adhaniar Purwanti Megasari 0910015044

Pembimbing:
dr.SherlyY.,Sp.A

Dibawakan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


SMF/Lab Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Umum Universitas Mulawarman
RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda
2016

BAB 1
PENDAHULUAN
Kejangbukan suatu penyakit, tetapi gejala dari suatu atau beberapa penyakit, yang merupakan manifestasi
dari lepasnya muatan listrik yang berlebihan disel-sel neuronotak oleh karena terganggu fungsinya.
Kejang demam pada anak merupakan kelainan neurologik yang paling sering dijumpai pada
bayi dan anak. Kejang demam adalah tipe kejang yang paling sering terjadi pada anak. Walaupun telah
dijelaskan oleh bangsa Yunani, baru pada abad ini kejang demam dibedakan dengan epilepsy.1,2
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal
diatas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Suhu badan yang tinggi ini disebabkan
oleh kelainanekstrakranial.3
Serangan kejang demam pada anak yang satu dengan yang lain tidak sama, tergantung dari nilai ambang
kejang masing-masing.Setiapserangan kejang pada anak harus mendapat penanganan yang cepat dan
tepat apalagi pada kasus kejang yang berlangsung lamadanberulang.Karenaketerlambatandankesalahan
prosedur akan mengakibatkan gejala sisa pada anak atau bahkan menyebabkan kematian.2
Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan 5 tahun. Angka kejadia
Kejang demam 2-5 anak dari 100 anak berumur <5 tahun. Jumlah penderita kejang demam
diperkirakan mencapai 2-4% dari jumlah penduduk d i AS, Amerika Selatan, dan Eropa Barat.
Namun di Asia dilaporkan penderitanya lebih tinggi. Sekitar 20% diantara jumlah penderita mengalami kejang
demam kompleks yang harus ditangani secara lebih teliti. Bila dilihat jenis kelamin penderita,
kejang demam sedikit lebih banyak menyerang anak laki-laki. Penderita pada umumnya
mempunyai riwayat keluarga(orang tua atau saudara kandung) penderita kejang demam.

BAB 2
STATUS PASIEN
2.1 Identitas Pasien
-Nama

-Jeniskelamin

An. AM
:

Perempuan

-Umur

1Tahun 8 Bulan

-Alamat

L2 TL Dalam Blok D RT. 15

-Anak ke

2dari2bersaudara

-MRS

20 Februari 2016

Tn. MF

2.2 Identitas Orang Tua Pasien


-Nama Ayah
-Umur

38 Tahun

-Alamat

L2 TL Dalam Blok D RT. 15

-Pekerjaan

Swasta

-Pendidikan Terakhir:

SMA

-Ayah perkawinan ke

-Nama Ibu

Ny. BM

-Umur

32 Tahun

-Alamat

L2 TL Dalam Blok D RT. 15

-Pekerjaan

IRT

-Pendidikan Terakhir:

SMA

-Ibu perkawinan ke:

2.3 Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesa pada tanggal 22 Februari 2016 dengan ibu
kandungpasien.
2.3.1 Keluhan Utama
Kejang

2.3.2 Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengalami Demam sejak 4 hari yang lalu SMRS, demam dimulai kamis sore dan
pasien mengalami kejang, kejang terjadi1kali dengan durasi selama kira-kira 3 menit. Kejang
yang terjadi seluruh tubuh dan mata melirik ke atas. Setelah mengalami kejang, pasien sadar
dan lemas. Pasien tidakmengalami kejang lagi saat tiba diRumah Sakit.
Kejang diawali dengan munculnya demam sejak 4 hari SMRS. Awalnya demam yang
muncultidak terlalu tinggi lalu kemudian demam terus meningkat, tetapi pasien tidak diberikan
obat penurun panas.Demam yang dialami disertai batuk berdahak sejak 4 hari SMRS. Pilek
(-),Penurunan nafsu makan (+) BAB dan BAK dalam batas normal.
2.3.3

Riwayat Penyakit Dahulu

o Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya


o Pasien tidak pernah mengalami trauma sebelumnya
o Riwayat asma, alergi disangkal
2.3.4 Riwayat Penyakit Keluarga
o Gejala serupa dialami oleh keluarga pasien disangkal.
o Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga disangkal
o Riwayat DM, penyakit jantung, dan asma disangkal
2.3.5

Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Berat badan lahir

Panjang badan lahir

: 50 cm

Berat badan sekarang

: 10,2 kg

Tinggi badan sekarang

: 84 cm

Gigi keluar

: 7 bulan

Tersenyum

: 3 bulan

Miring

: 4 bulan

Tengkurap

: 5 bulan

Duduk

: 6 bulan

Merangkak

:orang tua lupa

Berdiri

: 10 bulan

Berjalan

: 12 bulan

: 3000 gr

Berbicara 2 suku kata

: 10 bulan

Masuk TK

:-

Masuk SD

:-

Sekarang kelas

:-

2.3.6 Makan dan Minum Anak


-

ASI

: Mulai diberikan sejak lahir hingga sekarang

Susu sapi

:-

Bubur susu

: Mulai diberikan sejak usia 6 bulan

Tim saring

: Mulai diberikan sejak usia 6 bulan

2.3.7 Pemeriksaan Prenatal


-

Periksa di

: Bidan

Penyakit/ Kehamilan

: Disangkal

Obat-obatan yang sering diminum

:Vitamin dan penmbah darah

2.3.8 Riwayat Kelahiran


-

Lahir di

: Bidan

Berapa bulan dalam kandungan

: 9 bulan(aterm)

Jenis partus

:Spontan per vaginam

2.3.9 Pemeliharaan Postnatal


-

Periksa di

:Posyandu

Keadaan anak

:Sehat

2.3.10 Keluarga Berencana


-

Keluarga berencana

: Tidak

2.3.11 Riwayat Imunisasi


5

Imunisasi

Usia saat imunisasi

BCG
Polio

I
(+)
(+)

II
////////////
(+)

III
////////////
(+)

IV
////////////
(+)

Campak
DPT

(+)

(+)

////////////
(+)

////////////
////////////

HepatitisB

(+)

(+)

(+)

//////////

2.4 Pemeriksaan Fisik


Dilakukan pada tanggal 22 Februari 2016
Kesan umum

:sakitr ingan

Kesadaran

:E4V5M6

TandaVital
Frekuensi nadi

:100 x/menit, kuat angkat, reguler

Frekuensinapas

: 27 x/menit
: 37o Cperaxila

Temperatur
Antropometri
Berat badan

: 10,2 kg

Panjang Badan

: 84 cm

BMI

: 14,45

Status Gizi

:Gizi Baik (kurva WHO -1sampai dengan +1 SD)

Kepala
Rambut

Berwarna hitam, tidak mudah dicabut

Mata

Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik(-/-),Refleks Cahaya(+/+),Pupil

Isokor
(3mm/3mm),mata cowong(-/-)
Mulut

Lidah kotor (-), faring Hiperemis (+), mukosa bibir basah,

pembesaran
Tonsil (-/-)
Leher
Pembesaran Kelenjar :

Pembesaran KGB submandibular (-/-)

Thoraks
Inspeksi

Bentuk dan gerak dinding dada simetris dextra = sinistra,

retraksi(-), Ictus
cordis tidak tampak
Palpasi

Fremitus raba dekstra=sinistra, Ictus cordis tidak teraba

Perkusi

Sonor disemua lapangan paru


Batas jantung
Kiri :ICSV mid clavicula line sinistra
Kanan :ICSIII parasternal line dextra
7

Auskultasi

: vesikuler(+/+), Rhonki(-/-), S1S2 tunggal reguler, bising(-)

Abdomen
Inspeksi

Tampak datar

Palpasi

Soefl, nyeri tekan epigastrium (+), hepatomegali (-), nyeri ketok hepar (-),
splenomegali(-), turgor kulit kembali cepat

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Ekstremitas

: Akral hangat (+), oedem (-), capillaryrefill test < 2 detik, sianosis (-), pembesaran
KGB aksiler (-/-), pembesaran KGB inguinal (-/-)

StatusNeurologi
Kesadaran

Kepala
Leher

Composmentis,GCS E4V5M6
:

Pem. Saraf Kranialis :

Bentuk normal, simetris, nyeri tekan (-)

Sikap tegak, pergerakan baik, kaku kuduk (-)


Tidak dilakukan pemeriksaan

AnggotaGerakAtas
AnggotaGerakAtas
Motorik

Kanan

Kiri

Pergerakan

(+)

(+)

Kekuatan
Refleksfisiologis

Biseps

(+)

(+)

Triceps
Reflekspatologis

(+)

(+)

Tromner

(-)

(-)

Hoffman

(-)

(-)

