Vous êtes sur la page 1sur 23

TUGAS

DOSEN

: KEPERAWATAN ANAK
: Anita Rosyanti, SST.,M.Kes

ASMA BRONKIAL

DI SUSUN OLEH KELOMPOK 1 :

Ayu Andriani
Asmawati
Febrianti
Fatma sari abadi

PRODI: S1. KEPERAWATAN (Semester V)

STIKES KARYA KESEHATAN


KENDARI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................

DAFTAR ISI ............................................................................................................

ii

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................

A. Latar Belakang..................................................................................................
B. Rumusan Masalah.............................................................................................
C. Tujuan...............................................................................................................

1
1
1

BAB II PEMBAHASAN (KONSEP TEORI)........................................................

A. Pengertian ......................................................................................................
B. Etiologi...........................................................................................................
C. Manifestasi Klinis..........................................................................................
D. Kasifikasi........................................................................................................
E. Patofisiologi...................................................................................................
F. Pemeriksaan Penunjang.................................................................................
G. Diagnostik Test...............................................................................................
H. Penatalaksanaan.............................................................................................
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN....................................................

3
4
5
5
6

A. Pengkajian Keperawatan................................................................................

B. Diagnosa Keperawatan...................................................................................

11

6
9

C. Intervensi Keperawatan..................................................................................
D. Evaluasi..........................................................................................................
BAB IV PENUTUP .................................................................................................

16

A. Kesimpilan .....................................................................................................
B. Saran ..........................................................................................................................

16
16

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR
Assalamuaalaikum wr.wb.

Sudah selayaknya ucapan syukuratas kehadirat Allah SWT. Karena berkat rahmat,
petunjuk dan pertolongan-Nyajualah sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada
waktunya, walaupun dalam bentuk yang sederhana. Dan salam dan taslim senantiasa
terkirimkan atas junjungan Nabiullah Muhammad SAW yang telah mengantarkan kita dari
alam kegelapan ke alam terang benderang dengan curahan ilmu pengetahuan.
Makalah ini berjudul Makalah Asma Bronkial pada anak .Dibuat sebagai salah satu
tugas mata Kuliah Sistem Muskuloskeletal.
Kami sangat menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu,
kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini
di waktu mendatang.
WassalamuAlaikum wr.wb.
Kendari ,

Oktober 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Angka kejadian penyakit alergi akhir-akhir ini meningkat sejalan dengan perubahan
pola hidup masyarakat modern, polusi baik lingkungan maupun zat-zat yang ada di dalam
makanan. Salah satu penyakit alergi yang banyak terjadi di masyarakat adalah penyakit asma.
Asma adalah satu diantara beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara
total. Kesembuhan dari satu serangan asma tidak menjamin dalam waktu dekat akan terbebas
dari ancaman serangan berikutnya. Apalagi bila karena pekerjaan dan lingkungannya serta
faktor ekonomi, penderita harus selalu berhadapan dengan faktor alergen yang menjadi
penyebab serangan. Biaya pengobatan simptomatik pada waktu serangan mungkin bisa
diatasi oleh penderita atau keluarganya, tetapi pengobatan profilaksis yang memerlukan
waktu lebih lama, sering menjadi problem tersendiri.
Peran dokter dalam mengatasi penyakit asma sangatlah penting. Dokter sebagai
pintu pertama yang akan diketuk oleh penderita dalam menolong penderita asma, harus selalu
meningkatkan pelayanan, salah satunya yang sering diabaikan adalah memberikan edukasi
atau pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan kepada penderita dan keluarganya akan
sangat berarti bagi penderita, terutama bagaimana sikap dan tindakan yang bisa dikerjakan
pada waktu menghadapi serangan, dan bagaimana caranya mencegah terjadinya serangan
asma.
Dalam tiga puluh tahun terakhir terjadi peningkatan prevalensi (kekerapan penyakit)
asma terutama di negara-negara maju. Kenaikan prevalensi asma di Asia seperti Singapura,
Taiwan, Jepang, atau Korea Selatan juga mencolok. Kasus asma meningkat insidennya secara
dramatis selama lebih dari lima belas tahun, baik di negara berkembang maupun di negara
maju. Beban global untuk penyakit ini semakin meningkat. Dampak buruk asma meliputi
penurunan kualitas hidup, produktivitas yang menurun, ketidakhadiran di sekolah,
peningkatan biaya kesehatan, risiko perawatan di rumah sakit dan bahkan kematian. (Muchid
dkk,2007)
Asma merupakan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian di Indonesia, hal
ini tergambar dari data studi survei kesehatan rumah tangga (SKRT) di berbagai propinsi di
Indonesia. Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1986 menunjukkan asma
menduduki urutan ke-5 dari 10 penyebab kesakitan (morbiditas) bersama-sama dengan
bronkitis kronik dan emfisema. Pada SKRT 1992, asma, bronkitis kronik dan emfisema
sebagai penyebab kematian ke- 4 di Indonesia atau sebesar 5,6 %. Tahun 1995, prevalensi
asma di seluruh Indonesia sebesar 13/1000, dibandingkan bronkitis kronik 11/1000 dan
obstruksi paru 2/1000. Studi pada anak usia SLTP di Semarang dengan menggunakan
kuesioner International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC), didapatkan

