Vous êtes sur la page 1sur 20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KONSEP KANKER

  • 2.1.1 Definisi kanker

Menurut WHO, kanker adalah istilah umum untuk satu kelompok

besar penyakit yang dapat mempengaruhi setiap bagian dari tubuh. Istilah

lain yang digunakan adalah tumor ganas dan neoplasma. Salah satu fitur

mendefinisikan kanker adalah pertumbuhan sel-sel baru secara abnormal

yang tumbuh melampaui batas normal, dan yang kemudian dapat

menyerang bagian sebelah tubuh dan menyebar ke organ lain. Proses ini

disebut metastasis. Metastasis merupakan penyebab utama kematian

akibat kanker (WHO, 2009). Menurut National Cancer Institute(2009), kanker adalah suatu

istilah untuk penyakit di mana sel-sel membelah secara abnormal tanpa

kontrol dan dapat menyerang jaringan di sekitarnya. Kanker adalah istilah

umum yang dipakai untuk menunjukkan neoplasma ganas, dan ada

banyak tumor atau neoplasma lain yang tidak bersifat kanker (Price et al.,

2006). Neoplasma secara harfiah berarti “pertumbuhan baru”. Suatu

neoplasma, sesuai definisi Wills, adalah “massa abnormal jaringan yang

pertumbuhannya berlebihan dan tidak terkoordinasikan dengan

pertumbuhan jaringan normal serta terus demikian walaupun rangsangan

yang memicu perubahan tersebut telah berhenti” (Kumar et al., 2007).

Istilah tumor kurang lebih merupakan sinonim dari istilah neoplasma.

Semua istilah tumor diartikan secara sederhana sebagai pembengkakan

atau gumpalan, dan kadang-kadang istilah “ tumor sejati” dipakai untuk

membedakan neoplasma dengan gumpalan lainnya. Neoplasma dapat

dibedakan berdasarkan sifat-sifatnya; ada yang jinak, ada pula yang

ganas (Price et al., 2006).

2.1.2

Komplikasi kanker Sindroma Paraneoplastik

Sindroma Paraneoplastik adalah sekumpulan gejala yang bukan

disebabkan oleh tumornya sendiri, tetapi oleh zat-zat yang dihasilkan oleh

kanker. Beberapa zat yang dapat dihasilkan oleh tumor adalah hormone,

sitokinese, dan berbagai protein lainnya. Zat-zat tersebut mempengerahui

organ atau jaringan melalui efek kimianya. Bagaimana tepatnya kanker

mengenai sisi yang jauh belum sepenuhnya dimengerti. Beberapa kanker

mengeluarkan zat ke dalam aliran darah yang merusak jaringan yang

jauh melalui suatu reaksi autoimun. Kanker lainnya mengeluarkan zat

yang secara langsung mempengaruhi fungsi dari organ yang berbeda

atau merusak jaringan. Bisa terjadi kadar gula darah yang rendah, diare,

dan tekanan darah tinggi.

2.1.2 Komplikasi kanker Sindroma Paraneoplastik Sindroma Paraneoplastik adalah sekumpulan gejala yang bukan disebabkan oleh tumornya sendiri,
  • 2.1.3 Nyeri pada kanker

Nyeri sering diklasifikasikan sebagai akut atau kronis atau dengan

cara bervariasi dari waktu ke waktu dengan istilah-istilah seperti

terobosan, terus-menerus, atau insidental. Nyeri akut biasanya

disebabkan oleh cedera jaringan, dimulai tiba-tiba dengan cedera, dan

berkurang dari waktu ke waktu dengan penyembuhan jaringan. Secara

umum, nyeri akut sembuh dalam 3 sampai 6 bulan pengobatan nyeri akut

berfokus pada memblokir jalur nociceptive dan menyembuhkan jaringan

(Voscopoulos C, 2010) Nyeri kronis biasanya tetap ada bahkan setelah cedera telah

sembuh, meskipun pasien dengan penyakit sendi kronis, misalnya,

mungkin memiliki kerusakan jaringan yang sedang berlangsung dan

karena mengalami sakit kronis. Nyeri menjadi kronis ketika berlangsung

lebih dari 1 bulan setelah penyembuhan lesi; berlanjut atau mungkin

berulang beberapa bulan; atau tidak dapat disembuhkan. [9] Transisi dari

nyeri akut ke nyeri kronis dapat dipahami sebagai serangkaian perubahan

yang relatif diskrit dalam SSP, [9] tetapi ada juga perbedaan perilaku yang

jelas pada nyeri kronis. Nyeri kronis melibatkan aktivasi mekanisme

sekunder seperti sensitisasi neuron orde kedua dengan peningkatan

regulasi saluran asam N-methyl-D-aspartat dan perubahan dalam

mikroglia cytoarchitecture (Voscopoulos C, 2010). Nyeri pada pasien kanker dapat berupa nyeri akut atau kronis.