AnggotaGerakBawah
Motorik

Kanan

Kiri

Pergerakan

(+)

(+)

AnggotaGerakBawah

Kekuatan
Refleksfisiologis

Patella

(+)

(+)

Achilles
Reflekspatologis

(+)

(+)

Babinski

(-)

(-)

Chaddock
Pemeriksaantambahan

(-)

(-)

TesKernig

(-)

(-)

TesBrudinzkiI

(-)

(-)

TesBrudinzkiII

(-)

(-)

2.5

PemeriksaanPenunjang
Tanggal
20/02/2016
Darah Lengkap
Leukosit
22.500
Hb
11,4
Hct
33.9%
Plt
430.000
MCV
78,3
MCH
26,3
MCHC
33,6
KimiaDarah
GDS
88
ElektrolitSerum
Na
139
K
4,2
Cl
104

Tanggal
21/02/2016
Darah Lengkap
Leukosit
20400
Hb
11,2
Hct
33,7
Plt
404000
MCV
77,9
MCH
25,9
MCHC
33,3

Tanggal
22/02/2016
Darah Lengkap
Leukosit
10430
Hb
10,7
Hct
32,3
Plt
423000
MCV
78,8
MCH
26,1
MCHC
33,1

2.6 DiagnosisKerja
Faringitis Akut + Kejang Demam Sederhana
2.7 Penatalaksanaan

IVFD D51/4 NS 1000 cc/24jam

Diazepam pulv 3x 1,5 mg

Domperidone syr 3x1/2cth

Cefotaxime 3x 350mg/IV

Paracetamol inf 3x 100mg

10

Follow Up Ruangan
Tanggal
22/02/2016

S
Kejang (-) Batuk (+)
demam , mulai mau
makan

23/02/2016

Kejang (-) Batuk (+)


demam (-) ,

O
A
Kesadaran:Komposmentis
Obs. Febris dd Faringitis
Tanda vital:
Akut + Kejang Demam
Nadi: 98 x/menit,reguler,kuatangkat
Sederhana
Frek. . napas: 24 x/menit
Suhu: 36,9 0Cperaksila
Ane (-/-), ikt (-/-), faring hiperemis (+) rho
(-/-), whe (-/-). Soefl (+). Bu(+)N, akral
hangat

P
IVFD D5 1/4 NS 1000 cc/24
jam

Diazepam pulv 3x 1,5 mg

Domperidone syr 3x1/2cth

Cefotaxime 3x 350mg/IV

Paracetamol inf 3x 100mg

DL ulang

Kesadaran:Komposmentis
Faringitis Akut + Kejang

Tanda vital:
Demam Sederhana
Obat pulang:
Nadi: 9 6x/menit,reguler,kuatangkat

Frek. . napas: 25 x/menit


0
Suhu: 36,6 Cperaksila

Ane (-/-), ikt (-/-), Faring hiperemis , rho

(-/-), whe (-/-). Soefl (+). Bu(+)N, akral


hangat

ACC KRS

Cefixime 2x1/2 cth


Paracetamol syr 3x1 cth
Stesolid rectal 10 mg

11

BAB3
TINJAUANPUSTAKA
3.1 Pengertian
Kejangdemamialahbangkitankejangyangterjadipadakenaikansuhutubuh(suhurektaldiatas38 0C)
yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium3 atau gangguan keseimbangan elektrolit akut
padaanakusia1bulan,tanpa ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.1
3.2 Etiologi
Pada tingkat pengetahuan kita saat ini dapat dikatakan bahwa infeksi pada sebagian besar
kejang demam adalah tidak spesifik dan timbulnya serangan terutama didasarkan atas reaksi demam yang
terjadi.Faktor-faktor yang mungkin berperan dalam menyebabkan kejang demam, misalnya:
1.
2.
3.
4.
5.

Demam itu sendiri


Efek produk toksin pada mikroorganisme (kumandanvirus) terhadap otak.
Respon alergi k atau keaadaan imun yang abnormal oleh infeksi.
Perubahan keseimbangan cairan elektrolit
Ensefalitis viral(radang otak akibat virus) yang ringan yang tidak diketahui atau

encefalopatitoksiksepintas
6. Gabungan semua faktor diatas.
Kebanyakan kejang demam terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang mendadak, dan paling
sering terjadi selama hari pertama demam. Biasanya demam yang mencetuskan kejang demam
pada disebabkanolehsuatu infeksipadatubuhanak.Infeksiyang palingseringadalah infeksisaluranatas,
otitismedia,campak,pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih.3
3.3 Faktor Risiko
Faktor resiko kejang demam pertama
-

Riwayat keluarga dengan kejang demam.


