Vous êtes sur la page 1sur 11

2.

1 DESENTRALISASI DAN PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN


Sistem akuntansi pertanggungjawaban (responsibility accounting system) adalah
sistem yang mengukur berbagai hasil yang dicapai pusat pertanggungjawaban menurut
informasi yang dibutuhkan para manajer untuk mengoperasikan pusat pertanggungjawaban
mereka. Idealnya, sistem akuntansi pertanggungjawaban mencerminkan dan mendukung
struktur dari sebuah organisasi
Perusahaan yang memiliki beberapa pusat pertanggungjawaban biasanya memilih
salah satu dari dua pendekatan pengambilan keputusan untuk mengelola kegiatan mereka
yang rumit dan beragam .

2.1.1 Alasan-alasan untuk Melakukan Desentralisasi


a. Mengumpulkan dan menggunakan informasi lokal
Kualitas dari berbagai keputusan dipengaruhi oleh kualitas informasi yang
tersedia.
b. Memfokuskan manajemen pusat
Dengan mendesentralisasikan keputusan-keputusan operasional, manajemen
pusat bebas menangani perencanaan dan pengambilan keputusan strategis.
c. Melatih dan memotivasi para manajer
Organisasi selalu membutuhkan manajer yang terlatih untuk menggantikan
posisi manajer jenjang lebih tinggi yang keluar untuk mengambil keuntungan
dari peluang yang lain.
d. Meningkatkan daya saing
Pada perusahaan yang sangat tersentralisasi, margin laba secara keseluruhan
mampu menutupi ketidakefisienan yang terjadi di berbagai divisinya.

2.1.2 Divisi-divisi dalam Perusahaan yang Terdesentralisasi


Pusat pertanggungjawaban merupakan suatu segmen bisnis yang manajernya
bartanggung jawab terhadap serangkaian kegiatan-kegiatan tertentu. Berikut ini jenis
utama pusat pertanggungjawaban.
- Pusat biaya ( cost center )
- Pusat pendapatan ( revenue center)
- Pusat laba (profit center )
- Pusat investasi (investment center )
2.2 PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN
LAPORAN LABA RUGI VARIABEL DAN ABSORPSI

Dua metode perhitungan laba yang telah dikembangkan, yaitu satu berdasarkan
perhitungan biaya variabel dan yang lainnya berdasarkan perhitungan biaya penuh atau
absorpsi. Perbedaan antara perhitungan biaya variabel dan absorpsi bergantung pada
perlakuan terhadap satu biaya tertentu, yaitu overhead tetap.
Perhitungan biaya absorpsi membebankan semua biaya manufaktur pada produk.
Bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, overhead variabel, dan overhead tetap adalah
hal-hal yang menentukan biaya produk. Menurut perhitungan biaya absorpsi, overhead tetap
dipandang sebagai biaya produk, bukan biaya periode.

2.2.1 Penilaian Persediaan


Perhitungan biaya persediaan akhir dapat menggunakan perhitungan biaya
absorpsi dan perhitungan biaya variabel. Pada persediaan absorpsi, persediaan akhir
mencakup biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, overhead variabel dan
overhead tetap per unit. Pada metode perhitungan biaya variabel, persediaan akhir
hanya mencakup biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan overhead
variabel. Tidak dimasukkannya overhead tetap dalam hasil biaya persediaan
perhitungan biaya variabel membuat penilaian persediaan yang lebih rendah daripada
model absorpsi.

2.2.2 Laporan Laba Rugi dengan Menggunakan Biaya Variabel dan


Abrospsi
Karena biaya produk per unit merupakan dasar bagi penghitungan harga
pokok penjualan, metode perhitungan biaya variabel dan absorpsi dapat
mengakibatkan angka laba bersih yang berbeda. Perbedaan tersebut terjadi karena
jumlah overhead tetap yang diakui sebagai beban pada kedua metode.
Laba menurut perhitungan biaya absoprsi akan lebih tinggi daripada laba
menurut perhitungan biaya variabel. Perbedaan ini karena sebagian overhead tetap
periode tersebut yang masuk dalam persediaan ketika perhitungan biaya absorpsi
digunakan.
Beban penjualan dan administrasi tidak pernah dimasukkan dalam biaya
produk. Beban penjualan dan administrasi selalu dikeluarkan dari laporan laba-rugi
dan tidak pernah muncul di neraca.

2.2.3 Hubungan antara Produksi, Penjualan, dan Laba

Hubungan antara laba menurut perhitungan biaya variabel dan laba menurut
perhitungan biaya absorpsi berubah ketika hubungan antara produksi dan penjualan
berubah. Jika barang yang terjual lebih banyak dari barang yang diproduksi, maka
laba menurut perhitungan biaya variabel akan lebih tinggi dari laba menurut
perhitungan biaya absorpsi. Oleh karena itu, laba menurut perhitungan biaya variabel
lebih tinggi dari laba menurut perhitngan biaya absorpsi sebesar jumlah overhead
tetap yang mengalir keluar dari persediaan awal.
Jika jumlah produksi dan penjualan sama, maka tidak ada perbedaan laba
yang dilaporkan..