Nyeri akut adalah karena kerusakan yang disebabkan oleh cedera

jaringan dan cenderung hanya bertahan singkat. Misalnya, nyeri pada

pasien kanker akibat operasi merupakan nyeri akut. Rasa sakit terjadi

saat luka dan ketika luka sembuh maka nyeri akan hilang (Cancer

Research UK, 2015) .. Nyeri kronis adalah nyeri yang disebabkan oleh perubahan saraf.

Perubahan saraf dapat terjadi karena kanker menekan saraf atau karena

bahan kimia yang diproduksi oleh tumor. Hal ini juga dapat disebabkan

oleh perubahan saraf akibat pengobatan kanker. Rasa nyeri pada nyeri

kronis bersifat lama setelah cedera jaringan atau akibat pengobatan dan

dapat berkisar dari ringan sampai berat. Nyeri menetap sepanjang waktu

dan juga disebut nyeri persisten. Nyeri kronis bisa sulit untuk digobati,

tetapi obat penghilang rasa sakit atau metode pengendalian nyeri lainnya

sering berhasil mengendalikannya (Cancer Research UK, 2015) ..

Nyeri

yang

tidak

terkontrol

dengan

baik

dapat

berkembang

menjadi nyeri kronis. Sehingga sangat penting untuk mengambil obat

penghilang rasa sakit yang diresepkan. Selain itu nyeri juga dapat

diminimalisir menggunakan metode non farmakologis seperti distraksi,

relaksasi dan lain sebagainya (Cancer Research UK, 2015).

2.2 KONSEP NYERI

  • 2.2.1 Definsi Nyeri

Menurut International Association for the Study of Pain (IASP),

nyeri didefinisikan sebagai suatu pengalaman sensorik dan emosional

yang tidak menyenangkan dan berhubungan dengan kerusakan jaringan

aktual maupun potensial (O’Neil, 2008). Nyeri dapat timbul dimana saja

pada bagian tubuh sebagai respon terhadap stimulus yang berbahaya

bagi tubuh seperti suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin, tertusuk

benda tajam, atau patah tulang. Rasa nyeri yang timbul apabila terjadi

kerusakan jaringan akan menyebabkan individu bereaksi dengan cara

memindahkan posisi tubuhnya (Guyton & Hall, 2006). Nyeri merupakan sesuatu yang bersifat subyektif. Setiap individu

memahami nyeri melalui pengalaman yang berhubungan langsung

dengan perlukaan (injury) yang terjadi dalam kehidupannya (Andarmoyo,

2013). Rasa nyeri akan disertai respon stress, antara lain berupa

meningkatnya rasa cemas, denyut jantung, tekanan darah, dan frekuensi

nafas. Nyeri yang berlanjut atau tidak ditangani secara adekuat dapat

memicu respon stress yang berkepanjangan, yang akan menurunkan

daya tahan tubuh dengan menurunkan fungsi imun serta mempercepat

kerusakan jaringan sehingga akhirnya akan memperburuk kualitas

kesehatan (Hartwig &Wilson, 2006).

2.2.2

Patofisiologi Nyeri

Patofisiologi nyeri diawali dengan pengeluaran mediator-mediator

inflamasi, seperti bradikinin, prostaglandin (PGE2 dan PGEa), histamin,

serotonin, dan substansi P yang akan merangsang ujung-ujung saraf

bebas. Stimulus ini akan diubah menjadi impuls listrik yang dihantarkan

melalui saraf menuju ke sistem saraf pusat. Adanya impuls nyeri akan

menyebabkan keluarnya endorfin yang akan berikatan dengan reseptor

m, d, dan k di sistem saraf pusat. Terikatnya endorfin pada reseptor

tersebut akan menyebabkan hambatan pengeluaran mediator di perifer,

sehingga akan menghambat penghantaran impuls nyeri ke otak. Pada keganasan, nyeri yang disebabkan oleh aktivasi nosiseptor