Permulaan noenatus >28 hari.
Perkembangan terlambat.
Anakdenganpengawasan.
Kadar natrium rendah.
Temperatur yang tinggi.
Bila seorang anak mempunyai 2 atau lebih faktor resiko tersebut diatas, maka

resiko untukmendapatkan kejang demam kira-kira 30%.5


Faktorresikokejangdemamberulang
12

Usia muda kurang dari 12 bulan


Riwayat kejang demam
Cepat timbulnya kejang setelah demam
Temperatur yang rendah saat timbulnya kejang (<380C)
Riwayat keluarga epilepsi.

Rekurensi lebih sering bila serangan pertama terjadi pada bayi berumur kurang dari 1 tahun
yaitusebanyak 50% dan bila terjadi pada usia lebih dari1tahun resiko rekurensi menjadi 28
%.5
3.4 Patogenesis
Meskipun mekanisme pasti terjadinya kejang tidak diketahui, beberapa faktor fisiologis dianggap
bertanggung jawab atas berkembangnya suatu kejang. Untuk mempertahankan hidup sel atau organ otak,
diperlukan suatu energy yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk memetabolisme otak yang
terpenting

adalah

glukosa. Sifat proses itu adalah oksidasi dimana oksigen disediakan dengan

perantaraan fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskuler. Jadi sumber
energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel
dikelilingioleh suatu membranyangterdiridaripermukaandalamadalahlipiddanpermukaanluaradalah
ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion
kalium(K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali
ion klorida (Cl-).
Akibatnya kosentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ menjadi
rendahsedangkan diluar sel neuron terjadi keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan
konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial yang disebut
potensial membrandari selneuron.
Untuk menjaga keseimbangan petensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-KATPase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran ini dapat
diubah olehadanya:
1. Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler.
2. Rangsangan yang datang nya mendadak, misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik
dari sekitarnya.
3. Perubahandaripatofisiologidarimembransendirikarenapenyakitatauketurunan.
Pada keadaan demam, kenaikan 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 1015% dankebutuhan oksigen akan meningkat sampai 20%.

13

Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari
membran selneuron, dan dalam waktu yang singkat dapat terjadi difusi ion kalium listrik.
Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun ke
membran tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang.
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya ambang kejang
seoranganak menderitakejangpadakenaikan suhu tubuh tertentu. Pada anak dengan ambang
kejang yang rendah, kejang sudah dapat terjadi pada suhu 38oC, sedangkan pada anak
dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru dapat terjadi pada suhu 40oC atau
lebih.4
Pada kejang yang berlangsung lama biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatnya
kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet sedangkan otot pernafasan tidak efisien sehingga
tidak sempat bernafas yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnea, hipoglikemia, laktat asidosis
disebabkan metabolism anaerob, hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan
suhu tubuh yang semakin meningkat oleh karena meningkatnya aktivitas otot dan selanjut
nyamenyebabkan metabolisme otot meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah
mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul oedem otak yang
mengakibatkan kerusakan sel neuron. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa berulangnya
kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang yang rendah sehingga di dalam
penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu berapapenderita menjadi kejang.

Demam
(kenaikan suhu tubuh 1 C)

14

Metabolisme basal meningkat

Kebutuhan O2 meningkat

(10-15 %)

(20%)

Perubahan keseimbangan
(membran sel neuron)

Difusi melalui membran (ion K+


menjadi ion N+)

Lepas muatan listrik

Neurotransmiter
Kejang

3.5 Klasifikasi
Dahulu di Sub bagian Saraf Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta
digunakan klasifikasi kriteria Livingston sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang
demam sederhanasebagai berikut:
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan sampai 4 tahun
2. Kejang berlangsung sebentar tidak melebihi 15 menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan neurologis sebelum dan setelah kejang normal
6. Pemerisaksaan EEG yang dibuat sedikitnya satu minggu setelah suhu
normal tidak
menunjukan kelainan
7. Frekuensi bangkitan kejang dalam 1tahun tidak melebihi 7 kali
Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ke tujuh kriteria di
atas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Namun kriteria ini sudah