prevalensi asma (gejala asma 12 bulan terakhir/recent asthma) 6,2 % yang 64 % diantaranya
mempunyai gejala klasik.
Maka disini kami akan memaparkan tentang Asma Bronchial yang nantinya akan
dibutuhkan oleh kita selaku askep. Didalamnya terkandung

Definisi Penyakit Asma

Bronchial, Etiologi Penyakit Asma Bronchial, Patofisiologi Penyakit asma bronkial, Gejala
Klinis Penyakit Asma Bronchial, Diagnosis Penyakit Asma Bronchial dan Pencegahan
Penyakit Asma Bronchial.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana definisi Asma Bronchial ?
2. Bagaimana etiologi Asma Bronchial ?
3. Apa saja manifestasi klinis Asma Bronchial ?
4. Apa saja klasifikasi Asma Bronchial ?
5. Bagaimana patofisiologi Asma Bronchial ?
6. Apa saja pemeriksaan fisik Asma Bronchial ?
7. Apa saja diagnostik test dari Asma Bronchial ?
8. Apa saja penatalaksanaan dan pencegahan Asma Bronkial ?
C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini agar kita sebagai perawat profesional mampu:
1. Memperoleh pengalaman nyata di dalam merawat pasien dengan Asma sesuai dengan
konsep asuhan keperawatan yang telah diperoleh dari perkuliahan.
2. Memperoleh informasi atau gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien
dengan Asma.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Asma adalah suatu kadaan klinik yang ditandai oleh terjadinya penyempitan
bronkus yang berulang namun reversibel, dan diantara episode penyempitan bronkus
tersebut terdapat keadaan ventilasi yang lebih normal. Keadaan ini pada orang-orang
yang rentan terkena asma mudah ditimbulkan oleh berbagai rangsangan, yang menandakan
suatu keadaan hipere aktivitas bronkus yang khas.Penyakit asma adalah penyakit yang terjadi
akibat adanya penyempitan saluran pernapasan sementara waktu sehingga sulit bernapas.
Asma terjadi ketika ada kepekaan yang meningkat terhadap rangsangan dari lingkungan sebagai
pemicunya.