disebut nyeri nosiseptif; sedangkan nyeri yang ditimbulkan oleh gangguan

pada sistem saraf disebut nyeri neuropatik. Nyeri nosiseptif terjadi akibat

kerusakan jaringan yang potensial yang dapat disebabkan oleh

penekanan langsung tumor, trauma, inflamasi, atau infiltrasi ke jaringan

yang sehat dan dapat berupa nyeri somatik maupun viseral. Nyeri

somatik terjadi akibat terkenanya struktur tulang dan otot, bersifat tajam,

berdenyut, serta terlokalisasi dengan jelas. Nyeri viseral adalah nyeri

nosiseptif yang disebabkan oleh penarikan, distensi, atau inflamasi pada

organ dalam toraks dan abdomen. Nyeri viseral bersifat difus, tidak

teralokalisasi, dan dideskripsikan sebagai tegang atau kejang disertai

rasa mual dan muntah. Nyeri neuropatik sering dijumpai pada pasien keganasan dan

umumnya sulit untuk ditangani. Nyeri neuropatik dapat terjadi akibat

kompresi saraf oleh masa tumor, trauma saraf pada prosedur diagnostik

atau pembedahan, serta cedera sistem saraf akibat efek samping

kemoterapi atau radioterapi. Adanya gangguan pada sistem saraf akan

menyebabkan lepasnya muatan spontan dan paroksismal pada sistem

saraf perifer dan pusat atau menyebabkan hilangnya modulasi inhibitor

pusat. Karakteristik nyeri neuropatik adalah hiperalgesia (respon

berlebihan terhadap stimulus yang menimbulkan nyeri) dan alodinia (nyeri

yang disebabkan oleh stimulus yang secara normal tidak menyebabkan

nyeri.

  • 2.2.3 Klasifikasi Nyeri

Klasifikasi Nyeri Nyeri diklasifikasikan atas dua bagian, yaitu nyeri

akut dan nyeri kronis (Berger, 1992).

  • 1. Nyeri Akut Nyeri akut biasan mempunyai awitan yang tiba-tiba dan umumnya berkaitan dengan cedera spesifik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan atau cedera telah terjadi. Jadi kerusakan tidak lama terjadi dan tidak ada penyakit sistematik, nyeri akut biasanya menurun sejalan dengan terjadinya penyembuhan. Nyeri akut umumnya terjadi kurang dari enam bulan dan biasanya kurang dari satu bulan. Cedera atau penyakit yang menyebabkan nyeri akut dapat sembuh secara spontan atau memerlukan pengobatan (Smeltzer & Bare, 2001).

  • 2. Nyeri Kronik Nyeri kronik merupakan nyeri berulang yang menetap dan terus menerus yang berlangsung selama enam bulan atau lebih. Nyeri kronis dapat tidak mempunyai awitan yang ditetapkan dengan tepat dan sering sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respons terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Meskipun tidak diketahui mengapa banyak orang menderita nyeri kronis setelah suatu cedera atau proses penyakit, hal ini diduga bahwa ujung ujung saraf yang normalnya tidak mentransmisikan nyeri menjadi mampu untuk

memberikan sensasi nyeri, atau ujung-ujung saraf yang normalnya

hanya mentransmisikan stimulus yang sangat nyeri menjadi

mampu mentransmisikan stimulus yang sebelumnya tidak nyeri

sebagai stimulus yang sangat nyeri (Smeltzer & Bare, 2001).

  • 2.2.4 Respon Nyeri

Menurut Taylor (1997), respons pasien terhadap nyeri berbeda-

beda, dapat dikategorikan sebagai (1) respons perilaku, (2) respons

fisiologik, dan (3) respons afektif. Respons perilaku terhadap nyeri dapat mencakup pernyataan

verbal, perilaku vokal, ekspresi wajah, gerakan tubuh, kontak fisik dengan

orang lain, atau perubahan respons terhadap lingkungan. Respons

perilaku ini sering ditemukan dan kebanyakan diantaranya dapat di

observasi. Individu yang mengalami nyeri akan menangis, merapatkan

gigi, mengepalkan tangan, melompat dari satu sisi ke sisi lain, memegang

area nyeri, gerakan terbatas, menyeringai, mengerang, pernyataan verbal

dengan kata-kata. Perilaku ini sangat beragam dari waktu ke waktu

(Smeltzer & Bare, 2001). Respons fisiologik antara lain seperti meningkatnya pernafasan

dan denyut nadi, meningkatnya tekanan darah, meningkatnya

ketegangan otot, dilatasi pupil, berkeringat, wajah pucat, mual, dan

muntah (Berger, 1992). Respons fisiologik ini dapat digunakan sebagai

pengganti untuk laporan verbal dari nyeri pada pasien tidak sadar

(Smeltzer & Bare, 2001).

Respons

afektif

seperti cemas, marah, tidak nafsu makan,

kelelahan, tidak punya harapan, dan depresi juga terjadi pada pasien

yang mengalami nyeri. Cemas sering diasosiasikan sebagai nyeri akut

dan frekuensi dari nyeri tersebut dapat diantisipasi. Sedangkan depresi

sering diasosiasikan sebagai nyeri kronis (Taylor, 1997).