15

tidak digunakan lagi karena studi epidemilogi membuktikan bahwa resiko berkembangnya epilepsi atau
berulangnyakejangtanpa demam tidak sebanyak yang diperkirakan5.
Saat ini klasifikasi yang dipakai adalah klasifikasi berdasarkan kesepakatan UKK
Neurologi IDAI,Saraf Anak PERDOSSI, yang membagi kejang demam menjadi 2 yaitu:
6

1. Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure)


- Kejang berlangsung singkat umumnya serangan akan berhenti sendiri dalam
waktu kurang dari15 menit.
- Bangkitan kejang tonik atau tonik-klonik tanpa gerakan fokal.
- Tidak berulang dalam waktu 24jam
2. Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure)
- Kejang berlangsung lama lebih dari 15menit.
- Kejang fokal atau partial satu sisi atau kejang umum didahului kejang partial.
- Kejang berulang atau lebih dari 24jam.
3.6 ManifestasiKlinis
Terjadinya kejang pada kejang demam terkait dengan kenaikan suhu yang cepat dan biasanya
berkembang bila suhu tubuh mencapai 38C atau lebih (rectal). Umumnya kejang berlangsung singkat,
berupa serangan tonik klonik. Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik keatas dengan
disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan
ataukekakuanfokal.
Sebagianbesarkejangberlangsungkurangdari6menitdankurangdari8%yangberlangsunglebihdari
15 menit. Sering kali kejang berhenti sendiri setelah mendapat pertolongan pertama. Setelah kejang berhenti
anaktampakcapek,mengantuk,tertidurpulas,dantidakmemberikanreaksiapapununtuksejenakataudisebut
periode mengantuk singkat pasca kejang, tetapi setelah beberapa detik atau menit, anak terbangun dan akan
mulai berangsur sadar tanpa defisit neurologis.. Biasanya, kesadaran pulih sepenuhnya setelah 10 sampai 15
menit.Dalammasaini,anakagaksensitif(irritable)danmungkintidakmengenaliorangdisekitarnya.
Kejang demam yang berlangsung lebih lama dari 15 menit sering bersifat fokal atau unilateral dan
kadang-kadang diikuti oleh parese Tood (lumpuh sementara pasca serangan kejang) yang berlangsung
beberapajamsampaibeberapahari.Kejangunilateralyanglamadapatdiikutiolehhemiparesisyangmenetap.
Bangkitankejangyangberlangsunglamabiasanyalebihseringterjadipadakejangdemamyangpertama.

16

3.7

Pemeriksaan Penunjang

3.7.1

Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium pada anak kejang ditujukan selain untuk mencari etiologi
kejang jugauntukmencarikomplikasiakibatkejangyanglama.Jenis pemeriksanlaboratoriumdisesuaikan
dengan kebutuhan. Pemeriksaan yang dianjurkan pada kejang yang pertama adalah kadar
glukosa darah, elektrolit, hitung jenis dan protrombin time. Pada kejang demam beberapa peneliti
menemukan kadar yang normal terhadap pemeriksaan diatas, oleh karenanya tidak diindikasikan pada
kejang demam, kecuali bila di dapatkan kelainan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik. Bila
dicurigai adanya meningitis bakterialis dilakukan pemeriksaan kultur darah, dan kultur cairan
cerebrospinalis.6

3.7.2

Pungsi lumbal
Pemeriksaan cairan cerebrospinalis dilakukan untik menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama
pada pasien dengan kejang demam yang pertama. Selain itu pungsi lumbal dapat dipertimbangkan
pada pasien dengan kejang disertai penurunan status kesadaran, kaku kuduk, perdarahan kulit,
gejala infeksi, paresis, peningkatan sel darah putih, atau tidak adanya faktor pencetus yang jelas. Pada bayi
kecilseringmanifestasi meningitis tidak jelas sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi
berumur kurang dari 12 bulan, dianjurkan pada pasien berumur 12- 18 bulan dan
dipertimbangkan pada anak berumurdiatas 18 bulan.

3.7.3

lektroensefalografi
Saat ini EEG tidak diindikasikan untuk anak-anak dengan kejang demam sederhana,
karena hasil studi menunjukan bahwa mayoritas dari anak-anak dengan kejang demam
sederhana mempunyai gambaran EEG yang normal. Akan tetapi EEG yang dikerjakan 1
minggusetelah kejangdemam dapatabnormal,biasanyaberupaperlambatandibagianposterior.Kirakira30% penderita yang mengalami perlambatan di posterior akan menghilang 7-10 hari
kemudian. Menurut American Academy of PediatricEEG tidak dianjurkan pada penderita
kejang demam sederhana maupun kompleks.