Diantaranya

adalah

dikarenakan

gangguan

emosi,

kelelahan

jasmani,perubahan cuaca, temperatur, debu, asap, bau-bauan yang merangsang,


infeksisaluran napas, faktor makanan dan reaksi alergi.
Penyakit asma bronkial di masyarakat sering disebut sebagai bengek,
asma, mengi, ampek, sasak angok, dan berbagai istilah lokal lainnya. Asma merupakan
suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif intermiten yang bersifat reversibel,
ditandai dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan respon trakea dan bronkus
terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas.
Orang yang menderita asma memiliki ketidak mampuan mendasar dalam
mencapai angka aliran udara normal selama pernapasan (terutama pada ekspirasi).
Ketidak mampuan ini tercermin dengan rendahnya volume udara yang dihasilkan sewaktu
melakukan usaha eksirasi paksa pada detik pertama. Karena banyak saluran udara yang menyempit
tidak dapat dialiri dan dikosongkan secara cepat,tidak terjadi aerasi paru dan hilangnya
ruang penyesuaian normal antara ventilasidan aliran darah paru. Turbulensi arus udara
dan getaran mukus bronkus mengakibatkan suara mengi yang terdengar jelas selama
serangan asma, namun tanda fisik ini juga terlihat mencolok pada masalah saluran napas
obstruktif.Diantara serangan asma, pasien bebas dari mengi dan gejala, walaupun
reaktivitas bronkus meningkat dan kelainan pada ventilasi tetap berlanjut. Namun, pada

asmakronik, masa tanpa serangan dapat menghilang, sehingga mengakibatkan keadaan asma yang
terus-menenrus yang sering disertai infeksi bakteri sekunder.
B. ETIOLOGI
Penyebab asma adalah adanya gangguan parasimpatis (hiperaktivitas saraf
kolinergik), gangguan simpatis (blok pada reseptor beta adrenergic dan hiperaktifitas
reseptor alfa adrenergik).
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu :
1. Ekstrinsik (alergik).
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang
spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin)
dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi
genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti
yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.
2. Intrinsik (non alergik).
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang
tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh
adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan
sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik
dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.
3. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk
alergik dan non-alergik.
Berdasarkan Keparahan Penyakitnya :
a. Asma intermiten
Gejala muncul < 1 kali dalam 1 minggu, eksaserbasi ringan dalam beberapa jam
atau hari, gejala asma malam hari terjadi < 2 kali dalam 1 bulan, fungsi paru normal dan
asimtomatik di antara waktu serangan, Peak Expiratory Folw (PEF) dan Forced
Expiratory Value in 1 second (PEV1) > 80%
b. Asma ringan

Gejala muncul > 1 kali dalam 1 minggu tetapi < 1 kali dalam 1 hari, eksaserbasi
mengganggu aktifitas atau tidur, gejala asma malam hari terjadi > 2 kali dalam 1 bulan,
PEF dan PEV1 > 80%
c. Asma sedang (moderate)
Gejala muncul tiap hari, eksaserbasi mengganggu aktifitas atau tidur, gejala asma
malam hari terjadi >1 kali dalam 1 minggu, menggunakan inhalasi beta 2 agonis kerja
cepat dalam keseharian, PEF dan PEV1 >60% dan < 80%
d. Asma parah (severe)
Gejala terus menerus terjadi, eksaserbasi sering terjadi, gejala asma malam hari
sering terjadi, aktifitas fisik terganggu oleh gejala asma, PEF dan PEV1 < 60% .
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan
asma bronchial:
1. Faktor predisposisi

Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi
biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena
adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma
bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas
saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.

2. Faktor presipitasi
a. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan
ex: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
2. Ingestan, yang masuk melalui mulut
ex: makanan dan obat-obatan
3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit
ex: perhiasan, logam dan jam tangan
3. Perubahan cuaca

Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi


asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya
serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti:
musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan
arah angin serbuk bunga dan debu.
4. Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu
juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma
yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami
stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum
bisa diobati.
5. Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma.
Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di
laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini
membaik pada waktu libur atau cuti.
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan
aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi
segera setelah selesai aktifitas tersebut.
C.

MANIFESTASI KLINIS
Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala
klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah,
duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja
dengan keras. Gejala klasik: sesak nafas, mengi (wheezing), batuk, dan pada sebagian
penderita ada yang merasa nyeri di dada. Pada serangan asma yang lebih berat, gejala
yang timbul makin banyak, antara lain: silent chest, sianosis, gangguan kesadaran,
hiperinflasi dada, takikardi, dan pernafasan cepat-dangkal. Serangan asma sering
terjadi pada malam hari.