  • 2.2.5 Faktor yang mempengaruhi persepsi nyeri

Faktor- faktor yang mempengaruhi nyeri antara lain :

1. Usia

Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri,

khususnya pada anak dan lansia. Perbedaan perkembangan yang

di temukan diantaranya kelompok usia ini dapat mempengaruhi

bagaimana anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri.

  • 2. Jenis kelamin Secara umum, pria dan wanita tidak berbeda secara makna dalam respon terhadap nyeri. Jenis kelamin merupakan suatu faktor dalam mengekspresikan nyeri. Toleransi nyeri sejak lama telah menjadikan subyek penelitian yang melibatkan pria dan wanita, tetapi toleransi nyeri dipengaruhi oleh faktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap individu tanpa memperhatikan jenis kelamin

  • 3. Kebudayaan Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang diterima oleh kebudayaan mereka. Menurut pendapat Clancy & Vicar yang dikutip dari (Perry & Potter 2005), menyatakan bahwa sosialisasi budaya menentukan perilaku psikologis seseorang dan hal ini dapat mempengaruhi pengeluaran fisiologi opiat endogen dan sehingga terjadilah

persepsi nyeri.

 
  • 4. Makna nyeri

Makna

nyeri

adalah

pengalaman nyeri dan cara seseorang

beradaptasi terhadap nyeri. Seseorang akan mempersepsikan

nyeri dengan cara yang berbeda-beda apabila nyeri tersebut

memberikan kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman dan

tantangan misalnya seorang wanita yang sedang bersalin akan

mempersepsikan nyeri berbeda dengan pukulan pasangannya.

Derajat dan kualitas nyeri ini akan dipersepsikan klien yang

berhubungan dengan makna nyeri.

5.

Perhatian Tingkat seseorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri

dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat

dihubungkan dengan nyeri yang meningkat sedangkan upaya

pengalihan (distraksi) dihubungkan dengan respon nyeri yang

menurun (Gill 1990 dalam Potter & Perry 2009).

  • 6. Ansietas Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks. Anseitas seringkali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat meninbulkan suatu perasaan ansietas.

  • 7. Keletihan Keletihan dapat meningkatkan persepsi nyeri dan rasa kelelahan menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan menurukan kemampuan koping. Hal ini terjadi karena masalah pada setiap individu yang menderita penyakit dalam jangka waktu yang lama

  • 8. Pengalaman sebelumnya Pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa individu akan menerima nyeri dengan lebih mudah pada masa yang akan datang. Saat individu sudah lama mengalami nyeri dan sering mengalami nyeri tanpa pernah sembuh maka rasa takut akan muncul, dan sebaliknya apabila individu mengalami nyeri dengan

jenis yang sama berulang-ulang, tetapi kemudian nyeri tersebut

dengan berhasil dihilangkan akan lebih mudah bagi individu

tersebut untuk menginterprestasikan sensasi nyeri akibatnya, klien

akan lebih siap untuk melakukan tindakantindakan yang

diperlukan untuk menghilangkan nyeri.

  • 9. Gaya koping Pengalaman nyeri dapat menjadi suatu pengalaman yang membuat merasa kesepian, gaya koping mempengaruhi

mengatasi nyeri. 10. Dukungan keluarga dan sosial

Faktor lain yang mempengaruhi respon nyeri adalah kehadiran

orang- orang terdekat klien dan bagaimana sikap mereka

terhadap klien. Nyeri dirasakan saat kehadiran orang yang

bermakna bagi pasien akan meminimalkan kesepian dan

ketakutan apabila ada keluarga atau teman, seringkali

pengalaman nyeri membuat klien semakin tertekan, sebaliknya

tersedianya seseorang yang memberikan dukungan sangat

berperan dalam memberikan kenyamanan (Perry & Potter 2006).

  • 2.2.6 Pengukuran nyeri

Pengukuran nyeri secara valid dan reliabel diperlukan untuk

mengidentifikasi pasien yang memerlukan intervensi dan mengevaluasi

efektifitas manajemen nyeri yang digunakan (O'Rourke, Deborah. 2004).

Istilah “pengukuran (measurement)” dan “penilaian (assessment)” sering

digunakan dalam banyak literatur. Pengkuran mengacu pada penilaian

angka atau nilai dan umumnya dikaitkan dengan intensitas nyeri

(McGrath PJ, Unruh AM, 1999 dalam O'Rourke, Deborah. 2004). Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri

dirasakan oleh individu. (Tamsuri, 2007). Pengukuran intensitas nyeri

sangat subjektif dan individual, artinya nyeri dengan intensitas yang sama

dapat dirasakan berbeda oleh dua orang yang berbeda (Tamsuri, 2007).

Nyeri bersifat subjektif, seorang perawat harus dapat meyakini nyeri yang

dirasakan pasien. Selain itu, agar nyeri dapat dinilai lebih objektif maka

dilakukan pengukuran. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif

yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh

terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan teknik ini juga

tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri

(Tamsuri, 2007). Skala pengukuran nyeri menurut Agency for Health Care

Policy dan Research (AHCPR ) dalam (Brunner dan Suddart, 2001) terdiri

dari:

  • a. Skala Analog Visual / Visual Analogue Scale (VAS) Skala Analog Visual / Visual Analogue Scale adalah suatu garis lurus yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka. Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak menghabiskan banyak waktu saat klien melengkapinya. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala, maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Skala deskritif bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri, tapi juga, mengevaluasi perubahan kondisi klien. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter & Perry, 2006).

Policy dan Research (AHCPR ) dalam (Brunner dan Suddart, 2001) terdiri dari: a. Skala Analog Visual

Gambar: Visual Analog Scale

  • b. Numeric Rating Scale (NRS)

Skala ini menggunalan

angka 0 sampai dengan 10 untuk

menggambarkan tinglat nyeri. (Black & Hawks, 2009). Dua ujung

ekstrim juga digunakan dalam skala ini sama seperti pada VAS. NRS

lebih bermanfaat pada periode post operasi karena selain angka 0-10,

penilaian berdasarkan kategori juga dilakukan pada penelitian ini.

(Nilsons, 2008; Rospond, 2008) Skala 0 dideskripsikan sebagai tidak

ada nyeri, skala 1-3 dideskripsikan sebagai nyeri ringan yaitu ada

rasa nyeri (mulai terasa tapi masih dapat ditahan). Lalu skala 4-6

dideskripsikan sebagai nyeri sedang yaitu ada nyeri, teras

mengganggu dengan usaha yang cukup kuat untuk menahannya.

Skala 7-10 dideskripsikan sebagai nyeri berat yaitu ada nyeri, terasa

sangat mengganggu / tidak tertahankan sehingga harus meringis,

menjerit atau berteriak. (Mc.Caferry & Beebe, 1993). Sama seperti VAS, NRS juga sangat mudah digunakan dan

merupakan alat ukur yang sudah valid (Brunelli, et.al., 2010).

Pada

penelitian

ini

menggunakan

NRS

sebagai

skala

pengukuran untuk menilai nyeri pasien Reliabilitas NRS telah

dilakukan ujinya oleh Brunelli, et.al. (2010), dengan membandingkan

instrument NRS, VAS, dan VRS untuk mengkaji nyeri pada 60 pasien.

Hasil uji Cohen’s Kappa untuk instrumen NRS adalah 0,86 (sangat

baik). Bersama-sama dengan VAS dan Verbal Rating Sclaes (VS),

NRS adalah instrumen pengukuran intensitas nyeri yang reliable dan

valid yang dapat digunakan untuk mengukur nyeri secara subjektif

pad apasien dengan kanker. Berdasarkan hasil penelitian oleh

Brunelli, et al, (2010) menunjukkan bahwa NRS memiliki hasil yang

lebih baik dalam mengukur nyeri pasien dengan kanker dibandingkan

menggunakan instrumen VRS. Instrumen pengukuran NRS adalah seperti gambar di bawah

ini:

ada nyeri, skala 1-3 dideskripsikan sebagai nyeri ringan yaitu ada rasa nyeri (mulai terasa tapi masih

Gambar: Numeric Rating Scale

Keterangan:

0

: Tidak ada keluhan nyeri

1-3

: Ada rasa nyeri, mulai terasa, tetapi masih dapat ditahan

4-6

: Ada rasa nyeri, terasa mengganggu, dan dengan melakukan

7-10

usaha yang kuat untuk menahannya : Ada nyeri, terasa sangat mengganggu / tidak tertahankan,

sehingga harus meringis, menjerit, bahkan berteriak

2.3 KONSEP MUSIK

  • 2.3.1 Definisi terapi musik

Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental

dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, bentuk

dan gaya yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang

bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental (Eka, 2011). Terapi musik

adalah penggunaan musik untuk relaksasi, mempercepat

penyembuhan, meningkatkan fungsi mental dan menciptakan rasa

sejahtera. Musik dapat mempengaruhi fungsifungsi fisiologis, seperti

respirasi, denyut jantung dan tekanan darah (Djohan 2006). Semua

terapi musik mempunyai tujuan yang sama, yaitu membantu

mengekspresikan perasaan, membantu rehabilitasi fisik, memberi

pengaruh positif terhadap kondisi suasana hati dan emosi, meningkatkan

memori, sertas menyediakan kesempatan yang unik untuk berinteraksi

dan membangun kedekatan emosional. Dengan demikian, terapi musik

diharapkan dapat membantu mengatasi stress, mencegah penyakit dan

meringankan rasa sakit (Anugroho, 2012).