3.7.4

Neuroimaging
Pemeriksaan ini meliputi CT Scan dan MRI. Kedua pemeriksaan ini diindikasikan pada pasien
yangdicurigai terdapat lesi intrakranial berdasarkan adanya riwayat pemeriksaan neurologis
17

yang abnormal. MRIdapatdipertimbangkan padaanak dengankejangyangsulit diatasi,epilepsilobus


temporalis,perkembangan terlambat tanpa adanya kelainan pada kelainan padaCTScandan
bilaterdapatlesiekuivokal pada CTScan.
3.8

Penatalaksanaan
Padatatalaksana kejang demam ada 3 hal yang perlu diperhatikan yaitu:2,3
1. Pengobatan fase akut
2. Mencari dan mengobati penyebab
3. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam
Pada sebagian kejang besar kasus kejang demam sering kali kejang berhenti sendiri. Dan untuk
mencegah agar kejang tidak berulang kembali sebaiknya diberikan profilaksis anti konvulsan karena kejang
masih dapat kambuh selama anak masih demam. Pada anak yang masih mengalami kejang dilakukan
perawatan yang adekuat meliputi: semua pakaian yang ketat dilonggarkan, kemudian
penderita dimiringkan agar jangan terjadi aspirasi ludah atau lendir dari mulut, jalan napas
harus bebas agaroksigenasiterjamin,bilaperludiberikantambahanoksigen.Fungsivitalsepertikesadaran,
keadaan jantung, tekanan darah, suhu tubuh, pernapasan perlu diikuti dengan seksama. Suhu yang
tinggiharussegeraditurunkan dengan kompres atau pemberian antipiretik. Kejang harus segera
dihentikan untukmencegah agar tidakterjadikerusakanpadaotak,meninggalkangejalasisaataubahkan
menyebabkankematian. Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam.2
Obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan
secara intravena atau intrarektal. Kadar diazepam tertinggi dalam darah akan tercapai dalam
waktu 1-3menitapabila diazepam diberikan secara intravena dan dalam waktu5menit apabila
diberikan secara intrarektal. Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB, diberikan perlahanlahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit dengan dosis maksimal 20
mg. Untuk memudahkan orangtua dirumah dapat diberikan diazepam rektal dengan dosis:

5mg pada anak dengan berat badan <10kg


10mg untuk berat badan anak >10kg
Buccal midazolam (0.5 mg/kg; dosis maximal 10 mg) dikatakan lebih efektif daripada

diazepam per rektal pada anak.

18

Tabel.Dosisobatantikonvulsiuntukkejangdemam

Tatalaksanakejangdemamdankejangsecaraumumyaitutampakpadabaganberikutini:

2. Mencari dan mengobati penyakit


Mencari faktor penyebab sesuai dengan pemeriksaan penunjang yang tersedia. Kejang
demam biasanya disebabkan oleh suatu infeksi sehingga pemberian antibiotik yang tepat sangat di
perlukan.Efektifmenurunkan suhu tubuh sehingga anak tampak lebih tenang, meskipun
tidak terbukti dapatmengurangi resiko rekurensi. Antipiretik yang digunakana ntara lain:
-

Parasetamol atau Asetaminofen 10-15mg/kgBB/x dan diberikan sebanyak 4x

sehari
Ibuprofen 10mg/kgBB/x diberikan sebanyak 3x sehari

19

3. Profilaksis jangka panjang (rumat)


Obat rumat yang dapat menurunkan resiko berulangnya demam hanya fenobarbital (3-5
mg/kgBB/hari. dibagi dalam 2-3 dosis) dan asam valproat (15-40 mg/kgBB/hari dan
dibagi dalam 2 dosis per hari), obat ini diberikan terus menerus selama satu tahun
setelah kejang terakhir kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan. Gangguan prilaku
dan kesulitan belajar adalah efek samping pemakaian fenobarbital setiap harinya, sedangkan
pemakaian asam valproat pada usia kurang dari 2tahun dapat menyebabkan gangguan
pada fungsi hati, sehingga jangan lupa diperiksakan kadar SGOTdan SGPT setelah 2
minggu, satu bulan kemudian setiap 3 bulan.
3.9

Komplikasi
Komplikasi jarang terjadi pada kejang demam sederhana, sedang kejang demam kompleks dapat
menimbulkan komplikasi. Komplikasi yang mungkin dapat terjadi, yaitu:
1.