D. KLASIFIKASI

Derajat
Intermiten

Gejala
Gejala kurang dari 1x/minggu

Gejala malam
Kurang dari 2 kali dalam

Faal paru
APE
>

Mild persistan

Asimtomatik
-Gejala lebih dari 1x/minggu tapi kurang

sebulan
Lebih dari 2 kali dalam

80%
APE >80%

dari 1x/hari

sebulan

-Serangan dapat menganggu aktivitas dan


Moderate

tidur
-Setiap hari,

Lebih

persistan

-Serangan 2 kali/seminggu, bisa berahari-

seminggu

80%

Sering

APE <60%

kali

dalam

APE

60-

hari.
-Menggunakan obat setiap hari
Severe persistan

-Aktivitas & tidur terganggu


- Gejala Kontinyu
-Aktivitas terbatas
-Sering serangan

Pembagian asma menurut phelan dkk. ( 1988 ) dalah sebagai berikut :


1. Asma episodik yang jarang
Biasanya terdapat pada anak umur 3-6 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh
infeksi virus saluran nafas bagian atas. Banyaknya serangan 3-4 kali dalam 1
tahun. Lamanya serangan sekitar beberapa hari saja dan jarang menjadi serangan
yang berat.
Gejala yang timbul lebih menonjol pada malam hari. Mengi (wgeezing) dapat
berlangsung sekitar 3-4 haari. Sedangkan batuk-batuknya dapat berlangsung 10-14
hari. Di luar serangan tidak ditemukan kelainan, waktu remisi berminggu-minggu
sampai berbulan-bilan. Golongan ini merupakan 70-75 % dari populasi asma anak.
2. Asma episodik sering
Pada golongan ini serangan terjadi pada umur sebelum 3 tahun. Awalnya srangan
berhubungan dengan infeksi saluran pernafasan akut. Pada umur 5-6 tahun dapat
terjadi serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua menghubungkan
dengan perubahan udara, adanya alergen, aktifitas isik dan stres. Banyaknya

serangan 3-4 kali dalam setahun dan tiap kali serangan beberapa hari sampai
beberapa minggu.frekuensi serangan tinggi pada umur 8-13 tahun. Pada golongan
lanjut kadang-kadang sukar dibedakan dengan asma kronik dan persisten.
Umumnya gejala paling jelek terjadi pada malam hari dengan batuk dan mengi
yang dapat mengganggu tidur anak.
3. Asma kronik atau persisten
Pada golongan ini serangan terjadi pada umur sebelum 6 bulan, 70% sebelum umur
3 tahun. 50% anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama dan 50%
sisanya serangan episodik. Pada umur 5-6 taun akan lebih jelas terjadinya obstruksi
saluran nafasyang persisten dan hampir selalu terdapat mengi setiap hari.pada
malam hari sering terganggu oleh batuk dan mengi. Aktifitas sering menyebabkan
mengi, dari waktu ke waktu terjadi serangan yang berat dan memerlukan
perawatan rumah sakit. Obstruksi jalan nafas mencapai puncaknya padar umur 814 tahun. Pada umur dewasa muda 50% golongan ini tetap menderita asma
persisten atau sering.jaarang yang betul-betul bebas dari mengi saat sudh dewasa.
Pada pemeriksaan fisik jarang yang normal, dapat terjadi perubahan bentuk toraks
seperti dada burung (pigeon chest), barel chest dan terdapat sulkus horrison.
Biasaanya terjadi gangguan pertumbuhan yaitu kemampuan aktifitas fisinya sangat
kurang, penderita sering tidak masuk sekolah dan sebagian kecil juga ada yang
mengalami gangguan psikososial.
Varian bentuk asma yaitu :
a. Asma episodik berat dan berulang
b. Asma persisten pada bayi
c. Asma hpersekresi
d. Asma karena beban fisik (excercise induced asthma)
e. Asma dengan alergen atau sensivitas spesifik
f. Batuk malam
g. Asma yang memburuk pada pagi hari (early morning dipping)
E. PATOFISIOLOGI
Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang
menyebabkan sukar bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas
bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe
alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai

kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah


besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen
spesifikasinya.
Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada
interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila
seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen
bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini
akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang
bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan
bradikinin. Efek gabungan dari semua factor-faktor ini akan menghasilkan edema
lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam
lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan
tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.
Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada
selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa
menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka
sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan
obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat
melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi.
Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru
menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan
udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. (Tanjung, 2003) .
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan fisik
a.Keadaan umum : penderita tampak sesak nafas dan gelisah, penderita lebih nyaman
dalam posisi duduk.
b.Jantung : pekak jantung mengecil, takikardi.
c.Paru :
Inspeksi : dinding torak tampak mengembang, diafragma terdorong ke bawah.
Auskultasi : terdengar wheezing (mengi), ekspirasi memanjang.
Perkusi

: hipersonor

Palpasi : Vokal Fremitus kanan=kiri

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium meliputi :
a. Pemeriksaan sputum
Pemeriksaan sputum pada penderita asma akan didapati :
- Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil.
- Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang
bronkus.
- Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.
- Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid
dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.
b. Pemeriksaan darah
- Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.
- Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.
- Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana
menandakan terdapatnya suatu infeksi.
- Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu
serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.
c. Pemeriksaan Radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu
serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen
yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang
menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi, maka kelainan yang didapat
adalah sebagai berikut:
-

Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.


Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan

semakin bertambah.
Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru
Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.
Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium,
maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.

d. Pemeriksaan tes kulit

Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Pemeriksaan menggunakan tes
tempel.
e. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3
bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru
yaitu :
- Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan
-

clockwise rotation.
Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB

(Right bundle branch block).


Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan
VES atau terjadinya depresi segmen ST negative.

f. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversible, cara yang paling
cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan
bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pemberian
bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan
FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak
adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri
tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai
berat obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan tetapi
pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. (Medicafarma,2008)
g. Uji provokasi bronkus untuk membantu diagnosis
Pengobatan profilaksis dianggap merupakan cara pengobatan yang paling
rasional, karena sasaran obat-obat tersebut langsung pada faktor-faktor yang
menyebabkan bronkospasme. Pada umumnya pengobatan profilaksis berlangsung
dalam jangka panjang, dengan cara kerja obat sebagai berikut :
a. Menghambat pelepasan mediator.
b. Menekan hiperaktivitas bronkus.
G. PENATALAKSANAAN
Prinsip umum pengobatan asma bronkhial adalah:
a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segera

b. Mengenal dan menghindari faktor-faktor yang dapat mencetuskan serangan


asma
c. Memberikan penerangan kepada penderita atau keluarganya mengenai penyakit
asma. Meliputi pengobatan dan perjalanan penyakitnya sehingga penderita
mengerti tujuan pengobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter
atau perawat yang merawat.
Pengobatan
Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu:
1) Pengobatan non farmakologik
a.

Memberikan penyuluhan

b. Menghindari faktor pencetus


c.

Pemberian cairan

d. Fisioterapi
e. Beri O bila perlu
2) Pengobatan farmakologik
Bronkodilator
obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan:
a.

Simpatomimetik/andrenergik (adrenalin dan efedrin)


Nama obat: Orsiprenalin (Alupent), fenoterol (berotec), terbutalin (bricasma).

b. Santin (teofilin)
Nama obat: Aminofilin (Amicam supp), Aminofilin (Euphilin Retard), Teofilin
(Amilex). Penderita dengan penyakit lambung sebaiknya berhati-hati bila
minum obat ini.
Kromalin
Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan tetapi merupakan obat
pencegah serangan asma. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti
asma yang lain dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian 1 bulan.
Ketolifen
Mempunya efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya
diberikan dosis 2 kali 1 mg/hari. Keuntungan obat ini adalah dapat diberikan
secara oral.
Pencegahan Serangan Asma pada Anak

a. Menghindari pencetus
Cara menghindari berbagai pencetus serangan pada asma perlu diketahui
dan diajarkan pada keluarganya yang sering menjadi faktor pencetus adalah
debu rumah. Untuk menghindari pencetus karena debu rumah dianjurkan
dengan mengusa hakan kamar tidur anak:

Sprei, tirai, selimut minimal dicuci 2 minggu sekali. Sprei dan sarung
bantal lebih sering. Lebih baik tidak menggunakan karpet di kamar tidur
atau tempat bermain anak. Jangan memelihara binatang.