Terapi

musik

sebagai

teknik

yang

digunakan

untuk

penyembuhan suatu penyakit dengan menggunakan bunyi atau irama

tertentu. Jenis musik yang digunakan dalam terapi musik dapat

disesuaikan dengan keinginan, seperti musik klasik, instrumentalis,

dan slow musik (Potter & Perry 2005). Terapi musik mampu

menggabungkan antara aspek penyembuhan musik itu sendiri dengan

kondisi dan situasi baik fisik atau tubuh, emosi, mental, spiritual, kognitif

dan kebutuhan sosial seseorang (Natalia 2013). Alunan musik lembut yang menenangkan dan stimulasi gelombang

otak dengan frekuensi deep delta untuk merangsang kondisi relaksasi

yang dalam. Pada kondisi deep delta, akan terjadi pelepasan

endorfin yang merupakan zat anestesi alami. Terapi musik klasik

dapat membantu menghilangkan atau meringankan berbagai rasa sakit

misalnya meredakan nyeri akibat suatu penyakit, nyeri punggung,

rematik arthritis, luka bakar, luka kecelakaan, nyeri penderita kanker,

nyeri persendian, nyeri pada otot, nyeri pasca operasi dan jenis nyeri

lainnya(Eka 2009).

Terapi

musik

dapat meningkatkan kualitas fisik dan mental

karena musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu karena musik bersifat

nyaman, menenangkan, membuat rileks, berstruktur, dan universal.

Terapi musik adalah terapi yang universal dan bisa diterima oleh

semua orang karena kita tidak membutuhkan kerja otak yang berat

untuk menginterpretasi alunan musik. Terapi musik sangat mudah

diterima organ pendengaran kita dan kemudian melalui saraf

pendengaran disalurkan ke bagian otak yang memproses emosi (sistem

limbik) (Eka 2009). Menurut Musik

Wilgram (2002), Anjali & Ulrich 2007, Nilson

2009 terapi msik merupakan komponen yang dinamis yang dapat

mempengaruhi psikologi maupun fisiologi bagi pendengarnya. New

Zealand Society for Music Therapy (NZSMT) (2005) menyatakan

bahwa terapi musik terbukti efektifitasnya untuk implementasikan

pada bidang kesehatan, karena musik dapat menurunkan kecemasan,

nyeri, stress, dan menimbulkan mood yang positif (Zealand society for

music therapy 2005 dalam Novita 2012).

Berdasarkan

uraian

tersebut

dapat

disimpulkan

bahwa terapi

musik adalah terapi menggunakan media musik dalam pengobatan

yang dapat mempengaruhi aspek seseorang dalam penyembuhan

baik fisik maupun mental dengan musik alunan lembut yang

menenangkan

  • 2.3.2 Manfaat terapi musik Manfaat terapi musik antara lain:

a) Musik meningkatkan kecerdasan dengan cara:

1)

Daya

ingat.

Kegiatan

bernyanyi

dengan

lirik

lagu

dan

menghafalkan lirik lagu akan melatih daya ingat.

 

2)

Konsentrasi.

Pada

saat

terlibat

dalam

bermusik misalnya

menyanyi, bermain instrumen akan menyebabkan otak

bekerja secara terfokus. 3) Emosional. b) Relaksasi

Mengistirahatkan

tubuh dan pikiran merupakan manfaat

yang pasti dirasakan setelah melakukan terapi musik sehingga

klien akan merasakan perasaan rileks, tubuh lebih bertenaga dan

pikiran lebih fresh. Terapi musik memberikan kesempatan bagi

tubuh dan pikiran untuk mengalami relaksasi yang sempurna.

Kondisi relaksasi (istirahat) yang sempurna itu, seluruh sel dalam

tubuh akan mengalami re-produksi, penyembuhan alami

berlangsung, produksi hormon tubuh diseimbangkan dan

pikiran mengalami penyegaran (Eka 2009).

  • c) Meningkatkan motivasi

Motivasi

adalah

hal

yang

hanya bisa dimunculkan

dengan perasaan dan mood tertentu. Apabila ada motivasi,

semangat pun akan muncul dan segala kegiatan bisa

dilakukan. Begitu juga sebaliknya, jika motivasi terbelenggu,

maka semangat pun menjadi luruh, lemas, tak ada tenaga untuk

beraktivitas. Dari hasil penelitian, ternyata jenis musik tertentu bisa

meningkatkan motivasi, semangat dan meningkatkan level energi

seseorang (Eka 2009).