1.
2.
3.

Jika
Maka
Produksi > Penjualan
Laba Bersih Absorpsi > Laba Bersih Variabel
Produksi < Penjualan
Laba Bersih Absorpsi < Laba Bersih Variabel
Produksi = Penjualan
Laba Bersih Absorpsi = Laba Bersih Variabel
Kunci untuk menjelaskan perbedaan antara laba yang dihasilkan perhitungan
biaya absorpsi dan perhitungan biaya variabel adalah analisis terhadap arus overhead
tetap.
Perubahan dalam overhead tetap dalam persediaan adalah tepat sama dengan
selisih di antara kedua laba. Selisih antara laba operasi menurut perhitungan biaya
absorpsi dan laba bersih menurut perhitungan biaya variabel dapat dinyatakan
sebagai berikut
Laba menurut
perhitungan
biaya absorpsi

Laba menurut
-

perhitungan
biaya variabel

Tarif overhead
tetap

(unit diproduksi
Unit terjual)

2.2.4 Mengevaluasi Manajer Pusat Laba


Evaluasi terhadap para manajer sering dikaitkan dengan profitabilitas unitunit yang berada dalam kendali mereka. Secara umum, jika kinerja laba diharapkan
untuk mencerminkan kinerja manajerial, maka manajer berhak mengharapkan
berlakunya hal-hal berikut:

1. Ketika pendapatan penjualan meningkat dari satu periode ke periode berikutnya,


sementara faktor-faktor lainnya tetap, maka laba akan meningkat.
2. Ketika pendapatan penjualan menurun dari satu periode ke periode berikutnya,
sementara faktor-faktor lainnya tetap, maka laba akan menurun.
3. Ketika pendapatan penjualan tidak berubah dari satu periode ke periode
berikutnya, sementara faktor-faktor lainnya tetap, maka laba akan tetap tidak
berubah.

2.2.5 Laporan Laba Rugi Segmen dengan Menggunakan Perhitungan Biaya


Variabel
Perhitungan biaya variabel berguna dalam menyiapkan laporan laba rugi
segmen karena perhitungan ini menyediakan informasi penting mengenai beban
variabel dan tetap. Sebuah segmen adalah subunit dari suatu perusahaan yang cukup
penting dalam pembuatan laporan kinerja.. Akan tetapi, dalam laporan laba rugi
segmen, beban tetap dibagi menjadi dua kategori : beban tetap langsung (direct fixed
expense) dan beban tetap umum (common fixed expense).
Beban tetap langsung (direct fixed expense) adalah beban tetap yang secara
langsung dapat ditelusuri ke suatu segmen. Beban ini terkadang disebut sebagai
beban tetap yang dapat dihindari (avoidable fixed expenses) atau beban tetap yang
dapat ditelusuri (traceable fixed expenses) karena beban itu akan hilang jika segmen
ditutup atau dihapus.
Beban tetap umum (common fixed expenses) disebabkan oleh dua atau lebih
segmen secara bersamaan. Beban-beban ini tetap muncul, bahkan ketika salah satu
segmen dihapus.
Kontribusi laba yang dihasilkan setiap segmen untuk menutupi biaya tetap
umum perusahaan disebut margin segmen (segment margin). Suatu segmen harus
mampu menutup paling tidak biaya variabel dan biaya tetap langsungnya sendiri.
2.3 PENGUKURAN KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN ROI

2.3.1 Pengembalian atas Investasi

Satu cara mengaitkan laba operasi dengan aktiva yang digunakan adalah
dengan menghitung pengembalian atas investasi (return on investment-ROI), yaitu
laba yang diperoleh untuk setiap dolar investasi. ROI adalah ukuran kinerja yang
paling lazim bagi suatu pusat investasi. ROI dapat didefinisikan sebagai berikut,
ROI = Laba Operasi / Aktiva Operasi Rata-rata
Laba operasi (operation income) mengacu pada laba sebelum bunga dan
pajak. Aktiva operasi (operating assets) adalah seluruh aktiva yang digunakan untuk
menghasilkan laba operasi, termasuk kas, piutang, persediaan, tanah, gedung, dan
peralatan. Gambaran aktiva operasi rata-rata dihitung sebagai berikut.
Aktiva operasi rata-rata = (Nilai buku bersih awal + Nilai buuku bersih akhir)/2

2.3.2 Margin dan Perputaran


Cara kedua untuk mengitung ROI adalah memisahkan rumusnya (Laba
operasi/aktiva operasi rata-rata) dalam margin dan perputaran.
ROI = Margin x perputaran
= Laba operasi x
Penjualan

Penjualan _____
Aktiva operasi rata-rata

Margin adalah rasio dari laba operasi terhadap penjualan. Hal ini
menunjukkan jumlah laba operasi yang dihasilkan dari setiap dolar penjualan. Hal ini
menyatakan laba operasi yang dihasilkan dari setiap penjualan. Hal ini menyatakan
bagian dari penjualan yang tersedia untuk bunga, pajak, dan laba. Perputaran
(turnover) adalah suatu ukuran lain yang dihitung dengan membagi pendaptan
penjualan dengan aktiva operasi rata-rata. Perputaran menunjukkan jumlah penjualan
yang dihasilkan dari setiap dollar yang diinvestasikan dalam aktiva operasi.

2.3.3 Keunggulan ROI


Sedikitnya, ada tiga hasil positif dari penggunaan ROI.
1. ROI mendorong manajer untuk fokus pada hubungan antara penjualan, beban,
dan investasi sebagaimana yang diharapkan dari seorang manajer pusat investasi.

2. ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi biaya.


3. ROI mendorong manajer untuk fokus pada efisiensi aktiva operasi.
2.3.4 Kelemahan Pengukuran ROI
Penekanan yang berlebihan pada ROI dapat menghasilkan pemikiran yang
sempit. Berikut dua aspek negative ROI yang sering disebutkan.
1. ROI mengakibatkan focus yang sempit pada profitabilitas divisi dengan
mengorbankan profitabilitas keseluruhan perusahaan.
2. ROI mendorong para manajer untuk focus pada kepentingan jangka pendek
dengan mengorbankan kepentingan jangka panjang.
2.4 MENGUKUR KINERJA PUSAT INVESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LABA
RESIDU DAN NILAI TAMBAH EKONOMI
Untuk mengatasi kecendurungan ROI untuk menghalangi investasi menguntungkan
perusahaan, beberapa perusahaan telah menerapkan alternatif ukuran kinerja seperti laba
residu. Nilai tambah ekonomi adalah cara alternatif untuk menghitung laba residu yang saat
ini digunakan di sejumlah perusahaan.

2.4.1 Laba Residu


Laba residu adalah perbedaan antara laba operasi dan pengembalian dollar
minimum yang disyaratkan atas aktiva operasi perusahaan.
Laba = Laba (Tingkat pengembalian minimum x aktiva operasi rata rata)
residu operasi
Tingkat pengembalian minimum ditentukan perusahaan dan sama dengan
burdle rate yang disebutkan pada bagian ROI. Jika laba residu lebih besar dari nol,
divisi memperoleh lebih banyak tingkat tingkat pengembalian minimum. Jika laba
residu kurang dari nol, divisi memperoleh lebih sedikit pengembalian minimum.
Akhirnya laba residu yang sama dengan nol menunjukkan divisi memperoleh tepat
sama dengan tingkat pengembalian minimum.
a. Keunggulan Laba Residu

Menurunkan ROI menyebabkan laba perusahaan terbebani. Laba residu sebagai


ukuran kinerja akan mencegah kerugian yang terjadi. Dengan menggunakan
perbandingan laba residu divisi menunjukkan perbeadaan antara dua kelompok
dan penggunaan laba residu mendorong para manajer untuk menerima proyek
apapun yang menghasikan tingkat di atas minimum.
b. Kelemahan Laba Residu
Laba residu bisa mendorong orientasi jangka pendek. Masalah lainnya dengan
laba residu tidak seperti ROI, laba residu adalah ukuran absolut dari
profitabilitas. Jadi, perbandingan langsung dari kinerja pada dua pusat investasi
yang berbeda menjadi sulit karena tingkat investasinya bisa berbeda.

2.4.2 Nilai Tambah Ekonomi


Nilai Tambah ekonomi adalah laba bersih ( laba operasi dikurangi pajak )
dikurangi total biaya modal tahunan. Pada dasarnya nilai tambah ekonomi (EVA )
merupakan laba residu dengan biaya modal sama dengan biaya modal akrual dari
perusahaan ( sebagai ganti dari suatu tingkat pengembalian minimum yang
diinginkan perusahaan karena alasan lainnya. Jika EVA positif maka perusahaan
sedang menciptakan kekayaan. Jika negative maka perusahaan sedang menyia
nyiakan modal.
Sebagai suatu bentuk dari laba residu, EVA adalah suatu bentuk satuan dolar,
bukan suatu tingkat persentase pengembalian. Akan tetapi, EVA juga menghasilkan
tingkat pengembaliann seperti ROI karena menghubungkan penghasilan bersih
( pengembalian ) dengan modal yang dipakai. Inti EVA adalah penekanan pada laba
bersih operasi dan biaya akrual dari modal.
a. Menghitung EVA
EVA adalah laba bersih atau laba operasi setelah pajak dikurang biaya modal
yang dipakai. Biaya modal yang dipakai adalah presentase aktual dari biaya
modal dikali dengan total modal yang dipakai. Persamaan EVA dinyatakan sbb.
EVA = laba operasi _