Untuk menghindari penyebab dari makanan bila belum tau pasti, lebih
baik jangan makan coklat, kacang tanah atau makanan yang mengandung
es, dan makanan yang mengandung zat pewarna.

Hindarkan kontak dengan penderita influenza, hindarkan anak berada di


tempat yang sedang terjadi perubahan cuaca, misalnya sedang mendung.

b.

Kegiatan fisik
Anak yang menderita asma jangan dilarang bermain atau berolah raga.
namun olahraga perlu diatur karena merupakan kebutuhan untuk tumbuh
kembang anak. Pengaturan dilakukan dengan cara:

Menambahkan toleransi secara bertahap, menghindarkan percepatan gerak


yang mendadak

Bila mulai batuk-batuk, istirahatlah sebentar, minum air dan setelah tidak
batuk-batuk, kegiatan diteruskan.

Adakalanya beberapa anak sebelum melakukan kegiatan perlu minum


obat atau menghirup aerosol terlebih dahulu.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1.

Pengkajian
a. Data Biografi
b. Riwayat Kesehatan
a.

Riwayat kesehatan masa lalu

b. Aktivitas
Pengajian merupakan tahap awal dan landaan proses keperawatan
untuk mengenal masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan
keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan yaitu: pengumpulan
data,

pengelompokan

data,

dan

perumusan

diagnosis

keperawatan

(lismidar,2007).
Gejala :
1. Keletihan, kelelahan, malaise
2. Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena sulit
bernapas
3. Ketidakmampuan untuk tidur, perlu tidur dalam posisi duduk tinggi
c.

Pernapasan
- Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan
- Napas memburuk ketika klien berbaring telentang di tempat tidur
- Menggunakan alat bantu pernapasan, misal meninggikan bahu,
melebarkan hidung.
- Adanya bunyi napas mengi
- Adanya batuk berulang

d. Sirkulasi
Adanya peningkatan tekanan darah, Adanya peningkatan frekuensi
jantung, dan Warna kulit atau membran mukosa normal/abu-abu/sianosis
e. Integritas ego

- Ansietas
- Ketakutan
- Peka rangsangan
- Gelisah
f.

Asupan nutrisi

- Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan


- Penurunan berat badan karena anoreksia
g.

Hubungan sosial
- Keterbatasan mobilitas fisik
- Susah bicara atau bicara terbata-bata
- Adanya ketergantungan pada orang lain
Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan radiologi
Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan
menunjukkan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan
peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat
komplikasi, maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:
- Bila disertai dengan bronkhitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah
- Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin
bertambah.
- Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrat pada paru
- Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal
- Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneutoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat
dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.
b. Pemeriksaan tes kulit
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan
reaksi yang positif pada asma.
c. Elektrokardiografi
Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian
dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru, yaitu:
- Perubahan aksis jantung, pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise
rotation

- Terdapat tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right Bundle
branch Block)
- Tanda-tanda hipoksemia, yaitu terdapatnya sinus takikardia, SVES, dan VES atau
terjadinya depresi segmen ST negatif.
d. Scanning Paru
Dapat diketahui bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh
pada paru-paru.
e. Spirometri
Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversibel. Pemeriksaan spirometri
tdak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat
obstruksi dan efek pengobatan.
B.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1)

Bersihan jalan napas tidak efektif b.d bronkospasme


Tujuan: mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi bersih dan jelas
Intervensi:
- Auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, ex: mengi
- Kaji/pantau frekuensi pernafasan, catat rasio inspirasi/ekspirasi
- Catat adanya derajat dispnea, ansietas, distress pernafasan, penggunaan obat
- Tempatkan klie pada posisi yang nyaman. Contoh: meninggikan kepala TT, duduk pada
sandaran TT
- Pertahankan polusi lingkungan minimum. Contoh: debu, asap,dll
- Tingkatkan masukan cairan sampai dengan 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung,
memberikan air hangat.
- Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi.