  • d) Mengurangi rasa sakit Musik bekerja pada sistem saraf otonom yaitu bagian sistem saraf yang bertanggung jawab mengontrol tekanan darah, denyut jantung dan fungsi otak, yang mengontrol perasaan dan emosi. Menurut penelitian, kedua sistem tersebut bereaksi sensitif terhadap musik. Saat merasa sakit, kita menjadi takut, frustasi dan marah yang membuat kita menegangkan otot-otot tubuh, hasilnya rasa sakit menjadi semakin parah. Mendengarkan musik secara teratur membantu tubuh rileks secara fisik dan mental, sehingga membantu menyembuhkan dan mencegah rasa sakit. Pada proses persalinan, terapi musik berfungsi mengatasi kecemasan dan mengurangi rasa sakit (Marmi 2013). Musik juga mampu mengurangi nyeri melalui efek distraksi dan pengeluaran analgesik endogen. Salah satu distraksi yang efektif adalah musik, yang dapat menurunkan nyeri fisiologis, stres, dan kecemasan dengan mengalihkan perhatian seseorang dari nyeri. Musik terbukti menunjukkan efek yaitu menurunkan tekanan darah, dan mengubah persepsi waktu (Guzzetta, 1989). Perawat dapat menggunakan musik dengan kreatif diberbagai situasi klinik, pasien umumnya lebih menyukai melakukan suatu kegiatan memainkan alat musik, menyanyikan lagu atau mendengarkan musik. Musik yang sejak awal sesuai dengan suasana hati

individu, merupakan pilihan yang paling baik (Potter & Perry,

2006).

Penurunan intensitas nyeri pada pasien yang mendengarkan

terapi musik dimungkinkan juga oleh adanya peningkatan

pengeluaran endorfin. Endorfin merupakan bahan neuroregulator

jenis neuromodulator yang terlibat dalam sistem analgesia,

banyak ditemukan di hipotalamus dan area sistem analgesia

(sistem limbik dan medula spinalis). Sifat analgesia ini menjadikan

endorfin sebagai opioid endogen. Endorfin dianggap dapat

menimbulkan hambatan presinaptik dan hambatan postsinaptik

pada serabut nyeri (nosiseptor) yang bersinaps di kornu dorsalis.

Serabut ini diduga mencapai inhibisi melalui penghambatan

neurotransmiter nyeri seperti kalsium, prostaglandin, dan lain-lain,

terutama substansi. (Hanifah,2007).

  • e) Menyeimbangkan tubuh

Menurut

penelitian

para

ahli,

stimulasi musik membantu

menyeimbangkan organ keseimbangan yang terdapat di

telinga dan otak. Pada organ keseimbangan sehat, maka

kerja organ tubuh lainnya juga menjadi lebih seimbang dan

lebih sehat (Eka 2009).

  • f) Meningkatkan kekebalan tubuh Dr John Diamond dan Dr David Nobel, telah melakukan riset mengenai efek dari musik terhadap tubuh manusia dimana mereka menyimpulkan bahwa jenis musik yang kita dengar sesuai dan dapat diterima oleh tubuh manusia, maka tubuh akan bereaksi dengan mengeluarkan sejenis hormon (serotonin ) yang dapat menimbulkan rasa nikmat dan senang sehingga tubuh akan menjadi lebih kuat (dengan meningkatnya sistem

kekebalan tubuh) dan membuat kita menjadi lebih sehat (Eka

2009).

  • 2.3.3 Tata cara pemberian terapi musik

Belum ada rekomendasi mengenai durasi yang optimal dalam

pemberian terapi musik. Seringkali durasi yang diberikan dalam

pemberian

terapi musik adalah selama 20-35 menit, tetapi untuk

masalah kesehatan yang lebih spesifik terapi musik diberikan dengan

durasi 30 sampai 45 menit. Ketika mendengarkan terapi musik klien

berbaring dengan posisi yang nyaman, sedangkan tempo harus sedikit

lebih lambat, 50 - 70 ketukan/menit, menggunakan irama yang tenang

(Schou 2007 dalam Mahanani 2013).

Terapi

musik

didengarkan

minimal

30

menit

setiap

hari

sampai semua rasa sakit yang dikeluhkan hilang sepenuhnya dan tidak

kembali lagi. Jika diputar saat rasa sakit muncul, maka rasa sakit

akan berkurang atau bahkan hilang sepenuhnya (Eka 2009).

  • 2.3.4 Karakteristik Terapi Musik

Karakteristik Terapi

Musik

Menurut

Robbert (2002), musik

mempengaruhi persepsi dengan cara: (a) distraksi, yaitu pengalihan

pikiran dari nyeri, musik dapat mengalihkan konsentrasi klien pada hal-hal

yang menyenangkan, (b) relaksasi, musik menyebabkan pernafasan

menjadi lebih rileks dan menurunkan denyut jantung, karena orang yang

mengalami nyeri denyut jantung meningkat, (c) menciptakan rasa

nyaman, pasien yang berada pada ruang perawatan dapat merasa cemas

dengan lingkungan yang asing baginya dan akan merasa lebih nyaman

jika mereka mendengarkan musik yang mempunyai arti bagi mereka.

Terapi musik adalah penggunaan musik untuk relaksasi, mempercepat

penyembuhan, meningkatkan fungsi mental dan menciptakan rasa

sejahtera. Musik dapat mempengaruhi fungsi-fungsi fisiologis, seperti

respirasi, denyut jantung dan tekanan darah. Musik juga dapat

menurunkan kadar hormon kortisol yang meningkat pada saat stres.

Musik juga merangsang pelepasan hormon endorfin, hormon tubuh yang

memberikan perasaan senang yang berperan dalam penurunan nyeri

(Young dan Koopsen, 2007). Keunggulan terapi musik yaitu: (a) lebih

murah dari pada analgesia, (b) prosedur non-invasif, tidak melukai

pasien, (c) tidak ada efek samping, (d) penerapannya luas, bisa

diterapkan pada pasien yang tidak bisa diterapkan terapi secara fisik

untuk menurunkan nyeri (Young dan Koopsen, 2007). Menurut Potter

(2005), musik dapat digunakan untuk penyembuhan, musik yang dipilih

pada umumnya musik lembut dan teratur seperti instrumentalia/ musik

klasik mozart.

  • 2.3.5 Menggunakan Musik Klasik Untuk Mengontrol Nyeri

Dalam pelaksanaan penggunaan musik untuk mengontrol nyeri

dalam meningkatkan kenyamanan, maka perlu diperhatikan beberapa hal

berikut ini (Potter & Perry, 2006:1532) :

  • a. Pilih musik klasik yang sesuai dengan selera klien. Pertimbangkan

usia dan latar belakang

  • b. Gunakan earphone supaya tidak menganggu klien atau staf yang lain dan membantu klien berkonsentrasi pada musik.

  • c. Pastikan tombol-tombol kontrol di radio atau pesawat tape mudah

ditekan. Dimanipulasi dan dibedakan

  • d. Apabila nyeri klien rasakan akut, kuatkan volume musik. Apabila

nyeri berkurang, kurangi volume

e.

Minta

klien

berkonsentrasi

pada

musik

dan

mengikuti

irama

dengan mengetuk-ngetukkan jari atau menepuk-nepuk paha

  • f. Instruksikan klien untuk tidak menganalisa musik:”Nikmati musik

kemana pun musik membawa anda”.

g.

Musik

harus

didengarkan

minimal

15

menit

supaya

dapat

memberikan efek terapeutik (Potter & Perry, 2006:1532)

2.3.6

Pengaruh Terapi Musik Mozart Terhadap Nyeri

Musik mozart adalah musik klasik yang muncul 250 tahun yang

lalu. Diciptakan oleh Wolgang Amadeus Mozart. Penelitian oleh Alfred

dan Campbell sudah membuktikan Universitas Sumatera Utara bahwa

musik klasik mozart bisa mengurangi nyeri pasien. Dibandingkan musik

klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada musik klasik mozart

mamapu merangsang dan memberdayakan kreatifitas dan motivatif

diotak. Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tida dapat

digunakan (Andreana, 2007). Terapi musik klasik mozart dapat mengatasi nyeri berdasarkan

teori Gate Control, bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh

mekanisme pertahanan disepanjang sistem saraf pusat. Teori ini

mengatakan bahawa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan

dibuka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan ditutup. Salah satu

cara menutup mekanisme pertahanan ini adalah dengan merangsang

sekresi endorfin yang akan menghambat pelepasan substansi P. Musik

klasik mozart sendiri juga dapat merangsang peningkatan hormon

endorfin yang merupakan substansi sejenis morfin yang disuplai oleh

tubuh. Sehingga pada saat neuron nyeri perifer mengirimkan sinyal ke

sinaps, terjadi sinapsis antara neuron perifer dan neuron yang menuju

otak tempat seharusnya substansi p akan menghasilkan impuls. Pada

saat tersebut, endorfin akan memblokir lepasnya substansi P dari neuron

sensorik, sehingga sensasi nyeri menjadi berkurang (Andreana, 2007).