Kerusakan sel otak


Pada kejang yang berlangsung lama (>15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatnya

kebutuhan O2 dan energi untuk kebutuhan otot skelet yang akhirnya hipoksemia,
hiperkapnea, asidosislaktat oleh karenametabolismeanaerob,hipotensiarterialdisertaidenyutjantungyang
tidak teratur dan suhutubuh meninggi disebabkan meningkatnya aktivitas dan selanjutnya menyebabkan
metabolisme otak meningkat. Rangkaian di atas adalah penyebab terjadinya kerusakan neuron otak. Faktor
terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan
permeabilitaskapilerdantimbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.
2.

Epilepsi
Kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang

berlangsung lama. Dapat menjadi matang dikemudian hari, sehingga sering terjadi serangan
epilepsi spontandikemudian hari.
3.

PenurunanIQ
Ganguan intelek dan gangguan belajar jarang terjadi pada kejang demam sederhana. Ellenberg dan

Nelson melaporkan bahwa IQ pada 42 pasien kejang demam tidak berbeda bila
dibandingkan

dengan saudara kandungnya yang tidak menderita kejang demam. IQ lebih rendah

20

ditemukan pada pasien kejang

demam yang berlangsung lama dan sebelumnya telah terdapat

gangguan perkembangan atau kelainan neurologis. Selain itu resiko retardasi mental pada pasien
dengan kejang demam yang berulang menjadi 5x lebih besar.

4.

Kelumpuhan
Hemiperesis biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung lebih dari

setengahjam) baik bersifat umum atau fokal. Mula mula kelumpuhan bersifat flasid tetapi
setelah 2minggu spastisitas.
3.10

Prognosis
Risiko cacat akibat komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Kematian akibat
kejang demam juga tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya
tetap normal padapasien yang memang sebelumnya normal.1
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor resiko berulangnya kejang yaitu
riwayat kejang demam dalam keluarga, usia saat kejang pertama < 12 bulan, temperatur yang
rendah saat kejang (<40C) dan timbulnya kejang yang cepat setelah demam. Bila semua
faktor tersebut terpenuhi maka resiko berulangnya kejang demam 80 % sedangkan bila
tidak terdapat faktor tersebut resikonya 10-15%. Kemungkinan berulangnya kejang paling
besar pada tahun pertama.1
Faktor risiko terjadinya epilepsi adalah jika ada kelainan neurologis atau perkembangan
yang jelassebelum kejang demam pertama, kejang demam kompleks, riwayat epilepsi pada orangtua atau
saudara kandung. Masing-masing faktor risiko meningkatkan risiko epilepsi sampai 4-6% dan
kombinasi faktor resiko tersebut meningkatkan faktor risiko epilepsi enjadi 10-49%. Risiko ini tidak dapat
dicegahdenganpemberian obat rumatan profilaksis pada kejang demam.1

21

BAB4
PEMBAHASAN

Teori

Fakta

GejalaKlinis

Kejangdemamterjadi karenapeningkatan suhutubuh yang


mendadak, dan paling sering terjadi selama hari
pertamademam.Biasanya demam yang mencetuskan
kejang demam disebabkan oleh suatu infeksi pada
tubuh anak.Infeksiyangpalingseringadalahinfeksisaluran
atas,otitismedia,campak,pneumonia, gastroenteritis dan
infeksi saluran kemih.3
Kejang demam sederhana (Simple febrile seizure)
- Kejang berlangsung singkat umumnya serangan akan

Pasien mengalami kejang dengan


durasi selama kira-kira 3 menit. Kejang
yang terjadi seluruh tubuh dan mata
melirik keatas.
Kejang diawali dengan munculnya
demam sejak 4 hari SMRS. Awalnya
demam yang muncul tidak terlalu tinggi

berhenti sendiri dalam waktu kurang dari 15

lalu kemudian demam terus meningkat,


tetapi pasien tidak diberikan obat penurun

menit.
Bangkitan kejang tonik atau tonik-klonik tanpa

gerakan fokal.
Tidak berulang dalam waktu 24 jam

panas.
Pasien juga mengalami batuk berdahak
sejak 4 hari SMRS. Pilek (-), Penurunan
nafsu makan (+) BAB dan BAK dalam
batas normal.
Selama di ruang perawatan, pasien
mengeluhkan batuk berdahak.