presentase biaya x Total modal

Setelah pajak

modal aktual

yang dipakai

b. Aspek Perilaku EVA


Sejumlah perusahaan telah menemukan bahwa EVA membantu mendorong
jenis perilaku yang sesuai dari berbagai divisi dengan menunjukkan menekanan
semata-mata pada pendapatan operasi tidaklah mencukupi. Alasan yang
mendasarnya adalah EVA mengandalkan biaya modal yang sebenarnya.

2.5 PENETAPAN HARGA TRANSFER


Ketika divisi diperlakukan sebagai pusat pertanggungjawaban, divisi tersebut
dievaluasi berdasarkan laba operasi, pengembalian atas investasi dan laba residu atau EVA.
Jadi, nilai barang yang ditransfer merupakan pendapatan bagi divisi yang menjual dan biaya
bagi divisi yang membeli. Nilai atau harga internal disebut harga transfer. Dengan kata lain
harga transfer adalah harga yang dibebankan untuk suatu komponen oleh divisi penjualan
pada divisi pembeli di perusahaan yang sama.

2.5.1 Dampak Penetapan Harga Transfer terhadap Divisi dan Perusahaan


secara Keseluruhan
Ketika suatu divisi menjual pada divisi lain, kedua divisi tersebut dan
perusahaan secara keseluruhan mendapat pengaruhnya. Harga yang dikenakan untuk
barang yang ditransfer memengaruhi biaya divisi pembeli dan pendapatan divisi
penjual. Artinya, laba kedua divisi tersebut, sebagaimana juga evaluasi dan
kompensasi para manajer mereka, dipengaruhi oleh harga transfer.

2.5.2 Kebijakan Penetapan Harga Transfer


Dalam penyusun sebuah kebijakan penetapan harga transfer, pandangan dari
divisi penjualan dan divisi pembelian harus dipertimbangkan. Pendekatan biaya
peluang mencapai tujuan tersebut dengan mengidentifikasi harga minimum yang
ingin diterima divisi penjualan dan harga maksimum yang ingin dibayar oleh divisi

pembeli. Harga maksimum dan minimum tersebut sesuai dengan biaya transfer
internal.
Berikut harga yang ditetapkan:
1. Harga transfer minimum
2. Harga transfer maksimum
Beberapa kebijakan penetapan harga transfer digunakan dalam praktik.
Kebijakan penetapan harga transfer ini mencakup harga pasar, harga transfer
berdasarkan biaya, dan harga transfer yang dinegosiasikan.

2.5.3 Harga Pasar


Jika tersedia, harga pasar adalah pendekatan terbaik untuk penetapan harga
transfer. Karena divisi penjual mampu menjual barangnya pada harga pasar, transfer
internal pada harga yang lebih rendah dari harga pasar akan mengakibatkan divisi
tersebut merugi. Divisi pembeli yang selalu mampu membeli barang pada harga
pasar untuk barang yang ditransfer secara internal.

2.5.4 Harga Transfer Berdasarkan Biaya


Harga pasar luar kerap tidak tersedia. Hal tersebut bisa terjadi karena karena
produk yang akan ditrasfer menggunakan desain hak paten yang dimiliki perusahaan
induk.dalam hal ini, perusahaan bisa menggunakan penetapan harga transfer
berdasarkan biaya. Sebagai contoh, perusahaan matras menggunakan busa dengan
kepadatan tinggi untuk matras dari tempat tidur lipat tersebut dan perusahaan luar
tidak memproduksi matras semacam ini dengan ukuran yang sesuai. Jika perusahaan
telah menetapkan kebijakan penetapan harga transfer berdasarkan biaya, maka divisi
matras akan membebankan biaya penuh mencakup biaya bahan baku langsung,
tenaga kerja langsung, overhead variabel, dan bagian dari overhead tetap.

2.5.5 Harga Transfer yang Dinegosiasikan


Akhirnya, manajemen tingkat atas nisa mengizinkan manajer divisi pembeli
dan penjual untuk menegosiasikan harga transfer. Secara khusus, pendekatan ini
berguna saat kondisi pasar tidak sempurna, seperti kemampuan divisi di dalam

perusahaan untuk menghindari biaya penjualan dan distribusi. Dalam hal ini, biaya
yang dihemat bisa dibagi di antara dua divisi.

DAFTAR PUSTAKA
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hansen dan Mowen. 2009. Akuntansi Managerial . Buku I
Edisi 8, Jakarta : Salemba Empat. Kaplan, Robert S., dan David P.