2)

Gangguan pertukaran gas b.d gangguan suplai oksigen


Tujuan: perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan adekuat
Intervensi:
- Kaji/awasi secara rutin keadaan kulit klien dan membran mukosa
- Awasi tanda vital dan irama jantung
- Kolaborasi: .berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi hasil AGDA dan
toleransi klien
- Sianosis mungkin perifer atau sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia

- Penurunan getaran vibrasi diduga adanya penggumpalan cairan/udara


- Takikardi, disritmia, dan perubahan tekanan darah dapat menunjukkan efek hipoksemia
sistemik.
3)

Cemas pada orang tua dan anak b.d penyakit yang dialami anak
Tujuan: menurunkan kecemasan pada orang tua dan anak
Intervensi untuk anak:
- Bina hubungan saling percaya
- Mengurangi perpisahan dengan orang tuanya
- Mendorong untuk mengekspresikan perasaannya
- Melibatkan anak dalam bermain
- Siapkan anak untuk menghadapi pengalaman baru, misal: pprosedur tindakan
- Memberikan rasa nyaman
- Mendorong keluarga dengan memberikan pengertian informasi.

4)

Risiko tinggi koping keluarga tidak efektif b.d tidak terpenuhinya kebutuhan psikososial
orang tua
Tujuan: koping keluarga kembali efektif
Intervensi:
- Buat hubungan dengan orang tua yang mendorong mereka mengungkapkan kesulitan
- Berikan informasi pada orang tua tentang perkembangan anak
- Berikan bimbingan antisipasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan
- Tekankan pentingnya sistem pendukung
- Anjurkan orang tua untuk menyediakan waktu sesuai kebutuhan
- Bantu orang tua untuk merujuk pada ahli penyakit
- Informasikan kepada orang tua tentang pelayanan yang tersedia di masyarakat.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPILAN
Asma bronchial adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif intermiten
yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan
respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan
penyempitan jalan nafas. Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat
diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu : Ekstrinsik (alergik), Intrinsik (non alergik)
,Asma gabungan.
Dan ada beberapa hal yang merupakan faktor penyebab timbulnya serangan asma
bronkhial yaitu : faktor predisposisi(genetic), faktor presipitasi(alergen, perubahan
cuaca, stress, lingkungan kerja, olahraga/ aktifitas jasmani yang berat). Pencegahan
serangan asma dapat dilakukan dengan :
a. Menjauhi alergen, bila perlu desensitisasi
b. Menghindari kelelahan
c. Menghindari stress psikis
d. Mencegah/mengobati ISPA sedini mungkin
e. Olahraga renang, senam asma
B. SARAN
Dengan disusunnya makalah ini mengharapkan kepada semua mahasiswa agar
dapat menelaah dan memahami apa yang telah terulis dalam makalah ini sehingga
sedikit banyak bisa menambah pengetahuan kita. Disamping itu saya juga
mengharapkan saran dan kritik dari dosen dan teman-teman mahasiswa sehinga
kami bisa berorientasi lebih baik pada makalah kami selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Medicafarma. (2008, Mei 7). Asma Bronkiale. Diakses 22 Juni 2012 dari
Medicafarma: http://medicafarma.blogspot.com/2008/05/asmabronkiale.html
Muchid, dkk. (2007, September). Pharmaceutical care untuk penyakit asma.
Diakses 22 Juni 2012 dari Direktorat Bina Farmasi Komunitas
Dan Klinik Depkes RI:http://125.160.76.194 /bidang/yanmed/farmasi/
Pharmaceutical/ASMA.pdf
Tanjung, D. (2003). Asuhan Keperawatan Asma Bronkial. Diakses 22 Juni 2012
dari USU digital library: