Vous êtes sur la page 1sur 14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

N.Y DENGAN DIAGNOSA PHEUMONIA DI


RUANGAN ANGGREK LANTAI II

OLEH :

KELOMPOK IV

PROGRAM PENDIDIKAN DIPLOMA III


KEPERAWATAN AKADEMI
KEPERAWATAN YPPP
WONOMULYO
2016

A. PENGERTIAN
Pneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru
yang biasanya berasal dari suatu infeksi. (Price, 1995).
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai
parenkim

paru,

distal

dari

bronkiolus

terminalis

yang

mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan


konsolidasi

jaringan

paru

dan

menimbulkan

gangguan

pertukaran gas setempat. (Zul, 2001).


Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai
jaringan

paru-paru

atau

alveoli.

Terjadinya

pneumonia,

khususnya pada anak, seringkali bersamaan dengan proses


infeksi akut pada bronkus, sehingga biasa disebut dengan
bronchopneumonia. Gejala penyakit tersebut adalah nafas
yang cepat dan sesak karena paru-paru meradang secara
mendadak.Penumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya
berhubungan dengan pengisian cairan di dalam alveoli. Hal ini
terjadi ini terjadi akibat adanya invaksi agen atau infeksius
adalah adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran.
Pneumonia adalah sebuah penyakit pada paru-paru di
mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab
menyerap oksigen dari atmosfer menjadi "inflame" dan terisi
oleh cairan. Pneumonia dapat disebabkan oleh beberapa
penyebab, termasuk infeksi oleh bakteria, virus, jamur, atau
parasit. Pneumonia dapat juga disebabkan oleh iritasi kimia
atau fisik dari paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit
lainnya, seperti kanker paru-paru atau terlalu banyak minum
alkohol.

B. ETIOLOGI

1. Bakteri
Pneumonia

bakteri

biasanya

didapatkan

pada

usia

lanjut.

Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S.


aerous, dan streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif
seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P.
Aeruginosa.
2. Virus
Disebabkan

oleh

virus

influensa

yang

menyebar

melalui

transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai


penyebab utama pneumonia virus. Adapun contoh virusnya
adalah

virus

rhinovirus,

influenza,

virus

sitomegalovirus,

parainfluenza,

Rubeola,

Varisella,

adenovirus,
Micoplasma,

Pneumococcus, Streptococcus dan Staphilococcus.


3. Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar
melalui

penghirupan

udara

yang

mengandung

spora

dan

biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.


4. Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC).
Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi.
(Reeves, 2001)
5. Aspirasi
Biasanya disebabkan oleh makanan, cairan dan muntah.
6. Inhalasi
Disebabkan oleh racun atau bahan kimia, rokok, debu dan gas.
C. MENEFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari pneumonia adalah antara lain:
1. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
2. Nyeri pleuritik
3. Nafas dangkal dan mendengkur
4. Takipnea
5. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
6. Mengecil, kemudian menjadi hilang
7. Krekels, ronki, egofoni
8. Gerakan dada tidak simetris
9. Menggigil dan demam 38,8 C sampai 41,1C, delirium
10. Diaforesis

11.
12.
13.
14.
15.
16.

Anoreksia
Malaise
Batuk kental, produktif
Gelisah
Cyanosis
Pernafasan cuping hidung

D. PENATALAKSANAAN
1. Kemoterapi
Pemberian

kemoterapi

harus

berdasarkan

pentunjuk

penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur sputum dan tes


sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila penyakitnya ringan
antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat diberikan
secara parenteral. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal
akibat

proses

penggunaan

penuaan,
antibiotik

maka

harus

tertentu

perlu

diingat

kemungkinan

penyesuaian

dosis

(Harasawa, 1989).
2. Pengobatan Umum
a. Terapi Oksigen
b. Hidrasi
Bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat hidrasi dilakukan
secara parenteral.
3. Fisioterapi
Penderita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu
diubah-ubah

untuk

menghindari

pneumonia

hipografik,

kelemahan dan dekubitus.


E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga
menyatakan

abses

luas/infiltrat,

empiema(stapilococcus);

infiltrasi

menyebar

penyebaran

atau

/perluasan

terlokalisasi

infiltrat

nodul

(bakterial);
(virus).

atau

Pneumonia

mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.


2. Analisa Gas Darah (Analisa Gas Darah) : tidak normal mungkin
terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit
paru yang ada.
3. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan
biopsi jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau
biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab.
4. Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
5. LED : meningkat
6. Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan
kolaps alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan
komplain menurun, hipoksemia.
7. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah
8. Bilirubin : mungkin meningkat
9. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan
intranuklear

tipikal

dan

keterlibatan

(Doenges, 1999).

10.

PATOFIOLOGI/PENYIMPANAN KDM

sitoplasmik

(CMV)

11.
PENGKAJIAN
I. Identitas Pasien
Nama : Ny. L
Umur : 64 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Kristen
Alamat : Jl. Kp. Cabang Karang Asih Cikarang Bekasi
Suku : Medan
Pekerjaan : Pensiunan Guru SMP
Mrs : 14-12-2005
Jam : 12.41
Pengkajian : 22 - 12 2005
jam : 09.00
Regester : 296 97 63
Diagnosa masuk : CHF + Pneumonia
II. Riwayat penyakit sekarang
Alasan utama MRS :
Keluarga mengatakan bahwa kesadaran klien menurun ( tidur
terus )
Keluhan utama :
2 minggu sebelum MRS klien mengatakan lemas, nafsu makan
menurun,
batuk keluar dahak terutama malam hari. 2 hari kemudian oleh

anaknya di bawah ke Jakarta karena di Medan sendirian. Setelah


di Jakarta klien tidur terus, maka oleh anaknya klien di bawah ke
RSCM.
III. Riwayat penyakit dahulu
Sekitar 5 tahun yang lalu klien menderita hipertensi dengan
control tidak
teratur. 1 tahun yang lalu klien mengalamai kecelakaan dari
mobil
( terlempar ) dan dirawat di RS tarutung ( Sum sel ). Sejak itu
klien berjalan
dengan bantuan tongkat selama 2 tahun . Tidak ada riwayat DM,
TBC.
IV. Riwayat penyakit keluarga
Pada keluarga tidak ada yang menderita penyakit hipertensi,
DM, paru atau
jantung. Suami meninggal karena kecelakaan.
V. Pola-pola fungsi kesehatan
1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Kebiasaan merokok(-) , penggunaan obat bebas (-)
ketergantungan
terhadap bahan kimia (-), jamu (-), Olah raga/gerak badan (-).
2. Pola nutrisi dan metabolisme
Sebelum MRS klien makan 3 x sehari dengan porsi cukup, saat
MRS
pemenuhan nutrisi Diit jantung III dengan 1700 kal, minum 1000
cc/24
jam, kesulitan menelan tidak ada, keadaan yang mengganggu
nutrisi
tidak ada, status gizi yang berhubungan dengan keadaan tubuh:
postur
tubuh kurus, keadaan rambut bersih. BB 40 Kg, TB 155 cm.
3. Pola eliminasi
BAB
Frekuensi : 1 x/3 hari
Warna dan bau : dbn

Konsistensi : dbn
Keluhan : tidak ada BAK
Frekuensi : kateter
Warna dan bau : dbn
Keluhan : tidak ada
4. Pola tidur dan istirahat
Tidur
Frekuensi : 2x/sehari
Jam tidur siang : 2-3 jam
Jam tidur malam : 5-6 jam/hari
Keluhan : tidak ada
Istirahat
frekuensi : 4 6 x/hari
keluhan : tidak ada
5. Pola aktivitas
Klien setelah pensiun menjadi guru hanya istirahat di rumah
saja, tidak
ada kegiatan sehari hari karena kurang sosialisasi ( sebelum
pensiun
klien sibuk dengan pekerjaannya ) sehingga sejak pensiun klien
kurang
terbiasa.

6. Pola sensori dan kognitif


Sensori : Daya penciuman, daya rasa, daya raba, daya
pendengaran baik.
Kognitif : Proses berfikir, isi pikiran, daya ingat baik.
7. Pola penanggulangan stress
Penyebab stress, mekanisme terhadap stress, adaptasi terhadap
stress,
Pertahanan diri sementara biasanya klien meminta bantuan pada
anak laki-lakinya yang tinggal serumah.

12.
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. DS : klien mengatakan tidak mampu mengeluarkan dahak.
DO : suara ronchi +/+ pada basal paru, wheezing (-), sianosis

(-),
orthopnea (-), sputum (-).
Tekanan Darah 120/80 mmHg
Suhu Tubuh 36,5C
Pernapasan 24 X/menit
Nadi 110X/menit reguler
Sel- sel goblet rusak, Peningkatan produksi mucus, Bersihan
jalan tidak efektif
2. DS : Klien mengatakan tidak mampu melakukan aktvitas
sehari- hari
DO : 3 3
3 3
TD : 120/80 mmHg
Suhu Tubuh 36,5C
Pernapasan 24 X/menit
Nadi 110X/menit
Reguler.Invasi paru
Batuk
Aspirasi
Anoreksia
Penurunan nutrisi
Intoleransi aktifitas
13.
INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Tujuan : Setelah dilakukan proses keperawatan selama 1x24
jam jalan nafas bersih, dengan
KH :
o Klien mampu mengeluarkan sputum secara aktif.
o Nilai AGD dalam batas normal.
o Sianosis (-)
o dispnea (-)
o Tanda vital dalam batas normal.
o Kaji efektifitas terapi O2,
o Auskultasi paru anterior dan posterior terhadap
penurunan ventilasi dan suara tambahan.
o Jelaskan kegunaan alat terapi O2.
o Informasikan terhadap klien dan keluarga untuk tidak
merokok dalam ruangan.
o Intruksikan klien untuk batuk efektif , teknik nafas
dalam,

o Ajarkan pada klien dan keluarga tentang perubahan


karakteristik sputum : warna,
o Kolaboratif :
Pemberian O2
Pemeriksaan AGD
Pemberian antibiotik
o Terapi O2 dapat mengendalikan kebutuhan oksigen
o Suara tambahan merupakan tanda bahwa terjadi
sumbatan pada jalan nafas
o Klien mengetahui apa fungsi dari terapi O2
o Pengendalian polusi udara.
o Untuk meningkatkan pengeluaran secret
o Apabila ada perubahan warna sputum keluarga
mengerti
o Mengendalikan kebutuhan O2
o AGD normal menunjukan tidak ada kerusakan
pertukaran gas
o Pengendalian bakteri
2. Tujuan : setelah dilakukan proses keperawatan selama 1x24
jam klien mampu melakukan aktivitas sehari-hari seperti
biasa, dengan
KH :
o Klien mampu mendemontrasikan aktivitas dan self
care.
o Tanda vital dalam batas normal.
o Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.
o Klien mampu mengidentifikasikan aktivitas yang sesuai
kemampuannya.
o Kaji respon emosional, social, dan spiritual
o Evaluasi motivasi klien terhadap peningkatan aktivitas.
o Tentukan penyebab kelelahan.
o Monitor respon kadiorespiratory terhadap aktivitas.
o Monitor intake nutrisi.
o Intruksikan teknik relaksasi selama aktivitas.
o Mengetahui tingkatan emosi
o Dengan meningkatnya aktivitas menun jukan
perkembangan penyembuhan
o Dengan mengetahui penyebab kelelahan
mempermudah dalam penyembuhan
o Mengetahui pernafasan dan tekanan darah normal
o Mengetahui kebutuhan nutrisi terpenuhi

o Memberi rasa nyaman pada saat aktivitas


14.
1.