Pemeriksaan Fisik

Kesadaran pasien komposmentis

Demam dengan suhu tubuh mencapai

38Catau lebih(rectal).
Tanda infeksi seperti Infeksi yang paling sering
adalah infeksi saluran atas, otitis media, campak,

GCS15

pneumonia, gastroenteritis dan infeksi

Faring Hiperemis

saluran

kemih.
Untuk infeksi gastroenteritis, bisa didapatkan tanda

Suhu pasien dalam batas normal


(mendapatparasetamol)
Status genaralisata dalambatas normal

Status neurologis dalam batas normal

dehidrasisepertimata cowong,bibir kering,turgor

kulit menurun.
Tidak ditemukan defisit neurologis pasca
22

kejang
PemeriksaanPenunjang

Laboratorium untuk mencari penyebab infeksi

Elektroensefalografi (EEG)

Pungsi lumbal untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi


SSP

Pemeriksaan ini meliputi CT Scan dan MRI. Kedua pemeriksaan ini


diindikasikan pada pasien yang dicurigai terdapat lesi intrakranial
berdasarkan adanya riwayat pemeriksaan neurologis yang
abnormal

Pada pemeriksaan laboratorium


didapatkanleukositosis(L=22.500)

Penatalaksanaan
Padatatalaksana kejang demam ada 3 hal yang perlu
diperhatikanyaitu:2,3
a. Pengobatan fase akut
b. Mencari dan mengobati penyebab
c. Pengobatan profilaksis terhadap berulangnya kejang demam

Terapi yang diberikan:

IVFD D5 1/4 NS 1000 cc/24


jam

Diazepam pulv 3x 1,5 mg

Domperidone syr 3x1/2cth

Cefotaxime 3x 350mg/IV

Paracetamol inf 3x 100mg

23

BAB5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Pasien mengalami Demam sejak 4 hari yang lalu SMRS, demam dimulai kamis sore dan
pasien mengalami kejang, kejang terjadi1kali dengan durasi selama kira-kira 3 menit. Kejang
yang terjadi seluruh tubuh dan mata melirik keatas. Setelah mengalami kejang, pasien sadar
dan lemas. Pasien tidakmengalami kejang lagi saat tiba diRumah Sakit.
Kejang diawali dengan munculnya demam sejak 4 hari SMRS. Awalnya demam yang
muncultidak terlalu tinggi lalu kemudian demam terus meningkat, tetapi pasien tidak diberikan
obat penurun panas.Demam yang dialami disertai batuk berdahak sejak 4 hari SMRS. Pilek
(-),Penurunan nafsu makan (+) BAB dan BAK dalam batas normal.
Saat perawatan diruangan pasienturut mengeluhkan batuk berdahak berwarna putih.
Adapun hasil pemeriksaan fisik yang ditemukan semuanya dalam batas normal kecuali faring tampak
hiperemis. Pada pemeriksaan penunjang, ditemukan leukositosis pada hasil pemeriksaan darah lengkap.
Pasien ini didiagnosis faringitis akut dan kejang demamsederhana, Jikaditelaah berdasarkan anamnesis
hingga penatalaksanaan, maka didapatkan kesimpulan bahwa telah sesuai antara kasus dengan literatur
yangkamidapatkan.

24

DAFTARPUSTAKA
1. Dwi Wastoro dkk, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang. 2011
2. Behrman RE, KliegmanRM, Arvio, Nelson Ilmu Kesehatan anak,volume3,edisi15.Jakarta:
EGC2005, hal 2059-2066.
3. Pusponegoro HD, dkk. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. Unit Kerja Koordinasi
NeurologiIkatan Dokter Anak Indonesia 2006. Hal 1-15.
4. Dwi Putro Widodo.Kejang demam apa yang perlu diwaspadai. Penanganan demam pada
anak secara professional,Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta, RCSM 2005,hal 5866.
5. Kesepakatan UUK Neurologi IDAI, kejang demam,Saaf Anak PERDOSI,Jakarta,2004.
6. Standar Penatalaksanaan Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSMH,
2008.
7. Staf PengajarIlmuKesehatanAnak,Buku kuliah2ilmu kesehatan anak.Bagian Ilmu Kesehatan
Anak,FKUI,1985 hal 847-855.

25