IMPLEMENTASI & EVALUASI KEPERAWATAN


18-10-2014
Menjelaskan tentang suara paru pada pasien.
Mengauskultasi suara paru :
ronchi +/+ pada basal paru
Menginformasikan kepada keluarga untuk tidak
merokok dalam
ruangan. Melatih nafas.
Mengukur tanda vital : (-),tekanan darah 130/80 mmHg,
suhu tubuh 36,7C, pernapasan 22 X/menit, nadi
110X/menit.
Memberikan O2 2lt/mnt.
Menyuntikan cefriaxon 1 gr (iv).

Menjelaskan tentang suara paru pada pasien.


Menjelaskan tentang tujuan terapi oksigen
Mengauskultasi suara paru :
ronchi +/+ pada basal paru
Melatih nafas
Melatih batuk efektif
Mengukur tanda vital : (-),tekanan darah 130/80 mmHg,
suhu tubuh 365C, pernapasan 20 X/menit, nadi
110X/menit.
Memberikan O2 2lt/mnt.
Menyuntikan cefriaxon 1 gr (iv).

S : Sesak nafas, klien mengatakan tidak mampu mengeluarkan


dahak.
O:
o
o
o
o
o
o
o
o

suara ronchi +/+ pada basal paru,


wheezing (-),
sianosis (-),
orthopnea (-),
sputum (-),
tekanan darah 130/80 mmHg,
suhu tubuh 36,7C,
pernapasan 22 X/menit,

o nadi 110X/menit,
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi semua

S : Sesak nafas, klien berkurang mengatakan mampu


mengeluarkan dahak.
O:
o suara ronchi -/- pada basal paru,
o wheezing (-),
o sianosis (-),
o orthopnea (-),
o sputum (-),
o tekanan darah 130/80 mmHg,
o suhu tubuh 36,7C,
o pernapasan 22 X/menit,
o nadi 110X/menit
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi

2. 19-10-2014

Mengkaji respon emosional klien.


Motivasi klien terhadap aktivitas baik.
Mengukur tanda vital T : 130/90, HR : 110/mnt, RR 22/mnt.
Setelah aktivitas jalan keluar ruangan : Intake
piring/makan.
Mengajarkan nafas panjang.
Menganjurkan makan sedikit demi sedikit
Menjelaskan tentang kegunaan nutrisi.

Mengkaji respon emosional klien.


Mengukur TTV : T : 130/90, HR : 110/mnt, RR 20/mnt.
Motivasi klien terhadap aktivitas baik.
Mengukur tanda vital setelah aktivitas jalan keluar ruangan
: Intake piring/makan.
Mengajarkan nafas panjang.

S : pasien sesak nafas,tidak lelah, capek.


O:
o kekuatan otot masing- masing ekstrimitas 3.
o Mengukur tanda vital T : 120/90, HR : 116/mnt, RR 22/mnt
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi

S : pasien tidak sesak nafas, tidak lelah, capek, dapat


beraktivitas sendiri
O:
o Mengukur TTV : T : 120/90, HR : 110/mnt, RR 20/mnt.,
pernapasan 22 X/menit, nadi 110 X/menit, ireguler.
kekuatan otot masing- masing ekstrimitas 4.
A : Masalah teratasi
P : Hentikan intervensi
15.
DISCHARGE PLANNING
Kesimpulan
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan
paru-paru atau alveoli. Terjadinya pneumonia, khususnya pada
anak, seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada
bronkus, sehingga biasa disebut dengan bronchopneumonia.

DAFTA PUSTAKA
1. Doenges, Marilynn, E. dkk. Rencana Asuhan Keperawatan,
Edisi 3, 2000. EGC, Jakarta.
2. Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal
Bedah, Edisi 8, Vol. 1, EGC, Jakarta.
3. Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine,
Patofisiologi, buku-2, Edisi 4, EGC, Jakarta.

4. Tim Penyusun. Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 3. Volume II,


2001, FKUI